MAKALAH PSIKOLOGI REMAJA DAN MASALAHNYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. Masa remaja juga penuh dengan berbagai perasaan yang tidak menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecambuk harapan dan tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang matang.

Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa. Sebagian besar pakar psikologi juga setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut.

Maka dari itu di dalam makalah ini, penulis akan membahas tentang “Psikologi Remaja dan Masalahnya“ sehingga kita dapat mengetahui bagaimana psikologi remaja itu dan masalah yang ditimbulkannya.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang penulis angkat dalam pembuatan makalah ini, yaitu :
1. Apa pengertian masa remaja ?
2. Bagaimana ciri-ciri remaja ?
3. Apa sajakah konflik yang dialami oleh remaja ?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan penulisan dalam pembuatan makalah ini yaitu :
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengertian masa remaja.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui ciri-ciri remaja.
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui konflik yang dialami oleh remaja.

1.4. Kegunaan / Manfaat
Pembuatan makalah ini dapat memberikan suatu manfaat bagi kita semua, yaitu:
1. Sebagai wahana untuk menambah wawasan kita.
2. Sebagai sumber informasi untuk pembuatan makalah selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Masa Remaja
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintelegensi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan uang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini. Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi.

Menurut Konpka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi :
a. Remaja awal: 12-15 tahun
Cirinya :  Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
 Anak mulai bersikap kritis
b. Remaja madya: 15-18 tahun
Cirinya :  Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
 Memperhatikan penampilan
 Sikapnya tidak menentu/plin-plan
 Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c. Remaja akhir: 19-22 tahun.
Cirinya : Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
 Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari
remaja pria

Namun secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan.

Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai “Strom dan Stress”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa.

Ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:
a. Pertumbuhan fisik yang sangat cepat
b. Emosinya tidak stabil
c. Perkembangan seksual sangat menonjol
d. Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
e. Terikat erat dengan kelompoknya

Di dalam masa remaja, terdapat berbagai tuntutan psikologis yang muncul di tahap remaja, yaitu :
a. Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif
Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Dewi merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Dewi akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Dewi yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Dewi akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Dewi tidak memiliki teman, dan sebagainya.

b. Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua
Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku “pemberontakan” dan melawan keinginan orang tua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar. Hal yang sama juga dilakukan remaja terhadap orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’, guru misalnya.

c. Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin
Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perkembangan remaja tersebut.

d. Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau bahkan sampai tua sekalipun).

e. Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah “aku” ?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya. Maka penting bagi orang tua dan orang-orang ‘yang dianggap sebagai pengganti orang tua’ untuk mampu menjadikan diri mereka sendiri sebagai idola bagi para remaja tersebut.

Adapun kebutuhan remaja, yakni :
1. Kebutuhan akan pengendalian diri
2. Kebutuhan akan kebebasan
3. Kebutuhan akan rasa kekeluargaan
4. Kebutuhan akan penerimaan social
5. Kebutuhan akan penyesuaian diri
6. Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai sosial

William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut :
1. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mencapai otoritas.
3. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individu maupun kelompok.
4. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri
6. Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung).
7. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kenak-kanakan.

2.2. Masa-Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa, yaitu sebagai berikut :
a. Masa praremaja (remaja awal)
Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negative pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negative dengan gejalanya seperti tidak senang, kurang suka bekerja, pesimisitik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negative tersebut dapat diringkas, yaitu a) negative dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental; dan b) negative
dalam sosial, baik dalam bentuk menarik diri dari masyarakat (negative positif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negative aktif).
b. Masa remaja (remaja madya)
Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorong untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa mencari sesuatu yang dapat dipandang menilai, pantas dijunjung tinggi dan di puja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja (mendewa-dewakan), yaitu sebagai dewa remaja. Proses terbentuknya pendirian atau pandangan hidup atau cita-cita hidup itu dapat di pandang sebagai penemuan nilai-nilai kehidupan. Proses penemuan nilai-nilai kehidupantersebut adalah pertama, karena tiadanya pedoman, si remaja pedoman, si remaja merindukan sesuatu bayang dianggap bernilai, pantas dipuja walau pun sesuatu yang dipujanya belum mempunyai bentuk tertentu, bahkan seringkali remaja hanya mengetahui bahwa dia menginginkan sesuatu tetapi tidak mengetahui apa yang diinginkannya. Kedua objek pemujaan itu telah menjadi lebih jelas, yaitu pribadi-pribadi yang dipandang mendukung nilai-nilai tertentu (jadi personifikasi nilai-nilai). Pada anak laki-laki sering aktif meniru, sedangkan pada anak perempuan kebanyakan pasif, mengagumi, dan memujanya dalam khayalan.
c. Masa remaja akhir
Setelah remaja telah ditentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup masuklah individu ke dalam masa dewasa.
d. Masa Usia Kemahasiswaan
Masa usia mahasiswa sebenarnya berumur sekitar 18,0 sampai 25,0 tahun. Mereka dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. Dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup.

2.3. Dimensi Psikologis Remaja
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.

Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.

Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja.

Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah “Siapakah Saya?” Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan. Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba, baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan sampai ia menemukan peran yang pas untuk dirinya sendiri.

2.4. Konflik dan Penyimpangan atau Kenakalan Remaja
Berbagai konflik yang dialami oleh remaja :
a. Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka
b. Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua.
c. Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan agama serta nilai sosial.
d. Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.
e. Konflik menghadapi masa depan.

Pada masa remaja, sering terjadi penyimpangan atau kenakalan remaja, seperti :
a. Seks bebas di kalangan remaja, yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS.
b. Kecanduan akan Narkoba yang menyebakan kematian dan AIDS
c. Kecanduan Alkohol / minuman keras.
d. Tawuran.
e. Sering berkunjung ke diskotik.
f. Menjajakan diri kepada pria hidung belang.

2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Menyimpang Pada Remaja
Namun disamping itu terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyimpang pada remaja, yaitu :
a. Kelalaian orangtua dalam mendidik anak (memberikan ajaran dan bimbingan tentang nilai-nilai agama).
b. Sikap perilaku orangtua yang buruk terhadap anak.
c. Kehidupan ekonomi keluarga yang morat marit (miskin/fakir).
d. Diperjualbelikannya minuman keras/obat-obatan terlarang secara bebas.
e. Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok.
f. Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno.
g. Perselisihan atau konflik orangtua (antar anggota keluarga).
h. Perceraian orangtua.
i. Penjualan alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol.
j. Hidup menganggur.
k. Kurang dapat memanfaatkan waktu luang.
l. Pergaulan negatif (teman bergaul yang sikap dan perilakunya kurang memperhatikan nilai-nilai moral).

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari pembuatan makalah ini, yaitu :
1. Masa remaja adalah usia dimana individu berintelegensi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan uang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak
2. Ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain :
a. Pertumbuhan fisik yang sangat cepat
b. Emosinya tidak stabil
c. Perkembangan seksual sangat menonjol
d. Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
e. Terikat erat dengan kelompoknya
3. Berbagai konflik yang dialami oleh remaja :
a. Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka
b. Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua.
c. Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan agama serta nilai sosial.
d. Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.
e. Konflik menghadapi masa depan.

3.2. Saran
Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.

Psikologi Pendidikan dalam Meningkatkan Potensi Siswa Remaja Oleh: Dewi Wulansari Abstrak Pendidikan dinilai memiliki cakupan lebih luas yang meliputi semua usaha yang dilakukan manusia untuk lebih maju dan berkembang, baik dilakukan secara mandiri dan berkelompok dan diselenggarakan diberagam lokasi (di rumah, sekolah, masyarakat, tempat ibadah, lingkungan, atau kombinasi dari berbagai lokasi ini). Tujuan pendidikan adalah menjadikan individu lain (peserta didik) lebih baik. Kegiatan pendidikan (interaksi pendidik dengan peserta didik) dapat terjadi di dalam maupun di luar sekolah. Pendidikan seperti diketahui adalah kegiatan yang melibatkan interaksi antara manusia dengan manusia maupun manusia dalam proses untuk mengubah perilaku peserta didik melalui materi pembelajaran serta sumber-sumber belajar lainnya. Dengan demikian, kegiatan belajar dan pengajaran tak lepas dari aktivitas mental dan sosial. Hal ini memunculkan adanya kebutuhan kontribusi dari ilmu psikologi yang bisa menjadi bekal bagi pendidik agar dapat melaksanakan tugas pengajaran dan pendidikan dengan humanis dan baik. Sasaran dari penerapan psikologi pendidikan adalah pada bagaimana membentuk suasana belajar yang efektif. Santrock menyatakan bahwa terdapat dua kandungan utama yang dapat menjadi ukuran efektivitas proses pengajaran; keterampilan dan pengetahuan profesional serta komitmen, motivasi, dan kepedulian dari pengajar (2010:6). Kata Kunci: Psikologi Pendidikan, Remaja Pendahuluan Mengawali artikel ini, terlebih dahulu perlu dipahami pengertian psikologi. Santrock (2010:2) menjelaskan psikologi sebagai suatu studi ilmiah mengenai proses perilaku dan mental. Sedangkan menurut Nurihsan (2013) psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan. Kedua pengertian ini secara jelas mengkaitkan psikologi dengan perilaku. Psikologis berasal dari Bahasa Yunani, psyche yang berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Meski secara harafiah diartikan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan. Akan tetapi hal tersebut dinilai kurang tepat. Mengapa demikian? Karena dalam psikologi yang dikaji adalah manifestasi dari jiwa dalam bentuk perilaku individu ketika berhubungan dengan lingkungannya. Berdasarkan penjelasan inilah maka psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. PENDIDIKAN Pendidikan merupakan suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. Seley (Erawati, 2012) membedakan pendidikan (education) dari persekolahan (schooling). Pendidikan dinilai memiliki cakupan lebih luas yang meliputi semua usaha yang dilakukan manusia untuk lebih maju dan berkembang, baik dilakukan secara mandiri dan berkelompok dan diselenggarakan diberagam lokasi (di rumah, sekolah, masyarakat, tempat ibadah, lingkungan, atau kombinasi dari berbagai lokasi ini). Dengan demikian pendidikan adalah proses kontinyu yang dimulai sejak individu lahir dan akan berhenti ketika individu tersebut tuutp usia. Sedangkan pengertian sekolah jauh lebih sempit, karena mengacu pada proses edukatif yang terjadi pada periode tertentu di bawah bimbingan pengajar. Berdasar penjelasan di atas bisa dikatakan jika pendidikan merupakan tuntunan, arahan, dan pandangan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada individu atau kelompok lain. Tujuan dari bimbingan dan arahan tersebut adalah menjadikan individu lain (peserta didik) lebih baik. Kegiatan pendidikan (interaksi pendidik dengan peserta didik) dapat terjadi di dalam maupun di luar sekolah. Sedangkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional di Indonesia adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 3, UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas). Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dipahami ilmu kependidikan yang didukung dengan keilmuan lain khususnya dari psikologi. Pendidikan seperti diketahui adalah kegiatan yang melibatkan interaksi antara manusia dengan manusia maupun manusia dalam proses untuk mengubah perilaku peserta didik melalui materi pembelajaran serta sumber-sumber belajar lainnya. Dengan demikian, kegiatan belajar dan pengajaran tak lepas dari aktivitas mental dan sosial. Hal ini memunculkan adanya kebutuhan kontribusi dari ilmu psikologi yang bisa menjadi bekal bagi pendidik agar dapat melaksanakan tugas pengajaran dan pendidikan dengan humanis dan baik. Salah satu keilmuan yang diperlukan oleh pendidik adalah psikologi pendidikan (Erawati, 2013). PSIKOLOGI PENDIDIKAN Santrock (2010:2) menjelaskan psikologi pendidikan sebagai berikut; ‘Educational psychology is the branch of psychology that specializes in understanding teaching and learning in educational settings. Educational psychology is a vast landscape that will take us an entire book to describe.’ Psikologi pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang khusus mengkaji pemahaman pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan dan memiliki cakupan yang sangat luas. Nurihsan (2013) menyatakan bahwa peran psikologi pendidikan sangat strategis dalam mengembangkan tenaga pendidik yang berkualitas. Psikologi pendidikan merupakan psikologi terapan yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah terkait dengan dunia pendidikan. Di dalam psikologi pendidikan dikembangkan teori dan penelitian yang penting bagi peningkatan psikologi belajar pengajar. Mengajar adalah proses interaksi antara pengajar dan peserta didik yang didalam prosesnya terjadi transfer pengetahuan. Pengetahuan yang ditransfer ini diharapkan akan bermanfaat bagi pserta didik. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa disamping transfer pengetahuan, proses interaksi ini juga mengandung dorongan positif dari pengajar kepada peserta didik agar apa yang dipelajari bisa mengubah perilaku ke arah yang lebih baik. Dengan demikian pengajar kecuali sebagai sarana peralihan ilmu juga sebagai panduan bagi peserta didik. Peran penting ini seharusnya ditanggapi dengan kinerja pengajar yang positif sehingga bisa menjadi contoh bagi peserta didik. Santrock mengatakan bahwa mengajar adalah gabungan antara seni dan ilmu, dan pengalaman dalam menggabungkan keduanya akan menjadi kunci sukses seorang pengajar (Santrock, 2010:4). Dari sisi seni, psikologi pendidikan mengharuskan pengajar untuk bersikap spontan dan rutin melakukan improvisasi. Kekakuan di dalam pengajaran akan menyebabkan siswa tidak tertarik. Sedangkan dari sisi keilmuan, psikologi pendidikan memberikan arahan bagaimana menjalankan proses pengajaran yang efektif. Penggabungan seni dan ilmu disini berarti penerapan pengajar atas pengetahuan proses belajar yang efektif dengan disesuaikan pada kondisi kelas yang dikelolanya serta disesuaikan dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman pengajar dan masing-masing peserta didik. Disinilah letak kebijaksanaan seorang tenaga pengajar di dalam mengelola suasana yang kondusif untuk memotivasi peserta didik. Pada akhirnya sasaran dari penerapan psikologi pendidikan adalah pada bagaimana membentuk suasana belajar yang efektif. Santrock (2010:6) mengatakan bahwa bentuk pengajaran yang efektif sangat beragam, tidak ada satu cara yang bisa dikatakan paling tepat. Hal ini disebabkan karenanya variasi dari pengajar dan peserta didik (budaya, kemampuan, sosial ekonomi, motivasi). Oleh karena itu pegajar perlu menguasai berbagai variasi strategi ketika menerapkan psikologi pendidikan tersebut. Santrock selanjutnya membagi dua kandungan utama yang dapat menjadi ukuran efektivitas proses pengajaran; keterampilan dan pengetahuan profesional serta komitmen, motivasi, dan kepedulian dari pengajar (2010:6). Pengajar yang efektif menguasai materi yang diajarkannya dan juga menguasai teknik serta keterampilan mengajar. Pengajar efektif tahu bagaimana memilih strategi pengajaran dan penerapannya dalam mengelola kelas. Disamping itu mereka juga bisa memotivasi peserta didik serta mampu berkomunikasi efektif dan menjalin hubungan kerjasama yang saling menguntungkan dengan peserta didik yang memiliki berargam latar belakang. Satu tambahan lagi adalah kemampuan pengajar dalam menguasai dan menerapkan sarana teknologi yang mendukung proses belajar di kelas (Santrock, 2010:6). Pengajar yang efektif mengetahui bahwa prinsip-prinsip psikologi pendidikan akan membantu mereka ketika menuntun pembelajaran siswa. Sejarah psikologi pendidikan dimulai oleh John Dewey yang berpandangan bahwa anak adalah pembelajar yang aktif, anak-anak akan belajar dengan sangat baik dengan cara mempraktikannya. Dewey berargumen bahwa anak-anak seharusnya tidak hanya dididik dalam mata pelajaran akademis, tetapi seharusnya mempelajari cara berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah, (Santrock, 2012: 3). Saat ini psikologi pendidikan lebih fokus pada aspek sosioemosional kehidupan para siswa, Konteks sosioemosional dari kehidupan anak-anak mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar (Santrock, 2012:5,92). Berkenaan dengan kontek sosioemosional, ditekankan pentingnya praktik pengajaran yang sesuai dengan perkembangan. Pada Erikson’s stage development, digambarkan delapan rentang kehidupan manusia, setiap tahap terdiri atas tugas perkembangan yang mempertemukan individu dengan sebuh krisis. Semakin berhasil individu menyelesaikan setiap krisis, semakin sehat individu tersebut secara psikologis, (Baker 2013, Santrock 2012:96). Sedangkan menurut Piaget, (Suparno, 2000:80-90), perkembangan anak dilihat berdasarkan proses yang terjadi pada anak-anak ketika mereka membangun pengetahuan, yaitu; skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, ekuilibrasi, dengan tahapan, sensorimotor, praoperasional, operasional konkrit dan operasional formal. Piaget (Suparno, 2000:153) menekankan bahwa, pengetahuan itu dibentuk oleh murid. Murid sendiri yang mengkontruksi pengetahuan. Tanpa keaktifan sendiri membangun pengetahuan, murid tidak akan tahu apa-apa. Tugas pengajar lebih sebagai fasilitator, anak didik harus dibantu aktif, karena pengetahuan dibentuk atau dikembangkan dengan adanya adaptasi antara pikiran manusia dan lingkungannya. Berbeda dengan Piaget, Vigotsky (Santrock, 2012:62) menyatakan bahwa, fungsi-fungsi mental mempunyai hubungan eksternal atau hubungan sosial. Anak-anak mengembangkan konsep- konsep yang lebih sistematis, logis dan rasional yang merupakan hasil dari dialog bersama orang luar/pembimbingnya yang terampil. Mengenai pentingnnya pengaruh sosial, terdapat konsep ZPD (Zona of Proximal Development) yang terdiri dari batas bawah dan batas atas. Batas bawah adalah tingkat keterampilan yang dapat diraih oleh anak yang dilakukan secara mandiri. Batas atasnya adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima anak, dengan bantuan seseorang yang lebih terampil, (Vigotsky, 1997:32). Berkaitan dengan lingkungan menurut Bronfenbrenner (Santrock, 2012:93,94) menyatakan bahwa, anak-anak berkembang dipengaruhi oleh orang-orang yang penting dalam kehidupan mereka (keluarga, sekolah, teman sebaya, tetangga/lingkungan sekitar dll). Siswa yang diberi lebih banyak kesempatan untuk berkomunikasi dan membuat keputusan, baik ketika di kelas atau di rumah, menunjukkan lebih memiliki inisiatif dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Oleh sebab itu, pengajar tidak boleh hanya mempertimbangkan apa yang terjadi di dalam kelas, tetapi juga harus mempertimbangkan apa yang terjadi dalam keluarga, kelompok teman sebaya siswa dan lingkungan sekitar. Psikologi Remaja Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang melibatkan perubahan di berbagai aspek kehidupan individu.yang mencakup kematangan fisik/biologis, kognitif, dan sosioemosional. Proses biologis, kognitif dan sosioemosional, merupakan jalinan yang saling terkait satu sama lain Hurlock (1980). Perubahan fisik/biologis remaja ditandai oleh perubahan tinggi tubuh yang cepat, perubahan hormonal, kematangan seksual yang muncul ketika pubertas, perubahan otak yang memungkinkan kemajuan dalam berpikir. Perubahan kognitif berlangsung dengan meningkatnya berpikir abstrak, idealistik dan logis, remaja mulai berpikir secara egosentris. Faktor hormon dianggap dapat menjelaskan minimal sebagian dari meningkatnya emosi negatif dan emosi yang berubah-ubah. karenanya remaja juga lebih banyak mengalami perubahan suasana hati dibandingkan waktu mereka masih anak-anak (Santrock, 2007: 22,23). Namun demikian, Gunn & Warren (Wolfe & Mash, 2006:5) menemukan bahwa faktor-faktor sosial menjelaskan dua hingga empat kali lebih besar dari varians depresi dan kemarahan remaja perempuan, dibandingkan dengan faktor-faktor hormonal.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/dewiwulsar/psikologi-pendidikan-dalam-meningkatkan-potensi-siswa-remaja_555473aa739773d31590565c

Psikologi anak & remaja.doc BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Psikologi diakui sebagai ilmu mandiri pada akhir abad ke-19. Selama dua abad sebelumnya, berbagai model dikembangkan mengenai apa yang semestinya menjadi subjek studi psikologi dan bagaimana studi tersebut dilakukan. Secara spesifik , selama abad ke-17 dan ke-18, berbagai model psikologi saling bersaing untuk mendominasi yang lain. Para psikolog bekerja di banyak situasi terapan yang berbeda-beda, dan memiliki berbagai macam peran, bahkan dalam lingkungan akademik psikologi kontemporer cukup sulit diidentifikasi. Penelitian dan pengajaran psikologi dilakukan di departemen psikologi, ilmu kognitif, manajemen organisasi, dan hubungan social. Psikologi tampaknya berkembang menuju diversifikasi yang lebih besar daripada menuju suatu kesatuan kohesif. Paling tidak, sistem-sistem psikologi yang dikembangkan pada abad ke-20 memberikan deskripsi yang masuk akal tentang bagaimana psikologi mencapai keragamanya. Fase sistem dalam perkembangan psikologi merupakan bagian penting dalam evolusi psikologi. Fase tersebut menunjukan kesulitan dalam mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan dan menempatkan psikologi dalam ilmu pengetahuan. Karena wujud empiris ilmu pengetahuan merupakan kesamaan utama di antara bidang-bidang kontemporer penelitian psikologi. Kami disini akan menguraikanya dengan lebih detail lagi tentang apa yang di maksud dengan psikologi pada masa kanak-kanak dan psikologi pada masa remaja. B. Rumusan Masalah 1) Masa kanak-kanak a. Awal masa kanak-kanak b. Akhir masa kanak-kanak c. Bahaya psikologis terpenting pada anak 2) Masa remaja a. Ciri-ciri masa remaja b. Tugas perkembangan pada masa remaja c. Keadaan emosi pada masa remaja d. Minat remaja e. Perubahan moral pada masa remaja C. Tujuan 1. Untuk menjelaskan psikologi pada masa kanak-kanak, yang meliputi : a. Awal masa kanak-kanak b. Akhir masa kanak-kanak c. Bahaya psikologis terpenting pada anak 2. Ingin menjelaskan psikologi pada masa remaja, yang meliputi : a. Ciri-ciri masa remaja b. Tugas perkembangan pada masa remaja c. Keadaan emosi pada masa remaja d. Minat remaja e. Perubahan moral pada masa remaja BAB II PEMBAHASAN 1. Psikologi Pada Masa Kanak-Kanak 1.A. Awal masa kanak-kanak Awal masa kanak-kanak yang berlangsung dari dua sampai enam tahun, oleh orang tua disebut sebagai usia yang problematic, menyulitkan atau masa bermain, oleh para pendidik dinamakan sebagai usia prasekola, dan oleh ahli psikoligi disebut dengan prakelompok, penjajah atau usia bertanya. Perkembangan fisik berjalan lambat tetapi kebiasaan fisiologis yang dasarnya diletakan pada masa bayi, menjadi cukup baik. Berbagai hubungan keluarga, orang tua anak, antar saudara dan lingkungan sangat berperan dalam dalam sosialisasi anak dan perkembangan konsep diri dalam tingkat kepentingan yang berbeda. Kebahagiaan pada awal masa kanak-kanak bergantung lebih kepada kejadian yang menimpa anak dirumah daripada kejadian diluar rumah. Awal masa kanak-kanak dianggap sebagai saat belajar untuk mencapai pelbagai ketrampilan karena anak senang mengulang, hal mana penting untuk belajar ketrampilan, anak yang pemberani dan senang mencoba hal-hal yang baru, dank arena hanya memiliki beberapa ketrampilan maka tidak mengganggu usaha penambahan ketrampilan baru. Perkembangan berbicara berlangsung cepat, seperti terlihat dalam perkembanganya pengertian dan berbagai ketrampilan berbicara, ini mempunyai dampak yang kuat terhadap jumlah bicara dan isi pembicaraan. Perkembangan emosi mengikuti pola yang dapat diramalkan, tetapi terdapat keanekaragaman dalam pola ini karena tingkat kecerdasan, besarnya keluarga, pendidikan anak dan kondisi-kondisi lain. Bermain sangat dipengaruhi oleh ketrampilan motorik yang dicapai, tingkat popularitas yang ia senangi diantara teman sebaya, bimbingan yang diterima dalam mempelajari berbagai pola bermain dan setatus social ekonomi keluarga. Awal masa kanak-kanak ditandai oleh moralitas dengan paksaan, suatu masa dimana anak belajar mematuhi peraturan secara otomatis melalui hukuman dan pujian, preode ini juga merupakan masa penegakan disiplin dengan cara yang berbeda, ada yang secara otoriter, lemah dan demokratis. Minat umum anak meliputi minat terhadap agama, tubuh manusia, diri sendiri, pakaian dan seks, ketidaktepatan dalam mengerti sesuatu merupakan hal yang umum pada masa awal kanak-kanak karena banyak konsep yang kekanak-kanakan dipelajari tanpa bimbingan yang cukup dank arena anak sering didorong untuk memandang kehidupan secara tidak realistis agar lebih menarik dan semarak. 1.B. Akhir masa kanak-kanak Akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari enam tahun sampai anak mencapai kematangan seksual, yaitu ekitar umur 13 th bagi anak perempuan dan 14 th bagi anak laki-laki, yang mana masa tersebut oleh orang tua disebut masa yang menyulitkan karena pada masa-masa ini anak sering bertengkar, bandel dan lain-lain, para ahli psikologi menyebutnya dengan usia penyesuaian atau usia kreatyif. Pertumbuhan fisik yang lambat pada akhir masa kanak-kanak dipengaruhi oleh kesehatan, gizi, immunisasi, seks dan inteligensi. Keterampilan pada akhir masa kanak-kanak secara kasar dapat digolongkan kedalam empat (4) kelompok yaitu : a. Keterampilan menolong diri b. Keterampilan menolong social c. Keterampilan social d. Keterampilan bermain Akhir masa kanak-kanak disebut “usia berkelompok” karena anak berminat dalam kegiatan-kegiatan dengan teman-teman dan ingin menjadi bagian dari kelompok yang mengharapkan anak untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola perilaku, nilai-nilai dan minat anggotanya sebagai anggota kelompok, anak sering menolak standart orang tua, mengembangkan sikap menentang lawan jenis, dan berprasangka kepada semua yang bukan anggota kelompok. Minat bermain anak dan jumlah waktu yang digunakan untuk bermain tergantung pada derajat dukungan social dari pada kondisi-kondisi lain. Pada akhir masa kanak-kanak, terdapat peningkatan pesat dalam pengertian dan ketepatan konsep selama periode akhir masa kanak-kanak yang disebabkan oleh meningkatnya inteligensi dan meningkatnya kesempatan belajar. Sebagian besar anak mengembangkan kode moral yang dipengaruhi oleh standart moral kelompoknya dan hati nurani yang membimbing perilaku sebagai pengganti pengawasan dari luar yang diperlukan pada waktu anak masih kecil, sekalipun demikian pelanggaran di rumah, di sekolah dan di lingkungan tetangga masih sering terjadi. 1.C. Bahaya psikologis terpenting pada anak Diantara bahaya psikologis yang terpenting adalah : a) isi pembicaraan yang bersifat tidak social b) ketidak mampuan mengadakan kompleks empati c) gagal belajar penyesuaian social karena kurangnya bimbingan d) lebih menyukai teman khayalan atau hewan kesayangan e) terlalu menekankan pada hiburan dan kurang penekanan dalam bermain aktif f) disiplin yang tidak konsisten g) gagal dalam mengambil peran seks sesuai dengan pola yang disetujui oleh kelompok social h) kemerosotan dalam dalam hubungan keluarga i) konsep diri yang kurang baik 2. psikologi Pada Masa Remaja Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin yang berarti tumbuh menjadi dewasa, bangsa primitive demikian pula orang-orang pada zaman purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode=periode lain dalam rentang kehidupan, anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi. Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak sudah tidak merasa lagi dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan social orang dewasa, yang kenyataanya merupakan cirri khas yang umum dari periode perkembangan ini. 2.A. Cirri-ciri masa remaja  Masa remaja sebagai periode yang penting Bagi sebagian besar anak muda, usia diantara dua belas dan enam vbelas tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh dengan kejadian sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Tak dapat disangkal, selama kehidupan ini perkembangan berlangsung semakin cepat, dan lingkungan yang baik semakin lebih menentukan, tetapi yang bersangkutan sendiri bukanlah remaja yang memperhatikan perkembangan atau kurangnya perkembangan dengan kagum, seang atau takut.  Masa remaja sebagai periode peralihan Peralihan tidak berarti terputus dengan sesuatu atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahup perkembangan ke tahap berikutnya. Artinya apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekasnya pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang.  Masa remaja sebagai periode perubahan Ada lima perubahan yang sama yang hamper bersifat unifersal. (1) meningginya emosi, yang intensitasnya tergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. (2) perubahan tubuh, bagi remaja masalah baru yang timbul tampaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan dengan masalah yang dihadapi sebelumnya. (3) perubahan minat. (4) perubahan perilaku. (5) ingin kebebasan dan takut bertanggung jaawab. 2.B. Tugas perkembangan pada masa remaja Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada penanggulangan sikap dan perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa, tugas perkembangan pada masa dewasa menunbtut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak, akibatnya, hanya sedikit anak lak-laki yang mampu dan hanya anak perempuanlah yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apa lagi mereka yang matangnya terlambat. Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan perkembangan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan social. Namaun, hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan ketrampilan dan konsep ini dalam situasi praktis. Mereka yang aktif dalam pelbagai aktifitas ekstra kurikuler menguasai praktek yang demikian ini, namun mereka yang tidak aktif karena harus bekerja setelah sekolah atau karena tidak diterima oleh teman-teman, akhirnya mereka tidak memperoleh kesempatan ini. 2.C. Keadaan emosi selama masa remaja Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai preode “badai dan tekanan” suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Oleh karena itu perlu dicari keterangan lain yang menjelaskan ketegangan emosi yang sangat khas pada masa usia ini. Penjelasan diperoleh dari kondisi social yang mengelilingi remaja masa ini, adapun meningginya emosi terutama karena berada dibawah tekanan social dan menghadapi kondisi baru. 2.D. Beberapa minat remaja Minat rekreasi, meliputi : Permainan dan olah raga, bersantai, bepergian, dansa, membaca, menonton, melamun dan lain-lain.  Minat social, meliputi : Pesta, minum-minuman keras, obat-obat terlarang, percakapan, menolong orang lain, mencari pasangan dan lain-lain.  Minat pendidikan dan agama.  Minat pekerjaan. 2.E. Perubahan moral pada masa remaja Menurut Kholberg, tahap perkembangan moral harus dicapai selama masa remaja, tahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap yaitu : 1) Individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral sehingga dimungkinkan adanya perbaikan dan perubahan setandart moral, apabila hal ini bisa menguntukan anggota-anggota kelompok secara keseluruhan. 2) Individu menyesuaikan diri dengan standart social dan ideal yang diinternalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada sensor social. Dalam hal ini moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi. BAB III PENUTUP a. Pengertian Psikologi Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Psikologi merupakan cabang ilmu yang masih muda atau remaja. Sebab, pada awalnya psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat tentang jiwa manusia. Menurut plato, psikologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat, hakikat, dan hidup jiwa manusia (psyche = jiwa ; logos = ilmu pengetahuan). b. Timbulnya Aliran-Aliran Dalam Psikologi DAFTAR PUSTAKA 1. Elizabeth, HurlockB. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga, 1980. 2. Kartono, Kartini. 1996. Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju. 3. Turner, M. B. 1976. Psikologi and Science of Behavior, New York : Appleton-Century-Crofts 4. Watson, R. I. 1971. The Great Psychologist, From Aristotle to freud. Philadelphia: J. B. Lippincott 5. http//.www.google.com

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *