BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Memperhatikan bahwa keadaan seutuhnya lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya, maka setiap manusia sesungguhnya berupa kelompok sel-sel yang tersusun rapid an rumit. Kesehatan perorangan berawal dari kesehatan sel-selnya. Dilain pihak, penyakit mencerminkan disfungsi sejumlah penting sel-sel., perlu memulai perhatian kita akan patologi dengan pengamatan penyakit pada tingkat sel dan subsel.
Sel normal merupakan mikrokosmo yang berdenyut tanpa berhenti, secara tetap mengubah struktur dan fungsinya untuk memberi reaksi terhadap tantangan dan tekanan yang selalu berubah. Kecuali jika tekanan ini terlalu berat, struktur dan fungsi sel cenderung bertahan dalam jangkauan yang relative sempit, dinyatakan sebagai “normal”, justru karena individu harus menyesuaikan diri terhadap tantangandan tekanan kehidupan yang selalu berubah-ubah, demikian juga sel. Dalam keterbatasannya,penyesuaian sel mencapai perubahan yang menetap, mempertahankan kesehatan sel meskipun tekanan berlanjut. Tetapi, bila batas kemampuan adaptasi itu dilampaui, akan terjadi jejas atau bahkan kematian sel.

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
• Menjelaskan struktur, fungsi-fungsi struktur sel, siklus dan proses reproduksi sel.
• Menjelaskan tentang mekanisme transport dan komunikasi antarsel
• Menjelaskan klarifikasi, struktur dan fungsi berbagai jaringan
• Menjelaskan tentang kelainan-kelainan sel serta prinsip terapinya (farmako-terapi)
• Menjelaskan tentang klasifikasi, sifat, karakteristik dan etiologi neoplasma.

BAB II
PEMBAHASAN

A. SEL
1. DEFINISI SEL
Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Makhluk hidup (organisme) tersusun dari satu sel tunggal (uniselular, misalnya bakteri, Archaea, serta sejumlah fungi dan Protozoa) atau dari banyak sel (multiselular). Pada organisme multiselular terjadi pembagian tugas terhadap sel-sel penyusunnya, yang menjadi dasar bagi hirarki hidup.

2.JENIS SEL DAN KOMPONEN SEL
Berdasarkan ada tidaknya selaput inti kita mengenal 2 penggolongan sel yaitu:
• Sel Prokariotik (sel yang tidak memiliki selaput inti).
Berasal dari bahasa Yunani pro, sebelum + karyon, nucleus. Hanya ditemukan di dalam bakteri. Sel-sel ini berukuran kecil (panjang 1-5 µm), dengan dinding sel di luar plasmalema, dan tidak dilengkapi selaput inti yang memisahkan materi genetik (DNA) dari unsur sel lainnya. Selain itu prokariot tidak mempunyai histon (protein basa spesifik) yang terikat pada DNA yang umumnya tidak memiliki organel bermembran.
• Sel Eukariotik (sel yang memiliki selaput inti).
Berasal dari bahasa Yunani eu, baik + karyon), berukuran lebih besar dengan inti yang jelas yang diliputi selaput inti. Histon berhubungan dengan materi genetik, dan terdapat banyak organel berlapis membran di dalam sitoplasma.
Sel eukariotik terdiri dari 3 bagian:
o Membran sel
o Sitoplasma
o Inti sel
Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk semua organisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar organisme (Regnum) juga memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Sel-sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang sangat rapi.
Sel tubuh hidup, tumbuh, dan melakukan funsi-fungsi khusus selama tersedianya konsentrasi oksigen, glukosa, dan berbagai ion asam amino, dan asam lemak yang disesuaika dengan lingkungan.
• Cairan Ekstrasel, yaitu cairan yang terdapat di antara sel dalam jaringan yang relative tidak mempunyai vastikularisasi, seperti jaringan ikat, jaringan rawan, dan jaringan tulang. Zat yang terdapat di dalamnya muncul ke secret-sekret kelenjar dan pada hakekatnya berbentuk cair.
• Cairan intrasel, yaitu cairan yang terdapat di dalam sel.

a. Selaput Plasma (Plasmalemma)
Membran plasma memiliki struktur seperti lembaran tipis. Membran plasma tersusun dari molekul-molekul lipid (lemak), protein, dan sedikit karbohidrat yang membentuk suatu lapisan dengan sifat dinamis dan asimetri. Bersifat dinamis karena mempunyai struktur seperti fluida (zat cair) sehingga molekul lipid dan protein dapat bergerak. Bersifat asimetrik karena komposisi protein dan lipid sisi luar dan dalam membran sel tidak sama. Molekul-molekul tersebut menyusun matriks lapisan fosfolipid rangkap (fosfolipid bilayer) yang di sisipi oleh protein membran. Terhadap dua macam protein membran, yaitu protein yang terbenam (integral) dan menempel (periferal) di lapisan fosfolipid. 1 unit fosfolipid terdiri dari bagian kepala dan ekor (asam lemak).
Sisi kepala merupakan sisi hidrofilik yang menghadap keluar membran sel. Sisi ekor merupakan sisi hidrofobik (tidak suka air) yang bersembunyi didalam membran sel. Pada bagian membran plasma yang menghadap keluar sel, terdapat karbohidrat yang melekat pada protein membran atau fosfolitik. Fungsi biologis membran plasma tergantung pada molekul-molekul penyusunnya, yaitu lipid, protein dan karbohidrat.

Fungsi membran plasma :
• Reseptor untuk menerima pesan kimia dari sel lain
• Pemberi tanda atau antigen yang menjadi identitas jenis sel
• Komunikasi sel
• Sutau barier permiabel yang selektif untuk mengatur arliran zat ke dalam dan ke luar sel

b. Sitoplasma
Bagian yang cair dalam sel dinamakan Sitoplasma khusus untuk cairan yang berada dalam inti sel dinamakan Nukleoplasma), sedang bagian yang padat dan memiliki fungsi tertentu digunakan Organel Sel.
Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kirnia sel.
Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di dalam sitoplasma dan bersifat hidup(menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).

Organel Sel tersebut antara lain :
• Retikulum Endoplasma (RE.)
(1) Struktur :
(a) RE Yaitu struktur berbentuk benang-benang yang bermuara di inti sel.
(b) Dikenal dua jenis RE yaitu :
 RE. Granuler (Rough E.R)
 RE. Agranuler (Smooth E.R)
(2) Fungsi:
(a) Tempat utama sintesis produk sel dan juga berperan dalam transport dan penyimpanannya.
(b) RE kasar menonjol dalam sel yang khusus untuk sekresi protein seperti enzim pencernaan.
(c) Pada sel otot , RE halus disebut reticulum sarkoplsma dan turut berperan dalam proses kontraksi.

• Ribosom (Ergastoplasma)
(1) Struktur :
(a) Ribosom adalah grnula kecil berwarna hitam ( berdiameter 22nm), yang tersususun dari RNA ribosomal dan hamper 80 jenis protein.
(b) Ribososm ditemukan sebagai granula individual atau dalam kelompok disebut “ Poliribosom.”
(c) Ribososm bias bebas dalam sitoplasma atau melekat pada membrane reticulum endoplasma.
(2) Fungsi :
(a) Tempat sintesis protein
(b) Ribosom bebas terlibat dalam sintesis protein untuk dipakai sel itu sendiri : misalnya , dalam pembaharuan enzim dan membrane. Ribosom, yang berikat merupakan tempat berlangsungnya sintesis protein yang merupakan produk sekretori yang akan dikeluarkan sel.

• Miitokondria (The Power House)
(1) Struktur :
(a) Mitokondri tampak seperti batang atau filament yang bergerak dengan konstan dalam sebuah sel hidup.
(b) Setiap mitokondria terdiri dari membrane terluar halus dan membrane terdalam yang membentuk lipatan yang disebut “Krista.” Krista menonjol menyerupai rak ke dalam mitokondria dan menambah bidang permukaan membrane bagian dalam.
(c) Ruang antara Krista dipenuhi matriks yang berisi protein, DNA, RNA, dan ribosom.
(2) Fungsi :
(a) Mitokondria sering disebut sebagai pembangkit tenaga sel karena fungsi terpentingnya adalah memproduksi energi dalam bentuk ATP.
(b) Energi tersebut dihasilkan dari penguraian nutrient seperti glukosa, asam amino, dan asam lemak.
(c) Enzim yang dibutuhkan untuk melepas energi secara kimia, terlokalisasi dalam matriks mitokondria dan partikel kecil pada Krista.

• Lisosom
(1) Struktur :
(a) Lisosom adalah vesikel kecil yang terikat membrane, mengandung hamper 50 jenis enzim hidrolitik yang mampu menguraikan hamper semua jenis makromolekul.
(b) Lisosom primer yang mengandung enzim; Lisosom sekunder yang mengandung enzim dan materi terdegradasi.
(3) Fungsi :
(a) Pencernaan intraseluler
(b) Lisososm juga berperan dalam pertumbuhan dan perbaiakan selular normal dengan cara memindahkan komponen selular yang sudah rusak atau berlebihan.

• Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)
(1) Struktur :
(a) Apparatus golgi mengandung 6-7 kantong datar yang trikat membrane, atau sisterna, masing-masing membentuk agak melekuk. Kantong tersebut tersususn seperti mangkuk terbalik.
(b) Permukaan konveks sususnan menghadap ke RE dan nucleus: permukaan konkaf menghadap ke permukaan eksternal sel.
(2) Fungsi :
(a) Organel ini dihubungkan dengan fungsi ekskresi sel, dan struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa.
(b) Organel ini banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi ekskresi, misalnya ginjal.

• Sentrosom (Sentriol)
(1) Struktur:
(a) Pada sel yang tidak memebelah dua sentriol berada di dekat nucleus dan apparatus golgi di sebuah bidang khusus yang disebut sentrosom.
(b) Dua anggota pasangan sentriol, yang satu sama lain tersususn perpendicular, disebut “ Diplosom.”
(c) Dinding setiap sentriol menahndung sembilan sususnan mikrotubulus, yang masing-masing terdiri dari tiga subunit yang disebut “ triplet.”
(2) Fungsi :
(a) Sentriol berfungsi dalam pembelahan sel (Mitosis maupun Meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis.

• Mikrotubulus
(1) Struktur :
(a) Mikrotubulus merupakan pipa berongga, panjang 20-25 nm, tersebar dalam sitoplasma dan semua sel.
(b) Mikrotubulus tersusun dari molekul tubulin protein.
(2) Fungsi :
(a) Mempertahankan bentuk sel dan sebagai “rangka sel”. Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan Selain itu mikrotubulus berguna dalam pembentakan Sentriol, Flagela dan Silia.

• Mikrofilamen
(1) Struktur :
• Seperti Mikrotubulus, tetapi lebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot).
(2)Fungsi :
• Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel.

• Peroksisom (Badan Mikro)
(1) Struktur :
– Ukurannya sama seperti Lisosom. Organel ini senantiasa berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati).
(2) Fungsi :
(a) Periskom berfungsi untuk melindungi sel dari pengaruh hydrogen peroksida yang merusak
(b) Berfungsi juga dalam metabolisme lipid

3. Inti Sel (Nukleus)
Inti sel (nukleus) mengandung sketsa untuk semua struktur dan aktivitas sel, yang dikode di DNA kromosom. Inti sel juga mengandung perangkap molekular untuk mereplikasi DNAnya dan untuk mengsintesis dan memproses 3 jenis RNA, yaitu ribosom (rRNA), messenger, dan transfer.
Nukleus tampak seperti struktur bulat atau memanjang, biasanya dibagian pusat sel. Komponen utamanya adalah selaput inti, kromatin, nukleolus dan matriks inti.
• Selaput Inti
Dengan mikroskop elektron, terlihat bahwa inti sel dikelilingi oleh 2 unit membran paralel, yang dipisahkan oleh celah sempit (40-70 nm) yang disebut sisterna perinuklear. Bersama-sama, pasangan membran serta celah diantaranya membentuk selaput inti. Dekat dengan membran dalam selaput inti, terdapat suatu struktur protein yang disebut lamina fibrosa. Ditempat penggabungan membran luar dan dalam terdapat celah-celah yaitu pori-pori inti yang membentuk jalur terkendali diantara sitoplasma dan inti.

• Kromatin
Berdasarkan derajat kondensasi kromosom ada 2 jenis kromatin, yaitu heterokromatin dan eukromatin. Kromatin terdiri atas pilinan untai DNA yang terikat pada protein basa (histon) susunan kromatin disebut sebagai untaian manik-manik.

• Nukleolus
Nukleolus adalah struktur bulat, berdiameter sampai 1 mm, yang kaya akan rRNA dan protein. Nukleolus terdiri atas 3 unsur berbeda, yaitu (1) DNA pengatur nukleolus, (2) parsfribosa, (3) parsgranulosa.

• Matriks Inti
Matriks inti adalah komponen yang mengisi ruang diantara kromatin dan nukleoli didalam inti. Matriks ini terutama terdiri atas protein (beberapa diantaranya memiliki aktivitas enzim), metabolik dan ion. Bila asam nukleat dan komponen terlarutnya diangkat, struktur fibrilarnya masih tetap ada, yang membentuk kerangka inti. Lamina fibrosa selaput inti adalah bagian dari matriks inti. Kerangka ini agaknya membantu pembentukan basa protein, tempat untai DNA terikat.

Fungsi Nukleus :
• Nukleus sangat penting untuk keseluruhan aktivitas selular.
• Nukleus emngandung material genetic sel (DNA) yang mengkodeinformasi untuk mengontrol sintesis protein dan reproduksi sel.
3. FUNGSI SEL
a. Diferensiasi
Setelah beberapa kali pembiakan sel, timbul diferensiasi,yaitu perbedaan bentuk dan fungsi. Sel-sel tertentu mempunyai bentuk dan fungsi tertentu pula yang berbeda dari sel lainnya.

b. Reparasi Sel
Tubuh manusia dewasa terdiri dari ± 50-70 triliun sel-sel eukaryotik yang rata-rata besarnya 10 mµ. Setiap saat sel tersebut ada yang rusak dan harus diperbaiki, agar fungsi-fungsi tubuh tetap berjalan normal.

c. Pertahanan
Fungsi pertahanan tubuh dilakukan oleh beberapa system, untuk memberikan kekebalan, yaitu:
– Pertahanan mekanik
Pertahanan mekanik merupakan barrier alamiah untuk menangkal masuknya mikro-organisme dan penyebaran sel-sel kanker.
– Pertahanan kekebalan
Organ yang termasuk dalam pertahanan immunitas ialah sumsum tulang, kelenjar limfe, kelenjar thymus,dsb.

d. Reproduksi
Fungsi reproduksi hanya dikerjakan oleh organ genetalia. Pada laki-laki testis dengan duktus epidedimis,prostate dan urethra. Pada wanita ovarium dengan tuba,uretus dan vagina.

e. Supplier(pasokan)
Fungsi ini dikerjakan oleh:
– Sistem organ pencernaan: untuk pasokan nutrisi, air, mineral dan vitamin.
– Sistem organ pernapasan: untuk pasokan oksigen(O2¬) dan pengeluaran karbondioksida(CO¬2).

f. Transportasi dan distribusi
Fungsi¬ transportasi dan distribusi bahan-bahan untuk keperluan hidup sel di jaringan atau organ dan transportasi sampah dari sel atau organ ke organ sekresi yang dikerjakan oleh sisitem sirkulasi, yaitu jantung, pembuluh darah atau limfe. Organ sekresi yang penting adalah ginjal, hati, paru-paru dan kulit.

g. Metabolisme
Fungsi metabolisme di semua sel dikerjakan oleh enzim, baik secara aerobik atau anaerobik.

h. Pembersihan
Fungsi pembersihan dikerjakan oleh banyak organ dan melibatkan banyak sistem. Misalnya, pembungan sampah dikerjakan oleh usus, hati, ginjal, dsb.

i. Mobilitas
Fungsi mobilitas ada macam-macam:
– Mobilitas tubuh luar
– Mobilitas organ
j. Orientasi
Fungsi orientasi dikerjakan oleh sistem reseptor dan motor melalui sistem saraf dan pancaindera yang terpusat di dalam otak.

k. Pengawasan
Banyak keadaan yang perlu diatur supaya fungsi organ dapat berjalan dengan baik, misalnya: temperatur, pernapasan, homeostasis, pertumbuhan, eksresi, dsb.

4. SIKLUS SEL
a. Tahap G1 atau first gap phase
• Dimulai dari sel muda yang baru saja membelah
• Waktu proses pembelahan sel berbeda-beda (3-4 jam).
• Sintesis RNA, sintesis protein

b. Tahap S atau Synthetic Phase
• Sintesis DNA yang pada umumnya berlangsung selama 7-8 jam
• Sintesis RNA masih tetap berjalan terus walaupun tidak dominan.

c. Tahap G2 atau Second Gap Phase
• Tahap akhir dari pertumbuhan sel biasanya berlangsung sekitar 2-5 jam
• Sintesis RNA mulai berkurang dan berhenti pada saat pembelahan sel dimulai.
• Pembelahan sel

d. Tahap M
Pembelahan sel dari 1 sel induk membelah menjadi 2 sel anak yang mempunyai struktur genetike yang sama dengan sel induknya. Di sini rantai ganda DNA yang merupakan informasi gen terbelah menjadi rantai tunggal, yang masing-masing untuk 1 sel anak baru.

e. Sistem Checkpoint

• Cell Cycle Control: G1/S Checkpoint
G1 Pos pemeriksaan Siklus Sel mencegah DNA dirusakkan dari menjadi replicated dan adalah pos pemeriksaan dipahami yang terbaik pada sel mammalian. Pada pos pemeriksaan ini adalah akumulasi dan pengaktifan p53 protein; dua kekayaan yang secara hati-hati yang dikendalikan oleh ATM dan ATR kinases. Secara normal bertumbuh sel, p53 tingkatan adalah rendah dalam kaitan dengan interaksi dengan MDM2, target p53 yang untuk ekspor nuklir dan penurunan derajad proteosome-mediated di dalam cytoplasm.11 Ir Kerusakan berikut, Atm mengaktipkan ke arah muara kinase Chk2 ( dengan phosphorylation pada posisi T68),12 yang pada gilirannya phosphorylates residu S20 p53. S20 phosphorylation p53 menghalangi p53/MDM2 interaksi, menghasilkan p53 akumulasi. ATM menggunakan suatu kendali detik/second mengukur pada [atas] p53 stabilitas dengan secara langsung phosphorylating p53 [itu] pengatur negatif, MDM2, pada [atas] S395.13 Modifikasi ini mengijinkan MDM2/p53 interaksi, tetapi mencegah p53 ekspor nuklir kepada cytoplasm [di mana/jika] penurunan(pangkat,derajad) akan secara normal terjadi. Peran ATR di (dalam) p53 S20 phosphorylation ( dan stabilisasi yang berikut) adalah lebih sedikit mapan, tetapi menyiratkan melalui . dalam vitro bukti yang mempertunjukkan S20 phosphorylation oleh ATR-dependent kinase, Chk1.14
Sedang phosphorylation S20 adalah ke p53 stabilitas adalah phosphorylation S15 yang nampak rumit tingkatkan p53 transcriptional transactivation activity.15 P53 transcriptional transactivation activity.15 S15 Residu p53 dapat phosphorylated secara langsung oleh ATM atau ATR sebagai jawaban atas IR ( ATM dan ATR), UV iradiasi ( ATR) dan kandang DNA replication bercabang dua ( ATR). P53 yang diaktipkan kemudian up-regulates sejumlah gen target, beberapa [di/yang/ttg] mana adalah juga dilibatkan DNA tanggapan kerusakan ( MDM2, GADD45a, dan p21/Cip). Akumulasi p21, suatu cyclin-dependent kinase penghambat, menindas Cyclin E/Cdk2 kinase aktivitas dengan demikian menghasilkan G1 menangkapnya.

• Pengontrolan pada Checkpoint G2
Proses bertatahap dari siklus sel diatur oleh fluktuasi aktifitas protein kinase, enzim yang meng-on-kan dan meng-off-kan protein target dengan cara memfoforilasinya. Enzim ini disebut kinase tergantung-siklin (cycle-dependent kinase) (Cdk) karena enzim ini hanya aktif apabila terikat pada suatu sikli, protein yang konsentrasinya bervariasi secara siklik.

Oleh Checkpoin G2, siklin tersedia cukup untuk menghasilkan banyak molekul MPF  MPF memacu mitosis dengan memfosforilasi berbagai protein termasuk enzim  Satu efek MPF ialah inisiasi urutan kejadian yang mengarah ke pemecahan siklinnya sendiri  Komponen Cdk dari MPF didaur ulang  Aktivitas kinasenya akan dikembalikan dengan mengikatnya pada siklin baru yang terakumulasi selama interfase.

5. REPRODUKSI SEL
a. Amitosis
Amiosis adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri, ganggang biru.

b. Mitosis
Mitosis adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui tahap-tahap yang teratur, yaitu Profase Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke tahap profase berikutnya terdapat masa istirahat sel yang dinarnakan Interfase (tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada tahap interfase inti sel melakukan sintesis bahan-bahan inti.
Secara garis besar ciri dari setiap tahap pembelahan pada mitosis adalah sebagai berikut:
• Profase
pada tahap ini yang terpenting adalah benang-benang kromatin
menebal menjadi kromosom dan kromosom mulai berduplikasi menjadi
kromatid.
• Metafase:
pada tahap ini kromosom/kromatid berjejer teratur dibidang
pembelahan (bidang equator) sehingga pada tahap inilah kromosom
/kromatid mudah diamati dan dipelajari.
• Anafase
pada fase ini kromatid akan tertarik oleh benang gelendong menuju
ke kutub-kutub pembelahan sel.
• Telofase
pada tahap ini terjadi peristiwa KARIOKINESIS (pembagian inti
menjadi dua bagian) dan SITOKINESIS (pembagian sitoplasma
menjadi dua bagian).

c. Miosis
Meiosis (Pembelahan Reduksi) adalah reproduksi sel melalui tahap-tahap pembelahan seperti pada mitosis, tetapi dalam prosesnya terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom.
Meiosis terbagi menjadi due tahap besar yaitu Meiosis I dan Meiosis II Baik meiosis I maupun meiosis II terbagi lagi menjadi tahap-tahap seperti pada mitosis. Secara lengkap pembagian tahap pada pembelahan reduksi adalah sebagai berikut :

6. MEKANISME TRANSFOR & KOMUNIKASI ANTARSEL SERTA RESPON SEL TERHADAP LINGKUNGAN
Sel adalah bagian terkecil makhluk hidup yang berdiri sendiri. Independen atau berdiri sendiri artinya harus mampu menangkap sinyal yang ada di luar tubuhnya (sel) dan meneruskan ke dalam tubuhnya serta memberikan respon terhadapnya. Berbagai jenis sinyal terdapat di luar sel seperti sinyal kimia, cahaya (foton), panas, dan sebagainya. Walaupun demikian, mekanisme pengenalan dan penerusan sinyal (transduksi sinyal) adalah serupa.

Tiga tahap pensinyalan sel :
• Penerimaan (receptor) sinyal, yaitu pendeteksian sinyal di buang dari luar sel oleh sel target. Sinyal kimiawi terdeteksi apabila sinyal itu terikat pada protein seluler, biasanya pada permukaan sel yang bersangkutan.
• Pengikatan molekul sinyal mengubah protein reseptor, dengan demikian mengawali (menganalisiasi) proses tranduksi.
Tahap ini mengubah sinyal menjadi suatu bentuk yang dapat menimbulkan respon seluler spesifik. Tranduksi ini kadang-kadang terdiri dalam satu langkah, tapi lebih swering butuh suatu urutan perubahan dalam sederet molekul yang berbeda-beda jalur transduksi sinyal. Molekul di sepanjang jalur itu sering disebut molekul relasi.
• Pada tahap ketiga pensinyalan sel, sinyal yang ditranduksi akhirnya memicu respon selular spesifik. Respon ini dapat berupa hampir seluruh aktifitas seluler, seperti katalis oleh suatu enzim (seperti glikogen fosforilase), penyusunan ulang sitoskeleton, atau pengaktifan gen spesifik di dalam nukleus.

Gambar. Mekanisme transduksi sinyal dalam sel (Sumber: New England Biolabs-Signal Transduction section).
Mekanisme Tranduksi Sinyal
Sinyal tersebut dikenali oleh molekul protein yang ada di permukaan sel  Protein ini dari jenis reseptor, protein pigmen, kanal ion, dan sebagainya  Sinyal senyawa kimia, berikatan dengan protein reseptor, sinyal cahaya dalam bentuk foton  menubruk pigmen dalam protein seperti rhodopsin, ion kalsium dan natrium  membuka protein kanal, dan sebagainya  menimbulkan perubahan pada struktur lokal protein-protein tersebut pada bagian yang terdapat dalam sel  Setelah sinyal ditangkap dan informasinya masuk ke dalam sel  sinyal dihantarkannya ke pusat pemrosesan (CPU)-nya sel yaitu inti sel oleh berbagai jenis protein yang bekerja secara bertahap  gen menerjemahkan rangsangan.

B. JARINGAN
Jaringan adalah kelompok sel yang serupa secara srtuktural (begitu pula denganproduk yang dihasilkan) yang mengalami spesialisasi untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Ada empat jenis jaringan dasar yang ditemukan pada tubuh manusia : Epitelium, jaringan ikat, jaringan otot dan jaringan saraf.

1. JARINGAN EPITEL
Jaringan epitel adalah salah satu empat jaringan dasar (lainnya: jaringan penyambung, jaringan otot, jaringan saraf). Dahulu istilah epitel digunakan untuk menyebut selaput jernih yang berada di atas permukaan tonjolan anyaman penyambung di merah bibir (Epitel: Epi di atas; Thele bibir). Istilah ini kini digunakan untuk semua jaringan yang melapisi sesuatu struktur dan saluran.

a. Fungsi Jaringan Epitel
Epitel memiliki berbagai fungsi tergantung dari posisi jaringan. Fungsinya antara lain:
a. Sebagai pelindung
b. Sebagai alat sekresi
c. Sebagai alat penerima impuls
d. Sebagai alat penyaring atau filtrasi
e. Sebagai alat absorpsi
f. Sebagai alat respirasi
Dalam rangka fungsinya sebagai pelindung, biasanya epitel sendiri pun diberi pelindung yaitu lapisan tanduk (korneum), silia, dan lapisan lendir.

b. Klasifikasi Jaringan Epitel
Epitel selapis
• Epitel selapis gepeng
Epitel selapis gepeng terdiri dari satu lapis saja dan sel berbentuk gepeng. Contoh: epitel pada ansa Henle tipis.
• Epitel selapis kubus
Epitel selapis kubus terdiri dari satu lapis sel dan sel berbentuk seperti kubus.Contoh: epitel pada saluran keluar kelenjar.
• Epitel selapis silindris
Epitel selapis silindris terdiri dari satu lapis sel dan selnya berbentuk silindirs (torak). Contoh: epitel pada lambung.

Epitel berlapis
• Epitel berlapis gepeng
Epitel berlapis gepeng sebenarnya tidak semuanya berbentuk gepeng. Yang berbentuk gepeng hanya pada sel sebelah atas. Sel pada lapisan terbawah dapat berbentuk silindris. Contoh: epitel pada vagina.
• Epitel berlapis kubis
Epitel berlapis kubis jarang ditemukan pada tubuh. Contoh: epitel pada saluran keluar kelenjar.
• Epitel berlapis silindris
Epitel berlapis silindris jarang ditemukan. Paling banyak terdiri dari dua lapisan saja. Contoh: epitel pada konjungtiva palpebra.
• Epitel transisional
Pada epitel ini, strukturnya mirip epitel berlapis gepeng. Pada lapisan atas terdapat lapisan sel yang berbentuk payung (sel payung). Sel payung dalam keadaan regang akan memipih, misalnya dalam keadaan saluran terisi penuh. Contoh: epitel pada ureter.

Epitel bertingkat
Bentuknya seperti epitel berlapis. Epitel bertingkat terdiri dari satu lapis sel yang tidak sama tinggi sehingga terlihat seperti berlapis-lapis. Contoh: epitel pada trakea.

c. Epitelium Kelenjar
Sel-sel yang mempunyai kemampuan untuk melakukan sekresi atau ekskresi disebut sel kelenjar dan apabila sel-sel tersebut berkelompok akan membentuk suatu kesatuan yang dinamakan kelenjar.

1. Klasifikasi kelenjar:
a. kelenjar eksokrin
maksudnya adalah untuk kelenjar-kelenjar yang biasanya mempunyai saluran keluar untuk mengangkut hasil kelenjarnya yang selanjutnya bermuara pada permukaan dalam dan luar tubuh.
Berdasarkan jumlah sel penyusunya maka dapat digolongkan dalam:
• kelenjar uniseluler
kelenjar jenis ini tidak mempunyai saluran keluar,karena biasanya terdapat pada epitel permukaan,misalnya pada sel usus sebagai sel piala.
• Kelenjar multiseluler
Berdasarkan letak kelenjarnya trhadap epitel permukaan,maka jenis kelenjar ini dibedakan menjadi:
 Kelenjar intraepithelial ,yaitu membentuk kelompok sel kelenjar pada epitel permukaan tanpa saluran kelenjar. Kelenjar jenis ini dapat dijumpai pada epitel selaput lendir lambung dan rongga hidung.
 Kelenjar ekstraepitelial ,jenis ini merupakan kelenjar yang terdapat dalam jaringan pengikat dan terdapat paling banyak.
Kelenjar multiseluler ekstrapeitelian dapat dibedakan menjadi dua yaitu: pars secretoria yaitu bagian yagn menghasilkan sekrit dan duktus excretorius yaitu saluran yang menampung sekrit dari pars secretoria.

Dengan memperhatikan dua bentuk tersebut dikenal berbagai jenis kelenjar yaitu:
• Kelenjar tubuler sederhana
 Kelenjar tubuler lurus (kelenjar usus besar)
 Kelenjar tubuler bergelung (glandula sudorifera)
 Kelenjar tubuler bercabang (glandula uterine)
• Kelenjar tubuloalveoler sederhana (simple tubuloalveolar gland) kelenjar ini terdapat selalu bercabang (glandula sub-mandibularis,glandula duodenalis brunneri)
• Kelenjar alveolar sederhana (simple alveolar gland)
Contoh glandula sabacea yang terdapat pada kulit.
• Kelenjar tubuler kompleks (compound tubular gland)
Berbentuk tubuler dengan saluran keluarnya yang bercabang yang akhirnya bermuara dalam satu saluran utama(testis)
• Kelenjar tubuloalveoler kompleks (copound tubuloalveoral gland)
Berbentuk alveolar dan beberapa saluaran keluar yang bermuara dalam saluran keluar utama.

b. kelenjar endokrin
kelenjar endokrin mempunyai srutktur lebih sederhana dari pada kelenjar eksokrin. Oleh karena hasil sekresinya harus dapat diangkut melalui darah,maka pada umumnya kelenjar endokrin terdapat anyaman kapiler yang berhubungan langsung dengan sel-sel kelenjar. Susunan sel-sel kelenjar dapat tersebar dalam anyaman kapiler atau membentuk kelompok-kelompok.tidak semua kelenjar endokrin disusun dalam kesatuan kelenjar khusus, melainkan kadang-kadang tersebar dalam suatu organ (testis,ovarium,selaput lendir usus).

2. JARINGAN IKAT
Jarinagan ikat menyangga tubuh dan organ tubuh serta menyatukan jaringan-jaringan. Susunan utma jaringan ini terdiri dari substansi tak hidup interselular yang dihasilkan oleh sel-sel jaringan ikat tertentu.

• Fungsi Jaringan Ikat
Jaringan ikat memiliki berbagai fungsi tergantung dari posisi jaringan. Fungsinya antara lain:
a. Memberi bentuk dan penunjang bagi tubuh
b. Mengikat berbagai jaringan agar tetap menyatu dan menyediakan materi pembungkus antar bagian-bagian tubuh
c. Substansi dasar dari jaringan ikat yang renggang memberikan jalur untuk pembuluh darah dan saraf
d. Tempat berlangsungnya perang melawan bakteri

• Klasifikasi Jaringan Ikat
a. Jaringan Ikat Areolar (renggang)
b. Jaringan ikat rapat
c. Jaringan Ikat Elastik
d. Jaringan Adiposa
e. Jaringan Ikat Retikular

3. JARINGAN OTOT
Jaringan Otot adalah “daging” tubuh yang tersususn dari banyak dinding organ berongga dan pembuluh-pembuluh tubuh. Sel-sel jaringan otot yang dinamakan serabut sangat terspesialisasi untuk kontraktilitas.

• Klasifikasi Jaringan Otot :
a. Otot Polos adalah otot involunter dan tidak berlurik.
Otot tpolos terbentuk pada area berikut :
o Dinding organ berongga
o Dinding duktus dan pembuluh
o Organ seperti kulit, limpa, dan penis.
b. Otot rangka merupakan otot volunter dan otot lurik.
Serabut individual akan bergabung menjadi berkas untuk membentuk kelompok fungsional yang disebut otot, yang melekat pada rangka dan bertanggung jawab untuk pergerakan.
c. Otot Jantung adalah otot involunter dan otot lurik.
Otot jenis ini hanya terdapat pada jantung.

4. JARINGAN SARAF
Jaringan saraf terdiri dari dua jenis sel yaitu sel neutron dan neugroglia. Neuron adalah unit structural dan fungsional pada jaringan saraf sedangkan sel neuroglia menunjang jaringan saraf dan memberi nutrient ke neuron.

• Fungsi Jaringan Saraf :
Sebagai jaringan komunikasi, jaringansaraf mengalami spesialisasi untuk menerima stimulus dan menghantarkan impuls ke seluruh bagian tubuh.

• Klasifikasi Jaringan Saraf :
Secara anatomis, jaringan saraf terdiri dari sistem saraf pusat (otak dan medula spinalis) dan sistem saraf perifer ( serabutsaraf dan kelompok sel araf yang disebut ganggia).

C. GANGGUAN/KELAINAN SEL
1. DIFERENSIASI SEL ABNORMAL
a. Atrofi
Organ yang dalam perkembangannya tidak mencapai puncak kedewasaan dan kemudian menyusut.

b. Hipertrofi
Pembesaran jaringan atau organ karena pembesaran setiap sel

c. Metaplasia
Sifat diferensiasi sel pada jaringan tertentu dapat juga berubah pada keadaan abnormal. Diferensiasi adalah proses mengkhususkan keturunan sel-sel induk yang sedang membelah untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Misalnya : sel-sel yang membelah yang terdapat pada lapisan terdalam Epidermis, sedikit demi sdikit bermigrasi keatas. Sewaktu melakukan ini, sel memperoleh sifat protektif khusus dari sel-sel epidermis bagian terluar dan menghasilkan zat protein yang dikenal sebagai Keratin. Dengan cara yang serupa, dalam lapisan system pernapasan, sebagian sel Epitelium yang membelah berkembang menjadi sel Kolumnar tinggi dengan silia pada permukaan sel yang menghadap permukaan lumen.
Jika system diperensiasi sel jenis ini berada dalam lingkungan yang tidak cocok, maka pola diferensiasinya dapat berbuah sehingga sel yang biasanya tidak ditemukan pada daerah itu, tetapi tidak ditemukan dibagian tubuh lainnya. Fenomena ini disebut metaplasia. Misalnya, jika lapisan serviks uteria mengalami iritasi kronik, maka bagian epitel skuamosa lebih tahan terhadap iritasi dibandingkan dengan epitel kolumnar diganti oleh epitel skuamosa lebih tahan terhadap iritasi dibandingkan dengan epitel kolumnar. Proses metaplasia kelihatannya berada dibawah pengawasan yang ketat, yaitu jenis deferensiasi yang “baru” benar-benar teratur serta bersifat adaptasi. Metaplasia kemungkinan besar reversible, sehingga jika penyebab perubahan dapat dihilangkan, maka sel induk dalam populasi itu sekali lagi akan mengadakan diferensiasi membentuk sel tertentu yang biasanya terdapat ditempat itu.

c. Displasia
Displasia adalah kelainan diferensiasi sel-sel yang sedang berproliferasi, sehingga ukuran, bentuk dan penampilan sel menjadi abnormal disertai gangguan pengaturan dalam sel. Pada displasia terdapat kehilangan pengawasan pada populasi sel yang terserang. Displasia ringan kemungkinan besar reversible jika rangsang iritasi dapat dihilangkan. Namun pada beberapa keadaan rangsang yang mengakibatkan displasia itu tidak dapat ditemukan.

d. Neoplasia
Neuplasma, secara harfiah berarti “pertumbuhan baru”, adalah masa abnormal dari sel-sel yang mengalami poliferasi. Sel-sel neuplasma berasal dari sel-sel yang sebelumnya adalah sel-sel normal, namun selama mengalami perubahan neuplastik mereka memperoleh derajat otonomi tertentu yaitu sel neoplastik tumbuh dengan kecepatan yang tidak terkoordinasi dengan kebutuhan hospes dan fungsi yang sangat tidak bergantung pada pengawasan homeostasis sebagian besar sel tubuh lainnya.

2. NEOPLASMA
a. Definisi
Neoplasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh.
Dalam ilmu patologi anatomic, tumor identik dengan neoplasma. Sedangkan dalam klinik istilah tumor sering digunakan untuk semua tonjolan dan diartikan sebagai pembengkakan.; pembengkapan ini dapat disebabkan bak oleh neoplasma, maupun oleh radang (rubor, calor, dolor, tumor,function yang merupakan tanda asal radang dari Celvus) atau pendarahan, dsb. Neoplasma membentuk tojolan, tetapi tidak semua tonjolan disebabkan oleh Neoplasma.
Neoplasma ialah penyakit pertumbuhan sel. Regenerasi epitel dan pembentukan jaringan granulasi juga merupakan. Kumpulan sel baru yang sedang tumbuh, tetapi bukan neoplasma karena pertumbuhannya sesuai dengan jalannya pertumbuhan normal.
Seperti diketahui sel itu mempunyai dua tugas utama yaitu bekerja dan berkembang biak. Bekerja bergantung kepada aktivitas intinya. Pada sel Neoplasma terjadi perubahan sifat, sehingga sebagian besar energi digunakan untuk berkembang biak.

b. Jenis neoplasma
Ada 4 jenis neoplasma, yaitu:
• Neoplasma ganas
Neoplasna ganas adalah neoplasma yang klinis, yang telah menunjukkan infiltrasi atau invasi menembus membrana basalis ke jaringan atau organ disekitar.

• Neoplasma in situ
Neoplasma in situ disebut jug kanker in situ,ialah neoplasma ganas yang selnya masih terbatas letaknya.

• Neoplasma jinak
Neoplasma ini merupakan neoplasma yang klinis dan patologinya jinak.

• Neoplasma yang tidak menentu
Neoplasma ini klinis maupun patologis kelihatannya sebagai neoplasma jinak,tetapi perjalanan penyakit menunjukkan ada sebagian yang berubah sifatnya menjadi ganas.

c. Sifat Neoplasma
• Tumor ganas tumbuh infiltratif, yaitu tumbuh bercabang-cabang menyebuk ke dalam jaringan sehat disekitarnya menyerupai jari-jari kepiting(cancer).
Tumor jinak tumbuh ekpansif, yaitu mendesak jaringan sehat sekitar dan jaringan sehat yang terdesak membentuk simpai = kapsel dari tumor.
• Residif (kambuh).
Tumor ganas setelah diangkat atau diberi pengobatan dengan penyinaran sering akan timbul lagi. Keadaan ini disebabkan karena sel-sel tumor masih ada yang tertinggal.
Tumor jinak yang bersinpai, maka bila diangkat mudah dikeluarkan seluruhnya
• Tumor ganas mampu melakukan anaksebar(metastasis) di tempat lain melaui peredaran darah atau cairan getah bening.
Tumor jinak tidak mengadakan anaksebar(metastasis).
• Tumor ganas tumbuhnya cepat, maka secara klinis tumornya cepat membesar dan mikroskopiknya banyak ditemukan mitosis normal(bipolar), maupu mitosis yang abnormal(atipik).
Tumor jinak tumbuhnya lambat, sehingga tumornya tidak cepat membesar dan pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan gambaran mitosis yang abnormal.
• Tumor ganas derajat morfologi sel tumornya lebih banyak dari sifat sel-sel normal/asalnya disebut berdiferensiasi buruk.
Tumor jinak derajat morfologi sel tumornya masih menyerupai sel-sel jaringan asalnya maka tumor jinak dikatakan berdiferensiasi baik.
• Tumor ganas susunan sel-sel epitel yang teratur akan hilang sehingga letak sel yang satu terhadap yang lain tidak teratur.
Tumor jinak susunan sel-sel epiter teratur.

d. Patogenesis Neoplasma
Ada beberapa teori menjelaskan patogenesis tumor:
• Perubahan genetik
Teori ini mengatakan bahwa pada suatu saat terjadi perubahan genetik yang irreversibel pada sel, sehingga terjadi sintesis protein yang lebih aktif dan ini digunakan lebih banyak untuk reproduksi daripada untuk bekerja. Sekali sel mulai berproliferasi aktif, maka terjadi perubahan-perubahan mutasi lebih lanjut. Mutasi sekunder kebanyakan letal, tetapi beberapa diantaranya berkembang ke arah pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih autonom.
• Feedback deletion
Semua sel mempunyai potensi genetik untuk berubah menjadi kanker, tetapi yang dalam keadaan normal terhambat. Pada sel tumor susunan pengatur menghilang, sehingga kemampuan untuk membelah tidak dihambat.
• Multicellular origin of cancer-field theory
Teori ini mengatakan bahwa neoplasma terbentuk dari beberapa sel yang berdekatan secara serentak dan bukan berasal dari satu sel. Neoplasma akan mulai pada tempat yang dipengaruhi karsinogen secara meksimal, tetapi respon neoplastik akan tumbuh di jaringan sekitarnya.

e. Pertumbuhan sel Neoplastik
• Sel-sel membelah diri tanpa mengikuti aturan normal, tidak terkendali, tidak terkoordinasi, tumbuh terus-menerus
• Outlaw sel ini dipicu oleh onkoprotein
• Terdapat neolasma benigna Vs Maligna (kanker)

f. Perkembangan sel Neoplastik
• Sel normal
• Sel Diplasia
• Karsinoma insitu
• Sel neoplastik akan mengadakan invasi ke jaringan
g. Penyebaran Tumor Ganas
1. Penyebaran setempat
Merupakan penjalaran sel-sel tumor dari tumor induk ke jaringan sehat disekitarnya, masih dalam kawasan yang dekat dengan sel induk. Massa sel tumor berhubungan dengan sel tumor induknya.

2. Penyebaran Jauh atau Metaplasia
Merupakan penjalaran sel-sel tumor keluar dari sel induknya, yang kemudian diangkut oleh aliran darah atau cairan getah bening ke tempat yang jauh dari induknya. Membentuk pertumbuhan baru yang disebut metastatis. Massa sel tumor tidak ada hubungannya dengan ,massa sel tumor sel induknya.Penyebaran jauh atau metastatis biasanya malalui pembuluh darah, pembuluh limfe, tramsplantasi langsung.
Kejadian pada penyebaran tumor ganas
• Adanya pelepasan sel-sel tumor yang dapat hidup autonom
• Aanya jalan penyebaran
• Adanya lingkungan yang memberikan kemungkinan untuk hidupnya sel-sel tumor pada tempat yang baru.

h. Klasifikasi sel Neoplasma
Jaringan Asal Tumor Jinak Tumor Ganas
I.Simpel
(terdiri dari satu jenis neoplasma)

A. Epitel
1. Epitel Permukaan skwamosa
2. Epitel kelenjar
3. Epitel Villus chorialis (placenta)

B. Mesoderm
1. Jaringan Ikat
2. Jaringan miksomatosa
3. Jaringan lemak
4. Tulang rawan
5. Tulang
6. Otot Polos
7. Otot seran lintang
8. Pembuluh darah
9. Pembuluh limfe
10. Jaringan hemopoietik
– Sumsum tulang
– Jaringan limfoid

C. Jaringan Saraf
1. Neuroglia

D. “Pigmented Ephiteliym”
1. Melanoblas

– Papilloma
– Adenoma
– Mola Hydatidosa

– Fibroma

– Myxoma
– Lipoma
– Chondroma
– Osteoma
– Leiomyoma
– Rhabdomyoma
– Hemangioma
– Lymphangioma

– Tidak dikenal

– Glioma ( Jarang)

– Nevus Pigmentosu

– Carcinoma
– Adenocarcinoma
– Choriocarcinoma

– Fibrosarcoma

– Myxosarcoma
– Liposarcoma
– Chondrosarcoma
– Osteogenicsarcoma
– Leiomyosarcoma
– Rhabdomyosarcoma
– Hemangiosarcoma
– Lymphangiosarcoma

– Leukimia
– Myeloma Multiple
– Lymphoma Malignum
o Lymphosacroma
o Sacroma sel retikulum

– Glioma

– Melanoma Malignum

II. COUNPOUND
(lebih dari satu jenis sel neoplasma yang berasal dari lebih dari pada satu lapis benih)
A. Jaringan Embrional
1. Sel Totipoten

– Kista Dermoid
(Teratoma Kistik)

– Teratoma solidum
Teratocarcinoma
D. FARMAKOLOGI UMUM
1. DEFINISI
Farmakologi adalah ilmu yang memepelajari penggunaan obat untuk menyembuhkan penayakit. Ini merupakan pelajaran utama untuk mahasiswa kedokteran. Untuk menggunakan obat secara rasional maka disamping menguasai farmakologi juga diperlukann pengetahuan patofisiologi penyakit. Farmakoterapi dalam arti luas mencakup semua tindakan penggunaan obat dalam menyembuhkan penyakit.

2.JENIS FARMAKOLOGI
a. Farmakokinetik
Keseluruhan proses yang dialami molekul obat, mulai masuknya obat kedalam badan samapai hilangnya obat ini dari badan disebut proses farmakokinetik. Proses ini mencakup absorpsi, distribusi, biotrans-formasi, dan eksresi obat. Seluruh proses ini terjadi simultan dan bukan beruurut.
Proses absorpesi terjadi di berbagai tempat pemberian obat, umpamanya melalui alat cerna, otot rangka, paru paru, kulit dan sebagainya. Setelah melalui berbagai sawar (barrier) molekul obat masuk kedalam cairan intravaskuler dan disebar keseluruh badan. Dalam darah sebagian molekul obat akan diikat oleh protein plasma dan reaksi ini bersifat reversible. Hanya molekul obat bebas yang dapat menembus membrane sel untuk masuk sel hati tempat biotransformasi terjadi. Molekul obat bebas lainnya memasuki jaringan berbagai organ, mempengaruhi fungsi faal atau fungsi biokimia dengan akibat terjadinya efek obat. Sebagian lagi memasuki memasuki ginjal dan kadang kadang langsung diekskresi, tetapi umumnya obat baru diekskresi setelah mengalami biotransformasi.
Disisni terlihat bahwa jutaan molekul obat yang telah diabsorpasi secara simultan mengalami, berbagai macam proses. Molekul obat harus melewati sawer yang terdiri dari unit membrane atau plasama membrane yang terbentuk dari lapisan biomolekuler fosfolipid. Karena membrane ini terutama terdiri dari lemak maka umumnya molekul obat yang besifatnonpoler lebih mudah melintasi membrane dari pada molekul obat yang poler.

• Absorpsi
Proses absorpsi sangat penting dan menentukan efek obat. Pada umumnya obat yang tidak di absorpsi tidak menimbulkan efek, kecuali antacid dan obat yang bekerja local. Absorpsi dipengaruhi oleh bermacam faktor seperti, sifat fisik dan kimia bahan obat, bentuk obat yang diberikan (tablet, kapsul, cairan), formulasi, cara pemberian, konsentrasi obat, luas permukaan kontak obat (absorbing surface) dan sirkulasi pada tempat absorpsi obat.
Absorsi melalui saluran cerna. Pemberian obat per oral merupakan cara yang paling lazim karena paling mudah, aman dan ekonomis. Kerugian cara ini ialah : obat dapat merangsang mukosa lambung dan dapat menimbulkan emesis (mual). Minofilin sering menimbulkan emesis karena merangsang mukosa lambung. Obat dapat mmbentuk kompleks dengan makanan sehingga lebih sukar diabsorpsi. Obat yang lewat sistem portal dapat mengalami biotransformasi sebelum memasuki sirkulasi ke berbagai organ. Pemberian oral membutuhkan koperasi pasien dan efeknya baru timbul setelah bebrapa waktu tergantung dari jenis obatnya.
Kecepatan absorpsi obat yang berbentuk tablet tergantung dari kecepatan desintegrasi dan melarutnya bahan obat. Umumnya obat dalam bentuk non poler yang larut dalam lemak cepat diabsorpsi sedang obat yang bersifat poler tidak larut dalam lemak seperti zat ammonium kuatener, lambat di absorpsi.
Pemberian obat secara sublingual dapat diberikan untuk menghindari pengrusakan oleh enzim lambung dan usus dan menghindari biotransformasi di hepar sebelum obat didistribusi. Cara ini hanya dapat dipakai untuk obat yang tidak merangsang mukosa dan tidak menimbulkan rasa pahit yang mengganggu.
Pemberian obat secara rectal dapat dilakukan untuk pasien yang muntah-muntah, tidak sadar dan untuk menghindari pengrusakan dari enzim pencernaan dan biotransformasi di hepar. Didaerah tropik, pemberian rectal kurang popular karena suposutoria sering menjadi lembek. Banyak obat tidak dapat diberikan dengan cara ini karena menimbulkan iritasi mukosa rectum..

• Distribusi
Obat setelah di absorpsi akan tersebar melaui sirkulasi darah keseluruh badan. Molekul obat yang mudah melintasi membrane sel akan mencapai semua cairan tubuh baik intrasel maupun ekstrasel ; sedang obat yang sulit menembus membrane sel penyebarannya umumnya terbatas pada cairan ekstrasel. Kadang-kadang beberapa obat mengalami kumulasi selektif pada beberapa organ dan jaringan (tissue depot) tertentu karena proses transport aktif, pengikatan dengan zat tertentu atau daya larut yang lebih besar dalam lemak. Kumulasi demikian berfungsi sebagai gudang dan dan dapat mengakibatkan obat berefek lebih lama, Bagian badan yang dapat berfungsi sebagai gudang obat (stoage depot) ialah protein plasma, umumnya albumin , jaringan ikat, dan jaringan lemak. Selalin itu ada tempat lain umpamanya tulang, organ tertentu, dan cairan trans-sel yang dapat berfungsi sebagai gudang untuk beberapa obat tertentu.
Distribusi obat kesusunan saraf pusat dan janin harus menerobos sawar khusus yang dikenal sebagai sawar darah-otak (blood brain barrier) dan sawar uri. Obat yang mudah larut dalam lemak pada umumnya mudah melewati sawar ini.

• Biotransformasi
Pada umumnya biotransformasi obat terjadi oleh enzim mikrosom di reticulum ndoplasma sel hepar. Pada proses biotransformasi molekul obat dapat berubah sifatnya antara lain menjadi lebih poler. Metabolit yang lebih poler ini tidak larut dalam lemak dan dengan dengan demikian lebih mudah dieksresi oleh ginjal .
Reaksi biokimia yang terjadi pada proses biotransformasi dapat dibagi dalam reaksi sintetik dan reaksi non sintetik. Pada reaksi sintetik terjadi konjugasi molekul obat dengan subtract endogen seperti gugus glukuronid, – asteril, atau – sulfat. Reaksi ini membutuhkan energi yang biasanya berasal dari ATP ; dan metabolit menjadi inaktif. Reaksi nonsintetik tidak membutuhkan energi; berupa reaksi reduks, oksidasi atau hidrolisis. Metabolitnta dapat lebih aktif dari obat asal, berkurang aktifitasnya atau sama sekali tidak aktif.
Biotransformasi memegang peranan penting dalam mengakhiri efek obat. Karena proses ini dikatalisis oleh enzim maka proses ini dapat dihambat atau dirangsang dengan akibat pengaruh terhadap efek obat.

• Eksresi
Obat dapat dikeluarkan dari badan dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bantuk asalnya. Ekskresi umumnya terjadi melalui ginjal, tetapi juga terjadi bersama tinja, empedu melalui paru-paru, bersama air susu dan keringat. Eksresi melaui paru-paru terutama pada anastesia umum dengan anastesik terbang. Eksresi air susu ibu penting untuk diperhatikan karena dapat menimbulkan efek farmakologik atau efek toksik pada bayi.

b. Farmakodinamik
Seperti telah diuraikan terdahulu farmakodinamik mempelajari cara kerja obat dan efeknya terhadap berbagai funsi oragan dan reaksi biokimia.

• Mekanisme Kerja Obat
Cara kerjanya pada taraf molekuler hingga kini belum diketahui dengan jelas. Mengapa suhu demam menurun? Mengapa ambang rasa nyeri meningkat? Ini pertanyaan-pertanyaan yang masih diselidiki dan sampai sekarang belum terjawab. Penelitian mengenai mekanisme kerja obat dewasa ini merupakan bagian yang sangat penting dalam farmakologi.
Dalam bagan terlihat bahwa yang dimaksud dengan mekanisme kerja obat adalah akibat langsung penggabungan molekul obat (O) dengan suatu reseptor (R) atau zat reseptif (Recptive substance). Bila reseptpr itu suatu enzim maka hasilnya dapat berupa penghambatan ataupun perangsangan enzim tersebut.
Setelah kompleks obat-reseptor (OR) terbentuk, kemungkinan bersar akan terjadi reaksi rantai lebih lanjut ; tetapi yang terlihat atau terdapat diobservasi ialah timbulnya perubahan fungsi organ tertentu. Perubahan yang dapat dilihat kita sebut efek obat.
Reseptor Obat ialah makromolekul yang bergabung dengan obat ; dan penggabungan ini merupakan reaksi permulaan dalam suatu rangkaian reaksi yang pada akhirnya menimbulkan efek. Dengan menggambarkan bahwa semua obat harus bergabung dalam reptor dulU, berbagai dan efek seperti hubungan antara dosis dan efek, hubungan waktu dan efek lebih mudah dimengerti. Rseptor obat pada umumnya merupakan molekul enzim, atau komponen fungsional dari sel. Rseptor obat dapat terletak pada membrane sel, didalam sel atau ekstrasel.

• Efek Obat
Efek obat pada umumnya terlihat sebagai perubahan intensitas faal organ tertentu atau reaksi biokimianya. Karena efek obat adalah hal yang dapat diiobbserfasi maka obat digolongkan sesuai dengan efeknya.
Obat golongan farmakoldinamik bekerja dengan mempengaruhi faal organ dan dalam hal ini pengaruhnya bersifat kuantiatif dan bukan kualitatif. Artinya fungsi organ diubah oleh obat dengan merangsangnya menjadi lebih aktif atau menjadikan kurang aktif.

Untuk menetapkan dosis yang tepat perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhinya.
– Berat Badan Pasien; makin berat seseorang makin besar juga dosis obat yang dibutuhkan untuk mendapat efek terapi. Luas permukaan badan merupakan indeks yang lebih tepat dari indeks lain untuk menentukan dosis obat.

– Umur; Bayi premature bersifat hiperaktif terhadap obat karena ensim untuk biotransfomasi dan fungsi ginjal belum sempurna. Orang lanjut usia juga dapat bersifat hiper-reaktif karena fungsi biotransformasi dan eksresi sudah menurun.
– Kelamin; Wanita dilkatakan bersifat hiper-reaktif terhadap obat tertentu. Salah satu alasan yang di kemukakan adalah berat badan wanita umumnya kurang dari laki-laki. Perbedaan intensitas efek obat juga dapat terjadi karena perbedaan hormonal.
– Cara Pemberian; Pada berbagai cara pemberian perbedaan dosis obat yang diberikan berdasarkan perbedaan absorpsi. Umumnya dosis untuk pemberian intravena lebih kecil dari untuk pemberian subkutan atau pemberian oral.
– Saat Pemberian Obat; Obat yang diberikan sesudah makan, absorpsinya lebih lambat dan tidak sempurna dan hingga efek terapi mungki tidak tercapai. Pemberian obat pada lambung yang kosong mempercepat absorpsi obat sehingga efek terapi cepat tercapai.
– Kecepatan biotransformasi dan Ekresi obat; gangguan fungsi hepar dan ginjal memperlambat eliminasi obat tertentu sehingga dosis obat harus dikurangi untuk mencegah terjadinya keracunan.
– Faktor Genetik; Ada kalanya dapat mempengaruhi efek obat. Cabang farmakologi yang mempelajari faktor genetic terhadap efek obat di sebut ilmu farmakogenetik.
– Interaksi Obat; Efek suatu obat dapat dipengaruhi oleh terdapatnya obat lain. Pengaruh dapat menguntungkan dan merugikan penderita. Terjadinya interaksi obat selalu harus dipertimbangkan bila menggunakan 2 obat atau lebih.
– Variasi Biololgik; Setiap indivisu mempunyai sifat khas yang mungkin menyebabkan perbedaan reaksi terhadap obat. Seseorang dengan dosis kecil sudah mendapatkan efek yang diinginkan dikatakan bersifat hiper-reaktif terhadap obat, sedang yang membutuhkan dosos besar untuk mendapatkan efek yang diinginkan disebut hiperoaktif.

3. Pengobatan Pada Neoplasma
Pengobatan pada tumor terbagi menjadi dua, yaitu :
a. Supportive Terapi
Supportif treatment berfokus pada meringankan gejala dan meningkatkan neuroligik pasien. Supportive treatment yang utama digunakan adalah anticontivulsants dan corticosteroid.

b. Definitive Terapi
Definiti terpi ini meliputi :
• Pembedahan
Berbagai pilihan pembedahan telah tersedia, dan pendekatan pembelahan yang dipilih harus berhati-hati untuk meminimalisir resiko definit neurologic setelah operasi.
Tujuan pembedahan :
– Mengnalisis diagnosis histologic yang akurat
– Mengurangi tumor pokok
– Memberi jalan untuk SCF mengalir
– Mencapai potensial penyembuhan

• Terapi Radiasi
Terapi radiasi memainkan peran penting dalam pengobatan tumor pasa orang dewasa. Tetapi radiasi adlah terapi nonpembedahan yang paling efektif untuk pasien dengan malignant glioma dan juga sangat penting bagi pengobatan pasien dengan low-grade glioma.
• Kemoterapi
Khemoterapi adalah pemberian obat antikanker yang bertujuan membunuh sel-sel kanker, dengan cara pemberian melalui infus. Obat khemoterapi umumnya berupa kombinasi dari beberapa obat yang diberikan secara bersamaan dengan jadwal yang diberikan secara bersamaan dengan jadwal yang telah ditentukan. Seperti halnya pemberian infus pada penyakit lain seperti diare, penderita harus diberikan terapi di Rumah Sakit, dengan waktu pemberian beberapa jam. Setelah pemberian khemoterapi selesai, dan tidak ada keluhan, penderita dapat langsung pulang.

Manfaat kemoterapi Kanker :
1. Pengobatan
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa jenis kemoterapi.
2. Kontrol
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.
3. Mengurangi gejala
Bila kemotarapi tidak dapat menghilangkan kanker, maka kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada pasien, seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran kenker pada daerah yang diserang.

Prinsip Kemoterapi Kanker :
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pengobatan:
• Kanker baru dapat dideteksi bila jumlah sel kanker kira-kira 106.
• Adanya hubungan dosis-respons yang jelas.
• Diperlukan jadwal pengobatan yang tepat.
• Kemoterapi harus dimulai sedini mungkin.
• Kemoterapi harus tertuju pada sel kanker tanpa menyebabkan gangguan menetap pada jaringan normal.
• Sifat pertumbuhan tumor ganas harus menjadi pertimbangan.
• Beberapa sitostatik dan hormon memperlihatkan efek selektif relatif terhadap sel dengan tipe histologik tertentu.

3. EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT
Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. Efek samping yang bisa timbul adalah:
1. Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung hingga akhir pengobatan.

2. Mual dan Muntah
Ada beberapa obat kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan obat anti mual yang diberikan sebelum/selama/sesudah pengobatan kemoterapi.
Mual muntah dapat berlangsung singkat ataupun lama.

3. Gangguan pencernaan
Beberapa jenis obat kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare disertai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi.
Bila diare: kurangi makanan berserat, sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang.
Bila susah BAB: perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan
4. Sariawan
Beberapa obat kemoterapi menimbulkan penyakit mulut seperti terasa tebal atau infeksi. Kondisi mulut yang sehat sangat penting dalam kemoterapi.
5. Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai.
6. Otot dan Saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.
7. Efek Pada Darah
Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel darah putih (leokosit). Penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat mengakibatkan:
• Mudah terkena infeksi
Hal ini disebabkan oleh Karena jumlah leokosit turun, karena leokosit adalah sel darah yang berfungsi untuk perlindungan terhadap infeksi. Ada beberapa obat yang bisa meningkatkan jumlah leokosit.
• Perdarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah trombosit mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit.
• Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat.
8. Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna
• Lebih sensitive terhadap matahari.
• Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sel adalah unit structural dari semua organisme hidup. (Junquiera dan Carneiro, Histologi Dasar, Teks dan Atlas)
Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk semua organisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar organisme (Regnum) juga memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Sel-sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang sangat rapi.
Manusia memiliki sekitar 200 jenis sel yang berbeda, semua terbentuk dari zigot, yaitu sel tunggal yang terbentuk dari pembuahan sebuah oosit dan sebuah spermatozoa. Pembelahan pertama dari zigot menghasilkan sel-sel yang disebut blastomer, yang sanggup membentuk semua jenis sel orang dewasa. Melalui proses ini, yang disebut diferensiasi sel, sel-sel mensintesis protein spesifik, mengubah bentuknya dan menjadikannya sangat efisien dalam fungsi yang spesifik.
Namun, kerja sel yang autonom ini kadang juga mengalami berbagai kelainan yang dapat mengganggu beberapa bagian kerja tubuh. Salah satu contohnya adalah neoplasma atau tumor yang sangat membahayakan bagi manusia. Untuk itu, perkembangan dunia kesehatan telah memanfaatkan segala sumber ilmu pengetahuan untuk dapat mengembangkan dunia farmakologi demi penangaanan tepat terhadap gangguan-gangguan keja tubuh tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *