Identifikasi Risiko ( Risk Identification ) Proyek Konstruksi | Setelah perencanaan manajemen risiko, tahapan selanjutnya adalah melakukan identifikasi risiko. Pada tahapan ini, identifikasi risiko digunakan untuk menggali risiko-risiko yang mungkin dapat mempengaruhi pelaksanaan proyek konstruksi.

Identifikasi risiko menurut Kasidi (2010) adalah kegiatan mengidentifikasi semua risiko usaha yang dihadapi, baik risiko spekulatif maupun risiko yang sifatnya murni. Segala informasi yang berkenaan dengan usaha dikumpulkan kemudian dianalisis.

Sedangkan Santoso (2009) mendefinisikan identifikasi risiko sebagai rangkaian proses pengenalan yang seksama atas risiko dan komponen risiko yang melekat pada suatu aktivitas atau transaksi yang diarahkan kepada proses pengukuran serta pengelolaan risiko yang tepat.

Identifikasi risiko diawali dengan mengenali jenis-jenis risiko yang mungkin akan dihadapi. Disini dilakukan pendifinisian risiko-risiko mana saja yang akan mempengaruhi dan melakukan pendokumentasian karakteristik dari setiap risiko. Kasidi (2010) mengelompokkan risiko secara umum menjadi 2 (dua), yaitu :

Risiko spekulatif (speculative risk) – Adalah risiko yang mengandung dua kemungkinan yaitu kemungkinan yang menguntungkan atau kemungkinan yang merugikan. Biasanya risiko ini berhubungan dengan usaha atau bisnis.

Risiko murni (pure risk) Adalah risiko yang hanya mengandung satu kemungkinan yaitu kemungkinan rugi saja.

Sedangkan menurut Frame (2003), risiko dikelompokkan menjadi :

  1. Risiko murni

Risiko yang hanya mengandung kemungkinan rugi saja.

  1. Risiko bisnis

Risiko yang mempunyai peluang yang sama antara keuntungan dan kerugian.

  1. Risiko Proyek

Proyek biasanya mempunyai banyak risiko. Karena proyek konstruksi bersifat unik, maka banyak sekali variasi risiko yang terjadi pada proyek konstruksi. Risiko yang berkaitan dengan proyek konstruksi biasanya berkaitan dengan estimasi. Estimasi ini terdiri dari estimasi biaya, waktu, mutu dan sumber daya yang diperlukan.

  1. Risiko Operasional

Risiko ini berhubungan dengan kegiatan operasional dalam perusahaan.

  1. Risiko Teknis

Risiko ini bisa tejadi pada pertama kali bekerja. Risiko yang terjadi yaitu tidak memenuhi anggaran, jadwal, atau target spesifikasi. Risiko ini biasa juga dialami oleh pekerja yang berkaitan dengan teknologi tinggi. Hal tersebut terjadi karena adanya perkembangan teknologi yang pesat.

  1. Risiko Politis

Faktor politik mempengaruhi adanya pengambilan keputusan.

Setelah melakukan pendifinisian risiko, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi resiko berdasarkan sumber resiko. Sumber risiko menurut Soeharto (2001) adalah faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian yang bersifat negatif atau posititf.

Sumber risiko menurut Santosa (2009) dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Internal Risk (di bawah kontrol manajer proyek)

Contoh : non-technical risk (manusia, material, finansial), keterlambatan jadwal, risiko teknis, desain.

  • Eksternal Risk (di luar kontrol manajer proyek)

Contoh : peraturan, bencana alam

Metode identifikasi risiko yang umum menurut Santosa (2009) yaitu :

  1. Identifikasi risiko berdasarkan tujuan

Dilakukan identifikasi risiko dari kejadian yang dapat membahayakan tujuan dari proyek.

  1. Identifikasi risiko berdasarkan skenario
  2. Identifikasi risiko berdasarkan taksonomi

Identifikasi risiko yang merupakan breakdown dari sumber risiko.

  1. Common-risk checking

Menampilkan beberapa daftar risiko dari kejadian yang biasa terjadi. Kemudian dilakukan pemilihan sesuai dengan proyek yang akan dikerjakan.

Teknik yang digunakan dalam mengidentifikasi risiko yaitu :

  1. Brainstorming

Brainstorming merupakan identifikasi awal dari semua risiko yang mungkin akan terjadi. Brainstorming ini bertujuan untuk mendata semua kemungkinan risiko yang terjadi. Disini dibuat daftar mengenai semua risiko yang akan terjadi dan mengelompokkan risiko-risiko yang sama. Selain itu juga ditambahkan informasi mengenai masalah-masalah yang terjadi dan cara penanganannya pada proyek yang sama dimasa lalu.

Dalam brainstorming ini, yang perlu terlibat antara lain :

  • Manajer proyek
  • Wakil-wakil daerah
  • Engineers dari berbagai bidang
  • Ahli-ahli dengan pengetahuan khusus.
  1. Interviewing

Dilakukan pada para Stakeholder

  1. Delphi Tecnique

Delphi Tecnique merupakan teknik yang digunakan untuk mendapatkan masukan dari para pakar yang relevan dengan proyek.

Disini ide-ide mengenai risiko yang akan timbul digali dengan menggunakan kuisioner oleh fasilitator. Kemudian para pakar diminta untuk memberikan komentar mengenai hasil rangkuman atas respon yang ada.

Tujuan digunakan delphi tecnique ini adalah :

  1. Untuk mengurangi data yang tidak jelas
  2. Untuk menghindari tanggapan-tanggapan yang kurang sesuai dari para pakar
  1. Checklist

Digunakan untuk menyederhanakan identifikasi risiko.

Checklist mudah digunakan, dan dapat memberikan masukan pada proyek-proyek sejenis yang akan dilaksanakan pada suatu wilayah. Masukan tersebut berasal dari organisasi yang mempunyai pengalaman pada suatu daerah.

Checklist ini dapat berupa RBS (Risk Breakdown Structure). RBS merupakan hirarki katagori sumber risiko yang berpotensi menyebabkan terjadinya resiko. Penyusunan hirarki berdasarkan pengalaman masa lalu.

Setelah dilakukan identifikasi risiko, maka selanjutnya dilakukan analisis risiko. Analisis risiko menurut Santosa (2009) adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan untuk memahami signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu risiko, baik secara individual maupun portofolio, terhadap ringkat kesehatan dan kelangsungan proyek.

Daftar Pustaka

Ervianto,  Wulfram I., (2005), Manajemen Proyek Konstruksi, Andi, Yogyakarta,         hal 11 – 48

Project Management Institute, (2004), A Guide In The Project Management Body of Knowledge – Third Edition PMBOK, Pennsylvania : Project Management Institute, Inc.

Soeharto, Iman, (2001), Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional Jilid 2, Erlangga, Jakarta, hal 366 – 373

Santosa, Budi, (2009), Manajemen Proyek, Graha Ilmu, Yogyakarta, hal 191 – 206

Santoso, Rudy, (2004), Tingkat Kepentingan dan Alokasi Resiko pada Proyek Konstruksi Thesis (Prog. Pasca

Sarjana MTS Manajemen Konstruksi), Universitas Kristen Petra, Surabaya, hal 20 – 40

Frame, J.Davidson, (2003), Managing Risk in Organization-A Guide For Managers, San Fransisco, Jossey Bass-A wiley imprint, page 1 – 50

Kasidi, (2010), Manajemen Resiko, Ghalia Indonesia, Bogor, hal 1 – 50

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *