MAKALAH KIMIA ANALISIS ORGANIK
MASERASI DAUN KUNYIT

Disusun Oleh :
Aatthirah Darin/136584
Maria Venna Ruban/136755
Kelas : 2D
Kelompok : 8

POLITEKNIK AKA BOGOR
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Maserasi Daun Kunyit ini dengan baik meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Dan juga kami berterima kasih kepada dosen mata kuliah Praktikum Kimia Analisis Organik Politeknik AKA-Bogor yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai dampak yang ditimbulkan dari sampah, dan juga bagaimana membuat sampah menjadi barang yang berguna. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Bogor, Mei 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah …………………………………………… 1
Rumusan Masalah ……………………………………………………. 2
Tujuan ……………………………………………………………………… 2
Manfaat ……………………………………………………………………. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………….. 3
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Maserasi …………………………………………………………………… 7
3.2 Isolasi Minyak Atsiri dalam Daun Kunyit …………………. 5
3.3 Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Kunyit ……………. 13
3.4 Uji Aktivitas Antioksidan ………………………………………….. 16
BAB IV KESIMPULAN ……………………………………………………………….. 24
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………. 25

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Di Indonesia banyak sekali ditemukan penyakit degeneratif yang salah satunya diakibatkan oleh reaksi oksidasi yang berlebihan karena radikal bebas. Radikal bebas terbentuk dalam tubuh sebagai produk samping proses metabolisme. Di samping itu juga radikal bebas dapat berasal dari luar tubuh yang diserap melalui pernapasan atau kulit seperti asap rokok, polusi, sinar UV, obat, limbah industri, dan ozon. Peningkatan radikal bebas menyebabkan penurunan fungsi dari membran sel, retikulum endoplasma dan bisa menganggu di tingkat molekul DNA sel. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa radikal bebas dapat menimbulkan beberapa penyakit degenaratif seperti jantung, reumatik, ginjal, otak, dan sistem imun yang pada akhirnya dapat berakibat pada menurunnya kualitas hidup dan mempercepat proses penuaan.
Beberapa sumber antioksidan eksogen yaitu sayur, buah-buahan, biji-bijian, dan umbi-umbian karena mengandug vitamin A, vitamin E, vitamin C, dan beta karoten. Umbi termasuk sumber bahan makanan yang mengandung antioksidan. Salah satu umbi yang mengandung antioksidan adalah kunyit. Karena mengandung kurkumin yang terbukti dapat menangkap radikal hidroksi, yaitu salah satu bentuk dari radikal bebas.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui senyawa yang bisa menangkal radikal bebas, salah satu caranya adalah dengan adanya penemuan terhadap ativitas antioksidan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan pada rimpang kunyit ternyata menyebabkan peningkatan aktivitas antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas.

Rumusan Masalah
Apakah ekstrak daun kunyit memiliki aktivitas antioksidan?
Apa saja senyawa yang terkandung dalam daun kunyit?
Bagaimana teknik maserasi daun kunyit?
Bagaimana teknik mengisolasi minyak atsiri dalam daun kunyit?

Tujuan
Mengetahui adanya aktivitas antioksidan pada daun kunyit.
Mengetahui senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun kunyit
Mengetahui teknik maserasi daun kunyit.
Mengetahui teknik isolasi minyak atsiri dari daun kunyit.

Manfaat
Memenuhi tugas mata kuliah praktikum Kimia Analisis Organik
Memberi informasi kepada masyarakat mengenai aktivitas antioksidan ekstrak daun kunyit yang disebabkan oleh radikal bebas.
Menambah wawasan tentang teknik maserasi daun kunyit dan isolasi minyak atsiri dari daun kunyit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Kunyit
Deskripsi
Habitus berupa semak dengan tinggi ±70 cm. Batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang. Berwarna hijau kekuningan.Daun tunggal, berbentuk lanset memanjang.Helai daun tiga sampai delapan.Ujung dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12 cm.Pertulangan daun menyirip.Daun berwarna hijau pucat.Bunga majemuk, berambut, bersisik.Panjang tangkai 16-40cm. Panjang mahkota ±3 cm, lebar ±1±cm, berwarna kuning.Kelopak silindris, bercangap tiga, tipis dan berwarna ungu.Pangkal daun pelindung putih.Akar berupa akar serabut dan berwarna coklat muda.
Curcuma domestic val atau biasa disebut kunyit merupakan tanaman yang berasal dari Asia. Kunyit merupakan tumbuhan daerah subtropis sampai tropis dan tumbuh subur di daerah dataran rendah lebih kurang 90 meter sampai ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan klasifikasi botani tanaman kunyit termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermathophyte
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Odo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma domestica VALET
Nama Umum : Kunyit
Nama Daerah : Kakunye (enggano); Kunyet(Adoh); Kuning (Gayo); Kunyit(alas); Hunik (Batak); Odil(Simalur); Undre (nias); Kunyit(Lampung); Kunyir (Melayu);Kunyit (Sunda); Kunir (JawaTengah); Temo Koneng (Madura);Kunit (Banjar); Henda (Ngayu);Kunyit (Olon Manyan); Cahang(Dayak); Panyambung Dio(Panihing); Kalesiau (Kenya); Kunyit (Tidung); Kunyit (Sasak);Huni (Bima); Kaungi (SumbaTimur); Kunyi (Sumba Barat); Kewunyi (Sawu); Koneh (Flores);Kuma (Solor); Kumeh (Alor);Kunik (Roti); Hunik Kunir(Timor); Uinida (Talaud); Kuni (Sangir); Alawaha (Gorontalo); Kolalagu (Buol); Pagidon (Toli-toli); Kuni (Toraja); Kunyi (Ujungpandang); Kunyi (Selayar); Unyi (Bugis); Kuni (Mandar); Kurlai (Leti); Lulu Malai (Babar); Ulin (Tanimbar); Tun (Kayi); Unin (Ceram); Kunin (SeramTimur); Unin (ambon); Gurai (Halmahera); Garaci (Ternate); Rame (Kapaur); Kandeifa (Nufor);Nikwai (Windesi); Mingguai (Wandamen);Yaw(Arso).

Daun Kunyit
Manfaat kunyit bagi kesehatan, antara lain :
Sebagai antioksidan dan antiperadangan.
Memperlambat penyebaran dan pertumbuhan tumor.
Memperlancar sistem pencernaan.
Meringankan gejala rematik.
Membantu menyembuhkan luka bakar.
Membantu meringankan penyakit kulit seperti eksim, bintik-bintik dan gatal-gatal.
Menghaluskan dan mencerahkan kulit
Membantu mencegah diabetes melitus, tifus, usus buntu, disentri, sakit keputihan; haid tidak lancar, perut mulas saat haid, memperlancar ASI; amandel, buang air besar lendir, Morbili, cangkrang (Waterproken);

Daun kunyit mengandung berbagai senyawa antara lain : protein (2,20%), minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah 1,8-sineol, dan lemak (2,04%). Selain itu, daun kunyit juga mengandung senyawa flavonoid, fenolik dan tannin yang dapat ditentukan dengan skrinning senyawa fitokimia.
Komponen minyak atsiri dalam daun kunyit dapat bersifat sebagai antibakteri dan juga mempengaruhi kesehatan. Minyak atsiri daun kunyit terdiri dari komponen-komponen yang tergolong monoterpen, sesquiterpen, diterpen, politerpen, alcohol, aldehid, keton, ester, dan eter. Menurut caragay (1992) ada 14 komponen fitokimia yang diketahui memiliki aktivitas dapat mencegah kanker, diantaranya monoterpen, triterpen, sesquiterpen, dan flavonoid. Komponen minyak atsiri daun kunyit yang berhasil diidentifikasi oleh dung et. al. (1995) sekitar 50 komponen, diantaranya δ-limonen, α-pinen dan mycrene. Elson dan Yu (1994) menyatakan bahwa δ-limonen bersifat antikarsinogenis yang mencegah terbentuknya senyawa karsinogen dari precursor dan mencegah reaksi dengan target (blocking agent) dan menekan pertumbuhan tumor (suppressing agent). Disamping itu, komponen lain juga dilaporkan bersifat sebagai bakteriostatik (β-pinen, 1,8-sineol dan terpinen); mengobati radang pernapasan (1,8-sineol); tonikum lambung, karminatif dan antidiuretika (β-pinen) (Knockblock et al.,1989 Stahl, 1985).
Radikal bebas adalah suatu molekul yang sangat reaktif dengan elektron yang tidak memiliki pasangan elektron pada orbital luarnya, sehingga akan mencari reaksi agar mendapatkan elektron pasanngannya yang berujung pada kerusakan sel dan jaringan.
Radikal bebas terbentuk dalam tubuh sebagai produk samping proses metabolisme. Di samping itu juga radikal bebas dapat berasal dari luar tubuh yang diserap melalui pernapasan atau kulit seperti asap rokok, polusi, sinar UV, obat, limbah industri, dan ozon. Peningkatan radikal bebas menyebabkan penurunan fungsi dari membran sel, retikulum endoplasma dan bisa menganggu di tingkat molekul DNA sel. Radikal bebas dapat menimbulkan beberapa penyakit degenaratif seperti jantung, reumatik, ginjal, otak, dan sistem imun yang pada akhirnya dapat berakibat pada menurunnya kualitas hidup dan mempercepat proses penuaan.
Berbagai senyawa yang dapat mencegah terjadinya radikal bebas salah satunya adalah antioksidan. Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat menangkal efek negatif radikal bebas dalam tubuh sehingga proses oksidasi pada sel-sel tubuh tidak berlanjut. Antioksidan yang ada dalam tubuh atau biasa disebut antioksidan endogen. Selain itu ada juga antioksidan yang berasal dari luar tubuh biasaya didapat dari diet sehari-hari atau disebut antioksidan eksogen. Beberapa sumber antioksidan eksogen yaitu sayur, buah-buahan, biji-bijian, dan umbi-umbian karena mengandug vitamin A, vitamin E, vitamin C, dan beta karoten.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Maserasi
Maserasi adalah suatu proses perndman simpisia mengunkan pelarut dengan beberapa kali pengadukan pada suhu kamar. Ada 2 macam maserasi yaitu masreasi kinetik dan remaserasi. Maserasi kinetik adalah maserasi yang dilakukan pengadukan secara terus-menerus sedangkan remaserasi adalah menambahkan pelarut setelah maserat pertama disaring dan seterusnya.
Pada bagian ini, daun kunyit di maserasi dengan teknik remaserasi. Proses maserasi diakukan dengan mengeringkan daun kunyit yang segar. Sampel diblender kering hingga menjadi simplisia. Simplisia direndam selama 3 hari pada suhu ruangan. Maserat kemudian disaring, filtrat dipisahkan dan ampasnya direndam kembali ke dalam metanol yang baru, maserasi dilang sebanyak + hingga diperoleh maserat berwarna jernih. Filtrat yang diperoleh dipekarkan dalam rotary evaporator (400C) atau pada suhu didih (Ginting, 2008), hingga diperoleh ekstra kental pada masing-masing sampel. Ekstrak kental dimasukkan ke dalam botol vial dan dikeringkan dalam desikator hingga diperoleh ekstrak kering. Ekstrak metanol yang kering kemudian dicampur dengan 2 mL dimethisulfoxyde (DMSO) sehingga diperoleh larutan induk dan dilakukan pengenceran sesuai kebutuhan. Ekstrak yang diperoleh disimpan dala botol vial pada suhu refigerator.
Keuntungan dari metode ini :
Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam
Biaya operasionalnya relatif rendah
Memerlukan larutan pengekstrak yang relative sedikit
Tanpa pemanasan

Kelemahan dari metode ini :
Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja
Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.
3.2 Isolasi Minyak Atsiri dalam Daun Kunyit
Daun kunyit biasanya digunakan untuk memberi aroma pada masakan seperti rendang, gulai dan sebagai pembalut ikan atau daging yang dibakar. Telah diteliti bahwa minyak atsiri yangdiperoleh dari daun kunyit menunjukkan potensi dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen Fusarium oxysporum, F. oxysporum, dan Curvularia trifolii (John Wiley & Sons, 2005).
Minyak atsiri yang dikenal juga dengan minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air (Ketaren, 1985).
Kegunaan minyak atsiri sangat luas dan spesifik, khususnya dalam berbagai bidang industri, antara lain dalam industri kosmetik (sabun, pasta gigi, sampo, losion); dalam industri makanan sebagai bahan penyedap atau penambah cita rasa; dalam industri parfum sebagai pewangi; dalam industri farmasi atau obat-obatan sebagai antinyeri, antiinfeksi, pembunuh bakteri; dalam industri bahan pengawet; bahkan digunakan pula sebagai insektisida, oleh karena itu tidak heran jika minyak atsiri banyak diburu berbagai negara (Lutony & Rahmayati,1994).
Beberapa metode isolasi minyak atsiri seperti penyulingan, pengepresan, ekstraksi dengan pelarut menguap, ekstraksi dengan lemak padat. Namun, sebagian besar minyak atsiri diperoleh melalui metode penyulingan yang dikenal juga dengan hidrodestilasi (Guenther, 1987;Lutony & Rahmayati, 1994). Meskipun proses pengambilan minyak atsiri melalui metode penyulingan merupakan model tertua, tetapi hingga kini masih banyak dilakukan oleh para perajin minyak atsiri di berbagai negara, khususnya negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia (Lutony & Rahmayati, 1994).
Isolasi minyak atsiri dalam daun kunyit akan menggunakan metode penyulingan. Berikut adalah flowsheet yang menunjukkan langkah kerja dari isolasi minyak atsiri dalam daun kunyit. Skema flowsheet tersebut antara lain:

Gambar 3. Flowsheet Isolasi Minyak Atsiri Daun Kunyit .

Minyak Atsiri Hasil Destilasi Uap
Keterangan:
B. Minyak atsiri dari simplisia daun kunyit
Berikut adalah beberapa struktur senyawa yang ada dalam minyak atsiri daun kunyit, antara lain :

1,8-sineol β-Seskuifellandren p-Cymen

α-fellandren α-Terpinolen

Berikut adalah perolehan data kadar minyak atsiri dalam daun kunyit :

Spektrum massa minyak atsiri dalam daun kunyit :

Spektrum massa dengan waktu tambat (Rt) 8,283 menit

3.3 Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Kunyit
Uji srining fitokimia yang dilakukan meliputi uji alkaloid, flavonoid, terpenoid dan steroid dengan menggunakan metode Harboune (1987), yaitu:
Uji Flavonoid
Daun kunyit yang telah dikeringkan, dihaluskan dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi metanol. Kemudian dipanaskan hingga ¼ volume awal dan disaring. Hasil penyaringan dimasukkan ke dalam 4 buah tabung reaksi. Kemudian tabung reaksi 1 ditetesi FeCl3, tabung reaksi 2 ditetesi MgHCl, tabung reaksi 3 ditetesi H2SO4 (p), dan tabung reaksi 4 ditetesi NaOH 10%. Setelah diamati perubahan warna yang terjadi pada masing-masing tabung diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabung reaksi 1 menghasilkan larutan berwarna hitam
Tabung reaksi 2 menghasilkan larutan berwarna biru keunguan
Tabung reaksi 3 menghasilkan larutan berwarna merah muda
Tabung reaksi 4 menghasilkan larutan berwarna jingga kekuningan.

Uji Alkaloid
Daun kunyit yang telah dikeringkan, dihaluskan dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi metanol. Kemudian dipanaskan hingga ¼ volume awal dan disaring. Hasil penyaringan dimasukkan ke dalam 4 buah tabung reaksi. Kemudian tabung reaksi 1 ditetesi Meyer, tabung reaksi 2 ditetesi Wagner, tabung reaksi 3 ditetesi Bouchard, tabung reaksi 4 ditetesi Dragendorf. Setelah diamati perubahan warna yang terjadi pada masing-masing tabung, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabung reaksi 1 menghasilkan endapan berwarna putih
Tabung reaksi 2 menghasilkan endapan berwarna coklat tua
Tabung reaksi 3 menghasilkan endapan berwarna coklat muda
Tabung reaksi 4 menghasilkan endapan berwarna merah bata.

Uji Steroid
Daun kunyit yang telah dikeringkan, dihaluskan dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi N-heksana. Kemudian dipanaskan hingga ¼ volume awal dan disaring. Hasil penyaringan dimasukkan ke dalam 3 buah tabung reaksi. Kemudian tabung reaksi 1 ditetesi CeSO4 1%, tabung reaksi 2 ditetesi Salkwosky, tabung reaksi 3 ditetesi Libermen-Bouchard. Setelah diamati perubahan warna yang terbentuk pada masing-masing tabung dan diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabung reaksi 1 menghasilkan larutan berwarna coklat
Tabung reaksi 2 menghasilkan larutan berwarna merah
Tabung reaksi 3 menghasilkan larutan berwarna hijau kebiruan.

Uji Terpenoid
Daun kunyit yang telah dikeringkan, dihaluskan dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi N-heksana. Kemudian dipanaskan hingga ¼ volume awal dan disaring. Hasil penyaringan dimasukkan ke dalam 3 buah tabung reaksi. Kemudian tabung reaksi 1 ditetesi CeSO4 1%, tabung reaksi 2 ditetesi Salkwosky, tabung reaksi 3 ditetesi Libermen-Bouchard. Setelah diamati perubahan warna yang terbentuk pada masing-masing tabung dan diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabung reaksi 1 menghasilkan larutan berwarna coklat
Tabung reaksi 2 menghasilkan larutan berwarna merah
Tabung reaksi 3 menghasilkan larutan berwarna hijau kebiruan.

Hasil Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Kunyit

Hasil uji skrining fitokimia kandungan metabolit sekunder ekstrak daun kunyit dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1. Hasil Skrining Fitokimia Kandungan Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Kunyit

Jenis Metabolit Sekunder
Pereaksi
Hasil Uji
Alkaloida Meyer –
Wagner –
Bouchard –
Dragendorf –
Flavonoida FeCl3 1% +
NaOH 10% –
MgHCl –
H2SO4 –
Steroida CeSO4 1% dalam H2SO4 10% +
Salkwosky +
Libermen-Bouchard –
Terpenoida CeSO4 1% dalam H2SO4 10% +
Salkwosky +
Libermen-Bouchard –

Tabel 1. Menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun kunyit mengandung senyawa steroid, terpenoid dan flavonoid dalam jumlah yang berbeda-beda. Pengujian senyawa steroid dan terpenoid dengan menggunakan pereaksi CeSO4 1% dalam H2SO4 10%, Salkowsky dan Liebermen-Bouchard ditandai dengan perubahan warna pada masing-masing pereaksi sehingga menunjukkan hasil positif sedangkan senyawa flavonoid dengan menggunakan pereaksi FeCl3 1% menunjukkan hasil positif. Adanya hasil positif dan negatif pada setiap pereaksi ditandai dengan kepekaan/kesensitifan setiap pereaksi yang menunjukkan ada atau tidaknya steroid maupun terpenoid dan disebabkan karena kandungan senyawa metabolit sekunder dalam tanaman bervariasi.
Menurut Harboune (1987), terpenoid bersifat larut dalam lemak, salah satu golongan terpenoid yang berpotensi sebagai antimikroba adalah triterpenoid. Sedangkan steroid adalah golongan lemak dan merupakan bagian dari triterpenoid. Ekstrak kunyit memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Salmonella typhimurium karena adanya senyawa-senyawa metabolit berupa alkaloid, flavonoid, sterol/triterpenoid, minyak atsiri, dan tanin (Sunanti, 2007).
3.4 Uji Aktivitas Antioksidan
3.4.1. Prinsip Kerja
Prinsip pada metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) adalah melihat perubahan warna DPPH dalam larutan dari ungu pekat menjadi kuning pucat karena aktivitas sampel yang mengandung antioksidan yang mampu menangkap dan meredam aktivitas radikal bebas. Semakin banyak DPPH yang diredam, warna larutan akan semakin berubah menjadi pucat. Perubahan warna selain bisa dilihat dari kualitatif, juga bisa menggunakan spektrofotometer dan dinilai absorbansinya. Pada spektrofotometer, akan dilihat perubahan serapan warna (nilai absorbansi). Absorbansi yang baik untuk larutan DPPH adalah kurang dari 1. Tinggi- rendahnya aktivitas antioksidan pada sampel dilihat dari nilai efficient concentration (EC50) atau inhibition concentration (IC50) yaitu konsentrasi suatu zat antioksidanyang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan sifat radikal bebasnya. Semakin kecil nilai IC50, semakin tinggi akktivitas antioksidan dalam sampel. Pengerjaan menggunakan DPPH harus cepat dan hati-hati karena molekul DPPH mudah terdegradasi oleh cahaya dan oksigen. Namun, metode DPPH lebih sederhana, akurat, cepat, dan bisa dilakukan dengan sedikit sampel.
3.4.2. Alat dan Bahan Penelitian
Alat

Timbangan analitik
Tabung reaksi
Tabung erlenmeyer
Cawan
Gelas ukur
Mikropipet 10;100; dan 1000 µL
Tip 10;100; dan 1000 µL
Kuvet
Alat spektrofotometer
Alumunium foil
Shaker waterbath
Labu ukur 10 mL
Kaca arloji
Batang pengaduk
Botol gelap
Gelas piala

Bahan
Simplisia
Metanol
DPPH
Aquades
Vitamin C
3.4.3. Cara Kerja
Berikut merupakan cara kerja uji aktivitas metode DPPH :
Penyiapan sampel atau pembuatan simplisia nabati
Daun kunyit basah dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Daun yang telah kering diblender menjadi serbuk daun kunyit.
Pembuatan ekstrak daun kunyit
Menggunakan metode maserasi dan remaserasi yaitu menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruang. Setelah dilakukan maserasi selama 24 jam, dilakukan penyaringan untuk memisahkan filtrat dan residu. Filtrat kemudian dilakukan evaporasi menggunakan rotary evaporator pada suhu 37o C untuk memisahkan pelarut metanol dengan ekstrak daun kunyit sehingga didapatkan ekstrak kental daun kunyit. Kemudian residu direndam lagi dengan pelarut metanol untuk dilakukan remaserasi.

Pembuatan larutan
Pembuatan larutan DPPH 634 µmolar
Timbang DPPH sebanyak 0,0014 g
Larutkan dalam 14 mL metanol
Larutan dikocok hingga homogen, kemudian dimasukkan ke dalam botol gelap
Absorbansi diukur dengan spektrofotometer UV-Vis untuk memperoleh panjang gelombang maksimum.

Pembuatan larutan kontrol
Dalam 1500 µL metanol ditambahkan 500 µL larutan DPPH
Larutan dikocok hingga homogen

Pembuatan larutan uji
Larutan induk 1000 ppm
10 mg ekstrak daun kunyit dilarutkan ke dalam 10 mL metanol.
Larutan seri
200 ppm
400 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.
150 ppm
300 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.
100 ppm
200 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.
50 ppm
100 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.

Pembuatan larutan kontrol positif
Larutan induk 100 ppm
1 mg Vitamin C murni dilarutkan dalam 10 mL metanol
Larutan seri
2 ppm
40 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.
4 ppm
80 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.
6 ppm
120 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.
8 ppm
160 µL dari larutan induk ditambahkan metanol sampai volumenya 1500 µL. Kemudian ditambahkan 500 µL larutan DPPH.

Pengukuran absorbansi
Semua larutan kontrol, larutan ekstrak daun kunyit dan larutan standar positif (Vitamin C) dikocok menggunakan shaker waterbath dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 30 menit dalam keadaan gelap (ditutup alumunium foil). Hal ini dilakukan karena radikal DPPH mudah didegradasi oleh cahaya. Kemudian absorbansinya diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Setelah nilai absorbansinya didapat, dapat dihitung % hambatan masing-masing larutan dengan menggunakan rumus :
%hambatan= ((Abs blanko-abs sampel))/(Abs blanko) x 100%

Setelah didapatkan %aktivitas hambatan, dicari nilai IC50 melalui persamaan regresi linier y = a+bx.
Analisis data antioksidan
Data antioksidan pada radikal DPPH (%hambatan), ekstrak daun kunyit dianalisis dan dihitung nilai IC50. Semakin kecil nilai IC50, berarti aktivitas antioksidan semakin kuat. Pada penelitian ini, nilai IC50 dianalisis dan dihitung menggunakan persamaan regresi linier.
Data %hambatan dan konsentrasi larutan digunakan untuk mencari nilai IC50 dengan persamaan regresi linier y=a+bx dimana y adalah %hambatan 50 (senilai 50) dan x adalah nilai IC50. Nilai konstanta a menentukan besarnya variabel y jika variabel x adalah nol (0). Sedangkan nilai b menunjukkan besarnya perubahan variabel y jika variabel x berubah satu satuan. Berikut ini tabel mengenai klasifikasi aktivitas antioksidan menurut Blois :
No. Nilai IC50 Antioksidan
1 Kurang dari 50 ppm Sangat kuat
2 50-100 ppm Kuat
3 100-150 ppm Sedang
4 151-200 ppm Lemah

Berikut ini nilai absorbansi dan %hambatan dari setiap konsentrasi ekstrak daun kunyit :
No. Konsentrasi (ppm) Rata-rata nilai absorbansi %hambatan
1 50 0,465 14,04%
2 100 0,344 36,41%
3 150 0,243 55,08%
4 200 0,199 63,22%
Nilai absorbansi dan %hambatan vitamin C
No. Konsentrasi (ppm) Rata-rata nilai absorbansi %hambatan
1 2 0,504 6,83%
2 4 0,433 19,96%
3 6 0,234 56,74%
4 8 0,102 81,14%
*Larutan Kontrol = 0,541 nm
Berdasarkan kedua tabel di atas, terlihat hasil bahwa semakin besar konsentrasi, semakin kecil nilai absorbansinya karena semakin bear konsentrasi larutan, aktivitas antioksidan semakin tinggi. Hal ini ditandai dengan perubahan warna dari DPPH dan nilai % hambatannya semakin tinggi.
Setelah dilakukan perhitungan untuk mendapatkan data %hambatan maka dibuat grafik dengan menggunakan Microsoft Excel dimana konsentrasi larutan (x) dan % hambatan (y) sehingga akan diperoleh persamaan regresi liniernya. Berikut hasil persamaan regresi linier ekstrak daun kunyit dan vitamin C :

3.5 Penetapan Nilai IC50
Nilai IC50 dapat ditetapkan dengan menggunakan persamaan regresi linier. Untuk memudahkan input data maka digunakan microsoft excel untuk mencarai regresi linier. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin besar aktivitas antioksidan. Setelah dilakukan perhitungan IC50 daun kunyit dan vitamin C sebagai berikut :
No. Bahan Nilai IC50
1 Ekstrak Daun Kunyit 148,51 ppm
2 Vitamin C 5,67

BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil analisis :
Uji Skrining Fitokimia
Ekstrak metanol daun kunyit mengandung senyawa steroid, terpenoid dan flavonoid dalam jumlah yang berbeda-beda. Pengujian senyawa steroid dan terpenoid dengan menggunakan pereaksi CeSO4 1% dalam H2SO4 10%, Salkowsky dan Liebermen-Bouchard ditandai dengan perubahan warna pada masing-masing pereaksi sehingga menunjukkan hasil positif sedangkan senyawa flavonoid dengan menggunakan pereaksi FeCl3 1% menunjukkan hasil positif.
Uji Aktivitas Antioksidan
Dari berbagai konsentrasi larutan uji ekstrak daun kunyit, terdapat perubahan warna DPPH dari ungu pekat menjadi kuning terang. Hal ini menunjukkan adanya aktivitas antioksidan ekstrak daun kunyit.
Nilai IC50 ekstrak daun kunyit sebesar 148,51 ppm dan digolongkan sebagai antioksidan sedang enurut kriteria Blois.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Lampiran Hasil Identifikasi Teknik Isolasi Minyak Atsiri dari Daun Kunyit. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara
Dani, Ira Wulan, Kiki Nurtjahja dan Cut Fatimah Zuhra. Penghambatan Pertumbuhan Aspergillus Flavus dan Fusarium Moniliforme Oleh Ekstrak Salam (Eugenia Polyantha) dan Kunyit (Curcuma Domestica). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara.
Edriana, Nurhabiba. 2014. Uji Aktivitas dan Uji Antioksidan pada Ekstrak Daun Kunyit (Curcuma Dosmetic Val) dengan Menggunakan Metode DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazil). Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *