Latar belakang.

Bangsa Indonesia yang baru didirikan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam peristiwa Sumpah Pemuda, adalah sebuah bangsa yang relatif baru sepanjang sejarah umat manusia, dan pada saat yang bersamaan, bangsa yang baru ini sangat berbeda bentuk dan jenisnya dengan konsepsi bangsa yang selama ini dimengerti oleh para ahli ilmu sosial dari Barat. Para pendiri bangsa Indonesia sendiri sangat terpengaruh pada pemikiran Barat tempat dimana mereka menimba ilmu. Namun demikian mereka dapat memahami kondisi alamiah suku-suku bangsa asli Indonesia, sehingga mereka dapat menjembatani konsep lama tentang bangsa dengan kenyataan tersebut. Hal ini nampak pada konsep mereka tentang bangsa Indonesia yang faktanya sangat majemuk dan multikultural.

Pemikiran baru tentang bangsa ini dikarenakan munculnya pemahaman baru tentang masyarakat yang bernama nation-state (negara bangsa). Artinya, sekelompok manusia yang hidup bersama dalam sebuah organisasi politik bernama negara. Negara ini berdaulat dalam dirinya sendiri dan dibatasi oleh negara lain sebagai entitas politik yang koeksisten. Bangsa yang terikat ini tidak lagi bersatu dalam sebuah Negara karena kesamaan, namun justru melalui perbedaan[1].

Hal ini menyebabkan perlunya ditegaskan kembali identitas kebangsaan, khususnya tentang bangsa Indonesia secara lebih mendalam untuk mendasari seluruh pemahaman kewarganegaraan tentang entitas social tersebut.

Pengertian Identitas nasional

Identitas nasional diambil dari bahasa asing, identitas berarti sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi, secara terminologis, identitas berarti ciri – ciri, tanda khas atau jati diri yang melekat pada seseorang golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, dan negara sendiri. Sedangkan kata nasional tidak dapat dipisahkan dari nasionalisme. Nasionalisme menurut Hans Kohn adalah kesetiaan sepenuhnya terhadap Negara dan bangsa di atas semua bentuk kesetiaan lainnya. Nasional berarti bangsa sendiri, atau meliputi diri bangsa. Kata nasionalisme sering diartikan sama dengan kebangsaan. Sebagai paham; nasionalisme atau kebangsaan merupakan paham modern yang berusaha mengangkat kesadaran manusia demi menentukan nasib[2].

Permasalahan berikut adalah menjawab pertanyaan tentang identitas nasional bangsa Indonesia. Hal ini sangat penting untuk dipahami justru karena bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang majemuk dan multikultural. Bangsa Indonesia tidak mempunyai kesamaan budaya secara keseluruhan, mempunyai agama yang berbeda-beda, kelompok etnis yang beragam, dan bahasa yang dipergunakan pun tidak sama. Pemahaman tentang kemajemukan ini perlu dimengerti terlebih dahulu.

Ernest Renan berpendapat bahwa yang dimaksud dengan bangsa adalah jiwa (raisons), suatu suasana kebatinan yang timbul dari ingatan sejarah akan kejayaan bersama, dan keinginan untuk hidup bersama berdasarkan solidaritas. Lebih lanjut Ernest Renan mengatakan bahwa syarat mutlak adanya bangsa adalah persetujuan bersama untuk mau hidup bersama dengan kesediaan memberikan pengorbanan-pengorbanan. Bila warga bangsa bersedia memberikan pengorbanan bagi eksistensi bangsanya, maka bangsa tersebut tetap bersatu dalam kelangsungan hidupnya.[3]

Titik pangkal dari teori Ernest Renan adalah pada kesadaran moral (conscience morale), Menurut teori Ernest Renan, jiwa, rasa, dan kehendak merupakan suatu faktor subjektif, tidak dapat diukur dengan faktor-faktor objektif. Faktor agama, bahasa, dan sejenisnya hanya dapat dianggap sebagai faktor pendorong dan bukan merupakan faktor pembentuk bangsa. Teori Renan mengatakan bahwa etnisitas tidak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Jadi nasionalisme bisa jadi dalam suatu komunitas yang multi etnis, persatuan agama juga tidak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Persatuan bahasa mempermudah perkembangan nasionalisme tetapi tidak mutlak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Dalam hal nasionalisme, syarat yang mutlak dan utama adalah adanya kemauan dan tekad bersama[4]

Teori Renan tentang nation (waktu itu masih digunakan kata bangsa) dianut dan secara langsung sebagai tokoh teori nasionalisme menegaskan suatu negara hanya ada karena adanya kemauan bersama. Konsep nasionalisme inilah yang membangkitkan rasa nasionalisme para pendiri bangsa Indonesia serta memberi orientasi bagi perjuangan bangsa terjajah di wilayah Hindia Belanda dalam rangka membebaskan diri dari cengkeraman penjajahan.

Catatan Sejarah dan Kejayaan Masa Lampau

Benedict Anderson mengatakan bahwa nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang terbatas dan beradaulat yang dibayangkan (imagined communities). Komunitas politik itu dikatakan sebagai imagined communities sebab suatu komunitas tidak mungkin mengenal seluruh warganya, tidak mungkin saling bertemu, atau saling mendengar. Akan tetapi, mereka memiliki gambaran atau bayangan yang sama tentang komunitas mereka. Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah warga dalam suatu komunitas mau menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan atau bayangkan.[5]

Benedict Anderson berpendapat bahwa sebuah bangsa lebih mengacu kepada pemahaman atas suatu masyarakat yang mempunyai akar sejarah yang sama dimana pengalaman keterjajahan semakin mengkristalkan rasa solidaritas diantara mereka[6].  Soekarno dan Muhammad Yamin berangkat dari imajinasi kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, kemudian berusaha memunculkan sebuah imperium baru bernama Indonesia. Beberapa peristiwa yang dianggap penting dalam sejarah pembentukan bangsa Indonesia adalah:

Gerakan Kebangkitan Nasional

Kesadaran akan perlunya suku-suku bangsa di seluruh Indonesia untuk bergerak dan berusaha memperoleh kebebasannya dari penjajahan sebenarnya dipengaruhi banyak faktor, diantaranya adalah:

  1. Kritik atas praktek tanam paksa oleh kalangan cendekiawan dan aktivis kemanusiaan dari Belanda.
  2. Politik etis atau politik balas budi akibat kemenangan partai di negeri Belanda yang menuntut liberalisasi daerah jajahan. Kebijakan ini dilaksanakan th 1901 di Hindia Belanda dalam bentuk edukasi, irigasi, transmigrasi.
  3. Kemenangan Jepang melawan Rusia dalam perang tahun 1905
  4. Adanya pergerakan nasional di negara lain seperti India, Fillipina, Cina, Turki yang sebagian besar didorong oleh Komintern.

Akibat langsung dari faktor-faktor tersebut adalah munculnya kesadaran baru tentang identitas yang bersifat lebih luas dari sekedar suku, agama dan etnis saja, yaitu kesadaran berbangsa dari kalangan kelas atas dan kelas menengah pribumi. Mereka inilah yang akhirnya berjuang membentuk identitas nasional baru, yaitu ke-Indonesia-an melalui pembentukan kelompok-kelompok pemuda.

Sumpah Pemuda.

Kongres pemuda yang kedua diadakan di Jakarta pada tanggal 26 – 28 Oktober 1928 menjadi tonggak sejarah terpenting dalam pembentukan identitas nasional, karena didalamnya ada kesepakatan untuk membuat sebuah identitas baru sebagai sebuah bangsa yang bersatu. Para pemuda dari semua daerah di Indonesia ikut serta untuk mempertegas rasa persatuan kebangsaan yang diikrarkan dalam sumpah berbunyi :

Pertama; Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia.

Kedua; Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ketiga; kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

      Kongres memutuskan agar kesepakatan ini harus diterima sebagai asas wajib oleh semua komunitas.

Proklamasi Kemerdekaan.

Bangsa yang disepakati untuk didirikan setelah Sumpah Pemuda tersebut, akhirnya menyatakan diri sebagai bangsa (nation) yang merdeka dari penjajahan bangsa asing, sekaligus mendirikan sebuah organisasi politik yang berdaulat, yaitu Negara (state) Republik Indonesia. Gabungan dari dua ide tentang bangsa (nation) dan negara (state) tersebut terwujud dalam sebuah konsep tentang negara bangsa atau dikenal dengan nation-state.

Pengertian dasar dari nation-state adalah negara (state) dibangun atau diorganisir dengan semangat dari sebuah nation. Dalam hal ini negara dengan segala kekuasaan yang melekat dalam dirinya tidak boleh diorganisir dan dijalankan secara feodal, apalagi otoriter. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang setara dalam dan berhubungan dengan negara. Dalam konsep nation, paham warganegara telah mengalami pergeseran dari paham pra nation. Implikasi penting dalam negara bangsa (nation state) tentang hal kewarganegaraan adalah bahwa warga negara memiliki status istimewa sebagai anggota negara yang relasinya dengan negara diatur secara demokratis[7].

Tantangan Identitas Nasional

Indonesia yang sudah diproklamirkan merdeka tanggal 17 Agustus 1945 sebagai negara dianggap sudah final dengan didirikannya 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila yang terdapat dalam alinea 4 UUD 45 sebagai dasar negara, UUD 45, konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinekka Tunggal Ika sebagai credo bangsa yang plural dan multikultural. Namun demikian, persoalan selalu muncul justru dari konsep kebangsaan Indonesia itu sendiri yang sering tumpang tindih dengan konsep etnisitas dan persoalan hubungan antara agama dan negara. Sejauh pengalaman sejarah, persoalan yang harus selalu dihadapi oleh bangsa ini adalah:

Dikotomi Negara dan Bangsa

Bangsa Indonesia didirikan lebih dulu daripada negara Indonesia, oleh karena itu pemikiran Benedict Anderson bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa dimana para individunya tidak pernah dengan jelas bertemu dan ikut merumuskan segala hal yang berkaitan dengan pembentukan bangsa ini dapat dibenarkan. Hal lain yang perlu dijelaskan adalah hubungan antara konsep bangsa persatuan ini dengan suku-suku bangsa dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda.

Sebuah bangsa dengan konsep multikultur dan plural tidak dapat serta merta menjadi sebuah bangsa persatuan. Konsep bangsa Indonesia yang melampaui suku Jawa, Sunda Pesisiran, Batak, Dayak Kenyah, Bugis, Flores Larantuka, Ambon Kei, Papua dan lain sebagainya ini akan menghadapi kesulitan dalam mendefinisikan hal-hal konkrit, misalnya masalah baju nasional. Aceh yang dalam kenyataan durasi penjajahannya lebih pendek dari Jawa mempunyai persoalan ketika harus mengakui pernah dijajah Belanda selama 350 tahun.

Oleh karena itu pembangunan bangsa (nation building) adalah tugas seluruh anak bangsa sepanjang sejarah kehidupan bangsa ini. Rekayasa menyeluruh ini hanya bisa dilakukan oleh negara sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam sebuah wilayah, mengingat besarnya usaha dan dana yang diperlukan untuk itu. Rekayasa ini harus mencakup sedikitnya 75 persen dari total penduduk terdiri dari semua suku bangsa, mengingat apabila ada suku yang tertinggal, akan menjadi pemicu disintegrasi dan usaha-usaha melepaskan diri[8].

Dikotomi Negara dan Agama

Istilah kasarnya, agama-agama yang dianut suku-suku bangsa Indonesia adalah agama-agama yang diimpor oleh agen-agennya untuk disebarkan dan mendapat pengikut sebanyak-banyaknya demi kemaslahatan para pemeluknya. Agama-agama ini masuk jauh sebelum bangsa Indonesia terbentuk, oleh karena itu bangsa yang dirikan setelahnya harus mengadopsi nilai-nilai agama dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantangan yang harus dihadapi justru ketika berusaha menyikapi tuntutan berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar anggota bangsa Indonesia adalah penganut agama Islam, dimana sekelompok kecil penganut agama tersebut berusaha mendasarkan identitas nasional pada agama Islam. Kenyataan bahwa konsep bangsa Indonesia yang majemuk dan multikultur ini sudah bersendikan konsep ketuhanan tanpa mengacu pada agama tertentu harus terus direkayasa agar ketahanan bangsa sebagai sebuah komunitas imajiner dapat dijaga. Karena dalam Pancasila sebagai identitas nasional yang sudah disepakati oleh para pendiri bangsa, sila pertama mendasarkan diri pada konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dan dalam alinea ke 3 Pembukaan UUD 45 dengan jelas disebutkan bahwa negara ini didirikan karena mendapatkan restu dari Tuhan.

Rekayasa raksasa menyatukan berbagai agama dalam sebuah wadah bernama bangsa Indonesia ini juga harus terus menerus dilakukan, karena identitas yang tumpang tindih tersebut harus terus dinegosiasikan dan didialogkan secara terbuka, transparan dan berangkat dari credo Bhineka Tunggal Ika.

Integrasi Nasional

Rekayasa social dan politik skala besar yang bernama nation building yang akan berlangsung terus menerus harus dilaksanakan secara seksama, dan berangkat dari 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Kenyataannya, implementasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak semudah yang dibicarakan. Oleh karena itu Pancasila sebagai kesepakatan pertama didirikannya nation-state NKRI diterjemahkan dalam beberapa pemahaman yang lebih mudah diimplementasikan, yaitu:

Pluralisme dan Multikulturalisme.

Ini adalah cara hidup orang-orang Indonesia yang harus saling menghargai sebagai sesama bangsa Indonesia. Sejarah adanya Indonesia  adalah sejarah kelompok-kelompok yang mau hidup bersama. Dengan menyadari asal keberadaannya sebagai bangsa Indonesia, maka menghargai pluralitas dan bersikap multikultural harus menjadi ciri khas dalam diri bangsa Indonesia.

Kesetaraan

Dengan identitas pluralis dan multikulturalis itu bangunan interaksi dan relasi antara manusia Indonesia akan bersifat setara. Paham kesetaraan akan menandai cara berpikir dan perilaku bangsa Indonesia, apabila setiap orang Indonesia berdiri di atas realitas bangsanya yang plural dan multikultural itu.

Identitas kesetaraan ini tidak akan muncul dan berkembang dalam susunan masyarakat yang didirikan di atas paham dominasi dan kekuasaan satu kelompok terhadap kelompok yang lain. Kesetaraan merupakan identitas nasional Indonesia[9].

Daftar Pustaka

  • Benedict. 1991. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. http://etd.lib.fsu.edu/theses/available/etd-03132003-165536/unrestricted/03JBEBIB.pdf
  • Aryaning A.K.et al. 2004. Modul Pendidikan Kewarganegaraan. Karawaci. UPH Press.
  • Seyla. 2000. Modernism Reluctant of Hannah Arendt. Maryland. Rowman & Littlefield Publishers Inc.
  • Hans. 2008. The Idea of Nationalism, A Study In Its Origins and Background. New Jersey. Transaction Publisher.
  • Ernest. 1882. What Is A Nation?. http://ig.cs.tu-berlin.de/oldstatic/w2001

                /eu1/dokumente/Basistexte/Renan1882EN-Nation.pdf

  • Smith, Anthony. D. 1998. Nationalism and Modernism, A Critical Survey of Recent Theories of Nation and Nationalism. Routledge

[1]  Benhabib.Seyla. 2000. Modernism Reluctant of Hannah Arendt.  Maryland. Rowman & Littlefield Publishers Inc. hal: 210

[2]  Kohn.Hans. 2008. The Idea of Nationalism, A Study In Its Origins and Background. New Jersey Transaction Publisher. hal: 28-39

[3]  Renan.Ernest. 1882. What Is A Nation?.  http://ig.cs.tu-berlin.de/oldstatic/w2001/eu1/dokumente/Basistexte/Renan1882EN-Nation.pdf

[4] Ibid

[5]  Anderson. Benedict. 1991. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism http://etd.lib.fsu.edu/theses/available/etd-03132003-165536/unrestricted/03JBEBIB.pdf, hal: 5-7

[6] Id, hal: 15

[7]  Aryaning A.K.dkk. 2004. Modul Pendidikan Kewarganegaraan. UPH Press. hal:8-15

[8] Smith, Anthony. D. 1998. Nationalism and Modernism, A Critical Survey of Recent Theories of Nation and Nationalism. London. Routledge. hal: 121-130. Menurut Smith, rekayasa sosial dan politik maha besar ini harus dilakukan terus menerus, mengingat lemahnya ikatan antar suku dalam negara-bangsa karena kemajemukannya.

[9] Op.Cit. Aryaning A.K., et al. 2004. Hal: 8-15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *