1. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Klasifikasi status gizi dapat ditentukan berdasarkan nilai IMT yang direkomendasikan oleh WHO (1995) bahwa klasifikasi status gizi berdasarkan nilai IMT dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel. 1

Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan IMT

Status Kategori IMT
Kurus Kckurangan berat badan tingkat be rat

Kekurangan berat badan tingkat ringan

<17,0 17,0-18,5
Normal >18,5-25,0
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan

Kelebihan berat badan tingkat berat

25,0-27,0 >27,0
Sumbcr: Depkes RI, 1994 dalam pudyasmoro (2002)

 

Untuk mengetahui status gizi orang dewasa dengan mengukur IMT tahun 1987, Guatemala City merekomendasikan IMT untuk mengukur status gizi orang dewasa. Cara ini kemudian dapat diterima WHO dan FAO dan sekarang telah dipakai diseluruh dunia. Dan untuk mengetahui IMT telah dikembangkan grafik orang dewasa (umur diatas 18 tahun) dengan menggunakan berat badan menurut tinggi badan (Pudyasmoro, 2002).

 

  1. Rasio Lingkar Pinggang Dengan Pinggul (RLPP)

Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan adanya beberapa perubahan metabolisme termasuk daya tahan terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit atau pada kaki dan tangan. Perubahan metabolisme ini memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh. Untuk melihat hal tersebut, ukuran yang telah umum digunakan adalah rasio pinggang dengan pinggul.

Pengukuran rasio lingkar pinggang ini merupakan cara yang mudah untuk menggambarkan distribusi lemak, khususnya lemak dirongga perut. Perbedaan posisi pengukuran akan memberikan hasil yang berbeda. Seidell (1987) memberikan petunjuk bahwa rasio lingkar pinggang dan panggul untuk wanita adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki (Supariasa, 2000).

Pada studi prospektif menunjukkan bahwa rasio pinggang dan panggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler. Rata-rata rasio lingkar pinggang dan panggul penderita kardiovaskuler dengan orang yang sehat adalah 0,938 dan 0,925 (Supariasa, 2000).

  1. Persen Lemak Tubuh (PLT)

Lemak tubuh terdiri dari lemak esensial dan lemak deposit. Lemak esensial terdapat pada sumsum tulang, si stem saraf pusat, kelenjar payudara serta organ lain yang dibutuhkan untuk fungsi-fungsi fisiologis normal. Lemak deposit terdapat di Intermuskular disekitar organ-organ dan saluran cema. Perkiraan persentase lemak deposit pada wanita 15 % dan laki-laki 12 %, dimana 1/3 dari persentase tersebut adalah lemak subkutan (Gibson, 1990).

Penentuan Persentase Lemak Tubuh (PLT) dapat dilakukan denga pengukuran antropometri yaitu dengan mengukur Tebal Lipatan Kulit (TLK). Tebal lipatan kulit yang dipakai untuk memperkirakan Fat Body Mass. Daerah-daerah yang biasa dipilih sebagai tempat pengukuran TLK adalah lipatan kulit tricep, lipatan kulit bicep, lipatan kulit subcapula, dan lipatan kulit midaxillarti. Penentuan kritis terhadap lokasi pengukuran TLK sangat penting oleh karena distribusi lemak sibkutan tidak merata pada tubuh. Daerah yang dianggap paling representatif tidak sama menurut jenis kelamin, umur, kelompok ras yang berbeda. TLK tricep sangat representatif untuk anak laki-laki sampai umur 16 tahun, sedangkan TLK subcapula atau midxillari representatif untuk kelompok wanita (Thaha, 1991). Menurut Depkes RI (1994) pada studi yang bertujuan untuk menghitung perbedaan distribusi lemak subkutan untuk anak-anak maupun dewasa dianjurkan menggunakan kombinasi 1

pengukuran TLK anggota badan (tricep kiri) dan 1 TLK pengukuran badan (subscapula kiri). Gibson (1990) memperkirakan bahwa laki-laki pada umumnya memiliki PLT sekitar 14,7 %.

Tabel. 2

Klasifikasi PLT mcnurut Jenis Kelamin

Kategori Laki-Laki Wanita
(%) (%)
Kurang <5 < 10
Baik sekali 5-10 10-15
Baik 11-14 16-19
Cukup 15-17 20-24
Lebih 18-19 25-29
Gemuk >20 >30

Sumber : Depkes RI, 1994.

DAFTAR PUSTAKA

Sukma, A. 2008, Hubungan kebiasaan Makan dan Aktivitas Dengan Obesitas Pada Orang Dewasa di Kecamatan Jaya Baru, KTI Poltekkes NAD, Banda Aceh.

Arisman, MB, 2002. Gizi Dalam Daur Kehidupan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Viana, C.R,A, 2006. Hubungan Kebiasaan Makan Dengan Status Gizi Pada Anak SD Kelas IV dan V di SD NKuta Alam, KTI Poltekkes NAD. Banda Aceh.

Wardani, D, 2008. Persepsi Dengan Konsumsi Junk Food Pada Siswa/i SMP Negeri 19 Percontohan, KTI Poltekkes NAD, Banda Aceh.

Anderson, F, 1989. Antropologi Kesehatan. Universitas Indonesia, Jakarta.

Supariasa, IDN, dkk, 2001.Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Khomsan, A, 2004. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. PT. raja Grapindo Persada, Jakarta.

Miswar, 2005.. Hubungan Kebiasaan Makan Dengan Status Gizi Pada Murid Min Lamlhom Kecamatan Aceh Besar, KTI Poltekkes NAD, Banda Aceh.

Moehji, S, 1992. Penyelenggaraan Makanan Institusi Dun Jasa Boga. Bharata, Jakarta.

Poedyasmoro, dkk., 2002. Buku Praktis Ahli Gizi. Jurusan Politeknik Kesehatan Malang, Malang.

Salpima., 2007. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mengkonsumsi Fast Food di Banda Aceh, Banda Aceh.

Fatimah, S, 2006. Hubungan Antara Kebiasaan Makan Masyarakat Betawi Dan Kondisi Sosial Ekonomi Dengan Energi Di kelurahan Kelapa Dua Kecamatan Kebun Jeruk , Skripsi Universitas Negeri Semarang, Jakarta Barat.

Supariasa, IDN, 2002. Penilaian Status Gizi, Pusat Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan RI dan WHO Dalam Rangka Pengembangan Materi Pendidikan Kesehatan, Jakarta.