BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan dan perkembangan wajah sangat berhubungan erat dengan keadaan lengkung rahang dak oklusi seseorang. Oklusi gigi merupakan hubungan gigi geligi dalam rahang yang dimulai dari erupsi gigi sulung. Pertumbuhan gigi sulung ideal adalah indikator masa depan pertumbuhan gigi permanen yang ideal. Pertumbuhan gigi adalah untuk memberikan pengunyahan serta mempertahankan oklusi yang baik dan ruang untuk gigi permanen.
Arah perkembangan gigi sulung menuju gigi dewasa dapat diprediksikan melalui pemeriksaan dan analisis. Analisis sefalometri merupakan salah satu cara untuk menentukan arah pertumbuhan kraniofasial pada anak. Dari analisis dapat dilihat berbagai hubungan antarkeadaan seperti lengkung rahang,inklinasi gigi, dan bentuk wajah. Hasil analisis ini diperlukan untuk menentukan prosedur apa yang harus dilakukan pada pasien anak serta dapat menjadi acuan evaluasi dalam suatu perawatan ortodonsi terhadap anak.

I.2. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah/laporan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara perkembangan orokraniofasial dengan keadaan oklusi yang meliputi :
Pertumbuhan dan perkembangan orokranifasial
Pertumbuhan dan perkembangan oklusi pada periode gigi susu, campuran dan permanen
Karakteristik oklusi pada periode gigi susu, campuran dan permanen
Kunci oklusi normal
Klasifikasi maloklusi
Etiologi maloklusi
Analisis sefalometri
Jenis-jenis bentuk dan profil wajah

BAB II
PEMBAHASAN

II.1. DAN PERKEMBANGAN OROKRANIOFASIAL1, 2
II.1.1 Rongga mulut
Dimulai pada minggu ketiga intra uterin. Mula-mula masih berbentuk tube dan terdiri dari tiga unsur yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm. Proses pertumbuhan dan perkembangan oral dimulai dengan proses invaginasi lapisan ektoderm bagian caudal dari prosesus frontonasalis dan disebut stomodeum. Di samping itu terjadi pula proses invaginsi pada lapisan endoderm yang disebut primitive digestive tract. Selanjutnya stomodeum dan PDT saling mendekat hingga bertemu pada membran yang tipis disebut : membran bukofaringeal. Membran tersebut akhirnya pecah dan terjadilah hubungan yang sempurna antara POC dan PDT.

II.1.2 Pertumbuhan dan perkembangan branchialis apparatus
Selain proses tersebut terjadi pula proses pertumbuhan dan perkembangan pembentukan branchial apparatus, yaitu terdiri dari :
Mula-mula dibentuk branchial arch 1, kemudian dibentuk branchial arch II hingga IV, namun branchial arch V rudimeter atau hilang sehingga branchial arch IV bergabung dengan branchial VI. Dari branchial apparatus inilah akan dibentuk organ-organ, rahang atas, rahang bawah, lidah larynx, pharynx, os hyoid, otot-otot wajah, ligamentum, arteri, vena, nervus, dll.
Pertumbuhan dan perkembangan branchila pouches
Membentuk :
Cavum tympanica
Antrum mastoideum
Tuba eustachii
Lapisan endoderm berdiferensiasi membentuk tonsila palatina dan fossa supratonsilaris
Bagian dorsal berdiferensiasi membentuk glandula parathyroid inferior lalu bermigrasi ke arah dorsal glandula thyroid. Sedangkan bagian ventral berdiferensiasi membentuk primordia glandula thymus kemudian bermigrasi ke arah caudal dan medila selanjutnya bagian kanan dan kiri berfusi membentuk glandula thymus
Bagian dorsal berdiferensiasi membentuk glandula parathyroid superior kemudian bermigrasi ke dorsal glandula thyroid. Bagian ventral berdiferensiasi membentuk ultimo branchial body lalu bermigrasi dn berfusi denagn glandula thyroid.
Pertumbuhan dan perkembangan branchial groove
Branchial groove I akan membentuk meatus acusticus externus sedangkan branchial groove yang lain akan hilang sehingga leher rata.
Pertumbuhan dan perkembangan branchial membran
Branchial membran I akan membentuk membran tympanica sedangkan branchial yang lain menghilang.

II.1.3. Pertumbuhan dan perkembangan fasial
Sebuah tojolan procesus fronto nasalis diatas stomodeum
Dimulai pada minggu ke-4 intra uterin sebagai 2 buah penebalan ektoderm yang terletak di latero caudal processus fronto nasalis dan diatas stomodeum disebut nasal placode. Setelah embrio berumur 5 minggu intra uterin terjadi lagi 2 buah penonjolan yang mengelilingi nasal placode yang berbentuk tapal kuda yang disebut:
Processus nasalis medialis (medial)
Processus nasalis lateralis (lateral)
Selanjutnya nasal placode akan menjadi dasar lekukan kedalam dan membentuk nasal pit, yang nantinya akan merupakan lubang hidung = nostril. Sedangkan kedua processus naslis medialis akan berfusi membentuk intermaxillary segment. Intermaxillary segmen akan mengalami pertumbuhan dan perkembang dalam 2 arah :
Kearah caudal akan membentuk philtrum
Kearah medial akan membentuk :
Septum nasi
Palatum primer ( prosesus palatinus medialis )
Premaxilla
Sedangkan processus nasalis lateralis akan menentukan ala nasi ( yang akandipisahkan dari processus maxillaris oleh sulcus naso lacrimalis )
Sepasang tonjolan processus maxillaris yang berasal dari branchial arch I, terletak di cranio lateral dari stomodeum
Sepasang tonjolan processus mandibularis yang juga berasal dari branchial arch I, terletak di caudal stomodeum

II.2. OKLUSI DAN MALOKLUSI
Oklusi adalah kontak antara gigi-gigi yang berantagonis dan mengacu pada peristiwa dan tempat terjadinya kontak bukan pada gigi-giginya sendiri. Hal ini terlihat jika mandibula dalam keadaan diam dan ini bukan merupakan fungsi alami.3

Kunci Oklusi normal4
Andrew (1972) menyebutkan enam kunci oklusi normal yang berasal dari hasil penelitian yang dilakukannya. Keenam ciri tersebut adalah :
Hubungan yang tepat dari gigi-gigi molar pertama tetap pada bidang sagital
Angulasi mahkota gigi-gigi insisif yang tepat pada bidang tranversal.
Inklinasi mahkota gigi-gigi insisif yang tepat pada bidang sagital
Tidak adanya rotasi gigi-gigi individual
Kontak yang akurat dari gigi-gigi individual dalam masing-masing lengkung gigi, tanpa celah maupun berjejal.
Bidang oklusal yang datar tau sedikit melengkung

Maloklusi adalah Keadaan abnormal yang ditandai dengan tidak benarnya hubungan antara lengkung di setiap bidang spatial atau anomali abnormal dalam posisi gigi. Kondisi oklusi intercusp dalam pertumbuhan gigi diasumsikan sebagai kondisi tidak regulel.5

II.2.1. Klasifikasi oklusi dan maloklusi4,6
Berdasarkan klasifikasi Angle :
Class 1
Hubungan antero-posterior yang sedemikian rupa, dengan gigi-gigi berada pada posisi yang tepat di lengkung rahang.

Tipe 1 , karakteristiknya : adanya crowded dan rotated incisor, biasanya tidak ada ruang untuk Caninus dan permolar tumbuh / erupsi, terkait dengan herediter
Tipe2, karakteristiknya : insisif atas terlihat jarang serta gampang fraktur, biasanya karena kebiasaan menghisap jempol.
Tipe 3, karakteristiknya : satu atau lebih insisif atas lebih ke lingual dan crossbite,harus ada ruang untuk gigi ini agar pindah ke labial.
Tipe 4 , karakteristiknya : biasanya terdapat posterior crossbite.
Tipe 5 : hampir sama dengan tipe 1 yang membedakannya hanya pada etiologi lokalnya saja yaitu adanya ruang antara gigi (driffting) terkadang crowded labih banyak di bagian pesterior.,jika terlambat erupsi maka P2 akan tampak erupsi ke arah lingual.
Class 2
Lengkung gigi bawah terletak lebih posterior daripada lengkung atats dibandingkan pada hubungan class 1.
Divisi 1 , karakteristiknya : proklinasi I atas sehingga terbentuk pertambahan overjet, adanya kelainan aktivitas otot, serta tampak bibir atas lebih hipotonik, pendek, dan tidak bisa menutup elemen gigi dengan semestinya, bibir bawah terkesan sebagai bantalan bagi palatal, ketidakseimbanagn otot buccinator dan otot mentalis yang hiperaktif, perubahan posisi lidah menyebabkan menyempitnya lengkung rahang atas.

Divisi 2 , karakteristiknya : I sentral atas lebih ke lingual, I lateral besinggungan dengan I1 dengan posisi I2 lebih labial daripada I1,variasi lain I1 dan I2 lebih ke lingual dan bersinggungan dengan Caninus yang lebih ke labial, terjadi deep anterior overbite.

Subdivisi klas 2, Ketika satu sisi mengalami relasi molar klas2 dan disisi lain relasi molar klas1, maka ini disebut subdivisi klas 2.

Class 3
Cusp mesiobukal M1 atas beroklusi di celah interdental antara M1 dan M2 bawah.
Klas 3 sejati (true class 3)
Suatu maloklusi skeletal yang bersifat genetik dapat terjadi karena pembesaran mandibula,mandibula maju, ukuran maksila yang lebih kecil daripada ukuran normalnya, maksila mengalami retroposisi, kombinasi kasus. Karakteristik : I atas lebih ke lingual, biasanya pasien memiliki overjet normal dan ada crossbite anterior, lidah lebih rendah sehingga lengkung rahang atas lebih kecil atau sempit.
Klas 3 semu (pseudo class 3)
Di akibatkan pergeseran mandibula saat menutup rahang disebut juga postural atau habitual maloklusi klas 3. Penyebabnya : adanya oklusi prematur yang dapat mengubah arah mandibula, pada kasus posterior sulung yang hilang atau tanggal lebih awal, anak-anak biasanya menggerakkan rahang untuk menciptakan kontak pada area anterior , serta anak dengan pembesaran adenoid biasanya menggerakkna rahang bawah lebih maju untuk menghindari kontak lidah ke adenoid.
Subdivisi class 3
Jika satu sisi mengalami relasi molar klas 3 dan sisi lainnya mengalami relasi molar klas 1.

II.2.2 Etiologi Maloklusi6
Menurut Moyers
Heredity
Neuromuscular System
Tulang
Gigi
Jaringan lunak
Defek perkembangan dari asal yang tidak diketahui
Trauma
Trauma prenatal dan injuri saat ini
Trau postnatal
Agen fisik
Ekstraksi prematur dari gigi sulung
Jenis makanan/serat

Kebiasaan
Menghisap jempol/jari
Menggigit dan menghisap jempol
Menggigit kuku
Kebiasaan mendorong lidah
Postur
Penyakit
Sistemik
Gangguan endokrin
Penyakit lokal
Malnutrisi

Menurut White dan Gardiners
Abnormalitas basis gigi
Antero-posterior malrelationship
Vertikal malrelationship
Lateral malrelationship
Ukuran yang tidak sesuai antara gigi dan tulang basal
Anomali kongenital
Abnormalitas pre-erupsi
Anomali posisi saat perkembangan benih gigi
Missing teeth
Supernumerary teeth dan anomali bentuk
Gigi sulung yang menghambat
Frenum labial yang besar
Injuri traumatik
Anomali post-erupsi
Muskular
Hilangnya gigi sulung secara prematur
Ekstraksi gigi permanen

Menurut Graber
Faktor Umum
Herediter
Kongenital
Perkembangan gigi
Predisposing metabolic climate dan disease
Defesiensi nutrisi
Tekanan abnormal yang menjadi kebiasaan dan penyimpangan fungsi
Faktor lokal
Anomali jumlah
Anomali ukuran
Anomali bentuk
Anomali frenum labial
Prematur loss dari gigi sulung
Hambatan dari gigi sulung/ lama tanggal
Erupsi yang tertunda dari permanen
Jalur erupsi abnormal
Ankylosis
Dental karies
Restorasi yang tidak layak

II.2.3. Perkembangan Oklusi 4,6,7
Perkembangan Oklusi Pada Periode Gigi Geligi Susu4
Gigi pertama yang erupsi dan membentuk kontak oklusal adalah gigi insisivus, yang idealnya menduduki posisi oklusal. Posisi yang ideal untuk gigi-gigi insisivus susu umumnya dinyatakan sebagai lebih vertikal daripada gigi insisivus tetap, dengan overbite insisial yang lebih dalam.
Gigi molar kedua akan menyusul, bererupsi sampai ke kontak oklusi. Gigi-gigi ini akan membuat kontak oklusal sehingga molar bawah sedikit lebih ke depan dalam hubungan dengan molar atas.
Gigi-gigi kaninus akan menyusul bererupsi ke kontak oklusi. Pada situasi ideal, akan ada celah di sebelah di mesial dari kaninus atas dan di sebelah distal dari kaninus bawah, tempat ke arah mana gigi kaninus antagonis berinterdigitasi.
Gigi yang terakhir bererupsi ke hubungan oklusi pada gigi-geligi susu adalah molar kedua. Gigi ini bererupsi sedikit renggang dari molar pertama, namun celah ini dengan cepat akan menutup melalui pergerakan molar kedua ke depan, yang akan menduduki posisi sedemikian rupa sehingga permukaan distal dari molar kedua atas dan bawah berada pada bidang vertikal yang sama pada saat berolusi.
Karakteristiknya adalah sebagai berikut:
Deep Bite
Bisa terdapat pada tahap inisial dari perkembangan oklusi,deep bite dikuatkan oleh suatu fakta bahwa insisif gigi sulung terletak lebih kekanan dari pada gigi penggantinya. Kondisi deep bite ini akan berkurang, karena faktor- faktor berikut:
erupsi gigi-gigi molar sulung
pergerakan kedepan mandibula akibat pergerakannya.

Celah pada gigi sulung
Primate space atau celah yang terdapat pada:
pada sisi mesial C sulung maksila
pada sisi distal C sulung mandibula.
Developmental space yaitu merupakan celah yang biasanya terdapat diantara gigi geligi sulung yang biasanya disbut dengan physiologic space.
Hadirnya celah-celah antara gigi geligi sulung penting dan dianggap normal. Karena celah-celah tersebut sangat penting untuk perkembangan normal pada gigi geligi permanen, tidak adanya celah-celah ini dapat mengindikasikan bisa terjadinya gigi berjejal ketika gigi permanennya erupsi.

Hubungan oklusal pada M2 sulung
Hubungan mesiodistal antara permukaan distal dari M2 sulung maksila dan mandibula disebut terminal plane. Ketikagigi sulung berkontak pada oklusi sentrik.ada tiga macam terminal plane yaitu sebagai berikut:
flush terminal plane
mesial step
distal step
hubungan permukaan distal pada maksila dan mandibula dari M2 sulung merupakan faktor penting yang mempengaruhi oklusi gigi permanen nantinya.

Ukuran lengkung dental
Ukuran lengkung dental sulung dapat diukur oleh lebar lengkung distal diantara M2 sulung. Panjang lengkung distal dapat diukur dari permukaan labial insisif sulung hingga C dan M2 sulung. Sedangkan lebar lengkung dental sedikit meningkat selama periode pertumbuhan gigi sulung, khususnya diantara M sulung.

Bagan Perkembangan Oklusi

Perkembangan Oklusi Pada Periode Gigi Geligi Bercampur
Periode pertumbuhan gigi bercampur dimulai sekitar umur 6 tahun dengan erupsinya gigi molar pertama permanen dan digantikannya insisif sulung oleh insisif permanen.
Periode Transisi Pertama
Periode dimana munculnya molar satu permanen dan digantinya insisif sulung dengan insisif permanen. Molar pertama permanen adalah pemandu dalam lengkung dental oleh permukaan distal dari molar kedua sulung. Oklusi molar pertama permanen dapat dikategorikan dalam 3 tipe :
Hubungan M1 permanen
Vertikal plane type
Jika terdapat celah gigi pada lengkung gigi sulung, M1 permanen akan erupsi ke dalam oklusi class 1. Jika tidak, maka M1 permanen akan erupsi ke dalam oklusi cusp to cusp.
Mesial step type
M1 permanen langsung erupsi ke dalam oklusi class 1.
Distal step type
M1 permanen langsung erupsi ke dalam oklusi angel class 2.
Pergantian insisif
Celah interdental pada insisif sulung.
Celah fisiologis yang terdapat pada gigi sulung adalah faktor penting untuk mengakomodasikan pertumbuhan insisif permanen yang lebih besar pada lengkung dental. Jika tidak terdapat celah pada gigi sulung, maka insisif permanen akan menjadi berjejal. Oleh karena itu, ada atau tidaknya celah pada gigi sulung akan mempengaruhi susunan insisif permanen.
Peningkatan lebar intercanine
Selama transisi dari insisif sulung ke insisif permanen, terjadi suatu peningkatan lebar intercanine pada lengkung maksila dan mandibula. Perubahan ini merupakan faktor penting yang mengizinkan insisif permanen yang ukuran lebih besar untuk diakomodasikan pada lengkung yang sebelumnya ditempati oleh insisif sulung.
Perubahan pada inklinasi insisif
Suatu perbedaan karakteristik antara gigi sulung dan permanen adalah pada inklinasinya. Gigi permanen terkadang cenderung berinklinasi ke arah labial/bukal. Ini pula yang menjadi faktor yang membantu mengakomodasi insisif permanen yang lebih besar. Sudut inter-insisal antara insisif central rahang atas dan rahang bawah adalah 1500 pada gigi sulung. Sedangkan pada gigi permanen rata-rata sekitar 1230.
Peningkatan panjang lengkung dental pada bagian anterior
Peningkatan panjang lengkung dental pada bagian aterior-posterior juga akan menyediakan celah untuk insisif permanen yang lebih besar unkurannya. Hal ini dibutuhkan untuk erupsi insisif permanen lebih ke arah labial untuk menghasilkan tambahan celah yang dibutuhkan. Insisif permanen mandibula dilokasikan pada sisi lingual insisif sulung segera setelah gigi-gigi tersebut erupsi.

Periode inter-Transisi
Pada periode ini lengkung maksila dan mandibula terdiri dari kumpulan-kumpulan gigi sulung dan permanen. Antara molar sulung dan kaninus permanen, selama fase ini relatif stabil dan tidak terjadi perubahan.
Periode Transisi kedua
Ditandai oleh pergantian molar sulung dan kaninus permanen.
Leeways Spase
Jumlah lebar mesio-distal dan gigi geligi lateral permanen umumnya lebih kecil dari gigi geligi sulung. Perbedaan ini disebut Leeways Space. Leeway Space merupakan faktor penting yang dibutuhkan untuk perubahan ringan dari gigi geligi lateral.
Ugly Duckling Stage
Terkadang perbaikan maloklusi terlihat pada insisif atas antara 8-9 tahun. Ini merupakan situasi khusus yang terlihat selama erupsi kaninus permanen. Seiring perkembangan kaninus permnen yang erupsi ini, kaninus ini menggeser akar ke mesial dari insisif lateral. Ini dikarenakan adanya tolakan ke arah insisif sentral yang juga di geser ke mesial. Inilah yang dikatakan Ugly Duckling Stage.

Perkembangan Oklusi Pada Periode Gigi Geligi Permanen
Gigi permanen terbentuk dalam rahang segera setelah kelahiran, kecuali cusp molar pertama. Permanen yang terbentuk sebelum kelahiran.
Insisif permanen berkembang di bagian palatal/lingual dari insisif sulung dan bergerak ke labial saat erupsi.
Premolar berkembang di bawah percabanagn akar molar sulung
Urutan erupsi gigi permanen bisa bervariasi tapi yang paling sering, pada maksila :
6 – 1 – 2 – 4 – 3 – 5 – 7 atau 6 – 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 7
Dan pada mandibula : 6 – 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 7 atau 6 – 1 – 2 – 4 – 3 – 5 – 7 .

II.3. SEFALOMETRI4,8
Analisis sefalometri diperlukan oleh klinisi untuk memperhitungkan hubungan fasial dan dental dari pasien dan membandingkannya dengan morfologi fasial dan dental yang normal. Analisis ini akan membantu klinisi dalam perawatan ortodontik ketika membuat diagnosis dan rencana perawatan, serta melihat perubahan-perubahan selama perawatan dan setelah perawatan ortodontik selesai.
II.3.1. Titik-titik Jaringan Keras:
Sella (S) : Titik di tengah dari outline fossa pituitary (sella turcica)
Nasion (N) : Titik di bagian paling inferior dan paing anterior dari tulang frontal, berdekatan dengan sutura frontonasalis.
Orbitale (Or) : Titik pada titik paling inferior dari outline tulang orbital. Sering pada gambaran radiografi terlihat outline tulang orbital kanan dan kiri. Untuk itu maka titik orbitale dibuat di pertengahan dari titik orbitale kanan dan kiri.
Titik Subspinalis (A) : Titik pada bagian paling posterior dari bagian depan tulang maksila. Biasanya dekat dengan apeks akar gigi insisif sentral atas.
Titik Supramentalis (B) : Titik pada titik paling posterior dari batas anterior mandibula, biasanya dekat dengan apeks akar gigi insisif sentral bawah.
Pogonion (Pg) : Titik pada bagian paling anterior dari dagu.
Gnathion (Gn) : Titik pada outline dagu di pertengahan antara titik pogonion dan menton.
Menton (Me) : Titik bagian paling inferior dari dagu.
Articulare (Ar) : Titik pada pertemuan batas inferior dari basis kranii dan permukaan posterior dari kondilus mandibula.
Gonion (Go) : Titik pada pertengahan dari sudut mandibula.
Porion (Po) : Titik pada bagian paling superior dari ear rod (pada batas superior dari meatus auditory external)
Titik Bolton : Titik paling tinggi pada cekungan fosa di belakang kondil osipital.
Basion (Ba) : Titik paling rendah pada tepi anterior foramen magnum di garis tengah
Titik Pterigomaksilaris : Titik paling rendah dari outline fisura pterigomaksilaris.

II.3.2. Titik-titik Jaringan Lunak
Soft tissue glabella (G’): titik paling anterior dari bidang midsagital dari dahi.
Pronasale (Pr) : titik paling depan dari ujung hidung.
Labrale superius (Ls) : titik tengah di pinggir superior dari bibir atas.
Labrale inferius (Li) : titik tengah di pinggir inferior dari bibir bawah.
Soft tissue pogonion (Pog’) : titik paling anterior dari kontur jaringan lunak dagu.

II.3.3 Bidang-bidang / Garis-garis Sefalometrik:
Garis Frankfort horizontal: Garis yang menghubungkan titik Orbitale dan Porion
Garis Maksilaris : Garis yang menghubungkan titik spina nasalis anterior dan spina nasalis posterior.
Garis mandibularis : Garis yang menghubungkan titik gonion dengan menton
Garis Sella-nasion: Garis yang menghubungkan titik pusat sella tursika dengan nasion
Garis Facial: Garis yang menghubungkan titik nasion dan pogonion
Garis Oklusal : Garis dari titik tengah antara ujung insisivus atas dan bawah terhadap kontak anterior antara molar pertama atas dan bawah pada keadaan oklusi
Sumbu Y : Garis dari sella ke gnasion
Garis Bolton : Garis yang menghubungkan titik bolton dan nasion
Garis De Coster (De Coster,1952) : Outline permukaan dalam basis kranii anterior dari bibi anterior sella tursika ke permukaan endokranial dari tulang frontal
Garis A-Pogonion ( Williams, 1969) : Garis yang menghubungkan titik A dan pogonion.
Garis Estetis ( Ricketts, 1957) : Garis yang menghubungkan titik paling anterior dati ujung hidung dan dagu.
Garis Holdaway ( Holaway, 1983) : Garis yang menghubungkan tepi anterior bibir atas dan dagu

II.3.4. Sudut-sudut Yang Menjelaskan Hubungan Skeletal:
SN-Pg: hubungan posisi anteroposterior dari dagu terhadap garis yang melalui basis kranii anterior.
SNA: hubungan posisi anteroposterior dari basis apikal maksila terhadap garis yang melalui basis kranii anterior.
SNB: hubungan posisi anteroposterior dari basis apikal mandibula terhadap garis yang melalui basis kranii anterior.
ANB: hubungan posisi anteroposterior dari maksila terhadap posisi anteroposterior dari mandibula. Maloklusi kelas II yang parah sering dihubungkan dengan nilai ANB yang besar.
Sudut facial (N-Pog-FH): hubungan posisi anteroposterior dagu terhadap bidang Frankfort horizontal.
FMPA : kemiringan sudut bidang mandibula terhadap bidang Frankfort horizontal
FMIA : kemiringan sudut sumbu gigi insisivus bawah terhadap bidang Frankfort horizontal
IMPA : kemiringan sudut sumbu gigi insisivus terhadap mandibula.

II.3.5. Analisis Sefalometir5
Analisis bentuk muka menurut Sukadan (1976) :
Indeks muka = (Tinggi muka ( A) (Jarak N – Gn) x 100 )/(Lebar muka (B) (jarak bizigomatik))

Klasifikasi indeks muka :
Euriprosop ( muka pendek, lebar) : 80,0 – 84,9
Mesoprosop (muka sedang ) : 85,0 – 89,9
Leptoprosop (muka tinggi, sempit) : 90,0 – 94,9

Jika indeks : < 80,0 : Hipo Euriprosop > 94,9 : Hiper Leptoprosop

b. Pengukuran profil wajah
Profil wajah dapat diperiksa dengan melihat pasien dari samping. Profil wajah membantu diagnosis deviasi-deviasi yang buruk pada maxila-mandibular. Profil tersebut diperkirakan dengan menghibungkan dua garis referensi sebagai berikut:
sebuah garis yang menggabungkan dahi titik A (titik terdalam pada kurv adari bibir atas)
sebuah garis yang menghubungka titik A dan pogonion di jaringan lunak (titik paling anterior didagu)

Dari hubungan antara 2 garis ini, maka terdapat 3 macam profil wajah yaitu:
profil lurus yaitu apabila dua garis tersebut membentuk garis lurus
profil convex/ cembung yaitu apabila dua garis tersebut membentuk sebuah sudut tajam dengan konkafitas menghadap jaringan.
Tipe profil ini merupakan hasil dari prognatic maksila atau retrognatic mandibula seperti pada class 2, divisi 1 maloklusi.
profil konkeve / cekung yaitu apabila dua garis terebut membentuk sudut tumpul dengan konveksitas terhadap jaringan
Tipe ini diikuti oleh prognati mandibula atau retrognatic maksila seperti class 3 maloklusi.

Bentuk-bentuk wajah dapat dibedakan menjadi 3 tipe yaitu:
meseprosopic/ mesofacial yaitu bentuk wajah rata-rata dan normal
euryprosopic/ brahifacial yaitu bentuk wajah yang lebar dan pendek
leptoprosopic/ dolikofacial yaitu bentuk wajah yang panjang dan sempit

Fasial Divergence
Fasial divergence merupakan keadaan anterior / posterior inklinasi face relatif terendah ke dahi :
Anterior divergen : Suatu garis tergambar anatara dahi dan dagu yang inklinasinya ke arah anterior dagu.
Posterior divergen : Suatu garis yang menggambarakan antara dahi dan dagu, kemiringan ke arah posterior dagu.
Lurus atau ortognati : Garis antara dahi dan dagu lurus atau tegak dari dasar.

BAB II
KESIMPULAN

Pada kasus satria didapatkan adanya diastema insisvus sentral rahang atas kiri dan kanan yang disebabkan adanya anomali supernumerary teeth yaitu mesioden, hal ini terlihat dari hasil foto radiograf yang menunjukkan adanya gambaran radiopaque di antara gigi insisif sentral tersebut.Keadaan insisif sentral ini mempengaruhi keadaan insisivus lateral atas, menyebabkan gigi tersebut berdesakan. Dari hasil pemeriksaan disimpilkan bahwa Satria memiliki hubungan oklusi class 1 tipe 1.
Sedangkan pada kasus yudha, terjadinya maloklusi class I Angle tipe 3. Class I ditentukan dari adanya neutro oklusi dan tipe 3 dari crossbite anterior.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *