• Pengertian Harga diri

Coopersmith (dalam Harsini, 2008) mengungkapkan bahwa harga diri adalah evaluasi yang dibuat dan biasanya dipegang oleh individu mengenai dirinya sendiri. Evaluasi ini menyatakan sikap kesetujuan dan ketidaksetujuan, serta menunjukkan sejauh mana individu percaya bahwa dirinya mampu, berarti, berhasil, dan berharga. Evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu terhadap dirinya sendiri di mulai dari sangat negatif sampai sangat positif (Baron & Byrne, 2003). Harga diri juga merupakan proses penilaian yang dibuat dan dipertahankan individu tentang dirinya. Proses penilaian tersebut berasal dari interaksi individu dengan lingkungan serta menyangkut aspek-aspek seperti penerimaan, perlakuan dan penghargaan orang lain terhadap dirinya (Klass & Hedge dalam Nugroho, 2010).




Sedangkan menurut Sulistyowati & Warsito (2010) harga diri merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi demi memperoleh keberhasilan hidup dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Branden (dalam Sulistyowati & Warsito, 2010) menyatakan bahwa harga diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya sendiri untuk belajar membuat pilihan dan keputusan yang layak serta  merespon  secara  efektif terhadap perubahan. Menurut Brem & Kassin (dalam Damayanti & Purnamasari, 2011) harga diri berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Individu yang menilai dirinya positif cenderung bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri. Sebaliknya individu yang menilai dirinya negatif secara relatif tidak sehat, cemas, tertekan dan pesimis mengenai masa depannya dan cenderung gagal.

Berdasarkan beberapa pengertian harga diri di atas, peneliti menggunakan definisi harga diri menurut Coopersmith (dalam Harsini, 2008), bahwa harga diri adalah evaluasi yang dibuat dan biasanya dipegang oleh individu mengenai dirinya sendiri. Evaluasi ini menyatakan sikap kesetujuan dan ketidak setujuan, serta menunjukkan sejauh mana individu percaya bahwa dirinya mampu, berarti, berhasil, dan berharga.

  1. Tingkatan Harga diri

Menurut Coopersmith (dalam Nugroho, 2010) Harga diri dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

  1. Individu yang memiliki harga diri yang tinggi, yaitu individu yang afektif ekspresif dan cenderung berhasil dalam bidang akademis dan sosial dengan rasa percaya diri dan kualitas pribadinya. Mereka yang memiliki ambisi yang tinggi, cita-cita yang tinggi pada umumnya berasal dari keluarga dengan orang tua yang dapat menerima, memberi perhatian dan kasih sayang pada anaknya.
  2. Individu yang memiliki harga diri sedang, yaitu individu yang memiliki ciri-ciri sama dengan individu yang memiliki harga diri tinggi, hanya mereka cenderung membatasi diri terhadap lingkungan sos
  3. Individu yang memiliki harga diri rendah, yaitu individu yang diliputi oleh kekhawatiran terhadap interaksi sosial dan tidak yakin akan keberadaan mereka. Mereka cenderung terisolir, kurang mampu mengekspresikan diri, takut dimarahi orang lain, didalam kelompok mereka cenderung hanya sebagai pendengar daripada berpartisipasi.
  1. Aspek-aspek Harga diri

Coopersmith (dalam  Harsini, 2008) mengidentifikasi adanya empat aspek harga diri yaitu keberartian, kekuatan, kompetensi, dan kebajikan. Berdasarkan keempat aspek tersebut Coopersmith menyusun alat ukur harga diri yang dikenal dengan nama Self Esteem Inventory (SEI). Adapun aspek-aspek tersebut adalah :

  • Keberartian (significance)

Menunjukkan adanya  penilaian individu terhadap dirinya sendiri yaitu penilaian terhadap keberartiannya, keberhargaannya termasuk penerimaan dan rasa berarti yang didapat dari lingkungannya, yang ditunjukkan dengan adanya kepe­dulian, perhatian, dan afeksi serta ekspresi cinta yang diterima individu dari lingkungan sosial­nya. Penerimaan dari lingkungan ditandai de­ngan adanya kehangatan, respon yang baik dari ling­kungan dan ketertarikan lingkungan terha­dap individu serta menyukai individu sebagai­mana adanya diri sendiri.

  • Kekuatan (power)

Menunjukkan adanya kemampuan indi­vidu untuk bisa mengatur dan mengontrol ting­kah lakunya sendiri dan mendapatkan penga­kuan dari orang lain atas tingkah lakunya tersebut. Power ini dinyatakan dengan adanya pengakuan dan penghormatan yang diterima in­dividu dari orang lain serta adanya kualitas atas opini yang diutarakan individu yang diakui oleh orang lain. Dampak dari adanya pengakuan pada diri anak akan membantu anak untuk me­ngembangkan penilaian yang positif terhadap pan­dangannya sendiri dan mampu untuk ber­tahan dari tekanan buruk dari lingkungan dan dari keinginan-keinginan serta kebutuhan yang bersifat negatif dari anak.

  • Kompetensi (competence)

Menunjukkan adanya performansi yang tinggi untuk memenuhi keutuhan pencapaian prestasi dimana level tugas-tugas tersebut ter­gantung pada variasi usia individu. Apabila in­dividu merasa telah mencapai tujuan atau mam­pu mencapai suatu hasil yang diharap­kannya, ma­ka individu tersebut akan memberi­kan pe­nilaian yang positif pada dirinya.

  • Kebajikan (virtue)

Ditandai dengan adanya suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral, etika, dan aga­ma dimana individu akan menjauhi tingkah laku yang harus dihindari dan melakukan ting­kah laku yang dibolehkan atau diharuskan oleh moral, etika, dan agama.

  1. Faktor-faktor yang Memengaruhi Harga Diri

Harga diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :

  1. Faktor fisik : Penampilan fisik secara khusus berkontribusi terhadap harga diri remaja (Harter dalam Santrock, 2007). Gambaran tubuh, penampilan fisik merupakan salah satu segi dari gambaran diri. Oleh karena itu, gambaran tubuh membawa pengaruh pada harga diri. Orang yang puas dengan keadaan fisiknya, pada umumnya memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi daripada yang tidak. Orang yang berpenampilan menarik cenderung menghargai diri lebih tinggi daripada orang yang berpenampilan membosankan (Paul, 1993).
  2. Jenis Kelamin : Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja putri mudah terkena gangguan citra diri dibandingkan dengan remaja putra. Secara khusus, harga diri remaja putri rendah, tingkat kesadaran diri mereka tinggi, dan citra diri mereka mudah terganggu dibandingkan dengan remaja putra (Rosenberg dalam Ermanza, 2008).
  3. Pola Asuh : Pola asuh merupakan sikap orangtua dalam berinteraksi dengan  anak-anaknya  yang  meliputi  cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orangtua menunjukkan otoritasnya, dan cara orangtua memberikan perhatiannya  serta  tanggapan    terhadap  anaknya  (Shochih  dalam Sriati, 2008). Hasil penelitian Fitriana (2013) menyatakan bahwa remaja dengan persepsi pola asuh demokratis, sebagian besar memiliki harga diri tinggi. Hal tersebut dikarenakan teknik-teknik asuhan orang tua demokratis, yang menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri, maupun mendorong tindakan-tindakan mandiri, membuat keputusan sendiri, akan berakibat munculnya tingkah laku mandiri yang bertanggung jawab dimana perilaku-perilaku tersebut terkait dengan harga diri tinggi.
  4. Faktor inteligensi : Semakin tinggi tingkat inteligensi seseorang, maka semakin tinggi pula harga dirinya dan jelas bahwa tingkat inteligensinya ternyata mempengaruhi harga diri seseorang dan terlihat adanya hubungan positif diantara keduanya (Rombe dalam Prastowo, 2012).
  5. Faktor sekolah : Sekolah merupakan salah satu lingkungan tempat remaja hidup dalam kesehariannya (Ali & Asrori dalam Tania, 2011). Di dalam sekolah itu sendiri terdiri dari tenaga pengajar, peserta didik, kurikulum, ekstrakurikuler, dan jurusan. Peran lingkungan yang ada di dalam sekolah tidak dapat diabaikan dalam membentuk harga diri siswa (Farid & Akhtar, 2013).
  6. Kelas sosial : Hasil penelitian Rice (dalam Ermanza, 2008) menyatakan bahwa remaja dengan kelas sosial menengah ke atas lebih mempunyai harga diri yang tinggi di bandingkan dengan remaja dengan kelas sosial kebawah. Sosial ekonomi (pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan) orang tua dari remaja merupakan penentu paling penting dari harga diri remaja tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian (Suatu Pendekatan Praktek) (Edisi Revisi V). Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

———– (2008). Penyusunan skala psikologis. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

———— (2012). Penyusunan skala psikologi edisi 2. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Baron, R. A., & Byrne D. (2003). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Damayanti, E.S., & Purnamasari. A. (2011). Berpikir Positif dan Harga Diri Pada Wanita yang Mengalami Masa Menopause. Humanitas Vol. VIII, no 2, 145, 144-154.

Depdiknas (2002) Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.

Eha, F. (2011). Tips Memilih Jurusan di SMA. Available (Online) http://www.sekolahoke.com/2011/09/tips-memilih-jurusan-di-sma.html. (20 Februari 2013).

Erdyna, N. (2010). Pengembangan paket pelatihan asertivitas untuk meningkatkan harga diri siswa kelas XI-IS di SMA Negeri 3 Malang. Electronic Version]. Skripsi. Malang : Universitas Negeri Malang.

Ermanza, G. H. (2008). Hubungan Antara Harga Diri dan Citra Tubuh pada Remaja Putri yang Mengalami Obesitas dari Sosial Ekonomi Menengah Atas. [Electronic Version]. Skripsi. Jakarta : Universitas Indonesia.

Fahey, Insel, & Roth. (2005). Fit and Well, Sixth Edition. The McGraw-Hill Companies.

Farid, M., & Akhtar, M. (2013). Self Esteem of Secondary School Students in Pakistan. Journal of Scientific Research, Vol. 14, No. 10, hlm 1325-1330.

Fitriana, L. B. (2013). Hubungan Persepsi Pola Asuh dengan Harga Diri Remaja di SMAN 2 Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. [Electronic Version]. Jurnal Psikologi. Yogyakarta : Universitas Respati Yogyakarta.

Hadi, S. (2000). Statistik jilid 2. Jogjakarta: Andi.

Harsini, A. (2008). Self Esteem Pada Remaja. Psikovidya Vol. 12, no 2, 114, 112-118.

Kurdiana, Irna (2009). Perbedaan Self Esteem Antara Siswa SMA Negeri dan Siswa Swasta di Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Skripsi (tidak diterbitkan). Malang: BKP FIP Universitas Negeri Malang.

Lentera. (2011). Pengertian Sekolah : Sekolah Menengah Atas. Available (Online) http://lenterakecil.com/pengertian-sekolah/. (22 Februari 2013).

Muhidin, S. A & Abdurahman, M. (2007). Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian. Bandung : CV Pustaka Setia.

Novianty, N. (2005). Perbedaan Harga Diri Antara Remaja yang Tinggal dengan Orang Tua dengan Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan (Usia 15-18 Tahun). [Electronic Version]. Skripsi. Yogyakarta : Unika Atma Jaya.

Nugroho, D. R. (2010). Faktor-faktor yang Mendukung Self Esteem pada Mahasiswi yang Menjabat Ketua Umum Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana. Skripsi (tidak diterbitkan). Salatiga: Fpsi Universitas Kristen Satya Wacana.

Paskahandriati & Kuswardani. (2012). Hubungan Antara Harga Diri dan Prestasi Belajar Fisika Pada Siswa STM. [Electronic Version]. Jurnal Psikologi. Surakarta: Universitas Setia Budi.

Paul, J. C. (1993). Mengapa Rendah Diri?. Yogyakarta : Kanisius.

Prastowo, D. (2012). Harga Diri Siswa Kelas X E SMK PGRI 2 Salatiga dan Implikasinya Terhadap Penyusunan Program BK Pribadi. [Electronic Version]. Skripsi. Salatiga : Universitas Kristen Satya Wacana.

Pulubuhu, Y. P. (2011). Linguistik Terapan dan Pembelajaran Berbahasa. [Electronic Version]. Jurnal Psikologi. Gorontalo : Universitas Negeri Gorontalo.

Santrock, J. W. (2007). Remaja Edisi 11. Jakarta : Erlangga.

Setyawan, E. D. (2012). Perbedaan Self Esteem antara Jurusan IPA dan IPS di SMAN 1 Gedonglegi Kabupaten Malang. [Electronic Version]. Skripsi. Malang: Universitas Wisnuwardhana.

Sindhunata. (2000). Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita. Yogyakarta : Kanisius.

Sirnawati, M., (2006) Hubungan minat siswa kelas X SMA Negeri 2 Jekan Raya Palangkaraya Propinsi Kalimantan Tengah terhadap jurusan Bahasa dengan Prestasi Belajar pada pelajaran Bahasa Indonesia Tahun Pelajaran 2005/2006. Available (Online): http://re-searchengines.com/0606mega.html. (30 Maret 2013).

Sriati, A. (2008). Harga Diri Remaja. [Electronic Version]. Skripsi. Jatinagor : Universitas Padjadjaran.

Sugiarto. (2003). Teknik Sampling. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sulistyowati, W., & Warsito, H. (2010). Penerapan Konseling Realita untuk Meningkatkan  Harga Diri Siswa.  [Electronic Version]. Skripsi. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Suryabrata, S. (1984). Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Tania, R. (2011). Hubungan Persepsi Terhadap Peran Ayah dengan Harga Diri Remaja. [Electronic Version]. Skripsi. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Unwanullah, A. (2008). Evaluasi Program Penjurusan Siswa Menengah Atas di Kabupaten Tuban. [Electronic Version]. Skripsi.Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *