Konsep Pendidikan Di Korea Selatan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia dan mempunyai andil besar dalam memajukan suatu bangsa, bahkan peradaban manusia. Melalui pendidikan diharapkan akan mampu menghasilkan manusia yang berkualitas, sebagai sumber tenaga profesional yang terampil dan berintelektual tinggi yang siap bekerja untuk membangun bangsa.
Dalam usaha memajukan pembangunan bangsa ini, setiap pemerintahan selalu mengupayakan mutu pendidikan yang lebih baik. Sebuah bangunan akan kokoh jika pondasi bangunan tersebut kuat, demikian pula dalam dunia pendidikan, pondasi pendidikan yang berupa sistem yang baik dan terukur akan mampu menghasilkan lulusan pendidikan yang berkualitas. Di berbagai negara maju, sistem pendidikan yang dibangun seringkali bersumber dari ajaran-ajaran dan ideologi yang berlaku di masyarakat. Beberapa negara asia timur seperti Jepang, China dan Korea selatan, sistem pendidikan yang dibangun banyak bersumber dari ajaran konfusianisme. Konfusianisme bukanlah satu agama tetapi lebih kepada pengajaran falsafah untuk mempertingkatkan moral dan menjaga etika manusia.
Pandangan dan ideologi tersebut kemudian menjadikan negara-negara tersebut memandang bahwa pendidikan yang bermutu merupakan entitas kemajuan suatu bangsa. Hasil penelitian OECD tahun 2009 menempatkan Finlandia, Kanada dan Korea Selatan sebagai 3 kekuatan utama pendidikan di dunia lalu diikuti oleh tiga negara di Asia, yaitu China, Jepang, dan Singapura. Sehingga membuat penulis merasa tertarik untuk mengupas sistem pendidikan di salah satu Negara tersebut, yakni Korea Selatan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1. Bagaimanakah konsep pendidikan di Korea Selatan?
2. Bagaimanakah kurikulum dan manajemen pendidikan di Korea Selatan?
3. Apa saja keunggulan pendidikan di Korea Selatan?
4. Bagaimana perbandingan pendidikan di Korea Selatan dan Indonesia?
5. Bagaimana struktur sistem pendidikan Korea Selatan?
6. Bagaimana orientasi pengembangan pendidikan di indonesia berdasarkan refleksi sistem pendidikan Korea Selatan?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui konsep pendidikan di Korea Selatan.
2. Untuk mengetahui kurikulum dan manajemen pendidikan di Korea Selatan.
3. Untuk mengetahui keunggulan pendidikan di Korea Selatan.
4. Untuk mengetahui perbandingan pendidikan di Korea Selatan dan Indonesia.
5. Untuk mengetahui struktur sistem pendidikan Korea Selatan.
6. Untuk mengetahui orientasi pengembangan pendidikan di indonesia berdasarkan refleksi sistem pendidikan Korea Selatan.
D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat penulisan yang diperoleh dari makalah ini adalah
1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai konsep pendidikan di Negara terbaik, diantaranya Korea Selatan.
2. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai kurikulum dan manajemen pendidikan di Korea Selatan.
3. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai keunggulan pendidikan di Korea Selatan.
4. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai perbandingan pendidikan di Korea Selatan dan Indonesia.
5. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai sistem pendidikan Korea Selatan.
6. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai orientasi pengembangan pendidikan di indonesia berdasarkan refleksi sistem pendidikan Korea Selatan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Pendidikan Di Korea Selatan
Prinsip pendidikan di Korea Selatan adalah “Jika tidak jadi manusia yang unggul, kami akan mati”. Itulah prinsip yang dipegang bangsa Korea Selatan yang miskin sumber daya alam dan secara geopolitik dikepung empat kekuatan besar: Tiongkok, Rusia, Korea Utara, dan Jepang.
Program Penilaian Siswa Internasional (Program for International Student Assessment) yang dijalankan oleh OECD baru-baru ini menempatkan pendidikan Korea Selatan di peringkat 11 dunia. Walau siswa-siswa sekolah Korea Selatan seringkali menempati ranking tinggi pada tes komparatif internasional, sistem pendidikannya sering dikritik karena menerapkan cara pembelajaran yang pasif dan terlalu banyak menghafal. Sistem pendidikan Korea Selatan yang tergolong disiplin dan terstruktur adalah pengaruh Konfusianisme yang sudah tertanam sejak lama dalam masyarakat Korea. Siswa-siswanya jarang memiliki waktu cukup untuk bersantai karena mengalami tekanan untuk berprestasi baik untuk masuk universitas.
B. Kurikulum dan Manajemen Pendidikan Di Korea Selatan
1. Kurikulum Pendidikan Di Korea Selatan
Reformasi kurikulum pendidikan di korea, dilaksanakan sejak tahun 1970-an dengan mengkoordinasikan pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi, adapun yang dikerjakan oleh guru, meliputi lima langkah yaitu (1) perencanaan pengajaran, (2) Diagnosis murid (3) membimbing siswa belajar dengan berbagai program, (4) test dan menilai hasil belajar. Di sekolah tingkat menengah tidak diadakan saringan masuk, hal ini dikarenakan adanya kebijakan “equal accessibility” ke sekolah menengah di daerahnya.
Pendidikan dilihat sebagai aspek penting bagi keberhasilan dan persaingan di Negeri Gingseng. Di negara ini terdapat lima mata pelajaran utama, yaitu matematika, sains, bahasa Korea, studi sosial, dan bahasa Inggris. Biasanya pendidikan fisik atau olahraga dianggap tidak terlalu penting, makanya banyak sekolah yang tidak memiliki gymnasium yang layak. Korea Selatan adalah negara pertama di dunia yang memberikan akses internet berkecepatan tinggi di setiap sekolah.
Korea Institute for Curriculum and Evaluation (KICE) mengeluarkan hasil laporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2011, yang diikuti 300.000 siswa kelas 4 dari 50 negara dan 300.000 siswa kelas 8 dari 42 negara.
Hasilnya, siswa kelas 4 Korea Selatan meraih skor rata-rata 605 dalam matematika, peringkat kedua di belakang Singapura. Dan dalam bidang sains, siswa-siswa Korea Selatan menduduki peringkat pertama dengan 587 poin. Prestasi inipun diikuti oleh siswa kelas 8 dalam matematika dengan memperoleh nilai 613, nilai tertinggi dari 42 negara lainnya. Sedangkan untuk sains, mereka menempati posisi ketiga dengan nilai 560.
Seperti halnya pendidikan di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pendidikan di Korea Selatan dilaksanakan dalam beberapa jenjang, yaitu jenjang pendidikan primer (primary education), pendidikan sekunder (secondary education), dan pendidikan tinggi (high education).
Pendidikan primer di Korea Selatan diwajibkan untuk anak-anak berusia 6 sampai 14 tahun. Pada jenjang pendidikan primer ini, prosesnya dilaksanakan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
Pendidikan sekunder di Korea selatan idealnya dilaksanakan selama 6 tahun, yaitu 3 tahun di sekolah menengah (setara dengan SMP di Indonesia) dan sekolah atas (setara dengan SMA di Indonesia). Pada jenjang pendidikan sekunder ini, prosesnya dilaksanakan sekolah-sekolah kejuruan (setara dengan SMK di Indonesia). Selain itu, pada usia-usia sekolah menengah dan sekolah tinggi ini, anak-anak Korea Selatan melaksanakan beberapa pendidikan tambahan, yaitu melalui kegiatan kursus-kursus tertentu.
Pendidikan tinggi di Korea Selatan dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan perkuliahan di beberapa perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta yang jumlahnya sekitar 330 perguruan tinggi. Adapun beberapa perguruan tinggi yang terkemuka di Korea Selatan antara lain Universitas Korea (Korea University), Universitas Nasional Seoul (Seoul National University), Universitas Ewha (Ewha Women’s University), dan Universitas Yonsei (Yonsei University).
2. Manajemen Pendidikan Di Korea Selatan
Kekuasaan dan kewenangan dilimpahkan kepada menteri pendidikan. Di daerah terdapat dewan pendidikan (board of education). Pada setiap propinsi dan daerah khusus (Seoul dn Busam), masing-masing dewan pendidikan terdiri dari tujuh orang anggota yang dipilih oleh daerah otonom, dari lima orang dipilih dan dua orang lainnya merupakan jabatan ex officio, yang dipegang oleh walikota daerah khusus atau gubernur propinsi dan super intendent, Dewan pendidikan diketuai oleh walikota atau gubernur.
a. Anggaran Pendidikan
Anggaran pendidikan Korea Selatan berasal dari anggaran Negara, dengan total anggaran 18,9% dari Anggaran Negara. Pada tahun 1995 ada kebijakan wajib belajar 9 tahun, sehingga porsi anggaran terbesar diperuntukan untuk ini, adapun sumber biaya pendidikan, bersumber dari, GNP untuk pendidikan, pajak pendidikan, keuangan pendidikan daerah, dunia industri khusus bagi pendidikan kejuruan.
b. Guru/Personalia
Terdapat dua jenis pendidikan guru, yaitu tingkat academic (grade 13-14) untuk guru SD, dan pendidikan guru empat tahun untuk guru sekolah menengah. Dengan biaya ditanggung oleh Pemerintah untuk pendidikan guru negeri. Kemudian guru mendapat sertifikat yaitu : sertifikat guru pra sekolah, guru SD, dan guru sekolah menengah, sertifikat ini diberikan oleh kepala sekolah dengan kategori guru magang, guru biasa dua (yang telah diselesaikan on job training) dan lesensi bagi guru magang dikeluarkan bagi mereka yang telah lulus ujian kualifikasi lulusan program empat tahun dalam bidang engineering, perikanan, perdagangan, dan pertanian. Sedangkan untuk menjadi dosen yunior college, harus berkualifikasi master (S2) dengan pengalaman dua tahun dan untuk menjadi dosen di senior college harus berkualifikasi dokter (S3).
C. Keunggulan Pendidikan Di Korea Selatan
Beberapa hal yang perlu menjadi perbandingan bagi kita dalam pengelolaan pendidikan dengan Korea Selatan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Untuk sekolah taman kanak-kanak “Youchiwon” dimulai usia 3 tahun hingga 6 tahun, kapan saja boleh masuk sekolah ini asal sudah mencukupi usiannya. Sebenarnya ada juga usia 2 tahun tapi sekolah ini berseling sehari sekolah dan sehari tidak, hanya beberapa jam saja ini hanya milik swasta. Pra sekolah ada yang milik negara dan swasta. Untuk pra sekolah swasta pemerintah tetap membantu, mengawasi dan memperhatikan sepenuhnya pengolahan sekolah-sekolah TK ini.
2. Hal yang sangat mempengaruhi besarnya pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan selain investasi pemerintah di bidang pendidikan, adalah kebijakan pemerintah terutama mengenai ekonomi yang mendukung tumbuhnya industri. Industri tersebut kemudian menjadi mesin ekonomi yang efektif karena perkembangannya disesuaikan dengan ketersediaan tenaga kerja yang dihasilkan oleh sistem pendidikan.
3. Baik negeri dan swasta pra sekolah memiliki program pendidikan yang sama, yaitu lebih banyak mengajarkan kemandirian, kreatifitas dan bersosialisasi dengan lingkungan. Mengajarkan tentang kehidupan sehari-hari, BAB, ganti baju, sikat gigi dan lain-lain.
4. Sebelum masuk sekolah SD biasanya untuk pra sekolah anak-anak akan dibawa berkunjung ke SD untuk sekedar melihat-lihat sekolah mereka selanjutnya bagaimana. Pada umumnya anak yang masuk sekolah SD menerima surat pemberitahuan ijin masuk sekolah pada bulan Februari dan awal maret. Lalu bisa mendaftar pada sekolah dasar.
5. Korea sangat terobsesi dengan pendidikan. Pendidikan benar-benar ditekankan kepada siswa seperti orang gila. Seberapa keras siswa belajar? Selama tahun-tahun sekolah mereka dan kadang-kadang bahkan selama bertahun-tahun, siswa pergi ke sekolah dari jam 8 pagi sampai lewat tengah malam. Hal ini dikarenakan setelah selesai sekolah, mereka harus menghadiri pendidikan khusus untuk mencoba untuk meningkatkan kinerja akademis mereka. Mereka diprioritaskan untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang sangat ketat, yang banyak mendukung masa depan mereka. Di Korea, jika Anda masuk sebuah universitas bergengsi, Anda akan memperoleh kesempatan yang baik untuk mendapatkan informasi pekerjaan yang baik. Seorang anak memasuki Universitas yang baik tidak hanya menjamin keadaan ekonomi individunya, tetapi juga mencerminkan reputasi orang tua anak. Dalam budaya Korea, pertimbangan yang paling penting bagi seorang pimpinan bukan kepribadian atau pengalaman kerja, melainkan di Universitas apa orang tersebut belajar. Korea memiliki tingkat kelulusan SMA 97%, ini adalah yang tertinggi tercatat di negara-negara maju. Sangat menarik untuk dicatat bahwa 80% sekolah-sekolah di korea memperolehkan hukuman fisik.
D. Perbandingan dan Persamaan Pendidikan di Korea Selatan dan Indonesia
1. Korea Selatan
Beberapa negara asia timur seperti Jepang, China dan Korea Selatan, sistem pendidikan yang dibangun banyak bersumber dari ajaran konfusianisme. Konfusianisme bukanlah satu agama tetapi lebih kepada pengajaran falsafah untuk mempertingkatkan moral dan menjaga etika manusia.
Pandangan dan ideologi tersebut kemudian menjadikan negara-negara tersebut memandang bahwa pendidikan yang bermutu merupakan entitas kemajuan suatu bangsa. Hasil penelitian OECD tahun 2009 menempatkan Finlandia, Kanada dan Korea Selatan sebagai 3 kekuatan utama pendidikan di dunia lalu diikuti oleh tiga negara di Asia, yaitu China, Jepang, dan Singapura.
Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa mengeluarkan biaya adalah hal penting, tetapi tidak sepenting memiliki budaya yang mendukung pendidikan. Biaya adalah ukuran yang mudah terukur, tetapi dampak yang lebih kompleks dalam mendukung kualitas pendidikan adalah perilaku masyarakat dalam memandang peranan pendidikan itu sendiri. Kesuksesan negara-negara Asia misalnya seperti yang banyak berlaku di Jepang dan Korea Selatan merefleksikan nilai tinggi pendidikan dan pengharapan orangtua terhadap kesuksesan hasil pendidikan anak-anak mereka. Budaya kerja keras dan penegakan disiplin yang ketat merupakan kunci keberhasilan pembangunan sistem pendidikan di Jepang dan Korea Selatan.
Sementara di Korea selatan, pembelajarannya menerapkan teknologi tinggi, dengan yang memberikan akses internet berkecepatan tinggi di setiap sekolah. Masyarakat Korea menganggap guru memegang posisi yang berharga dan tinggi karena Korea menanamkan bahwa pendidikan adalah hal yang utama. Akibatnya, Korea benar-benar menjunjung tinggi para guru. Ada rotasi mutasi guru setelah lima tahun mengajar. Hal ini dilakukan agar setiap guru mendapat kesempatan yang adil untuk mengajar di berbagai sekolah yang baik atau buruk. Para guru juga mendapat sertifikat yaitu sertifikat guru pra sekolah, guru SD, dan guru sekolah menengah. Sertifikat diberikan oleh kepala sekolah dengan kategori guru magang, guru biasa dua (setelah menyelesaikan on job training). Bagi guru magang akan diberi lisensi, bila telah lulus ujian kualifikasi program empat tahun dalam bidang engineering, perikanan, perdagangan, dan pertanian.
2. Indonesia
Setelah mengetahui sistem pendidikan di Korea Selatan, ada sejumlah masalah yang dihadapi oleh Indonesia dalam hal pendidikan. Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia ternyata tidak dapat menempa sumber daya manusia Indonesia yang memiliki potensi yang tidak kalah dibanding dengan sumber daya manusia dari negara lain, termasuk negara maju sekalipun. Potensi yang ada pada sumber daya manusia, tidak akan mempunyai arti yang signifikan dan maksimal bila penempaan atas mereka melalui sistem pendidikan tidak dilakukan secara benar.
Dalam memetakan masalah pendidikan maka perlu diperhatikan realitas pendidikan itu sendiri yaitu pendidikan sebagai sebuah subsistem yang sekaligus juga merupakan suatu sistem yang kompleks. Gambaran pendidikan sebagai sebuah subsistem adalah kenyataan bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang berjalan dengan dipengaruhi oleh berbagai aspek eksternal yang saling terkait satu sama lain. Aspek politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan-keamanan, bahkan ideologi sangat erat pengaruhnya terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan, begitupun sebaliknya.
Sebagai salah satu sub-sistem di dalam sistem negara/ pemerintahan, maka keterkaitan pendidikan dengan sub-sistem lainnya diantaranya ditunjukan sebagai berikut: pertama, berlangsungnya sistem ekonomi kapitalis di tengah-tengah kehidupan telah membentuk paradigma pemerintah terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagai bentuk pelayanan negara kepada rakyatnya yang harus disertai dengan adanya sejumlah pengorbanan ekonomis (biaya) oleh rakyat kepada negara. Kedua, berlangsungnya kehidupan sosial yang berlandasakan sekulerisme telah menyuburkan paradigma hedonisme (hura-hura), permisivisme (serba boleh), materialistik (money oriented), dan lainnya di dalam kehidupan masyarakat. Ketiga, berlangsungnya kehidupan politik yang oportunistik telah membentuk karakter politikus machiavelis (melakukan segala cara demi mendapatkan keuntungan) di kalangan eksekutif dan legislatif termasuk dalam perumusan kebijakan pendidikan indonesia.
Dalam kaitan pendidikan sebagai suatu sistem, maka permasalahan pendidikan yang saat ini tengah berkembang diantaranya tergambar dengan pemetaan sebagai berikut: (1). Keterbatasan Aksesibilitas dan Daya Tampung; (2). Pemerataan pendidikan di kota dan daerah yang masih timpang; (3). Pengelolaan dan efisiensi anggaran pendidikan yang belum maksimal; (4). Keterbatasan sarana dan prasarana; (5). Pengawasan yang lemah terhadap penyelenggara pendidikan; (6). Kinerja guru yang belum maksimal; (7). Kesejahteraan guru yang masih kurang
3. Persamaan Pendidikan di Korea Selatan dan di Indonesia
a. Cram school
Mereka menghafal rumus-rumus dari yang mudah sampai yang susah sekalipun. Ujian nasional yang berisi terlalu banyak pertanyaan dalam sedikit waktu memaksa mereka mengerjakan semua soal secepat mungkin.
Menghafal rumus adalah salah satu hal penting menuju sukses ujian nasional. Mungkin menghafal beberapa rumus sederhana tidak menjadi masalah, namun mereka juga menghafal rumus-rumus penurunan, kebiasaan ini berlangsung sampai universitas.
Mereka menghafalnya karena mereka tidak punya cukup waktu untuk mengerti konsep tersebut karena beban belajar mereka terlalu berat. Namun dengan menghafal, mereka tidak mengerti konsepnya sehingga ketika dihadapkan pada permasalahan lain yang konsepnya sama, mereka tidak dapat menyelesaikannya.
Hal tersebut juga terjadi di Indonesia, siswa masih di berikan materi-materi hafalan tanpa diberikan ruang untuk berfikir kritis. Sehingga ketika mencapai kelas 6, 9 dan 12, para siswa banyak di drill dengan rumus-rumus dan cara mencapai sukses ujian nasional.
b. Overstudying
Dengan beban belajar yang sangat banyak, muncullah bimbingan belajar di Korea yang dalam promosinya menawarkan peningkatan kemampuan dalam waktu singkat dengan cara memberi bermacam-macam solusi cepat dan solusi tepat menghafal. Detail dari waktunya adalah :
1) Anak berumur 13 dan 14 tahun memulai kelas pada pukul 5:50, mengambil dua kelas 60 menit dan 70 menit. Kemudian pulang ke rumah jam 9:30. Sesampai di rumah, mereka masih harus mengerjakan PR dari sekolah dan dari bimbingan belajar.
2) Anak usia 15 tahun memulai kelas pada pukul 7:06, mengambil kelas 60 menit dan 70 menit, selesai pada pukul 10:55. Sesampai di rumah, mereka masih harus mengerjakan PR dari sekolah dan dari bimbingan belajar.
3) Ada kelas Sabtu, dan ini dilakukan walaupun beberapa sekolah memberlakukan setengah hari masuk untuk siswa. Hal yang baik adalah, hampir semua orangtua sebenarnya tidak suka mengirim anak-anak SMP sampai larut malam, namun mereka dipaksa oleh tuntutan dari sistem pendidikan nasional yang terus meningkat.
c. Stereotipe Bidang Studi / Jurusan
Sama seperti di Indonesia, orang tua anak Korea biasanya mendorong anak-anak mereka untuk menjadi seorang dokter atau insinyur dari kecil. Status sosial dan uang biasanya menjadi alasannya. Di Korea hal ini sudah sangat lazim dan terkadang mereka tidak merasa bahwa hal ini adalah sesuatu yang aneh dan seharusnya tidak terjadi. Mereka juga akan mendorong anak-anaknya untuk mengambil bidang-bidang yang berstatus sosial tinggi dan menghasilkan banyak uang.
Kerja keras mereka ini tak lain adalah untuk lulus dan masuk ke perguruan tinggi terbaik. Walaupun capek dan tertekan, pelajar tetap semangat demi menggapai impian mereka. Tidak heran kalau mereka termasuk siswa dengan nilai tertinggi di dunia dan termasuk siswa yang paling sering diterima di Universitas-universitas Amerika. Program Penilaian Siswa Internasional (Program for International Student Assessment) yang dijalankan oleh OECD baru-baru ini menempatkan pendidikan Korea Selatan di peringkat 11 dunia.
E. Struktur Sistem Pendidikan Korea Selatan
Struktur pendidikan di Korea Selatan berformasi sama dengan yang ada di Indonesia, yakni:
1. 6 tahun untuk sekolah dasar (SD)
2. 3 tahun untuk sekolah menengah pertama (SMP)
3. 3 tahun untuk sekolah menengah atas (SMA)
4. dan (meneruskan) universitas
Sedangkan untuk tahun pelajaran di bagi menjadi dua semester :
1. Semester I : awal Maret – pertengahan Juli
2. Liburan musim panas : pertengahan Juli – akhir Agustus
3. Semester II : akhir Agustus – pertengahan Februari
4. Liburan musim dingin : akhir Desember – awal Februari
5. Ujian semester II dan kelulusan : awal Februari – pertengahan Februari (satu minggu)
6. Liburan pendek : pertengahan Februari – awal Maret
Adapun penilaian dalam memasuki universitas ialah kombinasi dari pencapaian selama masa SMA digabungkan dengan nilai ketika tes skolastik secara nasional (Su-Neung), agak berbeda dengan negara kita yang menilai hanya dari hasil SNMPTN saja. Rapor ketika SMA menyumbang 40% dalam penentuan kelulusan. Akan tetapi, karena ujian di sekolah juga sama pentingnya dengan ujian untuk memasuki universitas, maka pelajar di sana tidak memiliki waktu untuk bersantai. Menurut statistik, pelajar di Korea harus menghafal 60 hingga 100 halaman setiap kali tes untuk bisa mendapat nilai bagus.
Tes untuk masuk universitas sangatlah penting karena menentukan masa depan siswa tersebut. Ketika masa-masa mendekati ujian perkantoran buka jam 10 pagi untuk mengakomodasi para orang tua yang menemani anaknya belajar hingga malam. Pada sore harinya, tempat-tempat rekreasi seperti klub tenis juga tutup lebih awal agar siswa dapat belajar di sore harinya.
Pada hari ujian, polisi-polisi tak segan untuk membantu mengantar pelajar yang terlambat untuk mengikuti ujian dan adik-adik kelas sengaja datang untuk mendukung dan memberi semangat kakak-kakak kelas mereka yang ikut ujian.
Mereka yang tidak tahan melihat anak-anaknya ditekan oleh sistem pengajaran di sekolah, akan mengirim istri dan anaknya ke luar negeri dan sang suami akan tetap di Korea untuk bekerja mencari uang. Untuk beberapa orang yang kaya, akan pindah kerja ke luar negeri untuk menyekolahkan anaknya.
Mereka biasanya memilih Amerika karena memiliki sistem pendidikan yang membebaskan anak bersekolah sesuai bakat mereka. Jumlah siswa praperguruan tinggi dari Korea Selatan yang belajar di luar negeri tiap tahun semakin meningkat.
a. Taman Kanak-kanak (TK)
Di Korea Selatan, TK bukanlah program publik / formal tetapi merupakan lembaga swasta yang mengajarkan bahasa Korea dan Inggris. Usia anak-anak yang memasuki TK berkisar antara 3-7 tahun. Nah, di TK ini satu kelas bisa berisi anak-anak dengan rentang umur yang berbeda (4 tahun).

b. Sekolah Dasar (Chodeunghakgyo)
Sekolah dasar terdiri dari kelas 1 – 6 dengan rentan usia 7 – 13 tahun. Siswa kelas 1 dan 2 mempelajari bahasa Korea, matematika, sains, ilmu sosial, seni, dan bahasa Inggris, sedangkan kelas 3 hingga 6 ditambah PE, pendidikan moral, seni praktis, dan musik.
Biasanya, guru kelas (wali kelas) yang mengajar sebagian besar mata pelajaran, kecuali bahasa asing dan olahraga.

Mereka yang ingin menjadi seorang guru sekolah dasar harus memiliki kemampuan utama dalam pendidikan dasar, yang secara khusus dirancang untuk menumbuhkan guru sekolah dasar. Di Korea, sebagian besar guru SD bekerja untuk sekolah dasar negeri.

F. Orientasi Pengembangan Pendidikan di Indonesia Berdasarkan Refleksi Sistem Pendidikan Korea Selatan
Bila menilik berbagai kelemahan sistem pendidikan di Indonesia, kesimpulan yang dapat diambil adalah diperlukan pembenahan yang bersifat fundamental. Pembenahan tidak bisa sepotong-sepotong (piece meal) sehingga dapat memberikan dampak tidak dalam satu, lima atau sepuluh tahun mendatang tetapi pada satu, dua bahkan generasi-generasi berikut bagi sumber daya manusia Indonesia.
Bedasarkan kajian tentang sistem pendidikan di Korea Selatan, terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi pengembangan sistem pendidikan di Indonesia. Diantaranya:
1. Perlunya menumbuhkembangkan ideologi pancasila dan nilai-nilai kebudayaan lokal dalam pengembangan sistem pendidikan di Indonesia, hal ini bertujuan agar sistem pendidikan di Indonesia memiliki pijakan kuat dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan di tataran yang lebih rendah. Seperti halnya dengan beberapa negara asia timur seperti china, korea selatan dan jepang, kentalnya ideologi konfusianisme memberikan efek positif terhadap daya juang siswa dalam kompetisi yang semakin ketat. Budaya kerja keras dan penegakan disiplin yang ketat merupakan kunci keberhasilan pembangunan di berbagai negara asia timur tersebut. Sementara nilai-nilai kebebasan dan kesetaraan dapat kita contoh dari sistem pendidikan di negara-negara barat.
2. Perlunya upaya penyadaran masyarakat tentang nilai penting pendidikan, pendidikan harus dijadikan wadah bagi pengembangan pembangunan seperti halnya negara-negara asia timur.
3. Peningkatan mutu tenaga pendidik yang berkualitas selama pre-service education (melalui LPTK) maupun in-service education (melalui training dan magang). Guru di Indonesia haruslah ditempatkan pada posisi tertinggi dalam sistem pendidikan. Hal ini dapat kita tiru dari negara Finlandia yang menetapkan kualitas dan standar yang tinggi untuk menjadi seorang guru dengan pendidikan minimal magister (S2).
4. Penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang baik, terlebih lagi dengan penyediaan perangkat teknologi tinggi seperti yang dilakukan negara Singapura, Australia, Jepang dan Korea Selatan.
5. Dalam pemberian sertifikasi kepada guru, perlu ditata ulang. Pemberian sertifikasi guru seperti yang dilakukan Finlandia, Jepang dan Korea Selatan perlu dipertimbangkan. Guru yang berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi adalah guru-guru yang benar-benar kompeten, bertanggung jawab dan memiliki kualifikasi akademik yang tinggi. Sertifikasi yang berlaku juga tidak selamanya, evaluasi terhadap kinerja guru menentukan layak atau tidaknya sertifikasi tersebut di berikan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Di Korea selatan, sistem pendidikan yang dibangun banyak bersumber dari ajaran konfusianisme. Konfusianisme bukanlah satu agama tetapi lebih kepada pengajaran falsafah untuk mempertingkatkan moral dan menjaga etika manusia.
2. Penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang baik, terlebih lagi dengan penyediaan perangkat teknologi tinggi seperti yang dilakukan negara Korea Selatan.
B. Saran
1. Perlunya menumbuhkembangkan ideologi pancasila dan nilai-nilai kebudayaan lokal dalam pengembangan sistem pendidikan di Indonesia.
2. Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia yang diandalkan untuk menempa sumber daya manusia ternyata belumlah sempurna. Masih banyak kelemahan yang menjangkiti sistem pendidikan. Perlu dilakukan pembenahan dalam setiap aspek pendidikan, oleh karena itu proses benchmarking terhadap sistem pendidikan yang ada di negara-negara maju perlu mendapat perhatian. Negara asia timur dan beberapa negara eropa dapat dijadikan rujukan dalam studi perbandingan agar sistem pendidikan yang ada di Indonesia dapat berbenah diri. Melalui peran generasi muda diharapkan ada satu visi untuk melakukan pembenahan dan pengawalan terhadap sistem pendidikan Indonesia. Sistem pendidikan yang handal akan menyiapkan sumber daya manusia Indonesia untuk menghadapi kompetisi global yang semakin hari semakin kompetitif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *