1 Pengertian Stres

Stres adalah respon tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya (Hawari, 2001).

Stres merupakan suatu kekuatan yang memaksa seseorang untuk berubah, bertumbuh, berjuang, beradaptasi, atau mendapatkan keuntungan (Swarth, 2002).

Stress adalah segala situasi di mana tuntunan non-spesifik mengharuskan seseorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye, 1976 dalam Potter dan Perry, 2005)

Jadi menurut Hawari, Swarth dan Selye Stres adalah reaksi tubuh (respon) terhadap lingkungan yang dapat memproteksi diri kita yang juga merupakan bagian dari system pertehanan yang membuat kita tetap hidup.

2   Jenis Stres

Mengalami kondisi stres adalah kondisi yang normal karena dalam setiap kehidupan merupakan suatu stress. Kondisi stress yang dihadapi seseorang dibagi dalam dua jenis (wong, 1995 : 106-113 dalam Nasir, 2011).

2.1  Stres biasa

Tekanan yang harus ditanggung dalam kehidupan sehari-hari.

2.2  Stres luar biasa

Tekanan sangat hebat yang disebabkan peristiwa traumatik. (Selye, 2004) menjelaskan tentang jenis stress dan membaginya menjadi 3, yaitu :

  1. Stress akut

Stress akut diakibatkan oleh ketegangan hidup sehari-hari mencakup situasi yan g tidak menyengkan. Stress akut muncul secara tiba-tiba dan hanya sementara, serta masih dapat dikendalikan. Penderita stress akut dapat menolak untuk berubah hingga dirinya dan orang-orang disekelilingnya.

  1. Stress kronik

Stress kronik yaitu stress yang diakibatkan oleh masalah-masalah keluarga yang berkepanjangan. Stress ini bersifat jangka panjang, penderita tidak mempunyai problem solving dari situasi yang penuh stress.

  1. Stress traumatic

Stress traumatic merupakan dampak dari sebuah tragedi yang luar biasa. Gejala stress traumatik dapat berupa kenangan terhadap suatu peristiwa yang menyebabkan trauma dan berlanjut dengan meningkatnya kepekaan terhadap peristiwa kecil pada tahun-tahun berikutnya

Menurut (Nasir dan Muhith, 2011:76) ada dua jenis stress, yaitu “baik” dan “buruk”. Stress melibatkan perubahan fisiologis yang kemungkinan dapat dialami sebagai perasaan yang baik pleasure (eustres) atau anxiousness (distress).

a)  Stress yang baik atau eustres

Sesuatu yang positif. Stress dikatan berdampak baik apabila seseorang mencoba untuk memenuhi tuntutan untuk menjadikan orang lain maupun dirinya sendiri mendapatkan sesuatu yang baik dan berharga.

b) Stress yang buruk atau distress

Stress yang bersifat negative. Distress dihasilkan dari sebuah proses yang memaknai sesuatu yang buruk, di mana respon yang digunakan selalu negative dan ada indikasi mengganggu intregitas diri sehingga bias diartikan sebagai sebuah ancaman.

3   Reaksi Stress

Bila individu mengalami stress, maka semua fungsi tubuh bereaksi dan bekerja untuk menghadapi stress yang menekan. Tubuh akan merasa terancam dan siaga dalam menghadapi tekanan-tekanan atau ketegangan-ketegangan karena stress. Reaksi stress adalah suatu tanda terhadap bahaya sebagai mekanisme untuk mempertahankan hidup. Reaksi stress tersebut merupakan alarm  yang memungkinkan seseorang untuk terus berjaga-jaga, membela diri dan tetep bertahan (waitz, 1984 :1 dalam Nasir dan Muhith, 2011).

Manusia memiliki cara-cara dalam  bereaksi tehadap stress. Ada 2 cara dalam bereaksi terhadap stress yaitu (Wong, 1995:107-108 dalam Nasir, 2011) :

3.1  Reaksi biologis

Merupakan suatu pertahananyang dilakukan oleh tubuh dan terjadi secara biologis, sejumlah adrenalin beredar dalam tubuh dan otot-otot menegang, jantung memompa keras, tekanan darah naik sehingga tubuh siap menghadapi stress.

3.2  Reaksi  psikologis

Merupakan pertahanan yang dilakukan oleh tubuh dengan mekanisme pertahanan diri dalam bentuk penyangkalan terhadap adany asters yang merupakan mekanisme pertahanan diri untuk melindungi psikisnya. Sejumlah reaksi biolaogis dan psikologis yang sangat rumit berlangsung untuk membuat seseorang bertahan terhadap situasi-situasi yang tidak menyenangkan. Individu akan memperbesar dan melebih-lebihkan stress, sehingga stress menempati setiap bagian dalam pikiran (Wong, 1995:108 dalam Nasir dan Muhith, 2011).

3.3  Jenis reaksi stress

Ada berbagai jenis reaksi stress yang umunya dialami manusia (Patel, 1996:78 dalam Nasir dan Muhith, 2011).

  1. Too little stress. Dalam kondisi ini, seseorang belum mengalami tantangan yang berat dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Seluruh kemampuan belum sampai dimanfaatkan, serta kurangnya stimulasi mengakibatkan munculnya kebosanan dan kkurangnya makna dalam tujuan hidup.
  2. Optimun stress. Seseorang mengalami kehidupan yang seimbang saat berada di “atas” maupun “bawah” akibat proses manajemen yang baik oleh dirinya. Kepuasan kerja dan perasaan individu dalam meraih prestasi menyebabkan seseorang mamapu menjalani kehidupan dan pekerja sehari-hari tanpa menghadapi masalh yang terlalu banyak atau rasa lelah yang berlebihan.
  3. Too much stress. Dalam kondisi ini, seseorang merasa telah melakukan pekerjaan yang terlalau banyak setiap hari. Dia mengalami kelelahan fisik maupun emosional. Serta tidak mampu menyediakan waktu untuk beristirahat atau bermain. Kondisi ini dialami secara terus-menerus tanpa memperoleh hasil yang diharapkan.
  4. Breakdown stress. Ketika pada tahap too much stress individu tetap meneruskan usahanya pada kondisi yang statis, kondisi akan berkembang menjadi adanya kecenderungan neurotis yang kronis atau munculnya rasa sakit psikosomatis.

4   Sumber Stress

Ada beberapa sumber stress yang berasal  dari lingkungan, di antaranya adalah lingkungan fisik, seperti : populasi udara, kebisingan dan lingkungan kontak social yang bervariasi serta kompitisi hidup yang tinggi. Selain itu, sumber stress yang lain meliputi hal-hal berikut (Atkitson, 1990 dalam Nasir dan Muhith, 2011):

4.1  Dalam  Diri Individuiri seseorang

Tingkatan stress yang muncul tergantung pada keadaan rasa sakit dan umur individu, selain itu stress juga akan muncul dalam dalam diri seseorang melalui dorongan-dorongan yang saling berlawanan. Kecenduerungan ini menghasilkan tipe dasar konflik (Wieten, 1992 dalam Nasir, 2011) yaitu sebagai berikut :

  1. Konflik pendekatan-pendekatan (approach-avoidance). Yaitu kondisi yang mengharuskan individu mengambil keputusan antara 2 hal tetapi individu mengalami ketakutan untuk menentukan keputusannya karena akibat yang di tmbulkan.
  2. Konflik pendekatan gamda (approach-aprpoach), yaitu kondisi yang mengharuskan individu memilih satu hal walaupun kedua-duanya sangat si senangi.sikap berlebihan  dalam mencapai cita-cita dan mematuhi norma-norma yang di anut. Tekanan dari luar berupa tuntutan dari lingkungan.
  3. Konflik penolakan ganda (avoidance-avoidance), yaitu kondisi yang mengharuskan individu memilih salah satu dan kedua hal tersebut tidak disenangi.

4.2  Dalam keluarga

Stress yang muncul dapat bersumber dari interaksi diantara para anggota keluarga, Yaitu hubugan antara anggota keluarga serta segala permasalahan yang di hadapi, antara orang tua dan anak, adik dan kakak, hal tersebut yang dapat memicu timbulnya stress.

4.3  Dalam kimunitas dan lingkungan

Interaksi individu di luar linkungan keluarga dapat menjadi sumber stress, baik interaksi antara teman sebaya maupun dengan orang yang lebih tua.

Keadaan stress dapat pula bersumber pada hal berikut (Maramis, 2004):

a) Frustasi

Frustasi timbul bila ada hambatan dalam mencapai tujuan individu. Frustasi dapat berasal dari luar seperti bencana alam, kecelakaan dan kegagalan dalam usaha sehingga penilaian diri menjadi buruk karena kebutuhan rasa harga diri kurang terpenuhi.

b) Konflik

Kondisi ini muncul ketika dua atau lebih perilaku saling berbenturan, di mana masing-masing perilaku tersebut butuh untuk diekspresikan atau malah saling memberatkan.

c) Tekanan (strain)

Tekanan dapat menimbulkan masalah penyusaian baik tekanan kecil yang terjadi sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam berupa sikap berlebihan dsalam mencapai cita-cita dan mematuhi norma-norma yang di anut.tekanan dari luar berupa tuntunan dari lingkungan untuj menentukan keputusan.

d)     Krisis

Krisis adalah suatu keadaan yang mendadak dan menimbulkan stress pada individu atau kelompok.

5. Tahapan stres

Menurut (Hawari, 2005) tahapan – tahapan stres sebagai berikut :

  1. Stres tahap I, yaitu: Tahapan ini merupakan tingkat stres yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan – perasaan sebagai berikut: (1) Semangat besar, (2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya, (3) Energi dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasa. Tahap ini biasanya menyenangkan dan orang lalu bertambah semangat, tapi tanpa disadari bahwa sebenarnya cadangan energi sedang menipis.
  2. Stres tahap II, yaitu: Dalam tahapan ini dampak stres yang paling menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan – keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagicukup sepanjang hari. Keluhan yang sering dikemukakan sebagai berikut : (1) Merasa letih sewaktu bangun pagi, (2) Merasa lelah sesudah makan siang, (3) Merasa lelah menjelang sore hari, (4) Terkadang gangguan pada sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), kadang – kadang jantung berdebar – debar, (5) Perasaan tegang pada otot – otot punggung dan tengkuk (belakang leher), (6) Perasaan tidak bisa santai.
  3. Stres tahap III, yaitu : Pada tahap ini keluhan keletihan semakin nampak disertai dengan gejala – gejala : (1) Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, sering ingin ke belakng), (2) Otot – otot terasa lebih tegang, (3) Perasaan tegang yang semakin meningkat, (4) Gangguan tidur (sukar tidur, sering terbangun malam dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi), (5) Badan terasa mau pingsan, (6) Pada tahap ini penderita harus berkonsultasi dengan dokter kecuali beban stress dikurangi.
  4. Stres tahap V, yaitu : Pada tahap ini sudah menunjukkan keadaan yang lebih buruk dengan ciri-ciri : (1) Untuk tetap bertahan setiap hari terasa sulit, (2) Kegiatan – kegiatan yang menyenangkan kinitersa sulit, (3) Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan sosial, dan kegiatan rutin lainnya terasa berat, (4) Sulit tidur, mimpi – mimpi menegangkan dan terbangun dini hari, (5) Perasaan negativistik, (6) Konsentrasi menurun tajam, (7) Persaan takut yang tidak jelas penyebabnya.
  5. Stres tahap V, yaitu : Pada tahap ini merupakan keadaan yang lebih mendalam dari tahapan IV, yaitu : (1) Keletihan yang  mendalam, (2) Kurangnya kemampuan untuk melakukan pekerjaan  yang sederhana, (3) Gangguan sistem pencernaan (maag), sukar buang air besar atau sebaliknya feses cair dan sering kebelakang.
  6. Stres tahap VI, yaitu: Pada tahapan ini merupakan tahapan puncak yang merupakan keadaan gawat darurat. Gejala – gejala pada tahap ini yaitu : (1) Debar jantung yang keras, (2) Nafas sesak, (3) Badan gemetar, tbuh dingin, keringat bercucuran, (4) Ketidak mampuan melakukan hal – hal yang ringan, pingsan.

6. Gejala stress

Pada umumnya gejala stress lebih mudah dikenal daripada penyebabnya, baik gejala yang muncul secara fisik, psikis, emosional maupaun yang berhubungan dengan interpersonal. Gejala stress seperti setelah adanya reaksi terhadap stress. Saat tubuh bereaksi terhadap stress baik secara biologis, fisiologis maupun psikologis selanjutnya akan memunculkan gejala stress yang muncul diantaranya sebagai berikut (Waitz,  1994:42-68 dalam Nasir, 2011) :

6.1  Kegugupan dan kecemasan

Kegugupan bias di alami individu saat menghadapi situasi baru atau situasi yang menurut induvidu untuk melakukan sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Sementara kecemasan muncul karena ketegangan saraf  yang terlalu  besar dalam jangka waktu lama saat individu menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan keadaan tersebut selalu mencul dalam bidang kehidupan yang lain tanpa diketahui penyebabnya.

6.2  Mudah tersinggung (irirtabilitas)

Stress yang memebawa pada keadaan iritabilitas menyebabkan stress lebih besar dan akan berakibat pula pada problem fisik. Iritabilitas juga merupakan suatu gejala dari stress terutama kepekaan terhadap bunyi.

6.3  Kelelahan kronis

Individu yang mengalami ketegangan tinggi dalam jangka waktu lama akhirnya mudah lelah, makin lama ketegangan tersebut makin cepat lelah. Kegugupan yang berhubungan dengan stress juga akan menghabiskan tenaga, semakin lama seseorang beraktivitas maka akan cepat lelah.

6.4  Rasa takut pada problem

Adanya reaksi menarik diri dari problem serta munculnya persaan cemas bahwa akan timbul problem baru pada beberapa individu. Individu mengembangkan fobia konflik yaitu suatu rasa takut yang amat besar untuk berkonflik dengan orang lain dan menganggap rendah diri sendiri.

6.5  Hilangnya spontanitas

Stress dapat menyebabkan keadaan yang menyedihkan, sehingga akan menyebabkan hilangya spontanitas.

6.6  Susah tidur

Dengan suatu problem yang memebuat individu merasa tegang, cemas selalu akan mengalami sulit tidur sebagai factor pembangun energy yang terpenting, aktivitas tidur menjadi suatu kewajiban yang mutlak dalam kehidupan individu agar berfungsi secara normal. Adanya reaksi biologis terhadap stress seperti adrenalin meningkat, jantung memompa keras dan aliran darah meningkatnmenyebabkan seseorang menjadi terus terjaga, mengalami kecemasan yang pada akhirnya mengganggu kemampuan untuk dapat tidur secara memadai.

Tidak semua gejala stress mudah dikenali, gejala stress yang timbul pada setiap orang berbeda. Ada beberapa gejala yang perlu juga diwaspadai sebagai suatu perubahan  (Hawari, 2004) :

  1.  kenaikan darah
  2. Cepat marah dan tersinggung
  3. Gelisah
  4. Nafsu makan hilang atau bertambah secara tidak wajar
  5. Tidak bias berkonsentrasi penuh

7 . Faktor yang mempengaruhi respon terhadap stress

Respon terhadap stress segala bentuk stressor bergantung pada fungsi fisiologis, kepribadian, dan karakteristik perilaku, sperti juga halnya sifat dari stressor tersebut. Sifat stressor mencakup factor-faktor berikut ini (Lazarus dan Folkman, 1984 dalam Potter dan Perry, 2005) :

  1. Intensitas
  2. Cakupan
  3. Durasi
  4. Jumlah dan sifat stressor

8. Respons terhadap stress

Ada beberapa respon yang menurut (Potter dan Perry, 2005:480), yaitu:

8.1  Respons fisiologis

Menurut (Selye, 1946 dalam Potter dan Perry, 2005) mengidentifikasikan 2 respons fisiologis terhadap stress :

  1. Sindrom adaptasi local (LAS)

Adalah respons dari jaringan, organ, atau bagian tubuh terhadap stress karena trauma, penyakit, atau perubahan fisiologis lainnya. LAS mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a)  Respons yang terjadi setempat; respons ini tidak melibatkan seluruh system tubuh.

b) Respons adalah adaptif, berarti bahwa stressor diperlikan untuk menstimulasinya.

c) Respons adalah berjangka pendek. Respons tidak terdapat terus-menerus.

d) Respons adalah restorative, berarti bahwa LAS membantu dalam memulihkan homeostasis region atau bagian tubuh.

  1. Sindrom adaptasi umum (GAS)

Adalah respons fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stress. Respons ini melibatkan beberapa system tubuh, terutama system saraf otonom dan system endokrin.

8.2  Respons psikologis

Pemajanan terhadap stressor mengakibatkan respons adaptasif psikologis dan fisiologis, ketika seseorang terpejam pada stressor, maka kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan darah terganggu. Gangguan atau ancaman ini, baik yang actual atau yang diserap, menimbulakan frustasi, ansietas, dan ketegangan (Kline-Leidy, 1990). Perilaku adaptif psikologis individu membantu kemampuan seseorang untuk menghadapi stressor. Perilaku ini diarahkan pada penatalaksaan stress didapatkan melalui pembelajaran dan pengalaman sejalan dengan individu mengidentifikasi perilaku yang dapat diterima dan berhasil. Perilaku adaptif  psikologis dapat kontruktif atau destruktif. Perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan untuk menyelesaikan konflik. Perilaku destruktif  mempengaruhi orientasi realitas, kemapuan pemecahan masalah, kepribadian, dan situasi yang sangat berat. Perilaku adaptif  psikologis juga disebut sebagai mekanisme koping.

9 . Alat ukur kekebalan stress

Untuk mengetahui taraf kekebalan terhadap stress dari seseorang telah di kembangkan semacam alat ukur yang dikenal dengan sebutan Skala miller dan Smith. Pada alat ukur ini terdapat 20 aktifitas kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh orang, yang masing-masing jenis aktifitas diberi nilai (score) dari 1 hingga 5. Nilai angka (score) 1 artinya hampir selalu dikerjakan, sedangkan nilai angka 5 artinya tidak pernah di kerjakan. Sedangkan nilai angka 2, 3dan 4 adalah berada diantara 1 dan 5. Pengukuran kekebalan ini dapat dilakukan oleh diri yang bersangkutan (self assessment). Ke 20 butir aktifitas kehidupan sehari-hari yang dimaksud adalah table 2.1 sebagai berikut :

Table 2.1 alat ukur kekebalan stress menrut Hawari:2001

no Aktivitas kehidupan sehari-hari Nilai (score) 1-5
Tiap hari saya sedikitnya sesekali menghadapi makanan hangat dan berimbang. 1 2 3 4 5
Sedikitnya empat malam dalam seminggu saya tidur 7-8 jam. 1 2 3 4 5
Saya secara teratur menerima dan member kasih sayang. 1 2 3 4 5
Sedikitnya saya mempunyai seorang saudara dalam jarak 75 km yang bisa saya andalkan. 1 2 3 4 5
Setidaknya dua kali dalm seminggu saya gerak badan sampai berkeringat. 1 2 3 4 5
Saya tidak merokok, kalaupun merokok kurang dari 10 batang sehari. 1 2 3 4 5
Saya tidak minum alcohol, kalaupun minum kurang dari 5 kali dalam seminggu. 1 2 3 4 5
Berat badan saya sesuai dengan tinggi badan. 1 2 3 4 5
Saya mempunyai penghasilan cukup untuk menutupi pengeluaran pokok. 1 2 3 4 5
Saya memperoleh kekuatan dari agama saya. 1 2 3 4 5
Saya secara teratur menghadiri kegiatan-kegiatan social atau klub. 1 2 3 4 5
Saya mempunyai lingkungan sahabat dan kenalan. 1 2 3 4 5
Saya mempunyai sahabat satu atau lebih kepada siapa saya dapat percanyakan soal-soal pribadi saya. 1 2 3 4 5
Kesehatan saya baik (termasuk mata, telinga dan gigi). 1 2 3 4 5
Saya berbicara terus terang mengutarakan perasaan hati di waktu marah atau gelisah. 1 2 3 4 5
Saya secara teratur bercakap-cakap dengan orang-orang dengan siapa saya tinggal, soal urusan domestic mesalnya kebersihan rumah dan kehidupan sehari-hari. 1 2 3 4 5
Setidaknya seminggu sekali saya melakukan sesuatu untuk hiburan. 1 2 3 4 5
Saya bisa mengatur waktu secara efektif. 1 2 3 4 5
Sahari-hari saya minum air “putih” dan tidak minum kopi, the atau cola; kalaupun minum kurang dari 3 cangkir seahari. 1 2 3 4 5
Saya setiap hari mencari waktu untuk menenangkan diri. 1 2 3 4 5

Sumber : (Hawari, 2001:59-61)

Untuk memperoleh nilai sejauh mana derajat kekebalan seseorang terhadap stress, maka nilai angka (score) dari ke 20 butir aktifitas keseharian di atas dijumlahkan; dari penjumlahan tadi lalu dikurangi dengan angka 20. Jumlah nilai angka kurang dari 30, orang tersebut kebal. Jumlah nilai angka di atas 50-80 orang tersebut tidak kebal terhadap stress.