MAKALAH ETIKA KODE ETIK PERAWAT GIGI DI INDONESIA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2012
KATA PENGANTAR
Pertama-tama penyusun memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat-Nya lah penulisan makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika semester empat. Sekaligus untuk menambah wawasan penulis, mengenai kode etik perawat gigi di Indonesia yang nantinya dapat di jadikan sebagai pegangan kita di masa mendatang.
Banyak kendala yang muncul dalam penyelesaian makalah ini. Namun karena kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak, pada akhirnya makalah ini dapat terselesaikan tepat waktu.
Penyusun menyadari terdapat beberapa materi yang belum penyusun sertakan dalam makalah ini. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan dalam penulisan selanjutnya di masa yang akan datang. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat berguna bagi para pembaca khususnya dan juga berguna bagi nusa dan bangsa umumnya.

Yogyakarta, 10 Maret 2012

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman sampul …………………………………………………………………………………………………i
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………………………..ii
Daftar isi……………………………………………………………………………………………………………iii
Bab 1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………………iv
1.2 Tujuan dan Manfaat ………………………………………………………………………………
Bab 2. Pembahasan……………………………………………………………………………………………..3
2.1 Kewajiban Umum…………………………………………………………………………………….
2.2 Kewajiban Perawat Gigi Terhadap Masyarakat…………………………………………….
2.3 Kewajiban Perawat Gigi Terhadap Teman Sejawatnya……………………………….
2.4 Kewajiban Perawat Gigi Terhadap Diri Sendiri………………………………………….
Bab 3. Penutup
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………10
3.2 Saran…………………………………………………………………………………………………….10
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………………..11

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawat gigi merupakan salah satu jenis tenaga kesehatan dalam kelompok keperawatan yang dalam menjalankan tugas profesinya harus berdasarkan Standar Profesi (SK Menkes Nomor 1035 Tahun 1998). Pengertian dari profesi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu (ketrampilan,kejujuran,dan sebagainya).
Setiap pekerjaan yang tergolong ke dalam suatu profesi harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya adalah memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Kode etik merupakan sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik juga menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Kode etik suatu profesi merupakan ketentuan perilaku yang harus dipatuhi oleh setiap mereka yang menjalankan profesi seperti dokter, perawat, perawat gigi dan profesi lainnya.
Begitu halnya dengan perawat gigi yang merupakan suatu profesi bidang keperawatan gigi juga memiliki kode etik. Dengan adanya kode etik ini diharapkan dapat memberikan pedoman bagi tiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas, dimana pelaksana profesi (perawat gigi) mampu mengetahui suatu hal yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Disamping itu kode etik juga merupakan sarana kontrol bagi masyarakat maupun profesi yang bersangkutan, serta mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.
Kode etik disusun oleh organisasi profesi. Organisasi profesi merupakan suatu wadah/tempat para anggota profesi tersebut menggabungkan diri dan mendapat perlindungan. Di Indonesia, organisasi profesi bidang keperawatan gigi adalah Persatuan Perawat Gigi Indonesia(PPGI). Sebagai seorang perawat gigi kita wajib menghayati, mentaati dan mengamalkan apa yang sudah tertera didalam kode etik diwilayah hukum Indonesia. Kewajiban-kewajiban sebagai seorang perawat gigi senantiasa harus dilakukan dengan semaksimal mungkin, baik itu kewajiban umum dalam memberikan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut, agama, hukum, kewajiban terhadap masyarakat, kewajiban terhadap diri sendiri, bahkan kewajiban terhadap rekan sejawat.

1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Mengetahui kode etik perawat gigi Indonesia serta kekurangan dan kelebihannya.
2. Melindungi masyarakat dari praktek-praktek yang tidak sesuai dengan standar profesi.
3. Melindungi tenaga kesehatan dari tuntutan masyarakat yang tidak wajar.
4. Sebagai pedoman dalam pengawasan pelaksanaan pelayanan kesehatan dan pembinaan serta peningkatan mutu pelayanan.
5. Sebagai pedoman menjalankan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Kewajiban Umum
Pasal 1
Setiap Perawat Gigi Indonesia harus senantiasa menjalankan profesinya secara optimal.
Perawat gigi melakukan pekerjaannya sesuai dengan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut, etika umum, etika kesehatan gigi, hukum dan agama. Pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang kesehatan gigi dan mulut perlu dipelihara dan ditingkatkan sesuai dengan kompetensi perawat gigi, etika umum dan etika kesehatan gigi dan mulut dilakukan dalam rangka member pelayanan terbaik pada pasien.
Sebagai contoh seorang perawat gigi dalam memberikan pelayanan kesehatannya perlu memperhatikan prinsip etika dan pengetahuan yang didapat supaya mendapat hasil yang maksimal.

Pasal 2
Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib menjunjung tinggi norma-norma hidup yang luhur.
Seorang perawat gigi dalam menjalankan profesinya harus membawa diri dalam sikap yang terpuji. Baik dalam hubungannya terhadap pasien, masyarakat, teman sejawat maupun profesinya. Dalam menjalankan tugasnya, perawat gigi harus mematuhi norma-norma luhur yang berlaku di daerah dimana ia menjalankan tugas sebagai perawat gigi. Oleh karena itu Perawat gigi Indonesia berkewajiban untuk menjaga tingkah laku, tutur kata serta sikapnya agar selalu seimbang dengan martabat jabatan Perawat Gigi sebagai salah satu tenaga kesehatan gigi. Masyarakat memandang perawat gigi yang terampil adalah perawat gigi yang menjunjung tinggi norma hidup yang luhur baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan profesinya. Karena Masyarakat menilai seorang perawat gigi tidak hanya berdasarkan kemampuan dalam
memberikan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat, tetapi juga berdasarkan cara dan sikap hidupnya dalam masyarakat.

Pasal 3
Dalam menjalankan profesi, setiap Perawat Gigi Indonesia tidak dibenarkan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Kode Etik.
Dalam hal ini sebagai seorang perawat yang profesional harus bekerja berdasarkan kode etik yang telah diatur dan disepakati. Apabila ada pelanggaran yang dilakukan dalam proses perawatan maka akan diberi sanksi yang telah dimuat dalam kode etik profesi perawat gigi. Contoh: apabila seorang perawat gigi membuka praktik tanpa lisensi maka akan diberi peringatan dan jika hal itu terus berlanjut maka akan dikeluarkan dari organisasi profesi.

Pasal 4
Setiap Perawat Gigi Indonesia harus memberikan kesan dan keterangan atau pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan.
Yang dimaksud dalam pasal 4 itu adalah bahwa setiap perawat gigi harus mampu mempertanggungjawabkan tentang apa yang telah disampaikan kepada pasien. Misalnya dalam hal melakukan tindakan scaling pada pasien, apa saja langkah-langkah yang akan dilakukan dan dihadapi oleh pasien, seberapa besar kemungkinan perawatan akan berhasil dan bahkan resiko seperti apa yang akan dihadapi ketika pasien melakukan tindakan scaling.
Kemudian perawat gigi juga berwenang dalam hal mempertanggung jawabkan rekam medis pasien dan harus sesuai dengan keadaan pasien yang sebenarnya terjadi pada diri pasien itu sendiri, bahkan ketika terjadi kesalahan dalam melakukan tindakan pelayanan kesehatan terhadap diri pasien sang perawat akan mempertanggunjawabkan nya ataupun mempertanggunggugatkan.

Pasal 5
Setiap perawat gigi Indonesia agar menjalin kerja sama yang baik dengan tenaga kesehatan lainnya.
Perawat gigi harus dapat menjalin kerjasama dengan pelaksana tenaga kesehatan menyeluruh seperti dokter gigi, dokter umum, bidan, perawat umum, ahli gizi maupun penyuluh kesehatan masyarakat agar terjalin hubungan yang baik, harmonis dan saling menghargai. Hubungan kerjasama yang baik dapat mendukung terjalinnya kolaborasi perawat gigi dengan tenaga kesehatan yang lain sehingga dapat melakukan asuhan pelayanan kesehatan dengan terapeutik.

Pasal 6
Setiap perawat gigi Indonesia wajib bertindak sebagai motivator dan pendidik masyarakat.
Perawat bertindak sebagai motivator bertujuan untuk memberi suatu motivasi/semangat dalam hal kesehatan gigi dan mulut pasien. Hal ini diterapkan karena motivasi merupakan suatu pencegahan primer.

Pasal 7
Setiap perawat gigi Indonesia wajib berupaya meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat dalam bidang promotif, preventif, dan kuratif sederhana.
Perawat gigi Indonesia dalam rangka meningkatkan kesehatan gigi dan mulut diwajibkan untuk melakukan usaha baik secara pencegahan, promotif, maupun tindakan kuratif sederhana. Peran perawat gigi dalam upaya promotif dan preventif dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit gigi dan mulut, upaya ini dilakukan sebagai rencana berjangka guna menekan angka terjadinya penyakit gigi dan mulut dalam masyarakat, sedangkan peran perawat gigi dalam upaya kuratif sederhana adalah dengan memberikan tindakan yang bersifat kuratif yakni disaat penyakit gigi dan mulut sudah menjangkiti seseorang, namun tindakan kuratif yang diberikan adalah sederhana, tidak melebihi batas wewenang yang dimiliki oleh seorang perawat gigi sesuai SOP.

2.2 Kewajiban Perawat Gigi Terhadap Masyarakat
Pasal 8
Dalam melaksanakan profesinya, setiap Perawat Gigi Indonesia wajib memberikan pelayanan yang sebaik mungkin kepada individu masyarakat.
Perawat gigi juga termasuk tenaga kesehatan yang di didik dan nantinya juga bekerja untuk masyarakat luas. Jadi sudah seharusnya menjadi kewajiban untuk perawat gigi memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada individu masyarakat.
Selain itu perawat gigi juga wajib untuk memperhatikan dan mendapat persetujuan apa yang akan dilakukan terhadap pasien. Jika tidak, perawatan tidak mungkin bisa diteruskan. Jika iya, harus laksanakan semaksimal mungkin. Dengan adanya prosedur seperti ini, tidak mendapat kesan kalau pasien tidak tahu apa yang dilakukan perawat terhadapnya, walaupun si perawat sudah menjelaskan tentang indikasi yang sesuai dengan keadaan penderitanya, tapi pasien lah yang sepenuhnya menentukan akan dilakukan tindakan atau tidak.

Pasal 9
Dalam hal ini ketidakmampuan dan diluar kewenangan Perawat Gigi Indonesia berkewajiban merujuk kasus yang ditemukan kepada tenaga yang lebih ahli.
Setuju, karena apabila seorang perawat gigi tidak dapat menangani sebuah kasus, dikarenakan hal tersebut bukan kompetensinya, maka ia harus merujuknya ke tenaga medis yang lebih ahli atau berkompeten dalam bidangnya misalnya ke dokter gigi atau dokter gigi spesialis.

Pasal 10
Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib merahasiakan segala sesuatu yang ia ketahui tentang kliennya.
Setuju, hal tersebut merupakan hal yang sangat sensitive bagi pasien. Ketidaknyamanan si pasien, merasa rendah diri, minder, atau lingkungan sosialisasinya akibat rahasia medis yang tidak dijaga dapat menurunkan semangat untuk sembuh karena pasien tersebut sudah tidak nyaman dengan lingkungannya.
Namun, jika harus dirahasiakan kepada keluarganya, nampaknya kurang setuju. Karena keluarga adalah orang terdekat pasien sehingga diharapkan mereka bisa membantu dalam proses penyembuhan, seperti memberikan semangat, mengupayakan pelayanan yang lebih baik, dan sebagai wujud kasih sayang terhadap pasien.

Pasal 11

Setiap Perawat gigi indonesia wajib memberikan pertolongan darurat dalam batas-batas kemampuan, sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali pada waktu itu ada orang lain yang lebih mampu memberikan pertolongan.
Pasal tersebut menjelaskan kewajiban perawat gigi terhadap masyarakat. Dalam keadaan darurat seorang Perawat Gigi wajib memberikan pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan dan apapun yang dideritanya. Pertolongan yang diberikan tentu dalam batas-batas tindakan keterampilan, keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya. Walaupun sangat terbatas, namun tetap harus mengerjakan segala sesuatu dalam upaya menyelamatkan seseorang. Pertolongan harus diberikan apabila tidak ada orang lain yang mampu memberikan.
Kami sependapat, karena bagaimanapun juga kita sebagai tenaga kesehatan harus siap dan sigap dalam melayani masyarakat dalam kondisi apapun dan kapanpun. Namun memang perlu diperhatikan sejauh mana kemampuan yang kita miliki agar tidak terjadi kesalah yang tidak diinginkan. Sebaiknya jangan menangani kasus di luar kompetensi kita sebagai perawat gigi, lakukan pertolongan sederhana sesuai kompetensi kita, kemudian rujuk pada orang yang lebih mampu menangani kasus tersebut, misalnya dokter gigi. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat berakibat fatal dan merugikan pasien, alih – alih bertujuan menolong tapi yang terjadi malah membahayakan pasien.

2.3 Kewajiban Perawat Gigi Terhadap Teman Sejawatnya.
Pasal 12
Setiap Perawat Gigi Indonesia harus memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri diperlakukan.
Sesama Perawat Gigi sebaiknya tidak merasa lebih tinggi dari rekan kerjanya. Hal ini dikarenakan untuk menciptakan proses kerja yang, adil serta tidak menimbulkan kesenjangan. Selain itu, bertujuan untuk membentuk lingkungan kerja yang nyaman, sehingga kinerja yang dihasilkan pun optimal.
Dalam usaha menciptakan suasanan kerja yang diinginkan, tentunya tidak terlepas dari andil organisasi profesi yang menaungi. Pengetahuan yang dimiliki hendknya dibagikan kepada sesama perawat gigi. Untuk memudahkan adanya sharing pengalaman antar sesama perawat gigi, alangkah baiknya jika setiap perawat gigi menjadi anggota dari organisasi Persatuan Perawat Gigi Indonesia. Bisa juga aktif untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan oleh PPGI, sehingga feel kerjasama dan penerimaan dalam sebuah komunitas itu ada.
Forum antar perawat gigi juga dapat memfasilitasi dalam pencarian solusi atas kesalahpahaman yang timbul antar sesama perawat gigi. Selain itu dapat dijadikan sebagai sarana curah pendapat tentang isu-isu teraktual dalam dunia kedokteran gigi.

2.4 Kewajiban Perawat Gigi Terhadap Diri Sendiri
Pasal 13
Setiap perawat gigi Indonesia wajib mempertahankan dan meningkatkan martabat dirinya.
Meningkatkan martabat dirinya, berarti bahwa perawat gigi wajib bekerja secara teleti dan hendaknya selalu berusaha mawas diri untuk meningkatkan citra perawat gigi di masyarakat.

Pasal 14
Setiap Perawat Gigi Indonesia wajib mengikuti secara aktif perkembangan pengetahuan dan teknologi.
Kami setuju dengan pasal 14 karena bagaimanapun ilmu pengetahuan itu terus berkembang seimbang dengan kemajuan zaman. Oleh sebab itu, sebagai seorang perawat gigi tentunya kita juga harus aktif mengikuti perkembangan tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dengan ilmu – ilmu baru yang lebih memadai. Dapat kita lihat pada realitanya dilapangan, asuhan keperawatan yang dilakukan masih bersifat manual dan konvensional, belum disertai dengan sistem/perangkat tekhnolgi yang memadai. Contohnya dalam hal pendokumentasian asuhan keperawatan masih manual, sehingga perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian dalam praktek. Dengan adanya perkembangan teknologi, maka sangat dimungkinkan bagi perawat untuk memiliki sistem pendokumentasian asuhan keperawatan yang lebih baik.

Pasal 15
Setiap Perawat Gigi Indonesia harus memelihara kesehatannnya supaya dapat bekerja dengan baik.
Dalam pasal 15 disebutkan bahwa setiap perawat gigi di Indonesia harus memeliharanya kesehatannya, kita sebagai calon perawat gigi harusnya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat tentang bagaimana caranya memelihara kesehatan, terutama kesehatan gigi dan mulut. Seperti memeriksakan gigi minimal 6 bulan sekali, menggosok gigi minimal 2 kali sehari (setelah sarapan dan sebelum tidur). Dan menjaga kebersihan dirinya serta lingkungan sekitarnya, dan memperhatikan syarat-syarat pencegahan antara lain dengan imunisasi, mencuci tangan, memakai masker dan sarung tangan.
Tapi dalam realitanya di Indonesia masih sering ditemui perawat gigi yang tidak memperhatikan syarat-syarat kesehatan.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan yang telah dijabarkan pada bab pembahasan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Kode Etik Perawat Gigi Indonesia dapat dijadikan pedoman untuk menjalankan profesi secara baik untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan pengembangan tenaga kesehatan gigi di masa mendatang.
b. Dapat dijadikan evaluasi bagi seluruh perawat gigi Indonesia terhadap profesinya.

3.2 Saran
a. Dalam pelaksanaanya dibutuhkan tingkat profesionalitas yang tinggi dari seluruh perawat gigi Indonesia dan partisipasi antar sesama teman sejawatnya.
b. Perawat gigi Indonesia harus menjaga nama baik dengan ilmu, moral dan etika agar tidak berdampak buruk pada nama baik seluruh perawat gigi di Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 378/Menkes/Sk/Iii/2007 Tentang Standar Profesi Perawat Gigi

http://prasxo.wordpress.com/2011/02/17/definisi-perawat-gigi/ diunduh melalui Google Chrome 10/03/2012
http://www.pdgi.or.id/assets/files/2010/Kepmenkes.pdf diunduh melalui Mozzila Firework “Standar Profesi Perawat Gigi” tanggal 10/3/2012.
http://mohtar.staff.uns.ac.id/files/2009/03/kode-etik.pdf diunduh di unduh melalui Mozzila Firework “Profesi,Kode Etik,dan Profesionalisme” tanggal 10/3/2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *