TUGAS MATA KULIAH PENYAKIT TROPIK
HIPERTENSI
PEMINATAN EPIDEMIOLOGI DAN PENYAKIT TROPIK

Tugas ini disusun guna memenuhi nilai tugas mata kuliah Semester VI Penyakit Tropik
Dosen Pembimbing: dr. M. Sakundarno Adi, MSc

Disusun Oleh Kelompok 5 :

Hafidzoh Najwati 25010113120189
Evrilda Andani Putri 25010113120183
Rizka Inunggita 25010113140231
Hana Fitria Azizah 25010113120065
Nita Dwilestari 25010115183002
Arini 25010115183009
Khasanah Budi Rahayu 25010113130401

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
DAFTAR ISI
Halaman depan………………………………………………………………………. i
Daftar Isi………………………………………………………………………………. ii
Daftar Tabel…………………………………………………………………………. iii
Daftar Gambar……………………………………………………………………… iv
Pendahuluan
A Latar Belakang…………………………………………………………… 1
B Rumusan Masalah………………………………………………………. 2
C Tujuan………………………………………………………………………. 2
D Manfaat…………………………………………………………………….. 3
Pembahasan
A Etiologi Hipertensi…………………………………………………….. 4
B Epidemiologi berdasarkan orang, tempat, waktu……….. 6
C Faktor Risiko Hipertensi…………………………………………….. 6
D Gejala dan Tanda serta Patofisiologis………………………… 11
E Diagnosis, pencegahan dan pengendalian………………….. 14
Daftar Pustaka……………………………………………………………………… 23

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah……………………………………………. 12
Tabel 2. Pemeriksaaan penunjang yang dilakukan pada pasien hipertensi 18

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Mekanisme Patofisiologi Hipertensi…………………………………………. 14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tekanan darah adalah faktor yang sangat penting dalam sistem sirkulasi darah. Tekanan darah tentunya diperlukan untuk daya dorong mengalirnya darah di dalam pembuluh arteri, arteriola, kapiler, dan sistem vena, sehingga akan terbentuk aliran darah yang menetap.Penurunan maupun peningkatan tekanann darah akan memperngaruhi homeostatis dalam tubuh. Jika sirkulasi darah dalam tubuh tidak memadai,maka akan terjadi gangguan pada sistem transprtasi oksigen, karbondioksidan, dan hasil metabolisme lainnya. Terdapat dua jenis gangguan tekanan darah, yaitu tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tekanan darah rendah (hipotensi) .(1)
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.(2) Hipertensi merupakan suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang cukup banyak mengganggu kesehatan masyarakat. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi. Pasalnya, penyakit hipertensi tidak membunuh penderitanya secara langsung, namun memicu terjadinya penyakit lain yang mematikan serta memberi gejala lebih lanjut pada organ target, seperti stroke untuk otak serta PJK untuk pembuluh dan otot jantung.(3) Hingga saat ini, penyakit hipertesi masih menjadi tantangan terbesar di Indonesia. Penyakit hipertensi sering kali ditemukan pada pelayanan kesehatan primer di berbagai daerah. Prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia masih tegolong tinggi yakni sebesar 25,8% sesuai dengan Riskesdas 2013.(4) Hal tersebut juga dikemukakan oleh Boedhi-Darmojo, bahwa angka prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia berkisar antara 0,65-28,6%. (3)
Berdasarkan penyebabnya hipertensi diklasifikasikan menjadi dua yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Jumlah penderita hipertensi primer sebesar 90-95%, sedangkan jumlah penderita hipertensi sekunder sebesar 5-10%.(1) Penyakit tekanan darah tinggi merupakan penyakit multifaktoral yakni penyakit yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, obesitas, konsumsi alkohol, merokok, stress, dan lain sebagainya.(5)
Tingginya prevalensi serta meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas penyakit hipertensi di Indonesia disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat mengenai konsep penyakit hipertensi itu sendiri. Oleh karena itu, pada makalah ini akan di bahas mengenai konsep penyakit hipertensi meliputi, etiologi, epidemilogi, faktor risiko, tanda dan gejala, patofisiologis, diagnosis, serta pencegahan dan pengendalian. Dengan disusunnya makalah diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai konsep peyakit hipertensi, sehingga dapat meminimalisir angka prevalensi serta morbiditas dan mortalitas dari penyakit hipertensi.

B. Rumusan
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit hipertensi?
2. Apa penyebab (etiologi) penyakit hipertensi?
3. Bagaimana epidemiologi penyakit hipertensi?
4. Apa saja faktor risiko penyakit hipertensi?
5. Apa saja tanda dan gejala penyakit hipertensi?
6. Bagaimana patofisiologis penyakit hipertensi?
7. Bagaimana cara mendiagnosis penyakit hipertensi?
8. Bagaimana melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit hipertensi yang tepat?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan konsep, faktor risko, serta pencegahan dan pengendalian penyakit hipertensi.
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan definisi penyakit hipertensi
b. Mendeskripsikan etiologi penyakit hipertensi
c. Medeskripsikan epidemiologi penyakit hipertensi berdasarkan konsep orang, tempat dan waktu.
d. Mendeskripsikan faktor risiko penyakit hipertensi
e. Mendeskripsikan tanda dan gejala penyakit hipertensi
f. Mendeskripsikan patofisiologis penyakit hipertensi
g. Mendeskripsikan diagnosis penyakit hipertensi
h. Mendeskripsikan pencegahan dan pengendalian penyakit hipertensi
D. Manfaat
a. Bagi Mahasiswa
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai konsep, faktor risko, serta pencegahan dan pengendalian penyakit hipertensi.
b. Bagi IPTEK
1) Sebagai tambahan kepustakaan dalam pengembangan ilmu kesehatan
2) Sebagai bahan informasi dan literatur untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut
c. Bagi Institusi Terkait (FKM UNDIP)
Merupakan bahan masukan dan informasi untuk kepentingan pendidikan serta tambahan kepustakaan dalam penelitian selanjutnya.
d. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai konsep, faktor risko, serta pencegahan dan pengendalian penyakit hipertensi., sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk meminimalisir risiko penyakit hipertensi.

BAB II
PEMBAHASAN
A Etiologi Hipertensi
Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti munculnya penyakit hipertensi. Namun ada beberapa penyebab atau faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit hipertensi, antara lain(6):
1. Usia
Angka insidensi penyakit hipertensi akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
2. Jenis kelamin
Pada umumnya angka insidensi penyakit hipertensi di usia muda pada laki-laki cenderung lebih tinggi daripada wantia. Namun pada usia pertengahan dan lebih tua (± 65 tahun), angka insidensi penyakit hipertensi pada wanita meningkat lebih banyak daripada pria.
3. Ras
Hipertensi pada orang berkulit hitam dua kali lebih rendah dibandingkan hipertensi pada orang berkulit putih. Akibat dari penyakit hipertensi umumnya lebih berat pada ras kulit hitam. Misalnya, mortalitas pasien kulit hitan dengan diastole 115 mmHg atau diatasnya lebih tinggi 3,3 kali daripada laki-laki kulit putih dan 5,6 kali lebih tinggi daripada perempuan kulit putih.
4. Pola hidup
Pola hidup yang tidak sehat seperti merokok, mengonsumsi alkohol, mengonsumsi junkfood atau makanan siap saji diduga dapat menyebabkan penyakit hipertensi. Pengetahuan masyarakat yang masih kurang dan tingkat pendapatan juga diduga berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat sehingga menyebabkan meningkatkan angka insidensi penyakit hipertensi.
Salin itu, etiologi penyakit hipertensi dapat dibagi menjadi 2 berdasarkan jenis hipertensi yaitu :
1. Hipertensi Primer (Esensial)
Hingga saat ini belum diketahui hubungan penyebab hipertensi primer seperti genetik, lingkungan dan kelainan metabolisme intraselular yang dapat meningkatkan risiko penyakit hipertensi.(7) Namun ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa kejadian hipertensi primer berhubungan dengan obesitas, hiperkolesterolemia, ateroskerosis, diet tinggi garam, diabetes, stress, riwayat keluarga, merokok, dan kurang olahraga.(6)
2. Hipertensi Sekunder
Kejadian hipertensi sekunder berkaitan dengan adanya berbagai gangguan pada organ tubuh. Penyakit parenkim dan penyakit renovaskular merupakan penyebab paling umum kejadian penyakit hipertensi sekunder.(6) Berikut adalah beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit hipertensi sekunder :
a. Gangguan pada ginjal, seperti glomerulonefhritis, pielonefritis, tumor, diabetes, dan lainnya.
b. Gangguan renovaskuler, seperti aterosklerosis, hyperplasia, emboli kolesterol, transplantasi, dan yang lainnya.
c. Gangguan adrenal, seperti sindrom cushing, aldosteronisme primer.
d. Gangguan aorta, seperti koarktasio aorta, arteritis takayasu.
e. Gangguan neoplasma, seperti tumor wilm, tumor yang mensekresi rennin.
f. Kelaianan endokrin, seperti obesitas, resistensi insulin, hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, hiperkalsemia, dan lain-lain.
g. Gangguan saraf, seperti stress berat, psikosis, stroke, tekanan intrakranial meningkat.
h. Toksemia pada kehamilan, seperti preeklamsian, eklamsia, dan hipertensi sementara yang sering di but dengan PIH (Pregnancy-induced hyperthension). Preeklamsia adalah suatu kondisi di mana hipertensi kehamilan terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Sedang eklampsia ialah terjadinya konvulsi atau koma pada pasien disertai dengan tanda dan gejala preeklamsia.
B Epiedmiologi Berdasarkan Orang, Tempat, dan Waktu
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular. Epidemiologi dari penyakit hipertensi berdasarkan orang, tempat dan waktu adalah sebagai berikut :
a. Orang
Hipertensi paling banyak diderita oleh orang berumur sekitar 31-55tahun. Hal ini dikarenakan seiring bertambahnya usia, tekanan darah cenderung meningkat. Yang mana penyakit hipertensi umumnya berkembang pada saat umur seseorang mencapai paruh baya. Tekanan darah cenderung meningkat khususnya pada orang berusia lebih dari 40 tahun bahkan pada usia lebih dari 60 tahun keatas.
b. Tempat
Dilihat dari tempat terjadinya kasus hipertensi, penduduk yang tinggal di wilayah pesisir lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan penduduk yang tinggal di wilayah pegunungan. Penduduk yang berdomisil di daerah pesisir lebih rentan terhadap penyakit hipertensi karena tingkat mengkonsumsi garam lebih tinggi atau berlebihan dibanding daerah pegunungan yang kemungkinan lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah.
c. Waktu
Hipertensi berdasarkan waktu berbeda pada setiap tahunnya. Studi morbiditas Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), 2001 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi mengalami peningkatan dari 96 per 1000 penduduk pada tahun 1995 menjadi 110 per 1000 penduduk tahun 2001.(8)
C Faktor Risiko Hipertensi
Black dan Hawks (2005) menyatakan, ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya hipertensi pada seseorang yaitu faktor genetik dan lingkungan. Faktor risiko tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi (tidak dapat diubah) dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (dapat di ubah atau dikendalikan). (9)
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain : riwayat keluarga dengan hipertensi, umur, jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah nutrisi, stres, obesitas, dan zat berbahaya seperti asap rokok dan konsumsi alkohol berlebih, serta aktivitas fisik.Untuk terjadinya hipertensi perlu peran faktor risiko tersebut secara bersamasama (common underlying risk factor), dengan kata lain satu faktor risiko saja belum cukup menyebabkan timbulnya hipertensi.(10)
1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
a. Riwayat keluarga
Hipertensi adalah penyakit poligenik dan multifaktorial.(9) Seseorang dengan riwayat keluarga hipertensi, beberapa gennya akan berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan yang akan meningkatkan tekanan darah. Seseorang yang orang tuanya menderita hipertensi akan mempunyai risiko lebih besar mengalami hipertensi pada usia muda. Selain itu, predisposisi genetik berhubungan dengan tingginya kadar sodium di intraseluler dan rendahnya kadar potasium dibandingkan kadar sodium. Hal ini banyak terjadi pada ras kulit hitam. Menurut Depkes (2006), faktor keturunan ini berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin membran sel.
b. Umur
Risiko kejadian hipertensi muncul sejak seseorang berumur 20 tahun pada laki-laki dan wanita, dan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. JNC (2003) menyatakan bahwa seseorang yang biasanya mempunyai tekanan darah normal pun mempunyai risiko hipertensi sejak berusia 55 tahun.(11)
Pasien yang berumur di atas 60 tahun mempunyai tekanan darah di atas 140/90 mmHg. Isolated systolic hipertension biasanya terjadi pada umur di atas 50 tahun. Konsep ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Indrawati, Werdhawati, & Yudi (2009), yang menunjukkan bahwa faktor umur mempunyai risiko paling tinggi terhadap kejadian hipertensi.
c. Jenis kelamin
Tingkat hipertensi lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita pada usia di bawah 55 tahun. Tingkat kejadian ini akan menjadi sebanding pada usia 55-74 tahun. Akan tetapi, pada usia di atas 47 tahun, wanita lebih rentan mengalami hipertensi daripada pria (9)
Menurut Miller dan Shintani (1993), hormon-hormon yang dihasilkan oleh tubuh perempuan membantu perempuan dalam melawan penyakit jantung.(12) Selain itu, menurut Maltin (1999) pekerjaan dan perilaku perempuan dianggap lebih tidak berisiko dan berperilaku sehat dibandingkan dengan laki-laki. Akan tetapi, risiko kejadian hipertensi akan lebih besar pada perempuan pada usia di atas 75 tahun yang salah satunya disebabkan oelh faktor menopause.

d. Etnis
Penelitian tentang hubungan antara etnis dengan kejadian hipertensi telah dilakukan di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa penduduk Amerika yang berkulit hitam lebih berisiko mengalami peningkatan tekanan darah dibandingkan penduduk berkulit putih.
Alasan tingginya prevalensi hipertensi pada ras kulit hitam belum diketahui secara jelas, tetapi peningkatan ini dipengaruhi oleh kadar renin yang rendah, sensitivitas terhadap vasopressin yang lebih tinggi, masukan garam yang lebih banyak, dan stres lingkungan yang lebih tinggi.

2. Faktor yang dapat dimodifikasi
a. Stress
Stress meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan keluaran jantung. Selian itu, stress dapat menstimulasi sistem saraf simpatik. Stress yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbegai penyakit, salah satunya adalah hipertensi.(13)
Dixon, Jonas, dan Karina (2000) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa seseorang yang depresi berisiko 1,78 kali menderita hipertensi dibandingkan yang tidak mengalami depresi (14)Seseorang yang berada dalam kondisi stres tlah terjadi proses fisiologis dimana sistem saraf simpatis teraktivasi yang selanjutnya dapat menstimulus pengeluaran hormon adrenalin dan kortisol. (15) Respon fisiologis ini menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah.
b. Obesitas
Black dan Izzo (1999) menyatakan bahwa dari 60% pasien yang menderita hipertensi 20% di antaranya mempunyai berat badan berlebih. Penurunan berat badan sebesar 5% dapat menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan sebesar 9,2 kg dapat menurunkan tekanan darah baik sistole dan diastole sebesar 6,3 dan 3,1 mmHg.(16) Peningkatan IMT berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah baik pada laki-laki maupun perempuan. Penelitian Sugiharto (2007) juga diperoleh hasil bahwa orang dengan obesitas akan berisiko 4,02 kali menderita hipertensi dibandingkan orang yang tidak obesitas.(14)
Ketika berat badan bertambah yang diperoleh kebanyakan adalah jaringan berle-mak, jaringan ini mengandalkan oksigen dan nutrisi di dalam darah untuk bertahan hidup. Semakin banyak darah yang melintasi arteri se¬makin bertambah tekanan yang diterima oleh dinding dinding arteri tersebut. Hampir semua orang yang kelebihan berat badan sebanyak 20% pada akhirnya akan menderita takanan darah tinggi. (17)
c. Nutrisi
Nutrisi berhubungan dengan kejadian hipertentensi karena konsumsi nutrien tertentu dapat menstimulasi naiknya tekanan darah. Nutrien yang berdampak nyata terhadap naiknya tekanan darah adalah mineral sodium. Konsumsi makanan tinggi sodium mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kejadian hipertensi.(18)
d. Konsumsi Makanan berlemak jenuh
Konsumsi makanan berlemak jenuh dapat mengakibatkan terjadinya atherosclerosis. (19) Kondisi ini berdampak pada naiknya tekanan darah seseorang.
e. Konsumsi zat berbahaya
Konsumsi zat yang berbahaya seperti rokok, alkohol berlebih, dan obat-obatan terlarang secara terus menerus dapat membuat tekanan darah cenderung tinggi.(20)
Nikotin dapat meningkatkan denyut jantung dan menyebabkan vasokonstriksi perifer, yang akan meningkatkan tekanan darah arteri pada jangka waktu yang pendek, selama dan setelah merokok.(9)
Faktor risiko terjadinya penyakit hipertensi yang lain yaitu konsumsi alkohol. Alkohol termasuk substansi berbahaya yang jika dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Black dan Izzo (1999) menyatakan bahwa konsumsi alkohol dapat meningkatkan angka kejadian hipertensi, penurunan sensitivitas tubuh terhadap obat sntihipertensi, dan hipertensi yang sulit disembuhkan. Telah dibuktikan dalam penelitian sebelumnya bahwa konsumsi alkohol setiap hari dapat meningkatkan tekanan darah sistolik sebesar 1,21 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 0,55 mmHg untuk rata-rata satu kali minum per hari.(16)

f. Aktivitas fisik
Davis (2004) menyatakan bahwa aktivitas fisik yang teratur dapat menurunkan risiko atherosclerosis yang merupakan salah satu penyebab hipertensi. Selain itu, aktivitas fisik teratur dapat menurunkan tekanan sistolik sebesar 10 mmHg dan diatolik sebesar 7,5 mmHg.
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah, makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Kurangnya aktifitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan risiko hipertensi meningkat.
Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur memiliki efek antihipertensi dengan menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita hipertensi. Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi.
D Tanda dan Gejala, serta Patofisiologis
a. Tanda dan Gejala
Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan gejala – gejalnya terlebih dahulu sebagai peringatan bagi penderitanya. Meskipun gejala muncul, namun gejala tersebut seringkali dianggap sebagai gangguan biasa, sehingga penderita terlambat menyadari akan datangnya penyakit.(21)
Gejala -gejala hipertensi bervariasi pada masing – masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala – gejala hipertensi diantaranya adalah :
a. Sakit kepala
b. Jantung berdebar – debar
c. Sulit bernafas setelah bekerja keras ataumengangkat beban berat
d. Mudah lelah
e. Penglihatan kabur
f. Wajah memerah
g. Hidung berdarah
h. Sering buang air kecil, terutama di malam hari
i. Telinga berdering (tinnitus)
j. Sakit kepala hebat (vertigo) (21)
k. Rasa berat di tengkuk
l. Mudah marah
m. Mata berkunang – kunang
n. Mudah Mengantuk
o. Mimisan (jarang) (22)

b. Klasifikasi Hipertensi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tekanan darah seseorang dikatan normal jika sistoliknya kurang dari 140 mmHg dan diastoliknya kurang dari 90 mmHg. Jika sistolik diantara 140 – 160 mmHg dan diastolik diantara 90 – 95 mmHg disebut borderline hypertension. Pada posisi ini seseorang harus waspada karena memiliki kecenderungan kuat mengidap hipertensi. Jika seseorang memiliki sistolik lebih dari 160 mmHg dan diastolik lebih dari 95 mmHg maka jelas orang tersebut mengidap hipertensi. Berikut klasifikasi tekanan darag pad orang dewasa usia >18 tahun.(23)
Tabel 1.1 Klasifikasi Tekanan Darah
Klasifikasi Tekanan Sistolik
(mmHg) Tekanan Diastolik
(mmHg)
Optimal Normal 180 >110

c. Patofisiologi Hipertensi
Hipertensi yang tidak diketahui etiologinya disebut sebagai hipertensi primer atau essensial. Kebanyakan kasus hipertensi yang didiagnosis berada dalam kategori ini. Sedangkan, hipertensi sekunder disebabkan berbagai macam etiologi. Banyak faktor, genetik maupun lingkungan yang merupakan faktor penting dalam etiologi dan patofisiologi hipertensi primer. Curah jantung, tahanan pembuluh darah sistemik, volume darah, aktivitas sistem saraf simpatik dan saraf pusat dan sistem renin-angio-tensin-aldosteron merupakan faktor-faktor penunjang.(24)
Pasien – pasien dengan hipertensi primer dapat dibagi dalam tiga golongan, atas dasar perjalanan klinis penyakitnya :
1. Hipertensi labil terjadi jika pasien pada suatu saat menunjukkan Tekanan Darah yang tinggi tetapi di lain waktu menunjukkan Tekanan Darah yang rendah.
2. Hipertensi jinak biasanya dimulai secara tersembunyi pada dekade keempat dan pasien sering tetap bebas gejala selama 10 hingga 15 tahun. Aterosklerosis merupakan penyulit utama dengan prosentase sekitar 50 persen meninggal karenan gagal jantung kongestif, 20 persen oleh gangguan serebrovaskuler dan 30 persen oleh sebab – sebab lain seperti infark miokard akut.
3. Hipertensi maligna, muncul dengan peningkatan tekanan diastolik yang cepat atau menetap, biasanya diatas 130 mmHg. Perubahan – perubahan vaskuler menyebabkan penyakit progresif pada otak, mata dan ginjal. Gagal ginjal dan ensefalopati hipersensitif adalah penyulit yang mengancam dan pasien yang tidak diobati biasanya akan meninggal dalam waktu kurang dari satu tahun.(24)
Dalam hipertensi, dua tekanan darah arteri yang biasanya diukur yaitu tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD). TDS adalah kekuatan tekanan darah tertinggi terhadap dinding arteri sewaktu jantung berkontraksi, sedangkan TDD adalah tekanan darah terendah terhadap pembuluh darah arteri sewaktu jantung istirahat diantara dua denyut, atau dengan kata lain TDS diperoleh selama kontraksi jantung dan TDD diperoleh setelah kontraksi sewaktu bilik jantung diisi. Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi secara potensial dalam terbentuknya hipertensi, faktor-faktor tersebut adalah :
a. Meningkatnya aktifitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis dan/atau variasi diurnal), mungkin berhubungan dengan meningkatnya respons terhadap stress psikososial dll
b. Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor
c. Asupan natrium (garam) berlebihan
d. Tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium
e. Meningkatnya sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya produksi angiotensin II dan aldosteron
f. Defisiensi vasodilator seperti prostasiklin, nitrik oxida (NO), dan peptide natriuretik
g. Perubahan dalam ekspresi sistem kallikrein-kinin yang mempengaruhi tonus vaskular dan penanganan garam oleh ginjal
h. Abnormalitas tahanan pembuluh darah, termasuk gangguan pada pembuluh darah kecil di ginjal
i. Diabetes mellitus
j. Resistensi insulin
k. Obesitas
l. Meningkatnya aktivitas vascular growth factors
m. Perubahan reseptor adrenergik yang mempengaruhi denyut jantung, karakteristik inotropik dari jantung, dan tonus vaskular
n. Berubahnya transpor ion dalam sel.(25)

E Diagnosis, Pencegahan dan Pengendalian
a. Diagnosis
Penentuan normal atau tingginya suatu tekanan darah ditentukan tidak hanya berdasarkan dari tekanan diastol tapi juga tekanan sistol, usia, jenis kelamin, dan penyakit penyerta. Tingkat tekanan sistol sangat penting untuk ditelaah karena memiliki keterkaitan dengan tekanan arterial yang dapat menyebabkan morbiditas pernyakit cardiovascular. Data menunjukan tekanan sistol lebih memiliki arti dibanding tekanan diastol khususnya pada orang berusia diatas 50 tahun. Ketika ada kecurigaan hipertensi, tekanan darah seharusnya dihitung minimal dua kali pada pemeriksaan yang berbeda sejak pemeriksaan pertama.(26)
Untuk menegakkan diagnosa hipertensi diperlukan pemeriksaan awal pasien yang mencakup anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap. Diagnosis hipertensi ditegakkan saat pasien menderita tekanan darah tinggi secara persisten. Biasanya, untuk menegakkan diagnosis diperlukan tiga kali pengukuran sfigmomanometer yang berbeda dengan interval satu bulan. Praktik terbaik yang dianjurkan saat ini adalah dengan melakukan follow-up satu kali hasil pengukuran tekanan darah yang tinggi di klinik dengan pengukuran ambulatori. Follow-up juga dapat dilakukan, walaupun kurang ideal, dengan memonitor tekanan darah di rumah selama kurun waktu tujuh hari.(27)
 ANAMNESIS(28)
Wawancara medis pada pasien dengan hipertensi harus meliputi:
1. Jangka waktu, derajat keparahan dan riwayat perjalanan penyakit hipertensi.
2. Indikasi hipertensi sekunder :
a. Riwayat penyakit ginjal pada keluarga (ginjal polikistik)
b. Ada/tidaknya penyakit ginjal, ISK, dan hematuria
c. Pemakaian obat-obat analgesik dan atau obat-obatan lainnya atau supplemen diet yang kemungkinan dapat meningkatkan tekanan darah atau mengganggu efektivitas obat antihipertensi.
d. Episoda berkeringat, sakit kepala, kecemasan, palpitasi (pheochromocytoma)
e. Pheocromocyte adalah sel kromafin. Pheocromocytoma adalah tumor sel kromafin pada medula adrenal atau para ganglion simpatis; gejalanya terutama hipertensi, mencerminkan bertambahnya sekresi epinefrin dan norepinefrin.
f. Episoda lemah otot dan tetani (aldosteronisme)
3. Faktor-faktor risiko
a. Riwayat hipertensi pada keluarga
b. Riwayat hiperlipidemia
c. Riwayat DM
d. Kebiasaan merokok
e. Pola makan (konsumsi garam, lemak, serta kafein)
f. Kegemukan
g. Intensitas olah raga
h. Kepribadian

4. Gejala kerusakan organ :
a. Otak dan mata : Sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan, transient ischemic attacks, defisit sensoris atau motoris
b. Jantung : Palipitasi, nyeri dada, sesak, bangkak kaki
c. Ginjal : haus, poliuria, nokturia, hematuri
d. Arteri perifer : eksremitas dingin, klaudikasiointermiten
e. Pengobatan antihipertensi sebelumnya
f. Faktor pribadi, keluarga, dan lingkungan yang dapat mempengaruhi tekanan darah (tingkat stress)

 PEMERIKSAAN FISIK (28)
Pemeriksaan fisik dapat dimulai dari penampilan secara general, apakah terdapat obesitas pada daerah wajah dan obesitas seperti pada Cushing’s syndrome? apakah terdapat perkembangan dari eksremitas atas yang tidak proporsional dnegan eksremitas bawah yang menunjukan adanya coarctation dari aorta. Selanjutnya pemeriksaan tekanan darah pada posisi supine ke posisi berdiri, adanya peningkatan tekanan diastolik sering menunjukan hipertensi essensial.
Pemeriksaan fisik selain untuk memerikasa tekanan darah juga untuk mengidentifikasi ada/tidaknya tanda-tanda hipertensi sekunder atau komplikasi yang telah terjadi pada organ-organ tertentu. Minimal pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah tanda-tanda vital yaitu berat badan, tinggi badan, denyut nadi, dan tekanan darah. Pengukuran tekanan darah:
• Pengukuran rutin di kamar periksa
• Pengukuran 24 Jam (Ambulatory Blood Pressure Monitoring-ABPM)
• Pengukuran sendiri oleh pasien
Pengukuran di kamar periksa dilakukan pada posisi duduk di kursi setelah pasien istirahat selama 5 menit, kaki di lantai dan lengan pada posisi setinggi jantung. Pengukuran dilakukan dua kali dnegan sela 1-5 menit, pengukuran tambahan dilakukan jika terdpat perbedaan hasil yang signifikan. Untuk usia lanjut, diabetes, dan kondisi lain dimana diperkirakan ada kondisi ortostatik perlu dilakukan pengukuran tekanan darah pada posisi berdiri.
Beberapa indikasi pengunaan ABPM :
• Hipertensi borderline atau yang bersifat episodik
• Hipertensi office atau white coat
White coat hypertension mendeskripsikan perbedaan tekanan darah yang signifikan pada suatu individu. Bila diukur di kantor akan menunjukan hasil yang lebih tinggi dibanding diukur di rumah atau dalam kegiatan biasa sehari-hari.(27)
• Adanya disfungsi saraf otonom
• Hipertensi sekunder
• Pedoman pemilihan obat antihipertensi
• Tekanan darah yang resisten terhadap pengobatan anti-hipertensi
• Gejala hipotensi yang berhubungan dnegan pengobatan anti-hipertensi

Tabel 2. Pemeriksaaan penunjang yang dilakukan pada pasien hipertensi
Sistem Pemeriksaan
Renal Urinalisis mikroskopik, proteinuria, darah BUN (ureum) dan/atau kreatinin

Endokrin Darah natrium, kalium, kalsium, TSH (thyroid-stimulating hormone).

Metabolik Glukosa darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL dan LDL, trigliserida

Lain – lain Hematokrit, elektrokardiogram, dan foto Röntgen dada

Sources: Harrison’s principles of internal medicine(27)
Hipertensi primer atau esensial lebih umum pada orang dewasa dan memiliki berbagai faktor risiko, di antaranya obesitas dan riwayat hipertensi dalam keluarga.(27) Hipertensi sekunder lebih sering ditemukan pada anak usia prapubertas dan sebagian besar kasus disebabkan oleh penyakit ginjal.
Pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab hipertensi sekunder, dan untuk menentukan apakah hipertensi menyebabkan kerusakan pada jantung, mata, dan ginjal. Pemeriksaan tambahan untuk diabetes dan kadar kolesterol tinggi dilakukan karena kondisi ini merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan mungkin memerlukan penanganan.(27)
Kadar kreatinin darah diukur untuk menilai adanya gangguan ginjal, yang mungkin merupakan penyebab atau akibat dari hipertensi. Kadar kreatinin darah saja dapat memberikan dugaan yang terlalu tinggi untuk laju filtrasi glomerulus. Panduan terkini menganjurkan penggunaan rumus prediktif seperti formula Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (eGFR). eGFR juga dapat memberikan nilai awal/dasar fungsi ginjal yang dapat digunakan untuk memonitor efek samping obat antihipertensi tertentu pada fungsi ginjal. Pemeriksaan protein pada sampel urin digunakan juga sebagai indikator sekunder penyakit ginjal. PemeriksaanElektrokardiogram (EKG/ECG) dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda adanya beban yang berlebihan pada jantung akibat tekanan darah tinggi. Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan adanya penebalan dinding jantung (hipertrofi ventrikel kiri) atau tanda bahwa jantung pernah mengalami gangguan ringan seperti serangan jantung tanpa gejala (silent heart attack). Pemeriksaan foto Röntgen dada atau ekokardiogram juga dapat dilakukan untuk melihat tanda pembesaran atau kerusakan pada jantung.(27)
Tujuan dari diagnosis hipertensi :(28)
1. Menilai Pola hidup serta identifikasi fakto-faktor risiko kardiovaskular lainnya.
2. Menilai kemungkinan adanya penyakit penyerta yang mempengaruhi prognosis dan pengobatan
3. Mencari penyebab hipertensi
4. Menentukan ada tidaknya kerusakan target organ dan penyakit kardiovaskular
b. Pencegahan
Untuk mengurangi akibat tekanan darah tinggi dan meminimalkan kebutuhan terapi dengan obat antihipertensi dianjurkan untuk melakukan perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah, sebelum memulai terapi obat. Pedoman British Hypertension Society 2004 mengajukan perubahan gaya hidup yang konsisten dengan pedoman dari US National High BP Education Program tahun 2002.(29) untuk pencegahan utama bagi hipertensi sebagai berikut:
• Menjaga berat badan normal (misalnya, indeks massa tubuh 20–25 kg/m2).
• Mengurangi asupan diet yang mengandung natrium sampai • Melakukan aktivitas fisik aerobik secara teratur, misalnya jalan cepat (≥30 menit per hari, pada hampir setiap hari dalam seminggu).
• Batasi konsumsi alkohol tidak lebih dari 3 unit/hari pada laki-laki dan tidak lebih dari 2 unit/hari pada perempuan.
• Mengonsumsi makanan yang kaya buah dan sayuran (misalnya, sedikitnya lima porsi per hari).
Perubahan gaya hidup yang efektif dapat menurunkan tekanan darah setara dengan masing-masing obat antihipertensi. Kombinasi dari dua atau lebih perubahan gaya hidup dapat memberikan hasil lebih baik.

Menurut Suiraoka (2014), ada dua faktor yag memicu hipertensi(29) yaitu :
1. Faktor yang dapat dikontrol, meliputi asupan makanan, alkohol, obesitas, merokok dan stres.
2. Faktor yang tidak dapat dikontrol, seperti usia dan genetik.

Pada intinya, pencegahan hipertensi dilakukan dengan mengupayakan gaya hidup sehat untuk mengatur faktor yang bisa dikontrol di atas (WHO, 2013), dengan cara :
1. Mengatasi obesitas dan mengontrol berat badan. Berat badan yang berlebihan akan membebani kerja jantung. Bagi penderita obesitas, sebaiknya mengupayakan mengatasi obesitasnya, karena selain dapat menyebabkan hipertensi, juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit lainnya. Cara mengontrol berat badan normal adalah dengan mengurangi asupan yang mengandung lemak dan melakukan aktivitas fisik secara teratur, 30 menit sehari, 5 kali seminggu.
2. Mengatur asupan makanan (Diet sehat). (1) Mengurangi asupan garam ≤5 gram per hari. (2) Mengonsumsi sayur dan buah buahan setiap hari. (3) Mengurangi asupan makanan yang berlemak.
3. Menghindari konsumsi alkohol.
4. Tidak merokok.
5. Menghindari stres.
Menurut Gunawan (2006) pencegahan hipertensi adalah sebagai berikut [3] :

1. Mengurangi konsumsi garam. Pembatasan konsumsi garam sangat dianjurkan, maksimal 2 garam dapur untuk diet setiap hari.
2. Menghindari kegemukan. Menghindari kegemukan dengan menjaga berat badan normal atau tidak berlebihan. Batasan kegemukan adalah jika berat badan lebih 10% dari berat badan normal.
3. Membatasi konsumsi lemak. Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kadar kolesterol tidak terlalu tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah. Lama-kelamaan, jika endapan kolesterol bertambah akan menyumbat pembuluh nadi dan mengganggu peredaran darah. Dengan demikian, akan memperberat kerja jantung dan secara tidak langsung memperparah hipertensi.
4. Olahraga teratur. Menurut penelitian, olahraga secara teratur dapat menyerap atau menghilangkan endapan kolesterol pada pembuluh nadi. Olahraga yang dimaksud adalah latihan menggerakkan semua sendi dan otot tubuh (latihan isotonok atau dinamik), seperti gerak jalan, berenang, naik sepeda. Tidak dianjurkan melakukan olahraga yang menegangkan seperti tinju, gulat, angkat besi, karena latihan yang berat bahkan dapat menimbulkan hipertensi.
5. Makan banyak buah dan sayuran segar. Buah dan sayuran segar mengandung banyak vitamin dan mineral. Buah yang mengandung mineral kalium dapat membantu menurunkan tekanan darah.
6. Tidak merokok dan tidak minum alkohol.
7. Latihan relaksasi atau meditasi. Relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stres atau ketegangan jiwa. Relaksasi dilaksanakan dengan mengencangkan dan mengendorkan otot tubuh sambil membayangkan sesuatu yang damai, indah dan menyenangkan. Relaksasi dapat pula dilakukan dengan mendengarkan musik atau bernyanyi.
8. Berusaha dan membina hidup yang positif. Dalam kehidupan dunia modern yang penuh dengan persaingan, tuntutan atau tantangan yang menumpuk menjadi tekanan atau beban stres bagi setiap orang. Jika individu tidak mampu mengelolanya, akan menimbulkan sakit kepala, suka marah, tidak bisa tidur ataupun timbul hipertensi. Agar terhindar dari efek negatif tersebut, orang harus berusaha membina hidup yang positif.
c. Pengendalian Hipertensi
Penatalaksanaan hipertensi bertujuan untuk mencegah mortalitas dan untuk mencapai tekanan darah ≤140/90 mmHg. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan perubahan gaya hidup seperti olahraga dan diet rendah garam (Hapsari, 2007).(29)
Namun, pada beberapa orang, perubahan gaya hidup saja tidak cukup untuk menurunkan tekanan darah, sehingga perlu diberikan obat-obatan. Obat penurun tekanan darah bekerja dengan berbagai cara, seperti menyingkirkan kelebihan garam dan cairan dari dalam tubuh, memperlambat atau merelaksasikan detak jantung, dan melebarkan pembuluh darah (WHO, 2013)(29)
Perlu diketahui bahwa beberapa kondisi memiliki hubungan signifikan dengan kejadian hipertensi, diantaranya adalah tingkat pendidikan dan status ekonomi rendah, kelebihan berat badan, obesitas,gangguan emosi yang tinggi, kadar kolesterol dan gula darah yang tinggi.(26)Resiko terkena hipertensi dapat dikurangi dengan perilaku CERDIK (Depkes 2013) yaitu :
1. Cek kesehatan secara berkala
2. Enyahkan asap rokok
3. Rajin aktifitas fisik
4. Diet sehat dan kalori seimbang
5. Istirahat yang cukup
6. Kendalikan stress
Pengendalian hipertensi bertujuan untuk mencegah terjadinya mortalitas dan morbiditas akibat komplikasi yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah di bawah 140/90. Perawatan dalam penanganan hipertensi diantaranya dalam ketaatan pengobatan meliputi perlakuan khusus mengenai gaya hidup seperti diet, istirahat, olahraga serta konsumsi obat.

DAFTAR PUSTAKA
1. M I. Dasar-Dasar Fisiologi Kardiovaskuler. Jakarta: EGC; 1996.
2. WHO. World Health Organization-International Society of Hypertension Guideline far the Management of Hypertension. J Hypertens. 1999;17:151–83.
3. Koreneliani, Kiki and DM. Obesitas dan Stress dengan Kejadian Hipertensi. J Kesehat Masy Univ Negeri Semarang. 2012;
4. Infodatin. Hipertensi. In: Pusat Dta dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 2014.
5. Khotimah. Stress sebagai Faktor Terjadinya Peningkatan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi. J EduHealth. 2013;23(2).
6. Tambayong I. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC; 2000.
7. Sustrani L. Hipertensi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2004.
8. Hartanti GAE. Hipertensi [Internet]. 2012 [cited 2016 Apr 1]. Available from: http://gustiayuendanghartanti.blogspot.co.id/2012/04/tugas-epid-tidak-menular-hipertensi.htm
9. J.H J. B& H. Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Positive Outcome. 7 edition. St Louis: Elsevier Saunders; 2005.
10. Rahayu H. Faktor Risiko Hipertensi Pada Msyarakat RW 01 Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa Kota Jakarta Selatan. Jakarta; 2012.
11. Lueckenotte A. & M. Gerontologic Nursing. 3 edition. USA: Mosby Elsvier; 2006.
12. Miller JM. & S. How to Prevent Hearth Disease. USA: Thomas Nelson Publisher; 1993.
13. Hahn, D.B. & Payne W. Focus on Health. 6 edition. USA: MC Graw Hill; 2003.
14. Sugiharto A. FAKTOR-FAKTOR RISIKO HIPERTENSI GRADE II PADA MASYARAKAT (Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar. Universitas Diponegoro; 2007.
15. Braverman, E.R. & Braverman D. Penyakit Jantung dan Penyembuhannya Secara Alami. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Komputer; 2004.
16. J.L J. B& I. Hypertension Primer :: The Essentials of High Blood Pressure. Second Edi. USA: Lipponcott Willianms & WIllkins; 1999.
17. Kornelia, K. DM. Obesitas dan Stress dengan Kejadian Hipertensi. 2012;
18. Indrawati, L., Werdhasari A& YK. Hubungan Pola Kebiasaan Konsumsi Makanan Masyarakat Miskin dengan Kejadian Hipertensi di Indonesia. Pus Penelit dan Pengemb Biomedis dan Farm. 2009;
19. Purwati, S., Salimar R. . Perencanaan Menu untuk Penderita Tekanan Darah Tinggi. Jakarta; 2005.
20. Bonow, R.O., Libby P. MDL& ZD. Braunwald’s Hearth Disease. USA: Suanders Elsevier; 2008.
21. Vitahealth. Hipertensi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 2006.
22. Dkk DS. Care Your Self, Hipertensi. Jakarta: Penerbit Plus; 2008.
23. Muttaqin A. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2009.
24. Speicher CE. Pemilihan Uji Laboratorium yang Baik. Jakarta: EGC; 2001.
25. Kesehatan DBFK dan KDBK dan AKD. Pharmaceutical Care : Untuk Penyakit Hipertens. Jakarta; 2006.
26. Riadi M. Resiko Lanjut dan Pencegahan Hipertensi [Internet]. 2016 [cited 2016 Mar 31]. Available from: http://www.kajianpustaka.com/2016/01/resiko-lanjut-dan-pencegahan-hipertensi.html
27. Wikipedia. Tekanan Darah Tinggi [Internet]. [cited 2016 Apr 1]. Available from: https://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi
28. Sudoyo WA, Setiyohadi B, Alwi I D. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam; 2009.
29. Hanifah R. Diagnosis Hipertensi [Internet]. 2010 [cited 2016 Mar 31]. Available from: http://www.berbagimanfaat.com/2010/05/tujuan-dari-diganosis-hipertensi1-1.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *