Hospitalisasi pada Anak Usia Prasekolah | Pengertian Hospitalisasi adalah suatu keadaan di mana seseorang dalam menjalani perawatan di rumah sakit (Dorland, 2002). Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Hospitalisasi merupakan stressor baik bagi anak maupun keluarga, yang diikuti ketidaktahuan, lingkungan yang asing serta kebisaaan berbeda, dan tersebut menyebabkan anak dan keluarga tertekan (Supartini, 2004:188).

Perasaan yang sering muncul pada anak : Cemas, marah, sedih, takut dan rasa bersalah (Wong, 2009). Timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialaminya, rasa tidak aman dan nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang biasa dialaminya dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan.

Reaksi hospitalisasi pada anak usia prasekolah adalah:

  1. Perawatan di Rumah sakit : anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasing sayang dan menyenagkan.
  2. Reaksi terhadap perpisahan : menolak makan, sering bertanya, menagis secara perlahan dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan.

Menurut Supartini (2004:196) intervensi keperawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi yaitu :

  1. Upaya meminimalkan stressor penyebab stress dapat dilakuakan dengan cara:
  • Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan.
  • Mencegah perasaan kehilangan control.
  • Mengurangi atau meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri.
  1. Upaya pencegahan/meminimalkan dampak perpisahan
  • Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak dengan cara membolehkan mereka untuk tinggal bersama selama 24 jam (rooming in).
  • Jika tidak mungkin untuk rooming in, beri kesempatan orang tua untuk melihat anak setiap saat dengan maksud mempertahankan kontak antar mereka.
  • Modifikasi ruang perawatan dengan cara membuat situasi ruang rawat seperti di rumah, di antaranya dengan membuat dekorasi ruangan yang bernuansa anak.
  • Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah, memfasilitasi pertemuan dengan guru.
  1. Mencegah perasaan kehilangan control.
  • Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif terhadap petugas kesehatan.
  • Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan sehingga isolasi tidak terlalu dirasakan oleh anak dan orang tua, pertahankan kontak antara orang tua dan anak terutama pada bayi dan anak toddler untuk mengurangi stress.
  • Buat jadwal untuk prosedur terapi, latihan, bermain.
  • Memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua dalam perencanaan kegiatan
  1. Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri
  • Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri, yaitu dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan dan memberikan dukungan psikologis pada orang tua.
  • Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak, misalnya dengan cara bercerita, menggambar, menonton video kaset dengan cerita yang berkaitan dengan tindakan atau prosedur yang akan dilakukan pada anak.
  • Pertimbangkan untuk menghadirkan orang tua pada saat anak dilakukan tindakan atau prosedur yang menimbulkan rasa nyeri apabila mereka tidak dapat menahan diri, bahkan menangis bila melihatnya. Dalam kondisi ini, tawarkan pada anak dan orang tua untuk mempercayakan kepada perawat sebagai pendamping anak selama prosedur tersebut dilakukan.
  • Tunjukkan sikap empati sebagai pendekatan utama dalam menguranngi rasa takut akibat prosedur yang menyakitkan
  • Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita, gambar. Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka.
  1. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi
  • Membantu perkembangan orang tua dan anak dengan cara memberi kesempatan orang tua mempelajari tumbuh-kembang anak dan reaksi anak terhadap stressor yang dihadapi selama dalam perawatan di rumah sakit
  • Hospitalisasi dapat dijadikan media untuk belajar orang tua. Member kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak, terapi yang didapat, dan prosedur keperawatan yang dilakukan pada aanak, tentunya sesuai dengan kapasitas belajarnya.
  • Untuk meningkatkan kemampuan control diri dapat dilakukan dengan memberi kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan, tidak terlalu bergantung pada orang lain dan percaya diri.
  • Fasilitasi anak untuk tetap menjaga sosialisasinya dengan sesama pasien yang ada, teman sebaya atau teman sekolah. Beri kesempatan padanya untuk saling kenal dan membegi pengalamannya. Demikian juga interaksi dengan petugas kesehatan dan sesame orang tua harus difasilitasi oleh perawat karena selama di rumah sakit orang tua dan anak mempunyai kelompok social yang baru
  1. Memberikan dukungan pada anggota keluarga lain
  • Berikan dukungan kepada keluarga untuk mau tinggal dengan anak di rumah sakit
  • Apabila diperlukan, fasilitasi keluarga untuk berkonsultasi pada psikolog atau ahli agama karena sangat dimungkinkan keluarga mengalami masalah psikososial dan spiritual yang emmerlukan bantuan ahli.
  • Beri dukungan kepada keluarga untuk menerima kondisi anaknya dengan nilai-nilai yang diyakini
  • Fasilitasi untuk menghadikan saudara kandung anak apabila diperlukan keluarga dan berdampak positif pada anak yang dirawat maupun saudara kandungnya.
  1. Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit
  • siapkan ruang rawat sesuai dengan tahapan usia anak dan jenis penyakitnya denga peralatan yang diperlukan.

Referensi 

Dorland. (2002). Kamus Saku Kedokteran. Jakarta: EGC.

Supatini, Yupi. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Wong, Donna L. (2009). Buku Ajar keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.