New-Picture2
Kerang hijau  merupakan organisme yang termasuk golongan biota yang bertubuh lunak (mollusca), bercangkang dua (bivalvia), insang berlapis (lamellibrachiata), berkaki lapak (pelecypoda) dan hidup dilaut (Asikin, 1982). Taksonomi kerang hijau menurut Asikin (1982)

Filum : Mollusca
Kelas : Pelecypoda (Lamellibranchia, Bivalvia)
Ordo : Filibrachia

Famili : Pernaidae
Genus : Perna
Spesies : Perna viridis L.

Kerang hijau (Perna viridis L) merupakan biota yang hidup pada wilayah litoral (pasang surut) dan sub litoral yang dangkal. Kerang hijau dapat tumbuh pada perairan teluk, estuari, sekitar mangrove dan muara, dengan kondisi perairan yang memiliki subtrat pasir berlumpur, dengan cahaya dan pegerakan yang cukup, serta kadar garam yang tidak telalu tinggi (Setyobudiandi, 2000). Perna memiliki empat baris insang yang bermanfaat sebagai organ respirasi dan organ filterfeeder. Perna memakan fitplankton, zooplankton dan detritus (Korringa, 1976; Sivalingam, 1977; Yap et al, 1983 dalam Vakily, 1989). Sivalingam (1977) dalam Vakily (1989) menyatakan bahwa kerang hijau merupakan selective filter feeder, hal ini ditandai dengan spesies plankton yang mendominasi (99%) pada perut kerang hijau, yaitu Coscinodiscus nodilufer. Menurut Bryan (1976) dalam http://nis.gsmfc.org/nis_factsheet.php?toc_id=150 karena sifatnya yang sessile dan cara makan yang filterfeeder kelas bivalvia telah digunakan sebagai bioindikator dari limbah berat, organochlorin dan minyak hidrokarbon. Perna viridis merupakan salah satu kerang yang terbaik untuk dijadikan biota tes dalam biopollution (Phillips, 1980 dan IOC, 1981 dalam http://nis.gsmfc.org/nis_factsheet.php?toc_id=150).
Goldberg et al., 1978 dalam Martin dan Jong-deock (2005) menyatakan bahwa bivalva seperti kerang hijau memiliki keunggukan sebagai bioindikator untuk memonitor substansi organik yang terdapa dilaut karena memiliki distribusi yang luas, hidup menetap, mudah disampling, memiliki toleransi terhadap salinitas yang luas, resisten terhadap stress dan bahan berbagai kimia yang terakumulasi dengan jumlah besar merupakan konsep ‘Mussel Watch’. Kerang hijau memiliki distribusi yang luas pada wilayah Asia pasifik dan memiliki nilai komersial sebagai seafood yang telah terkenal dibelahan dunia (Vakily, 1989). Martin dan Jong-deock (2005) dan Boonyatumanond et al (2002) menambahkan kerang hijau telah digunakan sebagai biological indocator unuk memonitor kandungan residu pestisida organochlorine pada beberapa negara Asia seperti Thailand (Siriwong et al., 1991; Ruangwises et al., 1994), India (Ramesh et al., 1990) dan Hong Kong (Phillips, 1989). Verlecar et al., 2006 lebih mendalam menyatakan bivalva moluska P.viridis digunakan sebagai bioindikator dan atau bio monitoring karena insangnya yang merupakan organ respirasi dan kelenjar digestif dipergunakan sebagai spesimen eksperimen pengukur respon perubahan oksidatif. Verlecar et al (2). 2006 juga menyatakan bivalva termasuk kerang hijau memiliki kemampuan ketahanan terhadap perubahan suhu dan kandungan logam beracun yang terkandung dalam perairan, sehingga dapat disimpulkan, bivalva merupakan model yang representatif untuk studi pengaruh dalam mekanisme pertahanan menggunakan antioksidan. Penelitian Phillips (1985) menggunakan P.viridis menghasilkan kesimpulan, kerang hijau merupakan excellent bioindikator untuk studi tembaga (Cu) dan timah (Pb). P.viridis digunakan untuk mengamati kandungan cadnium, mercury dan zinc. Pada jaringan insang P.viridis, terjadi regulasi metabolisme parsial sehingga mengakumulasi zinc. Hal yang sama terjadi pada akumulasi logam berat lain (Phillips , 1985).
Faktor lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kerang hijau adalah suhu, salinitas, tipe dasar perairan, kedalaman, kekeruhan, arus dan oksigen terlarut (Setyobudiandi, 2000). Asikin (1982) menyatakan bahwa kerang hijau tumbuh baik pada perairan yang memiliki salinitas 27-35 o/oo, temperatur antara 27-32ºC, arus yang tidak begitu keras dan hidup pada kedalaman 1-7 m serta mengambil protein nabati sebagai makanannya. Rainbow (1995) dalam Wong et al. (2000) menyatakan P.viridis menyebar luas di perairan laut dan toleran terhadap perairan yang terkontaminasi logam serta dapat bertahan terhadap fluktuasi salinitas dan suhu.
Vakily (1989) menyatakan umumnya mussel hidup menempel di substratnya dengan menggunakan benang byssus. Byssus terdapat pada bagian kaki kerang yang diadaptasikan untuk menempel pada substratnya. Kumpulan benang byssus ini disekresikan oleh hewan tersebut dan memiliki kekuatan-tarik sehingga berfungsi sebagai penambat kerang dengan substratnya.
Beberapa jenis kerang yang tergolong dalam golongan mussel dan daerah distribusinya antara lain : M. Edulis (Eropa, pantai barat-timur Amerika Utara, dan Jepang) M. Gallopravincialis (Mediterranian species, Eropa), M. Aeoteanus (perairan Selandia Baru), M. edulis planulatus (perairan Australia), M. Californianus ( perairan pantai Pasifik dan Amerika Utara), Perna viridis (periaran Asia), P. Canaliculus (Selandia Baru).
Kerang hijau, Perna viridis L. memiliki beberapa nama sinonim antara lain (Siddal, 1980 dalam Vakily, 1989) : Mytilus viridis Linnaeus (1758), Mytilus smaragdinus Chemnitz (1785), Mytilus opalus Lamarck (1819),
Mytilus viridis L. Hanley (1855), Mytilus (Chloromya) viridis L. Lamy (1936), Mytilus viridis L. Suvatti (1950), Chloromya viridis L. Dodge (1952), Mytilus viridis L. Cherian 1968), Perna viridis L. Dance (1974). Yap et al. (2002) lebih dalam menyatakan taksonomi Perna viridis membingungkan dan status dari Perna viridis masih dalam diskusi para ahli.
Kerang hijau mempunyai wilayah distribusi yang luas, yakni dari samudra Hindia sampai Fillipina dan Samudra Pasifik sebelah barat (Vakily, 1989). Benson et al. (2001) menyatakan kerang hijau ataupun anggota bivalva lainnya, umumnya bersifat sedentary, dengan bagian kaki, visceral mass, dan rongga mantel mendominasi tubuh, dan bagian kepala tidak berkembang. Bivalva tidak memiliki radula, mayoritas ciliary feeder dengan bagian insang berkembang untuk mengumpulkan makanan (ctenidid). Perluasan mantel keseluruh bagian tubuh dalam bentuk dua katup simetris yang pada akhirnya mensekresikan hinge dan membentuk kedua belah cangkang. Pada semua bivalva Lamellibranch, insang atau ctenidium berbentuk huruf-W. Insang terdiri atas banyak filamen yang berhubungan untuk membentuk lembaran atau lamellae. Masing-masing insang memiliki empat lamellae dan diposisikan dalam rongga mantel sedemikian rupa sehingga satu cabang dari bagian yang berbentuk huruf-W tadi berhubungan dengan mantel dan cabang lainnya berhubungan dengan bagian kaki atau visceral mass. Karena itu insang secara efektif membagi rongga mantel ke dalam beberapa rongga. Rongga yang besar di bawah insang disebut rongga inhalent; sedangkan rongga di atas insang merupakan rongga exhalent.
Setyobudiandi (2000) menyatakan bahwa kerang hjau digolongkan dalam kelompok filter feeder, karena kerang hijau memperoleh makanan dengan cara menyaring partikel-partikel atau organisme mikro yang berada dalam air dengan menggunakan_sistem_sirkulasi_(http://dictionary.reference.com/browse/Filter%20feeder). 
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Vikaly (1989) yang menyatakan semua bivalva lamellibranch termasuk filter feeder. Cilia khusus terletak antara filamen insang yang berfungsi menghasilkan aliran air yang memindahkan air ke dalam bagian inhalent pada mantle cavity (rongga mantel) dan ke arah atas ke dalam rongga exhalent. Partikel makanan atau material tersuspensi lainnya yang berukuran lebih besar dari ukuran tertentu disaring dan air oleh cilia insang dan dihimpun pada bagian rongga inhalent berhadapan dengan lamellae insang. Material ini kemudian dipindahkan oleh cilia lainnya ke arah tepi bagian ventral insang atau di bagian dasar organ yang berbentuk huruf-W dimana terletak alur makanan (food grooves). Setelah berada di food grooves, makanan bergerak ke arah depan hingga mencapai palps, yang berada di sisi mulut. Material berukuran halus dibawa oleh cilia ke dalam mulut. Partikel yang lebih kasar dihimpun di tepi palps dari secara periodik dikeluarkan oleh proses kontraksi otot ke dinding mantel.