LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENYAKIT STEVENS JHONSON SINDROME

Disusun dalam rangka memenuhi tugas sistem integumen

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karuniaNya tugas ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Adapun materi yang di bahas tentang penyakit STEVENS JOHNSON SINDROME.
Diharapkan asuhan keperawatan ini bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca mengenai penyakit syndrom steven johnson. Selain itu semoga dengan adanya wacana ini penderita dermatitis di Indonesia tidak terus meningkat.Selain itu, diharapkan Dinas Kesehatan mampu menanggulangi kenaikan penderita dermatitis di Indonesia ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan makalah kami selanjutnya.

Mojokerto, 8 Oktober 2013

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Syndrom steven johnson merupakan suatu kumpulan gejala yang mengenai pada kulit,selaput lendIr di orificium dan mata dengan keadaan umum yang bervariasi dari ringan sampai berat. Penyakit ini sering kali juga disebut sebagai alergi obat, pada keadaan umum yang berat penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Sering kali orang-orang datang kerumah sakit sudah dalam keadaan parah karena mereka tidak menyadari jika menderita penyakit tersebut. Mereka sering kali memilih membeli obat diwarung daripada pergi ke dokter ketika sakit, sehingga mereka tidak menyadari bahwa obat tersebutlah yang memicu ia menderita syndrom steven johnson.

1.2 Permasalahan
1. Apa definisi dari syndrom steven johnson?
2. Apa saja etiologinya?
3. Apa saja manifestasi dari sydrom steven johnson?
4. Bagaimana patofisiologi terjadinya penyakit ini?
5. Apa saja komplikasinya?
6. Bagaimana penata laksanaan dari penyakit tersebut?
7. Dan bagaimana cara menegakkan asuhan keperawatan yang tepat untuk penderita syndrom steven johnson

1.3 Tujuan
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan mengerti tentang syndrom steven johnson, dapat mengetahui etiologi dan mengerti patofisiologiny sehingga dapat segera mendeteksi jika terdapat manifestasi klkinis dari penderita sydrom steven johnson, dengan begitu dapat meminimalisir terjadinya komplikasi dari penyakit tersebut dan dapat memberikan penatalaksanaan serta dapat menentukan asuhan keperawatan yang tepat.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Sindrom Steven Johnson adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lendir yang orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk (Mansjoer, A. 2000: 136).
Syndrom steven johnson adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh alergi atau infeksi. Sindrom tersebut mengancam kondisi kulit yang mengakibatkan kematian sel-sel kulit sehingga epidermis mengelupas/memisahkan diri dari dermis. Sindrom ini dianggap sebagai hipersensitivitas kompleks yang memengaruhi kulit dan selaput lendir(wikipedia, dilihat pada tgl 08 oktober 2013).
Sindroma Stevens-Johnson merupakan suatu sindroma(kumpulan gejala) yang mengenai kulit,selaput lendir di orificium dan mata dengan keadaan umum yang bervariasi dari ringan sampai berat (Monica, SINDROM STEVENSS – JOHNSON).
2.2 Etiologi
Penyebab dari syndrome ini belum diketahui dengan pasti, namun ada beberapa faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab, yaitu :
1. Penyebab utama ialah alergi obat, lebih dari 50%. Sebagian kecil karena infeksi, vaksinasi, penyakit graft versus host, neoplasma, dan radiasi. Pada penelitian Adhi Djuanda selama 5 tahun (1998-2002) SSJ yang diduga alergi obat tersering ialah analgetik/antipiretik (45%), disusul karbamazepin (20%) dan jamu (13,3%). Sebagian besar jamu dibubuhi obat. Kausa yang lain amoksisilin, kotrimoksazol, dilantin, klorokuin, seftriakson dan adiktif.
2. Akibat penyakit infeksi
Penyebab infeksi yang telah dilaporkan dapat menyebabkan sindrom ini meliputi:
a. Viral: herpes simplex virus (HSV)1 dan 2, HIV, Morbili, Coxsackie, cat-scratch fever, influenza, hepatitis B, mumps, lymphogranuloma venereum(LGV), mononucleosis infeksiosa, Vaccinia rickettsia dan variola. Epstein-Barr virus and enteroviruses diidentifikasi sebagai penyebab timbulnya sindrom ini pada anak.
b. Bakteri: termasuk kelompok A beta haemolytic streptococcus, cholera, Fracisella tularensis, Yersinia, diphtheria, proteus, pneumokokus, Vincent agina, Legionaire, Vibrio parahemolitikus brucellosis, mycobacteriae, mycoplasma pneumonia tularemia and salmonella typhoid.
c. Jamur: termasuk coccidioidomycosis, dermatophytosis dan histoplasmosis
d. Protozoa: malaria and trichomoniasis.

2.3 Manifestasi klinis
Gejala prodromal berkisar antara 1-14 hari berupa demam, malaise, batuk produktif, koriza, sakit kepala, sakit menelan, nyeri dada, muntah, pegal otot dan artralgia yang sangat bervariasi dalam derajat berat dan kombinasi gejala tersebut. Setelah itu akan timbul lesi kulit, mukosa, dan mata yang dapat diikuiti kelainan viseral.
Gejala bervariasi ringan sampai berat. Pada yang berat penderita dapat mengalami koma. Mulainya penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam tinggi 39-40C. Dengan segera gejala tersebut dapat menjadi berat. Stomatitis (radang mulut) merupakan gejala awal. Sindrom ini jarang dijumpai pada usia 3 tahun ke bawah. Pada sindrom ini terlihat adanya trias kelainan berupa: kelainan kulit, kelainan solaput lendir di orifisium , kelainan mata.
1. Kelainan kulit.
Kelainan kulit terdiri dari eritema, vesikeldan bula. Vesikel dan bulakemudian memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Disamping itu juga dapat terjadi purpura, pada bentuk yang berat kelainannya generalisata.
Kelainan kulit dapat timbul cepat berupa eritema, papel, vesikel atau bula secara simetris berupa lesi kecil satu-satu atau kelainan luas pada hampir seluruh tubuh. Lesi kulit biasanya pertama kali terlihat di muka, leher, dagu, dan badan. Sering timbul pendarahan pada lesi yang menimbulkan gejala fokal berbentuk target, iris, atau mata sapi. Kulit juga menjadi lebih muda terkena infeksi sekunder. Predileksi pada area ekstensor tangan dan kaki serta muka yang meluas ke seluruh tubuh sampai kulit kepala. Pada keadaan lanjut dapat terjadi erosi, ulserasi, kulit mengeluas (tanda nikolsky positif), dan pada kasus berat pengelupasan kulit dapat terjadi pada seluruh tubuh disertai paronikia dan pelepasan kuku. Jumlah dan luas lesi dapat meningkat dan mencapai puncaknya pada hari ke-4 sampai 5, dapat disertai rasa sakit di kulit.
2. Kelainan selaput lendir
Kelaianan selaput lendir yang tersering ialah pada mukosa mulut (100 %) kemudian disusul oleh kelainan alat dilubang genetol (50 %), sedangkan dilubang hidung dan anus jarang (masing-masing 8 % dan 4 %). Vesikel dan bula yang pecah menjadi erosi dan ekskoriasi dan krusta kehitaman. Juga dapat membentuk pseudomembran. Kelainan yang tampak di bibir adalah krusta berwarna hitam yang tebal. Kelainan dapat juga menyerang saluran pencernaan bagian atas (faring dan esofagus) dan saluran nafas atas. Pada bibir dapat dijumpai krusta kehitaman yang disertai stomatitis berat pada mukosa mulut. Pasien menjadi sulit makan dan minum sehingga biasanya datang dalam keadaan dehidrasi. Kelainan mukosa jarang terjadi pada hidung dan anus, tetapi pada kasus berat dapat terjadi kelainan mukosa yang luas sampai ke daerah trakeobronkial. Keadaan ini dapat menyebabkan penderita sukar/tidak dapat menelan dan juga sukar bernafas.
3. Kelainan mata.
Kelainan mata merupakan 80 % diantara semua kasus yang tersering telah konjungtivitis kataralis. Selain itu juga dapat berupa konjungtivitis parulen, peradarahan, alkus korena, iritis dan iridosiklitis. Disamping trias kelainan tersebut dapat pula dapat pula terdapat kelainan lain, misalnya : notritis, dan onikolisi. Cedera mukosa okuler merupakan faktor pencetus yang menyebabkan terjadinya ocular cicatricial pemphigoid, merupakan inflamasi kronik dari mukosa okuler yang menyebabkan kebutaan. Waktu yang diperlukan mulai onset sampai terjadinya ocular cicatricial pemphigoid bervariasi mulai dari beberapa bulan sampai 31 tahun. Selain itu juga dapat be-rupa konjungtivitis purulen, perdarahan, simblefaron, ulkus komea, iritis, dan iridosiklitis.

Syndrom ini jarang dijumpai pada usia 3 tahun kebawah. Keadaan umumnya bervariasi dari ringan sampai berat.

2.4 Patofisiologi

2.5 Komplikasi
Komplikasi yang tersering ialah bronkopneumonia, kehilangan cairan / darah, gangguan keseimbangan elektrolit dan syok. Pada mata dapat terjadi kebutaan karena gangguan lakrimal
2.6 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk mencari hubungan dengan faktor penyebab serta untuk pelaksanaan secara umum. Pemeriksaan yang rutin di lakukan diantaranya adalah pemeriksaan darah tepi (hemoglobin, leukosit, trombosit, hitung jenis, hitung eosonifil total, LED), pemeriksaan imunologik (kadar imunoglobulin, komplemen C3 dan C4, kompleks imun),biakan kuman serta uji resistensi dari darah dan tempat lesi, serta pemeriksaan histopatologik biopsi kulit. Hasil biopsi dapat menunjukan adanya nekrosis epidermis dengan keterlibatan kelenjar keringat, folikel rambut dan perubahan dermis. Anemia dapat di jumpai pada kasus berat yang menunjukan gejala pendarahan. Leukosit biasanya normal atau sedikit meninggi, C3 dan C4 normal atau sedikit menurun, dan dapat di deteksi adanya kompleks imun yang eredar. Pada pemeriksaan histopatologik dapat ditemukan gambaran nekrosis di epidermis sebagian atau menyeluruh, edema intrasel di daerah epidermis, pembengkakan endotel, serta eritrosit yang keluar dari pembuluh darah dermis superfisial. Pemeriksaan imunofluoresen dapat memperlihatkan endapan IgM,IgA,C3, dan fibrin. Untuk mendapat hasil pemeriksaan imunofluoresen yang baik maka bahan biopsi kulit harus diambil dari lesi baru yang berumur kurang dari 24 jam
2.7 Penatalaksanaan
Seluruh pengobatan harus dihentikan, khususnya yang diketahui menyebabkan reaksi SJS. Penatalaksanaan awalnya sama dengan penanganan pasien dengan luka bakar, dan perawatan lanjutan dapat berupa suportif (misalkan cairan intravena) dan simptomatik (misalkan analgesik, dll), tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit ini. Kompres saline atau Burow solution untuk menutupi luka kulit yang terkelupas/terbuka. Alternatif lainnya untuk kulit adalah penggunaan calamine lotion. Pengobatan dengan kortikosteroid masih kontroversial semenjak hal itu dapat menyebabkan perburukan kondisi dan peningkatan resiko untuk terkena infeksi sekunder. Zat lainnya yang digunakan, antara lain siklofosfamid dan siklosporin, namun tidak ada yang berhasil. Pemberian immunoglobulin intravena menunjukkan suatu hal yang menjanjikan dalam mengurangi durasi reaksi alergi dan memperbaiki gejala.
Pengobatan suportif lain diantaranya penggunaan anestesi nyeri topikal dan antiseptic, yang dapat menjaga lingkungan tetap hangat, dan penggunaan analgesic intravena. Seorang oftalmologis atau optometris harus dikonsultasikan secepatnya, oleh karena SJS sering menyebabkan pembentukan jaringan parut di dalam bola mata yang kemudian menyebabkan vaskularisasi kornea dan terganggunya penglihatan, dan gangguan mata lainnya. Diperlukan pula adanya program fisioterapi setelah pasien diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Pada umumnya penderita SSJ datang dengan keadan umum berat sehingga terapi yang diberikan biasanya adalah: Cairan dan elektrolit, serta kalori dan protein secara parenteral. Antibiotik spektrum luas, selanjutnya berdasarkan hasil biakan dan uji resistensi kuman dari sediaan lesi kulit dan darah. Kortikosteroid parenteral: deksamentason dosis awal 1mg/kg BB bolus, kemudian selama 3 hari 0,2-0,5 mg/kg BB tiap 6 jam. Penggunaan steroid sistemik masih kontroversi, ada yang mengganggap bahwa penggunaan steroid sistemik pada anak bisa menyebabkan penyembuhan yang lambat dan efek samping yang signifikan, namun ada juga yang menganggap steroid menguntungkan dan menyelamatkan nyawa. Antihistamin bila perlu. Terutama bila ada rasa gatal. Feniramin hidrogen maleat (Avil) dapat diberikan dengan dosis untuk usia 1-3 tahun 7,5 mg/dosis, untuk usia 3-12 tahun 15 mg/dosis, diberikan 3 kali/hari. Sedangkan untuk setirizin dapat diberikan dosis untuk usia anak 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis, 1 kali/hari; > 6 tahun: 5-10 mg/dosis, 1 kali/hari. Perawatan kulit dan mata serta pemberian antibiotik topikal. Bula di kulit dirawat dengan kompres basah larutan Burowi. Tidak diperbolehkan menggunakan steroid topikal pada lesi kulit. Lesi mulut diberi kenalog in orabase. Terapi infeksi sekunder dengan antibiotika yang jarang menimbulkan alergi, berspektrum luas, bersifat bakterisidal dan tidak bersifat nefrotoksik, misalnya klindamisin intravena 8-16 mg/kg/hari

BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas
Kaji nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor register.
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama
Kaji apa alasan klien membutuhkan pelayanan kesehatan
Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji bagaimana kondisi klien saat dilakukan pengkajian. Klien dengan Steven Johnson biasanya mengeluhkan dema, malaise, kulit merah dan gatal, nyeri kepala, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji riwayat alergi makanan klien, riwayat konsumsi obat-obatan dahulu, riwayat penyakit yang sebelumnya dialami klien.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji apakah di dalam keluarga klien, ada yang mengalami penyakit yang sama.
c. Pemeriksaan Fisik
1) A (Airway)
Jalan napas, adakah sumbatan jalan napas berupa sputum, lendir atau pun darah yang ditandai oleh kesulitan bernapas atau suara napas yang berbunyi (stridor, hoarness).

2) B (Breathing)
a) Klien sesak, batuk, mengi, tidak mampu menelan
b) Bunyi napas : gemerik (edema paru), stridor (edema laryngeal) ronkhi (sekret jalan napas dalam)
c) Pernapasan menggunakan otot-otot pernapasan
d) Menggunakan alat bantu napas (nasal, sungkup)
e) Pernapasan cepat lebih dari 20 x/menit
f) Irama pernapasan regular/ ireguler
g) Saturasi oksigen > 96 %
h) Refleks batuk ada
3) C (Circulation)
a) Tekanan darah hipotensi
b) Takikardia
c) Disritmia, detak jantung tidak beraturan
d) Edema jaringan
e) Penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera
f) Kulit dingin, pucat
g) Akral dingin
h) Pengisian kapiler lambat karena adanya penurunan curah jantung
4) Disability
a) Penurunan tingkat kesadaran (apatis, somnolen)
b) Keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit
c) Gangguan masa otot, perubahan tonus otot
d) Tidak mampu melakukan aktivitas sehati-hari secara mandiri
e) Perubahan orientasi, perilaku
f) Kemampuan bicara klien tidak jelas
g) Klien tampak sakit ringan, sedang atau pun berat
Drug
a) Antihistamin, dianjurkan untuk mengatasi gejala pruritus/gatal bisa dipakai feniramin hydrogen maleat (avil) dengan dosis untuk usia 1-3 tahun 7,5 mg/dosis, usia 3-12 tahun 15 mg/dosis, diberikan 3 kali/hari. Diphenhidramin hidrokloride (benadril) 1 mg/kg BB tiap kali sampai 3 kali per hari, Setirizin dapat diberikan dosisi untuk usia anak 2-5 tahun 2,5 mg/dosis 1 kali/hari, umur > 6 tahun 5 -10 mg/dosis 1 kali/hari
b) Antibiotik spectrum luas, misalnya klindamisin 8-16 mg/kg /hari secara intravena diberikan 2 kali/hari
c) Kortikosteroid : dexamethason dengan dosis awal 1 mg/kg BB bolus IV kemudian 0,2-0,5 mg/kg BB Iv tiap 6 jam
d) Intravena immunoglobulin (IVIG), dosis awal 0,5 mg/kg BB pada hari 1, 2, 3, 4 dan 6 masuk rumah sakit
5) Explusure
Umumnya klien mengalami :
a) Demam tinggi
b) Malaise
c) Batuk, pilek
d) Sakit menelan
e) Nyeri dada
f) Nyeri kepala
g) Muntah
h) Pegal otot
Kemudian muncul lesi di :
a) Kulit berupa eritema, papil, vesikel, bula secara simetris pada hamper seluruh tubuh
b) Mukosa (mulut, tenggorokan dan genital) berupa vesikel, bula, erosis, ekskoriasi, perdarahan dan krusta berwarna merah
c) Mata beruapa konjungtivitis kataralis, blefarokonjungtivitis, iritis, iridosiklitis, kelopak mata edema dan sulit dibuka
6) Fluid
a) Cairan Ringer Laktat, Natrium Klorida, Dektrose 5%
b) Nutrisi 2500 – 3000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi
c) Haluaran urin menurun, nyeri saat BAK
d) Diuresis

7) Good Vital
a) Tekanan darah normal (100-139/60-96 mmHg)
b) Respirasi Rate (16-20 x/menit)
c) Denyut nadi (60-100 x/menit)
d) Suhu (36,5-37,4 C)
8) Head to Toe
a) Kepala
Bentuk : Normochepalig
Muka : Simetris
Rambut : Warna : hitam, Distribusi : merata, Kekuatan : tidak mudah dicabut
Nyeri tekan : Tidak ada
b) Mata
Bentuk : Simetris
Kelopak mata : Edema dan sulit dibuka
Konjungtiva : Konjungtivitis kataralis dan purulen
Sklera : Tidak ikterik, putih
Kornea : Ulkus kornea
Pupil : Isokor, diameter 3-6 mm
Reaksi cahaya : Positif
Lapang penglihatan : Penyempitan lapangan penglihatan
Kelaianan mata : Simbleferon, iritis, iridosiklitis
c) Telinga
Bentuk : Simetris
Nyeri tekan : Tidak ada
Liang telinga : Liang telinga lapang, tidak ada serumen
Pendengaran : Tidak mengalami ketulian
d) Hidung
Bentuk : Simetris
Concha : Tidak membesar
Septum : Tidak terdapat deviasi
Selaput lender : Lesi, ada penyumbatan, perdarahan, ingus
Pembauan : Mengalami penurunan
e) Mulut dan Tenggorokan
Mukosa bibir : Bengkak, kering, warna mukosa merah
Selaput lender : Stomatitis, afte (vesikel, bula), erosi, perdarahan
Sakit saat menelan : Ada
Gigi : Caries/tidak
Lidah : Terdapat lesi
Tonsil/pharix : Meradang
Ketidakmampuan menelan
f) Leher
Bentuk : Simetris
Pembesaran kelenjar : Tidak ada
Pergerakan leher : Tidak terbatas
Peningkatan JVP : Tidak terlihat
g) Dada
Paru-paru
– Inspeksi
Bentuk dada simetris kanan dan kiri, terdapat sumbatan pada jalan napas, klien tampak sesak, terdengar stridor saat ekspirasi/inspirasi, retraksi dinding dada, penggunaan otot-otot pernapasan, frekuensi pernafasan > 20 x/menit, reflek bentuk ada, pernapasan cepat dan dangkal, klien batuk
– Palpasi
Pembesaran getah bening di supraklavikula ada/tidak, letak trakea di tengah, tidak teraba massa, nyeri tekan.
– Perkusi
Sonor pada kedua lapang paru.
– Auskultasi
Bunyi napas vesikuler, wheezing (+), Ronkhi (+)

Sistem kardiovaskuler
– Inspeksi
Ictus cordis tidak terlihat, edema jaringan
– Palpasi
Ictus cordis tidak teraba, frekuensi HR > 100 x/menit, irama regular/ireguler, akral dingin, kapilar repil > 3 detik
– Perkusi
Pekak pada bagian-bagian batas jantung
– Auskultasi
Tekanan darah hipotensi, irama jantung tidak beraturan, tidak ada bunyi jantung tambahan
Abdomen
– Inspeksi
kembung, datar
– Palpasi
lemas, tidak teraba massa, pembesaran hati dan limpa ada/tidak
– Perkusi : timpani
– Auskultasi : peristaltic menurun/meningkat
h) Genitalia dan Anus
– Penis : normal, hipospadia, fimosis, skrotum dan testis : normal, hernia, hidrokel
– Vagina : warna sekret
– Anus : pelebaran vena ani/tidak
– Mukosa : vesikel, bula, erosi, perdarahan, krusta berwarna merah
i) Ekstremitas
Edema, tremor, rom terbatas, akral dingin
j) Integumen
Warna kulit : pucat, terjadi hiperpigmentasi
Turgor : mengalami penurunan
Luka : Ada, luas luka
Edema jaringan
Kulit lesi berupa eritema, papel, vesikel, bula pada hampir seluruh tubuh
d. Data Penunjang
1) Laboratorium : leukositosis atau esosinefilia
2) Histopatologi : infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel darah merah, degenerasi lapisan basalis, nekrosis sel epidermal, spongiosis dan edema intrasel di epidermis.
3) Imunologi : deposis IgM dan C3 serta terdapat komplek imun yang mengandung IgG, IgM, IgA.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan integritas kulit b.d inflamasi dermal dan epidermal
b. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kesulitan menelan
c. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pada kulit
d. Gangguan intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik
e. Gangguan persepsi sensori: kurang penglihatan b.d kelainan mata

3. Rencana Keperawatan
a. Gangguan integritas kulit b.d inflamasi dermal dan epidermal
Tujuan : kerusakan integritas kulit menunjukkan perbaikan dalam 7-10 hari.
Kriteria Hasil: Menunjukkan kulit dan jaringan kulit yang utuh, tidak ada lesi baru, lesi lama mengalami involusi, tidak ada lesi yang infected
Intervensi:
1) Observasi kulit setiap hari catat turgor sirkulasi dan sensori serta perubahan lainnya yang terjadi.
Rasional: menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat
2) Gunakan pakaian tipis dan alat tenun yang lembut
Rasional: menurunkan iritasi garis jahitan dan tekanan dari baju, membiarkan insisi terbuka terhadap udara meningkat proses penyembuhan dan menurunkan resiko infeksi
3) Jaga kebersihan alat tenun
Rasional: untuk mencegah infeksi
4) Kolaborasi dengan tim medis
Rasional: untuk mencegah infeksi lebih lanjut

b. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kesulitan menelan
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi selama perawatan
Kriteria Hasil: menunjukkan berat badan stabil/peningkatan berat badan, diet yang disediakan habis, hasil elektrolit serum dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Intervensi:
1) Kaji kebiasaan makanan yang disukai/tidak disukai
Rasional: memberikan pasien/orang terdekat rasa kontrol, meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan
2) Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional: membantu mencegah distensi gaster/ketidaknyamanan
3) Hidangkan makanan dalam keadaan hangat
Rasional: meningkatkan nafsu makan
4) Kerjasama dengan ahli gizi
Rasional: kalori protein dan vitamin untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik, mempertahankan berat badan dan mendorong regenerasi jaringan.

c. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pada kulit
Tujuan : klien merasa nyaman dalam 2×24 jam
Kriteria Hasil:
1) Melaporkan nyeri berkurang
2) Menunjukkan ekspresi wajah/postur tubuh rilek
Intervensi:
1) Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan intensitasnya
Rasional: nyeri hampir selalu ada pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan
2) Berikan tindakan kenyamanan dasar ex: pijatan pada area yang sakit
Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot dan kelelahan umum
3) Pantau TTV
Rasional: metode IV sering digunakan pada awal untuk
memaksimalkan efek obat
4) Berikan analgetik sesuai indikasi
Rasional: menghilangkan rasa nyeri

d. Gangguan intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik
Kriteria Hasil: klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas
Intervensi:
1) Kaji respon individu terhadap aktivitas
Rasional: mengetahui tingkat kemampuan individu dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari.
2) Bantu klien dalam memenuhi aktivitas sehari-hari dengan tingkat keterbatasan yang dimiliki klien
Rasional: energi yang dikeluarkan lebih optimal
3) Jelaskan pentingnya pembatasan energy
Rasional: energi penting untuk membantu proses metabolisme tubuh
4) Libatkan keluarga dalam pemenuhan aktivitas klien
Rasional: klien mendapat dukungan psikologi dari keluarga

e. Gangguan persepsi sensori: kurang penglihatan b.d kelainan mata
Kriteria Hasil :
Kooperatif dalam tindakan
Menyadari hilangnya pengelihatan secara permanen

Intervensi:
1) Kaji dan catat ketajaman pengelihatan
Rasional: Menetukan kemampuan visual
2) Kaji deskripsi fungsional apa yang dapat dilihat/tidak.
Rasional: Memberikan keakuratan thd pengelihatan dan perawatan.
3) Sesuaikan lingkungan dengan kemampuan pengelihatan:
Rasional: Meningkatkan self care dan mengurangi ketergantungan.
4) Orientasikan thd lingkungan.
a) Letakan alat-alat yang sering dipakai dalam jangkuan pengelihatan klien.
b) Berikan pencahayaan yang cukup
c) Letakan alat-alat ditempat yang tetap.
d) Berikan bahan-bahan bacaan dengan tulisan yang besar.
e) Hindari pencahayaan yang menyilaukan.
f) Gunakan jam yang ada bunyinya.

5) Kaji jumlah dan tipe rangsangan yang dapat diterima klien.
Rasional: Meningkatkan rangsangan pada waktu kemampuan
pengelihatan menurun.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arwin, Akib AP,dkk. 2007. Buku Ajar Alergi Imunologi Anak. Edisi 2. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2. Bechman, Richard. 2010. Nelson Esensi Pediatrik. Edisi 4. Jakarta: EGC.
3. Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
4. Hamzah, Mochtar. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3, jilid 2. Media Aesculapius : Jakarta
6. Monica, Ebook SINDROM STEVENSS – JOHNSON. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
7. Tim Penyusun. 2000. Kapita Selekta Kedokteran 2. Jakarta: Media Aesculapius.
8. Sindrom Stevens-Johnson – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *