Pengertian Kesepian

Spitzberg dan Hurt (dalam Eriany, 1997) menyatakan bahwa kesepian adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yaitu kurang mempunyai hasrat untuk berhubungan dengan orang lain yang muncul dalam diri individu sebagai akibat dari ketidakpuasan yang dirasakan terhadap kualitas dan kuantitas suatu hubungan interpersonal dengan orang lain. Pernyataan diatas didukung oleh Sears, dkk (1994), menyatakan bahwa kesepian menunjuk pada kegelisahan subjektif yang dirasakan pada saat hubungan sosial kehilangan ciri-ciri pentingnya.Hilangnya ciri ini dapat bersifat kuantitatif, misalnya tidak punya teman atau hanya mempunyai sedikit teman. Kekurangan itu dapat juga bersifat kualitatif yaitu hubungan yang dangkal atau kurang memuaskan dibandingkan dengan apa yang kita harapkan.




Bruno (2000), menyatakan bahwa kesepian adalah suatu keadaan mental dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. Selanjutnya, menurut Peplau dan Perlman (dalam Sarwono, 1999) kesepian merupakan perasaan yang timbul jika harapan untuk terlibat dalam hubungan akrab dengan seseorang tidak tercapai.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah suatu keadaan tidak menyenangkan yang dialami soleh banyak orang karena tidak terpenuhinya kebutuhan berkomunikasi, menjalin hubungan yang lebih akrab dan mendalam baik secara kuantitatif atau kualitatif.

Aspek-aspek Pengukur Kesepian

Menurut Suseno (2003) ada empat aspek yang dapat digunakan untuk mengukur kesepian :

  1. Aspek kesepian emosional, yaitu kesepian yang dirasakan individu akibat tidak terpenuhinya kebutuhan untuk berhubungan secara intim dengan orang yang dicintai dan mencintainya(hilangnya figure kasih sayang yang intim seperti yang diberikan oleh orang tua, teman akrab, atau pasangan).
  2. Aspek kesepian sosial, kesepian yang dirasakan karena ketidakmampuan untuk melibatkan diri dengan lingkungan sosial, serta tidak ada figur yang dapat diajak berkomunikasi, baik dari lingkungan sosial maupun dari rekan kerja.
  3. Kesepian Kognitif, kesepian yang dirasakan karena individu hanya mempunyai sedikit teman untuk berbagi pikiran atau gagasan dengan individu yang dianggap penting.
  4. Kesepian Behavior, kesepian yang dirasakan karena individu kurang atau tidak mempunyai teman sewaktu jalan-jalan dan melaksanakan kegiatan di luar rumah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kesepian

Peplau dan Perlman (Davidof, 1988) membagi dua faktor yang mempengaruhi timbulnya kesepian, yaitu :

  1. Faktor Internal
    1. Kualitas Pribadi, kecenderungan melakukan penilaian negative pada diri sendiri dan orang lain.
    2. Usia, stereotip yang popular menggambarkan usia tua sebagai masa kesepian yang besar, meskipun tidak lebih besar dari kesepian yang dialami pada remaja dan pemuda.
    3. Jenis Kelamin, secara umum kaum pria cenderung merasa kesepian dibandingkan kaum wanita, karena pria cenderung mengikuti harapan masyarakat bahwa mereka seharusnya tidak merasa kesepian dibandingkan wanita.
  2. Faktor Eksternal
    1. Perubahan dalam hubungan sosial, hal ini biasanya terajdi karena menurunnya kualitas maupun kuantitas hubungan dengan orang lain.
    2. Perubahan pada kebutuhan sosial atau harapan akan kebutuhan yang baru baik secara fisik, psikis, seksual, maupun sosial. Apabila tidak terpenuhi, maka individu akan mengalami kesepian dan perasaan terabaikan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *