BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Ilmu adalah suatu yang sangat menonjol dalam agam Islam, hal ini dapat dilihat dalam Hadist maupun dalam Al-Qur’an, disana banyak sekali ungkapan afala
tatafakkarun, hal ini menunjukkan bahwa manusia diwajibkan untuk mengembangkan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu sosial. Bahwa orang yang berilmu dan orang yang tidak dalam islam kedudukannya sangat berbeda jauh
Nabi juga bersabda “tuntutlah ilmu sampai kenegeri cina”. Kenapa kenegeri cina? Karena pada masa itu cina sudah berkembang dengan pesat bahkan sudah menciptakan kertas. Nabi menganjurkan bahwa ilmu untuk mengembangkan agama boleh diambil dari orang selain islam asalkan untuk mendekatkan diri pada Allah. Dan islam sebagai filter (penyaring ilmu-ilmu tersebut).
Teori ilmu yang berkembang pada abad modern menunjukkan telah terjadi perceraian antara ilmu dan agama. Akibatnya, berbagai aliran pemikiran/ideologi muncul yang menentang agama Kristen dan Yahudi yang dominant di Barat. Ajaran agama semakin terpinggirkan dan tidak bisa lagi dikaitkan dengan ilmu pengetahuan sebagaimana yang terjadi pada zaman pertengahan Barat. Makalah ringkas ini akan memaparkan konsep ilmu dalam Islam dan mengaitkannya dengan persoalanpersoalan krisis epistemologis sehingga diperlukan solusisolusi untuk mengatasi persoalanpersoalan tersebut.
Maka itu bagaimankah islam itu memandang ilmu sebagai sesuatu yang pokok dalam ajaran islam, dan mejadi sesuatu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim.

B. Rumusan masalah
a) Bagaimana kedudukan islam dalam ilmu?
b) Bagaimana pandangan islam tentang ilmu?
c) Sebagai kholifah di bumi apakah syarat bagi manusia?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Islam dan Konsep Ilmu
Islam sangat menghargai sekali ilmu. Allah berfirman dalam banyak ayat al-Qur’an supaya kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan. AlQur’an, Al-Hadits dan para sahabat menyatakan supaya mendalami ilmu pengetahuan. Allah berfirman yang artinya : “Katakanlah “Apakah sama, orangorang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” Hanya orangorang yang berakal sajalah yang bisa mengambil pelajaran.” Allah juga berfirman yang artinya : Allah mengangkat orangorang yang beriman daripada kamu dan oran-gorang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.
Selain alQur’an, Rasulullah saw juga memerintahkan kaum Muslimin untuk menuntut ilmu. Rasulullah saw juga menyatakan orang yang mempelajari ilmu, maka kedudukannya sama seperti seorang yang sedang berjihad di medan perjuangan.
Rasulullah saw bersabda:
من جاء مسجدى هذا لم ياته إلا لخير يتعلّمه أو يعلّمه فهو بمنزلة المجاهد في سبيل الله و من جاء لغير ذالك فهو بمنزلة الرّجل ينظر إلى متاع غيره
“Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, yang dia tidak mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkannya, maka kedudukannya sama dengan mujahid di jalan Allah. Dan siapa yang datang untuk maksud selain itu,
maka kedudukannya sama dengan seseorang yang melihat barang perhiasan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah). Isnadnya hasan, dan disahihkan oleh Ibnu Hibban. 3
Rasulullah saw juga bersabda:
من خرج فى طلب العل م فهو فى سبيل الله حتّى يرجع
“Barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.” (HR. Timidzi).

Rasulullah saw juga bersabda:
من سلك طريقا يطلب فيه علما سلك الله به طريقا من طرق الجنّة , وإنّ الملائكة لتضعَ أجنحته ا رضا لطلب العلم , وإنّ
العالم ليستغفر له من في السموات و من في الأرض والحيتانُ في جوف الماء وإنّ فضل العالم على العابد كفضل
القمر ليلة البدر على سائر الكواكب وإن العلماء ورثه الأنبياء وإن الأنبياء لم يوَرّثوْا دينارًا ولا درهما وَرَّثُوا العلم ,
فمن أخذه أخذ بحظّ وافر .
“Barangsiapa melalui satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memasukkannya ke salah satu jalan di antara jalanjaan surga, dan sesungguhnya malaikat benarbenar merendahkan sayapsayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang alim benarbenar akan dimintakan ampun oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan ikanikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan”
seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintangbintang yang ada. Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar ataupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka hendaklah dia mengambil bagian yang banyak.” (Hr. Abu Daud).
Selain al-Qur’an dan al-Hadist, para sahabat juga menyatakan bahwa sangat penting bagi kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan.

Ali bin Abi Talib ra., misalnya berkata :
العلم خير من المال لأن المال تحرسه والعلم يحرسك والمال تَفنِِِيهُ النفقة والعلم يزكوا على الانفاق والعلم
حاكم والمال محكوم عليه مات خُزّانُ المال وهم أحياء والعلماء باقون مابقي الدّهر أعيانهم مفقودة و آثارهم في القلوب
موجودةٌ
“Ilmu lebih baik daripada harta, oleh karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang menjagamu. Harta akan lenyap jika dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa,
sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati para penyimpan harta padahal mereka
masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa. Jasajasa mereka hilang tapi pengaruh mereka tetap ada/membekas di dalam hati.”

Mu’az bin Jabal ra. mengatakan:
عليكم ب العلم فإنّ طلبه لله عبادة ومعرفته خشية والبحث عنه جهاد وتعليمه لمن لا يعلمه صدقة ومذاكرته
تسبيح بهِ يُعرف اللهُ و يُعبد وبه يهتدون بهم و ينتهون إلى رأْيهم
“Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk mencari keridhaan Allah adalah ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan ilmu pula Alah diagungkan dan ditauhidkan. Allah mengangkat (kedudukan) suatu kaum dengan ilmu, dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan Imam bagi manusia, manusia mendapat petunjuk melalui perantaraan mereka dan akan merujuk kepada pendapat mereka.”
B. Ilmu Dalam Islam
Islam adalah agama yang mengutamakan sebuah ilmu, dalam islam diwajibkan bagi setiap seorang muslim untuk menuntut ilmu kewajiban itu ditujukan oleh individu setiap orang. Didalam hadist nabi bersabda:
طلب العلم فريضة علي كل مسلم (رواه ابن ماجه)
Hal ini juga juga dapat dilihat pada ayat pertama surat al alaq :
سم ربك الذي خلق (العلق: 1)
Sedangkan Nabi adalah orang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), makna iqra’ diatas adalah baca dan bacakanlah, pelajari dan ajarkanlah. Para mufassirin termashur menjawab (bahwa yang harus dibaca) ialah:
a) Al-Qur’an (Ibnu ‘Abas, Al-Qurtubi)
b) Ma
yuha
ilaika : apa yang diwahyukan kepadamu (Al-Qosimi, Al-Hanafi, Al-Andalusi dan Al-Jamal)
c) Ma yutla
amama-ka : apa yang ditilawatkan di depanmu, dan menyimak apa-apa yang telah ditilawatkan itu.
d) Ma
unzila
ilaika
minal
Qur’an : apa-apa yang telah dinuzulkan kepadamu dari al-Qur’an (Al-Qurtubi)
Selain belajar ilmu-ilmu yang termaktub dalam Al-Quran dan Al-Hadist atau biasanya disebut ayat qouliyah (akan menghasilkan ilmu-ilmu agama seperti Fiqih, Ilmu tafsir, Akhlak, Taswuf dan lain-lain) seorang muslim juga dianjurkan mempelajari ilmu-ilmu yang bersifat kauniyah (kejadian-kejadian alam maupun yang lainnya, dan akan menghasilkan ilmu-ilmu seperti ilmu atronomi, ilmu bumi, ilmu sosial). Selain itu dalam Al-Qur’an Allah berfirman bahwa derajat orang yang berilmu sangat tinggi melebihi seorang ‘abid (orang ahli yang beribadah). Dalam Fathul Barri disebutkan bahwa: Allah meninggikan derajat orang mu’min yang ‘alim dari pada orang mu’min yang tidak ‘alim, meninggikan derajat disini menunjukkan kepada Al-Fadlu.
Keutamaan disini dimaksud bahwa orang yang beribadah dengan ilmu dengan orang yang beribadah tanpa tahu ilmunya akan berbeda nilainya dari segi pahala yang diperoleh. Allah berfirman dalam surat al maidah ayat 11:

يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات (المجادله11)
Yang artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Setelah itu pada ayat ke 4-5 pada surat al alaq:
الذي علم بالقلم , علم الانسان مالم يعلم

Disamping lidah untuk membaca, Tuhan pun mentakdirkan pula bahwa dengan pena Ilmu dapat dicatat, dapat pula diartikan dengan sarana dan usaha. Dari ayat diatas kita dapat menjelaskan dua cara yang ditempuh oleh Allah SWT. Dalam mengajarkan manusia, pertama melalui pena (tulisan) yang harus dibaca Oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan Ilmu ladunni.
Allah melengkapi manusia dengan pendengaran, penglihatan, akal dan hati. Jadi Ilmu dapat diperoleh dengan pendengaran penglihatan kemudian diproses dalam fikiran sedangkan hati untuk menimbang apakah ilmu itu dapat mendekatkan diri pada Allah atau bahkan menjauhkan.
Dalam pendidikan Islam dapat dibuktikan bahwa perintah Al-Qur’an dan Hadist tentang menuntut ilmu tidaklah terbatas pada ajaran-ajaran syari’ah tertentu, tetapi juga mencakup setiap ilmu yang berguna bagi manusia bagi manusia. Untuk melakukan hal itu, harus ditunjukkan dan didefinisikan kewajiban tujuan seorang muslim dalam kehidupan di dunia ini. Allah melalui kitabNya Al-Qur’an telah menegaskan bahwa semuanya akan kembali kepada pencipta. Dengan demikian tujuan manusia adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridho-Nya. Segala sesuatu yang mendekatkan kepada Tuhan dan petunjuk-petunjuk pada arah tersebut adalah terpuji. Ilmu hanya berguna jika dijadikan alat untuk medekatkan kepada Allah, jika tidak, maka ilmu akan menjadi penghalang besar.
Jadi tujuan yang sebenarnya adalah bahwa Ilmu itu untuk medekatkan diri pada Allah, contohnya melalui ilmu tentang bumi (bagimana langit diciptakan) membuat kita semakin menambah keimanan kita pada Allah.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai kholifah. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah SWT membekali manusia dengan seperangkat potensi dalam artian berkemampuan menciptakan sesuatu yang berguna untuk dirinya, masyarakat dan lingkungannya.
Manusia diciptakan oleh Allah untuk mejadi kholifah (wakil Allah) maka Allah melengkapi manusia dengan fikiran, berbeda dengan malaikat yang tidak mempunyai nafsu dan tidak diberi kemampuan (tentang ilmu). Hal ini dapat dilihat pada surat al-Baqarah ayat 31-32. “Dia (Allah) mengajarkan pada Nabi adam nama-nama (bend-benda) semuanya. Kemudian dia mengemukannya kepada para malaikat seraya berfirman, sebutkanlah, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika memang-orang-orang yang benar (menurut dugaanmu).” Mereka (para malaikat) menjawab, “Maha suci Allah tiada pengetahuan kecuali yang telah engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Ayat diatas menjukkan bahwa Allah menunjuk manusia sebagai kholifah yang berada di bumi (bukan dari golongan jin, dan malaikat) jadi sebagai kholifah yang berada dibumui kewajiban bagi manusia adalah berilmu.
Fungsi asasi hidup manusia adalah kholifah (wakil atau deputy) Allah diatas alam ini untuk menerjemahkan, mejabarkan (merealisasikan, mengimplementasikan, mengaplikasikan dan mengaktualisasikan) sifat-sifat Allah yang serba maha itu dalam batas-batas kemanusiaan.

C. Defenisi Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu ialah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode tertentu yang bersifat ilmiah.3. dengan demikian ilmu pendidikan islam ialah uraiah secara sistimatis dan ilmiah tentang bimbingan atau tuntutan pendidikan kepada anak didik dalam perkembangannya agar tumbuh secara wajar berpribadi muslim, sebagai anggota masyarakat yang hidup didunia dan diakhirat. Secara ringkasnya Ilmu pendidikan islam ialah Ilmu yang membicarakan persoalan-persoalan pokok pendidikan islam dan kegiatan mendidik anak untuk ditujukan kearah terbentuknya kepribadian muslim.
Ilmu Pendidikan Islam adalah Ilmu pendidikan yang berdasarkan al-qur’an, Al-hadis dan akal. Ilmu Pendidikan Islam dapatlah dikatakan merupakan :
o Ilmu Pengetahuan Praktis
o Ilmu pengetahuan rohani
o Ilmu Normatif
o Ilmu Pengetahuan Empiris.
Pengetahuan ialah semua yang diketahui, semua yang diketahui manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu : Sains, Filsafat, dan Mistik
1. Sains
Pengetahuan Manusia jenis pertama ialah pengetahuan Sains (Science). Bila Science diterjemahkan dengan ilmu, maka akan timbullah kebingungan. Ilmu bagi orang Indonesia yang umumnya telah dipengaruhi rasa bahasa Arab, dapat berarti pengetahuan. Ilmu (Sains) adalah sejenis pengetahuan manusia yang diperoleh dengan riset terhadap objek-objek yang empiris, benar tidaknya suatu teori Sains ditentukan oleh logis tidaknya dan ada tidaknya bukti empiris. Bila teori itu logis dan ada bukti empiris, maka teori sains itu benar. Bila hanya logis, ia adalah pengetahuan filsafat. Bila tidak logis, tetapi ada bukti empiris itu namanya pengetahuan khayal.
Jadi kesimpulanya Sains (Ilmu) ialah pengetahuan yang logis dan mempunyai bukti empiris. Kaidah ini digunakan untuk ilmu Pendidikan islam. Teori-teori didalam ilmu Pendidikan islam haruslah dapat diuji secara logis dan sekaligus empiris. Bila kurang satu saja, maka ia bukan ilmu Pendidikan Islam.

2. Filsafat
Adapun Filsafat adalah sejenis pengetahuan manusia yang logis saja, tentang objek-objek yang abstrak. Suatu teori filsafat benar bila ia dapat dipertanggung jawabkah secara logis dan untuk selama-lamanya tidak akan dapat dibuktikan secara empiris. Bila suatu waktu ia dapat dibuktikan secara empiris maka ia segera berubah menjadi ilmu.
3. Mistik
Kata Mistik adalah istilah yang digunakan sementara sebelum ditemukan istilah yang lebih tepat. Pengetahuan Mistik adalah pengetahuan tentang objek-objek abstrak supralogis pengetahuan ini bukan diperoleh dengan indera seperti pada Sains, bukan pula dengan akal seperti pengetahuan filsafat pengetahuan jenis ini diperoleh dengan cara merasakan mempercai begitu saja. Pengetahuan kita tentang tuhan, syurga, neraka sebenarnya bukan diperoleh lewat akal, melainkan diperoleh lewat iman. Iman itu pada hakikatnya adalah rasa.

D. Dewesternisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer
Salah satu tantangan pemikiran Islam kontemporer yang dihadapi kaum Muslimin saat ini adalah problem ilmu. Sebabnya, peradaban Barat yang mendominasi peradaban dunia saat ini telah menjadikan ilmu sebagai problematis.

Selain telah salahmemahami makna ilmu, peradaban tersebut telah menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Sekalipun peradaban Barat modern telah menghasilkan ilmu yang bermanfaat, namun, tidak dapat dinafikan bahwa peradaban tersebut juga telah menghasilkan ilmu yang telah merusak khususnya kehidupan spiritual manusia. Epistemologi Barat bersumber kepada akal dan pancaindera.

Konsekwensinya, berbagai aliran pemikiran sekular seperti rasionalisme, empirisme, skeptisisme, relatifisme, ateisme, agnotisme, humanisme, sekularisme, eksistensialisme, materialisme, sosialisme, kapitalisme, liberalisme mewarnai peradaban Barat modern dan kontemporer. Westernisasi ilmu telah menceraikan hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, sekaligus telah melenyapkan Wahyu sebagai sumber ilmu. Dalam pandangan Syed Muhammad Naquib alAttas, Westernisasi ilmu adalah hasil dari kebingungan dan skeptisisme. Westernisasi ilmu telah mengangkat keraguan dan dugaan ke tahap metodologi ‘ilmiah,’ menjadikan keraguan sebagai alat epistemology yang sah dalam keilmuan, menolak Wahyu dan kepercayaan agama dalam ruang lingkup keilmuan dan menjadikan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekular yang

E. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer
Ilmu pengetahuan modern yang saat ini dihasilkan oleh peradaban Barat tidak sertamerta harus diterapkan di dunia Muslim. Sebabnya, ilmu bukan bebasnilai (valuefree), tetapi sarat nilai (value laden). Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup sesuatu kebudayaan. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyadari terdapatnya persamaan antara Islam dengan filsafat dan sains modern menyangkut sumber dan metode ilmu, kesatuan cara mengetahui secara nalar dan empiris, kombinasi realisme, idealisme dan pragmatism sebagai fondasi kognitif bagi filsafat sains; proses dan filsafat sains. Bagaimanapun, ia menegaskan terdapat juga sejumlah perbedaan mendasar dalam pandangan hidup (divergent worldviews) mengenai Realitas akhir. Baginya, dalam Islam, Wahyu merupakan sumber ilmu tentang realitas dan kebenaran akhir berkenaan dengan makhluk ciptaan dan Pencipta. 23 Wahyu merupakan dasar kepada kerangka metafisis untuk mengupas filsafat sains sebagai sebuah sistem yang menggambarkan realitas dan kebenaran dari sudat pandang rasionalisme dan empirisesme. Tanpa Wahyu, ilmu sains dianggap satusatunya pengetahuan yang otentik (science is the sole authentic knowledge). Tanpa Wahyu, ilmu pengetahuan ini hanya terkait dengan fenomena. Akibatnya, kesimpulan kepada fenomena akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Tanpa Wahyu, realitas yang dipahami hanya terbatas kepada alam nyata ini yang dianggap satusatunya realitas.
Islam adalah agama sekaligus peradaban. Islam adalah agama yang mengatasi dan melintasi waktu karena sistem nilai yang dikandungnya adalah mutlak. Kebenaran nilai Islam bukan hanya untuk masa dahulu, namun juga sekarang dan akan datang. Nilainilai yang ada dalam Islam adalah sepanjang masa. Jadi, Islam memiliki pandanganhidup mutlaknya sendiri, merangkumi persoalan ketuhanan, kenabian, kebenaran, alam semesta dll. Islam memiliki penafsiran ontologis, kosmologis dan psikologis tersendiri terhadap hakikat. Islam menolak ide dekonsekrasi nilai karena merelatifkan semua sistem akhlak.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam Islam ilmu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Dan orang yang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah melebihi orang ahli ibadah.
Kesipulan dari makalah diatas:
1. Dilihat dari cara memperolehnya ilmu terbagi atas: bil kasbi dan bi gihoiril kasbi.
2. Dalam Islam ilmu digunakan sebagai saran untuk mendekatkan diri pada Allah.
3. Sebagai kholifah di bumi maka kewajiban bagi manusia adalah berilmu.
4. Pengetahuan agama adalah pengetahuan yang diwahyukan, yaitu pengetahuan tentang Al-qur’an dan hadis serta semua pengetahuan tentang isinya yang biasa dikembangkan dalam tradisi islam.
5. Ilmu pendidikan Islam adalah Ilmu pendidikan yang berdasarkan Al-qur’an, hadis, dan akal. Pendidikan Islam adalah bimbingan yang dilakukan oleh seseorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia miliki kepribadian muslim.
B. Saran.
Dengan adanya makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi Para pembaca, dan semoga dapat dikembangkan pada masyarakat.

REFERENSI

Basuki dan M. miftakhul ulum, Pengantar Pendidikan Islam, Ponorogo : stain Po PRESS, 2007
Budi Yuwono, Ilmuwan Islam Pelopor Sains Modern (Jakarta: Pustaka Qalami, 2005), hal. 161.
Chabib Thoha, syukur dan Priyono, Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 1996
Dikutip dari buku Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz, Keutamaan Ilmu dan Ahli Ilmu, Pen. Abu ‘Abida alQudsy (Solo : Pustaka alAlaq, 2005), 59, selanjutnya disingkat Keutamaan Ilmu.
M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah ,Jakarta: Lentera Hati
Samsul nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat PRESS, 2002
W. Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam Atas Eropa Abad Pertengahan (Jakarta: Gramedia, 1997), cet. ke2, hal. 56.
http://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/konsep-ilmu-dalam-islam.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *