KORELASI ANTARA INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN NILAI KAPASITAS VITAL PARU PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT TAHUN 2014

Studi terhadap Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Angkatan
2011-2013

Karya Tulis Ilmiah
Diajukan guna memenuhi sebagian syarat
untuk memperoleh derajat Sarjana Kedokteran
Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Oleh
Zaid Hizbullah Abdul Ghafar Zein
I1A011011

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
BANJARMASIN

Desember, 2014

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, meskipun malnutrisi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama, terutama di kalangan masyarakat miskin, tetapi prevalensi obesitas muncul sebagai masalah baru bagi kesehatan masyarakat. Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional pada tahun 2013 menunjukan bahwa kelebihan gizi ditemukan di semua kelompok usia. Prevalensi anak balita kurang gizi sekitar 12,1 % dan 11,9 % yang kelebihan gizi. Pada anak usia 6-12 tahun 11,2% kekurangan gizi, sedangkan kelebihan gizi sekitar 18,2%. Pada anak usia 13-15 tahun, prevalensi kekurangan gizi 11,1% dan kelebihan gizi hanya 10,8%. Pada usia dewasa prevalensi gizi kurang menjadi 8,7% dan kelebihan gizi meningkat mencapai 28,9 % untuk kegemukan dan obesitas (1).
Status gizi dapat dinilai secara absolut dengan cara mengukur indeks massa tubuh (IMT), dimana berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter. Orang dewasa dengan IMT < 18,5 dianggap kurus, IMT ≥ 18,5 – < 24,9 dianggap normal, IMT ≥ 25,0 – < 30,0 dianggap kelebihan berat badan, dan IMT ≥ 30,0 dianggap sebagai obesitas (2).
Indeks massa tubuh merupakan variabel independen yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran spirometri. Peningkatan IMT perlu diperhatikan untuk mengevaluasi efek pada fungsi paru. Pada beberapa penelitian menyimpulkan bahwa peningkatan IMT memberikan efek yang signifikan terhadap volume paru, khususnya pada volume cadangan ekspirasi (3,4).
Obesitas dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan peningkatan gejala pernapasan bahkan pada individu tanpa obstruksi jalan napas. Efek fisiologis utama dari obesitas adalah berkurangnya penyesuaian sistem pernapasan, peningkatan kinerja dan jumlah oksigen pernapasan, serta peningkatan penutupan saluran pernapasan bawah (5).
Orang yang memiliki berat badan kurang atau kurus sangat erat kaitannya dengan malnutrisi. Hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan pada massa otot pernapasan, kekuatan, daya tahan, serta mekanisme pertahanan sistem imun paru sehingga dapat mempengaruhi fungsi paru (6).
Menurut Ristianingrum et al, IMT dengan kapasitas vital memberikan korelasi positif dengan angka signifikansi p=0,015. Sedangkan menurut penelitian Jones et al menyatakan hasil yang berbeda yaitu peningkatan satu unit IMT akan menyebabkan penurunan 0,5% pada kapasitas vital. Hal senada juga diungkapkan El-Baz. et al bahwa kapasitas vital memiliki korelasi negatif dengan IMT (7,8,9).
Penelitian yang berkaitan dengan fungsi paru sudah dilakukan beberapa kali yang berhubungan dengan status gizi seperti halnya yang dilakukan oleh Watson et al (10) dan Piper et al (11). Namun, penelitian yang secara langsung berhubungan dengan IMT dirasa masih sedikit. Kesimpulan yang didapatkan dalam beberapa penelitian juga masih terasa kurang dan adanya perbedaaan pada beberapa hasil penelitian yang kemudian menimbulkan kerancuan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai korelasi antara IMT dengan fungsi paru khususnya kapasitas vital paru di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian yaitu, apakah terdapat korelasi antara IMT dengan kapasitas vital paru pada mahasiswa FK UNLAM angkatan 2011-2013?

Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara IMT dengan kapasitas vital paru pada mahasiswa FK UNLAM angkatan 2011-2013.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah:
Menghitung IMT mahasiswa FK UNLAM angkatan 2011-2013.
Mengukur kapasitas vital paru mahasiswa FK UNLAM angkatan 2011-2013.
Menganalisa korelasi antara IMT dengan kapasitas vital paru pada mahasiswa FK UNLAM angkatan 2011-2013.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti, mahasiswa, masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi penetili, diharapkan dapat memberikan data tentang hubungan antara IMT dengan fungsi paru pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat sehingga bisa digunakan untuk penelitian selanjutnya. Bagi mahasiswa, diharapkan dapat memotivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kebugaran sehingga mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Bagi masyarakat, diharapkan dapat menambah wawasan tentang hubungan antara IMT dengan fungsi paru sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, diharapkan dapat menambah informasi ilmiah tentang hubungan antara IMT dengan fungsi paru.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Pernafasan
Sistem pernapasan merupakan saluran penghantar udara yang terdiri dari beberapa organ dasar seperti hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan paru-paru. Organ-organ ini bekerja sama dalam menerima udara bersih, pergantian udara dari darah, dan mengeluarkan udara yang telah dimodifikasi (12).
Sistem pernapasan dapat dibagi menjadi 2 bagian tergantung fungsinya,yaitu konduksi, sebagai bagian yang berfungsi dalam proses penghantaran dan bagian respiratorik yang terdiri atas alveoli dan regio distal lainnya yang berfungsi dalam pertukaran gas. Organ-organ respirasi dapat dibagi lagi menurut letaknya, yaitu upper respiratory tract yang dimulai dari hidung hingga laring dan lower respiratory tract yang dimulai dari trakea, bronkus, bronkiolus, dan paru-paru (12).

Gambar 2.1 Sistem Pernapasan (13)

Fisiologi Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan mempunyai fungsi utama untuk menyediakan oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) dari tubuh. Fungsi ini merupakan fungsi yang vital bagi kehidupan. Oksigen dibutuhkan dalam metabolisme sel untuk menghasilkan energi bagi tubuh yang dipasok terus-menerus, sedangkan karbondioksida merupakan bahan toksik yang harus segera dikeluarkan dari tubuh. Bila CO2 menumpuk di dalam darah akan menyebabkan penurunan pH sehingga dapat menimbulkan keadaan asidosis yang mengganggu fungsi tubuh dan bahkan dapat menyebabkan kematian (14).
Proses pernapasan berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu:
Ventilasi paru, yaitu pertukaran udara antara atmosfer dan alveolus Paru
Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah
Pengangkutan oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan tubuh ke dan dari sel jaringan tubuh (12).
Udara bergerak masuk dan keluar paru karena adanya selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Diantaranya perubahan tekanan intrapulmonar, tekanan intrapleural, dan perubahan volume paru (13).
Keluar masuknya udara pernapasan terjadi melalui 2 proses mekanik, yaitu:
Inspirasi
Proses aktif kontraksi otot-otot pernafasan untuk menaikan volume intratoraks, paru-paru ditarik dengan posisi yang lebih mengembang, tekanan dalam saluran pernapasan menjadi negatif dan udara mengalir ke dalam paru-paru.
Ekspirasi
Proses pasif dimana elastisitas paru (elastic recoil) menarik dada kembali ke posisi ekspirasi, tekanan recoil paru-paru dan dinding dada seimbang, tekanan dalam saluran pernapasan menjadi sedikit positif sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru (15).

Parameter Fungsi Paru
Volume Paru
Ada empat jenis volume paru, yaitu:
Volume tidal, yaitu jumlah udara yang dihirup atau dihembuskan dalam satu siklus pernapasan normal. Besarnya kira-kira 500 ml pada rata-rata orang dewasa.
Volume cadangan inspirasi, yaitu jumlah maksimal udara yang masih dapat dihirup setelah akhir inspirasi kuat. Biasanya mencapai 3.000 ml.
Volume cadangan ekspirasi, yaitu jumlah maksimal udara yang masih dapat dihembuskan sesudah akhir ekspirasi kuat. Jumlahnya sekitar 1.100 ml.
Volume residu, yaitu jumlah udara yang masih ada di dalam paru sesudah melakukan ekspirasi maksimal atau ekspirasi yang paling kuat. Volume tersebut ± 1.200 ml (13).
2. Kapasitas Paru
Peristiwa dalam siklus paru mencakup dua atau lebih nilai volume paru. Kombinasi ini disebut kapasitas paru, yang dijelaskan sebagai berikut:
Kapasitas inspirasi sama dengan volume tidal ditambah volume cadangan inspirasi. Ini adalah jumlah udara (kira-kira 3.500 ml) yang dapat dihirup oleh seseorang, dimulai pada tingkat ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimal.
Kapasitas residu fungsional sama dengan volume cadangan ekspirasi ditambah volume residu. Ini adalah jumlah udara yang tersisa dalam paru pada akhir ekspirasi normal (kira-kira 2.300 ml).
Kapasitas vital sama dengan volume cadangan inspirasi ditambah volume tidal dan volume cadangan ekspirasi. Ini adalah jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan oleh seseorang dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya (kira-kira 4.600 ml).
Kapasitas paru total adalah volume maksimum yang dapat mengembangkan paru sebesar mungkin dengan inspirasi sekuat mungkin (kira-kira 5.800 ml). Jumlah ini sama dengan kapasitas vital ditambah volume residu (13).
Semua volume dan kapasitas paru pada wanita 25% lebih kecil dibandingkan dengan pria. Kapasitas vital rata-rata pria dewasa kira-kira 4,8 liter sedangkan wanita dewasa 3,1 liter. Pengukuran kapasitas vital paru seringkali digunakan secara klinis sebagai indeks fungsi paru. Nilai tersebut memberikan informasi mengenai kekuatan otot-otot pernapasan serta beberapa aspek fungsi pernapasan lainnya (15).

Gambar 2.2 Volume dan Kapasitas Paru (13)

Pengukuran Faal Paru
Pemeriksaan faal paru sangat dianjurkan bagi tenaga kerja, yaitu dengan menggunakan spirometer, karena pertimbangan biaya yang murah, ringan, praktis dibawa kemana-mana, akurasinya tinggi, cukup sensitif, tidak invasif dan dapat memberi sejumlah informasi yang handal. Dari berbagai pemeriksaan faal paru, yang sering dilakukan adalah:
Kapasitas Vital (VC) adalah volume udara maksimal yang dapat dihembuskan setelah inspirasi maksimal. Ada dua macam kapasitas vital paru berdasarkan cara pengukurannya, yaitu vital capacity (VC) dengan subjek tidak perlu melakukan aktivitas pernapasan dengan kekuatan penuh dan forced vital capacity (FVC), subjek melakukan aktivitas pernapasan dengan kekuatan maksimal.
Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) merupakan besarnya volume udara yang dikeluarkan dalam satu detik pertama. Lama ekspirasi pertama pada orang normal berkisar antara 4-5 detik dan pada detik pertama orang normal dapat mengeluarkan udara pernapasan sebesar 80% dari nilai VC (13).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fungsi Paru
Jenis kelamin. Kapasitas vital rata-rata pria dewasa muda lebih kurang 4,6 liter dan perempuan muda kurang lebih 3,1 liter. Volume paru pria dan wanita berbeda dimana kapasitas paru total pria 6,0 liter dan wanita 4,2 liter.
Posisi tubuh. Nilai kapasitas fungsi paru lebih rendah pada posisi tidur dibandingkan posisi berdiri. Pada posisi tegak, ventilasi persatuan volume paru di bagian basis paru lebih besar dibandingkan dengan bagian apeks.
Kekuatan otot-otot pernapasan. Pengukuran kapasitas fungsi paru bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kekuatan otot-otot pernapasan. Apabila nilai kapasitas normal tetapi nilai FEV1 menurun, maka dapat mengakibatkan rasa nyeri, contohnya pada penderita asma.
Ukuran dan bentuk anatomi tubuh. Obesitas meningkatkan resiko penurunan kapasitas residu ekspirasi dan volume cadangan ekspirasi dengan semakin beratnya tubuh.
Proses penuaan atau bertambahnya umur. Umur meningkatkan resiko mortalitas dan morbiditas. Selain itu juga dapat terjadi penurunan volume paru statis, arus puncak ekspirasi maksimal, daya regang paru, dan tekanan O2 paru. Aktivitas refleks saluran napas berkurang pada orang yang lanjut usia, akibatnya kemampuan daya pembersih saluran napas juga berkurang
Daya pengembangan paru. Peningkatan volume dalam paru menghasilkan tekanan positif, sedangkan penurunan volume dalam paru menimbulkan tekanan negatif. Perbandingan antara perubahan volume paru dengan satuan perubahan satuan tekanan udara menggambarkan compliance jaringan paru dan dinding dada.
Masa kerja dan riwayat pekerjaan. Semakin lama tenaga kerja bekerja pada lingkungan yang menyebabkan gangguan kesehatan, maka penurunan fungsi paru pada orang tersebut akan bertambah dari waktu ke waktu.
Riwayat penyakit paru.
Olahraga rutin. Kebiasaan olah raga akan meningkatkan denyut jantung, fungsi paru, dan metabolisme saat istirahat.
Kebiasaan merokok. Tembakau merupakan penyebab penyakit gangguan fungsi paru-paru yang bersifat kronis dan obstruktif, yang pada akhirnya dapat menurunkan daya tahan tubuh (15).

Gangguan fungsi paru
Gangguan fungsi ventilasi paru menyebabkan jumlah udara yang masuk ke dalam paru-paru akan berkurang dari normal. Gangguan fungsi ventilasi paru yang utama adalah:
Restriksi, yaitu penyempitan saluran paru-paru yang diakibatkan oleh bahan yang bersifat alergen seperti debu, spora jamur, dan sebagainya, yang mengganggu saluran pernapasan.
Obstruksi, yaitu penurunan kapasitas fungsi paru yang diakibatkan oleh penimbunan debu-debu sehingga menyebabkan penurunan kapasitas fungsi paru.
Kombinasi obstruksi dan restriksi (mixed), yaitu terjadi juga karena proses patologi yang mengurangi volume paru, kapasitas vital dan aliran udara, yang juga melibatkan saluran napas. Rendahnya FEVl/FVC (%) merupakan suatu indikasi obstruktif saluran napas dan kecilnya volume paru merupakan suatu restriktif (15).

IMT dan Hubungannya dengan Fungsi Paru
Indeks massa tubuh (IMT) merupakan kalkulasi angka dari berat dan tinggi badan seseorang. Nilai IMT didapatkan dari berat dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi dalam meter (kg/m2). Nilai dari IMT pada orang dewasa tidak bergantung pada umur maupun jenis kelamin (16).
Menurut WHO (2004) berat badan dan Obesitas dapat diklasifikasikan berdasarkan IMT dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh WHO
Klasifikasi Nilai cut off IMT (kg/m2)
Utama Tambahan
Berat badan kurang Kurus berat Kurus sedang 16.00 – 16.99 16.00 – 16.99
Kurus ringan 17.00 – 18.49 17.00 – 18.49
Normal 18.50 – 24.99 18.50 – 22.99
23.00 – 24.99
Berat badan lebih ≥25.00 ≥25.00
Pre Obesitas 25.00 – 29.99 25.00 – 27.49
27.50 – 29.99
Obesitas ≥30.00 ≥30.00
Obesitas kelas I 30.00 – 34.99 30.00 – 32.49
32.50 – 34.99
Obesitas kelas II 35.00 – 39.99 35.00 – 37.49
37.50 – 39.99
Obesitas kelas III ≥40.00 ≥40.00

Kriteria di atas merupakan kriteria internasional yang bernilai sama untuk pria dan wanita. Namun, berdasarkan meta-analisis terdapat perbedaan nilai cut off IMT pada kelompok etnik yang berbeda karena banyak bukti yang berhubungan antara IMT, persentase lemak tubuh, dan distribusi lemak yang berbeda pada populasi yang berbeda. Pada etnik Amerika berkulit hitam memiliki IMT lebih tinggi 4,5 kg/m2 dibandingkan dengan etnik kaukasia. Sebaliknya, nilai IMT bangsa Cina, Ethiopia, Indonesia, dan Thailand masing-masing adalah 1.9, 4.6, 3.2, dan 2.9 kg/m2 lebih rendah daripada etnik Kaukasia. Hal ini memperlihatkan adanya nilai cut off IMT untuk obesitas yang spesifik untuk populasi tertentu (17).
Obesitas menyebabkan berbagai penyakit terhadapat fungsi pernapasan dalam bentuk perubahan mekanisme pernapasan, penurunan kekuatan otot pernapasan, penurunan pertukaran gas dalam paru, rendahnya pengaturan pernapasan dan pembatasan pada fungsi paru. Perubahan pada fungsi paru dikarenakan akumulasi dari jaringan adiposa dalam rongga perut dan juga diatas dinding dada, hal itu menyebabkan penurunan pergerakan diapragma, penurunan penyesuaian paru dan dinding dada, peningkatan elastisitas kembali dan penurunan volume paru (18,19).

BAB III
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
Landasan Teori
Status gizi dapat dinilai secara absolut dengan cara mengukur indeks massa tubuh (IMT), dimana berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter. Orang dewasa dengan IMT < 18,5 dianggap kurus, orang dewasa dengan IMT ≥ 18,5 – < 24,9 dianggap normal, orang dewasa dengan IMT ≥ 25,0 – < 30,0 dianggap kelebihan berat badan, dan orang dewasa dengan IMT ≥ 30,0 dianggap sebagai obesitas (2). Obesitas menyebabkan berbagai penyakit terhadap fungsi pernapasan dalam bentuk perubahan mekanisme pernapasan, penurunan kekuatan otot pernapasan, penurunan pertukaran gas dalam paru, rendahnya pengaturan pernapasan dan pembatasan pada fungsi paru. Perubahan pada fungsi paru dikarenakan akumulasi dari jaringan adiposa dalam rongga perut dan juga diatas dinding dada, hal itu menyebabkan penurunan pergerakan diapragma, penurunan penyesuaian paru dan dinding dada, peningkatan elastisitas kembali dan penurunan volume paru. Pada obesitas, pernapasan mekanik mengalami perubahan yang signifikan saat latihan. Dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal, penderita obesitas bernapas dengan volume paru yang rendah, mengalami peningkatan tekanan pernapasan, kerja pernapasan, dan sesak napas serta memiliki ketebatasan aliran ekspirasi dan hiperflasi pada puncak latihan. Orang yang memiliki berat badan kurang atau kurus sangat erat kaitannya dengan malnutrisi. Hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan pada massa otot pernapasan, kekuatan, daya tahan, serta mekanisme pertahanan sistem imun paru sehingga dapat mempengaruhi fungsi paru. Dalam beberapa penelitian, secara umum didapat bahwa status gizi memiliki efek terhadap fungsi paru, baik pada kapasitas vital (KV), volume cadangan inspirasi (VCI), kapasitas inspirasi (KI), kapasitas vital paksa (KVP) dan VEP1. Kerangka konsep penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 3.1. Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Korelasi antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Nilai Kapasitas Vital Paru pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Hipotesis Hipotesis penelitian ini adalah terdapat korelasi negatif antara indeks massa tubuh (IMT) dengan nilai kapasitas vital paru pada mahasiswa FK UNLAM tahun 2014. BAB IV METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Populasi dan Sampel Populasi Populasi penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter yang masih aktif pada masa perkuliahan dan belum memperoleh derajat Sarjana Kedokteran pada angkatan 2011-2013. Sampel Sampel penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dengan menggunakan purposive sampling dan kriteria inklusi sebagai berikut: Jenis kelamin laki-laki Usia 19 – 21 tahun Tampak dalam keadaan sehat berdasarkan pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nadi, dan frekuensi napas) Tidak sedang memiliki gangguan pernafasan seperti ISPA, batuk, influenza, asma brokial, brokitis kronis, emfisema paru, dan tuberkulosis paru. Bukan perokok, yaitu tidak menghisap dua batang rokok atau lebih dalam sehari secara rutin. Bahan dan Alat Penelitian Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kapas dan alkohol. Alat Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah spirometer BTL-08, timbangan badan, pengukur tinggi badan, alat pengukur tanda vital (tensimeter, termometer, stetoskop, stop watch). Variabel Penelitian Variabel bebas Variabel bebas pada penelitian ini adalah indeks massa tubuh (IMT). Variabel terikat Variabel terikat pada penelitian ini adalah kapasitas vital paru. Variabel pengganggu Variabel pengganggu pada penelitian ini adalah kondisi isi lambung dan jalannya proses pengukuran. Definisi Operasional Indeks massa tubuh (IMT) adalah kalkulasi angka dari berat dan tinggi badan seseorang. Nilai IMT didapatkan dari berat dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi dalam meter (kg/m2). Kapasitas vital (KV) adalah jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan oleh seseorang dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya (kira-kira 4.600 ml). Prosedur Penelitian Penelitian ini terbagi atas 3 tahap yaitu tahap persiapan, tahap pengukuran IMT dan tahap pemeriksaan uji spirometri. Tahap Persiapan Pada tahap ini, terlebih dahulu subyek penelitian diminta mengisi informed consent dan kuisioner yang sudah disediakan. Tahap Pengukuran IMT Tahap pengukuran IMT ini dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: Pengukuran Berat Badan (BB) Subyek penelitian yang akan diteliti diminta untuk melepaskan alas kaki kemudian berdiri di atas alat timbangan berat badan dengan berpakaian minimal, pakaian yang berat (jaket), perhiasan dan faktor – faktor yang mempengaruhi berat badan dilepaskan. Berat badan subyek penelitian dicatat dalam satuan kilogram (kg). Pengukuran Tinggi Badan (TB) Subyek penelitian yang akan diteliti diminta untuk melepas alas kaki. Kemudian subyek penelitian diminta untuk berdiri tegak lurus dengan calcaneus, glutea bagian dorsal dan occiput terletak dalam satu garis vertikal yang sejajar dengan tembok tempat bersandar, maleous saling bersentuhan, ekstremitas superior tergantung di sisi tubuh, bagian bawah orbita dan meatus acusticus eksternus terletak dalam satu garis horizontal yang sejajar dengan lantai. Diukur sebanyak dua kali untuk akurasi kemudian data tinggi badan dicatat dalam satuan meter (m). Perhitungan IMT Setelah mendapatkan data berat badan (kg) dan tinggi badan (m), kemudian IMT dapat dihitung dengan rumus berikut: Berat badan (kg) IMT = [Tinggi badan (m)]2 Tahap Pemeriksaan uji spirometri Proses pemeriksaan faal paru dengan spirometri: Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Menjelaskan kepada subyek penelitian mengenai prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan. Selanjutnya subjek penelitian diminta berdiri tegak sambil memegang mouthpiece dengan tangan kanan lalu diletakan dimulutnya. Kemudian subyek penelitian diminta untuk menarik napas secara maksimal, setelah itu cuping hidung ditutup dengan tangan kiri selanjutnya subyek penelitian menghembuskan nafas sampai habis tanpa berusaha keras. Mencatat hasil pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan sebanyak 3 kali dan diambil hasil yang reproduksibel Cara Pengumpulan dan Pengolahan Data Data yang telah diperoleh dikumpulkan dan ditabulasi serta disajikan dalam bentuk persentasi yang dimuat pada tabel. Cara Analisis Data Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis statistik korelasi Pearson dengan tingkat kepercayaan 95% apabila didapat data terdistribusi normal. Jika data tidak terdistribusi normal maka uji alternatifnya menggunakan korelasi Spearman. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Waktu penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret – September 2014. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai korelasi indeks massa tubuh (IMT) dengan kapasitas vital (KV) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat angkatan 2011-2013 telah dilaksanakan mulai bulan Juli sampai Oktober 2014. Didapatkan sampel penelitian sebanyak 88 responden dari 142 populasi yang berjenis kelamin laki-laki pada mahasiswa PSPD FK UNLAM angkatan 2011-2013. Sebanyak 54 tidak dapat dijadikan sampel penelitian karena termasuk kedalam kriteria eksklusi penelitian, baik karena usia, riwayat penyakit pernapasan, riwayat penyakit kardiovaskular dan dalam keadaan sakit. Hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan distribusi kategori IMT responden adalah sebagai berikut: Status Gizi Gambar 5.1 Distribusi Status Gizi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat angkatan 2011-2013 Tahun 2014 Berdasarkan data pada Gambar 5.1 didapat jumlah responden dari hasil pengukuran IMT menunjukkan paling banyak dengan status gizi normal yaitu 49 orang (56%) dan paling sedikit dengan status gizi obesitas sebanyak 8 orang (9%). Hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan rata-rata IMT secara keseluruhan sebesar 23,56 kg/m2 (lampiran 4), dan rata-rata IMT berdasarkan status gizi pada mahasiswa PSPD FK UNLAM adalah sebagai berikut: Status Gizi Gambar 5.2 Rata-Rata IMT Mahasiswa PSPD FK UNLAM Angkatan 2011-2013 Berdasarkan Status Gizi Tahun 2014 Dari hasil penelitian 88 responden didapatkan nilai KV pada mahasiswa PSPD FK UNLAM angkatan 2011-2013, rata-rata sebesar 5,09 L (lampiran 4). Uji korelasi antara IMT dengan KV pada mahasiswa PSPD FK UNLAM angkatan 2011-2013 dilakukan dengan uji Spearman. Sebelum dilakukan uji spearman terlebih dahulu dilakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov (n > 50) dengan jumlah sampel 88 responden. Dari uji normalitas yang dilakukan diperoleh hasil dengan nilai 0,000 baik uji normalitas untuk IMT maupun KV. Kedua uji normalitas ini menghasilkan nilai p < 0,05 dan ini menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan transformasi data terhadap data yang tidak terdistribusi normal tersebut dengan menggunakan fungsi log. Data yang sudah ditransformasi kemudian dilakukan uji normalitas kembali dan didapatkan hasil untuk masing-masing variabel IMT dan KV secara berurutan yaitu 0,063 dan 0.001. Dari hasil uji normalitas data tersebut dapat diartikan bahwa IMT memiliki data yang terdistribusi normal (p>0,05) tetapi KV justru sebaliknya memiliki data yang tidak terdistribusi normal (p<0,05). Karena ada data yang tidak terdistribusi normal maka peneliti menggunakan uji alternatif, yaitu uji Spearman dengan tingkat kepercayaan 95%.
Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,01 (p < 0,05) dan koefisien korelasi r = 0,248, maka dapat disimpulkan terdapat korelasi yang bermakna antara IMT dan KV pada mahasiswa PSPD FK UNLAM dengan yang positif, di mana semakin tinggi nilai IMT maka semakin tinggi pula nilai KV.
Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ristianingrum et al, yang mengatakan bahwa IMT dengan KV memberikan korelasi yang bermakna dengan arah yang positif dan kekuatan korelasi yang lemah dengan nilai p = 0,015 dan r = 0,267. Ristianingrum meneliti 82 orang tanpa membedakan jenis kelamin, sedangkan pada penelitian ini dikhususkan pada responden yang berjenis kelamin laki-laki (7).
Hasil penelitian terhadap mahasiswa PSPD FK UNLAM ini tidak sesuai dengan hipotesis awal, yang menduga bahwa IMT dan KV memiliki korelasi dengan arah yang negatif atau berjalan terbalik, di mana semakin tinggi IMT seseorang maka semakin rendah nilai KV. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jones et al, yang mengatakan bahwa setiap peningkatan satu untit IMT akan menyebabkan penurunan KV sebesar 0,5%. Hal yang sama dikatakan oleh El-Baz. et al bahwa IMT memiliki korelasi yang negatif dengan KV (8,9).
Perbedaan hasil dengan penelitian terdahulu dapat disebabkan berbagai faktor antara lain desain penelitian, sumber data, distribusi dan kekuatan korelasi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional sedangkan penelitian El-Baz. et al menggunakan case control. Sumber data pada penelitian ini menggunakan data primer sedangkan penelitian Jones et al menggunakan data sekunder rekam medik (8,9).
Adanya perbedaan hasil penelitian ini dengan beberapa penelitian sebelumnya mungkin juga diakibatkan keterbatasan dalam mengendalikan variabel pengganggu dan proses pengambilan. Variabel pengganggu yang dapat dikendalikan antara lain usia, jenis kelamin, merokok, penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Namun variabel pengganggu seperti genetik, aktifitas fisik, dan asupan makanan tidak dapat dikendalikan dalam penelitian ini (20,21,22).

BAB VI
PENUTUP

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa:
Nilai IMT rata-rata mahasiswa PSPD FK UNLAM angkatan 2011-2013 tahun 2014 adalah 23,56 kg/m2.
Nilai KV rata-rata mahasiswa PSPD FK UNLAM angkatan 2011-2013 tahun 2014 adalah 5,09 L.
Terdapat korelasi yang bermakna antara IMT dan KV (p=0,01) dengan arah yang positif pada mahasiswa FK UNLAM angkatan 2011-2013 tahun 2014.

Saran
Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mempertimbangkan variabel lainnya, seperti aktivitas fisik dan konsumsi makanan.
Untuk masyarakat mulai peduli dengan keadaan gizinya dengan cara merubah gaya hidup seperti rutin berolahraga dan makan makanan dengan gizi seimbang sehingga terhindar dari resiko penurunan fungsi paru yang akan berakibat pada penurunan kualitas hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Laporan hasil riset kesehatan dasar (RISKESDAS) Indonesia tahun 2013. CV Kiat Nusa Jakarta Indonesia 2013.

Usfar AA, Lebenthal E, Atmarita, Achadi E, Soekirman & Hadi H. Obesity as a poverty-related emerging nutrition problems: the case of Indonesia. International Association for the Study of Obesity 2011, 11:924-928.

Watson RA, Pride NB, Thomas EL, Fitzpatrick J et al. Reduction of total lung capacity in obese men: comparison of total intrathoracic and gas volumes. J Appl Physiol 2010, 108: 1605–1612.

Salome CM, King GG & Berend N. Physiology of obesity and effects on lung function. J Appl Physiol 2010, 108: 206–211.

O’Donnell DE, Deesomchok A, Lam Y M et al. Effects of BMI on static lung volumes in patients with airway obstruction. Chestnet 2011, 140(2):461-468.

Lad UP, Jaltade VG, Shisode-Lad S, Satyanarayana P. Correlation between body mass index (BMI), body fat percentage and pulmonary functions in underweight, overweight and normal weight adolescents. Journal of Clinical and Diagnostic Research 2012, 6(3):350-353.

Ristianingrum I, Rahmawati I & Rujito L. Hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan tes fungsi paru Mandala of Health 2010, 4(2):105-112.

Jones RL, Nzekwu MMU. The effects of body mass index on lung volumes. Chest Journal 2006, 130(3):827-833.

El-Baz FM, Eman AA, Amal AA, Terez BK, Fahmy A. Impact of obesity and body fat distribution on the pulmonary function in Egyptian children. EJB 2009, 3:49-58.

Watson RA, Pride NB, Thomas EL et al. Reduction of total lung capacity in obese men: comparison of total intrathoracic and gas volumes. J Appl Physiol 2010, 108: 1605–1612.

Piper AJ, Grunstein RR. Big breathing: the complex interaction of obesity, hypoventilation, weight loss, and respiratory function. J Appl Physiol 2010, 108: 199–205.

Seeley, et al. Anatomy & physiology. Sixt Edition. The McGraw-Hill Companies, 2004.

Guyton & Hall. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC, 2007.

Price & Wilson. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Volume 2. Jakarta: EGC, 2006.

Yulaekah, Siti. Paparan debu & gangguan fungsi paru pada pekerja industri batu kapur.2007; (online), (http://eprints.undip.ac.id / 18220 / 1 / SITI_YULAEKAH.pdf, diakses 25 Desember 2013)

World Health Organization. Global database on body mass index. 2006; (online), (http://apps.who.int/bmi/index.jsp?introPage=intro_3.html, diakses 25 Desember 2013)

Sugondo. Ilmu penyakit dalam. Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006.

Srinivas CH, Shekhar R & Madhavi LM. The impact of body mass index on the expiratory reserve volume. Journal of Clinical and Diagnostic Research 2011, 5(3):523-525.

Balcom HM, Grant BJ & Muti P. Pulmonary function and abdominal adiposity in the general population. American College of Chest Physicians 2006, 129(4):853-862.

Simpson A, Custovic A, Tepper R et al. Genetic variation in vascular endothelial growth factor-A and lung function. American Journal of Respiratory and Critical Medicine 2012, 185:1197-1204.

Manezes A, Wehrmeister FC, Muniz LC et al. Physical activity and lung function in adolescents: the 1993 pelotas (Brazil) birth cohort study. Journal of Adolescent Health 2012, 51(6):27-31.

Hanson C, Rutten EP, Wouters EF, Rennard S. Diet and vitamin D as risk factors for lung impairment and COPD. Translational Research 2013, 162(4):219-36.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *