BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bawal termasuk salah satu komoditas ikan yang cuup digemari masyarakat. selain harganya yang lebih murah dari daging ayam dan sapi, bawal memiliki daging yang tebal dengan rasa yang lezat, dan tulangnya sedikit. Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) atau yang dikenal dengan merek dagang Silver Pompano, mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Ikan ini termasuk spesies asli Indonesia yang mempunyai daya adaptasi tinggi dan mudah dibudidayakan. Ikan bawal bintang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan pangsa pasar yang cukup menjanjikan, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa negara konsumen utama bawal bintang selama ini antara lain Jepang, Taiwan, Hongkong, China dan Kanada. Seiring dengan keberhasilan Balai Budidaya Laut Batam dalam membenihkan maupun membudidayakan ikan bawal bintang, diharapkan dapat dikembangkan di wilayah perairan Indonesia.
Bawal Bintang merupakan salah satu jenis ikan bawal air laut yang saat ini tengah populer dan sangat diminati. Bawal Bintang yang banyak dibudidaya saat ini berasal dari perairan laut Taiwan yang banyak dibudidaya petani di tepian laut. Prospek usahanya cukup menggiurkan, mengingat harga 1 kg Bawal Bintang bisa mencapai Rp 60 ribu. Mahalnya harga bawal air laut ini juga dikarenakan ukuran ikan yang di hasilkan lebih besar dari bawal air tawar serta menghasilkan daging yang lebih kenyal, tidak berbau lumpur dan lebih fresh. Sudah ada beberapa daerah yang telah membudidayakan Bawal Bintang ini seperti di laut Batam, Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu dan di daerah situbondo, Jawa Timur.
Seiring dengan berkembanganya budidaya ikan bawal bintang, kebutuhan benih semakin meningkat. Oleh karena itu perlu diupayakan penyediaan benih secara kontinyu dan berkesinambungan. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung usaha tersebut adalah dengan menejemen pemeliharaan larva yang baik. Dengan demikian nantinya diharapkan dapat memproduksi benih dengan SR yang tinggi dan berkualitas.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Habitat
Ikan Bawal banyak terdapat di Lautan Hindia selain terdapat juga di Afrika, Malaysia dan Jepang. Ikan Bawal hidup dan berenang secara bergerombol. Bawal sering juga ditemukan beriringan dengan udang di dasar laut.

Seorang ahli perikanan bernama Bryner (1999) mengemukakan silsilah (sistematika) dan Klasifikasi ikan bawal Bintang sebagai berikut :
 Filum : Chordata
 Sub filum : Craniata
 Kelas : Pisces
 Sub kelas : Neoptergii
 Ordo : Cypriniformes
 Subordo : Cyprinoidea
 Famili : Characidae
 Genus : Trachinotus
 Spesies : Trachinotus blochii

2.2 Manajemen Makan
Setiap ikan mempunyai kebiasaan makan yang berbeda. Ada tiga golongan ikan berdasarkan kebiasaan makan yaitu ikan yang biasanya makan di dasar perairan, di tengah, dan di permukaan. Apabila dilihat dari jenis makanannya, ikan digolongkan dalam tiga golongan pula, yaitu herbivora (pemakan tumbuhan), karnivora (pemakan daging), dan omnivora (pemakan segala).

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa bawal tergolong omnivora. Meskipun tergolong omnivora, ternyata pada masa kecilnya (larva), bawal lebih bersifat karnivora. Jenis hewan yang paling disukai adalah crustacea, cladocera, copepoda, dan ostracoda. Pada umur dua hari setelah menetas, mulut larva mulai terbuka, tetapi belum bisa menerima makanan dari luar tubuh, makanannya masih dari kuning telurnya. Umur empat hari, kuning yang diserap oleh tubuh sudah habis dan pada saat itulah larva mulai mengonsumsi makanan dari luar. Apabila diamati kebiasaan makannya, bawal tergolong ikan yang lebih suka makan di bagian tengah perairan.
Dengan kata lain, bawal bukanlah ikan yang biasa makan di dasar perairan (bottom feeder) atau di permukaan perairan (surface feeder).

Pakan yang diberikan harus memiliki nilai gizi yang cukup. Hal ini akan mempercepat pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pakan yang diberikan dapat berupa pakan buatan ataupun pakan ikan rucah. Pada tahap awal pemeliharaan, frekuensi pemberian pakan dilakukan 4-6 kali sehari. Selanjutnya pemberian pakan dapat dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Pertumbuhan harian ikan bawal bintang dengan menggunakan pakan buatan adalah sebesar 2,89 gram/hari, sedangkan dengan pemberian pakan ikan rucah pertumbuhan hariannya sebesar 1,6 gram/hari.
Dari sisi biaya produksi, budidaya bawal bisa ditekan, karena bawal itu omnivora (pemakan segala), jadi selain pakan berupa pelet, bawal juga bisa diberi pakan alami berupa keong, siput, dedaunan, limbah sayuran, hingga ikan runcah. Bawal juga memiliki daya cerna makan yang baik. Selain bisa diberi pakan alami, bawal bisa diberikan pakan protein rendah sekitar 20% yang harganya lebih murah sekitar Rp.3-5 ribu/kg dibanding dengan pakan berprotein tinggi. Dengan demikian dari 1 kg pakan yang diberikan dapat menghasilkan daging bawal sebanyak 0,7-0,8 kg (konversi pakan adalah 1:0,7-0,8) yang cukup efisien dan menguntungkan petani.
Untuk menghindari variasi ukuran yang menyebabkan ikan yang kecil akan kalah bersaing makanan dengan ikan yang besar sehingga pertumbuhanya terganggu, maka dilakukan pemilahan atau penyeragaman ukuran. Dengan demikian pada satu waring atau jaring hanya dipelihara ikan yang satu ukuran. Penyeragaman ukuran pada awal pemeliharaan dilakukan minimal dua minggu sekali dan selanjutnya dapat dilakukan setiap satu bulan sekali, atau kalau terterlihat adanya variasi ukuran dalam satu wadah pemeliharaan.
Untuk mengetahui pertumbuhan, menentukan dosis pakan dan angka kelulushidupan ikan dilakukan sampling. Sampling ikan dilakukan sebulan sekali dengan mengambil ikan secara acak. Pada saat sampling dilakukan penghitungan, pengukuran panjang dan penimbangan berat ikan sehingga dapat diamati angka kelulushidupan, pertambahan panjang dan beratnya.

2.3 Kualitas Air
Kualitas air memegang peranan penting pada budidaya ikan. Kualitas air perlu diukur karena kelayakan suatu perairan sebagai lingkungan hidup ditentukan oleh sifat-sifat fisik dan kimia air seperti suhu, salinitas, derajat keasaman, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, alkalinitas perairan, kandungan amoniak, dan beberapa parameter lainnya.
NO Parameter Kisaran Optimal
1 suhu/temperatur 26-30
2 kadar garam/salinitas 10-30 ppt
3 kecerahan air 25-30 cm
4 pH 7,5-8,5 ppm
5 DO 4-8 mg/liter
6 Amonia (NH3) < 0,1 mg/liter
7 H2S < 0,1 mg/liter
8 Nitrat (NO3-) 200 mg/liter

2.4 Teknologi Budidaya
Tempat pemeliharaan pada tahap pendederan dengan menggunakan waring ukuran 3m x 1,2m x 1,5m dan jaring 3m x 1,2m x 1,5m mesh size ¾ inchi. Sedangkan untuk penggelondongan menggunakan jaring 3m x 3m x 3m atau jaring 6m x 3m x 3m mesh size 1¼ inchi dan tahap pembesaran menggunakan jaring 6m x 3m x 3m mesh size 1¼ – 2 inchi yang berada di Keramba Jaring Apung (KJA) 3X3 meter tiap lubangnya.
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Aklimatisasi perlu dilakukan karena adanya perbedaan, suhu dan salinitas antara daerah asal benih atau media transportasi dengan kondisi air tempat pemeliharaan. Apabila sistem transportasi dengan menggunakan kantong plastik, maka aklimatisasi dilakukan dengan membuka kantong plastik dan memasukkan air laut kedalam kantong sedikit demi sedikit. Setelah suhu dan salinitas hampir sama maka benih dapat ditebarkan. Untuk pengangkutan jarak pendek, aklimatisasi dilakukan dengan cara menambahkan air laut sedikit demi sedikit kedalam wadah pengangkutan. Padat tebar berkaitan erat dengan pertumbuhan dan angka kelulushidupan. Apabila kepadatan terlalu tinggi pertumbuhannya lambat akibat adanya persaingan ruang, oksigen dan pakan.
Penggantian dan pembersihan jaring selama masa pemeliharaan mutlak harus dilakukan. Jaring yang kotor akibat penempelan lumpur atau biota penempel seperti berbagi jenis kerang, teritip dan tumbuh-tumbuhan, dapat menghambat sirkulasi air, pertukaran air dan oksigen. Kalau dibiarkan hal ini dapat menghambat pertumbuhan bawal bintang dan menimbulkan penyakit. Jaring yang kotor sebaiknya dijemur kemudian disemprot atau dibersihkan agar dapat dipergunakan lagi. Sebelum digunakan kembali waring atau jaring perlu diperiksa sehingga apabila ada kerusakan atau putusnya tali jaring dapat diperbaiki. Pergantian jaring dilakukan sebulan sekali, bersamaan dengan pergantian jaring dilakukan perendaman ikan dengan air tawar, sampling dan grading.
2.5 Penanganan Hama Penyakit Ikan
Penyakit yang pernah ditemukan pada ikan bawal bintang antara lain disebabkan oleh parasit, bakteri dan Kapang (Jamur).
• White spot, biasanya menyerang ikan apabila suhu media pemeliharaan dingin, cara mengatasinya yaitu dengan menaikkan suhu (dengan water heater) sampai kurang lebih 29 derajat Celcius dan pemberian formalin 25 ppm. Pada media pemeliharaannya.
• Streptococus sp. dan Kurthia sp. cara mengatasinya yaitu dengan menggunakan antibiotik tetrasiklin dengan dosis 10 ppm.
• Jamur ini merupakan akibat dari adanya luka yang disebabkan penanganan ( Handling ) yang kurang hati-hati. Cara mengatasinya dengan menggunakan Kalium Permanganat ( PK ) dengan dosis 2-3 ppm.

BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan di atas adalah sebagai berikut:
1. Meskipun tergolong omnivora, ternyata pada masa kecilnya (larva), bawal lebih bersifat karnivora.
2. Ikan bawal bintang merupakan prospek yang bagus dalam budidaya ikan sekarang ini.
3. 1 kg pakan yang diberikan dapat menghasilkan daging bawal sebanyak 0,7-0,8 kg (konversi pakan adalah 1:0,7-0,8) yang cukup efisien dan menguntungkan petani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *