KUMPULAN HAND-OUT

PSIKOLOGI KELUARGA

Dirangkum dari berbagai sumber oleh :
Christiana Hari Soetjiningsih

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSIATS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2012
PENGERTIAN dan JENIS KELUARGA
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terbentuk sebagai akibat adanya perkawinan berdasarkan agama dan hukum yang sah. Dalam arti yang sempit, keluarga terdiri dari ayah, ibu (dan anak) dari hasil perkawinan tersebut, disebut juga nuclear family. Dalam arti luas, keluarga dapat bertambah dengan anggota kerabat lainnya seperti sanak keluarga dari kedua belah pihak (suami dan istri) dan kerabat lain yang ikut tinggal dan menjadi tanggung jawab kepala keluarga, disebut juga extended family. Oleh karena itu jumlah keluarga dapat sedikit atau banyak tergantung pada sejauh mana luasnya kekerabatan dalam keluarga tersebut.
Menurut Olson dan DeFrain (2003) keluarga  saling komitmen antara dua orang atau lebih untuk berbagi keintiman (sharing intimacy), sumber daya, pengambilan keputusan, tanggung jawab dan nilai.
Keluarga sebagai unit terkecil atau kelompok sosial terkecil yang terdiri atas seorang ayah,ibu, satu atau lebih anak atau tanpa anak yang diikat oleh suatu perkawinan di mana di dalamnya terjadi adanya cinta, kasih sayang, dan tanggungjawab
Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan terkecil sebagai inti dari suatu sistem sosial yang ada di masyarakat. Sebagai satuan terkecil, keluarga merupakan miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia. Kondisi keluarga yang kondusif akan menghasilkan warga masyarakat yang baik karena di dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai dasar kehidupan bermasyarakat.

Pembentukan keluarga diawali dengan proses perkawinan/pernikahan.

MENGAPA ORANG MENIKAH ?
• Positive reasons
• Love and companionship
• To have children
• Adult identity
• Commitment and personal fulfillment
• Continuity and permanence
• Negative reasons
• Social legitimacy
• Social pressure
• Economic security
• Rebellion or revenge
• Practical solutions to problems
MANFAAT PERKAWINAN
Perkawinan merupakan pilihan, sehingga mungkin ada individu yang tidak terikat dalam perkawinan dengan berbagai alasan. Menurut Olson dan Olson (2000) ada beberapa manfaat perkawinan yaitu:
1) Dengan perkawinan individu cenderung memiliki gaya hidup yang lebih sehat, mereka cenderung menghindari perilaku yang berisiko/berbahaya
2) Memiliki usia harapan hidup yang lebih panjang, karena memiliki dukungan emosi dari pasangan dan akses terhadap sumber daya ekonomi
3) Tumbuh kembang anak yang lebih baik
4) Kondisi ekonomi lebih baik, karena ada penggabungan pendapatan.

JENIS-JENIS KELUARGA :
Selain ada pembagian : nuclear family (keluarga inti) dan extended family ((keluarga besar) maka Robert R.Bell membagi 3 jenis hubungan keluarga :
1. Conventional kin (kerabat dekat), terdiri atas indv yg terikat dlm keluarga melalui hub.darah, adopsi, dan atau perkawinan spt suami-isteri, ortu-anak, antar saudara (sibling)
2. Kerabat jauh (discretionary kin), terdr atas indv yg terikat dlm kelg melalui hub.darah, adopsi dan atau perkwnan, ttp ikatan kelg nya lbh lemah drpd kerabat dekat. Anggota seringkali tdk menyadari dan hub.yg terjadi biasanya krn kepent.pribadi bkn krn kewjbn sbg anggota kelg. Ex: paman-bibi, keponakan, sepupu.
3. Fictive kin (orang yg dianggap kerabat). Dianggap anggota kerabat krn adanya hub.yg khusus, mis: hub.antar teman akrab.

HUBUNGAN KEKELUARGAAN
1. Conjugal family
Kesatuan keluarga berdasar perkawinan. Bubar à pecahnya perkawinan

2. Consanguine family
Kesatuan keluarga berdasar keturunan. Sifatnya tetap à terus ada, tidak bubar dengan
bubarnya perkawinan.
NOTE : ikatan keturunan dapat bersifat patrilinial atau matrilinial

BEBERAPA PENDAPAT TENTANG PENTINGNYA KELUARGA:
1. William J.Goode (1985) ; keberhasilan siswa dlm penddkan tdk hanya krn mutu instansi penddkn, ttp juga memperlihatkan “keberhasilan” keluarga dlm menyiapkan anak2nya.
2. John Locke (1985) – posisi pertama di dlm menddk seorg indv terletak pada keluarga. Keluarga yang mengisi “kertas kosong”
3. Elizabeth B.Hurlock – pola asuh dlm keluarga (orangtua) à perkembangan anak

RELASI-RELASI DALAM KEHIDUPAN BERKELUARGA
1. Relasi antar pasangan (suami-isteri). Relasi ini sangat penting karena mendasari relasi-relasi lainnya sehingga suami-isteri harus selalu melakukan penyesuaian selama hidup berkeluarga. Olson dan Olson (200) menyatakan ada 10 aspek yang membedakan pasangan yang bahagia dan tidak yaitu berkaitan dengan: komunikasi, fleksibilitas, kedekatan, kecocokan kepribadian, resolusi konflik, relasi seksual, kegiatan waktu luang-keluarga-teman, pengelolaaan keuangan, spiritual.
2. Relasi antara orangtua dan anak. Relasi yang baik akan berefek pada perkembangan yang positif berbagai perilaku pada anak.
3. Relasi antar saudara. Merupakan hal penting karena kehidupan dengan saudara berlangsung umumnya dalam jangka panjang. Hubungan yang baik tentu akan berefek positif pada kedua pihak, bahkan keseluruhan anggota keluarga

SIFAT HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA KELUARGA
Hub.suami-isteri , dapat bersifat:
– Otoriter – pola hubungan kaku, ex: isteri yg baik yg adalah yang melayani suami & anak2. – Demokratis à pola hubungan lentur, ex: isteri & suami setara
Hubungan orangtua-anak
Ortu: merawat dan membimbing anak
Anak :
– pengikat tali perkawinan
– pemberi semangat
– simbol masa depan-masa lalu
– memiliki makna dan tujuan
hidup
– sumber kasih sayang & perhatian
– meningkatkan status
– penerus keturunan

MASA PEMBENTUKAN KELUARGA

1. Dari segi fisiologis
PERSYARATAN PERKAWINAN, persyaratan umum
Berdasarkan UU Perkawinan 1974 pasal 6 ayat 2 untuk melangsungkan perkawinan bila belum mencapai 21 tahun harus mendapat ijin dari orangtua.
Pasal 7 ayat 1, syarat yang harus dipenuhi sbb :
1) .Pria sudah berumur pria 19 th, wanita 16 th
2) .Penyimpangan psl 1, dapat memeinta dispensasi pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orangtua kedua pihak
Dari segi fisiologis, di usia tersebut pasangan telah dapat menghasilkan keturunan

2. Dari segi psikologis
Sesuai dengan tahap perkembangannya dan “developmental task”nya, maka masa pembentukan keluarga adalah pada masa dewasa awal, karena memasuki kehidupan berkeluarga tidak cukup berbekal telah tercapainya kematangan dalam hal perkembangan fisik namun yang juga penting adalah kematangan dalam berbagai aspek perkembangan yang lain (kognitif, emosi, sosial) yang umumnya dicapai pada masa dewasa awal. Sebelum masa dewasa yaitu pada masa remaja, individu melakukan persiapan-persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga.
PEMBAGIAN MASA DEWASA
Menurut Hurlock (1980) masa dewasa dibagi menjadi
1. Masa dewasa awal/dini : 18 – 40 tahun
2. Masa dewasa tengah/madya : 40 – 60 tahun
3. Masa dewasa akhir/ lanjut : 60 tahun 

Pikunas membagi masa dewasa sebagai berikut :
1. Masa dewasa awal : 20 – 35 tahun
2. Masa dewasa tengah : 35 – 50 tahun
3. Masa dewasa akhir : 50 – 60 tahun
4. Masa manula/usia lanjut : 60 – menjelang kematian.

NOTE : Beberapa pendapat lain, menyatakan usia lanjut dimulai pada usia 65 tahun, a.l. dari Papalia dkk. (2008)
Menurut Papalia dkk. (2008), delapan periode perkembangan individu yaitu:
1) Periode pralahir
2) Periode bayi dan batita/bawah tiga tahun (dari lahir hingga umur 3 tahun)
3) Masa kanak-kanak awal ( 3 sampai 6 tahun)
4) Masa kanak-kanak akhir ( 6 sampai 11 tahun)
5) Masa remaja (11 sampai 20 tahun)
6) Masa dewasa awal (20 sampai 40 tahun)
7) Masa dewasa tengah (40 sampai 65 tahun)
8) Masa dewasa akhir (65 tahun dan selanjutnya)

ASAL dan ARTI KATA DEWASA :
– Dewasa  ‘volwassen’ (Belanda); ‘vol’ = penuh, wassen = tumbuh
 ‘sudah tumbuh dengan penuh ‘ atau ’ selesai tumbuh’
 ‘adultus (Latin)  telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau
telah menjadi dewasa.

Batas usia dewasa cenderung yuridis dan sosiologis.
Belanda  21 tahun  mempunyai hak pilih
Indonesia  21 tahun  menikah tanpa ijin
USA  18 tahun  mempunyai sanksi-sanksi hukum
 bertanggungjawab dalam masyarakat
– Dapat mewujudkan dirinya sendiri dan berdiri sendiri
= membebaskan diri dari ‘lindungan’ orangtua (‘mondig’/Belanda).

TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA.
Pada setiap tahap perkembangan, individu mempunyai tugas perkembangan tertentu yang berbeda dengan tahap perkembangan sebelumnya maupun yang akan datang. Pada masa dewasa, yaitu dewasa awal, salah satu tugas perkembangan individu adalah membentuk keluarga atau membina keluarga, sedangkan sebelum membentuk keluarga individu perlu melakukan persiapan memasuki kehidupan keluarga yang diwujudkan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenisnya yang merupakan tugas perkembangan masa remaja. Berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, masa dewasa tengah dan akhir juga mempunyai tugas perkembangan tersendiri. Berikut ini adalah tugas perkembangan selengkapnya pada masa remaja dan masa dewasa, baik dewasa awal, tengah, maupun akhir menurut Robert Havighurst (Hurlock, 1980).

TUGAS PERKEMBANGAN MASA REMAJA
• Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif
• Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman laki-perempuan
• Mencapai peran sosial pria dan wanita
• Perilaku sosial yang bertanggungjawab
• Kemandirian emosional
• Mempersiapkan karier
• Persiapan berkeluarga
• Mempunyai perangkat nilai dan sistem etis sebagai dasar perilaku yang adekuat.

TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA AWAL
• Mulai bekerja
• Memilih pasangan dan membentuk keluarga
• Belajar hidup dengan suami/isteri
• Mengasuh anak dan mengelola keluarga
• Bertanggungjawab sebagai warganegara
• Mencari kelompok sosial yang sesuai dan menyenangkan

TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA TENGAH
 Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik
 Membantu remaja menjadi orang dewasa yang bertangungjawab dan bahagia
 Menghargai pasangan sebagai person
 Mencapai prestasi dalam karier
 Mengembangkan kegiatan waktu senggang yang sesuai
 Mencapai taggungjawab sosial dan warganegara secara penuh

TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA AKHIR / USIA LANJUT
 Penyesuaian kekuatan fisik yang menurun
 Penyesuaian dengan masa pensiun
 Penyesuaian dengan kematian pasangan hidup
 Menemukan relasi dengan kelompok sebaya
 Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

TUJUAN TUGAS PERKEMBANGAN
 Petunjuk untuk mengetahui apa yang diharapkan pada usia tertentu
 Sebagai motivasi untuk melakukan apa yang diharapkan pada usia tertentu
 Petunjuk apa yang akan dihadapi dan apa yang diharapkan pada masa berikutnya

BAGAIMANA MENENTUKAN INDIVIDU ADA PADA TAHAP DEWASA ?
Untuk menentukan individu ada pada tahap perkembangan tertentu dapat dilihat dari usia dan sejauh mana taraf perkembangan yang telah dicapainya. Demikian juga individu yang berada pada tahapan masa dewasa, selain dapat dilihat dari usianya juga perlu dilihat apakah sudah mencapai tugas perkembangannya dan memiliki ciri sifat atau karakteristik individu dewasa. Tentunya diharapkan, setiap individu tidak hanya menjadi dewasa dari segi usia saja, tetapi yang juga harus dicapai adalah perilaku yang lebih matang.

BAGAIMANA KARAKTERISTIK INDIVIDU DEWASA ?
Menurut Allport dan Maslow, individu dewasa adalah yang memiliki karakteristik berikut:
ARTI DEWASA secara psikologis (Allport) :
1. ‘Extension of the sense of self’, mampu melibatkan diri secara total dengan berbagai aktivitas hidup tanpa kehilangan diri, dan mampu memfokuskan diri pada persoalannya.
2. Mampu membina dan mengembangkan hubungan yang hangat dengan sesamanya dari berbagai jenjang usia tanpa syarat (‘unconditional love’) – (Erich Fromm).
3. Menerima diri dengan segala kelemahan dan kekuatannya dan (‘emotional security’)  mampu menerima kekecewaan (toleransi frustrasi), tidak mudah panik dan berani mengambil risiko dengan perhitungan.
4. Sikap hidup realistis  mampu menempatkan diri dan melihat berbagai permasalahan secara realistis.
5. Mampu melakukan ‘insight’ terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi dan mampu serta mau belajar dari orang lain.
6. Mampu menemukan falsafah hidup sendiri sebagai pegangan hidup yang akan mewarnai tingkahlakunya.

Menurut Maslow, individu DEWASA  mempunyai ‘Genuine Self-concept’ artinya :
1. mempunyai persepsi akurat tentang realitas  ‘melihat’ orang lain dan kejadian-kejadian di sekelilingnya sebagaimana adanya.
2. mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya, sehingga terbebas dari rasa bersalah dan cemas
3. memiliki spontanitas yang tinggi dalam perilaku, pemikiran dan perasaan tanpa bermaksud melukai perasaan orang lain
4. memfokuskan/mendudukan persoalan pada porsi masing-masing dan melihat persoalan sebagai bagian yang utuh dari keberadaannya
5. mandiri
6. mampu menciptakan nilai-nilai sendiri demi kebahagiaan hidupnya.
7. menerima dan menghargai setiap pengalaman hidup dengan cara positif
8. menampakkan sikap hidup demokratis
9. memiliki standar moral yang tegas (hakiki)
10. menikmati hidup secara kreatif sehingga tidak mudah bosan dan selalu nampak bahagia
11. mempunyai rasa humor filosofis yang tinggi  humor tidak menyinggung dan bersifat kritik terhadap keadaan manusia
12. mampu berdiri diatas suatu budaya tanpa kehilangan diri.

KEMATANGAN EMOSI, menurut Walgito (2012) ada beberapa tanda yaitu:
– Dapat menerima keadaan dirinya maupun orang lain seperti apa adanya, sesuai dengan
keadaan obyektifnya.
– Tidak bersifat impulsive (bertindak tanpa dipikirkan dengan baik terlebih dahulu)
– Dapat mengontrol ekpresi emosinya
– Bersifat sabar, penuh pengertian, dan mempunyai toleransi yang baik
– Bertanggungjawab, mandiri, tidak mudah frustrasi, dan mengahdapi masalah dengan
penuh pengertian.

Persyaratan khusus perkawinan
Persyaratan ini tergantung dari masing-masing calon pasangan yang dianggap sesuai dengan dirinya. Terpenuhi persyaratan ini dapat memperkecil kemungkinan permasalahan keluarga.

FUNGSI / PERAN KELUARGA

FUNGSI KELUARGA
Keluarga pada dasarnya mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Sosialisasi dan pembinaan nilai-nilai dan norma agama serta budaya.
2. Memberikan dukungan afektif, berupa hubungan kehangatan, mengasihi dan
dikasihi, mempedulikan dan dipedulikan, memberikan motivasi, saling menghargai, etc.
3. Pengembangan pribadi, berupa kemampuan mengendalikan diri baik fikiran maupun
emosi; mengenal diri sendiri maupun orang lain; pembentukan kepribadian;
melaksanakan peran, fungsi dan tanggung jawab sebagai anggota keluaraga; dll
4. Penanaman kesadaran atas kewajiban, hak dan tanggung jawab individu terhadap
dirinya dan lingkungan sesuai ketentuan dan norma-norma yang berlaku di
masyarakat.
NOTE : Pencapaian fungsi-fungsi keluarga ini akan membentuk suatu komunitas yang berkualitas dan menjadi lingkungan yang kondusif untuk pengembangan potensi setiap anggota keluarga .

Menurut Berns (2004), fungsi keluarga adalah:
1. Reproduksi
2. Sebagai sarana sosialisai
3. Peran sosial
4. Dukungan ekonomi
5. Dukungan emosi

Salah satu pendekatan (Muncie dkk., 1995) melihat keluarga secara pragmatis.
Karenanya keluarga dilihat dari peran atau fungsinya, yaitu sebagai
(a) tempat atau lokasi,
(b) proses,
(c) sasaran, dan
(d) norma.

(a) Peran keluarga sebagai suatu tempat sering dicampur dengan pengertian rumah tangga. Pengertian rumah tangga pada umumnya mengacu pada kategori spasial di mana sekelompok orang terikat dalam satu tempat yang disebut rumah. Di sini tidak harus ada ikatan keluarga baik perkawinan maupun keturunan. Keluarga dapat berbentuk rumah tangga, namun rumah tangga tidak harus berbentuk keluarga. Perbedaan ini dapat untuk menjelaskan pergeseran fungsi keluarga seperti yang sekarang dialami. Meskipun keluarga memiliki fungsi tempat seperti perlindungan bagi orang tua dan anak-anak, tetapi sekarang banyak keluarga yang lebih mirip berbentuk rumah tangga.
(b) Peran sebagai suatu proses. Peran ini sesungguhnya didominasi oleh sosialisasi anak dalam rangka adopsi nilai-nilai orangtua. Sayangnya proses dalam keluarga yang terjadi sekarang cenderung mekanistis sehingga peran tersebut menyusut.
(c) Peran sebagai sasaran. Menempatkan keluarga pada posisi yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas keluarga.
(d) Fungsi normative keluarga, sering diasosiasikan sebagai legitimasi hubungan seksual yang sah antara suami istri dan hak serta tanggung jawab antar anggota keluarga. Fungsi inipun mengalami pergeseran yang sangat besar. Hubungan seks sebelum nikah (premarital sex), di luar nikah (penyelewengan, extramarital sex), tanpa nikah (prostitusi, kumpul kebo), sejenis (homo dan lesbian), serta selibat permanen (tanpa nikah) telah mengurangi peran normatif keluarga. Hal ini juga ditandai oleh maraknya kekerasan (violence) dan perlakuan salah (abused) dalam keluarga, terutama terhadap anak dan istri.
Pendekatan pragmatis perlu dilengkapi dengan pendekatan lain yang lebih menitik beratkan pada anggota keluarga sebagai unsur pokok yang paling penting dan subjek yang berperan aktif. Pendekatan psikologi tampaknya memenuhi tuntutan ini ( Megawangi dkk., 1995).

PERAN PSIKOLOGIS KELUARGA
Pertama, keluarga seharusnya memiliki peran yang besar dalam pengembangan personal (personal growth), diantaranya adalah intelektualitas yang berorientasi pada kebudayaan, moral keagamaan, kemandirian, orientasi pada prestasi dan produkvitivitas, serta kemandirian. Bila unsur-unsur tersebut berkembang dengan baik maka individu akan dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, mampu mencukupi diri, kompetitif, adaptif dan dapat memajukan lingkungan sosial dan budayanya, serta berperilaku etis.

Kedua, keluarga merupakan jaringan sosial paling kecil. Di era seperti sekarang ini jaringan sosial memegang peranan sangat penting. Karenanya, keluarga juga harus berperan sebagai arena menjalin hubungan dan arena belajar untuk mengembangkan jaringan sosial. Ini dapat terpenuhi bila di dalamnya ada kohesivitas yang tinggi dan ekspresif dalam berhubungan satu dengan lainnya. Artinya, pola relasi dalam keluarga menjadi progresif dan tidak monoton. Dengan demikian masalah-masalah hubungan interpersonal seperti konflik tidak akan tidak terpecahkan secara berlarut-larut, demikian juga dengan kebosanan dalam keluarga.

Ketiga, di dalam keluarga tentu ada sistem yang mengorganisir, mengontrol dan memelihara keberlangsungan hidup keluarga. Peran ini tampaknya terkikis paling awal di masa perubahan seperti yang sekarang ini. Padahal, sistem inilah yang mempersatukan
Individu dalam bentuk keluarga .

Peran orangtua bagi anak-anaknya :
1. Membina keluarga sejahtera sebagai wahana penanaman nilai agama, etik dan moral serta nilai-nilai luhur bangsa, sehingga memiliki integritas kepribadian.
2. Memperhatikan kebutuhan anak, a.l. perhatian, kasih sayang, penerimaan/ acceptance, perawatan/care,etc.
3. Menciptakan dan memelihara kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan yang berkualitas dalam keluarga serta pemahaman atas potensi dan keterbatasan anak anak.
4. Melaksanakan peran pendamping anak, baik dalam belajar, bermain dan bergaul, serta menegakkan disiplin dalam rumah, membina kepatuhan dan ketaatan pada aturan keluarga.
5. Mencurahkan kasih sayang namun tidak memanjakan, melaksanakan kondisi yang ketat dan tegas namun bukan tidak percaya atau mengekang anggota keluarga.
6. Berperan sebagai kawan (terlebih pada saat masa remaja) terhadap anak-anaknya, sehingga mudah diterima oleh anak dalam membantu mencari jalan keluar dari kesulitan yang dialami anak-anaknya.
7. Memotivasi anak dan mendorong untuk meraih prestasi yang setinggi tingginya.

PRAKTEK PENGASUHAN ORANGTUA (PARENTING)
Salah satu faktor keluarga yang memengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak adalah bagaimana pola asuh orangtuanya. Dari penelitian Diana Baumrind pada tahun 1971, ada beberapa pola asuh yang ditunjukkan oleh para orangtua yang dapat memengaruhi perkembangan anak-anaknya (Santrock, 1995; 2007) yaitu :
1) Pola asuh otoriter (authoritarian parenting)
Merupakan gaya pengasuhan yang ditandai oleh pembatasan, menghukum, memaksa anak mengikuti aturan, dan kontrol yang ketat. Orangtua menuntut anak mengikuti perintah-perintahnya, sering memukul anak, memaksakan aturan tanpa penjelasan, dan menunjukkan amarah. Selain itu orangtua otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang kepada anak untuk berkompromi (bermusyawarah). Efek pengasuhan ini antara lain: anak mengalami inkompetensi sosial, sering merasa tidak bahagia, kemampuan komunikasi lemah, tidak memiliki inisiatif melakukan sesuatu, dan kemungkinan berperilaku agresif.
2) Pola asuh otoritatif (authoritative parenting) atau demokratis.
Gaya pengasuhan ini mendorong anak untuk mandiri tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan anak. Jadi orangtua masih melakukan kontrol pada anak tetapi tidak terlalu ketat. Umumnya orangtua bersikap tegas tetapi mau memberikan penjelasan mengenai aturan yang diterapkan dan mau bermusyawarah atau berdiskusi. Selain itu orangtua bersikap hangat dan saying terhadap anak, menunjukkan rasa senang dan dukungan sebagai respon terhadap perilaku konstruktif anak. Efek pengasuhan otoritatif yaitu anak mempunyai kompetensi sosial, percaya diri, dan bertanggungjawab secara sosial. Juga tampak ceria, bisa mengendalikan diri dan mandiri, berorientasi pada prestasi, mempertahankan hubungan ramah dengan teman sebaya, mampu bekerja sama dengan orang dewasa, dan mampu mengatasi stres dengan baik.
3) Pola asuh yang membiarkan (permissive indulgent)
Merupakan gaya pengasuhan yang mana orangtua sangat terlibat dalam kehidupan anak tetapi menetapkan sedikit batas, tidak terlalu menuntut, dan tidak mengontrol mereka. Orangtua membiarkan anak melakukan apa saja yang mereka inginkan sehingga anak tidak pernah belajar mengendalikan perilakunya sendiri dan selalu mengharapkan kemauannya dituruti. Efek pengasuhan : anak kurang memiliki rasa hormat pada orang lain dan mengalami kesulitan mengendalikan perilakunya. Kemungkinan mereka juga mendominasi, egosentris, tidak menuruti aturan, dan mengalami kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya.
4) Pola asuh yang mengabaikan (permissive indifferent).
Pada pola ini, orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Anak yang orangtuanya permissive-indiferent, mengembangkan perasaan bahwa aspek-aspek lain kehidupan orangtua lebih penting daripada diri mereka. Efek pengasuhan ini yaitu inkompetensi sosial, kendali diri yang buruk, tidak mandiri, harga diri rendah, tidak dewasa, rasa terasing dari keluarga, serta saat remaja suka membolos dan nakal.
Eleanor Maccoby dan John Martin tahun 1983 (Papalia dkk., 2002) menambahkan bentuk pola asuh lain yaitu neglectful atau involved. Pada pola asuh ini, orangtua lebih fokus pada kebutuhan-kebutuhannya sendiri dibanding pada kebutuhan anak-anaknya. Neglectful parenting ini berkaitan dengan munculnya gangguan perilaku pada perkembangan saat anak-anak dan remaja.

REVITALISASI PERAN KELUARGA
Dalam salah satu bukunya, Understanding Family Policy, Shirley L. Zimmerman (1995) menulis bahwa dekade sembilan puluhan sebagai tahun-tahun tidak menentu (uncertain years) bagi keluarga. Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa kenyataan bahwa selama dekade itu terus terjadi perubahan dalam keluarga dan perubahan yang dimaksud telah mendekati bentuk yang sebelumnya dianggap sebagai bukan keluarga. Perubahan bentuk ini beriringan dengan perubahan fungsi dan proses dalam keluarga. Tampaknya, perubahan itu akan terus berlanjut hingga memasuki abad 21 ini.

Perubahan keluarga dengan berbagai aspek dan konsekuensinya tidak mungkin dihindari. Pada sisi lain, keluarga masih sering dicitrakan seperti yang ada pada beberapa tahun lalu. Dengan demikian ada dua kutub yang tarik menarik: ideal dan kenyataan. Dari diskursus khalayak selalu muncul semacam kerinduan bahwa keluarga sekarang seharusnya seperti keluarga ideal, seperti yang dulu, meskipun hampir setiap orang terbawa dan ikut berperan dalam proses perubahan ini. Keadaan mendua ini menegaskan munculnya ketidak menentuan seperti yang dikemukakan Zimmerman. (Diambil dari Faturochman, 2001 dalam Buletin Psikologi, Tahun IX, No. 2, Desember 2001, 39-47 )

Perubahan Keluarga
Keluarga berubah sejalan dengan perubahan jaman. Perubahan yang diinginkan biasanya diharapkan bermuara pada kesejahteraan dan kebahagiaan, namun kenyataannya sering menjadi lain. Sayangnya, kenyataan itu sering diingkari sehingga masalah yang muncul menjadi tambah besar dari yang seharusnya. Sejahtera dan bahagia tidak hanya sebagai tujuan keluarga, tetapi lebih luas dari itu, yaitu tujuan hidup. Untuk mencapainya banyak upaya yang dilakukan. Di antaranya adalah dengan meningkatkan level pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang baik.
Mencapai pendidikan yang tinggi dan masuk dalam pasar kerja berarti mengubah siklus hidup dari orientasi yang tradisional ke modern. Ini belum cukup, sebab berpendidikan dan bekerja berarti pula menunda usia kawin, terutama bagi perempuan. Keadaan ini sangat berperan dalam penurunan fertilitas yang bagi sebagian besar negara berkembang menjadi sasaran penting. Artinya, ukuran keluarga menjadi lebih kecil.

Ternyata perubahan ukuran ini membawa perubahan ke berbagai aspek kehidupan keluarga (lihat Effendi, 1996; Faturochman, 1996; Oey-Gardiner & Gardiner, 1988) , yaitu:

Pertama, dengan rata-rata jumlah keluarga yang mengecil mengakibatkan bentuk keluarga luas (extended family) bergeser ke bentuk keluarga inti (nuclear family). Implikasi dari keluarga kecil terhadap kehidupan sosial dan ekonomi cukup besar. Dengan jumlah yang sedikit dan meningkatnya kemampuan ekonomi menyebabkan bantuan, dukungan ekonomi dan sosial seperti mengasuh anak, dari anggota keluarga luas berkurang. Pada masa transisi seperti ini tampaknya keuntungan ekonomis lebih berpihak pada generasi muda dibanding generasi tua, serta perempuan dibanding laki-laki. Dengan jumlah anak sedikit rata-rata anggota keluarga yang muda mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik (Ediastuti & Faturochman, 1995; Knodel, 1992). Pergeseran bentuk keluarga ini jelas berdampak psikologis bagi anggota-anggotanya. Dampaknya bisa negatif seperti kurang hangatnya hubungan antar anggota keluarga, tetapi juga bisa positif seperti otonomi individu.

Kedua, selama masa transisi ini, peran keluarga juga berubah. Peran sosial dan emosional keluarga cenderung bergeser ke peran ekonomis. Suami-istri yang bekerja dapat berefek pada berkurangnya interaksi dengan anggota keluarga, terutama anak. Fenomena yang sama akan dijumpai pada keluarga yang anggotanya terpisah karena bekerja di tempat lain, sehingga waktu berkumpul hanya di akhir pekan.

Ketiga, proses perubahan yang terjadi tampaknya tidak hanya sampai pada nukleisasi keluarga tetapi kemungkinan besar sampai pada individualisasi keluarga (Zeitlin dkk., 1995). Gejala meningkatnya infertilitas atau childless family, keluarga tunggal, dan kumpul kebo mulai tampak jelas (lihat Faturochman, 1993, 1995) dapat berefek pada individualisasi keluarga. Gejala yang paling jelas memang tampak pada keluarga tunggal seperti janda dan duda tanpa anak serta mereka yang tidak menikah, namun pada keluarga tanpa anak otonomi masing-masing juga semakin besar. Bila ini berlanjut maka proses individualisasi tidak terhindarkan lagi. Sementara itu, kumpul kebo sering diidentikkan sebagai upaya pembentukan keluarga dan alternative bentuk keluarga, namun ada juga yang menginterpretasikan sebagai alternatif hidup sendiri. ( Diambil dari Faturochman, 2001 dalam Buletin Psikologi, Tahun IX, No. 2, Desember 2001, 39-47 )

UPAYA REVITALISASI
Intervensi terhadap keluarga selalu memperhatikan unit analisis dalam upaya mencapai efektivitasnya. Secara ringkas, teori tentang keluarga dapat dari empat level analisis (Klein & White, 1996).
Pada level terkecil, keluarga dapat dilihat sebagai hubungan interpersonal yang sederhana dalam melakukan pertukaran (exchange). Pada level yang lebih besar lagi peran individu masih kentara namun bentuk hubungannya lebih kompleks karena berbentuk jaringan. Pada level analisis selanjutnya, keluarga tidak lagi dapat dilihat secara mudah pada level individu karena sistem dan kelompok lebih dominan. Pada level yang paling tinggi, keluarga dapat dianggap sebagai institusi yang solid dan lebih formal seperti layaknya organisasi.

Revitalisasi menurut Stephen Covey (1990) ada delapan cara yang dapat memperkaya hubungan keluarga, yaitu:
1. Menetapkan perspektif jangka panjang.
Perspektif jangka panjang ini diyakini dapat membuka jalan untuk berbagai masalah yang dihadapi. Perspektif jangka panjang inilah yang akan membangkitkan kemampuan keluarga meningkatkan daya tahannya. Tentu saja perspektif ini tidak dimaksudkan untuk mengaburkan sisi kehidupan sehari-hari. Keduanya harus integratif.

2. Mengkaji ulang kehidupan perkawinan dan keluarga
Dengan terjadinya berbagai perubahan, kehidupan keluarga harus adaptif terhadap perubahan.

3. Pertimbangkan ulang peran dalam keluarga
Pasangan dan orangtua dalam keluarga memiliki tiga peran pokok: produser, manajer, dan pemimpin. Tugas produser adalah mengupayakan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Manajer bertugas mendelegasikan tugas kepada seluruh anggota keluarga. Pemimpin bertugas membuat perubahan, memotivasi dan mengarahkan anggota untuk melakukan tugas. Sangat ideal bila keluarga merupakan sebuah tim yang anggota-anggotanya komplementer yang didasari oleh respek mutualistis.

4. Mengkaji ulang tujuan
Tujuan yang realistis dan progresif memperhatikan aspek sasaran yang ingin dicapai sekaligus mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki. Sering terjadi sasaran tidak disesuaikan dengan kemampuan, kurangnya pemanfaatan potensi keluarga sehingga tidak produktif. Oleh karena itu setiap saat perlu ada pengajian ulang terhadap tujuan yang hendak dicapai oleh keluarga.

5. Integrasi sistem dalam keluarga .
Empat sistem dinilai vital dalam keluarga, yaitu sistem perumusan sasaran dan rencana, sistem standarisasi, sistem upaya peningkatan, dan sistim komunikasi serta pemecahan masalah. Hal yang tidak kalah penting adalah integrasi dari sistem-sistem itu. Menyekolahkan anak seharusnya dibarengi dengan upaya untuk meningkatkan kemampuan membuat rencana, giat mempertahankan upaya tersebut dan diikuti oleh keterbukaan dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Sering terjadi adanya upaya untuk jalan dengan satu sistem saja karena hal itu akan menempatkan keluarga pada comfort zone, namun sesungguhnya ada masalah lain.

6. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan
Ada tiga kemampuan pokok yang vital untuk keberlangsungan keluarga, yaitu manajemen waktu, komunikasi, dan pemecahan masalah, terlebih dengan adanya kecenderungan tuntutan jaman mengarah pada permintaan individu pada komitmen di luar rumah.

7. Menciptakan rasa aman dalam keluarga
Rasa aman ini seharusnya muncul dari dalam keluarga, bukan berasal dari luar yang hanya akan menciptakan ketergantungan. Ada beberapa cara untuk meraih rasa aman internal yaitu :
(a) Berpegang pada prinsip yang tidak mudah berubah.
(b) Memperkaya kehidupan pribadi.
(c) Menghargai lingkungan alam.
(d) Membiasakan untuk mempertajam kehidupan secara fisik, mental dan spiritual.
(e) Rela membantu sesama anggota keluarga
(f) Mewujudkan integritas dalam keluarga.
(h) Menempatkan orang lain sebagai pihak yang mencintai dan mempercayai.

8. Membangun misi keluarga .
Banyak keluarga yang dikelola berdasarkan pada tujuan sesaat, bukan pada prinsip yang kuat, sehingga ketika ada masalah muncul yang terjadi justru kepanikan. Keluarga yang memiliki misi jelas yang tiap anggotanya menginternalisasi misi itu berarti memiliki acuan yang menjadi pegangan.

KELUARGA TRADISIONAL VS. KELUARGA NON TRADISIONAL

Keluarga tradisional
1. Suami sebagai kepala keluarga
Hal ini memiliki pandangan bahwa peran suami adalah sentral, terkait dengan berjalan maupun tidaknya keluarga tersebut, dimana tugas suami sebagai kepala keluarga ini memiliki kewajiban penuh dalam memenuhi segala kebutuhan baik lahiriah maupun batiniah yang ada dalam keluarga yang dibinanya, sehingga didapatkan struktur bahwa posisi suami selalu berada diatas dan selalu harus dihargai dan dihormati segala ucapan dan tindakannya.

2. Istri sebagai ibu rumah tangga
Peran istri dalam konsep keluarga tradisional adalah sebagai ibu rumah tangga saja, dimana pekerjaannya sebagai pengasuh anak- anak dan suami dalam mengurus segala keperluan yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya. Selain itu, istri hanya berada di dalam rumah saja dan mengurusi segala kebutuhan rumah tangga. Hal ini
juga terkait dengan peran gender, dimana peran perempuan adalah sosok penurut dan rata-rata selalu memiliki tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi.

3. Keharmonisan keluarga
Sebisa mungkin segala konflik yang terjadi dalam setiap kehidupan keluarga diselesaikan dengan jalan damai, dimana pada akhirnya istri selalu mengalah pada keputusan yang dibuat oleh suaminya sebagai kepala keluarga maka dengan konsep seperti itulah kehidupan keluarga bisa berlangsung dengan baik.

Kondisi keluarga Post – Modern
Pada dasarnya sistem yang ada dalam keluarga merupakan suatu unit sistem terkecil dalam masyarakat telah mengalami perubahan. Hal ini terkait dengan perubahan dalam hal peran dan fungsi keluarga, pemaknaan anggota atas keluarga, serta terkait dengan bagaimana keluarga sebagai sistem, berhubungan dan berinteraksi dengan sistem eksternalnya. Sebagai konsekuensinya, perubahan tersebut ternyata memunculkan beberapa permasalahan yang mengancam hakikat peran dan fungsi keluarga yang diidealkan oleh masyarakat. Masyarakat dalam hal ini masih menginginkan system keluarga mempunyai peran dan fungsi vitalnya.

PERSIAPAN HIDUP BERKELUARGA

PENGERTIAN PERKAWINAN/PERNIKAHAN
Perkawinan adalah suatu ikatan antara pria dan wanita sebagai suami isteri berdasarkan hukum (UU), hukum agama atau adat istiadat yang berlaku (Hawari, 2006).
Menurut Undang-Undang Perkawinan (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974) yang dimaksud dengan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
Ikatan lahir-batin, yang berarti bahwa dalam perkawinan itu perlu adanya ikatan tersebut pada keduanya. Ikatan lahir adalah merupakan ikatan yang menampak, ikatan formal sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Ikatan formal ini adalah nyata, baik yang mengikat dirinya yaitu suami dan isteri, maupun bagi orang lain yaitu masyarakat luas. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara langsung, tetapi merupakan ikatan psikologis. Antara suami dan isteri harus ada ikatan ini, harus saling mencintai satu sama lain dan tidak adanya paksaan dalam perkawinan. Bila perkawinan dengan paksaan, tidak adanya cinta kasih satu dengan yang lain, maka berarti bahwa dalam perkawinan tersebut tidak ada ikatan batin (Walgito, 2010).

Sikun Pribadi (1981) mengemukakan bahwa pernikahan ialah ikatan janji cinta antara dua jenis kelamin, yang bertemu dalam hatinya. Dalam pengertian cinta, ada dua unsur yaitu saling menyayangi dan tarik-menarik karena birahi. Di dalam gejala birahi terdapat unsur seks, yang selalu ada pada setiap manusia yang normal. Seks ialah energi psikis, yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, terutama dalam bentuk hubungan antar manusia sebagai pria dan wanita.

Atas dasar pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan tersebut dapatlah dikatakan bahwa perkawinan atau pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita; sebagai suami-isteri atas dasar cinta dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha.

PERSYARATAN PERKAWINAN
Persyaratan umum
Berdasarkan UU Perkawinan 1974 pasal 7, syarat yang harus dipenuhi sbb :
3) Umur pria 19 th, wanita 16 th
4) Penyimpangan psl 1, dapat memeinta dispensasi pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orangtua kedua pihak

Persyaratan khusus
Persyaratn ini tergantung dari masing-masing calon pasangan yang dianggap sesuai dengan dirinya. Terpenuhi persyaratan ini dapat memperkecil kemungkinan permasalahan keluarga

TUJUAN PERKAWINAN.
Tujuan perkawinan implisit di dalam rumusan tentang pengertian perkawinan sebagaimana diuraikan di muka. Lebih jelasnya, dalam pasal 1 Undang-Undang Perkawinan tersebut dikemukakan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan tujuan perkawinan tersebut mengisyaratkan bahwa tujuan kedua individu yang melakukan perkawinan itu haruslah sama. Kalau sampai terdapat tujuan yang berbeda, tentu saja perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena tujuan yang tidak sama antara suami dan isteri akan merupakan sumber permasalahan dalam keluarga.
Di samping tujuan yang akan dicapai harus sama antara suami dan isteri, kebahagiaan dalam keluarga perlu dijadikan arah dan bila perlu dijadikan target yang harus dicapai. Menurut Erich Fromm hidup bahagia itu adalah kriteria bagi kehidupan yang utama, bagi kehidupan yang etis. Itulah seni hidup yang paling sukar. Jika kondisi itu tercapai, dapat dikatakan bahwa hidup kita telah berhasil sebagai hidup yang produktif, yang sangat besar manfaatnya, hidup yang banyak amalnya, yang tidak konsumtif sebagai parasit yang hidup dari usaha orang lain.

Karakteristik kualitas perkawinan yang sukses

Karakteristik perkawinan yang sukses menurut Sadarjoen ( 2005 ) sebagai berikut :

1. Komitmen yang terjaga,
2. Kejujuran, kesetiaan, kepercayaan,
3. Rasa tanggungjawab,
4. Kesediaan untuk menyesuaikan diri,
5. Fleksibilitas dan toleransi dalam setiap aspek perkawinan termasuk kehidupan
seksual,
6. Mempertimbangkan keinginan pasangan,
7. Komunikasi yang terbuka, dengan penuh empati dan saling menghormati (respek)
antar pasangan,
8. Menjalin hubungan antar pasangan dengan cinta kasih penuh afeksi,
9. Pertemanan yang nyaman antar pasangan,
10. Kemampuan mengatasi krisis dalam setiap situasi dalam kebersamaan,
11. Menjaga nilai-nilai spiritual antar pasangan perkawinan dan keturunanny

Kehidupan keluarga yang berhasil menurut DeGenova dan Rice (2002), adanya :
• Communication
• Admiration and respect
• Companionship
• Spirituality and Values
• Commitment
• Affection
• The ability to deal with crises and stress
• Responsibility
• Unselfishness
• Empathy and sensitivity
• Honesty, trust and fidelity

PERSPEKTIF : TEORI SISTEM KELUARGA

Pendekatan yang saat ini banyak dipergunakan dalam mengkaji keluarga yaitu pendekatan teori sistem.
Berbeda dengan pandangan lalu tentang keluarga, maka saat ini keluarga lebih dipandang sebagai suatu system. Pandangan ini dikenal dengan “ Family System Theory”
“Family System Theory” menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada salah satu anggota keluarga akan berpengaruh terhadap anggota keluarga yang lainnya. Antar anggota keluarga akan saling berhubungan dan bekerja sebagai satu kelompok system keluarga ( family system)
Carl Whitaker menekankan pemikirannya bahwa tidak ada individu dalam hidup ini, yang ada adalah kepingan keluarga. Dengan kata lain, manusia sebagai individu tidak dapat dilepaskan dari keterikatannya dengan keluarga. Bagaimana individu berfikir dan berperilaku sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga. Cara terbaik untuk memahami individu adalah dengan memahami keluarganya. Dalam terapi keluarga cara paling paling efektif untuk mengubah individu adalah dengan mengubah keluarganya.
Family System Theory dikembangkan dari general system theory. Beberapa konsep dalam general system theory dianggap relevan dengan system keluarga. Konsep mengenai multiple system level menjelaskan bahwa sistem melekat di dalam sistem yang lain, dimana ketika perhatian difokuskan pada satu sistem tertentu, maka satu supra sistem (system yang lebih besar) dan sub sistem (sistem yang lebih kecil) biasanya akan ikut terlibat. Dalam pasangan suami istri, maka supra sistemnya adalah keluarga dan subsistemnya terdiri dari 2 individu. Jika fokusnya adalah nuclear family maka supra sistemnya adalah extended family dan sub sistemnya adalah pasangan sumai istri atau unit diadic (dua orang) yang lainnya, seperti orang tua dan anak.

Dalam general system theory, keluarga mengandung konsep “Wholeness”, yaitu konsep bahwa keseluruhan itu lebih besar dari penjumlahan bagian-bagiannya (whole is more than the sum of its parts). Dimana kualitas keseluruhan keluarga lebih bermakna daripada sekedar penjumlahan anggota keluarga. Hal ini memiliki arti bahwa keluarga keluarga tiidak dapat dipahami dengan hanya memahami masing-masing anggota keluarga sebagai individu saja karena masing-masing individu akan berperilaku berbeda saat diluar lingkungan keluarganya.

Family system framework berasumsi bahwa sistem-sistem bersifat kontinum dari extreem morphostatis sampai extrem morphogenesis. Dalam sistem yang sehat menyatakan bahwa keseimbangan antara separatedness sebagai individu dan connectedness sebagai sebuah sistem. Dinamika akan membantu system untuk menjaga keseimbangan antara separatedness- connectedness yang ada.

General system theory juga menekankan bahwa komunikasi dalam sistem itu penting. Sistem keluarga akan berfungsi dengan baik jika pertukaran informasi-informasi yang penting dilakukan secara teratur antar anggota keluarga General system theory membicarakan umpan balik dalam komunikasi yang dapat bersifat positif dan negatif. Umpan balik yang bersifat positif dalam keluarga akan mengarahkan perubahan, sementara umpan balik negatif dibuat untuk meminimalkan perubahan dan menjaga segala sesuatu tetap sama, dimana umpan balik dapat berasal dari dalam (internal) maupun dari luar keluarga (eksternal).

Definition of a family as a social system characterized by
• wholeness,
• transformation,
• self-regulation,
• circularity,
• feedback loop,
• boundaries,
• morphostasis, morphogenesis, adaptation, equifinality, family cohesion and flexibility

Family System Theory” menyatakan :
– Segala sesuatu yang terjadi pada salah satu anggota keluarga akan berpengaruh
terhadap anggota keluarga yang lainnya.
– Antar anggota keluarga akan saling berhubungan dan bekerja sebagai satu kelompok
system keluarga ( family system
– Carl Whitaker -> tidak ada individu dalam hidup ini, yang ada adalah kepingan keluarga.
D.p.l. manusia sebagai individu tidak dapat dilepaskan dari keterikatannya dengan
keluarga (Carl Whitaker)
-Bagaimana individu berfikir dan berperilaku sangat dipengaruhi oleh latar belakang
keluarga
– Cara terbaik untuk memahami individu adalah dengan memahami keluarganya.
– Dalam terapi keluarga, cara paling paling efektif untuk menangani individu adalah dengan
melibatkan keluarganya.

DASAR / LANDASAN HIDUP BERKELUARGA

PENGERTIAN CINTA
Apakah yang dimaksud dengan cinta ? Cinta tidak mudah didefinisikan dan ada berbagai pendapat
Menurut Harry Stack Sullivan, love  “When the satisfaction or security of another person becomes as significant to one as is one’s own satisfaction or security, then the state of love exists.”

What is love actually? Robert Stenberg states that love is
“An intense feeling of caring and longing for another, which includes the combination
between passion, intimacy and commitment”
Passion means the desire or lust, which exists in relationship between man and woman. Intimacy is an intense feeling of togetherness. Commitment is the decision of the couple to commit their relationship in a marriage. The thesis writer may say that love is an intense feeling of positive regard toward another person in which the needs and desires of that person, the one he loves, are put above those of himself
Love is not only an emotion, it is much more than that. It includes attitude, positive approval, helpful criticism, positive acceptance and a wish for the well being of the loved one.

Robert Stenberg divides love between man and woman into seven stages; that is,
-liking,
– infatuation,
– empty love,
– romantic love,
– fatuous love,
– companionate love,
– consummate love
As it is written before that love may involve three components; that is, passion, intimacy, and commitment. The seven stages of love are based on how much the passion, intimacy, and commitment the person has.

The most complete form of love is consummate love, which involves passion, intimacy and commitment as seen in the diagram below:

The picture above is called TRIANGULAR model of love by Robert Stenberg.

PENJELASAN “ the seven stages of love” :

Liking is an attraction for the other that includes intimacy. It is usually found in friendship because friendship starts from liking the feeling of closeness and warmness between lovers. Best friends are sharing and supporting each other when they face any problems.

Infatuation is an attraction for the other that includes passion only. It is also called as “Blind- love ” and it happens when someone says, “I love you” although he does not know exactly about the personality or the character of the lover. It means that it is just love at the first sight; he is attracted only to the appearance. Whenever he sees that the girl is beautiful, the passion Will rise and attack his logical thinking and make him blind. So, this love lacks of intimacy and commitment.

Empty love has no intimacy and passion. It has only commitment to live together. It can be seen in the matched-couple when they do not know anything about his or her matched-couple or can also be seen in the love of a couple who have married for a long time and the passion of love has gone together with the time and there is only the commitment to live together.

Romantic love is love, which is based on romance, so it involves intimacy and passion. The couples really love each other, the feeling of love is followed by passion but they do not have commitment to live together.

Fatuous love is love , which has no intimacy but only passion and commitment

Companionate love consists of intimacy and commitment. It combines feelings of deep attachment and friendly affection, such as warm, caring and intimate relationship. As mentioned earlier, Robert Stenberg said that companionate love is the combination of the commitment and intimacy. Besides loving each other, a couple should commit themselves in a marriage.

Consummate love is the most complete love, it has all three in on : passion, intimacy and commitment.

Kesimpulan :
Cinta yang “sempurna” ( Robert J.Stenberg), mencakup
1.GAIRAH (daya tarik fisik & seksual)
2.KEINTIMAN (kehangatan, kenyamanan, berbagi)
3.KOMITMEN ( untk selalu bersama/ mempertahankan hubungan)

Faktor yang mengikat suami-isteri sehingga mereka mempertahankan perkawinan :
Dalam penelitiannya terhadap pasangan-pasangan perkawinan yang bertahan (tidak bercerai), Grunebaum (1990) menemukan 5 faktor yang mengikat suami-isteri sehingga mereka mempertahankan perkawinannya, yaitu:
1) saling memberi dan menerima kasih sayang,
2) suami-isteri merupakan kemitraan persahabatan (bukan rival atau pesaing satu
dengan lainnya)
3) saling memuaskan dalam pemenuhan kebutuhan biologis (seksual) dan bertindak
serta berperilaku sesuai dengan etika moral agama,
4) masing-masing pihak mempunyai komitmen dalam pengambilan keputusan
(keputusan bersama),
5) saling menjaga dan memelihara hubungan sosial dengan anak-anak dan keluarga
kedua belah pihak.

Twelve characteristics of marital success :
1) Commitment (to self, to each other, to the relationship)
2) Honesty, trust, fidelity
3) Responsibility
4) Adaptability, flexibility, tolerance
5) Unselfishness
6) Communication
7) Empathy, sensitivity
8) Admiration, respect, egalitarianism
9) Affection
10) Companionship
11) Ability to deal with stress and crises
12) Spirituality Values

Five major elements of mature love
a. Tolerance
b. Respect
c. Honesty
d. Stay together for mutual advantage
e. Companionability

Penyesuaian-penyesuaian dalam
hidup berkeluarga

Dalam kehidupan berkeluarga, diperlukan penyesuaian berkaitan dengan (Hurlock, 1980) :
1. Penyesuaian dengan pribadi pasangan diperlukan karena kemungkinan ada beberapa perbedaan. Perbedaan yang ada bukan untuk dihindari, namun dieprlukan penyesuaian pada masing-masing individu terhadap pasangannya sehingga tidak memunculkan masalah. Perbedaan dapat dalam :
– sikap, sifat, nilai-nilai,
– latar belakang keluarga,
– budaya & s.s.e
– umur, kesehatan, dan agama, etc.
2. Penyesuaian peran seks :
– merupakan hal yang sulit, karena :
= saat remaja sudah mempunyai pemahaman tertentu
= umumnya tidak ingin peran ‘tradisional’
= pengaruh media  peran egalitarian

Konsep peran seks dewasa

Superioritas maskulin Individualitas & kesetaraan
PRIA PRIA
– Posisi yang berwewenang, pencari – bekerja sama dengan
perempuan
nafkah, decision-maker, panutan – perempuan dan laki-laki
sederajat

WANITA WANITA
– Orientasi peran pada orang lain, – di rumah aktualisasi
(tidak bekerja, pengurus R.T.) &
di luar potensi

3. Penyesuaian terhadap masa “keorangtuaan”
diperlukan karena status sebagai orangtua memerlukan banyak perubahan perilaku, nilai-nilai, dan peran sehingga harus ada perencanaan dan mau selalu belajar.
4. Penyesuaian dgn keluarga pasangan diperlukan karena
* ada perbedaan latar belakang
* ada kecenderungan “ mencampuri urusan keluarga”
* ada tuntutan2 tertentu
5. Penyesuaian seksual diperlukan karena
• sering dianggap tidak penting, terlebih dg tambahnya usia pernikahan
• dianggap tabu/ditutupi
Pada masa dewasa tengah ini masalah seksual sering muncul karena pada tahapan ini individu mengalami climacteric yaitu :

Perempuan Laki-laki
= ± 45 – 50 tahun
= mentruasi berhenti (menopause)
= pusing, cemas. Marah

= kemampuan reproduksi terhenti = ± 50 tahun
= tidak ada tanda jelas
= depresi, mudah tersinggung,
workalholic, banyak makan &
minum, berkurangnya libido

= masih mampu membuahi 
( sampai 70 / 80 tahun )

Note :
Pada masa climacteric ini laki-laki sering dikatakan mengalami “puber kedua”/remaja kedua (note: bukan istilah ilmiah) karena berperilaku seperti anak remaja yang sedang mengalami puber. Pada saat ini laki-laki memiliki kecenderungan senang dandan, kagumi diri, M.P.O. ( mencari perhatian orang ), cepat marah dan tersinggung, dan ingin membuktikan “kejantanan”nya.

6. Penyesuaian keuangan diperlukan karena:
– mempunyai. pengaruh kuat pada kelangsungan keluarga
– berkaitan dengan kesepakatan sebelumnya
– kondisi suami /isteri bekerja
– butuh pengaturan yg baik

PENDUKUNG DICAPAINYA PENYESUAIAN YANG BAIK :
a. memahami keluarga merupakan suatu system. Semua anggota saling tanggungjawab, berhubungan, tergantung satu sama lain.
b. memahami diri sendiri dan pasangannya. Selalu introspeksi diri, mau menerima umpan balik dari pihak lain, menyadari setiap orang berbeda -> menerima orang lain
c. membina komunikasi yang baik/efektif yaitu :
– Dua arah
– Didasari rasa senang/kasih dan empati
– Ada keterbukaan
– Mau saling “mendengarkan”
– Lebih banyak memakai kata “saya…….” daripada “ kamu……………..”

c. Memahami siklus kehidupan berkeluarga. Siklus2 tersebut :
1. Pasangan baru/ hidup berdua
2. Keluarga dengan anak balita
3. Keluarga dengan anak usia sekolah
4. Keluarga dengan anak usia remaja
– hub.orangtua dan anak berubah, kejar karier
5. Keluarga pada usia tengah baya — anak-anak mulai
pergi ( studi/kost, kerja, nikah) – “sindrom sarang kosong”, karier, merawat orangtua
6. Keluarga pada usia tua– berdua, penyesuaian seksual,
punya menantu/ cucu, menjelang/sudah pensiun
7. Keluarga pada usia lanjut– fisik menurun, kehilangan pasangan, kematian .

MASALAH PERKAWINAN :
Perkawinan cenderung mengalami konflik atau masalah bila :
 Perbedaan latar belakang
 Konsep perkawinan yang ‘berlebihan’
 Dorongan bersaing ‘sukses karier’
= efek nya lebih besar > pada laki-laki yang kalah
 penyesuaian seksual yang buruk
 ekonomi yang – dibawah harapan
 kelahiran anak yang tidak sesuai keinginan
 hubungan yang buruk dengan keluarga pasangan

—————————————–bersambung dengan makalah kelompok—————————-
1. Persiapan memasuki kehidupan berkeluarga
2. Penyesuaian-penyesuaian hidup berkeluarga
3. Kepuasan perkawinan (marital satisfaction)
4. Komunikasi dalam keluarga
5. Masalah/konflik marital
6. Perselingkuhan
7. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

KEPUSTAKAAN

Walgito, B. (1984). Bimbingan dan konseling perkawinan. Yogyakarta: Andi Offset

Covey, S. R. (1990). Principle-centered leadership. London: Simon & Schuster
Hawari, D. (2006). Marriage counseling (Konsultasi perkawinan). Jakarta: Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Ediastuti, E. & Faturrochman. (1995). Fertilitas dan aktivitas wanita di pedesaan. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Effendi, S. (1996). Perubahan struktur keluarga dalam perspektif pencapaian keluarga sejahtera. Dalam Dwiyanto, A., Faturrochman, Molo, M. & Abdullah, I. (eds.). Penduduk dan pembangunan. Yogyakarta: Aditya Media

Faturrochman. (1989). Peranan keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembentukan kepribadian remaja. Jurnal Psikologi Indonesia, 3, 1-14.

Faturrochman. (1993). Meningkat, proporsi anggota masyarakat yang tidak menikah.
Surabaya Post, 24 Juni, h.4.

Faturrochman. (1995). Determinants and characteristics of unmarried cohabitation
and its impact on marriage. Populasi, 6, 52-63.

Faturochman. (1996). Dampak penurunan fertilitas: Inventarisasi awal. Dalam
Dwiyanto, A.,Faturochman, Molo, M. & Abdullah, I. (eds.). Penduduk dan Pembangunan.
Yogyakarta: Aditya Media.

Ihromi, T.O. (1999). Bunga rampai sosiologi keluarga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Klein, D. M. & White, J. M. (1996). Family theories. London: Sage Publications
.
Megawangi, R., Zeitlin, M.F. & Kramer, E.M. (1995). Psychological approaches to
the family.

Lembaran Negara RI Tahun 1974 No. 1. (1974). Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Liddle, H. A., Santisteban, D. A., Levant, R. F., & Bray, J. H. (2002). Family psychology. science –based interventions. Washington: APA.

Sadarjoen, S.S. (2005). Konflik marital. Bandung: PT.Refika Aditama.

Soeharto, H.( 2009). Konseling perkawinan, hubungan suami-isteri, dan kesehatan seksual, serta implikasinya. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Soetjiningsih, C. H. (2002). Diktat Psikologi Perkembangan I ( anak ). Salatiga: Fakultas Psikologi UKSW.

Soetjiningsih, C. H. (2002). Diktat Psikologi Perkembangan II ( pubertas, remaja, dan dewasa ) Salatiga: Fakultas Psikologi UKSW.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *