Pengertian Hipertensi

Tekanan darah atau hipertensi disebut juga pembunuh diam – diam, karena tidak menunjukan gejala – gejala apapun. Dan sakit kepala yang disebabkan tekanan darah relatif jarang terjadi (Kowalski 2010, h. 34). Hipertensi atau yang biasa di kenal dengan penyakit tekanan darah tinggi adalah keadaan dimana seseorang yang mengalami peningkatan tekanan darah diambang normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan dan angka kematian (Dalimartha dkk 2008, h. 8). Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah baik itu sistolik maupun diastolik dengan angka konsisten di atas 140/90 mmHg (Bararedo dkk 2008, h. 49).

Penyebab Hipertensi

Penderita hipertensi lebih dari 90% digolongkan atau disebabkan oleh hipertensi primer, jadi secara umum hipertensi adalah hipertensi primer. Hipertensi primer belum diketahui penyebabnya. Menurut data penelitian yang telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor – faktor tersebut antara lain :

  1. Faktor Keturunan – Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki lebih besar terkena hipertensi jika orang tuanya menderita hipertensi.
  2. Ciri Perseorangan – Yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur, jenis kelamin dan ras. Sejalan dengan bertambahnya umur akan menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah pria umunya lebih tinggi dibandingkan wanita.
  3. Kebiasaan Hidup – Kebiasaan hidup yang menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi, obesitas atau makan berlebihan dan stress.
  4. Konsumsi garam yang tinggi – Dari data statistik ternyata dapat diketahui bahwa hipertensi jarang diderita oleh penduduk dengan konsumsi garam yang rendah. Menurut Kedokteran yang telah membuktikan bahwa pembatasan konsumsi garam dapat menurunkan tekanan darah.
  5. Obesitas atau makan berlebih – Penelitian kesehatan yang telah dilaksanakan terbukti bahwa ada hubungan antara obesitas dan hipertensi meskipun belum jelas bagaimana obesitas menimbulkan hipertensi tetapi sudah terbukti penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah.
  6. Stress atau ketegangan jiwa – Stress dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat dan kuat. Sehingga tekanan darah akan meningkat.
  7. Pengaruh lain – Pengaruh lain yang dapat menyebabkan hipertensi :
  • Merokok, karena merangsang sistem androgenik dan dapat meningkatkan tekanan darah.
  • Minum alkohol “miras”
  • Minum obat-obatan, misal ephedrin, prednison, epineprin (Gunawan 2007, h. 17).

Patofisiologi Hipertensi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi (Marya 2013, hh. 235 – 238).

Tanda dan gejala  Hipertensi

Sebagian kasus hipertensi tidak menunjukan gejala apapun atau tidak punya cukup petunjuk bahwa dalam tubuh terdapat kelainan. Pengecualian : seseorang yang mengalami sakit kepala ringan terutama dibagian belakang kepala dan muncul dipagi hari namun perlu diingat bahwa sakit kepala jenis ini bukan kondisi yang umum terjadi. Sakit kepala biasa pusing dan mimisan bukanlah gejala, setidaknya dibeberapa awal tahap peningkatan tekanan darah. Namun kondisi ini akan muncul menyertai hipertensi yang sudah parah. Tekanan darah dipengaruhi oleh aliran senyawa kimia diginjal dan karena tekanan darah tinggi yang tergolong parah dapat merusak ginjal. Beberapa gejala yang muncul ditahap hipertensi yang sudah parah bukan merupakan akibat langsung dari perubahan tekanan darah, melainkan kerusakan ginjal. Gejalanya antara lain ; keringat berlebihan, kram otot, keletihan, peningkatan frekuensi berkemih dan denyut jantung cepat atau tidak teratur (Kowalski 2010, h. 42).

Komplikasi

Komplikasi dari penyakit hipertensi adalah :

  • Stroke

Dapat terjadi akibat hemoragi tekanan darah tinggi di otak, atau akibat dari embolus akibat terlepas dari pembuluh darah selain otak yang terkena hipertensi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang memperdarahi otak ini mengalami hipertrfi dan penebalan, jadi aliran darah ke bagian otak ini berkurang.

  • Infark miokard

Dapat terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerotik tidak mampu atau tidak dapat memberi oksigen ke miokardium dan apabila sudah terbentuk trombus maka dapat menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Pada kasus hipertensi kronis dan hipertrofi fentrikel, kebutuhan oksigen di miokardium tidak dapat penuhi dan akibatnya bisa terjadi iskemia jantung yang mengakibatkan infark.

  • Gagal Ginjal

Dapat terjadi, hal ini karena kerusakan yang progresif akibat dari tekanan darah tinggi pada bagian kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke unit fungsional ginjal, yaitu maka nefron akan mengalami gangguan dan berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerulus, maka protein akan keluar melalui urine sehingga tekanan osmotik pada plasma berkurang dan menjadikan edema.

  • Ensefalopati (kerusakan otot)

Dapat terjadi, terutama pada hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat secara cepat dan berbahaya). Tekanan yang tinggi menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke ruang interstitial di seluruh susunan saraf pusat. Neuron yang disekitarnya akan terjadi kolaps dan mengalami kematian.

  • Kejang

Dapat terjadi, pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir mungkin memiliki berat lahir kecil dikarenakan akibat perfusi plasenta yang tidak adekuat, kemudian itu dapat mengalami hipoksia dan asidosis apabila ibu mengalami kejang selama atau sebelum proses kelahiran (Corwin 2009, hh. 478-288).

Pemeriksaan penunjang

Menurut Huon dkk (2009 : 61) Pemeriksaan penunjang pada pasien hipertensi meliputi :

  • Urinalisis untuk darah dan protein, elektrolit dan kreatinin darah.

Hal ini dapat menunjukan penyakit ginjal baik penyakit yang disebabkan hipertensi.

  • Glukosa darah.

Untuk menyingkirkan diabetes atau intoleransi glukosa.

  • Kolesterol HDL dan kolesterol total serum.

Untuk membantu memperkirakan risiko kardiovaskular dimasa depan.

  • Elektrokardiogram

Membantu penetapan adanya hipertrofi ventrikel kiri.

Penatalaksanaan

Untuk mengobati hipertensi, dapat dilakukan dengan menurunkan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup. Dengan intervensi farmakologis dan nonfarmakologis dapat membantu menurunkan tekanan darah.

  1. Pada sebagian orang dengan cara menurunkan berat badan dapat menurunkan tekanan darah. Hal ini kemungkinan karena beban kerja jantung berkurang sehingga denyut jantung dan volume sekuncup juga berkurang.
  2. Olahraga, dengan berolahraga dapat meningkatkan kadar High Density Lipoprotein(HDL), hal ini dapat mengurangi terbentuk aterosklerosis akibat dari hipertensi.
  3. Teknik relaksasi, dengan relaksasi dapat menghambat respon stres saraf simpatis.
  4. Berhenti merokok, hal ini diketahui karena asap rokok ini menurunkan aliran darah ke berbagi organ sehingga dapat meningkatkan kerja jantung.
  5. Diuretik ini model kerjanya mengurangi curah jantung dengan cara mendorong ginjal untuk meningkatkan ekskresi garam dan air. Sebagian diuretik (tiazid) dapat menurunkan resistensi perifer total(TPR).
  6. Penyekat saluran kalsium dapat menurunkan kontraksi dari otot polos jantung atau arteri dengan menginterfensi infuks kalsium yang dibutuhkan saat kontraksi. Maka dari itu penyekat kalsium memiliki kemampuan yang berbeda – beda dalam menurunkan kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup.
  7. Penghambat enzim pengubah angiotensin II atau inhibitor Angiotensin converting enzyme (ACE) yang berfungsi untuk menurunkan angiotensis II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Hal ini dapat menurunkan tekanan darah secara langsung dengan menurunkan resistensi perifer total dan secara tidak langsung dengan menurunkan sekresi aldosteron yang akhirnya dapat meningkatkan pengeluaran natrium dan urine kemudian menurunkan volume plasma dan curah jantung. Untuk Angiotensin converting enzyme (ACE) dikontraindikasikan pada wanita yang hamil.
  8. Antagonis (penyekat) reseptor beta (β-blocker), terutama penyekat selekif, reseptor beta bekerja pada reseptor beta pada jantung guna menurunkan kecepatan denyut jantung dan curah jantung.
  9. Antagonis reseptor alfa (α-blocker), dapat menghambat reseptor alfa pada otot polos vaskular, secara normal berespons terhadap rangsangan simpatis dengan vasokontriksi. Hal ini dapat menurunkan resistensi perifer total (TPR).
  10. Vasodilator arteriol langsung dapat menurunkan resistensi perifer total(TPR).
  11. Pada beberapa individu mendapat manfaat dari diet natrium.

Hipertensi gestasional dan preeklamsi-eklamsi ini akan membaik bila bayi sudah lahir (Elizabeth 2009, hh. 488-489).

 

DAFTAR PUSTAKA

A’Yun, Q. & Rachmawati, SI. 2011. Pengaruh Terapi Imajinasi Terpimpin Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Kelurahan Simbang Wetan Di Kecamatan Buaran Pekalongan. STIKES Muhammadiyah Pekajangan. Pekalongan

Adib, M. 2009. Cara Mudah Memahami & Menghindari Hipertensi Jantung  Stroke. Dianloka Pustaka. Yogyakarta.

Baradero, M, Dayrit, MW, Siswadi Y. 2008. Klien Gangguan Kardiovaskuler, EGC. Jakarta.

Behbehani S.S. 2007. Fit From Within Sehat dan Smart Tanpa Obat, Serambi Ilmu Semesta. Jakarta.

Beman, A, Snynder, S, Kozier, B & Glenora Erb. 2008.  Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. EGC. Jakarta.

Corwin E.J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. EGC. Jakarta.

Dalimartha, S, Purnama, B, Sutarina, N, Malendra & Darmawan, R. 2008. Care Your Self Hipertens. Plus. Jakarta.

Dinkes Jawa Tengah. 2014. Profil Kesehatan Jawa Tengah. Dinkes Jawa tengah. Semarang.

Dinkes Kab. Pekalongan 2013. Profil Kesehatan Kabupaten Pekalongan. Dinkes Kabupaten Pekalongan. Pekalongan.

Dinkes Kab. Pekalongan 2014. Profil Kesehatan Kabupaten Pekalongan. Dinkes Kabupaten Pekalongan. Pekalongan.

Dinkes Kab. Pekalongan. 2012. Profil Kesehatan Kabupaten Pekalongan. Dinkes Kabupaten Pekalongan. Pekalongan.

Gray, HH, Dawkins, KD, Morgan, JM & Simpson JA. 2012. Lecture Notes Kardiologi. Erlangga. Surabaya.

Guyton & Hall. 2010. Buku Saku Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.

Hidayat A.A. 2009. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Salemba Medika. Jakarta.

Imron, M & Munif, A. 2009. Metodelogi Penelitian Bidang Kesehatan. Sagung Seto. Jakarta.

Izzo, Joseph L,. Sica, Domenic, & Black, Hendry R. 2008. Hypertension Primer: The essentials of High Blood Pressure Basic Science, Population Science, and Clinical Management. Philadelphia. USA.

Johnson, JY, Smith J & Carr, P. 2005. Prosedur Perawatan Di Rumah. EGC. Jakarta.

Kowalski, RE. 2010. Terapi Hipertensi. Qonita. Bandung.

Kusharyadi & Setyoadi. 2011. Terapi Modalitas Keperawatan Pada Klien Psikogeriatrik. Salemba Medika. Jakarta.

Lany, G. 2007. Hipertensi (tekanan darah tinggi). Kanisius. Yogyakarta.

Marliani & Tantan. 2007. 100 Quetions dan Answer Hipertensi. Gramedia. Jakarta.

Marya R.K. 2013. Buku Ajar Patofisiologi Mekanisme Terjadinya Penyakit. Binarupa Aksara. Tanggerang Selatan.

Muttaqin, A. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi. Salemba Medika. Jakarta..

National Safety Council. 2004, Manajemen Stres,  EGC, Jakarta.

Notoatmojo S. 2005. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. EGC. Jakarta.

Program Studi S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Pekajangan.Program Studi  S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Pekajangan. Pekalongan. dilihat 26 desember 2014. (www.who.int/gho/ncd/riskfactor/bloodpressureprevalence.text/en/).

Rahajeng, E.  & Tuminah, S. (2009). Prevalensi hipertensi dan determinannya di indonesia. Majalah Kedokteran Indonesia (Vol. 59, No,12).

Sabri, L & Hastono, SP. 2007. Statistik Kesehatan. Raja Grafindo Pustaka. Jakarta

Sugiyono. 2009. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung

Susanti, W, Warsito B.E & Armunanto. 2013, ‘Pengaruh  Terapi Imajinasi Terpimpin Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Kelurahan Karangsari Kabupaten Kendal, Prosiding Konferensi Nasional PPNI Jawa tengah 2013.

Tawaang, E, Mulyadi & Palandeng, H. 2013, ‘Pengaruh Teknik Relaksasi Napas Dalam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Sedang – Berat Di Ruang Irina C Blu Prof. DR. R. D. Kandou Manado, Ejournalkeperawatan (e-kp) volume I .  nomor I. Agustus 2013.

Trihono. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Percetakan Negara. Jakarta

Vitahealth. 2005. Hipertensi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Wati, EH & Agustina, F. 2013. Pengaruh Terapi Relaksasi Nafas Dalam  Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Di Kelurahan Kertijayan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. STIKES Muhammadiyah Pekajangan. Pekalongan

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *