Karya Tulis Ilmiah : Korelasi Antara Model Quantum Dengan Metode Demonstrasi Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Pokok Bahasan Bentuk-Bentuk Pasar Siswa Kelas II Smp Negeri 14 Surabaya

link download dalam bentuk doc di akhir tulisan

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Fenomena terjadi dalam proses belajar mengajar Ekonomi di sekolah SMP  sekarang ini semakin jauh dari perhatian dan pengamatan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu adanya, pembelajaran Ekonomi yang memperhatikan sejumlah variabel seperti : strategi pembelajaran yang mengacu pada belajar yang mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Dalam membicarakan masalah pokok ekonomi tidaklah terlepas dari usaha manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Pada dasarnya kebutuhan masyarakat erat kaitannya dengan barang atau jasa yang diperlukan, serta berkaitan pula dengan pihak-pihak yang menghasilkan barang atau jasa (produsen). Jadi antara produsen dan pemakai barang atau jasa (konsumen) mempunyai hubungan yang saling membutuhkan satu sama lain. Produsen tidak dapat memproduksi jika tidak ada konsumennya. Begitu juga sebaliknya, konsumen tidak akan dapat memenuhi kebutuhannya tanpa ada produsen.

Dari gambaran masalah-masalah yang diungkapkan di atas, terlihat pentingnya pembelajaran dunia nyata di sekolah. Alternatif yang dimaksud yaitu sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan berpikir kritis dan kemampuan mengaplikasikan teori dan konsep-konsep yang telah dipahami untuk memudahkan penerapan dalam dunia nyata.

Dunia pendidikan kita saat ini tengah mengalami krisis yang cukup serius. Krisis ini tidak saja disebabkan oleh anggaran pemerintah yang sangat rendah untuk membiayai kebutuhan vital dunia pendidikan kita, tetapi juga lemahnya tenaga ahli, dan visi serta misi pendidikan nasional yang tidak jelas. Dalam berbagai forum seminar muncul kritik bahwa konsep pendidikan telah tereduksi menjadi pengajaran, dan pengajaran lalu menyempit menjadi kegiatan di kelas.

Sementara yang berlangsung di kelas tak lebih dari kegiatan guru mengajar siswa dengan target kurikulum dan bagaimana mengejar NEM (Nilai Ebtanas Murni). Silberman (1996: 8) mengatakan bahwa dunia pendidikan harus memberi perhatian pada aspek kultural dan ekologi, bukannya terfokus pada pengajaran kognitif dan pelatihan keterampilan teknik. Dengan ungkapan lain, salah satu agenda penting pendidikan di masa depan adalah bagaimana mengatasi krisis kemanusiaan termasuk persoalan krisis makna hidup. Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan perubahan pola pikir yang digunakan landasan pelaksanaan kurikulum. Pada masa lalu proses belajar mengajar terfokus pada guru, dan kurang terfokus pada siswa. Akibatnya kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran.

Pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan dalam kemampuan, sikap, atau perilaku siswa yang relatif permanen sebagai akibat dari pengalaman atau pelatihan. Perubahan kemampuan yang hanya berlangsung sekejap dan kemudian kembali ke perilaku semula menunjukkan belum terjadi peristiwa pembelajaran, walaupun mungkin terjadi pengajaran. Tugas seorang guru adalah membuat agar proses pembelajaran pada siswa berlangsung secara efektif. Selain fokus siswa pola fikir pembelajaran perlu diubah dari sekedar memahami konsep dan prinsip keilmuan, siswa juga harus memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu dengan menggunakan konsep dan prinsip keilmuan yang telah dikuasai.

Kegiatan belajar mengajar ada kaitannya dengan metode mengajar. Metode mengajar merupakan suatu alat, dan cara ataupun strategi mewujudkan kegiatan belajar mengajar. Metode dipilih dan digunakan guru sebagai alat untuk menciptakan kegiatan belajar siswa. Di dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar (Roestiyah, 2001: 1)

Untuk, memenuhi salah satu kompetensi guru dalam sistem instruksional yang modern, maka perlu diuraikan masing-masing teknik penyajian secara mendalam dan terinci. Untuk mendalami dan memahami tentang teknik penyajian pelajaran, maka perlu dijelaskan arti dari teknik penyajian itu.

Roestiyah (2001: 1) mendefinisikan teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas bertujuan agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik. Di dalam kenyataannya metode mengajar atau teknik penyajian yang digunakan guru untuk menyampaikan informasi kepada siswa berbeda dengan cara yang ditempuh untuk memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap. Metode yang digunakan untuk memotivasi siswa agar mampu menggunakan kemampuannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi ataupun untuk menjawab suatu pertanyaan akan berbeda dengan metode yang digunakan untuk tujuan agar siswa mampu berpikir dam mengemukakan pendapatnya.

Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang cukup efektif sebab membantu para siswa untuk memperoleh jawaban dengan mengamati suatu proses atau peristiwa tertentu (Ibrahim dan Syaodih, 1996: 106). Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang memperlihatkan proses terjadinya sesuatu dimana keaktifan biasanya lebih banyak pada pihak guru. Dalam metode demonstrasi ini siswa dituntut aktif melihat apa yang didemonstrasikan guru. Jadi demonstrasi adalah cara mengajar dimana seorang guru menunjukkan, memperlihatkan sesuatu proses misalnya merebus air sampai mendidih 1000 C, sehingga seluruh siswa dalam kelas dapat melihat, mengamati maksudnya, mendengar mungkin meraba-raba dan merasakan proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut (Rustiyah, 2001: 83)

Dengan demonstrasi proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempuran. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan pada apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung. Adapun penggunaan teknik demonstrasi mempunyai tujuan agar siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu misalnya penggunaan kompor untuk mendidihkan air, cara membuat sesuatu misalnya membuat kertas dengan demonstrasi siswa dapat mengamati bagian-bagian dari sesuatu benda atau alat seperti bagian tubuh manusia, atau bagian dari mesin jahit. Juga siswa dapat menyaksikan kerjanya sesuatu alat bantu mesin seperti penggunaaan gunting dan jalannya mesin jahit. Bila siswa melakukan sendiri demonstrasi tersebut, ia dapat mengerti juga cara menggunakan suatu alat seperti menggunakan gunting untuk memotong kain. Dengan demikian siswa akan mengerti cara-cara penggunaan sesuatu alat atau perkalas, atau suatu mesin, sehingga mereka dapat memilih dan memperbandingkan cara yang terbaik juga mereka akan mengetahui kebenaran dari sesuatu teori di dalam praktek, misalnya cara memasak roti yang terbaik.

Bila guru melaksanakan teknik demonstrasi dengan baik maka pembelajaran akan efektif. Untuk mencapai hal tersebut perlu guru mampu menyusun rumusan tujuan instruksional agar dapat memberi motivasi yang kuat pada siswa untuk belajar. Guru mempertimbangkan baik-baik apakah pilihan teknik tersebut menjamin tercapainya tujuan yang telah dirumuskan dan hendaknya menentukan garis besar langkah-langkah yang telah dilakukan serta menyediakan tempat, alat yang akan didemonstrasikan. Waktu perlu dipertimbangkan sehingga ada ketenangan dan siswa bisa bertanya. Selama demonstrasi berlangsung guru memberi kesempatan pada siswa untuk mengamati dengan baik dan bertanya. Setelah melakukan demonstrasi perlu mengadakan evaluasi apakah yang dilakukan itu berhasil dan bila perlu demonstrasi bisa diulang.

Penggunaan demonstrasi sangat menunjang proses interaksi belajar di kelas. Keuntungan yang diperoleh ialah dengan demonstrasi perhatian siswa lebih terpusat pada pelajaran yang sedang diberikan, kesalahan yang terjadi bila pelajaran itu diceramahkan dapat diatasi melalui pengamatan dan contoh kongkrit sehingga kesan yang diterima siswa lebih mendalam dan tinggal lebih lama pada jiwanya. Jadi dengan demonstrasi siswa dapat partisipasi aktif dan memperoleh pengalaman langsung, serta dapat mengembangkan kecakapannya. Walaupun demikian masih terlihat juga kelemahan, bila alatnya terlalu kecil atau penempatan kurang tepat menyebabkan demonstrasi tidak dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa. Dalam hal ini dituntut pula seorang guru menjelaskan proses berlangsungnya demonstrasi dengan bahasa dan suara yang dapat ditangkap siswa.

Dalam pemakaian teknik mengajar perlu menyertakan teknik yang lain, atau mengkombinasikan dengan yang lain, sehingga mampu mengatasi teknik inti yang sedang dimanfaatkan itu. Quantum learning merupakan perpaduan yang selaras dengan teknik demonstrasi karena menawarkan hal-hal yang dibutuhkan guru, yaitu cara-cara baru memaksimalkan pengajaran melalui perkembangan hubungan, penggubahan belajar dan penyampaian kurikulum. Quantum Learning mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi atau bahan ajar dan memudahkan proses belajar mengajar.

Quantum learning menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar yang dilakukan guru lewat pemanduan unsur seni dan pencapaian terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan oleh guru. Dengan menggunakan metode quantum learning seorang guru akan dapat menggabungkan keistemewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan hasil siswa. Proses belajar mengajar adalah fenomena yang komplek. Segala sesuatunya berarti, setiap kata, pikiran, tindakan dan asosiasi dan sampai sejauh mana guru mengubah lingkungan rancangan pengajaran sejauh itu pula proses belajar berlangsung. Pembelajaran quantum mengubah energi menjadi cahaya (De Porter dan Reardon, 2000: 5). Quantum learning mengubah belajar yang meriah dengan segala nuansanya dan juga menyertakan segala kaitan interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum learning berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar.

Dari uraian di atas peneliti ingin mengetahui sejauhmana perbedaan pembelajaran quantum learning dan demonstrasi terhadap hasil belajar ekonomi.

A.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

“Apakah ada korelasi antara model quantum dengan metode demonstrasi terhadap hasil belajar ekonomi pokok bahasan bentuk-bentuk pasar siswa kelas II SMP Negeri 14 Surabaya?”

 C.  Tujuan Penelitian

                 Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:

“Ingin mengetahui korelasi antara model quantum dengan metode demonstrasi terhadap hasil belajar ekonomi pokok bahasan bentuk-bentuk pasar siswa kelas II SMP Negeri 14 Surabaya”

 D.   Manfaat Penelitian

       Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

  1. Dengan mengetahui keefektifan pelaksanaan penggunaan quantum learning dan metode demonstrasi dalam pembelajaran ekonomi pokok bahasan bentuk-bentuk pasar, diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk pemilihan strategi pembelajaran dalam pembelajaran ekonomi.
  2. Dengan mengetahui efektivitas pelaksanaan pembelajaran ekonomi dapat digunakan sebagai pijakan guru untuk memperhatikan gaya belajar siswa selama pembelajaran berlangsung.
  3. Hasil penelitian ini selanjutnya diharapkan dapat digunakan dalam penelitian lebih lanjut dan dapat memberikan masukan kepada para peneliti berikutnya agar tergerak untuk meneliti faktor-faktor lain tentang penyempurnaan pelaksanaan pengajaran ekonomi.
  1. Hipotesis

Ho =   Tidak ada korelasi antara model quantum dengan metode demonstrasi terhadap hasil belajar ekonomi pokok bahasan bentuk-bentuk pasar siswa kelas II SMP Negeri 14 Surabaya

Ha =   Ada korelasi antara model quantum dengan metode demonstrasi terhadap hasil belajar ekonomi pokok bahasan bentuk-bentuk pasar siswa kelas II SMP Negeri 14 Surabaya.

BAB II

LANDASAN TEORI

A.    Pemahaman Teori

  1. Pengertian Model Quantum Learning

(Deporter, Resrdon, Singer-Nourie, 2000), Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Leaning dengan demikian, adalah penggubahan (mengorkestrasi) bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Di dalam Quantum Leaning terdapat beberapa hal, yaitu :

  1. Asas Utama

Asas Utama dari Quantum Leaning adalah “ Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita”. Maksudnya, mengingatkan kita pada pentingnya memasuki dunia siswa sebagai langkah pertama. Untuk mendapatkan hak mengajar, pertama-tama harus membangun jembatan autentik memasuki kehidupan siswa. Sertifikat mengajar atau dokumen yang mengijinkan mengajar/melatih hanya berarti apabila memiliki wewenang untuk mengajar. Mengajar adalah hak yang harus diraih, dan diberikan oleh siswa, bukan oleh Departemen Pendidikan.

  1. Prinsip-prinsip Quantum Leaning.

Prinsip-prinsip Quantum Leaning terdiri dari : (1) Segalanya Berbicara. Segala lingkungan kelas sehingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar, (2) Segalanya Bertujuan. Semua yang terjadi pada penggubahan, mempunyai tujuan, (3) Pengalaman Sebelum Pemberian Nama. Proses belajar yang baik ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang merekapelajari, (4) Akui Setiap Usaha. Belajar mengandung resiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan.Pada saat mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka, (5) Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi positif dengan belajar.

  1. Model Quatum Leaning.

Model Quantum Leaning hampir samadengan sebuah simponi. Jika Anda menonton sebuah simponi, ada banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman musik Anda. Kita dapat membagi unsur-unsur tersebut menjadi dua kategori: yaitu Konteks dan isi. Konteks adalah latar untuk pengalaman Anda. Konteks merupakan keakraban ruang orkestra itu sendiri (lingkungan). Semangat konduktor dan para pemain musknya (suasana). Keseimbangan instrumen dan musisi dalam bekerjasama (landasan). Interprestasi sang maestro terhadap lembaran musik (rancangan). Unsur-unsur ini terpadu dan kemudian menciptakan pengalaman bermusik yang menyeluruh. Isi berbeda namun sama pentingnya dengan konteks. Anggaplah lembaran musik itu sendiri sebagai isi, not-not nyata pada sebuah halaman, yang lebih dari sekedar not-not  pada sebuah halaman. Salah satu unsur isi adalah bagaimana tiap frase musik dimainkan (penyajian). Isi juga meliputi fasilitas ahli sang maestro terhadap orkestra, memanfaatkan bakat setiap pemain musik dan potensi setiap instrumen.

Keajaiban pengalaman menjadi terbuka karena konteksnya tepat, dan membuat musik menjadi hidup. Saat Anda mengubah kesuksesan siswa, unsur-unsur yang tersusun dengan baik; suasana, lingkungan, landasan, rancangan, penyajian dan fasilitasi.

  1. Mengubah (mengorkestrasi) suasana yang menggairahkan. Meliputi : (1) Kekuatan terpendam Niat, (2) jalinan rasa simpati dan saling pengertian, (3) Keriangan dan ketakjuban, (4) pengambilan resiko, (5) rasa saling memiliki, dan (6) keteladanan.
  2. Mengubah (mengorkestrasi) landasan yang kukuh. Meliputi : (1) Tujuan, (2) Prinsip-prinsip, 8 kunci keunggulan, (3) Keyakinan akan kemampuan pelajar, belajar dan mengajar, (4) Kesepakatan, Kebijaksanaan, Prosedur dan Peraturan, (5) Menjaga komunitas tetap berjalan dan tumbuh – mitra dalam belajar – Penggambaran masa depan.
  3. Menggubah (mengorkestrasi) lingkungan yang mendukung. Meliputi : (1) Lingkungan sekeliling, (2) Alat bantu, (3) Pengaturan bangku (4) Tumbuhan, Aroma, hewan peliharaan, dan unsur organik lainnya, dan (5) musik.
  4. Mengubah (mengorkestrasi) Perancangan pengajaran yang dinamin, Kerangka Perancangan Quantum Leaning (TANDUR), yaitu : Tumbuhan, alami, namai demonstrasikan, ulangi, Rayakan.
  5. Pengaturan Bangku

2.      Mengorkestrasi Lingkungan yang mendukung

Cara mengatur bangku memainkan peran penting dalam pengorkestrasian belajar. Di sebagian besar ruang kelas, bangku siswa dapat disusun untuk mendukung tujuan belajar bagi pelajaran apapun yang diberikan. Anda bebas menyuruh siswa mengatur ulang bangku mereka untuk memudahkan jenis interaksi yang diperlukan. Untuk prestasi siswa, penjelasan guru, penyajian  gambar di papan tulis, dan lain-lain, atur bangku sehingga siswa menghadap ke depan untuk membantu mereka tetap fokus ke depan. untuk kerja kelompok, bangku diputar saling berhadapan. Tujuannya adalah fleksibelitas. Jelajahilah pilihan-pilihan berikut ini : (1) Gunakan setengah lingkaran untuk diskusi kelompok besar yang dipimpin fasilitator, yang menuliskan gagasan pada kertas tulis, whithboard, atau papan tulis (2) Rapatkan bangku ke dinding jika ingin memberikan tugas perseongan dan  mengosongkan pusat ruangan untuk memberi petunjuk kepada kelompok kecil atau mengadakan diskusi kelompok besar sambil duduk di lantai, (3) Jika bisa, ganti bangku tradsional dengan meja dan kursi lipat agar lebih  fleksibel. Susunan bangku yang dapat diubah-ubah menimbulkan sedikit tantangan. Tapi, meskipun bangkunnya tetap tak berubah,pelajaranya tidak ! suruh mereka membalikan badan untuk interaksi kelompok kecil,atau duduk di lantai lorong-lorong bangku,atau di belakang,samping,atau depan ruangan.

  1. Tumbuhan

Saat memikirkan tumbuh-tumbuhan, asosiasi apa yang muncul dalam benak ?

Apakah berfikir tentang kehijauan, kehidupan, pertumbuhan, bunga, cabang biologi dan botani mengajarkan kita bahwa tumbuh-tumbuhan menyediakan oksigen dalam udara kita dan otak kita berkembang karena oksigen.semakin banyak oksigen yang didapatnya,semakin baik otak berfungsi .Gunakan defenbachias untuk memperkaya persedian oksigen dalam kelas. Mimosa memberi efek visual yang indah dan tidak membutuhkan perawatan oleh tangan dingin.Tetapi,mimosa tidak menghasilkan oksigen.Namun,karena mimosa menambah keadaan estetika, penggunaanya paling baik adalah di ruangan dengan sedikit atau tanpa cahaya alami.

  1. Aroma

Ah  ! Wanginya kesuksesan ! Apa hubunganya sukses dengan wangi? Banyak ! Kaitan antara kelenjar pencium dan sistem saraf otonomi cukup kuat. Apa yang kita cium memicu respons seperti kecemasan, kelaparan, ketenagan, defresi, dan seksualitas.seringnya,hari-hari libur memiliki aroma khas,demikian pula berbagai tempat : rumah sakit, ruang loker, dan pantai. Manusia dapat meningkatkan kemampuan berfikir mereka secara kreatif sebanyak 30% saat diberikan wangi bunga tertentu (Hirsch, 1993). tidak aneh ! Daerah penciuman merupakan reseptor bagi endorfin yang menyuruh tanggapan tubuh menjadi merasa senang dan sejatera.Apa artinya bagi kelas ? Sedikit penyemprotan aroma berikut akan meningkatkan kewaspadaan mental: mint, kemangi, jeruk, kayu manis, dan rosemary. Lavendel, kamamil, jeruk dan mawar memberikan ketenangan dan relaksi (Lavabre, 1990).

  1. Musik

Musik berpengaruh pada guru dan pelajar, sebagai seorang guru, dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak. Musik merangsang, meremajakan, dan memperkuat belajar, baik secara kebanyakan siswa memang mencintai musik.anda mungkin bertanya,” Mengapa musik? Sudah banyak yang harus saya pikirkan”Irama,ketukan,dan keharmonisan musik mempengaruhi fisiologi manusia terutama gelombang otak dan detak jantung-di samping membangkitkan perasaan dan ingatan (Lozanov, 1979). Musik dapat membantu siswa masuk keadaan belajar optimal, Musik juga mumungkinkan membangun hubungan dengan siswa melalui musik.

  1. Poster Ikon

Ciptakan ikon atau simbol untuk setiap konsep utama yang di ajarkan dan gambarkan di atas selembar kertas berukuran 25 x 40 cm atau lebih besar pajang poster-poster ikon tersebut du depan kelas di atas pandangan mata, memberikan gambaran keseluruhan,tinjauan global dari bahan pelajaran.Untuk melihat “konsep-konsep samar” pelajar harus mendongak. Ini akan membantu penciptaan, penyimpanan, dan pencairan informasi secara visual. Pasang poster di tempat tersebut sampai unit pelajaran yang bersankutan selesai lalu, pindahkan kebagian dinding yang lain,agar tempatnya dapat digunakan untuk poster-poster unit berikutnya.Ikon-ikon unit yang sebelumnya yang teap dipajang akan menjadi pengingat sadar untuk informasi dari awal pelajaran hingga saat itu.jika siswa ingin mengingat isi pelajaran, bantulah dengan cara memasang posternya, supaya mereka dapat mengakses memori visual mereka setiap kali mereka melihatnya setelah pelajar menjadi terbiasa dengan konsep-konsep pokok dalam bentuk gambar, mintalah mereka untuk membuat poster untuk unit-unit mendatang. Kita dapat mengambil selangkah lebih jauh dan menggunakan poster ikon untuk mengintip “acara yang akan datang” Tempatkan poster ikon unit selanjutnya pada dinding sebelah kanan, tempat untuk bahan-bahan pelajaran yang akan datang.jika materi di tampakan dengan cara demikian, minat siswa akan terpicu: Tentang apa ya, kira-kira poster yang itu ?”

  1. Poster Afirmasi

Buatlah (atau lebih baik mintalah siswa membuat) poster motivasi afirmasi dengan pesan-pesan seperti,” Aku mampu mempelajarinya! ”dan” Aku menjadi semakin  pintar dengan setiap tantangan baru”Tempatkan poster-poster itu di dinding samping setinggi mata orang duduk. Perhatikan bahwa poster ini setinggi telinga.pada saat siswa memandang sekeliling ruangan, poster-poster tersebut “mengucapkan” afirmasi seperti dialog internal, sehingga menguatkan keyakinan tentang belajar dan isi yang diajarkan.

B.     Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi walaupun merupakan metode yang paling sederhana, untuk menggunakanya seorang guru hendaknya benar-benar memahaminya sebelum menggunakanya. Pengertian, keuntungan dan kekurangan, serta prosedur pemakaian metode demonstrasi dapat membantu pemahaman terhadap metode demonstrasi.

  1. Pengertian Metode Demonstrasi

Cardille (1986) mengemukakan bahwa demontasi adalah suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan sebuah tindakan atau prosedur yang digunakan.

Metode ini disertai dengan penjelasan, ilustrasi, dan pernyataan lisan (oral)atau peragaan (visual) secara tepat (dalam Canei, 1986 : 38). Dari batasan ini, nampak bahwa metode ini ditandai adanya kesengajaan untuk mempertunjukkan tindakan/atau penggunaan prosedur yang disertai penjelasan, ilustrasi, atau pernyataan secara lisan maupun visual

Winarno mengemukan bahwa metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas (Winarno, 1980 : 87). Batasan yang dikemukakan oleh Winarno memberikan kepada kita, bahwa untuk mendemonstrasikan adalah suatu proses.

Dengan mempedulikan batasan metode demonstrasi seperti dikemukakan oleh Cardille dan Winarno, maka dapat dikemukakan bahwa metode demonstrasi merupakan format interaksi belajar mengajar yang sengaja mempertunjukkan atau memperagakan tindakan, proses, atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh siswa atau sebagian siswa. Dengan batasan metode demonstrasi ini, menunjukkan adanya tuntutan kepada guru untuk merencanakan penerapanya, memperjelas demonstrasi secara oral ataupun visual, dan menyediakan peralatan yang diperlukan.

2.   Tujuan Penerapan Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi barangkali lebih sesuai untuk mengajarkan keterampilan tangan dimana gerakan-gerakan jasmani dan gerakan-gerakan dalam memegang sesuatu benda akan dipelajari, atau pun untuk mengajar hal-hal yang bersifat rutin. (Staton, 1978 : 91) Dengan kata lain, metode demonstrasi bertujuan untuk mengajarkan keterampilan – keterampilan fisik daripada keterampilan-keterampilan intelektual.

Cardille mengemukakan bahwa metode demonstrasi dapat digunakan untuk:

a)      Mengajar siswa tentang bagaimana melakukan sebuah tindakan atau menggunakan suatu prosedur atau produk baru.

b)      Meningkatkan kepercayaan bahwa suatu prosedur memungkinkan bagi siswa melakukanya.

c)      Meningkatkan perhatian dalam belajar dan penggunaan prosedur (dalam Canei, 1986 : 38).

Dari berbagai tujuan penerapan metode demonstrasi yang dikemukakan oleh Staton, Cardille, dan Winarno, dapat diindentifikasi tujuan penerapan metode demonstrasi yang mencakup:

a)      Mengajar siswa tentang suatu tindakan, proses, atau prosedur keterampilan-keterampilan fisik/motorik.

b)      Mengembangkan kemampuan pengamatan pendengaran dan penglihatan para siswa secara bersama-sama.

c)      Mengkonkretkan informasi yang disajikan.

  1. Keunggulan dan Kekurangan Metode Demonstrasi

Dengan mempertunjukkan atau memperagakan suatu tindakan, proses, atau prosedur, maka metode demonstrasi memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut:

a)      Memperkecil kemungkinan salah bila dibandingkan kalau siswa hanya membaca atau mendengar penjelasan saja, karena demonstrasi memberikan gambaran kongkrit yang memperjelas perolehan belajar siswa dari hasil pengamatanya.

b)      Memungkinkan para siswa terlibat secara langsung dalam kegiatan demonstrasi, sehingga memberikan kemungkinan yang benar bagi para siswa memperoleh pengalaman-pengalaman langsung. Peluang keterlibatan siswa memberikan kesempatan siswa mengembangkan kecakapanya dan memperoleh pengakuan dan penghargaan dari teman-temanya.

c)      Memudahkan pemusatan perhatian siswa kepada hal-hal yang dianggap penting, sehingga para siswa benar-benar memberikan perhatian khusus kepada hal tersebut. Dengan kata lain, perhatian siswa lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar dan tidak tertuju kepada yang lain.

d)     Memungkinkan para siswa mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum mereka ketahui selama demonstrasi berjalan, jawaban dari pertanyaan dapat disampaikan oleh guru pada saat itu pula.

Selain kelebihan atau keunggulan, metode demonstrasi memiliki kekurangan-kekurangan sebagai berikut:

a)      Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang teliti dan penerapanya memerlukan waktu yang lama.

b)      Demonstrasi menuntut peralatan yang ukuranya yang memungkinkan pengamatan secara tepat oleh siswa pada saat digunakan.

c)      Demonstrasi mempersyaratkan adanya kegiatan lanjutan berupa peniruan oleh para siswa terhadap hal-hal yang didemonstrasikan.

d)     Persiapan yang kurang teliti akan menyebabkan siswa melihat suatu tindakan, proses, atau prosedur yang didemonstrasikan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

1.      Prosedur Pemakaian Metode Demonstrasi

Cardille mengutarakan bahwa suatu demonstrasi yang baik akan mencakup:    (a) Suatu penjelasan (explanation),(b)Jalinan pertanyaan-pertanyaan,              (c) Lembar-lembar instruksi, (d) Alat bantu visual, (e) Instruksi keamanan,       (f) Periode diskusi atau tanya-jawab (dalam Canei, 1986 : 39)

Hal-hal yang disebutkan oleh Cardille di atas perlu dipedulikan oleh para guru yang akan memakai metode demonstrasi langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam memakai metode demonstrasi adalah sebagai berikut :

  1. Persiapan pemakaian metode demonstrasi, meliputi :

1)      Mengkaji kesesuaian metode terhadap tujuan yang akan dicapai

2)      Analisis kebutuhan peralatan untuk demonstrasi

3)      Mencoba peralatan dan analisis kebutuhan waktu, dan

4)      Merancang garis-garis besar demonstrasi

  1. Pelaksanaan pemakaian metode demonstrasi, meliputi :

1)      Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk demonstrasi,

2)      Memberikan pengantar demonstrasi untuk mempersiapkan para siswa mengikuti demonstrasi, berisikan penjelasan tentang prosedur dan instruksi keamanan demonstrasi,

3)      Memeragakan tindakan, proses, atau prodsedur yang disertai penjelasan, ilustrasi dan pertanyaan.

Tindak lanjut pemakaian metode demonstrasi, meliputi :

a)   Diskusi tentang tindakan, proses, atau prosedur yang baru saja didemonstrasikan, dan

b)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba melakukan segala hal yang telah didemonstrasikan.

2.      Teknik  Demonstrasi

Teknik lain yang hampir sejenis dengan eksperimen ialah demonstrasi. Tetapi siswa tidak melakukan percobaan ; hanya melihat saja apa yang dikerjakan oleh guru. Jadi demonstrasi adalah cara mengajar di mana seorang instrujtur / atau tim guru meunjukkan, memperlihatkan sesuatu proses misalnya merebus sampai mendidih 100° C, sehingga seluruh siswa dalam kelas dapat melihat, mengamati ; mendengar mungkin meraba-raba dan merasakan proses yang dipertunjukkan oleh guru tersebut.

Dengan demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam ; sehingga  membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat mengamati dan memperhatikan pada apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung.

Adapun penggunan teknik demonstrasi mempunyai tujuan agar siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu misalnya penggunaan kompor untuk mendidihkan air, cara membuat sesuatu misalnya membuat kertas ; dengan demonteasi siswa dapat mengamatu bagian-bagian dari sesuatu benda atau alat seperti bagian tubuh manusia ;  atau bagian dari mesin jahit. Juga siswa dapat menyaksikan kerjanya suatu alat atau mesin seperti penggunaan gunting dan jalanya mesin jahit. Bila siswa  melakukan sendiri demonstrasi tersebut, maka ia dapat mengerti juga cara menggunakan suatu alat itu seperti menggunakan gunting untuk memotong kain. Dengan demikian siswa akan mengerti cara-cara penggunaan sesuatu alat atau perkakas, atau suatu mesin, sehingga mereka dapat  memilih dan memperbandingkan cara yang baik, juga mereka akan mengetahui kebenaran dari sesuatu teori didalam prakek. Misalnya cara memasak roti yang terbaik.

Bila anda melaksanakan teknik demonstrasi agar bisa berjalan efektif, maka perlu memperhatikan hal sebagai berikut:

  1. Guru harus mampu menyusun rumusan tujuan instruksional, agar dapt memberi motivasi yang kuat pada siswa umtuk belajar.
  2. Pertimbangkanlah baik-baik apakah pilihan teknik anda mampu menjamin tercapainya tujuan yang telah anda rumuskan.
  3. Amatilah apakah jumlah siswa memberi kesempatan untuk suatu demonstrasi yang berhasil, bila tidak ada harus mengambil kebijaksanaan lain.
  4. Apaka anda telah meneliti ala-alat dan bahan yang akan digunakan mengenai jumlah, kondisi dan tempatnya. Juga anda perlu mengenal baik-baik, atau telah mencoba terlebih dahulu ; agar demonstrasi itu berhasil
  5. Harus sudah menentukan garis besar langkah-langkah yang akan dilakukan.
  6. Apakah tersedia waktu yang cukup, sehingga anda dapat memberi keterangan bila perlu, dan siswa bisa bertanya.
  7. Selama demonstrasi berlangsung guru harus memberi kesempatan pada siswa untuk mengamati dengan baik dan bertannya.
  8. Anda perlu mengadakan evaluasi apakah demonstrasi yang anda lakukan itu berhasil; dan bila perlu demonstrasi bisa diulang.

Penggunaan teknik demonstrasi sangat menunjang proses interaksi mengajar belajar dikelas. Keuntungan yang diperoleh ialah: dengan demonstrasi perhatian siswa lebih dapat terpusatkan pada pelajaran yang sedang diberikan, kesalahan-kesalahan yang terjadi bila pelajaran itu diceramahkan dapat diatasi melalui pengamatan dan contoh kongrit. Sehingga kesan yang diterima siswa lebih mendalam dan tinggal lebih lama pada jiwanya. Akibat selanjutnya memberikan motivasi yang kuat untuk siswa agar lebih giat belajar. Jadi dengan demonstrasi itu siswa dapat partisipasi aktif, dan memperoleh pengalaman langsung, serta dapat mengembangkan kecakapanya walaupun demikian kita masih melihat juga kelemahan teknik ini ialah :

Bila alatnya terlalu kecil, atau penempatan yang kurang tepat, menyebabkan demonstrasi itu tidak dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa. Dalam hal ini dituntut pula guru harus mampu menjelaskan proses berlangsungnya demonstrasi; dengan bahasa dan suara yang dapat ditangkap oleh siswa. Juga bila waktu tidak tersedia dengan cukup; maka demonstrasi akan berlangsung terputus-putus, atau tidaj dijalankan tergesa-gesa; sehingga hasilnya memuaskan. Dalam demonstrasi bila siswa tidak diikutsertakan, maka proses demonstrasi akan kurang dipahami oleh siswa, sehingga kurang berhasil adanya demonstrasi itu.

Maka kadang-kadang dalam pemakaian teknik mengajar itu anda perlu menyertai dengan teknik yang lain; sehingga mampu mengatasi teknik inti yang sedang dimanfaatkan itu.

Guru dalam kegiatan belajar mengajar seringkali harus menunjukkan dan memeragakan keterampilan fisik atau kegiatan yang. Untuk melakukan hal tersebut, guru dapat memakai demonstrasi.

Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana dan amat bersahaja. Metode ini adalah metode pengajar yang pertama kali digunakan oleh manusia sebagaimana yang dilakukan oleh manusia gua yaitu pada saat mereka menambahkan kayu untuk memperbesar unggun api, sementara anak-anak mereka memperhatikan dan menirukanya ( Staton, 1978 : 91).

 C.   Hasil Belajar

Hasil belajar adalah hasil dari suatu proses belajar yang dilakukan seseorang. Dlam pengertian ini hasil yang yang diperoleh adalah hasil kegiatan dalam belajar siswa dalam bentuk  pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan alam pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar ( guru ). Seperti yang dikemukakan oleh sudjana ( 1989 : 45) mmemberikan pengertian, hasil belajar adalah proses verbal dari fakta ataupun proses tingkah laku secara fisik yang berupa memori atau ingatan. Ia juga menambahkan hasil belajar adalah proses hubugan guru-siswa di dalam kelas yang membawa implikasi terhadap pengembangan diri siswa secara jelas., pembentukan memori (ingatan) pada siswa dan pembentukan pemahaman pada siswa.

Menurut Sukmadinata (1997: 196) tutjuan utama kegiatan guru adalah mendorong dan meningkatkan kemampuan sebagai hasil belajar, dengan cara itu guru dapat mempengaruhi perubahan tingkah laku siswa. Untuk mencapai siswa agar dapat berhasil dapat diperlukan hubungan timbal balik guru dan siswa. Guru perlu menyenangi siswanya, bersikap menerima, mengerti dan membatu. Sebaliknya siswa harus bisa menerima, menyenangi dan menghormati gurunya. Kesukaan dan sikap positif terhadap guru akan meningkatkan hasil belajar mereka. Hasil dan kemajuan belajar yang dicapai siswa ditentukan oeh bentuk hubungan guru dan orang tua siswa juga hubungan guru dengan siswa juga menjadi syarat mutlak.

Pandangan skinner dalam Dimyati (1998 : 9)Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar, maka responya akan menjadi lebih, sebaliknya jika ia tidak belajar maka responya menurun.

Sedangkan menurut Gagne dalam Mudjiono (198: 10) belajar merupakan kegiatan yang komplek, hasil belajar merupakan kapabilitas yaitu setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan , sikap dan nilai.

Mouli dalam Sudjana (2001: 5) belajar asalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman. Pendapat serupa dikemukakan oleh Kimble dan Garmezi dalam sudjana (2001: 5) belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen, terjadi sebagi hasil dari pengalaman. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses yang ditandai adanya  perubahan-perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagi hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti berubah berpengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu si belajar.

Untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan jalan membandingkan hasil tes awal yang diperoleh siswa dengan tes akhir yang diperoleh siswa setelah pembelajaran selesai. Bila hasil tes akhir skornya lebih tinggi dari skor tes awal berarti proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Perbedaan hasil skor yang nyata sebagai akibat pembelajaran yang terjadi karena perlakuan guru.

Seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1989: 45) memberikan pengertian hasil belajar adalah:

“Proses verbal dari fakta ataupun proses tingkah laku secara phisik yang berupa memori atau ingatan yang bersifat mentalistik, ia juga menambahkan, hasil belajar adalah proses hubungan antara guru-siswa di dalam kelas yang membawa implikasi terhadap pengembangan diri siswa secara bebas, pembentukan memori (ingatan) pada siswa, dan pembentukan pemahaman pada siswa.”

Seorang akan berprestasi dalam belajar apabila ada keinginan untuk belajar, Mouly dalam Sudjana (2001: 5) belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya pengalaman.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Kimble dan Garmezi dalam Sudjana (2001: 5) belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen terjadi dari prestasi pengalaman.

Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989: 14) dalam meningkatkan prestasi belajar perlu adanya perbaikan proses pengajaran (metode pengajaran). Jadi kondisi pengajaran akan menentukan kualitas prestasi belajar siswa. Dikelas kondisi eksternal untuk belajar adalah strategi pembelajaran yang ditentukan oleh guru untuk membelajarkan siswa. Siswa dikatakan belajar melalui kegiatan pembelajaran dari guru jika belajar yang terjadi adalah lebih besar daripada yang dapat terjadi bila guru tidak melakukan kegiatan sama sekali. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa proses pembelajaran sesungguhnya terjadi bila ada kegiatan yang dilakukan oleh guru. Logikanya pada proses pembelajaran harus ada nilai tambah (peningkatan) pada prestasi belajar yaitu dari prestasi proses dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh guru. Seseorang akan berprestasi dalam belajar, kalau pada dirinya ada keinginan untuk belajar. Belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu dengan cara melihat, mengamati, memahami sesuatu. Hubungan antara guru dan siswa dalam kelas membawa implikasi terhadap kadar prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Prestasi belajar tersebut sebagai akibat hubungan guru – siswa dalam mengembangkan dirinya secara bebas, pembentukan memori (ingatan) pada siswa, dan pembentukan pemahaman pada siswa.

Pada dasarnya belajar adalah suatu proses yang ditgurui dengan adanya perubahan-perubahan pada diri seseorang, perubahan seperti : pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu belajar.

D. Hubungan Model Quantum Learning dan Demonstrasi Terhadap Hasil Belajar Ekonomi

Quantum adalah: Interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Learning adalah penggubahan (mengorkestrasi) bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa yang menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Apabila quantum learning dikorelasikan dengan metode demonstrasi akan menggairah si belajar.

Metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas (Winarno, 1980 : 87). Batasan yang dikemukakan oleh Winarno memberikan kepada kita, bahwa untuk mendemonstrasikan adalah suatu proses.

Dengan mempedulikan batasan metode demonstrasi seperti dikemukakan oleh Cardille dan Winarno, maka dapat dikemukakan bahwa metode demonstrasi merupakan format interaksi belajar mengajar yang sengaja mempertunjukkan atau memperagakan tindakan, proses, atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh siswa atau sebagian siswa. Dengan batasan metode demonstrasi ini, menunjukkan adanya tuntutan kepada guru untuk merencanakan penerapanya, memperjelas demonstrasi secara oral ataupun visual, dan menyediakan peralatan yang diperlukan.

Minat berhubungan erat dengan motivasi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat, sehingga tepatlah bila minat merupakan alat motivasi yang pokok (Djamarah, 1994 : 48) Proses belajar akan berjalan lancar bila disertai minat, oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami siswa, minat akan mempengaruhi hasil belajar dari suatu proses belajar yang dilakukan seseorang. Dalam pengertian ini hasil yang yang diperoleh adalah hasil kegiatan dalam belajar siswa dalam bentuk  pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh pengajar (guru). Seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1989: 45) memberikan pengertian, hasil belajar adalah proses verbal dari fakta ataupun proses tingkah laku secara fisik yang berupa memori atau ingatan. Ia juga menambahkan hasil belajar adalah proses hubugan guru-siswa di dalam kelas yang membawa implikasi terhadap pengembangan diri siswa secara jelas., pembentukan memori (ingatan) pada siswa dan pembentukan pemahaman pada siswa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *