KAJIAN PLANKTON DAERAH FRONT

Dewasa ini, potensi perikanan semakin digali untuk memenuhi tingkat kebutuhan manusia yang terus meningkat sepanjang tahu. Berbagai usaha dilakukan untuk memetakan daerah-daerah yang dianggap memiliki potensi yang tinggi sebagai daerah penangkapan ikan. Daerah penangkapan ikan ini umumnya ditandai dengan tingginya kelimpahan individu plankton yang ada di daerah tersebut. Umunya kelimpahan individu plankton akan tinggi pada daerah daerah yang memiliki nutrien yang tinggi  dan cahaya yang cukup untuk melakukan proses fotsintesis. Salah satu daerah yang memiliki kelimpahan plankton yang tinggi adalah daerah front. Ilmu frontology adakah ilmu khusu yang mempelajari tentang segala dinamika fisika, kimia dan biologis yang ada di daerah front. Menurut Bowman (1977) dalam Bowman dan Esaias (1978), daerah front merupakan daerah tempat pertemuan antara dua masa air yang memiliki karakteristik yang berbeda, baik itu karakteristik arus, nutrient, sedimen tersuspensi, suhu, salinitas, dll.  Pertemuan Arus kurshio dan Oyashio di negara Jepang merupakan salah satu contoh daerah front yang diakibatkan oleh bertemuanya massa air panas dari daerah tropis (arus kuroshio) dan massa air dingin dari daerah kutub (arus oyashio). Sudah menjadi rahasia umum bahwa daerah pertemuan arus kuroshio dan oyashio ini merupakan daerah yang paling potensial di Jepang sebagai daerah penangkapan ikan. Begitu besar potensi perikanan yang ada didaerah ini sehingga di negara jepang, kajian baik yang bersifat dinamika fisik dan biologi telah banyak dilakukan.

Daerah front merupakan daerah yang sangat disukai oleh plankton untuk berkembang biak. Menurut Takahashi et al.(2002), semakin kearah front maka jumlah kelimpahan individu plankton akan semakin tinggi pula (Gambar 2). Hal ini disebabkan karena kandungan nutrient yang tinggi di daerah tersebut. Menurut Pingree (1974) dalam Bowman dan Esaias (1978)kandungan nutrien yang tinggi ini disebabkan karena daerah front bersifat sebagai daerah transisi dan barier dari dua massa air yang berbeda karakteristiknya, perubahan kondisi secara dramatik  ini mengakibatkan nutrien yang dibawa oleh kedua masa air akan tertumpuk atau tertahan di daerah ini (Gambar 3). Tinggi rendahnya tingat kandugan nutrient yang ada di daerah front sangat tergantung dari tingkat turbulensi vertikal dan homogenitas dari dua karakteristik massa air yang berbeda (Acha et al., 2003)

Nutrien yang tinggi ini dibuktikan dengan tingginya tingkat kandungan klorofil a yang ada di daerah front tersebut. Menurut Brandini et al. (2000)  di daerah Southwestern Atlantic Front Zone bisa ditemukan kandungan klorofil a 0,4 – 1 µg/l, sedangkan daerah sekitar front memiliki kandungan klorofil-a kurang dari 0,2 µg/l. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada bulan November 1993-1994 didapatkan bahwa dengan semakin tingginya jumlah klorofil-a, maka implikasinya adalah jumlah nutrien yang dibutuhkan juga semakin besar sehingga pada umumnya kandungan unsur nitrat, posfat dan silikat yang ada di daerah front juga akan menjadi rendah.

Kandungan nutrien yang tinggi mengakibatkan kelimpahan individu plankton menjadi tinggi pula, namun tingkat keanekaragaman spesiesnya rendah. Rendahnya tingkat keanekaragaman spesies ini disebabkan karena pada daerah ini didominsi oleh spesies-spesies plankton yang memiliki tingkat peyerapan nutrien tinggi (KN). Menurut Takahashi et al. (2002) di Polar Front Zone (PFZ) ditemukan 29 spesies zooplankton, namun dari semua spesies ini 53.3% didominasi oleh Oithona spp. dari golongan Copepoda. Sisanya adalah Ctenocalanussp. (15,7%), copepoda naupli (4,9%),  Calanoid copeodites (4,2%), Calanus  simillimus (2,5 %), foraminiferans (10,3), euphausiid Thysanoessa maccura (4,6%) dan appendicularians (Oikopleura spp. Dan Fritillariaspp.) (1.6%). Ditambahkan pula oleh Ishida (n.d) bahwa di daerah front kurosio dan oyasio planktonnya di dominasi oleh copepod naupli.

Di daerah Front Estuaria yang ada di Laguna Patos dan Rio de la Plata Brazil  ditemukan bahwa spesies Copepoda Acartia tonsa  merupakan spesies yang dominan ditemukan. Produktivitas phytoplankton daerah ini akan semakin berkurang pada daerah yang semakin turbid. Selain itu di daerah ini setiap musim dan tahunnya ditemukan adanya perubahan komposisi planktonik. Jika intrusi air laut tinggi maka komposisi plankton yang dominan berasal dari copepoda laut dan larva invertebrata bentik, sedangkan jika pemasukan air tawar tinggi maka planktonyang dominan berasal dari cladocerans, copepoda air tawar dan larva ikan air tawar (Seeliger, 2001 dalam  Acha, et al., 2003). Di daerah Front Angola-Benguela (ABFZ), didapatkan komposisi larva ikan (gol. Ichtyoplankton) yang dominan di daerah front akan berubah sesuai dengan perubahan garis lintang (Gambar 6) (John, et al., 2001).

Salah satu karakteristik khas dari daerah daerah front yang memiliki tingkat produktivitas biologi (produktivitas fitoplankton) yang sangat tinggi menyebabkan  beberapa organisme seperti ikan, cumi-cumi dan burung menggunakan daerah ini sebagai tempat untuk mencari makan dan melakukan proses reproduksi (Acha, et al., 2003).  Di daerah Patagonia Shelf, daerah front hanya memilik luasan 15% dari luasan keseluruhan Continental shelf yang ada, namun daerah front ini menyubangkan biomasa tahunan fitoplankton lebih dari 23% (Rivas, 2006). Di daerah Front Angola-Benguela, didapatkan jumlah kelimpahan larva ikan (ichtyoplankton) tiga kali lebih besar daripada perairan sekitarnya yang tidak memiliki daerah front. Faktor jumlah makanan yang tinggi menyebabkan fenomaen ini terjadi (John et al., 2001).

Namun salah satu pembatas pertumbuhan plankton (terutama fitoplankton) di daerah front adalah cahaya. Menurut Nybakken (1988) Fotosinesis fitoplankton tidak akan bisa berlangsung secara optimal tanpa adanya cahaya yang cukup. Hal ini menyebabkan kelimpahan fitoplankton hanya ditemukan di daerah fotik saja. Hampir 70% produktivitas primer plankton di daerah front Patagonia Continetal Shelf dilakukan di daerah yang dekat dengan permukaan (Richardson dan Bo Pedersen, 1998 dalam Rivas, 2006)

Cahaya di daerah tropis bukan menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan plankton, namun faktor cahaya akan menjadi faktor pembatas di daerah Subtropis atau daerah beriklim empat (Basmi, 1995). Menurut Ishida (n.d), di daerah front kurosio dan oyasio akan terjadi blooming fitoplankton pada saat awal musim semi dimana sinar matahari mulai meningkat intensitasnya.  Di daerah front teluk Liverpool didapatkan bahwa kandungan biomassa bacterioplankton akan mencapai titik minimum pada saat akhir musim semi dan awal musim panas (June, 1978 dalam Li et al., 2006).  Di daerah Polar Front Zone, terjadi fluktuasi jumlah individu/m3 setiap bulannya, dimana pada saat mereka melakukan penelitian dengan Continious Plankton Recorder  (CPR) jumlah individu plankton <15 individu/m3 pada bulan oktober, meningkat 52 individu/m3 pada saat bulan November, 115 individu/m3 pada Januari, 634 individu/m3pada Februari dan mulai menurun pada saat bulan maret menjadi 193 individu/m3 (Hunt dan Hoise, 2006). Dari Hasil pemetaan kandungan klorofil dengan menggunakan Sea WiFS, kandungan klorofil tertinggi Daerah Patagonia Shelf adalah saat musim Semi dan gugur Musim Panas, dan terendah pada saat musm dingin dan musim gugur (Gambar 7)

Dari hasil penelitian di atas maka penulis menyarankan beberapa penelitian yang berkaitan aspek dinamika fitoplankton dan zooplankton daerah front:

  1. Data yang bersifat terus menerus tentang jumlah jenis dan kelimpahan individu plankton yang ada pada suatu daerah front. Data dari hasil penelitian ini dapat kita pergunakan apakah daerah tersebut potensial atau tidak untuk dijadikan sebagai daerah penagkapan ikan
  2. Khusus di indonesia sendiri diperlukan penelitian awal untuk mengetahui dimanakah letak daerah-daerah front mengingat indonesia memiliki banyak daerah tempat pertemuan dua massa air yang berbeda karakteristiknya seperti di estuaria front.
  3. Apakah perubahan kondisi laut Musim barat, Musim Timur, El-Nino, La-Nina dan pemanasan global a kan mempengaruhi jumlah jenis dan kelimpahan individu plankton yang ada pada suatu daerah front.

DAFTAR PUSTAKA

Acha, E.M.,  Hermes W.M., Raul A.G. Marco F. dan Jose B. 2003. Marine Fronts and the continental selves of austral South America. Physical and Ecological Processes. Elsevier Science. Jurnal of Marine Systems, 83 – 105.

Basmin, Johan. 1995. Planktonologi : Produktivitas Primer. Fakultas Perikanan : Institut Pertanian Bogor.

Bowman, M.J., dan Esaias.W.E., 1978. Oceanic Fronts in Coastal Processes. Proceeding of a Workshop Held at The Marine Sciences Research Center. Springer-Verlag : Berlin, Heidelbreg, New York.

Brandini, F.P., Demetrio B., Alberto P., Antiago K., Rudiger R., Paulo C.A. dan Rubens M.L. 2000. Multiannual trends in fronts and distribution of nutrient and chlorophyll in the southwestern Atlantic (30-62o S). Jurnal Elsevier Science Ltd.. Deep Sea Research I, 1015 – 1033.

Hunt, B.P.V. dan Hoise, G.W. 2006. The seasonal succession of zooplakton in the Southern Ocean South of Australia, Part II : The Sub-Antarctic to Polar Front Zone. Jurnal  Elsevier Science Ltd., 1203-1223.

Ishida, Yukimasa. N.d. Oyashio dan Kuroshio. National Research Institute of Fisheries Science : Japan.

John, H.-Ch., V. Mohrholz, J.R.E. Lutjeharms. 2001. Cross Front hydrografi and fish larva distribution the Angola-Benguela Front Zone. Elsevier Science. Jurnal of Marine Systems, 91 – 111.

Li, H-B, TianXiao, Rui-Hua Lv, Taong D. dan Yian L. 2006. Impact of tidal front on the distribution of bacterioplankton in the souhern Yellow Sea, Shina . Elsevier. Jurnal of Marine Systems, 263 – 271.

Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia : Jakarta.

Rivas, Andreas L. 2006. Elsevier Science. Quantitative estimation of surface thermal fronts over chlorophyll concentration at the Patagonian Shelf. Jurnal of Marine Systems, 183 – 190.

Takahashi, K.T., So K., Masaki K., Graham W.H., Mitsuo F., dan Tatsuki T.. 2002. Zooplankton distribution patterns in relation to the Antarctic Polar Front Zone recorded by Continuous Plankton Recorder (CPR) during 1999/2000 Kaiyo Maru Cruise. Jurnal Polar Biosci.,  97-107.

Yuan, Dongliang. 2009. Science Focus: Sea Surface Temperature Measurements of the MODIS and AIRS Instruments Onboard of Aqua Satellite. http://disc.sci.gsfc.nasa.gov/