TRANSKRIPSI FONETIK
Disusun sebagai tugas kelompok untuk dipresentasikan pada kegiatan diskusi
Mata Kuliah : Fonologi Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Dr. Sance Lamusu, M.Hum
KELOMPOK IV
SITI MUSLIMATUL FIKAR
SITI NUR’AIN LAILA NINGSI
NURAWIN ITY
JAFAR IBRAHIM
DESNI T. ISHAK

Fakultas Sastra dan Budaya
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Gorontalo
2015

A. Transkripsi Fonetik
….Yang dimaksud dengan transkripsi fonetik adalah penulisan bunyi-bunyi bahasa secara akurat atau secara tepat dengan menggunakan huruf atau tulisan fonetik. Huruf fonetik ini dibuat berdasarkan huruf (alphabet) Latin yang dimodifikasikan, atau diberi tanda-tanda diakritik. Misalnya, huruf vokal hanya ada lima buah, yaitu , , , , , padahal fonem bahasa Indonesia saja ada enam buah, yaitu /a/ ; /i/ ; /e/ ; /ϑ/ ; /u/ ; dan /o/.
Secara leksikolografis transkripsi adalah penyalinan teks dengan mengubah ejaannya ke dalam ejaan lain untuk menunjukkan lafal bunyi unsure bahasa yang bersangkutan yang selanjutnya dibagi atas:
1. transkripsi berurutan, yakni transkripsi fonetis dari teks yang berurutan dan bukan kata-kata lepas
2. transkripsi fonemis, yakni transkripsi yang menggunakan satu lambing untuk menggambarkan satu fonem tanpa melihat perbedaan fonetisnya
3. transkripsi fonetis, yakni transkripsi yang berusaha menggambarkan bunyi secara sangat teliti
4. transkripsi kasar, yakni transkripsi foonetis yang menggunakan lambing terbatas berdasarkan analisis fonemis yang dipergunakan sebagai system aksara yang mudah dibaca
….Cara penyalinan bunyi-bunyi bahasa ke dalam lambing-lambang tertentu, disebut transkripsi fonetik. Transkripsi fonetik hendaknya kita bedaan dari ejaan. Seperti telah diketahui, ejaan ialah pelambangan fonem dengan huruf (Badudu; 1974 : 17). Dengan demikian huruf bukanlah wujud transkripsi fonetik. Misalnya sebuah kalimat yang berbunyi Saya Mahasiswa IKIP Gorontalo. Ejaannya boleh kita tulis, saya mahasiswa IKIP Gorontalo, transkripsi fonetiknya mungkin sama dengan tulisan pada ejaan ini, tetapi mungkin juga akan berbeda sama sekali. Yang penting bagaimana menyalin bunyi-bunyi itu ke dalam lambing-lambang yang sesuai dengan keadaan sebenarnya, itulah yang menjadi tugas transkripsi fonetik.
Di bawah ini dikutip simbol-simbol fonetik baik vokal maupun konsonan sesuai dengan prinsip IPA (lihat, IPA;1975:8-9 dan 11-12). Simbol untuk vocal :
i misalnya, dalam kata Inggris : see, bahasa Indonesia : itu
e misalnya, dalam kata Inggris : day, bahasa Indonesia meja
simbol untuk konsonan :
r misalnya, dalam kata Inggris : pare
s misalnya, dalam kata Inggris : see
v misalnya, dalam kata Inggris : vague
B. Bunyi Ujar
….Bunyi ujar akan berfungsi dengan baik, jika :
1. Alat bicara pembicara berfungsi secara normal
2. Terdapat saling mengerti ‘ mutual intellibility’ antara pembicara dan pendengar
3. Adanya udara sebagai perantara
4. Alat dengan pendengan berfungsi dengan baik
5. Lingkungan yang kondusif, misalnya tidak bising.
Fracer (1978 ; 2) di dalam buku Prof. Dr. H. Mansoer Pateda, Hal.93, yang mengutip pendapat Austin yang mengatakan bahwa aktivitas berbicara ‘performance of speech acts’ terdiri dari tiga kegiatan. Yakni :
1. Locutionary acts
2. Illocutionary acts
3. Perlocutionary acts
Berdasarkan uraian ini terlihat bahwa bunyi ujar terdapat pada illocutionary act dalam taksonomin Austin ini. Sampai seberapa jauh keterampilan pembicara dan pendengan memahami bunyi belah pihak, tingkat pendidikan kedua belah pihak, dan konteks.
C. Fungsi Bunyi Ujar
Orang awam pasti tidak pernah memikirkan, mengapa bunyi /a/ harus berbunyi dan dilafalkan demikian. Hal itu tidak penting baginya oleh karena yang penting adalah sejauh mana bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh pembicara dapat dipahaminya, dan bagaimana melaksanakan pesan yang disalurkan melalui bunyi-bunyi bahasa tadi. Baginya yang penting, yakni mendengarkan secara baik apa yang disampaikan pembicara, menafsirkan apa yang diujarkan, dan bagaimana mewujudkan pesan yang disampaikan oleh pembicara. Kalau ia dapat menafsirkan secara baik apa yang diujarkan oleh pembicara, dan dapat melaksanakan apa yang diujarkan oleh pembicara, puaslah hatinya.
Bagi seorang ahli bahasa atau linguist tidak demikian halnya. Baginya, pengetahuan tentang bagaimana mengenal bunyi-bunyi bahasa sangat penting, hal itu penting baginya sehingga ia dapat melukiskan apa yang didengarnya, bahkan dapat mengujarkannya serta menerapkannya dalam publikasi ilmiah yang dikerjakannya. Fonologi penting
Bagi seorang guru, calon guru, tentu saja calon atau guru bahasa, lain lagi kegunaanya. Bagi seorang calon guru atau guru bahasa, kegunaan mengetahui fonologi dapat dilihat dari segi teoritis dan prktis. Secara teoritis pengetahuan tentang fonologi bagi calon guru atau guru bahasa berguna untuk memperbaiki lafal peserta didik dan dapat menjelaskan mengapa suatu bunyi bahasa harus dilafalkan seperti iitu. Selain itu seorang calon guru atau guru bahasa yang mengetahui fonologi dapat menjelaskan kepada peserta didik, misalnya mengapa [me-] + [pukul] menjadi memukul, dan bukan mempukul.

D. Sejarah Transkripsi
Oleh karena daya tangkap seorang pendengar berbeda satu sama lain, maka transkripsi fonetik terhadap suatu fonem yang sama pasti berbeda pula. Kalau demikian transkripsi fonetiknya akan berbeda-beda pula. Hal seperti itu tidak menguntungkan. Para pakar linguistic, utamanya yang bergerak dalam bidang fonologi mencari jalan keluar untuk mengatasi persoalan ini. Dibentuklah badan dunia tentang ilmu bunyi bahasa yang dinamai Internasional Phonetic Association (IPA). Untuk mengetahui secara singkat tentang organisasi dunia ini, ada baiknya dikemukakan saduran sejarah IPA seperti yang ditulis dalam bahasa Inggris yang dapat dibaca dalam buku The Principles of the International Phonetic Association yang diedarkan oleh secretariat IPA, di Universitas College, London, !975.
Himpunan Ahli Fonetik Sedunia ‘The International Phonetic Association’ yang dalam bahasa Perancis Association Phonetique, dalam bahasa Jerman dinamakan Weltlautshriftverein didirikan pada tahun 1886 yang untuk pertama kali bernama Himpunan Guru Fontik atau The Phonitic Teacher’s Association yang didirikan oleh sekelompok guru bahasa Prancis. Mereka mempopulerkan juga hasil penemuan mereka pada waktu mengajar. Secara berkala transkripsi ponetik sesuatu bahasa mereka perkenalkan kepada masyarakat dunia. Pada mulanya mereka memusatkan perhatian pada penerapan fonetik dalam proses pengajaran bahasa Inggris. Anggota perhimpunan pun makin lama makin banyak dan meluas. Dengan demikian perhatian para anggota bertambah luas, yakni bukan saja tertuju pada bahasa-bahasa yang lain.
Pengelola organisasi untuk pertama kali dalam bentuk komite yang anggota-anggotanya berkedudukan di Paris. Dalam waktu singkat dipilihlah pengurus yang duduk dalam Badan Internasional yang mulai tahun 1888 kebijaksanaan organisasi dipikirkan oleh badan ini.pada tahun 1888 itu organisasi belum mempunyai kebijaksanaan bau dalam penentuan transkripsi fonetik, dan artikel-artikel yang dimuat dalam majalah masih memperlihatkan berbagai system.
Pada tahun 1888 ketika cirri khas organisasi telah dikenal, dan alphabet internasional telah dipolakan, maka mulai bulan Januari 1889 ditetapkan hal-hal sebagai berikut.
1. Bahasa Perancis ditetapkan sebagai bahasa pengantar resmi dalam pertemuan organisasi.
2. Perhimpunan diubah namanya menjadi L ‘Association Phonetic des Propesseurs de Langues Vicantes.
3. Nama majalah diubah menjadi Le Maitre Phoneticque.
Pada tahun 1987 nama perhimpunan diubah lagi menjadi L’ Association Phonetique Internationale, dan pada tahun 1969 pengurus organisasi menetapkan hal-hal berikut ini :
1. Majalah seharusnya dicetak berdasarkan huruf-huruf yang ada, dan diisi dengan ilustrasi yang berhubungan dengan transkripsi fonetik.
2. Bahasa resmi perhimpunan adalah bahasa Inggris.
3. Karangan-karangan yang menggunakan bahasa lain, maksudnya yang bukan bahasa INggris, sebaiknya diperhatikan juga.
4. Nama majalah diubah menjadi The Journal of the International Phonetic Association.
Apa yang telah ditetapkan paa tahun 1889 sebahagiannya tetap diperthankan. Pengurus IPA bekerja terus mengembangkannya, dan sekarang hasil pekerjaan mereka telah digunakan oleh linguist diseluruh dunia, baik dalam penyusunan kamus, penyusunan buku teks, baik yang tergabung dalam organisasi IPA. Maupun yang tidak.
E. Pelambangan Fonetis
1. Pelambangan Fonetis Menurut IPA
Lambang Vokal :
(i) Misalnya bahasa Jerman wie = bagaimana, seperti ketika, demi.
(e) Misalnya bahasa Jerman mehr = lebih
(a) Misalnya bahasa Inggris back = belakang
(d) Misalnya bahasa Inggris hot = panas

Lambang Konsonan:
(g) Misalnya bahasa Inggris get = menerima
(j) Misalnya bahasa Inggris you = engkau
(r) Misalnya bahasa Inggris rap = ketokan
(s) Misalnya bahasa Inggris see = melihat
/q/ Misalnya bahasa Perancis nuit = (?)
/x/ Misalnya bahasa Jerman ach = aduh
[β] Misalnya bahasa Spanyol saber = (?)
/v/ dalam bahasa Belanda menjadi /w/.
Bunyi-bunyi bahasa ini banyak yang tidak terdapat dalam BI sehingga sulit untuk meragakannya.
2. Pelambangan Fonetis Menurut Ladefoged Pelambangan Fonetis menurut Ladefoged (1975:24-27) ini khusus untuk bahasa Inggris.
Pelambangan Vokal (kolom 1 lafal Inggris Amerika, dan kolom 2, lafal Inggris Britis)

1 2
i i he ‘ia’
t t hid ‘menyembunyikan’
at et hay ‘rumput kering’
ε ε head ‘kepala’
Pelambangan Konsonan
p pie ‘kue’
t tie ‘dasi’
k key ‘kunci’
b bee ‘lebah’
s sea ‘laut’

3. Pelambangan Fonetis Menurut Verhaar (1983: 22-24), sebahagiannya dapat dimanfaatkan untuk transkirpsi fonetik BI dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia.Pelambangan ini dikutipkan berikut ini.
a adat
i: itu
o obat
u buku
ai balai
apa yang telah diperlihatkan di atas adalah bunyi-bunyi bahasa yang didapati dalam bahasa di dunia ini. Bunyi-bunyi bahasa ini seperti yang dilambangkan dalam IPA yang di sana-sini telah ditambah, terutama telah diseuaikan dengan bunyi bahasa yang terdapat dalam BI, bahkan ada beberapa di antaranya yang terdapat dalam bahasa jawa. Seperti yang dilambangkan dalam IPA, ada bunyi tidak terdapat dalam BI. Itu sebabnya dikatakan bahwa sistem fonologi BI sangat sederhana, bukan saja yang berhubungan dengan ejaan, tetapi juga yang berhubungan dengan pelafalan dan realisasi bunyi bahasannya.
Untuk lebih mendekatkan lambing dengan wujud bunyi bahasa yang sederhana, IPA menetapkan tanda-tanda tambahan yang disebut tanda diakritis ‘diactritical signs’.

Tanda-tanda diakritis yang lain (Harimurti; 1993; xvi) yakni:
~ tilde, pada konsonan untuk menandai palatalisasi, pada vokal untuk
Menandai nasalisasi
_ makron, pada vokal untuk menandai pemanjangan
F. Penerapannya
Dalam kaitannya dengan penerapan transkripsi fonetik, misalnya dalam BI, pelambangan fonetis yang dikemukakan oleh Verhaar (1983; 22-24) seperti yang disalinkan di atas dapat dipertimbangakan untuk dipertimbangkan untuk diterapkan. Hal-hal yang diperlihatkan, selain yang berhubungan dengan transkripsi bunyi-bunyi bahasa, juga yang berkaitan dengan unsur suprasegmental, misalnya tekanan, panjang, dan jeda.
Seperti dikatakan di depan, trnkripsi fonetik untuk suatu data boleh saja berbeda antara pentrankripsi yang satu dengan lain, oleh karena daya dengar dan daya tafsir yang berbeda-beda. Penulisan mengemukakan data dalam bentuk kalimat, kemudian akan segera diikuti trankripsi fonetiknya.

.

DAFTAR PUSTAKA
Pateda, Mansoer, Pulubuhu R, Yennie. 2005. Linguistik . Gorontalo: Viladan Gorontalo.
Chaer, Abdul. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Pateda, Mansoer. 2003. Pengantar Fonologi. Gorontalo: Viladan Gorontalo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *