BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Menurut Badan Pusat Statisitk jumlah angkatan kerja yang menganggur hingga Agustus 2009 mencapai 113,89 juta orang. Bertambah 90.000 orang dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja Februari 2009 sebesar 113,74 juta orang atau bertambah 1,88 juta orang dibandingkan dengan Agustus 2008 sebesar 111,95 juta orang. Jumlah ini diprediksi akan semakin meningkat apabila tidak disediakan lapangan kerja baru. Sementara jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Agustus 2009 mencapai 104,87 juta orang, bertambah 380.000 orang dibandingkan dengan keadaan pada Februari 2009 sebesar 104,49 juta orang atau bertambah 2,32 juta orang dibandingkan dengan Agustus 2008 sebesar 102,55 juta orang (http://www.bps.go.id/?news=733).
Melihat kenyataan di atas maka perlu satu alternatif jitu yang dapat mengurangi jumlah pengangguran di mana alternatif tersebut tidak selalu harus bekerja di perusahaan. Pemikiran harus bekerja di perusahaan dikarenakan beberapa faktor misalnya, pendidikan di Indonesia membentuk peserta didik menjadi karyawan atau bekerja di perusahaan, namun tidak mendidik untuk menjadi pencipta lapangan pekerjaan yang baik. Dalam keluarga, sebagian besar orang tua akan lebih bahagia dan merasa berhasil mendidik anak-anaknya, apabila anak menjadi pegawai pemerintah ataupun karyawan swasta yang jumlah penghasilannya jelas dan kontinyu setiap bulannya (Kasmir, 2006). Hal itu serupa dengan hasil penelitian Scott dan Twomey (dalam Indarti & Rostiani, 2008) faktor seperti pengaruh orang tua dan pengalaman kerja yang akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu usaha dan sikap orang tersebut terhadap keinginannya untuk menjadi karyawan atau wirausaha. Masyarakat Indonesia cenderung lebih percaya diri bekerja pada orang lain dari pada memulai suatu usaha. Selain itu adanya kecenderungan menghindari resiko gagal dan pendapatan yang tidak tetap (Wijaya, 2007).
Hal-hal di atas inilah yang membuat banyak orang takut dan tidak mau untuk berwirausaha apalagi ditambah modal yang terbatas, sehingga mereka cenderung memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun pegawai swasta. Namun pada jaman sekarang ini persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin sulit dan terbatasnya lapangan pekerjaan. Kedua hal tersebut ditambah lagi dengan lulusan yang tidak siap kerja, tidak masuknya standar IPK dan seleksi awal perusahaan (psikotest, wawancara, dan masa training) untuk syarat masuk ke dalam perusahaan-perusahaan yang ada akan meningkatkan jumlah pengangguran setiap tahunnya. Jika melihat kenyataan seperti ini maka berwirausaha merupakan salah satu pilihan yang rasional mengingat sifatnya yang mandiri, sehingga tidak bergantung pada lapangan kerja yang semakin sedikit (Wijaya, 2007).
Salah satu faktor pendukung wirausaha adalah adanya keinginan dan keinginan ini oleh Fishbein dan Ajzen (dalam Wijaya, 2007), disebut sebagai intensi yaitu komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan tingkah laku tertentu. Hal tersebut seperti yang dinyatakan oleh Krueger dan Carsrud (dalam Indarti & Rostiani, 2008), intensi telah terbukti menjadi prediktor yang terbaik bagi perilaku kewirausahaan. Oleh karena itu, intensi dapat dijadikan sebagai pendekatan dasar yang masuk akal untuk memahami siapa-siapa yang akan menjadi wirausaha (Choo dan Wong dalam Indarti & Rostiani, 2008). Penelitian Indarti & Rostiani (2008) menunjukkan tingkat intensi kewirausahaan mahasiswa Indonesia signifikan lebih tinggi dibandingkan mahasiswa Jepang dan Norwegia.
Wirausaha ternyata memiliki banyak keuntungan baik terhadap pelaku wirausaha, orang lain dan negara itu sendiri. Menurut Hendro & Chandra (2006), wirausaha dapat meningkatkan taraf hidup seseorang di masa yang akan datang. Kewirausahaan perlu diupayakan dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, serta meningkatkan kesejahteraan suatu negara. Jika setiap komponen memiliki kemampuan kewirausahaan yang baik maka dapat menghasilkan efek domino bagi transformasi ekonomi sosial (Ciputra dan Ciputra Enterpreneurship Centre dalam Kurniawan, 2009). McClelland (dalam Wijaya, 2008) juga mengungkapkan suatu negara akan maju jika terdapat wirausaha sedikitnya sebanyak 2% dari jumlah penduduk. Menurut laporan yang dilansir Global Entrepreneurship Monitor, pada tahun 2005, Negara Singapura memiliki Wirausaha sebanyak 7,2% dari jumlah penduduk. Sedangkan Indonesia hanya memiliki wirausaha 0,18% dari jumlah penduduk. Tidak heran jika pendapatan perkapita Singapura puluhan kali lebih tinggi dari Indonesia.
Secara garis besar penelitian seputar intensi kewirausahaan dilakukan dengan melihat tiga hal secara berbeda-beda: karakteristik kepribadian; karakteristik demografis; dan karakteristik lingkungan. Beberapa peneliti terdahulu membuktikan bahwa faktor kepribadian seperti kebutuhan akan prestasi (McClelland, Sengupta dan Debnath dalam Indarti & Rostiani, 2008) dan self efficacy (Gilles dan Rea dalam Indarti & Rostiani, 2008) merupakan prediktor signifikan intensi kewirausahaan. Kristiansen (dalam Indarti & Rostiani, 2008) menyebut bahwa faktor lingkungan seperti hubungan sosial, infrastruktur fisik dan institusional serta faktor budaya dapat mempengaruhi intensi kewirausahaan. Faktor demografi seperti umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja seseorang diperhitungkan sebagai penentu bagi intensi kewirausahaan.
Menurut Sadino (dalam Hamdani, 2010) di sebuah forum mahasiswa Universitas Indonesia pernah mengatakan, “Siapa yang ingin menjadi wirausaha, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali kesini lagi.” “Kalo mau jadi wirausaha mulailah dari sekarang. Jangan berencana mulai setelah lulus kuliah. Apalagi, kalau Anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai. “
Menurut peneliti sendiri jika melihat dari fenomena yang ada, memang benar yang di katakan Sadino (dalam Hamdani, 2010) dimana mereka yang memiliki indeks prestasi tinggi akan sangat cenderung untuk bekerja di perusahaan ternama dan mereka yang memiliki indeks prestasi yang rendah sehingga tidak masuknya standart IPK dan tidak siap kerja cenderung pada akhirnya untuk berwirausaha, namun hal ini bukanlah karena intensi wirausaha yang ada, namun dikarenakan desakan situasional.
Dalam masalah ini tinggi rendahnya prestasi tinggi pada saat kuliah juga dipengaruhi oleh academic self-efficacy yang dimiliki setiap mahasiswa di mana tentunya berpengaruh terhadap prestasi belajar. Academic self-efficacy menunjuk pada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa mereka dapat berhasil dalam mencapai prestasi pada bidang akademik atau mencapai specific academic goal (Bandura; Eccles & Wigfield; Elias & Loomis; Gresham; Linnenbrink & Pintrich; Schunk & Pajares dalam McGrew, 2008).
Academic self-efficacy berdasar pada self-efficacy Bandura (dalam Golightly, 2007). Miner menyatakan (Luthans dalam Riyanti, 2007) bahwa individu yang memiliki high self-efficacy memiliki harapan-harapan yang kuat mengenai kemampuan diri untuk menunjukkan prestasi secara sukses dalam situasi yang sama sekali baru. Hal baru menurut Miner (Luthans dalam Riyanti, 2007) tersebut peneliti hubungkan dengan wirausaha, di mana mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW selama menempuh pendidikan di bangku kuliah tentunya memiliki academic self-efficacy yaitu dalam pendidikan psikologi dan mendapati bidang baru yaitu wirausaha.
Karena melihat fenomena yang ada, pentingnya wirausaha, serta latar belakang pendidikan S1 Psikologi terhadap intensi berwirausaha, peneliti tertarik untuk melihat apakah ada hubungan yang positif antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW.

Masalah Penelitian
Apakah terdapat adanya hubungan yang positif dan signifikan antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW?

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang dilakukan peneliti adalah untuk mengetahui adanya hubungan yang positif dan signifikan antara academic self-sfficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW.

Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pengetahuan dan bahan referensi penelitian yang akan datang, khususnya dalam bidang Psikologi Wirausaha mengenai pentingnya wirausaha.

Manfaat Praktis
Bagi Fakultas Psikologi UKSW (Staff Pengajar) menjadi masukan dan umpan balik:
Dapat melihat academic self-efficacy mahasiswa Fakultas psikologi secara umum dan dapat menangani dengan bijak.
Dengan mengetahui adanya intensi wirausaha pada mahasiswa Psikologi sehingga lebih memperhatikan pentingnya wirausaha, sehingga Psikologi Wirausaha lebih diperhatikan terutama dalam memotivasi, pengajaran, dan pengaplikasian pada mahasiswa agar tidak takut berwirausaha.
Untuk mengembangkan program pendidikan yang tepat terutama dalam bidang Psikologi Wirausaha dalam mendorong semangat kewirausahaan mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW.

Bagi Mahasiswa Psikologi:
UKSW menjadi pengetahuan tentang pentingnya wirausaha sehingga dapat menjadi masukan dan motivasi agar tidak takut dan mau untuk berwirausaha
Agar lebih berusaha keras dan bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan di bangku kuliah, sehingga mendapatkan prestasi akademik yang baik, mengingat persaingan dunia kerja yang sangat ketat.

BAB II
LANDASAN TEORI

Intensi Wirausaha
Pengertian Intesi Wirausaha
Bandura (dalam Wijaya, 2007) menyatakan bahwa intensi merupakan suatu kebulatan tekad untuk melakukan aktivitas tertentu atau menghasilkan suatu keadaan tertentu di masa depan. Intensi menurutnya adalah bagian vital dari self regulation individu yang dilatarbelakangi oleh motivasi seseorang untuk bertindak.
Intensi menurut Fishbein & Ajzen (dalam Wijaya, 2007) merupakan komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan tingkah laku tertentu. Intensi didefinisikan sebagai dimensi probabilitas subjektif individu dalam kaitan antara diri dan perilaku.
Sukardi (dalam Riyanti, 2007) menyatakan wirausaha adalah seseorang yang dapat memanfaatkan, mengatur, mengarahkan, sumberdaya, tenaga kerja, alat produksi, untuk menciptakan sesuatu prodak tertentu, di mana produk untuk meciptakan sesuatu dijual dalam penghasilan untuk kelangsungan hidupnya.
Pekerti (dalam Wijaya, 2007) menjelaskan bahwa wirausaha adalah individu yang mendirikan, mengelola, mengembangkan dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri dan individu yang dapat menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya.
Intensi wirausahaan dapat diartikan sebagai proses pencarian informasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembentukan suatu usaha (Katz dan Gartner dalam Indarti & Rostiani, 2008). Seseorang dengan intensi untuk memulai usaha akan memiliki kesiapan dan kemajuan yang lebih baik dalam usaha yang dijalankan dibandingkan seseorang tanpa intensi untuk memulai usaha.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa intensi wirausahaan adalah suatu kebulatan tekat atau keinginan untuk mendirikan, mengelola, mengembangkan sumber daya, tenaga kerja, alat produksi, untuk menciptakan suatu produk tertentu, dimana produk itu dijual untuk kelangsungan hidupnya. Dari situ juga individu yang menjalankan dapat menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Aspek-aspek Intensi Wirausaha
Aspek intensi merupakan aspek-aspek yang mendorong niat individu berperilaku seperti keyakinan dan pengendalian diri. Terbentuknya perilaku dapat diterangkan dengan teori tindakan beralasan yang mengasumsikan manusia selalu mempunyai tujuan dalam berperilaku (Fisbein & Ajzen dalam Riyanti, 2007). Dalam teorinya mengenai intensi, Shapero & Sokol (dalam Riyanti, 2007) mengadaptasi teori Planned behavior dari Fishbein & Ajzen (dalam Riyanti, 2007) dan mengaplikasikan secara khusus dalam dunia wirausaha menjadi teori entrepreneurial event. Dimana menurut Shapero & Sokol entrepreneurial event memiliki tiga dimensi:
Perceived desirability adalah bias personal seseorang yang memandang penciptaan usaha baru sebagai sesuatu yang menarik dan diinginkan. Bias ini tumbuh dari pandangan atas konsekuensi personal pengalaman kewirausahaan (misalnya baik atau buruk), dan tingkat dukungan dari lingkungan (keluarga, teman, kerabat, sejawat, dsb.) Variabel ini merefleksikan afeksi individu terhadap kewirausahaan.
Perceived feasibility, elemen ini menunjukkan derajat kepercayaan di mana seseorang memandang dirinya mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan sumber daya-sumber daya (manusia, sosial, finansial) untuk membangun usaha baru.
Propensity to act menunjukkan dorongan dalam diri seseorang untuk bertingkah laku dan intensitasnya sangat bervariasi bagi tiap individu. Determinan ini tidak hanya mempunyai pengaruh langsung terhadap intensi tetapi juga mempunyai pengaruh tidak langsung. Ketika propensity to act individu rendah, intensi untuk berwirausaha mempunyai kemungkinan yang kecil untuk berkembang, dan perceived desirability menjadi prediktor satu-satunya intensi. Tetapi, jika propensity to act individu tinggi, kuantitas pengalaman berwirausaha sebelumnya sebagai tambahan pada perceived feasibility dan desirability secara langsung mempengaruhi intensi (Krueger dalam Riyanti, 2007).

Berdasarkan dari teori di atas maka peneiliti menyimpulkan aspek intensi wirausaha merupakan hal yang penting untuk memulai suatu usaha atau suatu perilaku yang bertujuan (berwirausaha). Ada tiga dimensi intensi wirausaha yaitu pandangan bahwa wirausaha itu menyenangkan dan sesuatu yang menarik dan diinginkan di mana hal tersebut berdasarkan pada pengalaman kewirausahaan dan tingkat dukungan dari lingkungan sosial. Kemudian adalah kepercaan diri individu terhadap kemampuan mengumpulkan sumber daya yang ada untuk berwirausaha. Kemudian yang terakhir sangat penting yaitu dorongan dalam diri individu untuk berwirausaha dan hal ini memberika pengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Ketika dorongan ini rendah maka intensi wirausaha menjadi rendah, dan kepercayaan diri individu terhadap dimensi kemampuan mengumpulkan sumber-sumber wirausaha menjadi dimensi satu-satunya. Namun jika dorongan ini besar maka secara langsung mempengaruhi dua dimensi sebelumnya.

Faktor-faktor Penentu Intensi Kewirausahaan
Faktor-faktor penentu intensi kewirausahaan dengan menggabungkan tiga pendekatan (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008), yaitu 1) faktor kepribadian: kebutuhan akan prestasi dan self-efficacy; 2) faktor lingkungan yang dilihat dari tiga elemen konstektual: askes kepada modal, informasi dan jaringan sosial; 3) faktor demografis: jender, umur, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja. :

Faktor kepribadian
Dalam faktor kepribadian dibagi menjadi dua, yaitu need of achievement dan self efficacy:
Kebutuhan akan prestasi
McClelland (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) telah memperkenalkan konsep kebutuhan akan prestasi sebagai salah satu motif psikologis. Lee mengungkapkan (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) kebutuhan akan prestasi dapat diartikan sebagai suatu kesatuan watak yang memotivasi seseorang untuk menghadapi tantangan untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan. Lebih lanjut, McClelland (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menegaskan bahwa kebutuhan akan prestasi sebagai salah satu karakteristik kepribadian seseorang yang akan mendorong seseorang untuk memiliki intensi kewirausahaan.
Menurutnya, ada tiga atribut yang melekat pada seseorang yang mempunyai kebutuhan akan prestasi yang tinggi, yaitu:
Menyukai tanggung jawab pribadi dalam mengambil keputusan;
Mau mengambil resiko sesuai dengan kemampuannya;
Memiliki minat untuk selalu belajar dari keputusan yang telah diambil.

Hasil penelitian dari Scapinello (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menunjukkan bahwa seseorang dengan tingkat kebutuhan akan prestasi yang tinggi kurang dapat menerima kegagalan daripada mereka dengan kebutuhan akan prestasi rendah. Dengan kata lain, kebutuhan akan prestasi berpengaruh pada atribut kesuksesan dan kegagalan. Sejalan dengan hal tersebut, Sengupta dan Debnath (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) dalam penelitiannya di India menemukan bahwa kebutuhan akan prestasi berpengaruh besar dalam tingkat kesuksesan seorang wirausaha. Lebih spesifik, kebutuhan akan prestasi juga dapat mendorong kemampuan pengambilan keputusan dan kecenderungan untuk mengambil resiko seorang wirausaha. Semakin tinggi kebutuhan akan prestasi seorang wirausaha, semakin banyak keputusan tepat yang akan diambil. Wirausaha dengan kebutuhan akan prestasi tinggi adalah pengambil resiko yang moderat dan menyukai hal-hal yang menyediakan balikan yang tepat dan cepat.

Self-efficacy
Bandura (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) mendefinisikan efikasi diri sebagai kepercayaan seseorang atas kemampuan dirinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Atau dengan kata lain, kondisi motivasi seseorang yang lebih didasarkan pada apa yang mereka percaya daripada apa yang secara objektif benar. Persepsi pribadi seperti ini memegang peranan penting dalam pengembangan intensi seseorang. Senada dengan hal tersebut, Cromie (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menjelaskan bahwa efikasi diri mempengaruhi kepercayaan seseorang pada tercapai atau tidaknya tujuan yang sudah ditetapkan.
Lebih rinci, Bandura (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menjelaskan empat cara untuk mencapai efikasi diri, yaitu:
Pengalaman sukses yang terjadi berulang-ulang. Cara ini dipandang sebagai cara yang sangat efektif untuk mengembangkan rasa yang kuat pada efikasi diri.
Pembelajaran melalui pengamatan secara langsung. Dengan cara ini, seseorang akan memperkirakan keahlian dan perilaku yang relevan untuk dijadikan contoh dalam mengerjakan sebuah tugas. Penilaian atas keahlian yang dimilikinya juga dilakukan, untuk mengetahui besar usaha yang harus dikeluarkan dalam rangka mencapai keahlian yang dibutuhkan.
Persuasi sosial seperti diskusi yang persuasif dan balikan kinerja yang spesifik. Dengan metode ini, memungkinkan untuk menyajikan informasi terkait dengan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Penilaian terhadap status psikologis yang dimiliki. Hal ini berarti bahwa seseorang sudah seharusnya meningkatkan kemampuan emosional dan fisik serta mengurangi tingkat stress. Di sisi lain, banyak peneliti percaya bahwa efikasi diri terkait erat dengan pengembangan karir. Merujuk Betz dan Hacket (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008), efikasi diri akan karir seseorang adalah domain yang menggambarkan pendapat pribadi seseorang dalam hubungannya dengan proses pemilihan dan penyesuaian karir. Dengan demikian, efikasi diri akan karir seseorang dapat menjadi faktor penting dalam penentuan apakah intensi kewirausahaan seseorang sudah terbentuk pada tahapan awal seseorang memulai karirnya.

Lebih lanjut, Betz dan Hacket (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat efikasi diri seseorang pada kewirausahaan di masa-masa awal seseorang dalam berkarir, semakin kuat intensi kewirausahaan yang dimilikinya. Selain itu, Gilles dan Rea (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) membuktikan pentingnya efikasi diri dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan karir seseorang. Efikasi diri terbukti signifikan menjadi penentu intensi seseorang.

Faktor Lingkungan
Tiga faktor lingkungan yang dipercaya mempengaruhi wirausaha yaitu akses mereka kepada modal, informasi dan kualitas jaringan sosial yang dimiliki, yang kemudian disebut kesiapan instrumen (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008).

Akses kepada modal
Jelas, akses kepada modal merupakan hambatan klasik terutama dalam memulai usaha-usaha baru, setidaknya terjadi di negara-negara berkembang dengan dukungan lembaga-lembaga penyedia keuangan yang tidak begitu kuat (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008). Studi empiris terdahulu menyebutkan bahwa kesulitan dalam mendapatkan akses modal, skema kredit dan kendala sistem keuangan dipandang sebagai hambatan utama dalam kesuksesan usaha menurut calon-calon wirausaha di negara-negara berkembang (Marsden; Meier dan Pilgrim; Steel; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008).
Di negara-negara maju di mana infrastruktur keuangan sangat efisien, akses kepada modal juga dipersepsikan sebagai hambatan untuk menjadi pilihan wirausaha karena tingginya hambatan masuk untuk mendapatkan modal yang besar terhadap rasio tenaga kerja di banyak industri yang ada. Penelitian relatif baru menyebutkan bahwa akses kepada modal menjadi salah satu penentu kesuksesan suatu usaha (Kristiansen et al.; Indarti; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008).

2.2. Ketersediaan informasi
Ketersediaan informasi usaha merupakan faktor penting yang mendorong keinginan seseorang untuk membuka usaha baru (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) dan faktor kritikal bagi pertumbuhan dan keberlangsungan usaha (Duh; Kristiansen; Mead & Liedholm; Swierczek dan Ha; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Singh dan Krishna (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) di India membuktikan bahwa keinginan yang kuat untuk memperoleh informasi adalah salah satu karakter utama seorang wirausaha.
Pencarian informasi mengacu pada frekuensi kontak yang dibuat oleh seseorang dengan berbagai sumber informasi. Hasil dari aktivitas tersebut sering tergantung pada ketersediaan informasi, baik melalui usaha sendiri atau sebagai bagian dari sumber daya sosial dan jaringan. Ketersediaan informasi baru akan tergantung pada karakteristik seseorang, seperti tingkat pendidikan dan kualitas infrastruktur, meliputi cakupan media dan sistem telekomunikasi (Kristiansen; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008).

Jaringan sosial
Mazzarol et al. (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menyebutkan bahwa jaringan sosial mempengaruhi intense kewirausahaan. Jaringan sosial didefinisikan sebagai hubungan antara dua orang yang mencakup komunikasi atau penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain, pertukaran barang dan jasa dari dua belah pihak; dan muatan normatif atau ekspektasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain karena karakter-karakter atau atribut khusus yang ada.
Bagi wirausaha, jaringan merupakan alat mengurangi resiko dan biaya transaksi serta memperbaiki akses terhadap ide-ide bisnis, informasi dan modal (Aldrich dan Zimmer; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008). Hal senada diungkap oleh Kristiansen (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) yang menjelaskan bahwa jaringan sosial terdiri dari hubungan formal dan informal antara pelaku utama dan pendukung dalam satu lingkaran terkait dan menggambarkan jalur bagi wirausaha untuk mendapatkan akses kepada sumber daya yang diperlukan dalam pendirian, perkembangan dan kesuksesan usaha.

Faktor demografis (jender, umur, latar belakang pendidikan dan pengalaman bekerja) berpengaruh terhadap keinginannya untuk menjadi seorang wirausaha (Mazzarol et al.; Tkachev dan Kolvereid; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008).
Jender
Pengaruh jender atau jenis kelamin terhadap intensi seseorang menjadi wirausaha telah banyak diteliti (Mazzarol et al.; Kolvereid; Matthews dan Moser; Schiller dan Crewson; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008). Seperti yang sudah diduga, bahwa mahasiswa laki-laki memiliki intensi yang lebih kuat dibandingkan mahasiswa perempuan. Secara umum, sektor wiraswasta adalah sektor yang didominasi oleh kaum laki-laki. Mazzarol et al., (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) membuktikan bahwa perempuan cenderung kurang menyukai untuk membuka usaha baru dibandingkan kaum laki-laki. Temuan serupa juga disampaikan oleh Kolvereid (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008), laki-laki terbukti mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Penelitian yang dilakukan oleh Matthews dan Moser (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) pada lulusan master di Amerika dengan menggunakan studi longitudinal menemukan bahwa minat laki-laki untuk berwirausaha konsisten dibandingkan minat perempuan yang berubah menurut waktu. Schiller dan Crawson (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menemukan adanya perbedaan yang signifikan dalam hal kesuksesan usaha dan kesuksesan dalam berwirausaha antara perempuan dan laki-laki.

Umur
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sinha (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) di India, menunjukkan bahwa hampir sebagian besar wirausaha yang sukses adalah mereka yang berusia relatif muda. Hal ini senada dengan Reynolds et al., (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) yang menyatakan bahwa seseorang berusia 25-44 tahun adalah usia-usia paling aktif untuk berwirausaha di negara-negara barat. Hasil penelitian terbaru terhadap wirausaha warnet di Indonesia membuktikan bahwa usia wirausaha berkorelasi signifikan terhadap kesuksesan usaha yang dijalankan (Kristiansen et al.; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008). Senada dengan hal itu, Dalton dan Holloway (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) membuktikan bahwa banyak calon wirausaha yang telah mendapat tanggung jawab besar pada saat berusia muda, bahkan layaknya seperti menjalankan usaha baru.

Latar Belakang Pendidikan
Latar belakang pendidikan seseorang terutama yang terkait dengan bidang usaha, seperti bisnis dan manajemen atau ekonomi dipercaya akan mempengaruhi keinginan dan minatnya untuk memulai usaha baru di masa mendatang. Sebuah studi dari India membuktikan bahwa latar belakang pendidikan menjadi salah satu penentu penting intensi kewirausahaan dan kesuksesan usaha yang dijalankan (Sinha; Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008). Penelitian lain, Lee (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) yang mengkaji perempuan wirausaha menemukan bahwa perempuan berpendidikan universitas mempunyai kebutuhan akan prestasi yang tinggi untuk menjadi wirausaha.

Pengalaman Kerja
Kolvereid (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) menemukan bahwa seseorang yang memiliki pengalaman bekerja mempunyai intensi kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah bekerja sebelumnya. Sebaliknya, secara lebih spesifik, penelitian yang dilakukan oleh Mazzarol et al., (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) membuktikan bahwa seseorang yang pernah bekerja di sektor pemerintahan cenderung kurang sukses untuk memulai usaha.
Namun, Mazzarol et al., (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) tidak menganalisis hubungan antara pengalaman kerja di sektor swasta terhadap intensi kewirausahaan. Scott dan Twomey (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008) meneliti beberapa faktor seperti pengaruh orang tua dan pengalaman kerja yang akan mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu usaha dan sikap orang tersebut terhadap keinginannya untuk menjadi karyawan atau wirausaha.
Lebih lanjut, mereka menyebutkan bahwa jika kondisi lingkungan sosial seseorang pada saat dia berusia muda kondusif untuk kewirausahaan dan seseorang tersebut memiliki pengalaman yang positif terhadap sebuah usaha, maka dapat dipastikan orang tersebut mempunyai gambaran yang baik tentang kewirausahaan.

Tinjauan Tentang Academic Self-efficacy (ASE)
Pengertian Academic Self-efficacy (ASE)
ASE menjelaskan sejauh mana kepercayaan individu dalam memutuskan perilaku yang dibutuhkan untuk mendapatkan kesuksesan secara akademis (Smith; Downs dalam Golightly, 2007). Menurut definisi ini, ASE adalah derajat kepercayaan seseorang untuk dapat memutuskan perilaku akademis yang bertujuan pada kesuksesan akademis.
ASE menjelaskan kepercayaan individu tentang kemampuannya memutuskan perilaku yang ditunjukkan, bukan tentang tindakan sesungguhnya dari perilaku tersebut. Dengan kata lain, ASE menjelaskan kepercayaan akan kemampuan untuk menuntaskan proses dalam bersekolah dengan sukses.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ASE adalah tingkat kepercayaan idividu dalam mencapai kesuksesan dalam bidang akademik. Kepercayaan tersebut memutuskan perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan dalam bidang akademik.

Komponen Academic Self-Efficacy (ASE)
Bandura (dalam Golightly, 2007) menerangkan harapan terhadap efficacy “berasal dari empat prinsip sumber informasi: past sucsses, modeling, verbal persuasion dan emotional arousal. Bandura menyarankan pengukuran terhadap kontribusi dari ke empat komponen tersebut akan membantu menjelaskan self-efficacy secara global dan harapan terhadap hasil terapi.
Past sucsses adalah pengalaman individu terhadap kesuksesan mereka akan melakukan suatu tugas di masa lampau, mereka akan mempercayai keputusan mereka berbuah sukses untuk kasus yang serupa.
Modeling adalah pengalaman individu terhadap individiu lain yang serupa dengan mereka yang berhasil dalam suatu bidang, akan menimbulkan keyakinan bahwa mereka juga mampu dalam bidang tersebut.
Verbal persuasion, adalah komponen yang membangun self-efficacy individu saat mereka mendapatkan pengukuran persuasif dari orang-orang terdekat mereka yang meyakinkan dirinya akan kemampuan mereka menyelesaikan suatu tugas dalam bidang tertentu. Orang-orang terdekat ini dapat merupakan orang tua, anggota keluarga lain atau orang lain yang dekat dengan individu dan memiliki pengaruh terhadap individu
Emotional arousal didefinisikan sebagai tingkat pembangkitan emosi individu ketika mengalami berbagai tingkatan kecemasan. Kesuksesan pemenuhan tugas seringkali tidak terjadi saat individu berada pada level kecemasan tinggi.
Berdasarkan dari teori diatas maka peneliti menyimpulkan empat komponen ASE merupakan hal yang penting dan pasti dimiliki oleh mereka yang mengenyam pendidikan. Kemudian hal ini tergantung dari bagaimana individu menyikapinya.
Self-efficacy secara parsimoni dapat didefinisikan sebagai kemampuan sesorang untuk dapat berhasil dalam menuntaskan tugas. Bandura (dalam Golightly, 2007) pertama kali menyatakan self efficacy sebagai konstruk, yang membantu memahami perilaku dan motivasi. Definisi menurut Bandura adalah “Penilaian individu terhadap kemampuan mereka untuk mengorganisasikan dan memutuskan courses aksi yang dibutuhkan untuk mencapai jenis performa yang diinginkan mereka”. Ia menggaris bawahi pentingnya konstruk ini sebagai berikut “pengharapan efficacy menentukan berapa banyak usaha yang akan dilakukan individu dan berapa lama mereka akan ulet menghadapai rintangan pengalaman aversif”
Bandura (dalam Golightly, 2007) juga mengatakan bahwa self-efficacy berlaku secara umum untuk setiap tindakan dan perilaku manusia di semua bidang di mana. Berbagai studi menunjukkan individu dengan self-efficacy yang kuat pada area tertentu akan memiliki performa yang baik pada bidang tersebut, contohnya adalah career self efficacy (Betz; Betz, Borgen & Harmon dalam Golightly, 2007) dan academic self efficacy (DeWitz & Walsh dalam Golightly, 2007), academic self efficacy dan study skills acquisition (Zytowski & Luzzo dalam Golightly, 2007), math dan science self efficacy (Lapan, Boggs, & Morril dalam Golightly, 2007), job seeking self efficacy (Barlow et al. dalam Golightly, 2007). Bandura sendiri menguji efek dari isi secara spesifik keberfungsian akademik dan self-efficacy (kepercayaan diri seseorang akan kapabilitas mereka untuk sukses dan menyelesaikan tugas-tugas akademik). Penulis memakai referensi ini dalam membangun konstruk mengenai self-efficacy akademik.

Hubungan Academic self-efficay Terhadap Intensi Wirausaha Pada Mahasiswa
Intensi kewirausahaan dapat diartikan sebagai proses pencarian informasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembentukan suatu usaha (Katz dan Gartner dalam Indarti & Rostiani, 2008). Seseorang dengan intensi untuk memulai usaha akan memiliki kesiapan dan kemajuan yang lebih baik dalam usaha yang dijalankan dibandingkan seseorang tanpa intensi untuk memulai usaha. Seperti yang dinyatakan oleh Krueger dan Carsrud (dalam Indarti & Rostiani, 2008), intensi telah terbukti menjadi prediktor yang terbaik bagi perilaku kewirausahaan. Oleh karena itu, intensi dapat dijadikan sebagai pendekatan dasar yang masuk akal untuk memahami siapa-siapa yang akan menjadi wirausaha (Choo dan Wong dalam Indarti & Rostiani, 2008).
Academic self-efficacy menunjuk pada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa mereka dapat berhasil dalam mencapai prestasi pada bidang akademik atau mencapai specific academic goal (Bandura; Eccles & Wigfield; Elias & Loomis; Gresham; Linnenbrink & Pintrich; Schunk & Pajares dalam McGrew, 2008).
Menurut Sadino (dalam Hamdani, 2010) di sebuah forum mahasiswa Universitas Indonesia pernah mengatakan, “Siapa yang ingin menjadi wirausaha, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali ke sini lagi.” “Kalo mau jadi wirausaha mulailah dari sekarang. Jangan berencana mulai setelah lulus kuliah. Apalagi, kalau Anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai. “
Menurut peneliti sendiri jika melihat dari fenomena yang ada memang benar yang di katakan Sadino (dalam Hamdani, 2010) dimana mereka yang memiliki indeks prestasi tinggi akan sangat cenderung untuk bekerja di perusahaan ternama dan mereka yang memiliki indeks prestasi yang rendah sehingga tidak masuknya standart IPK dan tidak siap kerja cenderung pada akhirnya untuk berwirausaha, namun hal ini bukanlah karena intensi wirausaha yang ada, namun dikarenakan desakan situasional.
Academic self-efficacy berdasar pada self-efficacy Bandura (dalam Golightly, 2007). Miner menyatakan (Luthans dalam Riyanti, 2007) bahwa individu yang memiliki high self-efficacy memiliki harapan-harapan yang kuat mengenai kemampuan diri untuk menunjukkan prestasi secara sukses dalam situasi yang sama sekali baru. Hal baru menurut Miner (dalam Luthans dalam Riyanti, 2007) tersebut peneliti hubungkan dengan wirausaha, di mana mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW selama menempuh pendidikan di bangku kuliah tentunya memiliki academic self-efficacy yaitu dalam pendidikan psikologi dan mendapati bidang baru yaitu wirausaha.
Berdasarkan konsep-konsep diatas peneliti menghubungkan mahasiswa yang memiliki academic self-efficacy yang tinggi mempunyai perasaan yang tenang dalam mendapati atau menghadapi tugas yang sulit dibidang akademik dan memiliki keyakinan bahwa mereka akan berhasil dalam mencapai prestasi akademik yang baik. Mahasiswa yang memiliki keyakinan berhasil dibidang akademik, hal tersebut akan membantunya untuk menjadi yakin mencapai keberhasilan dalam melakukan wirausaha sehingga memiliki intensi yang tinggi untuk berwirausaha.
Mahasiswa yang memiliki academic self-efficacy yang rendah menunjukkan perasaan bahwa tugas tersebut lebih sulit dari kenyataan sehingga menciptakan perasaan stress, cemas, dan pemikiran yang dangkal untuk menyelesaikan suatu tugas, sehingga mereka memiliki keyakinan akan gagal dalam mencapai prestasi akademik yang baik. Mahasiswa yang memiliki keyakinan yang rendah dalam mencapai prestasi akademik yang baik hal tersebut akan mempengaruhi keyakinan dalam melakukan wirausaha sehingga memiliki intensi yang rendah untuk berwirausaha.

Hipotesis
Hipotesis Empirik
Berdasarkan pendapat, penelitian dan teori-teori di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW. Semakin tinggi tingkat academic self-efficacy maka semakin tinggi tingkat intensi berwirausaha, sebaliknya semakin rendah tingkat academic self-efficacy maka semakin rendah intensi berwirausaha pada mahasiswa.

Hipotesis Statistik
tidak ada hubungan posotif dan signifikan antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW.
ada hubungan positif dan signifikan antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW.

BAB III
METODE PENELITIAN

Identifikasi Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel utama yang akan diteliti yaitu intensi wirausaha sebagai variabel terikat dan ¬¬academic self-efficacy (ASE) sebagai variabel bebas.

Definisi Operasional Variabel Penelitian
Academic Self-efficacy (ASE)
Academic self-efficacy adalah keyakinan bahwa dirinya mampu melakukan tugas tertentu atau dapat dimaknai dengan keyakinan individu bahwa mereka dapat mengatur, melaksanakan, dan mengatur sikap untuk memecahkan dan menyelesaikan suatu tugas dalam bidang akademik yang mungkin dapat membuat mereka malu dan gagal atau sukses. Pengukuran academic self-efficacy peneliti menggunakan skala yang di adopsi dari skala yang digunakan oleh Golightly (2007), yang menggunakan komponen self-efficacy menurut Bandura (dalam Golightly, 2007) yaitu past success, modeling, verbal persuasion, dan emotional arousal. Past success diukur dengan menggunakan GPA (Grade Point Average) saja. Sedangkan standardized achievement tests (IOWA Tests of Educational Development) sebagai pengukuran masa lalu tidak peneliti gunakan karena alat tes tersebut hanya di keluarkan oleh IOWA University. Modeling diukur dengan The People I Know (untuk mengetahui tingkat paparan terhadap model akademik yang sesuai). Verbal Persuasion diukur dengan menggunakan Career-Related Parental Support Scale-Verbal Encouragement scale (CRPSS-VE), emotional arousal diukur dengan menggunakan My feelings about School (untuk mengetahui tingkat pembangkitan emosi yang berpusat pada sekolah), namun untuk angket yang peneliti gunakan setting sekolah pada item nomor 3, 4, 6, 15, 18, 25, 27 di ubah menjadi seting kuliah dan pada item nomor 26 guru diubah menjadi dosen, karena setting yang digunakan adalah kuliah. Selanjutnya untuk pengolahan data item GPA sebagai dependent variabel akan dikorelasikan dengan aspek The People I Know, CRPSS-VE, My Feelings About School, di mana ketiga aspek tersebut menjadi variabel independent.
Keempat komponen itu setelah diuji oleh Golightly (2007) melalui analisa regresi dapat menjadi prediktor terhadap SIS dan AHS. Hasilnya mengindikasikan GPA, IOWA rangking skor persentil, CRPSS-VE dan my feelings about school merupakan prediktor signifikan terhadap total skor SIS secara regresi. The people I know dan my feeling about school merupakan prediktor yang signifikan terhadap total skor AHS secara regresi.
Jadi dengan kata lain semakin tinggi GPA, IOWA rangking skor persentil, CRPSS-VE dan my feeling about school maka semakin tinggi pula SIS, begitu pula sebaliknya. Semakin tinggi skor yang didapat dari indikator The people I know dan My feeling about school maka semakin tinggi pula AHS, begitu juga sebaliknya. Sehingga semakin tinggi SIS dan AHS maka semakin tinggi pula academic self-efficacy dan begitu juga sebaliknya.

Tabel 3.1
Tabel Alir Academic Self-Efficacy

Intensi wirausaha
Intensi wirausaha adalah komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan tindakan berwirausaha. Intensi wirausaha diukur dengan angket intensi akademik yang dikemukakan oleh aspek-aspek intensi wirausaha yang berdasarkan pada teori intensi oleh Shapero & Sokol (dalam Riyanti, 2007) mengadaptasi teori Planned Behavior dari Fishbein & Ajzen (dalam Riyanti, 2007) dan mengaplikasikan secara khusus dalam dunia wirausaha dengan nama teori Entrepreneurial Event. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi pula intensi wirausaha, semakin rendah skor maka semakin rendah pula intensi wirausaha.

Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang ingin diteliti (Sugiarto, 2003). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana yang sedang dalam proses pembuatan skripsi dengan pertimbangan karena mahasiswa yang sedang mengikuti proses skripsi diperkirakan sudah memiliki gambaran tentang apa yang akan mereka lakukan setelah lulus dan sudah mengetahui gambaran pekerjaan yang akan dijalani.
Berdasarkan data yang diambil dari daftar mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana yang lolos ujian proposal pada tanggal 24 November 2009 – 14 Desember 2010 terdapat jumlah total populasi sebanyak 114 mahasiswa yang terdiri dari angkatan 2004 – 2010.

Sampel
Sampel adalah sebagian dari anggota populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasinya (Sugiarto, 2003). Dalam penelitian ini, teknik sampling yang dipakai adalah perpaduan antara sampel jenuh, yaitu teknik pengambilan sampel yang menggunakan semua anggota populasi.

Tabel 3.2
Tabel Jumlah Populasi dan Sampel
Angkatan Jumlah Mahasiswa Jumlah Sampel
2004 3 3
2005 17 17
2006 56 56
2007 36 36
2008 1 1
2009 – –
2010 (Readmisi) 1 1
Total 114 114

Metode dan Alat Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket berisi skala Likert yang terdiri dari 2 bentuk, yaitu angket academic self-efficacy dan angket intensi wirausaha. Untuk angket academic self efficacy peneliti mengadopsi angket yang digunakan oleh Golightly (2007) dan untuk angket intesi wirausaha peneliti menggunakan angket yang dibuat oleh peneliti sendiri.

Angket academic self efficacy (ASE)
Untuk mengukur ASE, dalam disertasi yang digunakan oleh Golightly (2007) menggunakan teori dari Bandura yang terdiri atas past succes, modeling, verbal persuasion dan emotional arousal.
Kemudian untuk skor The People I Know, CRPSS-VE, My Feelings About School peneliti memodifikasinya menjadi 4 pilihan tanggapan yang diberikan subjek yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Skor tertinggi untuk pernyataan favorable adalah 4 pada pilihan sangat setuju (SS), 3 pada pilihan setuju (S), 2 pada pilihan tidak setuju (TS) dan 1 pada pilihan sangat tidak setuju (STS), sedangkan skor tertinggi untuk pernyataan unfavorable adalah 4 pada pilihan sangat tidak setuju (STS), 3 pada pilihan tidak setuju (TS), 2 untuk pilihan setuju (S) dan 1 untuk pilihan sangat setuju (SS).
Rancangan blue print angket academic self-efficacy adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3
No. ASPEK Alat Ukur Item Proporsi
1 Past success GPA 1 1

No. ASPEK Alat Ukur Item Fav. Proporsi
2 Modeling The People I Know 2
11
20 5
14
22 8
17
24 9
3 Verbal persuasion Career-Related Parental Support Scale-Verbal Encouragement scale (CRPSS-VE) 3
12 6
15 9
18 6
4 Emotional arousal My feelings about School 4
13
21
26 7
16
23
27 10
19
25 11
Total 27

Angket intensi wirausaha
Angket ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu item favorable dan item unfavorable. Item favorable adalah item yang mendukung atau searah dengan variabel dan item favorable adalah item yang tidak searah atau yang tidak mendukung variabel. Angket tersebut memberikan 4 pilihan tanggapan yang diberikan subjek yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Skor tertinggi untuk pernyataan favorable adalah 4 pada pilihan sangat setuju (SS), 3 pada pilihan setuju (S), 2 pada pilihan tidak setuju (TS) dan 1 pada pilihan sangat tidak setuju (STS), sedangkan skor tertinggi untuk pernyataan unfavorable adalah 4 pada pilihan sangat tidak setuju (STS), 3 pada pilihan tidak setuju (TS), 2 untuk pilihan setuju (S) dan 1 untuk pilihan sangat setuju (SS).
Rancangan blue print angket intensi wirausaha adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
No ASPEK Indikator Item Proporsi
Favorable Unfavorable
1. Perceived desirability Wirausaha sebagi sesuatu yang menarik dan di ingikan.

Pengalaman personal terhadap wirausaha (baik atau buruk)

Tingkat dukungan dari lingkungan (keluarga, teman, kerabat, sejawat) 1, 7, 13, 19 4, 10, 16, 22 8
2. Perceived feasibility. Derajat kepercayaan di mana seseorang memandang dirinya mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan sumberdaya-sumberdaya (manusia, sosial, finansial) untuk membangun usaha baru. 5, 11, 17, 21, 23 2, 8, 14, 20, 24 10
3. Propensity to act Dorongan dalam diri seseorang untuk bertingkah laku 3, 9, 15 6, 12, 18 6
Total 24

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
Uji Validitas
Validitas merupakan syarat untuk mengetahui bahwa kita mengukur apa yang hendak kita ukur (Janda, 1997). Pengujian validitas ini dengan menggunakan perhitungan statistik korelasi Product Moment dari Person (Arikunto, 2002). Pengujiannya dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
Rit = Koefisisen korelasi antara butir soal
= Jumlah skor butir total.
= Jumlah skor total
= Jumlah hasil kali
= Jumlah kuadrat skor butir soal
= Jumlah kuadrat skor butir soal
N = Jumlah Subyek

Uji Reliabilitas
Menurut Azwar (2008) reliabilitas adalah indeks yang menunjukan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya dan pada prinsipnya pengukuran itu dapat memberikan hasil pengukuran kembali terhadap subyek yang sama.
Reliabilitas pada penelitian ini diketahui dengan mencari koefisien Alpha Cronbach dari data hasil pengukuran setiap variabel yang digunakan dalam penelitian dengan menggunakan SPSS windows versi 12.00.
Adapun rumus yang digunakan adalah :

Keterangan :
α : Koefisien Alpha Cronbach
N : Jumlah item
: Varians dari seluruh skor (skor total)
: Varians dari setiap item

Adapun standar reliabilitas yang digunakan adalah (Azwar, 2000):
α < 0,7 : Tidak Reliabel
0,7 ≤ α < 0,8 : Cukup
0,8 ≤ α < 0,9 : Baik
0.9 ≤ α ≤ 0,9 : Sangat Reliabel

Teknik Analisa Data
Untuk menganalisis antara Academic Self-Efficacy (ASE) dengan intensi wirausaha, digunakan analisa korelasi. Metode analisa yang digunakan adalah korelasi product moment.
Teknik perhitungan korelasi product moment dari Pearson yang digunakan adalah sebagai berikut (Sugiono, 2006):

Keterangan:
rxy = Koefisisen korelasi antara X dan Y.
x = Skor butir.
y = Skor Total
x2 = Jumlah kuadrat nilai X
y2 = Jumlah kuadrat nilai Y
N = Jumlah Subyek

Perhitungan korelasi dilakukan dengan menggunakan program SPSS 12.0 for windows.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kancah Penelitian
Pelaksanaan dilaksanakan di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana pada tanggal 17 Maret – 5 April 2011. Penelitian ini dilakukan terhadap seluruh populasi dimana terdapat 114 mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW yang lolos ujian proposal pada tanggal 24 November 2009 – 14 Desember 2010 yang terbagi menjadi tujuh angkatan dan dimulai dari mahasiswa angkatan 2004 sebanyak 3 orang, mahasiswa angkatan 2005 sebanyak 17 orang, mahasiswa angkatan 2006 sebanyak 56 orang, mahasiswa angkatan 2007 sebanyak 36 orang, mahasiswa angkatan 2008 sebanyak 1 orang, mahasiswa angkatan 2009 tidak ada yang ujian proposal sehingga dipastikan tidak ada yang mengambil skripsi, mahasiswa angkatan 2010 (readmisi) sebanyak 1 orang. Dasar pertimbangan yang digunakan untuk pengambilan populasi dalam penelitian ini adalah:
Penelitian tentang hubungan academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa belum pernah dilakukan di Fakultas Psikologi UKSW.
Populasi memenuhi syarat untuk dilakukannya penelitian.

Persiapan Penelitian
Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap yang dimulai dari tahap persiapan meliputi pencarian teori dan jurnal tentang penelitian sebelumnya, pembuatan skala kemudian tahap pengumpulan data dan penganalisaan data.
Perijinan Penelitian
Perijinan penelitian agar dapat dilakukannya penelitian ini dengan meminta ijin kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, pada tanggal 16 Maret 2011 Dengan nomor surat 022/PU-F.Psi/III/2011.

Penyusunan Alat Ukur
Alat ukur dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket. Angket yang digunakan ada dua macam, yaitu angket Academic Self-Efficacy dan angket intensi wirausaha. Rincian penyusunan alat ukur peneliti jelaskan sebagai berikut:
Academic self-efficacy (ASE)
Alat ukur academic self-efficacy dengan mengadopsi skala likert dengan item favorable seperti yang digunakan Golightly (2007) dengan menggunakan komponen academic self-efficacy yang berdasar pada teori self-efficacy dari Bandura.
Komponen academic self-efficacy yaitu past success, modeling, verbal persuasion dan Emotional Arousal. Past success diukur dengan menggunakan GPA (Grade Point Average). Modeling diukur dengan The People I Know (untuk mengetahui tingkat paparan terhadap model akademik yang sesuai). Verbal Persuasion diukur dengan menggunakan Career-Related Parental Support Scale-Verbal Encouragement scale (CRPSS-VE), emotional arousal diukur dengan menggunakan My feelings about School (untuk mengetahui tingkat pembangkitan emosi yang berpusat pada sekolah), namun untuk angket yang peneliti gunakan setting sekolah pada item nomor 3, 6, 15, 18, 25, 27 di ubah menjadi seting kuliah dan pada item nomor 26 guru diubah menjadi dosen, karena setting yang digunakan adalah kuliah.
Sebaran item angket Academic Self-Efficacy dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.1
Sebaran Item Angket Academic Self-Efficacy
No. ASPEK Indikator Item Proporsi
1 Past success GPA 1 1

No. ASPEK Indikator Item Fav. Proporsi
2 Modeling The People I Know 2
11
20 5
14
22 8
17
24 9
3 Verbal persuasion Career-Related Parental Support Scale-Verbal Encouragement scale (CRPSS-VE) 3
12 6
15 9
18 6
4 Emotional arousal My feelings about School 4
13
21
26 7
16
23
27 10
19
25 11
Total 27

Intensi Wirausaha
Alat ukur intensi wirausaha berbentuk angket dengan 24 item yang terdiri dari 12 item favorable dan 12 item unfavorable. Item-item tersebut diukur berdasarkan tiga dimensi dasar dari teori Entrepreneurial Event yang dikemukakan oleh Shapero & Sokol (dalam Riyanti, 2007).

Sebaran item intensi wirausaha dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.2
Sebaran Item Angket Intensi Wirausaha
No ASPEK Indikator Item Proporsi
Favorable Unfavorable
1. Perceived desirability Wirausaha sebagi sesuatu yang menarik dan diingikan.

Pengalaman personal terhadap wirausaha (baik atau buruk)

Tingkat dukungan dari lingkungan (keluarga, teman, kerabat, sejawat) 1, 7, 13, 19 4, 10, 16, 22 8
2. Perceived feasibility. Derajat kepercayaan dimana seseorang memandang dirinya mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan sumberdaya-sumberdaya (manusia, sosial, finansial) untuk membangun usaha baru. 5, 11, 17, 21, 23 2, 8, 14, 20, 24 10
3. Propensity to act Dorongan dalam diri seseorang untuk bertingkah laku 3, 9, 15 6, 12, 18 6
Total 24

Uji Coba Alat Ukur
Penulis tidak mengadakan uji coba terhadap alat ukur atau angket yang peneliti telah buat sendiri. Metode yang digunakan peneliti adalah metode try out terpakai. Jadi angket yang pertama kali peneliti bagikan adalah angket yang peneliti gunakan dalam penelitian ini.

Pelaksanaan Penelitian
Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 17 Maret – 5 April 2011, di Universitas Kristen Satya Wacana. Angket ini dibagikan kepada seluruh populasi yang terdapat pada daftar mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana yang lolos ujian proposal pada tanggal 24 November 2009 – 14 Desember 2010 terdapat jumlah total sebanyak 114 mahasiswa yang terdiri dari angkatan 2004 – 2010. Di mana terdapat mahasiswa angkatan 2004 sebanyak 3 orang, mahasiswa angkatan 2005 sebanyak 17 orang, mahasiswa angkatan 2006 sebanyak 56 orang, mahasiswa angkatan 2007 sebanyak 36 orang, mahasiswa angkatan 2008 sebanyak 1 orang, mahasiswa angkatan 2009 tidak ada yang ujian proposal sehingga dipastikan tidak ada yang mengambil skripsi, mahasiswa angkatan 2010 sebanyak 1 orang. Dari 114 angket yang dibagikan, semuanya kembali dan memenuhi syarat untuk diskor dan dianalisis. Selanjutnya penulis member skor pada setiap angket yang terkumpul dan kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya.

Uji Validitas dan Alat Ukur
Uji Validitas Alat Ukur Penelitian
Academic Self-Efficacy (ASE)
Berdasarkan pada perhitungan uji validitas alat ukur Academic Self-Efficacy (The People I Know, CRPSS-VE, My Feelings About Schol) yang terdiri dari 26 item yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows version 12.0 dihasilkan koefisien validitasnya bergerak antara 0.283 sampai dengan 0.647. Koefisien korelasi dikatakan valid, apabila koefisien korelasinya positif ( ) dengan peluang ralat p < 0.05 (Hadi, 2000). Pengujian validitas 26 item dengan menggunakan taraf signifikan 5% diperoleh 26 item valid. Hasil uji validitas self-efficacy selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3
Penentuan Item Valid dan Item Gugur Academic Self-Efficacy (ASE)
No. ASPEK Alat Ukur Item Proporsi
1 Past success GPA 1 1
Keterangan : GPA tidak di lakukan uji validitas
No. ASPEK Alat Ukur Item Fav. Proporsi
2 Modeling The People I Know 2
11
20 5
14
22 8
17
24 9
3 Verbal persuasion Career-Related Parental Support Scale-Verbal Encouragement scale (CRPSS-VE) 3
12 6
15 9
18 6
4 Emotional arousal My feelings about School 4
13
21
26 7
16
23
27 10
19
25 11
Total 26
Keterangan * : item gugur
Total item valid : 26

Intensi Wirausaha
Uji validitas terhadap 24 item dengan menggunakan SPSS for windows version 12.0 dihaslkan item valid dan item gugur. Koefisien validitasnya bergerak antara 0,273 sampai dengan 0.696. koefisien korelasi yang diperoleh dapat dikatakan valid apabila koefisien korelasinya positif ( ) dengan peluang ralat p < 0.05 (Hadi, 2000). Pengujian validitas 24 item dengan menggunakan taraf signifikan 5% diperoleh 21 item valid dan 3 item yang gugur. Hasl uji validitas Intensi Wirausaha selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Penentuan Item Valid dan Item Gugur Intensi Wirausaha No ASPEK Indikator Item Proporsi Favorable Unfavorable 1. Perceived desirability Wirausaha sebagi sesuatu yang menarik dan diingikan. Pengalaman personal terhadap wirausaha (baik atau buruk). Tingkat dukungan dari lingkungan (keluarga, teman, kerabat, sejawat). 1*, 7, 13, 19 4, 10, 16, 22 8 2. Perceived feasibility. Derajat kepercayaan dimana seseorang memandang dirinya mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan sumberdaya-sumberdaya (manusia, sosial, finansial) untuk membangun usaha baru. 5, 11, 17, 21, 23 2, 8, 14, 20, 24 10 3. Propensity to act Dorongan dalam diri seseorang untuk bertingkah laku 3, 9, 15 6, 12*, 18* 6 Total 24 Keterangan * : item gugur Total item valid : 21 Uji Reliabilitas Alat Ukur Penelitian Academic Self-Efficacy (ASE) Setelah masing-masing item Academic Self-Efficacy diuji validitasnya selanjutnya dari item-item yang valid dilakukan pengujian reliabilitasnya dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Hasil pengujian diperoleh reliabilitas angket sebesar 0.870. Hal ini dapat dikatakan bahwa angket Academic Self-Efficacy tersebut reliable dengan katagori baik (Azwar, 2000). Intensi Wirausaha Setelah keseluruhan item intensi wirausaha diuji validitasnya, selanjutnya item-item yang valid dilakukan penngujian reliabilitas dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Hasil pengujian diperoleh reliabilitas intensi wirausaha sebesar 0.873. Hal ini dapat dikatakan bahwa angket intensi wirausaha reliabel dengan katagori baik. Hasil uji reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada lampiran. Uji Asumsi Sebelum melakukan uji hipotesis dengan menggunakan teknik Correlation Product Moment, peneliti terlebih dahulu melakukan uji asumsi dengan menggunakan uji normalitas dan uji liniearilitas. Tujuan dilakukan uji normalitas dan uji liniearilitas adalah sebagai salah satu syarat dilakukannya uji Correlation Product Moment. Melalui uji normalitas, akan diketahui apakah distribusi variabel tersebut normal atau tidak. Uji asumsi dilakukan dengan SPSS versi 12.0. Uji Normalitas Uji normalitas yang digunakan adalah uji one sample Kolmogrof-Smirnov. Berdasarkan uji normalitas terhadap academic self-efficacy, maka dinyatakan bahwa Academic Self-Efficacy memiliki nilai Kolmogrov Smirnov sebesar 1,152 (p > 0,05) berarti data berdistribusi normal.
Pada intensi wirausaha besarnya nilai Kolmogrov Smirnov adalah 1,197 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa Academic Self-Efficacy berhubungan linear dengan intensi wirausaha. Hasil uji linearitas dapat dilihat pada lampiran.
Uji Linearitas
Uji linearitas menggunakan teknik anova menghasilkan F beda sebesar 1,675 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa Academic Self-Efficacy berhubungan linear dengan intensi wirausaha.

Hasil Penelitian
Hasil Analisis Deskriptif
Academic Self-Efficacy
Dari hasil analisa deskriptif menunjukan bahwa variabel Academic Self-Efficacy memiliki nilai mean sebesar 76,9298 dan nilai standart deviasi sebesar 7,96754. Kemudian dilakukan pengkatagorian terhadap skor nilai dan rata-rata academic self-efficacy. Dari 26 item yang digunakan sebagai alat ukur academic self-efficacy, diketahui skor terendah adalah 26 dan skor tertinggi adalah 104 dengan 5 katagori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.
Berikut adalah pengkatagorian tinggi rendahnya atau interval ¬academic self-efficacy:

interval academic self-efficacy=(104-26)/5=15,6

Tabel 4.5
Interval Academic Self-Efficacy (ASE)
Skor Kriteria Frekuensi
(F) Presentase (%) Min. Max. Mean¬
26≤ x<41,6 sangat rendah 0 0 26
41,6≤ x<57,2 rendah 0 0
57,2≤ x <72,8 sedang 28 24,56
72,8≤ x<88,4 tinggi 76 66,66 76,9298
88,4≤ x Jumlah 114 100 SD = 7,96754
x = skor academic self-efficacy

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa 24,56% mahasiswa fakultas psikologi UKSW memiliki tingkat academic self-efficacy yang sedang. 66,66% mahasiswa yang memiliki academic self-efficacy yang tinggi. Kemudian terdapat 8,78% mahasiswa yang memiliki academic self-efficacy yang sangat tinggi. Nilai rata-rata diperoleh sebesar 76,9298 yang termasuk dalam katagori tinggi dalam tingkat academic self-efficacy. Skor minimum adalah 26 dan skor maksimal adalah 104 dengan standar deviasi 7,96754.

Intensi Wirausaha
Dari hasil analisa deskriptif menunjukan bahwa variabel intensi wirausaha memiliki nilai mean sebesar 62,1404 dan nilai standart deviasi sebesar 7,47252. Kemudian dilakukan pengkatagorian terhadap skor nilai dan rata-rata intensi wirausaha. Dari 21 item valid diketahui skor terendah 21 dan skor tertinggi adalah 84 dengan 5 katagori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.
Berikut adalah rumus pengkatagorian tinggi rendahnya atau interval intensi wirausaha:

Interval intensi wirausaha=(skor tertingi-skor terendah)/(jumlah katagori)

interval intensi Wirausaha=(84-21)/5=12,6

Tabel 4.6
Interval Intensi Wirausaha
Skor Kriteria Frekuensi
(F) Presentase (%) Min. Max. Mean¬
21≤ x<33,6 sangat rendah 0 0 21
33,6≤ x<46,2 rendah 1 0,88
46,2≤ x <58,8 sedang 27 23,68
58,8≤ x<71,4 tinggi 72 63,15 62,1404
71,4≤ x Jumlah 114 100 SD = 7,47252
x = skor intensi wirausaha
Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa 1% dari mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW memiliki intensi wirausaha yang rendah dan 23,68% mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW memiliki intensi wirausaha yang sedang. 63,15% mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW memiliki intensi wirausaha yang tinggi. Kemudian 12,28% mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW memiliki intensi wirausaha yang sangat tinggi. Nilai rata-rata yang diperoleh 62,1404 yang termasuk dalam katagori intensi wirausaha tinggi. Skor minimum adalah 21 dan skor maksimal adalah 84 dengan standar deviasi 7,47252.

Uji Analisis Korelasi
Untuk perhitungan digunakan korelasi Pearson Product Momment. Data dihitung dengan menggunakan korelasi Pearson Product Momment karena uji asumsi untuk menghitung dengan korelasi Pearson Product Momment terpenuhi.
Untuk korelasi antara GPA dan The People I Know, CRPSS-VE, My Feelings About School diperoleh nilai korelasi sebesar r = 0,240 (p < 0.05). Hal ini ada hubungan positif dan signifikan antara The People I Know, CRPSS-VE, My Feelings About School dan GPA.
Dari output SPSS terlihat bahwa nilai korelasi antara Academic Self-Efficacy (ASE) adalah r = 0,324 (p < 0.05). Hal ini berarti Ho ditolak dan H1 diterima. Ini berarti ada hubungan positif dan signifikan antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran. Dari hasil analisis korelasi maka diketahui sumbangan efektif dari academic self-efficacy sebanyak 10,5% dari seluruh sumbangan efektif (100%), sementara 89,5% berasal dari faktor lainnya seperti; faktor kepribadian: kebutuhan akan prestasi dan self-efficacy; faktor lingkungan yang dilihat dari tiga elemen konstektual: askes kepada modal, informasi dan jaringan sosial; faktor demografis: jender, umur, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008).

Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil perhitungan korelasi antara academic self-efficacy dan intensi wirausaha dengan menggunakan SPSS version 12.0 for windows dengan pengujian korelasi Pearson Product Moment diperoleh hasil rxy = 0,324 (p < 0.05). Hal ini menunjukkan hubungan positif dan signifikan antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha, maka semakin tinggi tingkat academic self-efficacy¬ maka semakin tinggi tingkat intensi wirausaha.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori self-efficacy Bandura di mana teori tersebut menjadi dasar dari academic self-efficacy. Bandura mengatakan bahwa self-efficacy berlaku secara umum untuk setiap tindakan dan perilaku manusia di semua bidang (dalam Golightly, 2007). Miner menyatakan (Luthans dalam Riyanti, 2007) bahwa individu yang memiliki high self-efficacy memiliki harapan-harapan yang kuat mengenai kemampuan diri untuk menunjukkan prestasi secara sukses dalam situasi yang sama sekali baru. Hal baru menurut Miner (Luthans dalam Riyanti, 2007) tersebut peneliti hubungkan dengan wirausaha, dimana mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW selama menempuh pendidikan di bangku kuliah tentunya memiliki academic self-efficacy yaitu dalam pendidikan psikologi dan mendapati bidang baru yaitu wirausaha.
Sadino (dalam Hamdani 2010) yang mengatakan, “kalau Anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai.” Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan pendapat diatas dimana semakin tinggi academic self-efficacy maka semakin tinggi intensi wirausaha.
Menurut hasil deskriptif academic self-efficacy, nilai rata-rata yang diperoleh dari penelitian ini adalah 76,9298 dengan presentase sebesar 66,66%. Hal ini berarti tingkat rata-rata academic self-efficacy dari 114 mahasiswa Fakultas Psikologi berada dalam katagori tinggi. Dalam hal ini berarti rata-rata mahasiswa Fakultas Psikologi dalam penelitian ini merasa percaya diri memiliki kemampuan dalam penyelesaian tugas untuk mengatur, melaksanakan, dan mengontrol sikap mereka dalam pemecahan masalah akademik (academic problem solving) menunjukan academic self-efficacy yang kurang (McGrew, 2008).
Dalam penelitian ini mendapati 66,66% mahasiswa Fakultas Psikologi yang memiliki tingkat academic self-efficacy yang tinggi. Academic self-efficacy menunjuk pada seseorang yang memiliki keyakinan bahwa mereka dapat berhasil dalam mencapai prestasi pada bidang akademik atau mencapai specific academic goal (Bandura; Eccles & Wigfield; Elias & Loomis; Gresham; Linnenbrink & Pintrich; Schunk & Pajares dalam McGrew, 2008).
Academic self-efficacy berdasar pada self-efficacy Bandura (dalam Golightly, 2007). Di mana self-efficacy dipercayai memiliki pengaruh terhadap pelaksanaan suatu tugas. Self-efficacy yang tinggi menciptakan perasaan tenang ketika mendapati tugas yang sulit, sementara itu self-efficacy yang rendah menunjukkan perasaan bahwa tugas tersebut lebih sulit dari kenyataan sehingga menciptakan perasaan stres, cemas, dan pemikiran yang dangkal untuk menyelesaikan suatu tugas (Eccles dalam McGrew, 2008).
Berdasar tabel deskriptif intensi wirausaha diperoleh nilai rata-rata intensi wirausaha sebesar 62,1404 dengan presentase 63,15% dalam katagori tinggi dan 12,28% dalam katagori sangat tinggi. Adanya intensi wirausaha ini sangat memungkinkan untuk melihat kenyataan perilaku wirausaha di masa yang akan datang. Hal tersebut seperti yang dinyatakan oleh Krueger dan Carsrud (dalam Indarti & Rostiani, 2008), intensi telah terbukti menjadi prediktor yang terbaik bagi perilaku kewirausahaan. Oleh karena itu, intensi dapat dijadikan sebagai pendekatan dasar yang masuk akal untuk memahami siapa-siapa yang akan menjadi wirausaha (Choo dan Wong dalam Indarti & Rostiani, 2008). Karena itulah wirausaha perlu mendapat perhatian khusus dan dapat diwujudkan salah satunya dengan memberikan kosentrasi khusus pada mata kuliah psikologi wirausaha.
Wirausaha perlu diberikan konsentrasi khusus karena wirausaha ternyata memiliki banyak keuntungan baik terhadap pelaku wirausaha, orang lain dan negara itu sendiri. Menurut Hendro & Chandra (2006), wirausaha dapat meningkatkan taraf hidup seseorang di masa yang akan datang. Kewirausahaan perlu diupayakan dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, serta meningkatkan kesejahteraan suatu negara. Jika setiap komponen memiliki kemampuan kewirausahaan yang baik maka dapat menghasilkan efek domino bagi transformasi ekonomi sosial (Ciputra dan Ciputra Enterpreneurship Centre dalam Kurniawan, 2009).
Berdasarkan hasil analisis korelasi, didapatkan sumbangan efektif dari academic self-efficacy terhadap intensi wirausaha sebanyak 10,5% dari seluruh sumbangan efektif (100%), sementara 89,5% berasal dari faktor lainya seperti; faktor kepribadian: kebutuhan akan prestasi dan self-efficacy; faktor lingkungan yang dilihat dari tiga elemen konstektual: askes kepada modal, informasi dan jaringan sosial; faktor demografis: jender, umur, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja (Indarti dalam Indarti & Rostiani, 2008).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa data penelitian, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Ada hubungan positif dan signifikan antara academic self-efficacy dengan intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW. Hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi sebesar r = 0,324 (p < 0.05). Hal ini berarti semakin tinggi academic self-efficacy maka semakin tinggi intensi wirausaha.
Academic self-efficacy menghasilkan nilai rata-rata (mean) sebesar 76,9298 yang termasuk dalam katagori tinggi.
Intensi wirausaha menghasilkan nilai rata-rata (mean) sebesar 62,1404 yang termasuk dalam katagori tinggi.
Sumbangan efektif academic self-efficacy terhadap intensi wirausaha sebesar 10,5%.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka peneliti mengajukan saran bagi beberapa pihak sebagai berikut:
Bagi mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW
Mahasiswa sangat diharapkan memiliki dan mengembangkan academic self-efficacy (ASE) mereka agar dapar mencapai specific academic goal atau dengan kata lain mencapai prestasi dalam bidang akademik.
Dengan adanya intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW, mahasiswa diharapkan agar tidak menadjikanya hanya sebatas intensi saja, namun mau untuk berwirausaha minimal bisa dimulai dengan belajar terlebih dahulu untuk berwirausaha dengan cara mencari tahu informasi jenis usaha yang menjajikan dengan cara bertanya pada orang yang berpengalaman, menonton acara-acara yang mengulas jenis usaha dan mencari informasi usaha lewat internet, teman dan televisi.

Bagi Fakultas Psikologi UKSW
Dari hasil penelitian ini jumlah mahasiswa yang memiliki tingkat academic self-efficacy yang tinggi sebanyak 66,66%, hal ini perlu mendapatkan perhatian dan dukungan positif serta feedback bagi mahasiswa yang memiliki academic self-efficacy yang tinggi untuk meningkatkan keyakinan mereka dalam bidang akademik. Hal ini tentunya sangat bermanfaat untuk kedua belah pihak, yaitu agar mahasiswa Fakultas Psikologi dapat mencapai prestasi akademik yang baik dan Fakultas Psikologi UKSW dapat membantu meningkatkan akreditasi.
Dari hasil penelitian ini jumlah mahasiswa yang memiliki tigkat intensi wirausaha yang sangat tinggi sebanyak 12,28 dan tinggi sebanyak 63,15% serta tingkat intensi wirausaha yang sedang sebanyak 23,68%, tentunya hal ini menunjukan adanya intensi wirausaha pada mahasiswa Fakultas Psikologi sehingga meberikan perhatian lebih dalam bidang Psikologi Wirausaha agar mendorong dan tetap menanam semangat kewirausahaan agar mahasiswa tidak takut dan mau mengaplikasikan di masa mendatang.

Bagi peneliti selanjutnya
Untuk meningkatkan kualitas peneilitan lebih lanjut, khususnya yang berhubungan dengan academic self-efficacy dan intensi wirausaha. Peneliti yang mendatang diharapkan dapat membuat penelitian yang lebih luas, misalnya saja dengan menambah variabel lain yang ikut memberikan sumbangan efektif kepada intensi wirausaha. Selain itu untuk interval GPA agar korelasi semaikin baik sebaiknya menggunakan interval yang lebih kecil, misalkan saja dari start interval GPA 0.5.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. (2000). Reliabilitas dan Validitas. Edisi kelima. Yogjakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Azwar, Saifudin. (2008). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Golightly. (2007). DEFINING THE COMPONENTS OF ACADEMIC SELF-EFFICACY IN NAVAJO AMERICAN INDIAN HIGH SCHOOL STUDENTS. Department of Counseling Psychology and Special Education Brigham Young University (http://contentdm.lib.byu.edu/ETD/image/etd1592.pdf).

Hamdani. (2010). Entrepreneurship Kiat Melihat & Memberdayakan Potensi Bisnis. Star Books. Yogyakarta.

Hendro, Chandra. (2006). Be a Smart and Good Enterpreneur. Argo Media Pustaka. Jakarta Barat.

Indarti, Rostiani. (2008). Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia, Jepang dan Norwegia. Jurnal Ekonomika dan Bisnis Indonesia, Vol. 23, No. 4, Oktober 2008. (http://nurulindarti.files.wordpress.com/2009/03/indarti-rostiani-jebi-2008.pdf).

Janda, L. (1997). Psychological Testing: Theory and Application. Massachusetss : Allyn & Bacon.

Kasmir. (2006). Kewirausahaan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Kuriawan Ellya. (2009). Perbedaan Karakter Wirausaha Remaja Ditinjau Dari Pola Asuh Orang Tua. Proceeding Temu Ilmiah Nasional: Presentasi Makalah / Poster Towards The Health Of Mind, Body, and Soul and Workshop Souldrama. Fakultas Psikologi UKSW. Salatiga.

McGrew. (2008). Academic Self-Efficacy: Definition and Conceptual Background. (http://www.iapsych.com/acmcewok/Academicself-efficacy.html)

Riyanti, (2007). Metode Experiential Learning Berbasis Pada Peningkatan Rasa Diri Mampu, Kreatif & Berani Beresiko dalam Mata Pelajaran Kewirausahaan untuk SMK. Jurnal Fakultas Psikologi Unika Atmajaya Jakarta. Jakarta (http://puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_peserta/47_Benedicta%20Prihatin%20Dwi%20Riyanti_Metode%20experiential%20Learning%20Pelajaran%20Kewirausahaan.pdf)

Sugiarto. (2003). Teknik Sampling. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sugiyono.(2006). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Wijaya. (2007). Hubungan Adversity Intelligence dengan Intensi Berwirausaha (Studi Empiris pada Siswa SMKN 7 Yogyakarta). JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, VOL.10, NO. 2, SEPTEMBER 2008: 93-104. (http://directory.umm.ac.id/Wirausaha/MAN07090204.pdf)

Wijaya. (2008). Kajian Model Empiris Perilaku Berwirausaha UKM DIY dan Jawa Tengah. JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN, VOL.10, NO. 2, SEPTEMBER 2008: 93-104. (http://www.google.co.id/search?q=4.%09Kajian+Model+Empiris+Perilaku+Berwirausaha+UKM+DIY+dan+Jawa+Tengah&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a).

http://www.bps.go.id/?news=733

http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/12/01/brk,20101201-295916,id.html

LAMPIRAN

LAMPIRAN A
ANGKET ACADEMIC SELF-EFFICACY &
INTENSI WIRAUSAHA

LAMPIRAN B
DATA MENTAH

LAMPIRAN C
UJI VALIDITAS & RELIABILITAS
ANGKET ACADEMIC SELF-EFFICACY (ASE)

Reliability

Case Processing Summary

N %
Cases Valid 114 100.0
Excluded(a) 0 .0
Total 114 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Standardized Items N of Items
.870 .871 26

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Squared Multiple Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
item2 73.6842 60.236 .328 . .868
item3 74.5175 59.349 .329 . .869
item4 73.9211 60.480 .322 . .868
item5 73.7719 60.142 .363 . .867
item6 73.7018 59.379 .408 . .866
item7 74.1053 58.502 .433 . .865
item8 73.7368 59.435 .314 . .869
item9 73.5877 60.174 .369 . .867
item10 73.8947 58.148 .550 . .862
item11 73.7895 60.044 .336 . .868
item12 73.8684 56.770 .494 . .864
item13 74.5789 58.918 .377 . .867
item14 73.8333 59.945 .336 . .868
item15 73.4298 60.654 .283 . .869
item16 74.1140 56.615 .634 . .859
item17 74.0877 59.178 .401 . .866
item18 73.9123 58.116 .474 . .864
item19 73.9035 59.221 .398 . .866
item20 74.3421 59.254 .413 . .866
item21 74.3421 58.386 .471 . .864
item22 73.8509 60.924 .359 . .867
item23 74.4298 58.265 .447 . .865
item24 73.9123 59.231 .545 . .863
item25 73.6930 59.418 .426 . .866
item26 74.1579 57.019 .528 . .862
item27 74.0789 56.126 .647 . .858

LAMPIRAN D
UJI VALIDITAS & RELIABILITAS
INTENSI WIRAUSAHA

Reliability 1 Angket Intensi Wirausaha

Case Processing Summary

N %
Cases Valid 114 100.0
Excluded(a) 0 .0
Total 114 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Standardized Items N of Items
.834 .843 24

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Squared Multiple Correlation Cronbach’s Alpha if Item Deleted
item1 67.0000 55.540 -.066 . .847
item2 66.4561 49.277 .526 . .822
item3 66.2807 49.425 .525 . .822
item4 66.4123 52.581 .278 . .832
item5 66.1491 51.562 .350 . .829
item6 66.3509 50.672 .440 . .826
item7 66.5877 51.713 .297 . .832
item8 67.0789 51.985 .265 . .833
item9 66.1140 48.863 .595 . .819
item10 66.3333 51.286 .415 . .827
item11 66.5175 52.075 .337 . .830
item12 66.9298 54.597 .020 . .843
item13 66.3596 49.117 .566 . .820
item14 66.3070 50.816 .466 . .825
item15 66.6053 49.480 .548 . .821
item16 66.3246 51.212 .522 . .824
item17 66.4123 50.138 .542 . .822
item18 66.9825 55.504 -.062 . .847
item19 66.1667 50.724 .496 . .824
item20 66.4474 51.825 .273 . .833
item21 66.4123 50.156 .540 . .822
item22 66.4298 49.504 .651 . .819
item23 66.6667 49.959 .489 . .824
item24 66.5526 51.276 .394 . .828

Reliability 2 Angket Intensi Wirausaha

Case Processing Summary

N %
Cases Valid 114 100.0
Excluded(a) 0 .0
Total 114 100.0
a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Standardized Items N of Items
.873 .875 21

Item Statistics

Mean Std. Deviation N
item1 2.9298 .74927 114
item2 3.1053 .73314 114
item3 2.9737 .60178 114
item4 3.2368 .66920 114
item5 3.0351 .67745 114
item6 2.7982 .73086 114
item7 2.3070 .74224 114
item8 3.2719 .71994 114
item9 3.0526 .62176 114
item10 2.8684 .60255 114
item11 3.0263 .72210 114
item12 3.0789 .62605 114
item13 2.7807 .70093 114
item14 3.0614 .52013 114
item15 2.9737 .63050 114
item16 3.2193 .60615 114
item17 2.9386 .75592 114
item18 2.9737 .63050 114
item19 2.9561 .60074 114
item20 2.7193 .71034 114
item21 2.8333 .65062 114
LAMPIRAN E
UJI ASUMSI PENELITIAN
Uji Normalitas Tes
NPar Tests
Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
ASE 114 76.9298 7.96754 59.00 104.00
wirausaha 114 62.1404 7.47252 41.00 80.00

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

ASE wirausaha
N 114 114
Normal Parameters(a,b) Mean 76.9298 62.1404
Std. Deviation 7.96754 7.47252
Most Extreme Differences Absolute .108 .112
Positive .108 .112
Negative -.065 -.098
Kolmogorov-Smirnov Z 1.152 1.197
Asymp. Sig. (2-tailed) .141 .114
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.

Uji Linearitas
ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.
wirausaha * ASE Between Groups (Combined) 2807.048 31 90.550 2.120 .004
Linearity 660.752 1 660.752 15.469 .000
Deviation from Linearity 2146.296 30 71.543 1.675 .035
Within Groups 3502.706 82 42.716
Total 6309.754 113

LAMPIRAN F
DESKRIPSI STATISTIK
VARIABEL ACADEMIC SELF-EFFICACY &
INTENSI WIRAUSAHA

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
ASE 114 76.9298 7.96754 59.00 104.00
wirausaha 114 62.1404 7.47252 41.00 80.00

LAMPIRAN G
UJI KORELASI ANTARA VARIABEL
ACADEMIC SELF-EFFICACY & INTENSI WIRAUSAHA

Correlations

wirusaha ASE
wirusaha Pearson Correlation 1 .324(**)
Sig. (1-tailed) . .000
N 114 114
ASE Pearson Correlation .324(**) 1
Sig. (1-tailed) .000 .
N 114 114
** Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Uji Korelasi Antara GPA & The People I Know, CRPSS-VE, My Feelings About School

Correlations

Correlations

ASE GPA
The People I Know, CRPSS-VE, My Feelings About School
Pearson Correlation 1 .240(**)
Sig. (1-tailed) . .005
N 114 114
GPA Pearson Correlation .240(**) 1
Sig. (1-tailed) .005 .
N 114 114
** Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

LAMPIRAN H
SURAT IJIN PENELITIAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *