LAPORAN KARYA WISATA
MUSEUM BAJRA SANDHI

Di susun oleh :
Nama : SENTOT HADI PRAYITNO
NO : 25
Kelas : XI TKR A
Mapel : IPS SEJARAH INDONESIA

SMK N 2 WONOGIRI
TAHUN PELAJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Dengan nikmat yang di limpahkan oleh Allah swt kepada kita semua, seluruh siswa SMK N 2 Wonogiri telah melaksanakn kunjungan industri. Kami semuanya tiada kurangnya mengucapkan rasa syukur yang sebesar besarnya kepada Allah Swt sehubungan dengan acara tersebut. Agar kunjungan industri tetap menjadi kenangan, maka kami di beri amanah dari Bapak ibu guru untuk menyusun laporan hasil kunjungan wisata. Tidak hanya itu saja, demi kegembiraan kita semuaseluruh siswa di SMK N 2 Wonogiri berhak membaca hasil kunjungan wisata ini.
Laporan ini sayasusun untuk melaporkan salah satu objek wisata yang beradadi pulau Bali dari sekian banyak panorama dan keindahan yang menjadikan Bali sebagai pulau wisata. Dengan berpijak pada tugas guru yang di amanahkan kepada saya, laporan ini saya buat dengan sepenuh hati tanpa ada karang yang menempeldi hati. Sesuai dengan kurikulum 2013, laporan ini di susun untuk memperluas pengetahuan, wawasan, keterampilan dan yang utama adalah kreativitas pada setiap diri individu masing masing. Tapi kebanyakan DI SMK/MK/ Sederajat, praktek sangatlah di utamakn walaupun demikian pengetahuan sagatlah penting juga untuk perkembanganilmu pengetahuan dan wawasan pada setiap siswa. Tanpa ada pengetahuan yang menjadi dasar, praktek mustahil di kerjakan. Untuk itulah pengetahuan maupun praktek haruslah di utamakan agar siswa pelajar dapat memajukan sekolah, bangsa, dan Negara. Untuk itulah laporan ini di buat agar siswa dapat mengasah keerampilan.

penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………………….i
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………..iii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………….1
1. Latar Belakang…………………………………………………………………………………1
2. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………….1
3. Tujuan Penulisan………………………………………………………………………………2
4. Manfaat Laporan………………………………………………………………………………2
BAB II ISI………………………………………………………………………………………………….3
1. Bentuk Bangunan Monumen Bajra Sandhi………………………………………….3
2. Keadaan Monumen Bajra Sandhi………………………………………………………7
3. Sejarah Berdirinya Monumen Bajra Sandhi……………………………………….8
4. Koleksi Monumen Bajra Sandhi……………………………………………………….11
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………………13
1. Kesimpula…………………………………………………………………………………….13
2. Saran…………………………………………………………………………………………….13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

Nusantara merupakan Negara yang memiliki wilayah dengan wilayah terbanyak adalah perairan dari pada daratan tak jarang orang menyebut Indonesia adalah Negara maritim, dengan Negara yang meiliki pulau terbanyak sedunia menjadikan indoneia kaya akan SDA(Sumber Daya Alam). Sumber daya alam yang berlimpah , banyak Negara yang ingin menguasai Indonesia. Keindahan alam yang menggiurkan membuat turis asing datang ke Indonesia.
Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia, dengan begitu banyak pulau tersebar di wilayah nusantara. Negara yang memiliki banyak puau maka budaya pun juga banyak yang berbeda beda. Walaupun berbeda tatapi rakyat Indonesia memiliki satu kesatuan dengan satu semboyan “ Bhineka Tunggal Ika”dengan alas Indonesia raya. Budaya Indonesia sangat lah banyak dari pada dengan negara luar, untuk itu kita harus bangga dengan negara Indonesia. Pada lapora kali ini kita akan membahas salah stu buaday yang berada di pulau bali yang tak kalah bgusnya dengan budaya di pulau jawa.peninggalan peninggalan bersejarah di setiap daerah sangatlah berbeda beda, peninggalan sejarah yang ada di pualau bali yaitu museum Bajra Sandhi. Museum Bajra Sandhi terletak di pulau bali, museum ini berisi perlawana rakyat bali melawan penjajah secar bersama sama dan juga kehidupan rakyat bali.
Baik budaya maupun peninggalan sejarah haruslah kita jaga dan kita lestariakan kehebatannya. Budaya ataupun peninggalan sejarah sangat penting bagi bagsa Indonesia keran hal ini menjadikan identitas bangasa di mata dunia yang mampu membuat daya tarik tertimggi bagi wisatwan asing untuk datang ke nusantara.

A. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara yang banyak mempunyai tempat-tempat bersejarah. Dimana banyak kita jumpai tempat-tempat wisata yang melambangkan simbol penjuangan rakyat yang ada didaerah tersebut. Mengingat Indonesia adalah negara yang pernah dijajah oleh bangsa lain, baik bangsa Eropa ataupun Asia. Jadi tidak heran jika banyak daerah-daerah yang melakukan penyerangan untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah. Para penjajah singgah di Indonesia tidak hanya beberapa tahun, tetapi bertahun-tahun mereka berada di Indonesia, dan sangat menyengsarakan rakyat Indonesia. Butuh perjuangan keras untuk dapat terbebas dari penjajah. Monumen Bajra Sandhi merupakan salah satu tempat yang sangat bersejarah, khususnya bagi masyarakat Bali.

B. RUMUSAN MASALAH
1.Bagaimana bentuk dari Monumen Bajra Sandhi ?
2.Bagaimana keadaan dari Monumen Bajra Sandhi ?
3.Bagaimana sejarah berdirinya Monumen Bajra Sandhi ?
4. Koleksi apa saja yang ada di Monumen Bajra Sandhi ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Diharapkan siswa dapat mengetahui bentuk dari Monumen Bajra Sandhi
2. Diharapkan siswa dapat mengetahui keadaan dari Monumen Bajra Sandhi
3. Diharapkan siswa dapat mengetahui sejarah dari berdirinya Monumen Bajra Sandhi
4. Diharapkan siswa dapat mengetahui koleksi-koleksi yang ada di Monumen Bajra Sandhi

D. MANFAAT PENULISAN
1. Siswa lebih memperluas pengetahuan mengenai :
1. Bentuk Monumen Bajra Sandhi
2. Keadaan Monumen Bajra Sandhi
3. Sejarah Monumen Bajra Sandhi
4. Koleksi di Monumen Bajra Sandhi
5. Siswa dapat memenuhi salah satu tugas Sejarah Indonesia
6. Siswa lebih aktif dan memahami penulisan laporan wisata yang benar sesuai ketentuan.

BAB II
PEMBAHASAN

1. BENTUK BANGUNAN MONUMEN BAJRA SANDHI
Museum ini menjadi simbol masyarakat Bali untuk menghormati para pahlawan serta merupakan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman, serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.
Letak monumen tersebut sangat strategis sebab berada persis di depan Kantor Gubernur Bali, atau tepatnya di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar. Luas bangunan monumen itu adalah 4.900 m2 (70 m x 70 m) dan luas tanah 138.830 m2 .
Monumen ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, baik secara horizontal maupun vertikal, yaitu:
Secara horizontal
Secara horizontal adalah susunan bangunannya berbentuk segi empat bujur sangkar, simetris dan mengacu pada konsep Tri Mandala, yaitu:
1. Sebagai Utama Mandala adalah pelataran/gedung yang paling di tengah
2. Sebagai Madya Mandala adalah pelataran yang mengitari Utama Mandala
3. Sebagai Nista Mandala adalah pelataran yang paling luar yang mengitari Madya Mandala

Bangunan gedung monumen pada Utama Mandala tersusun menjadi 3 lantai yaitu:
1. Utamaning Utama Mandala adalah lantai 3 yang berposisi paling atas berfungsi sebagai ruang ketenangan, tempat hening-hening menikmati suasana kejauhan di sekeliling monumen
2. Madyaning Utama Mandala adalah lantai 2 berfungsi sebagai tempat diaroma yang berjumlah 33 unit. Lantai 2 ini sebagai tempat pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Di bagian luar sekeliling ruangan ini terdapat serambi atau teras terbuka untuk menikmati suasana sekeliling
3. Nistaning Utama Mandala adalah lantai dasar gedung monumen, yang terdapat ruang informasi, ruang perpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Di tengah-tengah ruangan terdapat telaga yang diberi nama sebagai Puser Tasik, delapan tiang agung dan juga tangga naik berbentuk tapak dara.
Secara vertikal
Secara vertikal, terbagi menjadi tiga bagian yaitu mengacu pada konsep Tri Angga. Konsep Tri Angga adalah:
1. Utama atau kepala, yaitu tidak berisi apapun atau kosong yang merupakan simbul keabadian.
2. Madya atau badan yaitu terdapat pajangan diorama
3. Nista atau kaki, yaitu terdapat taman-taman
Selain Tri Angga dan Tri Mandala terdapat juga nilai filosofis, yaitu pemutaran Gunung Mandara Giri oleh para dewa dan raksasa yang bekerja sama guna memperoleh Tirta Amertha.

Bangunan utama yang tinggi merupakan lingga dan dasar bangunannya adalah yoni. Lingga Yoni merupakan simbol dari pertemuan pria (purusa) dengan wanita (pradana), yaitu pertemuan antara kekuatan positif dan kekuatan negatif yang menurut kepercayaan purba merupakan pertemuan antara langit dengan bumi dipandang sebagai lambang kesuburan.
Lingga menurut bentuknya terbagi dalam empat bagian yaitu bagian puncak yang berbentuk bulat yang disebut Siwaghaga, merupakan simbol linggih dewa Siwa. Bagian tengah yang berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga yang merupakan simbol linggih dewa Wisnu. Bagian bawah lingga yang berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga adalah simbol linggih dewa Brahma. Pada bagian bawah paling dasar di mana lingga tersebut berdiri tegak, umumnya berbentuk segi empat yang memiliki mulut sebagai saluran air suci disebut yoni.
Dengan demikian lingga merupakan linggih dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai sumber kesuburan. Berdasarkan mitologi, lingga sebagaimana diceritakan di dalam Kerawasrama dan Lingga Purana menceritakan bahwa dewa Brahma dan dewa Wisnu mengaku masing-masing yang paling sakti. Dewa Brahma mengatakan beliau yang menciptakan dunia ini beserta isinya. Dewa Wisnu tidak mau kalah dan mengatakan bukan dewa Brahma melainkan beliau yang menciptakan dunia ini. Pada saat pertengkaran sedang memuncak muncullah Lingga di hadapan mereka berdua sehingga mereka menjadi tertegun karena ujung dan pangkal Lingga tidak terlihat. Kemudian keduanya sepakat untuk mencari ujung dan pangkalnya.
Dewa Brahma sepakat mencari ujung Lingga dan berubah wujud menjadi seekor angsa yang kemudian terbang ke angkasa. Sedangkan dewa Wisnu

7
sepakat mencari pangkal Lingga dengan berubah wujud menjadi seekor babi dan masuk ke dalam bumi. Dewa Wisnu tidak berhasil menemukan pangkal Lingga namun beliau beruntung bertemu seorang gadis yaitu dewi Basundari. Dewi yang cantik ini menyebabkan dewa Wisnu menjadi tertarik dan lupa bahwa dirinya masih berwujud babi. Dari pertemuan antara dewa Wisnu yang masih berwujud babi dengan dewi Basundari, maka lahirlah seorang putra yang bernama Bhoma. Akhirnya dewa Brahma maupun dewa Wisnu sama-sama tidak berhasil melaksanakan kesepakatan masing-masing. Mereka berdua memberi hormat kepada Lingga tersebut yang tidak lain adalah dewa Siwa.
Kemudian dewa Siwa bersabda kepada dewa Brahma dan dewa Wisnu dengan mengatakan bahwa bukan dewa Brahma dan juga bukan dewa Wisnu yang tersakti dan yang menciptakan dunia ini tetapi “Aku dewa Siwa! Dewa Brahma, kau kulahirkan dari pinggang kananku dan kau dewa Wisnu, kau kulahirkan dari pinggang kiriku. Kita dalam wujud yang berbeda-beda tetapi sebenarnya adalah satu”.
Dalam konsep filsafat Pemutaran Gunung Mandara Giri di lautan susu, dari bentuk bangunan monumen dapat diuraikan antara lain bangunan utama yang kelihatan sebagai bajra atau genta merupakan simbol dari Gunung Mandara Giri. Kolam yang mengelilingi bangunan utama sebagai wujud dari lautan susu atau ksirarnawa dan bentuk yang seperti guci yang terdapat di ujung monumen merupakan simbol dari akumba sebagai tempat tirtha amertha. Sedangkan bedawangnala atau akupa merupakan dasar dari Mandara Giri dan naga basuki yang melilit bedawangnala yang kedua-duanya terlihat di Kuri Agung. Dari konsep Tri Mandala secara vertikal dapat dikatakan bahwa areal monumennya adalah utamaning mandala, areal segi delapannya adalah madyaning mandala dan pada areal segi empatnya adalah nistaning mandala

Di lantai dua bangunan, terdapat tangga melingkar untuk menuju lantai
tiga dan terasa sedikit pusing saat menaikinya. Di lantai tiga bangunan monumen, terdapat ruangan yang cukup luas dan dikelilingi oleh jendela kaca. Dari bangunan di lantai tiga ini, anda dapat melihat 360 derajat pemandangan kota Denpasar dan sekitarnya. Tentunya anda tidak akan melihat bangunan pencakar langit di kota Denpasar, karena adanya Perda (peraturan daerah) larangan membangun lebih tinggi dari 30 meter
2. KEADAAN MONUMEN BAJRA SANDHI
Monumen yang terletak di tengah-tengah lapangan puputan Niti Mandala Renon ini telah menarik banyak wisatawan. Kawasan yang ditata dengan baik serta arsitektural yang hebat mencerminkan kekuatan dan juga sisi artistik yang dimiliki rakyat Bali. Monumen ini juga memiliki letak yang strategis karena ditempatkan di depan Gedung Gubernur Bali dan Gedung DPRD. Area ini dulunya adalah lokasi perang kemerdekaan antara Pejuang Kemerdekaan Bali melawan Pasukan Belanda. Perang ini terkenal dengan perang puputan yang berarti perang habis-habisan hingga tetes darah terakhir. Monument ini dibangun sebagai tanda jasa untuk menghormati pahlawan perang kemerdekaan yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Monumen ini berdiri di atas lahan seluas 138.830 meter persegi dengan luas bangunan utama sekitar 4.900 meter persegi.
Merupakan monument bersejarah yang dapat menambah wawasan, Monumen Barja Sandhi yang terletak di tengah lapangan Renon ini memiliki arsitektural bangunan yang hebat untuk dijadikan tempat dan objek yang bagus untuk mengambil foto.
Cukup membayar Rp 2.000,- sudah bisa masuk ke gedung monumen. Pelataran paling luar disebut Nista Mandala. Kemudian ada tangga naik
9
menuju bangunan utama. Ada 17 anak tangga menuju bangunan utama
melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan. Bangunan pertama yang saya temui adalah Utama Mandala di lantai dasar. Isinya adalah ruang informasi, administrasi, perpustakaan, rapat, dan ruang pameran yang menampilkan foto-foto pahlawan dan peristiwa bersejarah di Bali. Terharu bila melihat foto-foto kekejaman perang rakyat Bali melawan Belanda. Sangat dramatis dan emosional.
Di dekat ruang Utama Mandala di lantai dasar, terdapat kolam ikan yang dikelilingi oleh delapan pilar. Pilar-pilar melambangkan bulan Agustus 1945. Dari lantai dasar terdapat tangga menuju ruang Madya Mandala. Di ruang Madya Mandala dipamerkan keris-keris yang pernah dipakai zaman perjuangan dan ditampilkan 33 mini diorama sejarah Bali mulai dari zaman prasejarah sampai masa kemerdekaan. Sangat menarik menyaksikan potongan sejarah yang ditampilkan dalam diorama.
Selepas melihat-lihat diorama, berjalan melewati tangga melingkar menuju ke puncak menara. Tinggi menara 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia 1945. perempuan yang sedang datang bulan dilarang naik ke menara. Dari ketinggian nampak pemandangan lapangan Renon 360 derajat. Kelihatan pemandangan sebagian kota Denpasar.
3. SEJARAH BERDIRINYA MONUMEN BAJRA SANDHI
Museum Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi) tercetus pada tahun 1980 yang berawal dari ide Prof. Dr. Ida Bagus Mantra yang saat itu adalah Gubernur Bali. Ia mencetuskan ide awalnya tentang museum dan monumen untuk perjuangan rakyat Bali. Lalu pada tahun 1981, diadakan sayembara desain monumen, yang dimenangkan oleh Ida Bagus Yadnya, dia adalah seorang mahasiswa jurusan arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana.

Lalu pada tahun 1988 dilakukan peletakan batu pertama dan selama kurang lebih 13 tahun pembangunan monumen selesai. Tahun 2001, bangunan fisik monumen selesai. Setahun kemudian, pengisian diorama dan penataan lingkungan monumen dilakukan. Pada bulan September 2002, SK Gubernur Bali tentang penunjukan Kepala UPTD Monumen dilaksanakan.
Dan akhirnya, pada tanggal 1 Agustus 2004, pelayanan kepada masyarakat dibuka secara umum, setelah sebelumnya pada bulan Juni 2003 peresmian monumen dilakukan oleh Presiden RI pada saat itu, yakni Ibu Megawati Soekarnoputri.
Monumen ini terletak di kawasan Lapangan Renon yang tentunya sangat menarik perhatian bagi semua orang karena tempatnya yang terawat dengan baik dan bersih dan lengkap dengan menara yang menjulang ke angkasa yang mempunyai arsitektur khas Bali yang indah. Lokasi monumen ini juga sangat strategis karena terletak di depan Kantor Gubernur Bali yang juga di depan Gedung DPRD Provinsi Bali tepatnya di Lapangan Niti Mandala Renon.
Tempat ini merupakan tempat pertempuran jaman kemerdekaan antara rakyat Bali melawan pasukan penjajah. Perang ini terkenal dengan sebutan
“Perang Puputan” yang berarti perang habis-habisan. Monumen ini didirikan untuk memberi penghormatan pada para pahlawan serta merupakan lambang penghormatan atas perjuangan rakyat Bali.
Museum ini lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.

Bentuk museum ini diambil berdasarkan cerita Hindu pada saat Pemutaran Gunung Mandara Giri oleh Para Dewa dan Raksasa guna mendapatkan Tirta Amertha atau Air Suci Kehidupan.
Dinamakan Museum Bajra Sandi karena bentuk museum ini seperti Bajra atau Genta yang dipakai oleh para pemimpin Agama Hindu dalam mengiringi pengucapan japa mantra pada saat melakukan upacara Agama Hindu. Adapun bagian-bagian yang penting dalam museum ini adalah sebagai berikut :
1. Bangunan Museum yang menjulang melambangkan Gunung Mandara Giri
2. Guci Amertha dilambangkan dalam bentuk Kumba (periuk) tepat bagian atas museum
3. Naga yang melilit museum melambangkan Naga Basuki yang digunakan sebagai tali dalm pemutaran Mandara Giri.
4. Kura-kura yang terdapat di bagian bawah museum merupakan simbul dari Bedawang Akupa yang digunakan sebagai alas pemutaran Mandara Giri.
5. Kolam yang terdapat disekeliling museum merupakan simbul dari Lautan Susu yang mengelilingi Mandara Giri tempat beradanya Air Suci Kehidupan atau Tirtha Amertha

4. KOLEKSI MONUMEN BAJRA SANDHI
Koleksi Monumen Bajra Sandhi antara lain foto-foto kekejaman perang rakyat Bali melawan Belanda. Nilai kepahlawanan tercermin dari 33 diorama yang ada di dalamnya. Gagasan dan inspirasi membangun MPRB adalah keinginan untuk memiliki sebuah lambang yang mewakili semangat juang orang Bali. Diorama itu memberikan gambaran kepada generasi penerus bagaimana jejak perjuangan rakyat Bali.
Salah satunya heroik rakyat Badung dalam perang puputan tahun 1906. Tegasnya, MPRB diharapkan mampu menjadi lambang yang mengabadikan jiwa-jiwa perjuangan rakyat Bali dari zaman ke zaman. Diorama itu sendiri diharapkan selesai akhir tahun ini.
Menurut rancangan, diorama akan diletakkan di lantai dua berisi 33 unit pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Urutan unit 1 sampai dengan 33 dimulai dari arah mata angin timur memutar ke kanan searah jarum jam. Deretan putaran luar sampai dengan unit 21, deretan putaran tengah mulai unit 22 sampai dengan unit 33. Diorama itu menceritakan pertama, kebudayaan Bali pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Kedua, kebudayaan Bali pada masa bercocok tanam. Ket ga, kegiatan membuat aneka perunggu.
Keempat, tradisi penguburan dengan memakai sarkofagus. Semua unit tersebut menggambarkan perjuangan Bali pada masa prasejarah. Unit berikutnya mencerminkan perjuangan rakyat Bali pada masa Bali Kuno, meliputi prasasti Sukawana (unit 5), Rsi Markandeya (unit 6), Sri Ksari Warmadewa tahun 914 M (unit 7), Gunapriya Dharma Patni dan suaminya Dharmodayana Warmadewa, tahun 989-1001 M (unit (8), Mpu Kuturan, tahun 1007 (unit 9), Sri Aji Anak

Wungsu tahun 1050 – 1078 M (unit 10), Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten (unit 11), Sri Kresna Kepakisan tahun 1347 – 1350 M (unit 12), Dalem Ketut Ngelusir tahun 1380 – 1460 M (unit 13), dan Dalem Watu Renggong tahun 1460 – 1550 M (unit 14).
Diorama berikutnya memajang Perjuangan Rakyat Bali periode 1845-1950, yakni (15) perang Buleleng, (16) Patih Jelantik merobek surat Gubernur Jenderal di hadapan Raja Klungkung, (17) Perang Jagaraga, (18) Perang Kusamba, (19) Puputan Badung, (20) Puputan Klungkung, (21) Bangkitnya Organisasi Pemuda di Bali, (22) Kehidupan masyarakat pada masa Jepang, (23) Gerakan Bawah Tanah menentang Fasisme Jepang, (24) Proklamasi Kemerdekaan sampai di Bali, (25) Menyebarluaskan berita Proklamasi, (26) Pusat Komando PRI (Pemuda Republik Indonesia), (27) Peristiwa Bendera di Pelabuhan Buleleng, (28) Pertempuran Laut di Selat Bali, (29) Serangan Umum terhadap Tangsi NICA di Denpasar, (30) Pembentukan Dewan Perjuangan Rakyat Sunda Kecil (DPRI SK), (31) Pertempuran Tanah Aron, (32) Pertempuran Marga dan (33) Bali dalam mengisi kemerdekaan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat saya simpulkan dalam Laporan Wisata Sejarah ini adalah :
1. Monumen Perjuangan Rakyat Bali merupakan sebuah monumen untuk mengenang kerja keras dan perjuangan heroik dari rakyat Bali sebelum dan sesudah kemerdekaan.
2. Dalam monumen ini memiliki nilai relegius seperti sering disebut dengan Bajra Sandi karena bentuk museum ini seperti Bajra atau Genta yang dipakai oleh para pemimpin Agama Hindu dalam mengiringi pengucapan japa mantra pada saat melakukan upacara Agama Hindu
3. Monumen Perjuangan Rakyat Bali ini melambangkan semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter. Hal ini mengingat kemerdekaan Negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.
4. Dalam membangun monumen ini terdapat beberapa makna kehidupan manusia dengan istilah budaya Hindu seperti menggambarkan Tri Mandala dan Tri Angga.
B. SARAN
1. Sebagai siswa hendaknya kita selalu ingin tahu lagi mengenai suatu hal, agar pengetahuan kita bisa lebih bertambah.
2. Sebagai warga Indonesia hendaknya kita mengetahui daerah-daerah yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesi
DAFTAR PUSTAKA
1. Pengamatan secara langsung dan individu
2. http://www.wisatadewata.com/article/wisata/monumen-perjuangan-rakyat-bali-bajra-sandhi
3. http://www.rentalmobilbali.net/monumen-bajra-sandhi/
4. http://www.pawongan.com/id/bali-tour-destination/cultural-historical/bajra-sandhi/
5. http://dsn.net.id/monumen-perjuangan-bajra-sandhi/
6. https://arisudev.wordpress.com/2010/10/11/museum-bajra-sandi/
7. http://lyznhacurut.blogspot.com/2012/06/monumen-bajra-sandhi.html
8. http://djangki.wordpress.com/2012/12/18/mendadak-bali-7-belajar-sejarah-bali-di-monumen-bajra-sandhi/
9. http://panbelog.wordpress.com/2014/05/28/monumen-perjuangan-rakyat-bali-bajra-sandhi/
10. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/10/11/b1.htm.

LAMPIRAN

16
17

18

19

20

21

22

23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *