Pendahuluan

 

1. Rasionale

Indonesia merupakan negara maritim kepulauan terbesar di dunia. Kekayaan dan keragaman biota dan ekosistem laut menjadikan laut Nusantara sebagai gudang keaneka-ragaman hayati bahari (mega marine biodiversity). Sistem oseanografi-meteorologi perairan Pasifik Barat sangat mempengaruhi kondisi oseanografi dan iklim Indonesia. Sementara itu dinamika upwelling dengan transport nutrien dan biomassa serta iklim tropika yang hangat menjadikan  laut nusantara sebagai gudang keanekaragaman hayati dunia. Kondisi ini menjadikan Indonesia mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif dalam keanekaragaman, kekayaan, keunikan dan keindahan biota serta ekosistem baharinya. Hal tersebut menjadi lebih menonjol terutama dengan adanya program riset global yang disebut Census of Marine Life atau disingkat dengan CoML.
Program CoML tersebut melibatkan ilmuwan di seluruh dunia yang berupaya membedah arsip untuk mengkaji kondisi keragaman (diversity), sebaran (distribution) dan kelimpahan (abundance) komunitas dan populasi biota bahari pada masa lalu (sampai 500 tahun ke belakang, kalau mungkin), selanjutnya memotret parameter-parameter tersebut pada saat ini. Data dan informasi yang diperoleh dari dua kegiatan tersebut akan dipakai untuk mengkaji kecenderungan (trend) kondisi sumberdaya tersebut, yang  selanjutnya berguna untuk memprediksi kondisinya di masa yang akan datang. Upaya tersebut dimaksudkan guna memperoleh luaran agar dapat dijadikan landasan bagi upaya konservasi dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.
Sebagai negara  maritim kepulauan terbesar dan gudang keanekaragaman hayati bahari dunia, sangat tepat apabila Indonesia terlibat dalam upaya global tersebut. Bagi LIPI yang mempunyai lembaga riset kelautan tertua di Indonasia dengan pengalaman kerjasama riset internasional, adalah suatu keharusan apabila menjadi pemrakarsa utama  dalam merancang dan melaksanakan  program ini di Indonesia. Hasil riset ini akan menjadi penting maknanya karena kebijakan pemerintah yang saat ini mulai menjadikan sektor kelautan sebagai penggerak (prime-mover) ekonomi nasional. Meskipun demikian, kegiatan tersebut hendaknya ditujukan sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional, dimana salah satunya adalah untuk memperkuat ketahanan dan keamanan pangan kita, khususnya protein dari sumberdaya ikan.
2. Permasalahan
Meskipun telah diyakini oleh semua pihak bahwa laut nusantara merupakan gudang keanekaragaman hayati. tetapi kita tidak tahu secara pasti apa yang kita punyai. Di sisi lain, masalah-masalah lingkungan laut terus berlangsung dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Penebangan hutan mangrove untuk kebutuhan pembukaan lahan tambak, pembuatan arang dan chip serta untuk pemukiman terus saja berlangsung; perusakan terumbu karang oleh pemboman, pembiusan ikan, penambangan karang dan dan pencemaran dari daratan juga tidak berhenti, meskipun ada program penyelamatan terumbu nasional yang cukup besar dan luas, demikian juga dengan padang lamun yang hampir selalu berdekatan letaknya dengan terumbu karang dan mangrove. Estuaria yang daerah hulunya padat dengan kegiatan, kualitas perairannya sudah cenderung menurun serta menjadi dangkal akibat erosi dan  sedimentasi dari daerah hulunya.
Pencemaran laut yang diakibatkan baik oleh kegiatan manusia di darat maupun di laut terus berlangsung secara intensif dan meluas sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan pertambahan penduduk. Perairan di depan kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Makasar misalnya sudah sangat menurun kualitasnya akibat pencemaran. Para ahli sepakat bahwa 80% kasus pencemaran laut diakibatkan oleh aktivitas manusia di daratan.
Masalah lingkungan laut yang lain adalah eksploitasi sumberdaya laut yang tidak hati-hati sehingga mengakibatkan over-eksploitasi dan overfishing, meskipun secara keseluruhan eksplitasi sumberdaya laut kita masih di bawah tingkat optimumnya. Laut Jawa, Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan Kalimantan Timur sudah memperlihatkan indikasi overfishing karena terlampau tingginya tingkat penangkapan di perairan tersebut.
Akar masalah yang yang menyebabkan ketiga masalah lingkungan di atas adalah sebagai berikut:
·        Tidak memadainya tingkat penguasaan ilmu dan teknologi dalam pemanfaatan sumberdaya laut kita secara bekelanjutan
·        Peraturan perundangan yang tidak mendukung dan penegakan hukum yang lemah
·        Kebijakan yang tidak mendukung
Ketiga akar masalah di atas secara kumulatif merupakan kegagalan kelembagaan secara menyeluruh dari tingkat pusat, daerah maupun tingkat desa dan di tingkat masyarakat pesisir. Dampak paling ujung adalah kemiskinan masyarakat pesisir yang berdampak balik pada kerusakan sumberdaya.
Permasalahan lain yang penting disadari dari awal adalah bahwa program ini adalah program yang kompleks dengan metodologi yang belum solid dan belum ada kesepakatan antara para calon pelaksana. Oleh karena itu, kerangka acuan ini dibuat agar dapat dijadikan dasar dan panduan untuk menyusun usulan kegiatan riset sensus biota laut untuk masing-masing  komponen. Selain itu, kerangka acuan ini agar dianggap sebagai panduan yang dinamis dan adaptif sehingga setiap saat dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan kondisi yang terus berubah.    
Selain dari itu, ada permasalahan ilmiah yang harus diperhatikan dalam desain dan pelaksanaan program ini antara lain:
·        Bagaimana memperoleh data dan informasi masa lalu guna mengkaji kondisi ekosistem, biota dan faktor-faktor lingkungan masa lalu
·        Bagaimana metode penelitian untuk mengkaji kondisi ekosistem, komunitas, dan populasi biota serta faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya;
·        Bagaimana mengkaji kecenderungan dari kondisi masa lalu ke masa kini serta kondisi lingkungan yang mempengaruhinya;
·        Bagaimana membuat model untuk memprediksi kondisi masa depan berdasarkan analisis kecenderungan  tersebur di atas;
·        Bagaimana merangkum semua data dan informasi serta hasil-hasil analisis kecenderungan dan model prediksi dalam sistem pengelolaan data dan informasi elektronik yang menarik, informatif dan bermanfaat bagi pengguna;
·        Bagaimana menganalisis data dan informasi dalam bentuk peta-peta tematik guna menunjang dan mempermudah penyusunan konsep kebijakan dan strategi pengelolaan sumberdaya hayati dan lingkungan bahari dan pesisir;
·        Selanjutnya bagaimana menyusun konsep kebijakan dan strategi pengelolaan sumberdaya hayati dan lingkungan bahari berbasis ilmu pengetahuan dari hasil-hasil program ini.
    
Lingkup Kajian
1. Definisi
Sensus Biota Laut (Census of Marine Life=CoML) adalah program penelitian yang mempelajari perubahan keanekaragaman (diversity), sebaran (distribusi) dan kelimpahan (abundance) biota laut karena perubahan lingkungan dan aktivitas manusia dalam skala ruang dan waktu.
Berdasarkan definisi di atas, program ini dapat dideskripsikan sebagai berikut:
·        Mengkaji kondisi habitat, komunitas dan populasi biota laut di masa lalu
·        Melakukan eksplorasi sumberdaya tersebut guna mengkaji kondisinya saat ini
·        Menganalisis kecenderungan kondisi sumberdaya tersebut berdasarkan kondisi masa lalu dan saat ini
·        Memprediksi kondisi sumberdaya tersebut di masa mendatang berdasarkan hasil analisis kecenderungan
·        Mengkaji faktor-faktor lingkungan fisik-kimia-biologis dan sosio-demografis yang mempengaruhi perubahan tersebut
·        Menganalisis dan mengelola data dan informasi yang diperoleh dalam system pangkalan data dan sistem informasi geografis (SIG) untuk dijadikan  bahan dalam menyusunan rekomendasi guna mendukung kebijakan ketahanan dan keamanan pangan
2. Komponen program
Program ini meliputi beberapa komponen berikut:
2.1. Komponen taksa
Perairan Nusantara mengandung beribu taksa biota, dan tidak mungkin melakukan sensus sekaligus. Oleh karena itu dalam tahap awal program ini dilakukan pemilihan berdasarkan prioritas dengan menetapkan kriteria seperti berikut: 1) nilai ekonominya dan produksinya tinggi, 2) Tingkat kelangkaan dan ancaman, 3) komoditas frontier yaitu mempunyai masa depan yang ekonomis penting tetapi belum banyak dimanfaatkan, 4) permintaan pasar yang kuat, 5) keunikan dan kekhasan, 6)  kerusakan habitat dan penurunan kualitas air. Berdasarkan berbagai kriteria tersebut, maka taksa terpilih adalah sebagai berikut:
·        Ikan: Hiu dan Pari (Elasmobranchii), Kakap Laut Dalam (Deep sea snapper), Sidat(Anguilla spp), Ikan Terbang (Exocoetidae), pelagis besar dan kecil;
·        Krustasea: Udang karang (Palinuridae) dan udang penaeid (Penaeidae);
·        Moluska: Kima (Tridacnidae) dan Lola (Trochidae);
·        Echinodermata: seluruh jenis teripang (Holothuridae)
2.2. Komponen habitat/ekosistem
Komponen habitat/ekosistem meliputi ekosistem-ekosistem estuaria, mangrove, lamun dan terumbu karang. Sedangkan aspek yang dikaji meliputi luasan, keanekaragaman, sebaran dan kelimpahan biota yang berasosiasi dengan ekosistem-ekosistem tersebut, serta kondisi/kualitas dan ekosistem, sirkulasi perairan, tipe substrat dan geomorfologinya,  Pemetaan dengan menggunakan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografi merupakan bagian penting dari kegiatan komponen ini.
2.3. Komponen Hidrologi/Kualitas air
Air merupakan media kehidupan biota laut. Oleh karena itu faktor oseanografis dan kualitas air laut sangat menentukan keberhasilan hidup biota laut dalam hal berkembang biak, bermigrasi, mencari makan, tumbuh dari larva menjadi dewasa. Suhu, salinitas, oksigen, pola arus, nutrien dan zat-zat pencemar merupakan parameter-parameter fisik-kimiawi penting yang menentukan kondisi hidrologis dan kualitas air, temasuk kandungan  zat pencemar dalam sedimen dan tubuh biota. Sedangkan parameter biologis seperti mikrobiologi, bentos, plankton dan produktivitas merupakan indikator kualitas air dan kesuburan.
2.4. Komponen Sosio-Ekonomi-Demografi
Perubahan kondisi ekosistem komunitas dan populasi biota laut dipengaruhi baik oleh faktor alam maupun faktor manusia, tetapi kegiatan manusia merupakan faktor yang dominan. Kebijakan, peraturan perundangan, penegakan hukum, keserakahan, ketiadaan mata-pencaharian alternatif, kebutuhan ruang yang mendesak karena pertumbuhan penduduk merupakan akar dari permasalahan yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu harus ada kajian berbagai kebijakan masa lalu yang berdampak terhadap degradasi atau kelestarian sumberdaya  alam dan lingkungan. Sejarah perkembangan industri, pemukiman dan pertanian juga perlu dikaji karea hal-hal- tersebut merupakan kekuatan pengendali (driving forces) terjadinya masalah-masalah lingkungan saat ini. Hal tersebut hanya merupakan sebagian contoh-contoh, tentunya masih banyak aspek sosio-ekonomi-demografi lain yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya yang perlu dikaji. Tentunya para ahli di bidang ini yang lebih memahami dan dapat menggali lebih mendalam..
2.5. Komponen “Marine Bioprospecting”
Komponen ini sebetulnya merupakan aktivitas hilir yang tidak ada kaitan dengan sensus biota laut dan  ketahanan maupun keamanan pangan. Meskipun demikian, berbagai biota yang menghasilkan senyawa-senyawa bioaktif dapat dikategorikan sebagai komoditas frontier. Pada tahap awal kajian terhadap substansi bioaktif hendaknya difokuskan pada  kelompok biota yang prospektif seperti  pada sponge dan ascidian.
2.6. Komponen Ocean Biogeographic Information System (OBIS)
Komponen ini diharapkan menjadi kegiatan penunjang lima komponen terdahulu dalam membantu menganalisis dan mengelola data dan informasi hasil kegiatan penelitiannya. Kegiatan komponen ini terdiri dari bidang :
  • Bidang pengembangan pangkalan data dan metadata;
  • Bidang pengembangan pemetaan melalui aplikasi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografi;
  • Bidang pengembangan situs WEB
2.7. Komponen Pengembangan Teknologi Deteksi
Selama ini dalam melakukan penlitian kelautan kita sangat tergantung pada peralatan yang diproduksi oleh negara maju. Hal ini membawa konsekuensi lebih jauh yaitu ketergantungan terus menerus dalam hal servis, perbaikan dan kalibrasi. LIPI yang mempunyai pusat-pusat penelitian di bidang ini cukup layak mulai mengembangkan peralatan deteksi di bidang penelitian laut, misalnya alat deteksi ikan (akustik dan sonar) dan monitoring kualitas air yang terus-menerus (real time water quality monitoring).
2.8. Keterkaitan Antar Komponen
Idealnya, merujuk pada permasalahan yang telah dibahas pada bab terdahulu. kegiatan penelitian masing-masing komponen mempunyai kaitan satu sama lain. Hal tersebut untuk mempermudah dalam menganalisis seluruh data dan informasi agar dapat digunakan untuk melandasi penyusunan konsep kebijakan pengelolaan. Oleh karena itu lokasi penelitian juga harus terfokus pada wilayah yang relatif terbatas agar penyusunan
kebijakan dan strategi pengelolaan realistis dan operasional serta benar-benar berlandaskan fakta-fakta ilmiah. Dengan demikian dalam proses perencanaan, masing koordinator/penanggung jawab komponen harus selalu berinteraksi melalui berbagai pertemuan seperti rapat perencanaan, lolakarya atau seminar.
Lingkup Penelitian
1. Wilayah penelitian
Pemilihan wilayah penelitian didasarkan pada kriteria di bawah ini:
  • Perairan yang menjadi pusat keanekaragaman hayati bahari dunia;
  • Wilayah daratannya mempunyai perkembangan ekonomi yang cukup tinggi;
  • Aspek transboundary yang cukup signifikan baik dilihat dari aspek sirkulasi air, ruaya (migration) dan sebaran biota maupun perdagangan lintas batas;
  • Daya tarik internasional dalam aspek ilmiah/akademik, pembangunan, konservasi, dan pembiayaaan
  • Akseptabilitas dan dukungan pemerintah daerah
Dari kriteria di atas maka wilayah perairan yang terpilih adalah:
·        Selat Makasar dengan fokus Kalimantan Timur;
·        Sulawesi Utara dengan fokus periran sekitar Bitung dan Selat Lembeh;
·        Maluku Utara dengan fokus Ternate dan sekitarnya;
·        Laut Cina Selatan dan perairan Selat Malaka wilayah Riau.
Dalam hal desain penelitian lingkup ruang penting untuk diperhatikan karena dalam definisi ditekankan perubahan keragaman, sebaran dan kelimpahan baik ekosistem, komunitas dan populasi dalam skala ruang (spatial) dan waktu (temporal). Sebagai contoh misalnya bagaimana keragaman spasial komunitas larva ikan di muara sungai mulai dari perairan dengan salinitas rendah sampai salinitas yang lebih tinggi di perairan dekat laut lepas. Hal yang sama juga dengan kadar zat pencemar dari lokasi yang dekat dengan sumber pencemar dengan lokasi yang berangsur jauh dari sumber pencemar. Dalam skala yang lebih luas, misalnya lokasi yang kita anggap dekat dengan pusat sebaran dengan lokasi yang lebih jauh dari pusat sebaran. Perubahan substrat juga menentukan keragaman spasial, seperti padang lamun misalnya. Komunitas lamun yang tumbuh di sedimen terrigenous (berasal dari daratan) berbeda dengan komunitas lamun yang tumbuh di sedimen carbonate (berasal dari pecahan biota penyusun terumbu karang). Maka dalam hal ini ketajaman berfikir dan penguasaan teoritis dari peneliti sangat diperlukan dalam mendesain proposal penelitian.
2. Lingkup waktu
Keragaman berdasarkan waktu (temporal variation) merupakan aspek yang paling sulit dikaji, terutama pada komponen taksa. Hal ini disebabkan karena kita lemah dalam pengelolaan data dan informasi atau bahkan tidak mengelola data sama sekali. Mungkin beberapa contoh dapat diberikan, misalnya untuk luasan mangrove atau lamun masa lalu dapat dikaji melalui data citra satelit masa lalu dengan citra satelit saat ini. Apakah ekosistem tersebut mengalami penambahan atau pengurangan luas. Contoh lain misalnya, kita mengambil sedimen dengan corer, sedimen dalam corer dibagi-bagi dan tiap bagian dideteksi umurnya melalui carbon dating dan diteliti kandungan zat pencemarnya. Dari data tersebut diharapkan dapat diketahui kecenderungan tingkat pencemaran dari masa lalu sampai saat ini. Apabila hal-hal tersebut di atas dikaitkan dengan hasil kajian komponen sosio-ekonomi-demografi, maka diharapkan dapat disampaikan rekomendasi kebijakan untuk mendukung pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan.
Dalam komponen sosio-ekonomi-demografi, kebijakan-kebijakan, perkembangan industri, pertanian, pemukiman, pertumbuhan penduduk termasuk imigrasi dan emigrasi, aspek kelembagaan dan perundangan masa lalu yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan mutlak dikaji. Kemudian dikaji statusnya saat ini untuk menganalisis trend guna memprediksi keadaannya di masa depan yang dikaitkan dengan hasil prediksi kondisi sumbernya. Dari hasil kajian ini tentunya LIPI dapat menyusun rekomendasi kebijakan untuk konservasi dan pemanfaatan sumberdaya hayati dan lingkungan bahari dan pesisir secara berkelanjutan.
3. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan penelitian meliputi pengumpulan dan analisis data sekunder, survey lapangan, analisis data dan contoh di laboratorium, penyusunan laporan maisng-masing komponen, rangkuman laporan menjadi konsep kebijakan
3.1. Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder
Lingkup kegiatan ini meliputi penelusuran dan analisis data sekunder melalui studi pustaka, pengumpulan dan analisis data statistik, analisis data citra penginderaan jauh dan peta-peta masa lalu.
3.2. Survei Lapangan
Survei lapangan memerlukan perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan hasil analisis data sekunder dan metode yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai, serta mempertimbangkan keterkaitan dengan komponen lain.     
3.3. Analisis Data dan Laboratorium
Analisis data baik data sekunder maupun primer serta analisis contoh di laboratorium merupakan bagian penting dari program ini. Oleh karena itu kegiatan ini harus mendapt pendanaan yang memadai baik untuk alokasi waktu maupun  untuk pengadaan berbagai bahan kimia. Selain itu, analisis citra satelit yang digabungkan dengan data check lapangan (ground check) juga membutuhkan waktu, bahan dan biaya yang memadai.
3.4. Penyusunan dan Sintesis Laporan
Penyusunan dan sintesis laporan merupakan tahap penting karena kualitas laporan dan sintesis berbagai laporan masing-masing komponen dasar bagi penyusunan kebijakan yang menjadi tujuan utama dari program ini. Suatu tim kecil yang cukup solid dan multidisiplin serta  memahami program secara mendalam.
3.5. Penyusunan Kebijakan     
Tim kecil yang merangkum berbagai laporan akan melanjutkan tugasnya menyusun kebijakan dan strategi pengelolaan. Idealnya, tim ini dibantu oleh seorang ahli dalam kebijakan publik atau kebijakan maritim. Draf kebijakan tersebut harus didiskusikan melalui beberapa kali lokakarya untuk mendapat masukan dan dapat diterima oleh seluas mungkin pemangku kepentingan (stakeholder), Kegiatan ini agar dialokasikan anggaran yang memadai, atau bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat untuk memperoleh anggaran pendamping. 
 
Tujuan dan Sasaran
1. Tujuan dan sasaran
Tujuan umum (goal) program sensus biota laut adalah suatu kebijakan pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perikanan berbasis ilmu pengetahuan melalui identifikasi dinamika perubahan keaneka-ragaman, sebaran dan kelimpahan ekosistem, komunitas dan populasi biota laut dalam skala ruang (spatial) dan waktu (temporal) serta faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya baik faktor fisik, kimia, biologis dan sosio-ekonomi-demografi guna mendukung kebijakan nasional di bidang ketahanan dan keamanan pangan 
Adapun tujuan khusus/sasaran (specific objectives) adalah sebagai berikut:
·        Teridentifikasinya dinamika perubahan keanekaragaman, sebaran, dan kelimpahan biota laut tertentu (sidat, elasmobranchii, kakap laut dalam, lola-kima dan teripang, ikan terbang dll.) dari masa lalu, saat ini dan prediksinya di masa datang.
·        Terpetakannya  berbagai ekosistem laut dangkal di lokasi studi (estuaria, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang) serta keragaman, sebaran dan kelimpahan biota yang berasosiasi dengan sistem-sistem tersebut di masa lalu, saat ini dan di masa mendatang;.
·        Terpetakannya kondisi hidrologis/oseanografis, dinamika spasial dan temporal kualitas air laut dan sedimen serta system sosio-ekonomi-demografi masyarakat pesisir  di lokasi penelitian;
·        Terbangunnya dan beroperasinya sistem analisis dan pengelolaan data dan informasi dinamika sumberdaya hayati bahari, lingkungan fisik, kimia dan  biologis serta sosio-ekonomi-demografi di lokasi penelitian;
·        Terciptanya berbagai prototip peralatan deteksi/pelacakan biota laut dan peralatan untuk real time monitoring kondisi dan kualitas air laut;
·        Teridentifikasinya hubungan sebab-akibat terjadinya masalah lingkungan di wilayah penelitian melalui analisis hubungan sebab-akibat (causal chain analysis)
·        Meningkatnya kapasitas kelembagaan dan sumberdaya peneliti kelautan dan terpenuhinya kebutuhan peralatan dan wahana untuk melakukan program riset tersebut.  
·        Tersusunnya kebijakan dan strategi pengelolaan sumberdaya hayati dan lingkungan bahari di lokasi berlandaskan data dan informasi ilmiah hasil penelitian yang dilanjutkan dengan analisis sebab akibat (causal chain analysis), sehingga tersusun “Rancang Tindak Strategis” (Strategic Action Plan). 
2. Luaran dan dampak
Luaran dari program ini meliputi
  • Laporan teknis dan publikasi ilmiah (jurnal ilmiah dalam dan luar negeri) mengenai hasil-hasil penelitian yang meliputi dinamika luasan, persen tutupan keanekaragam, sebaran dan kelimpahan ekosistem, komunitas, dan populasi biota laut dalam skala ruang dan waktu serta prediksinya di masa depan. .
  • Laporan teknis dan publikasi ilmiah mengenai dinamika spasial dan temporal faktor-faktor lingkungan fisik-kimia-biologis, termasuk parameter kualitas air, dan sosio- ekonomi- demografi (termasuk kebijakan dan peraturan perundangan) yang mempengaruhi kondisi ekosistem, komunitas dan populasi biota laut;
  • Sistem analisis dan pengelolaan data elektronik yang operasional dan situs WEB yang atraktif, informatif dan bermanfaat bagi pengguna;
  • Peta tematik mengenai ekosistem, keanekaragaman, sebaran dan kelimpahan biota serta faktor-faktor lingkungannya;
  • Berbagai panduan dan manual mengenai metode pengambilan contoh dan analisis data, dan sistem pengelolaan data, metode pemetaan sumberdaya dan ekosistem serta manual-manual yang lain;
  • Rekomendasi kebijakan dan strategi pengelolaan smberdaya hayati wilayah penelitian dan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan berbagai taksa biota yang diteliti.
Sedangkan dampak dari hasil penelitian yang diharapkan adalah:
·        Adopsi rekomendasi kebijakan dan strategi oleh pemerintah setempat dam dimanfaatkan menjadi Rencana Strategis;
·        Pengakuan kalangan akademis baik dalam maupun luar negeri terhadap publikasi yang diterbitkan yang salah satu kriterianya adalah jumlah kutipan ;
·        Respon terhadap situs web meningkat dengan indikator jumlah kunjungan yang meningkat, dan ini akan meningkatkan citra LIPI;
·        Peningkatan kepedulian dan apresiasi pemeritah pusat dan daerah terhadap hasil-hasil riset yang melandasi pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan laut dengan indikator rekomendasi kebijakan diadopsi dan diterapkan;
·        Meningkatnya keterlibatan antar puslit dan kedeputian di lingkungan LIPI dalam melaksanakan program terpadu serta bertambah baiknya prosedur dan mekanisme pelaksanaan program tesebut;
·        Meningkatnya kemitraan antar para pemangku kepentingan (stakeholders) dan partisipasi masyarakat setempat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan bahari.
Tahapan Pelaksanaan
Program ini mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi, kami tidak punya pengalaman yang cukup untuk melaksanakannya. Selain itu lingkup wilayah laut nusantara yang sangat luas dan keragaman taksa biota cukup tinggi serta belum adanya metodologi yang baku menyebabkan program ini diperkirakan akan berlangsung lama. Oleh karea itu harus ada strategi pentahapan pelaksanaan yang diusulkan sebagai berikut:
1. Tahap Awal/Inisiasi ( 2004 – 2007)
Tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap pilot (pilot phase), dengan wilayah yang relatif terbatas dan jumlah taksa tidak banyak. Pada akhir tahap ini diharapkan dapat disusun metode-metode dan manual pengambilan contoh, analisis  dan pengelolaan data dan informasi, peta-peta tematik lokasi pilot serta draf rencana strategis daerah pilot dan usulan kelembagaan yang menangani pelaksanaan rencana strategis. Desain sistem analisis dan pengelolaan data dan informasi sudah terbentuk dan mulai operasional. Sistem pengelolaan perikanan taksa terpilih sudah dapat dirancang. Berbagai tulisan dan manuskrip ilmiah diterbitkan dan diajukan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah baik dalam maupun luar negeri 
2. Tahap Pengembangan (2008 – 2012)
Berdasarkan hasil pembelajaran pada tahap awal, wilayah kajian akan diperluas dan komponen kajian diperdalam.  Draf Rencana Strategis diadopsi oleh pemerintah daerah, stakeholder yang lain dan masyarakat setempat. Sistem analisis dan pengelolaan data sudah beroperasi penuh dan sistem jaringan terbentuk, termasuk beroperasinya Web Site. Peta-peta tematik dapat diproduksi dalam bentuk cetak maupun digital. Sistem pengelolaan perikanan taksa terpilih diadopsi dan mulai dilaksanakan oleh instansi terkait. Pelatihan-pelatihan untuk para peneliti dari daerah (perguruan tinggi dan lembaga riset daerah) untuk mengembangkan jaringan kelembagaan sensus biota laut mulai dilaksanakan. Kelembagaan ini dapat dimulai dari suatu kelompok berbagai ahli yang bersifat adhoc.  Tulisan-tulisan ilmiah hasil riset ini bertambah jumlahnya, demikian juga yang dipresentasikan dalam pertemuan-pertamuan ilmiah nasional maupun internasional dan diterbitkan dalam berbagai prosiding dan berbagai jurnal ilmiah.
3. Tahap Pelembagaan (2013 – 2018)
Tahap ini adalah tahap menentukan karena merupakan periode operasionalisasi jaringan kelembagaan untuk mengantisipasi keberlanjutan kegiatan ini setelah proyek berakhir. Demikian juga dengan  pendanaan yang berkelanjuatan sudah mulai dirancang sistemnya agar pada pasca proyek sudah dapat mendukung operasionalisasi kelembagaannya. Sistem analisis dan pengelolaan data sudah operasional penuh demikian juga dengan sistem jaringannya. Situs WEB sudah opersional penuh dan dapat melayani permintaan data dan informasi dari publik dengan mekanisme imbalan yang sesuai dengan peraturan perundangan (e-bussiness). 

Road Map dan Matriks Kerangka Kerja Logis

Substansi yang disamaikan dalam masing-masing tahap pelaksanaan ini masih bersifat normatif dan harus diterjemahkan secara lebih rinci dalam bentuk road map oleh penyusun proposal dan anggota timnya.yang harus disusun bersama-sama oleh suatu Tim Kecil dulu. Setelah itu draf Road Map tersebut dibahas dalam suatu lokakarya untuk memperoleh masukan untuk perbaikan dan disepakati bersama. Setelah itu dapat disusun  matriks kerangka kerja logis (MKKL, Logical Framework) yang disertai dengan penetapan indikator pencapaiannya. Penjelasan rinci mengenai Road Map dan MKKL ini tercantum dalam Panduan Penyusunan Kegiatan LIPI Tahun 2004.  
Organisasi Pelaksana
1. Tim Program
Struktur dan anggota Tim Program sebagai berikut:
Pengarah                      : 1. Prof. Dr. Umar Anggara Jenie. Apt., M.Sc.
                                           (Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
                                       2. Dr. Ir. Jan Sopaheluwakan, M.Sc.
                                           (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian)
                                       3. Dr. Endang Sukara, APU
                                           (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati)
                                       4. Dr. Dewi Fortuna Anwar, APU
                                           (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan)
                                       5. Dr. Ir. Anung Kusnowo
                                           (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik)
Ketua Tim                   :     Dr. Malikusworo Hutomo (Puslit Oseanografi)
Sekretaris                     :     Dr. Mulyadi (Puslit Biologi)
Anggota                       :  1. Dr. Asikin Djamali (Puslit Oseanografi)
   2. Dr. Ir. Wahyu Suprihantoro (Puslit Geoteknologi)
                                       3. Dr. Masbah R.T. Siregar (Puslit Elektronika dan Komunikasi)
                                       4. Ir. Sulistijo, M.Sc. (Puslit Oseanografi)
                                       5. Dr. Carunia Mulya Firdausy (Puslit Ekonomi)
                                       6. Dr. Anugerah Nontji (Puslit Oseanograsfi)
                                       7. Dr. Mashuri (Puslit Ekonomi)
                                       8. Ir. Sunartoto Gunadi, M.Sc. (Puslit KIM)
   9. Dr. Deny Hidayati (Puslit Kependudukan)
  10. Dr. Rachmaniar Rachman (Puslit Oseanografi)
  11. Dr. L. Broto S. Kardono (Puslit Kimia)
  12. Dr. Zainal Arifin (Puslit Oseanografi)
2. Organisasi
Susunan organisasi seperti di atas tidak akan efektif untuk mengelola proyek ini. Harus ada suatu sekretariat pendukung yang cukup kuat dan terdiri dari personil di bidang teknis, administrasi dan keuangan serta bekerja  penuh waktu (full time). Bentuk strukturnya dan nama-nama tenaga yang ditunjuk serta kriteria pemilihannya akan dibicarakan dalam rapat tim. Dilihat dari segi kepraktisan, sekretariat diusulkan berada di Pusat Peneltian  Osenografi-LIPI di Ancol, Jakarta. Dalam organisasi ini, selain ada Koordinator dan Sekretaris Ilmiah, harus ada penanggung jawab dan sekretaris komponen program.
Sekretariat harus diperlengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung kelancaran kerja serta imbalan/kompensasi yang memadai. Sebaliknya kinerja staf sekretariat juga secara berkala dievaluasi.
Ketentuan Usulan
1. Usulan Penelitian
·        Usulan dapat diajukan dengan merujuk pada topik dalam komponen dengan substansi (tujuan, sasaran, luaran, dan dampak) yang relevan dengan substansi kerangka acuan. Selanjutnya Penanggung Jawab Komponen melakukan penggabungan sehingga menjadi satu usulan penelitian komponen untuk diajukan kepada Ketua Tim/Koordinator/Peneliti Utama. Koordinator dibantu oleh sekretaris dan penanggung jawab komponen kemudian menggabung proposal-proposal tersebut menjadi suatu “proposal terpadu” dan diajukan ke Tim Perencanaan dan Deputi IPK (sebagai penanggung jawab program).
·        Format penulisan usulan menggunakan format  untuk penyusunan program kegiatan LIPI tahun 2004 dan substansi merujuk pada dan relevan dengan Kerangka Acuan Program Kompetitif  LIPI pada Lampiran 1.
·        Satu Tim Peneliti dapat terdiri dari 1 Ketua Tim/Peneliti Utama, 2 – 3 anggota peneliti dan 3 – 4 teknisi/pembantu peneliti. Ketua Tim berasal dari LIPI, anggota peneliti dapat berasal  dari LIPI (satu atau lintas puslit) atau lembaga penelitian di luar LIPI (negeri atau swasta). Sangat dianjurkan untuk merekrut anggota peneliti muda yang sedang/akan melakukan penelitian bergelar sarjana (maksimal 30 th) dan pasca sarjana (maksimal 35 tahun). Dalam kasus terakhir ini diterapkan, agar menyebutkan nama dan institusi pendidikan tinggi dalam dan/atau negeri (yang punya reputasi atau telah punya MoU dengan LIPI) yang menjadi tuan rumah.   
2. Pelaksana Kegiatan dan Mitra Kerja
Pelaksana kegiatan penelitian terdiri dari :
1.      Unit-unit penelitian di lingkungan LIPI
2.      Lembaga di luar LIPI yang dapat diundang menjadi mitra seperti:
·        Pemerintah Daerah
·        Perguruan tinggi pusat/daerah
·        Lembaga penelitian di luar LIPI baik swasta maupun pemerintah
·        Lembaga Penelitian dari Luar Negeri
Seleksi usulan penelitian akan dilaksanakan oleh Tim Sensus Biota Laut dan Tim Perencanaan, Monitoring dan Evaluasi (PME) Kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian-LIPI bersama dengan Tim PME lainnya.
Alamat Kontak:
1.      Dr. Ir. Jan Sopaheluwakan, M.Sc. (Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian)
2.      Dr. Malikusworo Hutomo (Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI)
3.      Dr. Mulyadi (PusatPenelitian Biologi-LIPI)
4.      Dr. Deny Hidayati (Pusat Penelitian Kependudukan-LIPI)
5.      Dr. Masbah R.T. Siregar (Pusat Penelitian ET)
6.      Ir. Sulistijo, M.Sc. (Puslit Oseanografi)