Bermain Peran adalah sebuah permainan yang para pemainnya memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama.

“Para pemain memilih aksi tokok-tokoh mereka berdasarkan karakteristik tokoh tersebut, dan keberhasilan aksi mereka tergantung dari sistem peraturan permainan yang telah ditentukan. Asal tetap mengikuti peraturan yang ditetapkan, para pemain bisa berimprovisasi membentuk arah dan hasil akhir permainan ini. [1]

Dalam bukunya, Wina Sanjaya mengatakan, bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasikam peristiwa sejarah, peristiwa aktual atau kejadian-kejadian penting lain yang mengandung unsur belajar.[2]

Hakekat Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.

Dalam pembelajaran dengan teknik bermain peran guru menerima peran non-interpersonal didalam kelas, lalu siswa menerima karakter, perasaan dan ide-ide siswa lainnya dalam situasi khusus dan tertentu. Pada umumnya siswa menyenangi penggunaan strategi inter-personal didalam kelas.[3] Permainan dalam situasi belajar sering pula disebut permainan drama, dimana siswa memainkan peran yang sesuai dengan pokok bahasan mata pelajaran tertentu di kelas.

Bermain peran merupakan metode mengajar yang dalam pelaksanaannya siswa harus memerankan satu atau beberapa peran tertentu, biasanya dalam suatu situasi sosial tertentu dengan maksud agar siswa bisa dan dapat melakukan peran tersebut. Bila guru menilai siswa belum melakukannya dengan baik maka guru dapat memberikan petunjuk ulang dan meminta kembali siswa lain untuk memerankannya. Begitulah seterusnya sampai peran dapat dimainkan oleh semua siswa.

Beberapa pengaruh permainan atau bermain bagi perkembangan anak dikemukakan oleh Elizabeth B. Hurlock adalah sebagai berikut:

  1. Perkembangan fisik, aktif bermain akan dapat mengembangkan otot-otot dan melatih seluruh bagian tubuh. Selain itu juga sebagai sarana penyaluran energi pada siswa yang bila tidak disalurkan dapat menyebabkan ketegangan, gelisah, marah dan lainnya.
  2. Dorongan berkomunikasi, dengan bermain anak belajar berkomunikasi dengan temannya dan memahami apa yang dikomunikasikan temannya.
  3. Menyalurkan energi terpendam, ketegangan dapat diatasi dengan bermain yang memberi kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya.
  4. Sumber belajar, bermain memberikan kesempatan pada siswa untuk mempelajari segala sesuatu yang dapat dijadikan pengalaman yang tidak di dapat dengan metode lain.
  5. Rangsangan bagi kreativitas, mereka dapat mengekspresikan diri dan merangsang kreativitas.
  6. Perkembangan wawasan diri, siswa dapat mengetahui kemampuan dirinyan sehingga dapat mengembangkan konsep diri.
  7. Belajar bermasyarakat, bersama teman-temannya mereka belajar untuk berhubungan sosial, dapat menghadapi masalah dan mengerti pemecahannya.

Oleh karena itu bermain merupakan dunia anak dan memberi manfaat bagi pengembangan potensi diri. Dalam bermain mereka mendapatkan kebebasan, harapan, kegembiraan, usaha, siasat atau strategi sehingga dapat mengembangkan kreativitas.

Demikian halnya dengan bermain peran, akan membuat siswa lebih meresapi dan menghayati suatu tingkah laku yang baik melalui ingatan yang diperoleh dari peniruan yang dirancang dalam skenario tertentu. Situasi suatu permasalahan diperagakan secara singkat dengan penekanan utama pada karakter atau sifat orang-orang yang diperankan. Kemudian diikuti dengan diskusi tentang masalah yang baru diperagakan. Oleh karena itu guru membantu siswa dalam menentukan situasi yang ingin diperagakan, mengatur para pelaku, pelaksanaan peragaan situasi, menghentikan peragaan pada saat klimaks, menganalisa dan membahas permainan serta mengevaluasi hasilnya.

Bermain peran bertujuan untuk memecahkan masalah melalui pemberian kesempatan untuk merasakan peranan orang lain.

Agar berhasil dengan efektif maka perlu mempertimbangkan langkah-langkah sebagai berikut: guru harus menerangkan pada siswa dalam rangka mengenalkan metode ini, bahwa dengan bermain peran siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial di masyarakat yang aktual ataupun menghayati sejarah perjuangan bangsa dimasa perang kemerdekaan. Siswa lainnya akan menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu pula. Guru harus dapat memilih situasi yang dapat menarik minat siswa dengan penjelasan yang menarik pula.

Agar siswa memahami peristiwanya maka guru harus bisa menceritakannya secara detil, sambil menjelaskan adegan pertama. Bila ada siswa yang bersedia menjadi pemeran berilah penjelasan tentang perannya agar sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Kepandaian bermimik dan berdialog akan membantu siswa lebih percaya diri dalam memerankannya. Siswa yang tidak turut berperan harus aktif memberikan saran dan kritik pada peran yang dimainkan teman-temannya.

Setelah mencapai situasi klimaks maka guru dapat menghentikannya agar kemungkinan pemecahannya dapat didiskusikan secara umum, sehingga para penonton ada kesempatan untuk berpendapat dan menilai permainan temannya.

Adapun langkah-langkah atau tatacara dalam pelaksanaan bermain peran harus memperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Persiapan, menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai, guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan diterapkan. Guru menetapkan pemain yang akan terlibat, peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran serta waktu yang disediakan. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat pada pemeranan.
  2. Pelaksanaan, simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran, para siswa lain diharapkan mengikuti dengan penuh perhatian. Guru hendaknya memberikan bantuan pada pemeran yang mendapat kesulitan. Simulasi dihentikan pada saat puncaknya, hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa berpikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
  3. Simulasi ditutup dengan melakukan diskusi baik tentang jalannya bermain peran maupun materi cerita yang disimulasikan. Guru memberikan motivasi pada siswa agar dapat memberi kritik dan tanggapan terhadap proses pelaksanaan simulasi bermain peran. Tahap terakhir adalah merumuskan kesimpulan.

Namun dalam teknik bermain peran juga terdapat kelebihan dan kekurangannya. Adapun kelebihannya yaitu:

  • Simulasi bermain peran dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun lingkungan lainnya.
  • Bermain peran dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.
  • Bermain peran dapat memupuk keberanian dan kepercayaan diri sendiri.
  • Memperkaya pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagi situasi sosial yang problematik.
  • Bermain peran dapat meningkatkan minat siswa dalam proses pembelajaran.

Disamping itu terdapat kelemahan antara lain:

  • Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi bermain peran tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan dilapangan.
  • Pengelolaan yang kurang baik menyebabkan bermain peran hanya menjadi alat hiburan sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
  • Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.[4]

Setelah menjabarkan beberapa pendapat, dengan menggunakan teknik bermain peran:

  • Siswa lebih nyaman dalam belajar
  • Siswa dapat mengembangkan kreatifitas dan wawasan diri
  • Siswa dapat menguasai naskah dengan baik
  • Dengan memerankan tokoh pahlawan, siswa lebih menjiwai, menghayati peran.

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Permainan_peran, 27 September 2012.

[2] Wina Sanjaya, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), h. 161

[3] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003),  h. 214

[4] Ibid, h. 160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *