Karya Tulis Ilmiah Pengaruh Kurikulum 2013 Terhadap Tingkat Pemahaman Siswa

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “PENGARUH KURIKULUM 2013 TERHADAP TINGKAT PEMAHAMAN SISWA”.

Penulisan Karya Tulis Ilmiah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas akhir semester mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :

  1. Ibu Novella Cathlin selaku guru pembimbing mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pkiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini
  2. Rekan-rekan semua di kelas XI IPA 3 2013.
  3. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis.
  4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini.

Yogyakarta, Februari 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar2

Daftar Isi3

Bab I Pendahuluan. 4

Latar Belakang. 4

Rumusan Masalah. 5

Tujuan Penelitian. 5

Batasan Masalah. 6

Bab II Dasar Teori7

Dasar Teori7

Kerangka Pikir10

Metodologi Penelitian. 10

Bab III Pembahasan. 11

Deskripsi Kasus. 11

Analisis Kasus. 11

Bab IV Kesimpulan dan Saran. 13

Kesimpulan. 13

Saran. 13

Daftar Pustaka. 14

Lampiran. 15

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan. Persoalan itu memang tidak akan pernah selesai, karena lembaga pendidikan dan pembelajaran selalu berada di bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan,teknologi, dan kemajuan masyarakat. Salah satu persoalan pendidikan kita yang masih menonjol saat ini adalah adanya kurikulum yang silih berganti dan terlalu membebani anak tanpa ada arah pengembangan yang betul-betul diimplementasikan sesuai dengan perubahan yang diinginkan pada kurikulum tersebut.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan kurikulum selalu mengarah pada perbaikan sistem pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan karena dianggap belum sesuai dengan harapan yang diinginkan sehingga perlu adanya penyegaran kurikulum. Usaha tersebut mesti dilakukan demi menciptakan generasi masa depan berkarakter, yang memahami jati diri bangsanya dan menciptakan anak yang unggul, mampu bersaing di dunia internasional.

Kurikulum sifatnya dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Semakin maju peradaban suatu bangsa, maka semakin berat pula tantangan yang dihadapinya. Persaingan ilmu pengetahuan semakin gencar dilakukan oleh dunia internasional, sehingga Indonesia juga dituntut untuk dapat bersaing secara global demi mengangkat martabat bangsa. Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan yang akan menimpa dunia pendidikan kita, ketegasan kurikulum dan implementasinya sangat dibutuhkan untuk membenahi kinerja pendidikan yang jauh tertinggal dengan negara-negara maju di dunia.

Dewasa ini sedang marak diperbincangkan masalah penetapan kurikulum baru 2013, bahkanpada awal mula sebelum ditetapkannya pun juga menuai banyak pro dan kontra.  Selain itu kurikulum 2013 terkesan terlalu dipaksakan dan tergesa-gesa dalam perancangannya tanpa adanya pertimbangan yang matang.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa penetapan kurikulum 2013 layak dilaksanakan. Hal ini dikarenakan mereka berpendapat bahwa telah banyak negara maju yang sukses menerapkan kurikulum semacam kurikulum 2013 di negaranya.

Disamping itu, sebagian masyarakat yang lain berpendapat bahwa kurikulum 2013 belum pantas di terapkan di negara berkembang seperti Indonesia ini. Mereka beranggapan bahwa sumber daya manusia Indonesia belum siap dalam menerima kurikulum yang terkesan ‘berat’ dalam pelakasanaanya tersebut.

Kurikulum 2013 itu sendiri adalh kurikulum yang menitikberatkan penilaian siswa pada 3 hal, yaitu sikap (jujur, santun, disiplin dll), ketrampilan (praktik/tugas sekolah) dan pengetahuan keilmuan.

Dengan banyaknya pro dan kontra terhadap kurikulum 2013 ini, maka dalam karya tulis ini akan ditinjau bagaimana sebenarnya pengaruh penetapan kurikulum 2013 terhadap tingkat pemahaman siswa.

  1. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari karya tulis ilmiah ini daiantaranya adalah:

  1. Bagaimana tingkat keberhasilan penetapan kurikulum 2013?
  2. Mengapa kurikulum 2013 sulit dalam pelaksanaanya?
  1. Tujuan penelitian

Tujuan Penelitian dari karya tulis ini adalah:

  1. Manfaat Teoritis

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan studi perbandingan dalam upaya pembuatan makalah atau penelitian selanjutnya yang dianggap relevan, terutama terkait masalah pengembangan perubahan kurikulum 2013.

  1. Manfaat Praktis
  2. Mengetahui tingkat keberhasilan kurikulum 2013
  3. Mengetahui sebab sulitnya pelaksanaan kurikulum 2013
  1. Manfaat penelitian
  2. Dapat digunakan sebagai rujukan penelitian mengenai kurikulum 2013
  3. Dapat digunakan sebagai tambahan informasi bagi siswa, guru maupun pakar pendidik.
  1. Batasan Masalah

Dalam karya tulis ilmiah ini akan digunakan teknik penelitian dengan cara survey. Batasan yang disurvey dalam penelitian ini adalah untuk siswa kelas x tahun ajaran 2013/2014

Survey dilaksanakan pada 100 siswa kelas x tahun ajaran 2013/2014 SMA N 1 Kalasan baik jurusan MIPA maupun jurusan IPS.

BAB II

DASAR TEORI

  1. Dasar Teori

Kurikulum sebagai instrumen peningkatan mutu pendidikan terdiri dari tiga entitas yaitu tujuan, metode, dan isi. Peningkatan kompetensi guru dan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan hanya akan memberikan makna bagi peserta didik jika diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam kurikulum.

Pada konteks Sistem Pendidikan Nasional rumusan tersebut dirumuskan pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pada Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab Ketentuan Umum SKL didefinisikan sebagai “kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”.

Untuk menjamin agar SKL tersebut dapat dicapai maka kegiatan belajar mengajar tersebut dilengkapi dengan tujuh standar lainnya yaitu standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian pendidikan. Keberadaan standar-standar ini telah dijamin oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Pasal 2.

Kurikulum 2013 sebagai bagian dari intervensi peningkatan mutu pendidikan, tentu tidak bisa bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, SKL menjadi rujukan ketika Kurikulum 2013 diterapkan, termasuk tujuh standar nasional pendidikan lainnya.

Demikian juga dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tetap menjadi bagian Kurikulum 2013. Satuan pendidikan tetap mempunyai kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sendiri yang sesuai dengan kondisi satuan pendidikan tersebut. Di samping itu, Kurikulum 2013 tetap merupakan kurikulum berbasis kompetensi.

Namun demikian, sebagaimana dinyatakan pada UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38, kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah. Satuan pendidikan tetap harus merujuk pada kerangka dasar dan struktur kurikulum jika harus mengembangkan kurikulum sendiri. Ketentuan untuk merujuk pada kerangka dasar dan struktur kurikulum merupakan bagian dari quality assurance.

Dalam berbagai forum uji publik yang telah diselenggarakan dari tanggal 29 November sampai dengan 23 Desember 2012, beberapa perseta menanyakan tentang keberadaan Buku Babon. Mereka yang belum mengetahui tentang maksud Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyediakan Buku Babon beranggapan bahwa akan keseragaman dalam kurikulum, dan bertentangan dengan ketentuan pada PP nomor 19 tahun 2005.

Keberadaan Buku Babon, tidak dimaksudkan sebagai bentuk sentralisasi kurikulum dan penyeragaman, tetapi dimaksudkan untuk standarisasi dalam pelaksanaan kurikulum. Hal ini didasarkan pada adanya kecenderungan tidak setaranya kurikulum yang digunakan oleh satuan pendidikan. Kecenderungan ini terjadi karena adanya perbedaan kompetensi guru, sehingga ada satuan pendidikan yang mengadopsi kurikulum dari satuan pendidikan atau contoh dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, tanpa melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi satuan pendididkan tempat guru tersebut mengajar.

Buku Babon didisain untuk memfasilitasi guru melakukan tugas mengajarnya dan peserta didik mengikuti kegiatan belajar mengajar. Buku Babon direncanakan untuk memuat isi mata pelajaran, metode mengajar, dan metode evaluasi. Dengan ketiga komponen tersebut, guru diharapkan dapat melakukan diagnosis terhadap kesulitan belajar peserta didik dan peserta didik diharapkan akan mengetahui pada topik bahasan yang mana dia mengalami kesulitan untuk memahaminya.

Keberadaan Buku Babon merupakan standar minimum yang harus dicapai oleh setiap siswa. Jika ada satuan pendidikan yang mampu untuk mencapai lebih tinggi dari standar yang ditetapkan pada Buku Babon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak melarangnya, bahkan mendorong setiap satuan pendidikan dapat mencapai target yang lebih tinggi.

Kurikulum 2013 merupakan intervensi peningkatan mutu yang strategis, namun sasarannya besar baik dari segi siswa yang akan menjadi subyek dari kurikulum 2013, maupun guru yang menjadi aktor utama dalam implementasinya, sehingga pelaksanaan secara serentak dengan sasaran semua satuan pendidikan secara nasional menjadi hal yang sulit untuk dilaksanakan.

Wakil Presiden dalam sambutannya dalam pembukaan Rembuknas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013, menyatakan bahwa Implementasi Kurikulum 2013 perlu dilaksanakan segera secara bertahap dan jangan molor karena yang rugi generasi muda. Begitu molor pasti ada korban, sebagian generasi muda tidak bisa menerima manfaat kurikulum baru..

Dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 akan dilaksanakan secara terbatas dan berjenjang. Untuk SD akan dilaksanakan pada kelas I dan IV, sedangkan pada SMP dilaksanakan VII, dan di SMA dilaksanakan di kelas IX. Jika pada tahun ajaran 2013/14 Kurikulum 2013 dilaksanakan pada kelas-kelas tersebut, maka pada tahun ajaran 2014/15 secara berjenjang dilaksanakan pada kelas-kela berikutnya. Misalnya di SD dapat dilaksanakan pada kelas II dan V, sedangkan di SMP dapat dilaksanakan pada kelas VII dan di SMA/SMK dilaksanakan pada kelas X.

Keberhasilan pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak hanya pada ketepatan dan comperehensiveness perumusan SKL dan kerangka dasar, serta struktur kurikulum, tetapi dari kepemimpinan kepala sekolah pada tingkat satuan pendidikan dan kepemimpinan guru pada tingkat kelas.

Kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran penting dalam memfasilitasi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Sedangkan kepemimpinan guru di tingkat kelas jelas menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan bekerhasilan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013.

Guru merupakan faktor terdepan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 yang berhadapan dengan peserta didik. Peran penting guru antara lain meliputi: (1) kemampuan menjabarkan topik-topik bahasan pada mata pelajaran menjadi informasi yang menarik dan mudah dipahami oleh peserta didik, (2) kemampuan untuk mengidentifikasi tingkat dan area kesulitan peserta didik dan kemampuan untuk membantunya keluar dari kesulitan tersebut, dan (3) kemampuan melakukan evaluasi kemajuan belajar siswa.

Berdasarkan hasil evaluasi guru dapat menentukan strategi untuk menentukan metode pembelajaran yang lebih tepat dan kecepatan dalam memberikan informasi berupa pengetahuan kepada peserta didik.

Kurikulum 2013 memang merupakan instrumen peningkatan mutu pendidikan. Peran guru dan kepala sekolah menjadi pendukung utama agar Kurikulum 2013 dapat secara signifikan meningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah.

  1. KerangkaPikir
  1. Metodologi Penelitian

Penelitianinimenggunakanmetode survey/penyebaranangketkepadamurid SMA N 1 Kalasankelas X tahunajaran 2013/2014.

BAB III

PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Kasus

Kurikulum 2013 adalahsebuahkurikulum di manametode yang digunakankebanyakanadalahdiskusiuntukpesertadidik.Murid yang aktifmencariinformasi, sedangkanpengajarhanyamemberiinstruksi.

Memangkurikulumsemacaminiberhasilditerapkan di negara-negaramajuseperti, Amerika, Jepang, danKanada.Yang manakurikulumsemacaminijustrumenambahkualitas SDM di negaratersebut.Tapi, untukdapatdiimplementasikandalamnegarasemacam Indonesia, halitusulitdilakukan.Hal itudikarenakanbeberapakendalasepertikurangnyapegetahuanmengenaikurikulum 2013 dankebiasaandiskusi yang belummengakardalamdirimasyarakat Indonesia.

Sehingga, denganadanyapengimplementasiankurikulum 2013 initidakdapatmeningkatkankualitaspendidikanmasyarakat Indonesia, tapijustrumembuatmasalahbaru.

  1. Analisis Kasus

Dari hasilangket yang telahdisebarkankepadasiswa SMA N 1 Kalasankelas x tahunajaran 2013/2014 menghasilkan hasil sebagai berikut:

  1. Pendapat siswa mengenai kurikulum 2013:
  2. Membingungkan:
  3. Biasa saja:
  4. Menyenangkan:
  5. Paham tidaknya dengan materi yang disampaikan:
  6. Paham:
  7. Tidak paham:
  8. Hasil nilai rapor kelas x dibanding dengan rata-rata nilai rapor SMP
  9. Menurun:
  10. Naik:
  11. Sama:

Dari hasil tersebut membuktikanbahwadenganadanyapenerapankurikulum 2013 bukanmenjadikanpemahamansiswamenjadisemakinbaik. Bahkan, justrumembuatkebanyakansiswamengeluhkanketidakpahamandari materi.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Kurikulum 2013 yang diterapkan mulai tahun 2013 adalah kurikulum yang bagus serta telah terbukti mencetak SDM yang bermoral dan berintelektual tinggi. Sebagaimana yang terjadi di negara-negara maju.

Namun, dalam kenyataan, pengimplementasian kurikulum 2013 di Indonesia tidaklah berjalan dengan lancar. Dikarenakan keterbatasan pengetahuan mengenai kurikulum 2013 oleh peseta didik maupun pakar pendidik. Selain itu, karena kebiasaan diskusi-yang merupakan metode dasar kurikulum 2013- belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia, maka pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi semakin terkendala.

  1. Saran

Diharapkan pada pemerintah sebelum menetapkan sebuah kurikulum untuk di pertimbangkan masak-masak. Kalau perlu justru dibuat masa transisi kurikulum. Sehingga tidak akan menyebabkan culture shock bagi masyarakat. Selain itu, para pakar pendidik dan peserta didiknya dapat mempersiapkan diri dalam bidang pendidikan.

Di samping itu pemerintah supaya lebih menyosialisasikan dan memberi penyuluhan mengenai kurikulum yang baru. Sehingga tidak akan lagi keterbatasan pengetahuan mengenai kurikulum.

 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

ANGKET PENELITIAN

“PENGARUH KURIKULUM 2013 TERHADAP TINGKAT PEMAHAMAN SISWA SMA N 1 KALASAN”

Nama            :

Kelas :

(Berikan tanda silang pada pilihan Anda)

Pertanyaan:

  1. Bagaimana pendapat Anda mengenai kurikulum 2013 dibanding kurikulum 2006?
  2. Membingungkan
  3. Biasa saja
  4. Menyenangkan

Alasan:

……………………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Apakah dengan teknik pengajaran guru yang baru dalam kurikulum 2013 materi dapat lebih mudah dipahami?
  2. Ya
  3. Tidak

Alasan:

……………………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Apakah rata-rata nilai rapor kelas x ini lebih tinggi dibanding rata-rata nilai rapor SMP Anda?
  2. Ya
  3. Tidak
  4. Sama

Alasan:

……………………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Apa saja perbedaan kurikulum 2013 dibanding kurikulum 2006?

……………………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Apa saja kendala dalam penerapan kurikulum 2013?

……………………………………………………………………………………………………………………………….

J TERIMA KASIH J