Manajemen Risiko Proyek Konstruksi Bangunan Tinggi | Bangunan tinggi dibangun karena beberapa alasan. Pertambahan penduduk yang meningkat akan menyebabkan meningkatnya aktivitas penduduk. Sehingga kebutuhan ruang untuk aktivitas penduduk seperti tempat tinggal, kantor, rumah sakit, hotel dan lain sebagainya juga meningkat. Untuk memenuhi hal tersebut, maka diperlukan lahan yang kosong.

Lahan kosong yang masih tersedia terletak di pinggiran kota. Sedangkan kegiatan ekonomi berpusat di tengah kota. Maka apabila pembangunan dilaksanakan di tempat strategis hanya dapat dilakukan pada lahan yang sangat terbatas. Itupun dengan harga lahan yang mahal. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan ruang untuk aktivitas penduduk, dengan lahan yang terbatas dan bernilai ekonomis, membuat pembangunan tidak dapat dilaksanakan secara horisontal, tetapi hanya bisa dilaksanakan secara vertikal.

Namun demikian, pembangunan gedung bertingkat tinggi tidak dapat dilaksanakan bila tidak didukung dengan adanya kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi tersebut antara lain pada teknologi bahan dan metode konstruksi. Dengan ditemukannya bahan-bahan / material yang ringan dan kuat seperti beton mutu tinggi, baja ringan, dan masih banyak lagi, membuat banyak alternatif pada pembangunan bangunan tinggi Selain itu adanya perkembangan metode konstruksi akan membuat pelaksanaan pembangunan bangunan tinggi dapat dengan mudah dan cepat pelaksanaannya.

Proyek konstruksi menurut Ervianto (2005) merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu pendek. Proyek konstruksi dilaksanakan untuk mencapai tujuan yaitu suatu bangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pihak-pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi adalah owner, konsultan baik perencana maupun pengawas dan kontraktor. Gagasan dari owner merupakan awal dari adanya suatu proyek. Dimana dalam mewujudkan gagasan tersebut harus melalui beberapa tahapan yaitu studi kelayakan, desain, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan. Tahapan dalam proyek konstruksi tersebut dinamakan siklus hidup proyek (project life cycle).

Dalam mewujudkan gagasan pembangunan bangunan tinggi, harus dilakukan perencanaan dengan baik, karena pembangunan bangunan tinggi mempunyai perbedaan dengan pembangunan bangunan rendah. Dalam perancangan bangunan tinggi, harus diperhatikan terhadap beberapa fungsi utama yang meliputi struktural, mekanikal, elektrikal dan arsitektural. Sehingga bangunan tinggi yang dihasilkan kokoh, indah, ekonomis karena hemat energi dan ramah lingkungan.

Dalam rangka mewujudkan tujuan, pada saat pelaksanaan pembangunan proyek akan mengalami banyak kendala. Kendala tersebut berkaitan dengan lokasi proyek yang terbatas (tidak luas), seperti penempatan material, perakitan, penempatan tower crane dan alat-alat yang digunakan, prasarana transportasi untuk material dan beton, serta masih banyak lagi kendala yang dapat menyebabkan tejadinya permasalahan pada proyek konstruksi. Permasalahan yang terjadi seperti keterlambatan waktu penyelesaian, kecelakaan kerja, konstruksi yang tidak sempurna, bahkan memungkinkan terjadinya kegagalan bangunan.

Permasalahan-permasalahan yang terjadi di proyek konstruksi, merupakan suatu risiko dalam pembangunannya. Karena mengandung ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut tidak dapat diprediksi, dan akan menimbulkan dampak yang negatif atau positif. Dampak negatif atau positif berkaitan dengan kerugian dan atau keuntungan yang akan diperoleh. Keuntungan dan kerugian tersebut dilihat dari pencapaiannya terhadap tujuan proyek tersebut. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Soeharto (2001), bahwa risiko proyek adalah risiko murni yang secara potensial dapat mendatangkan kerugian dalam upaya mencapai sasaran proyek.

Agar risiko yang terjadi pada proyek konstruksi tidak menimbulkan dampak yang merugikan, maka risiko-risiko tersebut harus dikelola. Pengelolaan risiko dilakukan dengan manajemen risiko. Tahapan dalam manajemen risiko menurut PMBOK Guide edition (2004) meliputi Risk Indentification, Risk Analysis, Risk Respon, Risk Monitoring and Control.

Dalam proyek konstruksi, risiko yang terjadi bukan merupakan risiko yang harus diterima oleh owner saja. Tetapi risiko yang terjadi juga akan diterima oleh pihak-pihak lain yang berkaitan dengan proyek konstruksi tersebut. Pihak-pihak tersebut yaitu kontraktor, konsultan perencana, konsultan pengawas dan masyarakat yang berada di lingkungan proyek konstruksi.

Daftar Pustaka

Ervianto,  Wulfram I., (2005), Manajemen Proyek Konstruksi, Andi, Yogyakarta,         hal 11 – 48

Project Management Institute, (2004), A Guide In The Project Management Body of Knowledge – Third Edition PMBOK, Pennsylvania : Project Management Institute, Inc.

Soeharto, Iman, (2001), Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional Jilid 2, Erlangga, Jakarta, hal 366 – 373

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *