ABSTRAK 

Homeschooling adalah sebuah model pendidikan alternatif selain sekolah. Homeschooling berasal dari kata home yang berarti rumah dan schooling yang berarti sekolah. Homeschooling sering disebut dengan istilah home-education atau home-based learning. Dalam bahasa Indonesia, terjemahan yang biasa digunakan untuk homeschooling adalah “sekolah rumah”. Istilah “sekolah rumah” digunakan secara resmi oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk menyebutkan homeschooling. Selain itu mucul pula istilah “sekolah mandiri” untuk homeschooling.

Awalnya pendidikan dirumah berkisar pada pendidikan keterampilan rumah tangga misalnya memotong kayu untuk anak laki-laki dan memasak untuk anak perempuan, kegiatan tersebut menjadi dasar diadakannya homeschooling (Ramson, 2001).  Sumardiono (2007) “… para bangsawan zaman dahulu biasa mengundang guru-guru privat untuk mengajar anak-anaknya, itulah jejak homeschooling sejak dulu.”

Homeschooling mulai popular di Amerika sejak tahun 1960-an. Leona (Ransom, 2001) mengatakan bahwa munculnya homeschooling diawali dengan ketidakpuas-an orang tua terhadap sistem pengajaran disekolah yang kurang memperhatikan kemampuan individu. Hal tersebut yang menyebabkan  perkembangan anak kurang optimal.

Inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan ialah: suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi atau diskaveri, yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Homeschooling dinilai sebagai salah satu inovasi pendidikan karena dinilai merupakan suatu model atau cara baru yang ditawarkan sebagai salah satu pemecahan dalam masalah- masalah pendidikan.

Homeschooling

Homeschooling adalah sebuah model pendidikan alternatif selain sekolah. Homeschooling berasal dari kata home yang berarti rumah dan schooling yang berarti sekolah. Homeschooling sering disebut dengan istilah home-education atau home-based learning. D. Kembara (2008: 28)  kelebihan dari homeschooling :

  • Interaksi orang tua dengan anak lebih intensif

Homeschooling sebagai paket pendidikan yang berbasis keluarga jelas-jelas mengarahkan setiap orang tua untuk memainkan peran sentral tersebut.

 

  • Anak menguasai kompetensi

 

Setiap peserta homeschooling (homeschooler) memiliki kebebasan luar biasa untuk berkembang sesuai dengan kompetensinya. Setiap anak memiliki kecerdasan berbeda (Teori Gardner), sistem pendidikan yang baik member peluang kepada setiap anak didiknya untuk mengoptimalkan kecerdasan spesifiknya. Homeschooling memiliki fleksibelitas yang memberi peluang kepada peserta didiknya untuk benar-benar fokus terhadap minat dan bakatnya.

 

  • Kegiatan dan waktu belajar lebih luwes

 

Salah satu kunci kesuksesan dalam belajar adalah kenyamanan pelaku saat menjalaninya. Model pendidikan homeschooling memberikan kebebasan dalam menentukan waktu belajar. Waktu dapat fleksibel bergantung pada masing-masing peserta didik. Kegiatan pengantar pendidikan pun bisa sangat beragam dan membumi. Arahannya jelas untuk membiasakan peserta didik dengan masalah-masalah sehari-hari.

 

  • Kesempatan bersosialisasi meluas

 

Dalam pembelajaran homeschooler tidak berkelompok pada kelas tertentu, peserta homeschooling memiliki kesempatan atau peluang untuk seluas-luasnya menjalin komunikasi dengan siapa saja. Sosialisasi mereka tidak terbatas pada teman sebaya namun pada orang dewasa. Sosialisasi tersebut dapat membantu mereka lebih cepat memahami perbedaan.

 

  • Belajar dari pengalaman

 

Dalam homescooling dikenal istilah “Jika engkau mengatakan sesuatu maka akau akan cepat lupa. Jika engkau menunjukan sesuatu, mungkin aku akan ingat. Jika engkau melibatkan aku, aku akan mengerti. Banyak hal yang dapat dipraktekkan dari dunia nyata (contextual teaching learning).

 

  • Pengawasan lebih efektif

 

Homeschooling memungkinkan orang tua untuk terus-menerus mendampingi sekaligus memonitor perkembangan mental, pembelajaran, kontak sosial dan penguasaan pengetahuan anaknya.

Homeschooling bukanlah sebuah hal yang baru, sebelum ada sistem pendidikan modern (sekolah). Awalnya pendidikan dirumah berkisar pada pendidikan keterampilan rumah tangga misalnya memotong kayu untuk anak laki-laki dan memasak untuk anak perempuan, kegiatan tersebut menjadi dasar diadakannya homeschooling (Ramson, 2001).  Sumardiono (2007) “… para bangsawan zaman dahulu biasa mengundang guru-guru privat untuk mengajar anak-anaknya, itulah jejak homeschooling sejak dulu.”

Homeschooling mulai popular di Amerika sejak tahun 1960-an. Leona (Ransom, 2001) mengatakan bahwa munculnya homeschooling diawali dengan ketidakpuas-an orang tua terhadap sistem pengajaran disekolah yang kurang memperhatikan kemampuan individu. Hal tersebut yang menyebabkan  perkembangan anak kurang optimal.

Perkembangan homeschooling di Indonesia mengalami kemajuan pesat dapat diamati dari tumbuhnya komunitas-komunitas yang berkembang. Di Indonesia menurut Dr. Ella Yulaelawati direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas pada tahun 2007 ada sekitar 1000-1500 siswa homeschooling. Jumlah yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti karena model pendidikan ini bersifat informal. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh akses terhadap informasi yang semakin terbuka dan para orang tua memiliki semakin banyak pilihan untuk pendidikan anak-anaknya.

Perkembangan homeschooling yang pesat sebagian besar karena orang tua merasa homeschooling dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pendidikan yang mereka rencanakan. Kebutuhan adan alasan keluarga yang memilih homeschooling memiliki rentang variasi yang cukup lebar. Tiga alasan tertinggi dalam pemilihan homeschooling menurut data dari National Center Of Education Statistic (NCES) Amerika serikat pada tahun 1999 adalah orang tua ingin meningkatkan kualitas pendidikan anaknya, alasan agama dan buruknya lingkungan belajar di sekolah Sumardiono (2007: 28).

Menurut Sumardiono (2007: 29) alasan keluarga melakukan homeschooling biasanya:

  1. Orang tua sering berpindah dan melakukan perjalanan.
  2. Orang tua merasa keamanan dan pergaulan sekolah tidak kondusif bagi perkembangan anak.
  3. Orang tua menginginkan hubungan keluarga yang lebih dekat dengan anak.
  4. Orang tua merasa sekolah yang baik semakin mahal dan tidak terjangkau.
  5. Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus tidak dapat dipenuhi disekolah umum.
  6. Orang tua memiliki keyakinan bahwa sistem yang ada tidak mendukung nilai-nilai keluarga yang dipeganganya.
  7. Orang tua merasa terpanggil untuk mendidik anaknya sendiri.

D. Kembara (2008: 28) menerangkan alasan yang lebih terperinci menjadi 6 alasan yaitu:

 

  • Interaksi orang tua dengan anak lebih intensif

 

Homeschooling sebagai paket pendidikan yang berbasis keluarga jelas-jelas mengarahkan setiap orang tua untuk memainkan peran sentral tersebut.

  • Anak menguasai kompetensi

Setiap peserta homeschooling (homeschooler) memiliki kebebasan luar biasa untuk berkembang sesuai dengan kompetensinya. Setiap anak memiliki kecerdasan berbeda (Teori Gardner), sistem pendidikan yang baik member peluang kepada setiap anak didiknya untuk mengoptimalkan kecerdasan spesifiknya. Homeschooling memiliki fleksibelitas yang memberi peluang kepada peserta didiknya untuk benar-benar fokus terhadap minat dan bakatnya.

 

  • Kegiatan dan waktu belajar lebih luwes

Salah satu kunci kesuksesan dalam belajar adalah kenyamanan pelaku saat menjalaninya. Model pendidikan homeschooling memberikan kebebasan dalam menentukan waktu belajar. Waktu dapat fleksibel bergantung pada masing-masing peserta didik. Kegiatan pengantar pendidikan pun bisa sangat beragam dan membumi. Arahannya jelas untuk membiasakan peserta didik dengan masalah-masalah sehari-hari.

 

  • Kesempatan bersosialisasi meluas

Dalam pembelajaran homeschooler tidak berkelompok pada kelas tertentu, peserta homeschooling memiliki kesempatan atau peluang untuk seluas-luasnya menjalin komunikasi dengan siapa saja. Sosialisasi mereka tidak terbatas pada teman sebaya namun pada orang dewasa. Sosialisasi tersebut dapat membantu mereka lebih cepat memahami perbedaan.

 

  • Belajar dari pengalaman

Dalam homescooling dikenal istilah “Jika engkau mengatakan sesuatu maka akau akan cepat lupa. Jika engkau menunjukan sesuatu, mungkin aku akan ingat. Jika engkau melibatkan aku, aku akan mengerti. Banyak hal yang dapat dipraktekkan dari dunia nyata (contextual teaching learning).

  1. Pengawasan lebih efektif

Homeschooling memungkinkan orang tua untuk terus-menerus mendampingi sekaligus memonitor perkembangan mental, pembelajaran, kontak sosial dan penguasaan pengetahuan anaknya.

Inovasi Pendidikan

Inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan ialah: suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi atau diskaveri, yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan. Secara sederhana inovasi dimaknai sebagai pembaharu atau perubahan dengan ditandai oleh adanya hal yang baru itu, mungkin disebabkan oleh beberapa hal antara lain dalam upaya memecahkan masalah yang dihadapi seseorang atau kelompok. Dengan demikian, suatu idea tau temuan yang baru atau perubahan baru tetapi kurang membawa dampak kepada upaya pemecahan masalah tidak dapat diklasifikasiakan sebagai inovasi.

Pendidikan adalah suatu system, maka inovasi pendidikan mencakup hal- hal yang berhubungan dengan komponen system pendidikan, baik system dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun system dalam arti yang luas misalnya system pendidikan nasional. Adapun komponen- komponen pendidikan sesuai dengan pola yang dikemukakan oleh B. Miles yaitu: pembinaan personalia, banyaknya personal dan wilayah kerja, fasilitas fisik, penggunaan waktu, perumusan tujuan, peosedur, peran yang diperlukan, wawancara dan perasaan, bentuk hubungan antar bagian (mekanisme kerja), hubungan dengan system lain.

Saat ini ada tiga model homeschooling yang berkembang di masyarakat, masing-masing model memiliki kelemahan dan keuungulannya yaitu:

 

  • Homeschooling tunggal

 

Homeschooling Tunggal adalah format sekolah rumah yang dilaksanakan oleh orang tua dalam satu keluarga yang dalam pelakasanaannya dengan sengaja tidak bergabung dengan keluarga lain yang menerapkan homeschooling lainnya. Format homeschooling tunggal biasanya dipilih oleh keluarga yang memiliki fleksibilitas maksimal dalam penyelenggaraan homeschooling. Alasan lain adalah karena lokasi atau tempat tinggal homeschooler yang tidak memungkinkan berhubungan dengan komunitas homeschooling lain.

Orang tua harus benar-benar mengambil peran sebagai pembimbing, teman belajar, sekaligus penilai. Mereka bertanggung jawab sepenuhnya atas seluruh proses yang ada dalam homeschooling, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengadamisnitrasian, hingga penyedian sarana pendidikan. Keluarga dapat menggunakan sistem pendukung (support sistem). Semua inisiatif berasal dari keluarga.

 

  • Homeschooling Majemuk

 

Tipe homeschooling  kedua ini satu tingkat diatas homeschooling  tunggal dalam hal pelibatan keluarga homeschooler lain. Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilakasanakan oleh orang tua masing-masing. (Mulyadi, 2007; 38). Keluarga-keluarga yang memutuskan untuk bergabung dengan homeschooling majemuk ini biasanya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan bersama. Contohnya kurikulum dari konsorsium, kegiatan oleh raga, keahlian musik atau salah satu bidang seni, kegiatan sosial dan kegiatan agama.

Homeschooling tipe majemuk dalam pembelajarannya melibatkan anak-anak lain, tentu saja proses belajar menjadi dinamis. Insting sosial pada diri anak pun bisa “tumpah”seperti seharusnya. Dalam kelompok kecil ini, semangat berkompetisi pun akan muncul dalam interaksi antar mereka-pun akan berperan dalam pembentukan kepribadian yang kuat dan tahan banting, Namun keterlibatan beberapa individu dalam kelompok homeschooling ini praktis memunculkan berbagai konsekuensi. Salah satunya kebutuhan untuk berkompromi dengan peserta lain dalam hal jadwal, suasana, fasilitas, dan pilihan kegiatan. Tentu setiap orang tua memiliki kesibukan masing-masing sehingga waktu pendampingan anak-anak mereka pun harus menyesuaikan. Karena setiap orang tua memiliki agenda berbeda, praktis dibutuhkan kesepakatan untuk menentukan waktu belajar bersama anak-anak mereka.

Kebutuhan lain dalam homeschooling majemuk adalah kehadiran para ahli bidang tertentu. Tentunya, menghadapi sekelompok anak dengan karakter yang begitu beragam sangat berbeda dengan menghadapi satu anak saja. Oleh karena itu, kehadiran ahli tersebut menjadi mutlak. Misalnya, guru bidang studi yang mampu menggabungkan antara ilmu psikolog anak, kreativitas, dan kebebasan berekpresi, tanpa menghilangkan kenyamanan belajar berkelompok.

Kekhasan homeschooling majemuk bagi peserta didik adalah keharusan mereka untuk belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar dan karakter-karakter teman belajar mereka. Disamping itu, para orang tua masing-masing peserta tetap harus menyelenggarakan sendiri penilaian terhadap hasil pendidikan anak-anak dan mengusahakan sendiri penyetaraannya.

Model-model homeschooling di atas adalah model pendidikan informal (jalur pendidikan keluarga dan lingkungan, UU Sisdiknas Tahun 2003), namun ketika itu ingin diakui legalitasnya maka masuknya ke pendidikan nonformal ( jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstuktur dan berjenjang,  UU Sisdiknas Tahun 2003)

 

  • Komunitas Homeschooling

Tipe homeschooling yang ketiga ini merupkan gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olahraga, music/seni, dan bahasa), sarana/prasarana, dan  jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orang tua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.

Menurut panduan yang diterbitkan oleh Depdiknas pertimbangan pelaksanaan komunitas homeschooling adalah membuat sruktur yang lebih lengkap dalam penyelenggaraan aktivitas pendidikan akademis untuk pembangunan akhlak mulia, pengembangan intelegensi, keterampilan hidup dalam pembelajaran, penilaian dan criteria keberhasilan dalam standar mutu tertentu tanpa menghilangkan jati diri dan identitas diri yang dibangun dalam keluarga dan lingkungannya. Melalui Komunitas Homeschooling diharapkan dapat dibangun fasilitas belajar dan mengajar yang lebih baik yang tidak diperoleh dalam format homeschooling tunggal/majemuk, misalnya bengkel kerja, laboratoriaum alam, perpustakaan, laboratorium IPA atau bahasa, auditorium, fasilitas olahraga dan kesenian.

Komunitas homeschooling merupakan jalur non formal. Acuan mengenai eksistensi komunitas homeschooling terdapat dalam UU 20 tahun2003 pasal 26 ayat 4:

“Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat dan majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenisnya”.

Satuan pendidikan non formal, komunitas homeschooling dapat berfungsi menjalankan pendidikan nonformal, termasuk menyelenggarakan ujian kesetaraan. Hal itu sejalan dengan UU 20 /2003 pasal 26 ayat 6 :

       “Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.”

Saat ini petunjuk komunitas homeschooling mengacu pada buku “Komunitas Sekolah-rumah sebagai Satuan Pendidikan Kesetaraan” yang diterbitkan  pada Agustus 2006 oleh Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional.

Komunitas bukan hanya berfungsi untuk menjamin legalitas homeschooling dan memperoleh ujian kesetaraan, tetapi juga memiliki banyak fungsi lainnya. Komunitas yang beranggotakan para keluarga (orang tua dan anak). Homeschooling merupakan bagian dari basis pengembangan homeschooling di luar keluarga. Di dalam komunitas anggotanya dapat saling berkomunikasi, berbagi pengalaman, melakukan kegiatan bersama, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan bersama.

Selain Komunitas Sekolah-rumah, institusi lain yang dapat menunjang legalitas siswa homeschooling adalah umbrella school. Umbrella school adalah sekolah formal yang menaungi legalitas siswa homeschooling dan memberikan fleksibilitas yang dikompromikan mengenai sistem belajar yang digunakan oleh siswa homeschooling (Sumardiono, 2007:82). Salah satu praktik umbrella school yang digunakan adalah mengatur jadwal belajar (3 hari di sekolah dan 3 hari dirumah). Kemitraan dengan sekolah formal adalah sebuah hal yang dapat diupayakan keluarga homeschooling.

KESIMPULAN

Dari teori- teori yang dipaparkan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, homeschooling merupakan salah satu inovasi dalam pendidikan karena sesuai dengan pengertian inovasi yaitu suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi atau diskaveri, yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan. Dalam hal ini homeschooling memberikan tawaran yang berbeda dan metode baru apabila dibandingkan dengan sekolah regular, hal ini dapat dilihat dari pendekatan dan metode yang berbeda begitupun dari segi kurikulum yang dimana setiap keluarga homeschooling memiliki pilihan untuk menentukan kurikulum yang diacu dan bahan ajar yang digunakan, atau bahan pengajaran Bahan ajar adalah bahan yang digunakan untuk pengajaran sehari-hari. Orang tua dapat memilih kurikulum yang sudah satu paket dengan bahan pengajarannya (bundle) atau bahan ajar yang terpisah (unbundle). Pada bahan paket atau bundle keluarga homeschooling menggunakan kurikulum dan bahan-bahan pelajaran yang sudah disediakan oleh lembaga layanan pendidikan tersebut. Bahan yang diberikan mulai kurikulum, teori, kegiatan, lembar kerja, tes dan sebagainya, dan yang lebih penting lagi tempat belajar tidak membatasi proses pendidikan di tempat fisik tertentu (ruangan kelas). Proses belajar dalam homeschooling dapat terjadi dimana saja baik di rumah, perpustakaan, jalan, kebun, pasar, mall, terminal, stasiun, lapangan dan tempat dimanapun yang memungkin anak mendapatkan pengetahuan. Marry Griffith (2008) memberikan istilah memanfaatkan seluruh dunia sebagai ruang kelas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim (1998). Inovasi pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

Kembara, Maulia. (2007). Panduan Lengkap Homeschooling. Bandung : Progresio (Grup Syaamil)

Mulyadi, Seto. (2007). Homeschooling Keluarga Kak-Seto: mudah, murah, meriah dan direstui pemerintah. Bandung:Kaifa

http://kurtek.upi.edu/kurpem/9-inovasi.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *