MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN PENILAIAN AUTENTIK ASSESMENT SISWA KELAS VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo

KARYA ILMIAH

Disusun Dalam Memenuhi Salah Satu Persyaratan Kenaikan Pangkat Jabatan Guru

KTI lengkap download di bagian akhir tulisan ini

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan prasarana pendidikan lainnya, dan peningkatan mutu manajemen pendidikan sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang merata. Menurut Piaget (dalam Nasution, 2000) mengemukakan bahwa, proses berpikir manusia berkembang secara bertahap, dari berpikir konkrit ke abstrak melalui 4 periode. Keempat periode tersebut adalah (a) periode sensori motor (0-2 tahun), (b) periode pra operasional (2-7 tahun), (c) periode operasi konkrit (7-12 tahun), dan (d) periode operasi formal (11-12 tahun ke atas). Dari tahap perkembangan tersebut nampak bahwa pembelajaran  yang diberikan kepada siswa di Sekolah  telah berada pada tingkat pemikiran operasi formal. Pelajaran IPA adalah pelajaran tertinggi, terpenting

Diantara faidah pelajaran IPA adalah mengantarkan anak  menjadi anak yang belajar realistik  Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perwujudan masyarakat berkualitas menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional pada bidangnya masing-masing.

Tilaar yang dikutip Mulyasa (2002: 20) mengemukakan bahwa: Pendidikan nasional dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa sedikitnya ada tujuh masalah pokok sistem pendidikan nasional: (1) menurunnya akhlak dan moral peserta didik, (2) pemerataan kesempatan belajar, (3) masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan, (4) status kelembagaan, (5) manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional, dan (6) sumber daya yang belum profesional.

Para pendidik menyadari bahwa IPA bukanlah termasuk bidang studi yang mudah bagi kebanyakan siswa. IPA sering di keluhkan sebagai bidang studi yang sulit dan membosankan. Menurut Soedjadi (1991: 5) bahwa Faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan di antaranya adalah: (1) masukan / input; (2) masukan instrumen; dan (3) lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa masukan instrumen yang meliputi pendidikan, sarana, dan kurikulum dalam arti luas serta evaluasi hasil belajar, dipandang sebagai faktor dominan yang memiliki pengaruh besar. Dalam meningkatkan mutu pendidikan hanya mungkin dicapai dengan meningkatkan mutu proses pendidikan yang didalamnya terdapat interaksi antara siswa, guru, sarana, kurikulum, evaluasi dan lingkungan. Dari beberapa faktor tersebut dapat bersama-sama atau sendiri-sendiri mempengaruhinya. Artinya hasil belajar yang rendah tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu faktor saja.

Menurut Soedjadi (1992) bahwa bukan sesuatu yang mustahil rendahnya hasil belajar dikarenakan materi kurikulum yang terlalu berat, metode pembelajaran yang tidak tepat, sarana pembelajaran yang tidak mendukung, atau lingkungan sekolah yang tidak memungkinkan proses pembelajaran berjalan normal. Misalnya, perpustakaan sederhana, dan sarana laboratorium yang dimiliki kurang memadai.       Akibat keterbatasan-keterbatasan tersebut sebagian besar pembelajaran dilaksanakan secara tradisional/konvensional, sehingga dalam waktu relatif singkat dapat menyajikan dan menyelesaikan bahan ajar yang cukup banyak melalui ceramah. Hal ini menyebabkan pelajaran IPA termasuk pelajaran yang kurang diminati siswa.

Berdasarkan kenyataan di lapangan tersebut, salah satu cara untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa perlu suatu strategi atau pemilihan model pembelajaran yang tepat. Menurut Carin (1993: 82) yang dikutip oleh Kuswardi mengemukakan pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk melalui tahap-tahap pembelajaran tertentu, yang bermaksud untuk melihat hasil belajar dari masing masing tahap.  Pembelajaran langsung adalah salah satu model pembelajaran yang memusat pada  guru dan disajikan melalui 5 tahap, yaitu (1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa; (2) mendemonstrasikan pengetahuan; (3) pemberian pelatihan terbimbing; (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik; dan (5) memberikan perluasan latihan mandiri. Pembelajaran langsung secara sistematis menuntun dan membantu  siswa melalui langkah-langkah atau tahapan-tahapan tertentu, dan selanjutnya siswa akan aktif bekerja sendiri dengan adanya kegiatan latihan terbimbing dan latihan mandiri. Ini berarti siswa akan mendapat informasi yang jelas dalam mempelajari suatu materi pelajaran.

 B.     Rumusan Masalah

  1. Adakah peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo yang mengikuti pembelajaran langsung praktek IPA?
  2. Bagaimana respon siswa kelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo dalam pembelajaran langsung praktek IPA?

C.    Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo yang mengikuti pembelajaran langsung praktek IPA
  2. Mengetahui respon siswa kelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo dalam pembelajaran langsung praktek IPA

 D.    Batasan Istilah Penelitian

Model  pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.

Pembelajaran langsung adalah suatu pembelajaran yang bertumpu pada prinsip prilaku dan teori belajar sosial yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola bertahap, selangkah demi selangkah.

Hasil Belajar Siswa adalah tingkat pencapaian belajar, yang diukur dari skor yang diperoleh berdasarkan tes hasil belajar  kognitif dan psikomotor setelah mengikuti pembelajaran.

 E.  Manfaat Penelitian

  1. Dapat memberikan informasi kepada guru IPA di SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo tentang keefektifan pembelajaran IPA dengan menerapkan pembelajaran langsung.
  2. Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi guru IPA di SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo dalam menentukan alternatif pembelajaran IPA

 F.   Hipotesis

             Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

Hipotesis pertama berbunyi :

Ha :     Ada peningkatan hasil belajar siswakelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo yang mengikuti pembelajaran langsung praktek IPA

Ho :     Tidak ada peningkatan hasil belajar siswakelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo yang mengikuti pembelajaran langsung praktek IPA

Hipotesis kedua berbunyi :

Ha :     Siswa kelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo mempunyai respon yang positif dalam pembelajaran langsung praktek IPA

Ho :     Siswa kelas VI SD Jeruk Legi 01 Balongbendo Sidoarjo mempunyai respon yang negatif dalam pembelajaran langsung praktek IPA

 BAB II

LANDASAN TEORI 

A.    Pengertian Pembelajaran

Menurut Hudojo (1988: 107) pembelajaran tidak hanya sekedar memberikan informasi, memerintah, atau membiarkan siswa belajar sendiri, melainkan memberikan kesempatan kepada yang diajar untuk mencari, menalar, menebak, bertanya, dan bahkan berdebat sehingga mereka mempunyai kebiasaan untuk belajar.

Lebih lanjut Hudojo (1988: 5) mengatakan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan/pengalaman yang dimilikinya kepada peserta didik. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan pengajar dan peserta didik. Peserta didik diharapkan belajar karena adanya intervensi pengajar. Dan diharapkan juga agar peserta didik menjadi terbiasa belajar sehingga ia mempunyai kebiasaan belajar. Sedangkan menurut Gagne dan Bringgs (dalam Rusyan, 1939: 26) pembelajaran  adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan guru, yang dapat mempengaruhi siswa untuk bekerja. Sehingga yang terpenting dalam mengajar bukanlah usaha guru menyampaikan bahan, melainkan bagaimana siswa dapat mempelajari bahan sesuai dengan tujuan. Dalam penelitian ini, pembelajaran merupakan upaya guru memberikan bimbingan kepada siswa dalam proses belajar, sehingga memudahkan siswa mempelajari dan menguasai materi pelajaran.

B.     Pengertian Belajar

Nasution (1982: 39) mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Perubahan tersebut bukan hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, penghargaan, pengertian dan minat. Pada prinsipnya perubahan itu meliputi segala aspek organisma atau proses pribadi seseorang. Pendapat senada dikemukakan oleh Winkel (1989: 9) yang dikutip oleh Kuswardi bahwa belajar adalah suatu respon mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.

Menurut Rusyan, dkk (1989: 9) belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku dalam arti luas meliputi pengamatan, pengenalan, pengertian, perbuatan, keterampilan, perasaan, minat, penghargaan dan sikap. Dan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu respon untuk mencapai suatu perubahan tingkah laku yang lebih baik.

Perbuatan belajar pada diri seseorang dapat diamati dari adanya perubahan tingkah laku yang lebih baik. Perbuatan belajar pada diri seseorang dapat diamati dari adanya perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri orang tersebut. Perubahan tersebut meliputi pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, pengertian, sikap maupun minat.

C.    Model Pembelajaran Langsung

  1. Pengertian Model Pembelajaran

Menurut Arend (1997: 7) mempunyai dua alasan penting yaitu (1) model mempunyai maksud yang lebih luas daripada strategi, metode atau prosedur, (2) model dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting.

Sedangkan Soekamto, dkk (1996: 78) menyatakan model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan respon belajar mengajar. Jadi, yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.

  1. Pengertian Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung merupakan suatu pembelajaran yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Menurut Arend (1997: 9) pembelajaran langsung adalah suatu pembelajaran yang bertumpu pada prinsip-prinsip perilaku daan teori belajar sosial yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan bertahap, selangkah demi selangkah.

Selanjutnya dikatakan bahwa pembelajaran langsung adalah suatu model pembelajaran yang pemusatannya pada guru dan disajikan dalam lima tahap, yaitu: (1) penyampaian tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa; (2) mendemonstrasikan ilmu pengatahuan dan keterampilan; (3) pemberian latihan terbimbing; (4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik;  (5) pemberian perluasan latihan mandiri. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pembelajaran langsung adalah suatu pembelajaran yang bertumpu pada prinsip-prinsip perilaku dan teori belajar sosial yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan bertahap, selangkah demi selangkah.

  1. Pembelajaran Langsung

a. Menyampaikan Tujuan Pembelajaran dan Mempersiapkan siswa

Seorang guru yang baik selalu mengawali pembelajarannya dengan menjelaskan tujuan pembelajaran serta mempersiapkan siswa untuk belajar. Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi siswa untuk berpartisipasi/berperan serta dalam pembelajaran.

  • Menyampaikan Tujuan

Para siswa perlu mengetahui dengan jelas, mengapa mereka berpartisipasi dalam suatu pembelajaran, dan mereka perlu mengetahui apa yang harus mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam pembelajaran. Guru yang baik, akan mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswanya melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara menampilkannya melalui OHP atau tulisan dipapan tulis.

  • Menyiapkan siswa

Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari. Tujuan ini dapat dicapai dengan jalan mengulang pokok-pokok pembicaraan pelajaran yang lalu, atau memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa. Menyiapkan siswa pada awal pembelajaran merupakan suatu kegiatan yag amat penting sebab pada saat siswa masuk kelas dan mengawali pembelajaran seribu satu pikiran terbawa serta kedalam kelas. Pikiran-pikiran semacam ini perlu dihilangkan dari benak siswa dan diupayakan agar siswa dapat berkonsentrasi penuh pada pokok pembicaraan. Kegiatan ini sekaligus memotivasi siswa berperan penuh pada proses pembelajaran. Setiap guru mempunyai cara tersendiri untuk menyiapkan dan memotivasi siswa. Guru yang berhasil tidak pernah meninggalkan kegiatan ini.

b.  Mendemontrasikan Pengetahuan atau Keterampilan

Fase kedua ini adalah melakukan presentasi atau mendemontrasikan materi pembelajaran atau keterampilan. Kunci keberhasilan kegiatan ini adalah kejelasan informasi dan mengikuti langka- langkah demonstrasi  yang efektif.

  • Menyampaikan informasi yang jelas

Kemampuan guru untuk menyampaikan informasi yang jelas dan spesifik kepada siswa, mempunyai dampak yang positif terhadap proses belajar siswa. Bila informasi yang diberikan oleh guru rancu atau membingungkan siswa, hal ini dapat disebabkan oleh guru tidak menguasai pokok bahasan yang akan diajarkan dan tidak menguasai teknik komunikasi yang baik.

  • Melakukan demonstrasi

Pembelajaran langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari dari mengamati orang lain. Tingkah laku orang lain yang baik maupun yang buruk merupakan acuan tingkah laku siswa. Jelaslah bahwa belajar dengan meniru tingkah laku orang lain dapat menghemat waktu, menghindarkan siswa belajar melalui trial and error. Tetapi perlu diingat bahwa belajar melalui pemodelan dapat mengakibatkan terbentuknya tingkah laku yang tidak sesuai atau salah. Agar guru dapat melakukan demostrasi suatu konsep atau keterampilan dengan berhasil maka guru perlu sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasi untuk menguasai komponen-komponennya.

  • Pemahaman dan penguasaan

Untuk menjamin agar siswa mengamati tingkah laku yang benar dan bukan sebaliknya, guru perlu benar-benar memperhatikan apa yang terjadi pada setiap tahap demonstrasi. Ini berarti bahwa jika guru menghendaki agar siswa siswinya dapat melakukan sesuatu yang benar, maka guru perlu berupaya agar sesuatu yang didemonstrasikan itu juga benar. Guru harus memahami dan menguasai konsep-konsep materi yang didemonstrasikan. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa siswa bertingkah laku yang tidak benar karena mencontoh tingkah laku orang lain yang tidak benar.

c. Memberikan Latihan Terbimbing

Salah satu langkah penting dalam pembelajaran langsung adalah cara guru mempersiapkan dan melaksanakan latihan terbimbing yang gunanya untuk membantu siswa dalam melakukan kegiatan yang terdapat dalam LKS yang telah disiapkan guru. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan dan melaksanakan pelatihan terbimbing adalah sebagai berikut.

  • Guru meminta siswa melakukan latihan terbimbing secara singkat dan bermakna. Jika keterampilannya kompleks, maka pada awal pembelajaran guru dapat menyederhanakan keterampilan tersebut.
  • Guru meminta siswa melakukan latihan sampai benar-benar menguasai konsep/keterampilan yang dipelajari. Untuk keterampilan yang merupakan prasyarat keterampilan berikutnya maka latihan terbimbing perlu dilakukan agar keterampilan yang dimaksud benar-benar dikuasai oleh siswa.
  • Guru memperhatikan  tahap-tahap awal pelatihan yang mungkin saja siswa melakukan keterampilan yang kurang atau bahkan salah. Di samping itu pada awal pelatihan pada umumnya siswa ingin mengetahui keberhasilannya.

4.   Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik.

Fase ini guru memberikan memberikan beberapa pertanyaan baik secara lisan maupun tertulis dan guru merespon terhadap jawaban siswa. Fase ini merupakan aspek penting dalam pembelajaran langsung, untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Tanpa adanya umpan balik, siswa tidak mungkin dapat memperbaiki kekurangannya atau kesalahannya, dan tidak dapat mencapai tingkat penguasaan keterampilan yang mantap. Yang menjadi permasalahan bagi guru adalah bagaimana memberikan umpan balik yang efektif untuk siswa yang jumlahnya banyak. Arends (1997: 86) menyarankan cara pemberian umpan balik sebagai berikut.

  1. Berikan umpan balik sesegera mungkin setelah mereka melakukan latihan atau sebelum mereka melupakan kesalahan yang baru.
  2. Upayakan umpan balik jelas dan spesifik.
  3. Umpan balik ditujukan pada tingkah laku dan bukan pada kemauan sendiri.
  4. Upayakan agar umpan balik sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa.
  5. Berikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar, karena siswa lebih menyukai umpan balik yang positif daripada negatif.
  6. Jika memberikan umpan balik negatif, tunjukkan bagaimana cara melakukannya dengan benar.
  7. Bantulah siswa untuk memfokuskan perhatiannya pada proses dan bukan pada hasil.
  8. Ajarkan siswa cara memberikan umpan balik kepada diri mereka sendiri dan bagaimana menilai keberhasilan kinerjanya.

5.   Memberikan Perluasan Latihan Mandiri

Pada fase ini guru memberikan tugas kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang baru saja diperoleh secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan di rumah atau di luar jam pelajaran. Arends (1997) menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam memberikan tugas mandiri sebagai berikut.

  1. Pilih tugas mandiri yang dapat dilakukan oleh siswa di rumah dengan baik. Tugas di rumah yang diberikan bukan merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran, tetapi merupakan kelanjutan pelatihan atau persiapan untuk pertemuan berikutnya.
  2. Guru seyogyanya menginformasikan kepada orang tua siswa tentang tingkat keterlibatan mereka dalam membimbing siswa di rumah.
  3. Guru perlu memberikan umpan balik tentang hasil tugas yang diberikan kepada siswa di rumah.

D.    Dasar Teoritik yang Melandasi Pembelajaran Langsung

  1. Analisis Sistem

Analisis sistem berasal dari berbagai bidang pengetahuan, dan telah mempengaruhi pola pikir dalam bermacam-macam penelitian dan pengembangan, termasuk dalam bidang biologi, teori organisasi, teori sosial, dan proses belajar. Pada dasarnya analisis sistem adalah mempelajari hubungan yang terdapat pada komponen-komponen yang saling bergantung dan merupakan suatu kesatuan.

Di bidang pembelajaran, analisis sistem menekankan bagaimana pengorganisasian pengetahuan dan keterampilan, dan bagaimana menguraikan secara sistematik keterampilan kompleks menjadi komponen-komponen yang dapat diajarkan secara berurutan dan berhasil. Gagne dan Leslie Briggs (dalam Arend, 1997: 68) mengemukakan pandangannya tentang analisis sistem dalam bidang pendidikan sebagai berikut.

Pembelajaran yang dirancang secara sistematik akan berpengaruh terhadap perkembangan individu (manusia). Beberapa pakar pendidikan mengemukakan, bahwa pendidikan akan sangat berhasil jika dirancang hanya untuk memberikan kesempatan kepada siswa memperoleh lingkungan belajar yang menunjang dan berkembang sesuai dengan kemampuan dan responnya sendiri, tanpa adanya paksaan apapun. Gagne dan Briggs menganggap hal tersebut merupakan pandangan yang keliru. Pembelajaran yang tidak terarah, menurut mereka sangat memungkinkan terjadinya perkembangan pada banyak siswa menuju kearah ketidakmampuan memenuhi kepuasan pribadinya dari kehidupan masyarakat sekarang atau yang akan datang.

  1. Teori Belajar Perilaku

Prinsip yang paling penting dalam teori belajar perilaku adalah bahwa perilaku seseorang berubah sesuai dengan konsekuensi-konsekuensi langsung dari perilaku tersebut. Konsekuensi yang menyenangkan akan “memperkuat” perilaku, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan “memperlemah” perilaku. Berarti konsekuensi yang menyenangkan akan meningkatkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa, dan sebaliknya yang tidak menyenangkan akan menurunkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa.

Penguatan atau hukuman yang diberikan adalah untuk merubah perilaku. Menurut teori belajar perilaku, memberikan konsekuensi penguatan atau hukuman sesegera mungkin akan lebih baik dan memberikan pengaruh positif terhadap perilaku selanjutnya daripada diberikan dibelakang. Oleh karena itu, pemberian konsekuensi sesegera mungkin dalam proses pembelajaran itu penting, supaya kesalahan yang sama tidak dilakukan lagi oleh siswa. Seseorang melakukan suatu perilaku, dengan konsekuensi-konsekuensiyang tidak menyenangkan akan menurunkan frekuensi seseorang untuk melakukan perilaku yang serupa (Budayasa, 1998: 14).

Dalam pembelajaran langsung pemberian konsekuensi sesegera mungkin ini dapat diterapkan pada fase mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.

  1. Teori Belajar Sosial

Teori belajar yang banyak sumbangannya pada pembelajaran langsung adalah teori belajar sosial, yang disebut juga belajar melalui observasi. Teori belajar sosial merupakan prinsip-prinsip pembelajaran perilaku dan penekanannya pada proses mental internal. Interaksi antara penguatan eksternal dan proses kognitif digunakan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar dari orang  lain.

Bandura (dalam Nur, 1997: 4) mengemukakan bahwa: ”sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Ada empat elemen penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran melalui pengamatan. Keempat elemen tersebut adalah atensi, retensi, reproduksi, motivasi dan penguatan.

  • Atensi (perhatian)

 

Seseorang harus menaruh perhatian (atensi) agar dapat belajar melalui pengamatan. Dalam pembelajaran, guru harus menjamin agar siswa memberikan atensi kepada bagian penting dari pelajaran dengan melakukan presentasi yang jelas dan menggarisbawahi poin-poin penting. Dalam mendemonstrasikan suatu keterampilan yang kompleks, guru dapat meminta siswa untuk memperhatikan demonstrasi tersebut dari belakang dan memperhatikan dari atas pundak guru pada saat guru bekerja. Melihat tangan guru dari perspektif yang sama membuat pembelajaran melalui pengamatan lebih mudah.

  • Retensi (ingatan)

Bandura juga menemukan bahwa retensi suatu hasil pengamatan (tingkah laku) dapat memantapkan jika pengamat dapat menghubungkan observasi dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang bermakna baginya dan mengulangi secara kognitif.

Setelah memahami hal tersebut, guru yang memanfaatkan pembelajaran langsung dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.

  1. Untuk mengaitkan keterampilan baru dengan pengetahuan awal siswa, guru dapat meminta siswa untuk membandingkan keterampilan baru yang telah didemonstrasikan dengan sesuatu yang telah diketahui, dan dapat dilakukannya.
  2. Untuk memastikan terjadinya retensi jangka panjang, guru dapat menyediakan periode pelatihan yang memungkinkan siswa mengulang keterampilan baru secara bergiliran, baik secara fisik maupun secara mental.

4. Reproduksi

Memberikan kesempatan praktek kepada siswa untuk melakukan kegiatan yang baru mereka pelajari, merupakan hal yang penting. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru yang menggunakan pembelajaran langsung ialah melalui pemodelan korektif yang mencakup kegiatan-kegiatan berikut.

  1. Untuk memastikan sikap positif terhadap keterampilan baru, guru seyogyanya memberikan pujian sesegera mungkin pada aspek keterampilan yang dilakukan siswa dengan benar, lalu mengidentifikasikan keterampilan yang masih sulit dilakukan oleh siswa.
  2. Untuk memperbaiki keterampilan yang salah, guru perlu mendemonstrasikan kinerja yang benar, kemudian meminta siswa mengulanginya sampai benar-benar menguasai.
  3. Umpan balik dapat ditujukan pada aspek-aspek yang benar dari penampilan, tetapi yang lebih penting ialah ditujukan pada aspek-aspek yang salah dari penampilan. Secara cepat memberi tahu siswa tentang respon-respon yang tidak tepat sebelum berkembang kebiasaan-kebiasaan yang tidak diinginkan.

5. Motivasi dan Penguatan

Siswa dapat memperoleh suatu keterampilan atau perilaku melalui motivasi atau insentif untuk melaksanakannya. Apabila siswa itu mengantisipasi akan memperoleh penguatan (reinforcement)pada saat meniru tindakan-tindakan suatu model, siswa akan lebih termotivasi untuk menaruh perhatian mengingat dan mereproduksi perilaku tersebut. Seseorang yang mencoba suatu perilaku baru tidak mungkin untuk tetap melakukannya tanpa penguatan. Secara rinci dan sistematis tahap-tahap pembelajaran langsung dan teori-teori belajar yang melandasi setiap tahap dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Tahap-tahap Pembelajaran Langsung dan Teori Belajar yang Melandasinya

Tahap / Fase Peran Guru Teori Belajar
1 2 3
1.  Menyampaikan tuju-an pembelajaran dan mempersiapkan siswa. Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. Teori belajar perilaku, teori belajar social (Bandura; tahap retensi, motivasi dan penguatan).
2.   Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan. Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Analisis sistem teori belajar perilaku, teori belajar sosial (Bandura; tahap atensi).
3.   Pemberian pelatihan terbimbing. Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal. Teori belajar sosial (Bandura; tahap atensi, retensi, motivasi dan penguatan).
4.   Mengecek kesempatan untuk perluassan latihan mandiri. Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberikan umpan balik Teori belajar perilaku (konsekuensi perilaku),Teori belajar sosial (Bandura; tahap motivasi dan penguatan).
5.  Memberikan kesem-patan untuk perluasan latihan mandiri. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan perluasan latihan mandiri, dengan perhatian khusus pada penerapan kepadaa situasi yang lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. Teori belajar sosial (Bandura; tahap reproduksi)

 

E.     Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Langsung

  1. Kelebihan Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung sangat menguntungkan bagi guru baru/guru muda, karena pembelajaran langsung dapat dipelajari dengan mudah dan efektif untuk mengajarkan topik-topik tertentu yang berkenaan dengan pengetahuan dasar. Pembelajaran langsung digunakan untuk menyampaikan pengetahuan yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa, sehingga guru dapat merancang seefisien mungkin waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran (Kardi, 1997: 31).

Kelebihan daari model pembelajaran langsung lainnya adalah guru dapat merencanakan waktu untuk mencapai target pencapaian kurikulum yang ditetapkan, hal ini dikarenakan guru dalam pembelajaran langsung dapat merencanakan waktu sesuai dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu topic/materi pelajaran.

  1. Kekurangan Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung kurang cocok untuk mengajarkan keterampilan sosial, proses berpikir tinggi, dan konsep-konsep abstrak (Arend, 1997: 75).

F.     Perangkat Pembelajaran

Dalam melaksanakan pembelajaran guru sangat memerlukan sejumlah kelengkapan mengajar berupa perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran membantu dan memudahkan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, serta memberikan variasi pengalaman belajar kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan sehingga perlu dikembangkan perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang dimaksud meliputi: (1) rencana pembelajaran (RP), (2) lembar kerja siswa (LKS),  (3) buku guru, (4) buku siswa, dan (5) tes hasil belajar.

  1. Rencana Pembelajaran (RP)

Rencana pembelajaran disusun untuk mempermudah guru melaksanakan pembelajaran yang di dalamnya memuat data tentang satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, materi pokok, sub materi pokok, alokasi waktu, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, model pembelajaran, sumber pembelajaran, alat dan bahan, kegiatan belajar mengajar, dan penilaian. Secara umum kualitas RP ditentukan oleh indikator, yaitu

a. Konstruksi Bahasa

Persyaratan konstruksi yang harus dipenuhi RP adalah syarat-syarat yang berhubungan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kesederhanaan pemakaian kata-kata, dan kejelasan agar dapat dimengerti oleh siswa. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun dan membuat RP yaitu: 1) menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, 2) menggunakan struktur kalimat yang jelas, 3) memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, 4) memuat alokasi waktu yang dijadikan pedoman oleh guru.

b. Teknis

Penyusunan dan pembuatan RP juga harus memenuhi syarat teknis seperti: tulisan, penampilan, dan kebenaran konsep.

  1. Tulisan. RP ditulis menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf romawi atau latin.
  2. Penampilan. Penampilan RP harus memiliki kombinasi yang sesuai sehingga memudahkan guru dalam penyampaian pembelajaran langsung.
  3. Kebenaran konsep.

Di samping persyaratan di atas, format RP harus sesuai dengan tuntutan kurikulum. Dalam RP hendaknya memuat komponen-komponen: (a) tujuan pembelajaran umum; (b) tujuan pembelajaran khusus; (c) waktu yang tersedia untuk melakukan kegiatan; (d) rangkuman materi; (e) alat dan bahan yang digunakan; (f) prosedur kegiatan pembelajaran

  1. Buku Guru

Adalah buku petunjuk/panduan bagi guru yang berisi tentang segala sesuatu yang seharusnya dilakukan guru selama kegiatan pembelajaran. Secara umum kualitas buku guru ditentukan berdasarkan tiga indikator, yaitu: (a) format, (b) konsep/materi, (c) bahasa.

a. Format

Dari indikator format, buku guru yang berkualitas memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Setiap bagian dapat teridentifikasi secara jelas.
  2. Sistem penomoran jelas.
  3. Memuat alokasi waktu yang menjadi pedoman guru.
  4. Memuat kegiatan yang harus dilakukan oleh guru.
  5. Secara umum dapat dipahami.

b. Konsep

Dari indikator konsep, buku guru yang berkualitas memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Konsep/materi buku guru ditulis secara akurat.
  2. Konsep sesuai dengan kurikulum.
  3. Konsep didukung sumber belajar yang memedai.

c. Bahasa

Dari indikator bahasa, buku guru  yang berkualitas memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Menggunakan tata bahasa yang benar.
  2. Menggunakan struktur kalimat yang sederhana dan jelas.
  3. Petunjuk-petunjuk ditulis secara jelas.
  4. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
  1. Buku Siswa

Adalah buku yang digunakan siswa sebagai panduan belajar selama kegiatan pembelajaran. Secara umum kualitas buku siswa ditentukan berdasarkan tiga indikator, yaitu: (a) format, (b) konsep/materi, (c) bahasa.

a. Format

Dari indikator format, buku siswa yang berkualitas memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Setiap bagian dapat teridentifikasi secara jelas.
  2. Sistem penomoran jelas.
  3. Menimbulkan minat belajar.
  4. Menggunakan jenis dan ukuran huruf (font) yang sesuai dengan karakter peserta didik.
  5. Secara visual, buku siswa menarik untuk dibaca

b. Konsep

Dari indikator konsep, buku siswa yang berkualitas memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Konsep/materi buku siswa ditulis secara akurat.
  2. Konsep sesuai dengan kurikulum.
  3. Konsep didukung sumber belajar yang memedai.
  4. Konsep dapat menumbuhkan motivasi siswa.

c. Bahasa

Dari indikator bahasa, buku siswa yang berkualitas memenuhi kriteria sebagai berikut.

  1. Menggunakan tata bahasa yang benar.
  2. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan mental peserta didik.
  3. Menumbuhkan motivasi untuk membaca lebih lanjut.
  4. Menggunakan struktur kalimat yang sederhana dan jelas.
  5. Petunjuk-petunjuk ditulis secara jelas.
  6. Menggunakan bahasa yang menarik.

G.    Keefektivan pembelajaran

Keefektivan pembelajaran dalam penelitian ini akan ditinjau dari aspek-aspek (1)respon siswa; (2) kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran; (3) respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran; dan (4) ketuntasan belajar yang dicapai oleh siswa. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing aspek tersebut.

  1. Respon siswa

Dalam pembelajaran sangat perlu diperhatikan bagaimana keterlibatan siswa dalam pengorganisasian pelajaran dan pengetahuannya. Semakin aktif siswa maka ketercapaian ketuntasan pembelajaran semakin besar, sehingga semakin efektiflah pembelajaran tersebut.

Paul B. Diedrick (dalam Rusyan, 1994: 138) membuat berbagai respon belajar siswa, diantaranya (1) respon menggambar yang meliputi menggambar yang meliputi menggambar, membuat grafik, membuat diagram; (2) respon mendengarkan yang meliputi mendengarkan penjelasan, diskusi; (3) respon visual yang meliputi membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, memperhatikan pekerjaan orang lain; (4) respon menulis yang meliputi mencatat, menulis laporan; dan (5) respon oral yang meliputi bertanya, memberi saran, menyatakan pendapat, dan diskusi.

Dari uraian di atas terlihat bahwa respon siswa dalam pembelajaran merupakan satu aspek yang mempengaruhi keefektifan pembelajaran. Untuk melihat respon siswa dalam pembelajaran diperlukan suatu indikator, yaitu gejala-gejala yang nampak di dalam tingkah laku siswa selama pembelajaran. Melalui indikator tersebut dapat dilihat tingkah laku mana yang muncul dalam pembelajaran. Indikator pada aspek respon siswa dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari guru.
  2. Menulis atau membaca.
  3. Melakukan latihan terbimbing.
  4. Menanggapi pertanyaan/pendapat orang lain.
  5. Berdiskusi.
  6. Menyimpulkan pelajaran.
  1. Kemampuan Guru  dalam Mengelola Pembelajaran

Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi keefektivan pembelajaran. Untuk melihat kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran diperlukan indikator, yaitu gejala-gejala yang nampak di dalam tingkah laku guru selama pembelajaran. Melalui indikator-indikator tersebut dapat dilihat tingkah laku mana yang muncul dalam pembelajaran. Indikator-indikator pada aspek kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Pendahuluan (mengaitkan pelajaran sekarang dengan pelajaran terdahulu, menyampaikan TPU dan TPK, dan memotivasi siswa).
  2. Kegiatan inti.
  3. Penutup (membimbing siswa dalam merangkum pelajaran dan alokasi penggunaan waktu).
  4. Suasana kelas.
  1. Respon Siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran

Minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran dapat dilihat dari respon siswa terhadap pembelajaran yang berlangsung. Dalam penelitian ini indikator-indikator pada aspek respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Senang tidaknya siswa terhadap komponen pembelajaran.
  2. Baru tidaknya komponen pembelajaran bagi siswa.
  3. Ketertarikan siswa untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.
  4. Jelas tidaknya bimbingan yang diberikan.
  5. Senang tidaknya siswa terhadap kegiatan latihan selama pembelajaran.
  1. Ketuntasan Belajar yang Dicapai Siswa

Menurut Reigeluth dan Meris (dalam Degeng, 1989: 165) keefektivan pembelajaran selalu berkaitan erat dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Lebih lanjut Reigeluth dan Meris menyatakan bahwa salah satu indikator terpenting efektifnya suatu pembelajaran adalah kecermatan penguasaan perilaku. Artinya salah satu pembelajaran dikatakan semakin efektif jika tingkat kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal semakin kecil.

Tingkat keefektivan pembelajaran menyangkut dua hal pokok, yaitu tingkat presentase siswa yang mencapai tingkat penguasaan tujuan dan presentase rata-rata penguasaan tujuan oleh semua siswa. Pencapaian tingkat penguasaan tujuan pembelajaran disebut ketuntasan belajar. Seorang siswa dikatakan mencapai ketuntasan belajar jika siswa tersebut telah mencapai skor minimal 65%. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal dikatakan tercapai jika 85% siswa di kelas tersebut telah mencapai daya serap 65% (Depdikbud, 1994: 37).

Dari uraian di atas terlihat bahwa ketuntasan belajar siswa merupakan salah satu asspek yang mempengaruhi keefektivan pembelajaran. Sedangkan indikator-indikator pada aspek ketuntasan belajar yang dicapai oleh siswa adalah sebagai berikut.

  1. Ketuntasan belajar individual.
  2. Ketuntasan belajar klasikal.

Comments

  1. wen_innercircles

    terima kasih banyak,memberi manfaat dan pengetahuan bagi saya yang ingin membantu tante dalam penulisan karya ilmiah 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *