Berdasarkan data statistik tahun 1962, perikanan purse seine menghasilkan sebanyak 15,1 % dari total hasil tangkapan berbagai alat tangkap di Jepang. Dengan demikian,  purse seine merupakan alat tangkap yang penting baik untuk perikanan pantai maupun perikanan lepas pantai (off shore) (Nomura dan Yamazaki, 1975).

Ikan pelagis terdiri dari ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil. Ikan pelagis besar hidup di perairan oseanis (laut lepas atau laut jeluk), sedangkan ikan pelagis kecil banyak terdapat di perairan pantai (neritic zone) sampai kedalaman 200 m dari permukaan laut. Ikan pelagis kecil yang memiliki arti penting bagi perikanan Indonesia adalah ikan layang (Decapterus spp.), selar (Selaroides spp.), teri (Sardinella fimbriata), lemuru (Sardinella longiceps)dan kembung (Rastrelliger spp.). Ikan pelagis kecil merupakan sumber daya yang perilakunya tidak banyak diketahui karena tingkat kerumitan risetnya sangat menantang, terutama yang berkaitan dengan pola makan ikan pelagis kecil yang mengonsumsi plankton, dan tingkat kelimpahannya sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Kelimpahan yang sangat tinggi ada di daerah di mana terjadi proses penaikan massa air ke permukaan (upwelling) (Dahuri, 2003).

Menurut Ayodhyoa (1976;1981) ikan yang menjadi tujuan penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan ”pelagic shoaling species” yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface) dan sangatlah diharapkan pula densitas shoal tersebut tinggi, yang berarti jarak ikan dengan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin.

Kondisi oseanografi perairan yang mempengaruhi tingkah laku dan kelimpahan ikan adalah suhu, arus, cahaya, salinitas, DO, nutrien, upwelling, plankton dan benthos (Reddy, 1993).

Lokasi tempat berkumpulnya ikan dapat ditentukan dengan kombinasi antara lokasi klorofil, suhu permukaan laut, pola arus laut, cuaca, serta karakter toleransi biologis ikan terhadap suhu air. Terdapat beda suhu di seantero muka laut. Hal ini disebabkan oleh naiknya lapisan air laut di sebelah bawah ke atas (upwelling) karena perbedaan suhu. Kenaikan lapisan air ini juga membawa zat makanan bagi kehidupan di laut. Jadi dengan mendeteksi upwellingakan dapat pula memberi petunjuk akan adanya ikan (Nontji, 2005).

REFERENSI

Nomura, M., and T. Yamazaki. 1975, Fishing Technique, Compilation of Transcript of Lecture Presented at the Training Departement  SEAFDEC, Japan Inrenational Corperation Agency, Tokyo.

Dahuri R., 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Ayodhyoa, AU., 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.

Nontji, A., 2005. Laut Nusantara.Penerbit Djambatan. Jakarta.

Nontji, A., 1993. Prosiding Seminar Dies Natalis Universitas Hang Tuah: Pengolahan Sumberdaya Kelautan Indonesia Dengan Tekanan Utama Pada Perairan Pesisir.. Surabaya.

Reddy, M. P. M., 1993, Influence of the Various Oceanographic Parameters on the Abundance of Fish Catch, Proceeding of International workshop on Apllication of Satellite Remote Sensing for Identifying and Forecasting Potential Fishing Zones in Developing Countries, India, 7-11 December 1993.