Pengertian Komunikasi Terapeutik 

Menurut Indrawati dalam Sahara (2008) mendefinisikan komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, dengan tujuan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.

Menurut Sahara (2008) Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan pasien, persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dengan pasien sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan.

Menurut Arwani (2003) Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan namun harus direncanakan, disengaja dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya.

Manfaat Komunikasi Terapeutik

Adapun manfaat komunikasi terapeutik menurut Indrawati dalam Sahara (2008) yaitu untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien, mengidentifikasi, mengungkapkan perasaan dan mengkaji masalah evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat.

Tujuan Komunikasi Terapeutik

Tujuan dari komunikasi terapeutik menurut Indrawati dalam Sahara (2008) yaitu :

  • Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
  • Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik, fisik dan diri sendiri.
  • Membantu kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien.

Karakteristik Komunikasi Terapeutik

Karakteristik komunikasi terapeutik yaitu sebagai berikut :

  • Ikhlas (Genuine)

Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien harus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat.

  • Empati (Empathy)

Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien, objektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan.

  • Hangat (warmth)

Kehangatan dan sikap pormisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.

 Jenis Komunikasi Terapeutik

Menurut Potter and Perry dalam Sahara (2008). Jenis komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut :

  • Komunikasi Verbal

Komunikasi yang lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata lain adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan.

Komunikasi verbal yang efektif harus :

  • Jelas dan ringkas

Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan.

  • Perbendaharaan kata

Komunikasi tidak akan berhasil jika pengiriman pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan.

  • Arti denotative dan konotatif

Arti denotative memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata-kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian.

  • Selaan dan kesempatan berbicara

Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien.

  • Waktu dan relevansi

Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi, kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat.

  • Humor

Tertawa membantu mengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stress, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien.

  • Komunikasi tertulis

Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan memo, laporan, iklan disurat kabar dan lain-lain.

Pada dasarnya prinsip dari komunikasi tertulis terdiri dari :

  • Komunikasi non verbal

Komunikasi non verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, perawat perlu menyadari pesan verbal dan non verbal yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi. Asuhan keperawatan pesan non verbal terdiri dari :

  • Kinesik

Adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh.

  • Proksemik

Yaitu bahasa non verbal yang ditujukan oleh ruang, jarak antara individu dengan orang lain waktu berkomunikasi atau antara individu dengan objek.

  • Haptik

Yaitu sama dengan menepuk-nepuk, meraba-raba, memegang, mengelus dan mencubi. Haptik mengkomunikasikan relasi anda dengan seseorang.

  • Paralinguistic

Yaitu meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterpretasikan simbol verbal sebagai contoh.

  • Artifak

Artifak dalam komunikasi non verbal dengan berbagai benda material disekitar kita.

  • Logo dan warna

Kreasi perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupakan karya komunikasi bisnis, biasanya logo dirancang dijadikan simbol dan suatu karya organisasi atau produk suatu organisasi.

  • Tampilan fisik tubuh

Kesan tertentu terhadap tampilan fisik tubuh dari lawan bicara anda kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya dan tipe tubuh.

Fase-Fase Komunikasi Terapeutik

Menurut Arwani (2003) fase-fase dari komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut :

  • Orientasi (orientation)

Hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien.

  • Kerja (working)

Perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan.

Fase ini terdiri dari 2 kegiatan pokok yaitu :

  1. Menyatukan proses komunikasi dengan tindakan keperawatan.
  2. Membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan.
  • Penyelesaian (termination)

Perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai, agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan.

Daftar Pustaka

Amtaris. 2009. Lingkungan Perawatan. http://www.google.co.id. Di Unduh Tanggal 04 Januari 2010.

Andra, 2008. Http://spiritia.or.id/cst/bacacstperawmenu. Di Unduh tanggal 4 Januari 2010.

Arwani, 2003. Komunikasi Dalam Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Bambang. 2009. Pendidikan. http://www.teori-psikologi.blogspot.com. Di Unduh Tanggal 25 Desember 2009.

Chandra, 2008. http://Teori-psikologi.blogspot.com. Di Unduh tanggal 25 Desember 2009

Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

La Ode Jumadi Gaffar, 2002. Pengantar Keperawatan Profesional, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Mustikasari, 2008. Mustikanurse.blogspot.com. di Unduh tanggal 27 Desember 2009

Notoatmodjo, S. 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Cetakan Ketiga, Jakarta.

Patti, 2009. http://perawat-blogspot.com. Di Unduh tanggal 05 Januari 2010.

Pidyawati, 2007. http://bankdata.depkes.go.id/2008. Di Unduh tanggal 26 Desember 2009

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4. EGC. Jakarta.

Sabarguna. 2008. Karya Tulis Ilmiah Untuk Mahasiswa D-III Kesehatan. Sagung Seto. Jakarta.

Sahara, 2008. http:// creasoft.wordpress.com /2008 /04 /15/ komunikasi- terapeutik. Di Unduh tanggal 04 Januari 2010.

Siswono, 2006. http://www.gizi.net/cgi- bin/berita/ fullnews.cgi. Di Unduh tanggal 23 Desember 2009.

Sitorus, R. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit, Penerbit Kedokteran EGC, Jakarta.

Wahida, 2008. http://wordpress.com/2008/03/10/isolasi-pasien. di Unduh tanggal 7 Januari 2010.