Karang merupakan anggota dari filum Coenlenterata yang digolongkan kedalam kelas Anthozoa dan ordo Madreporania (scleractinia). Kelompok scleractinia dicirikan oleh : bentuk medusa pada stadia larva dan motil, bentuk polip pada stadium dewasa yang sesil, polip membentuk koloni atau soliter dan mempunyai eksoskeleton yang bahan dasarnya adalah kalsium karbonat .Timotius (2003) mengatakan bahwa, karang merupakan hewan tidak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelentrata (hewan berongga) atau kedalam Filum Cnidaria (hewan yang memiliki sel penyengat).

Tomascik et al. (1997) menyebutkan, secara garis besar terdapat dua jenis terumbu, yaitu terumbu benua (shelf reefs) yang menempel pada lempengan benua dan terumbu laut lepas (oceanic reefs) yang mengelilingi pulau-pulau kecil di laut lepas, di kedalaman lebih dari 200 meter. Sebagaian terumbu di Indonesia adalah terumbu benua. Kedua jenis terumbu tersebut dapat dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, yaitu : 

a. Terumbu tepi (fringing reefs)

umumnya terletak di tepi lempengan benua dan di sekeliling pulau-pulau, tumbuh dekat pantai dan dipisahkan dari daratan oleh laguna dangkal. Terumbu tepi merupakan tipe yang paling umum dijumpai di Indonesia, terutama di sekitar pulau-pulau berukuran kecil dan sedang. 

b. Terumbu penghalang (barrier reefs)

terletak di tepi lempengan benua dan dipisahkan dari daratan oleh perairan yang dalam serta puluhan bahkan ratusan kilometer dari darat. 

c. Atol

adalah terumbu melingkar berbentuk cincin yang mengelilingi sebuah laguna dan umumnya terdapat di peraian lepas pantai. Diduga pada awalnya, atol-atol merupakan terumbu tepi yang mengelilingi sebuah puncak gunung berapi. Gunung berapi tersebut secara perlahan tenggelam, akibat penumpukan sedimen karang yang semakin berat dan perubahan tinggi permukaan air laut. Sementara itu, terumbu karang yang berbentuk cincin terus tumbuh kearah permukaan air laut hingga akhirnya terbentuklah atol.