BAB XXVII
GANGGUAN SISTEM SALURAN PERNAFASAN

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka anda sudah akan dapat :
1. Mengetahui patogenesis penyakit saluran pernafasan
1.1. Menceritakan kembali perubahan anatomik fisiologik sistem pernafasan
1.2. Menyebutkan faktor-faktor yang memperburuk fungsi paru
2. Mengetahui penyakit paru-paru pada lanjut usia
2.1. Menyebutkan berbagai penyebab penyakit paru pada lanjut usia
2.2. Menyebutkan berbagai gejala klinik penyakit paru pada lanjut usia
2.3. Menyebutkan berbagai pengobatan penyakit paru pada lanjut usia

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah akan dapat :
1. Mendeteksi secara dini penyakit paru pada lanjut usia
1.1. Mengenal gejala klinik penyakit paru pada lanjut usia
1.2. Membuat diagnosa penyakit paru pada lanjut usia dengan cepat dan tepat
2. Memberikan penanganan terbaik terhadap penyakit paru pada lanjut usia
2.1. Memberikan terapi yang efektif terhadap penyakit paru pada lanjut usia
2.2. Mencegah perburukan penyakit paru pada lanjut usia

I. Pendahuluan
Penyakit pada paru-paru semakin sering dijumpai pada lanjut usia. Hal ini berhubungan dengan perubahan fisiologis paru, kurangnya kemampuan tubuh dalam melawan infeksi, dan lingkungan yang berpolusi. Penyakit paru merupakan penyebab utama kematian pada lanjut usia, dimana hal ini membutuhkan para tenaga medis yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah ini.
Dengan bertambahnya umur, terjadi kemunduran dari fungsi paru, ditambah dengan faktor-faktor lingkungan, serta faktor kekebalan tubuh yang menurun; membuat perubahan homeostasis normal, kemudian dapat menjadi homeostasis abnormal sampai dengan kematian sel. Salah satu yang terkena pada manusia adalah sistem pernapasan.
Pada lanjut usia, perubahan-perubahan itu dapat timbul menjadi gangguan atau penyakit pada sistem pernapasan. Penyakit tersebut bisa diakibatkan dari: kelanjutan penyakit yang diderita sejak usia muda; akibat gejala sisa penyakit yang pernah diderita; penyakit akibat kebiasaan buruk di masa lalu (merokok); dan penyakit yang mudah menyerang lanjut usia. Pada referat ini akan dikemukakan mengenai gangguan sistem pernapasan pada lanjut usia, meliputi aspek fisiologik, aspek epidemiologik, dan aspek klinik.

II. Patogenesis Penyakit Paru-Paru Pada Lanjut Usia
Timbulnya penyakit yang menyertai lanjut usia dapat dijelaskan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia, yaitu :
1. Perubahan anatomik fisiologik
Dengan adanya perubahan anatomik-fisiologik sistem pernapasan, ditambah adanya faktor-faktor lainnya, dapat memudahkan timbulnya beberapa macam penyakit paru: bronkitis kronis, emfisema paru, PPOK, Tuberkulosis paru, kanker paru, dan lain-lain.
2. Perubahan daya tahan tubuh
Pada lanjut usia penurunan daya tahan tubuh terjadi karena melemahnya fungsi limfosit B dan T, sehingga penderita rentan terhadap kuman-kuman patogen, virus, protozoa, bakteri, atau jamur.
3. Perubahan metabolik tubuh
Perubahan metabolik tubuh, juga dapat mempengaruhi paru-paru. Penyebab tersering adalah penyakit sistemik: diabetes mellitus, uremia, rheumatoid artritis, dan sebagainya. Faktor usia peranannya tidak jelas, tetapi lamanya menderita penyakit sistemik mempunyai andil untuk timbulnya kelainan paru.
4. Perubahan respons terhadap obat
Penggunaan obat-obat tertentu akan memberikan respon atau perubahan pada paru dan saluran napas, yang mungkin tidak terdapat pada usia muda. Contoh: penyakit paru akibat idiosinkrasi terhadap obat yang sedang digunakan dalam pengobatan penyakit yang sedang dideritanya, dimana kejadian ini jarang terjadi pada usia muda.
5. Perubahan degeneratif
Perubahan ini tidak dapat dihindari pada individu yang mengalami proses proses menua. Penyakit paru yang timbul akibat proses degeneratif tersebut adalah: bronkitis kronis, emfisema paru, PPOK, karsinoma paru, dan sebagainya.
6. Perubahan atau kejadian lainnya
Pengaruh-pengaruh yang memudahkan timbulnya penyakit paru-paru tertentu pada lanjut usia, misalnya:
a. Kebiasaan merokok di masa lalu dan sekarang
Kebiasaan merokok yang berlangsung lama dapat menimbulkan perubahan-perubahan struktur pada saluran napas, juga dapat menurunkan fungsi sistem pertahanan tubuh yang diperankan oleh paru-paru dan saluran napas, sehingga memudahkan timbulnya infeksi pada paru dan saluran napas. Merokok, dapat pula menimbulkan keganasan paru, PPOK, bronkitis kronis, dan sebagainya.
b. Pengaruh karena kekurangan gizi
Penurunan daya tahan tubuh pada lanjut usia terutama pada respons imun seluler. Ini merupakan konsekuensi lanjut atas terjadinya involusi kelenjar timus pada lanjut usia. Proses involusi kelenjar timus menyebabkan jumlah hormon timus yang beredar dalam peredaran darah menurun, berakibat proses pematangan limfosit T berkurang. Imunitas humoral pada lanjut usia juga mengalami perubahan, yaitu peninggian kadar Ig A dan Ig G, sedangkan Ig M menurun.

III. Perubahan Anatomik Fisiologik Sistem Pernafasan Lanjut Usia
Perubahan fisiologik sistem pernapasan pada lanjut usia, merupakan suatu bagian dari proses menua yang normal. Hal ini merupakan suatu proses kehidupan yang ditandai dengan menurunnya kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap stress atau pengaruh lingkungan.
Untuk dapat mengatakan suatu kemunduran fungsi tubuh disebabkan suatu penyakit yang menyertai proses menua, ada 4 kriteria yang harus dipenuhi :
1. Kemunduran fungsi dan kemampuan tubuh tadi harus bersifat universal, artinya umum terjadi pada setiap orang.
2. Proses menua disebabkan oleh faktor intrinsik, yang berarti perubahan fungsi sel dan jaringan disebabkan oleh penyimpangan yang terjadi di dalam sel dan bukan oleh faktor dari luar.
3. Proses menua terjadi secara progresif, berkelanjutan, berangsur lambat dan tidak dapat kembali seperti semula.
4. Proses menua bersifat proses kerusakan atau kemunduran.

Pada lanjut usia terjadi perubahan anatomik yang mengenai hampir seluruh susunan anatomik tubuh, dan perubahan fungsi sel, jaringan atau organ yang bersangkutan.
Perubahan fungsi fisiologik paru selama proses menua kemungkinan disebabkan oleh perubahan gaya hidup daripada perubahan fungsi berbagai organ. Inhalasi asap rokok atau polusi industri yang berlangsung dalam jangka waktu lama dapat mempercepat perubahan jaringan yang berhubungan dengan fungsi paru pada lanjut usia :

1. Perubahan anatomik sistem pernapasan
a. Dinding dada: tulang-tulang mengalami osteoporosis, tulang-tulang rawan mengalami osifikasi, terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relatif mengecil dan volume rongga dada mengecil.
b. Otot-otot pernapasan: mengalami kelemahan akibat atrofi, sehingga menurunkan inspirasi maksimal dan ekspirasi maksimal.
c. Saluran napas: akibat kelemahan otot, berkurangnya jaringan elastis bronkus dan alveoli menyebabkan lumen bronkus mengecil. Cincin-cincin tulang rawan bronkus mengalami pengapuran.
d. Struktur jaringan parenkim paru: bronkiolus, duktus alveolaris dan alveolus membesar secara progresif, terjadi emfisema senilis. Struktur kolagen dan elastin dinding saluran napas perifer kualitasnya berkurang sehingga menyebabkan elastisitas jaringan parenkim paru berkurang. Penurunan elastisitas jaringan parenkim paru pada lanjut usia dapat karena menurunnya tegangan permukaan akibat pengurangan daerah permukaan alveolus.

2. Perubahan fisiologik sistem pernapasan
a. Gerak pernapasan: adanya perubahan bentuk, ukuran dada, maupun volume rongga dada akan merubah mekanika pernapasan, amplitudo pernapasan menjadi dangkal, dan timbul keluhan sesak napas. Kelemahan otot pernapasan menimbulkan penurunan gerakan paru-paru untuk bernapas, apalagi jika terdapat deformitas rangka dada akibat proses menua.
b. Distribusi gas: perubahan struktur anatomik saluran napas akan menimbulkan penumpukan udara dalam alveolus (air-trapping) ataupun gangguan distribusi udara dalam cabang-cabang bronkus. Aliran udara intra-parenkim berkurang, dan pertukaran udara alveolus berkurang sehingga tekanan saturasi oksigen berkurang.
c. Volume dan kapasitas paru menurun: hal ini disebabkan karena beberapa faktor yaitu kelemahan otot napas, elastisitas jaringan parenkim paru menurun, resistensi saluran napas yang menurun sedikit. Secara umum dikatakan bahwa pada lanjut usia terdapat pengurangan ventilasi paru.
d. Gangguan transpor gas: pada lanjut usia terjadi penurunan PaO2 secara bertahap, yang disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. Selain itu diketahui bahwa pengambilan O2 oleh darah dari alveoli dan transpor O2 ke jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olahraga. Penurunan pengambilan O2 maksimal disebabkan antara lain oleh berbagai perubahan pada jaringan paru yang menghambat difusi gas dan karena berkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnya curah jantung.

Tes fungsi paru-paru standar menunjukkan perubahan sebagai berikut :
a. Volume ekspirasi paksa dalam detik pertama (FEV1/FVC) menurun seiring bertambahnya usia (pada usia diatas 70 tahun FEV1/FVC 65% dari normal).
b. Ventilasi maksimal, menurun sekitar 1% per tahun antara usia 30 dan 70 tahun
c. Kapasitas difusi CO2 berkurang 0,20 – 0,30 ml/menit/mmHg/tahun; perubahan ini mungkin berkaitan dengan hubungan antara usia dengan penurunan luas permukaan kapiler paru
d. Penurunan FEV1 pada orang yang tidak merokok ±30 ml/tahun dan penurunan FVC ±20 ml/tahun dimulai pada usia 30 tahun
e. Kapasitas paru total tidak dipengaruhi oleh usia.

Tabel : Perubahan fungsi paru berhubungan dengan usia

Fungsi Perubahan Akibatnya
Komplians rongga toraks menurun Peningkatan kerja pernapasan, peningkatan volume residual, peningkatan diameter anteroposterior dinding toraks
Volume akhir meningkat penurunan rasio ventilasi-perfusi pada paru yang terlibat, pelebaran gradien O2 alveolar-arterial
FEV1 menurun menurunnya rasio FEV1/FVC
Ventilasi volunter maksimum menurun penurunan respon yang nyata terhadap hipoksia dan hiperkapnia
Kapasitas difusi CO2 menurun peningkatan transport O2 dan CO2 yang nyata
Respon pusat pernapasan terhadap hipoksia dan hiperkapnia menurun peningkatan sensitivitas terhadap hipoksia dan hiperkapnia

 Kontrol pernapasan dan tidur
Terjadi penurunan respon ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapnia ± 50% pada usia di atas 65 tahun dibandingkan dengan usia 20 tahun. Kemampuan untuk mengetahui peningkatan elastisitas dan muatan restriktif juga menurun. Efisiensi tidur pada lanjut usia menurun. Hal ini mungkin berhubungan dengan peningkatan obstruksi pusat apnea, umumnya pada fase I dan II tidur (sekunder terhadap penurunan respon ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapnia), yang menyebabkan peningkatan periode terjaga di malam hari. Jumlah waktu yang dihabiskan dalam satu gelombang tidur juga menurun dengan bertambahnya usia.

 Olahraga dan kondisi tubuh
Konsumsi oksigen maksimum menurun sejajar dengan usia ± 0,4 ml/kg/menit/tahun. Hal ini terutama berhubungan dengan perubahan kondisi tubuh dan perubahan pada sistem kardiovaskuler (penurunan detak jantung dan stroke volume). Konsumsi oksigen dapat ditingkatkan dengan melakukan olahraga atau latihan fisik yang teratur.
 Sleep Apnea
Sleep apnea atau sering disebut dengan obstructive sleep apnea syndrome (OSAS), merupakan gangguan tidur yang banyak diderita oleh masyarakat. Ciri khasnya adalah adanya obstruksi berulang saluran napas bagian atas yang mengarah pada desaturasi oksihemoglobin, rangsangan berulang dan gangguan tidur. Sleep apnea berhubungan dengan adanya penurunan aktivitas otot dilatator saluran napas bagian atas dan daerah sekitar faring.
Gejala sleep apnea berupa: mengorok kuat dan tidak teratur, seringkali megap-megap karena kehabisan napas; denyut jantung menjadi tidak teratur; adanya gerakan tubuh yang tiba-tiba sebelum penderita bisa bernapas kembali; dan banyak berkeringat ketika tidur.
Sedangkan sewaktu tidak tidur gejalanya adalah: mengantuk dan lelah yang berlebihan di siang hari; insomnia; berat badan bertambah dengan cepat, bahkan sampai mengalami obesitas; ketika bangun tidur, penderita merasa bingung atau ingatannya hilang sebentar; sakit kepala yang tidak jelas sebabnya pada pagi hari; tekanan darah tinggi; impotensi; dan perubahan tingkah laku.
Untuk mendiagnosis OSAS biasanya dilakukan di laboratorium tidur, menggunakan metode retrospektif dengan Polysomnogram yang meliputi monitoring aliran dan usaha pernapasan, saturasi oksihemoglobin, EEG, EMG, ECG dan posisi tubuh yang dilakukan semalam penuh.
Terapi yang sekarang digunakan adalah dengan menggunakan tekanan positif pada saluran napas yang terus menerus (CPAP: Continuous Positive Airway Pressure) dengan memasang masker melalui hidung untuk mencegah kolapsnya saluran napas bagian atas. Jumlah tekanan yang diberikan ditentukan setelah didiagnosis dalam laboratorium tidur dan dipertahankan tetap sepanjang malam.
Perkembangan sarana terapi (auto-CPAP) yang diadaptasi dari level CPAP saluran napas bagian atas, memerlukan deteksi terhadap tanda awal adanya obstruksi saluran napas. Contoh: prediksi obstruksi apnea, umumnya sarana auto CPAP yang tersedia cenderung menunjukkan adanya obstruksi faring yang berbahaya, yang ditandai dengan mendengkur, perubahan kurva aliran inspirasi atau perubahan modulus dari accustical respiratory input impedance.

IV. Faktor-Faktor yang Memperburuk Fungsi Paru-Paru
Selain penurunan fungsi paru akibat proses proses menua, terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk fungsi paru (Silverman dan Speizer, 1996; Tim Pneumobil Indonesia, 1994). Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Merokok
Merokok akan memperburuk fungsi paru karena mengakibatkan penyempitan saluran napas. Pada tingkat awal, saluran napas akan mengalami obstruksi dan terjadi penurunan nilai VEP1 yang besarnya tergantung pada beratnya penyakit paru tadi. Pada tingkat lanjut, dapat terjadi obstruksi yang irreversibel, timbul penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
2. Obesitas
Pada obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak pada leher, dada, dan dinding perut, akan dapat mengganggu komplians dinding dada, berakibat penurunan volume paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernapasan dan timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif.
3. Imobilitas
Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital paksa atau volume paru akan relatif berkurang. Imobilitas karena kelelahan otot-otot pernapasan pada lanjut usia dapat memperburuk fungsi paru-paru. Faktor lain yang menimbulkan imobilitas paru-paru misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru, dan lain-lain.
4. Operasi
Tidak semua pembedahan mempengaruhi faal paru. Tindakan pembedahan yang dapat mempengaruhi adalah: pembedahan toraks (jantung dan paru); pembedahan abdomen bagian atas; dan anestesi atau jenis obat anestesi tertentu. Perubahan fungsi paru yang timbul meliputi perubahan proses ventilasi, distribusi gas, difusi gas, serta perfusi darah kapiler paru. Adanya perubahan patofisiologik paru pasca bedah mudah menimbulkan komplikasi paru: atelektasis, infeksi, atau sepsis, sampai dengan kematian karena gagal napas.

V. Penyakit Paru-Paru Yang Sering Pada Lanjut Usia
Beberapa penyakit paru yang menyertai orang lanjut usia, terdapat 5 macam yang penting, yaitu: pneumonia, tuberkulosis paru, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma (sudah tidak digolongkan dalam PPOK), dan karsinoma paru.

A. PNEUMONIA
Insidens
Timbulnya infeksi saluran napas khususnya pneumonia cukup banyak pada lanjut usia. Kejadian pneumonia pada lanjut usia tergantung pada: daya tahan tubuh penderita yang melemah, lingkungan dimana mereka berada, dan virulensi kuman penyebabnya. Secara epidemiologi, pneumonia pada lanjut usia dibedakan menjadi pneumonia komunitas dan pneumonia nosokomial. Insidensi pneumonia komunitas pada lanjut usia sekitar 6,8-11,4%.
Angka kematian lanjut usia karena pneumonia cukup tinggi ± 40%. Penyebabnya karena pneumonianya sendiri; disertai penyakit lain, atau pada kenyataannya penderita pada usia lanjut lebih sulit diobati. Penyakit yang sering menyertai pneumonia sehingga lebih sering menyebabkan kematian, misalnya diabetes mellitus, gagal jantung kronik, penyakit-penyakit vaskuler, PPOK, dan lain-lain.

Etiologi
Etiologi pneumonia pada lanjut usia bermacam-macam, yang paling sering penyebabnya adalah kombinasi beberapa kuman. Pneumonia komunitas tersering disebabkan oleh kuman Streptococcus pneumoniae. Pneumonia nosokomial sering disebabkan melalui pemasangan alat-alat, seperti endotracheal tube, mencapai 10-70%, terutama disebabkan oleh kuman gram negatif. Pneumonia aspriasi juga sering terjadi pada lanjut usia, terjadi pada penderita yang mengalami bed rest atau penurunan kesadaran. Kuman penyebab pneumonia aspirasi sukar diketahui, tetapi 87% kasus yang terdeteksi adalah kuman aerob pada aspirasinya.

Gejala Klinik
Gejala klinik penderita pneumonia pada lanjut usia sering tidak menunjukkan gambaran yang nyata. Pada lanjut usia, apabila menderita infeksi akut awitan, berlangsung pelan-pelan, tidak mendadak seperti pada usia muda. Keluhan utamanya adalah demam ringan, batuk dengan produksi sputum pada 60% kasus. Pada 30% kasus, keluhan permulaan penyakit hanya berupa kelemahan dan anoreksia, tanpa demam yang nyata. Hal itu disebabkan oleh menurunnya reaktivitas fisik lanjut usia dan biasanya karena adanya dehidrasi. Umumnya, penderita waktu masuk rumah sakit demam ringan, sesudah mendapat rehidrasi di rumah sakit, tekanan darahnya menjadi normal, baru muncul demam. Penurunan kesadaran dilaporkan terjadi pada 20% kasus, distensi abdomen 5% kasus, tanda dehidrasi pada 50% kasus. Penurunan kesadaran tersebut tidak ada korelasi dengan perubahan tekanan darah, tetapi dikorelasikan dengan kondisi dehidrasi yang ada.
Kelainan fisik yang lazim ditemukan pada penderita pneumonia, misalnya perkusi redup/pekak pada daerah paru yang terkena, ronki basah, suara napas bronkial, whispered pectoriloquy jarang ditemukan, hal ini mungkin berkaitan dengan adanya pemanjangan diameter antero-posterior dada pada lanjut usia. Frekuensi pernapasan ≥ 24 kali/ menit merupakan hal yang bermakna bagi adanya pneumonia pada lanjut usia. Pneumonia pada lanjut usia dapat disertai syok septik dengan gejala kelelahan, anoreksia, dan penurunan kesadaran.
Pemeriksaan laboratorium pada sebagian besar kasus menunjukkan jumlah leukosit normal atau sedikit meninggi, kadang leukositosis. Pada hitung jenis terdapat tanda “shift to the left” dan dapat dipakai sebagai petunjuk diagnostik adanya infeksi akut yang penting. Kelainan lain yang ditemukan adalah peningkatan ureum darah (pada 30% kasus), peningkatan ringan serum transaminase (20% kasus), peningkatan kreatinin dan dapat ditemukan hiponatremia dan hipofosfatemia. Pada pneumonia lanjut usia, penurunan PaO2 lebih besar dibanding pada pneumonia usia muda. Hal ini terjadi karena proses proses menua, terdapat penambahan perfusi darah ke lobus paru, sehingga memudahkan terjadinya gagal napas.

Gambaran radiologik pneumonia lanjut usia, bila jelas akan tampak gambaran infiltrat paru. Kadang sulit menilai gambaran foto toraks pada pneumonia lanjut usia, terutama apabila terdapat dehidrasi, sehingga infiltrat belum terlihat dalam waktu 24-48 jam pertama perawatan. Pada pneumonia yang dini atau oleh gram negatif, foto toraks kadang tampak normal.

Komplikasi
– Efusi pleura dan empiema, terjadi pada sekitar 45% kasus
– Komplikasi sistemik, dapat terjadi karena invasi kuman atau bakteriemia. Dapat juga terjadi dehidrasi dan hiponatremi, anemia pada infeksi kronik.
– Hipoksemia akibat gangguan difusi.
– Pneumonia kronik dapat terjadi bila pneumonia berlangsung lebih dari 4-6minggu
– Bronkiektasis, biasanya terjadi karena pneumonia pada masa anak-anak atau karena infeksi berulang di lokasi bronkus distal.

Diagnosis
Diagnosis pneumonia pada lanjut usia ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Kadang sulit dilakukan karena gambaran klinik dan pemeriksan penunjang hasilnya memberi gambaran tidak khas. Adanya frekuensi pernapasan ≥ 24 x/ menit, terutama apabila disertai demam, kelemahan atau anoreksia pada seseorang lanjut usia merupakan petunjuk cukup bermakna dalam mendiagnosis pneumonia pada usia lanjut.
Diagnosis banding pneumonia yang perlu dipikirkan adalah: gagal jantung, emboli paru, sindroma kegawatan napas orang dewasa, pneumonia aspirasi cairan lambung, keganasan paru, pneumonitis radiasi dan reaksi hipersensitivitas terhadap obat.

Pengobatan
Pengobatan pneumonia dilakukan dengan pemberian kemoterapi dan pengobatan umum (terapi oksigen, terapi cairan, dan fisioterapi). Tujuan pemberian kemoterapi adalah untuk membasmi kuman penyebab pneumonia. Pemberian kemoterapi adalah untuk mematikan kuman penyebab pneumonia. Jika penyakit penderita sangat serius, pemberian antibiotik dilakukan secara empirik, didasarkan atas diagnosis mikrobiologi empirik. Dengan cara ini dapat dipilih antibiotik yang tepat dan rasional. Bila penyakit ringan atau sedang, antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat, diberikan secara parenteral. Pengobatan umumnya diberikan selama 7-10 hari pada kasus tanpa komplikasi, atau antibiotik diteruskan sampai 3 hari bebas panas. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal, maka diperlukan penyesuaian dosis antibiotik.
Hidrasi penderita harus diperhatikan. Pada penyakit ringan, rehidrasi dilakukan secara oral, sedangkan pada penyakit berat, rehidrasi dilakukan secara parenteral dengan larutan elektrolit.
Pemberian fisioterapi perlu diberikan pada penderita pneumonia lanjut usia. Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari timbulnya pneumonia hipostatik, kelemahan dan dekubitus.

Prognosis
Prognosis penderita pneumonia umumnya baik. Faktor penentu prognosis penderita bergantung pada hal-hal di luar paru, terutama tingginya derajat dehidrasi dan gangguan faal ginjal. Prognosis jelek bila didapat adanya komplikasi kardio pulmonal, gangguan kesadaran, peninggian kadar ureum darah, gambaran abnormal pada foto thoraks.

B. TUBERKULOSIS PARU
Tuberkulosis paru pada lanjut usia sering tidak diperhatikan karena keluhan, gejala klinik, maupun gambaran radiologik tidak khas.
Insidens
Insidensi penyakit tuberkulosis paru-paru pada lanjut usia cukup tinggi, sekitar 25,2 %.

Etiologi
Penyebab infeksi tuberkulosis ialah kuman tahan asam, Mycobacterium tuberculosis. Umumnya infeksinya merupakan reaktivasi fokus dormant yang terjadi puluhan tahun sebelumnya.

Gambaran Klinik
Gambaran klinik tuberkulosis paru pada lanjut usia sering memberikan gambaran tidak khas. Penderita mungkin tampak menderita pneumonia atau bronkitis kronik dengan respons yang kurang baik terhadap antibiotika.
Gejala tersering yang dikeluhkan penderita tuberkulosis lanjut usia adalah: sesak napas, penurunan berat badan dan gangguan mental. Penderita tuberkulosis paru lanjut usia jarang datang dengan keluhan hemoptisis, ataupun gejala klasik lainnya seperti pada penderita usia muda, seperti demam, batuk-batuk produktif, dan keringat malam.
Jika tuberkulosis yang timbul berasal dari reaktivasi dari fokus infeksi sebelumnya, daerah paru-paru yang paling sering terserang adalah daerah apeks paru, atau dengan penyebaran ke daerah lain. Pada tuberkulosis lanjut usia ini, sering terdengar ronki basah di daerah basal paru, terutama lobus kanan bawah.
Gambaran radiologik klasik yang ditemui adalah gambaran infiltrat, fibrosis, kalsifikasi, kavitas, efusi pleura, pneumotoraks, atau bercak-bercak milier. Kadang tuberkulosis paru pada usia lanjut menyerupai karsinoma paru, terutama apabila timbul infiltrat di hilus atau parahiler, sehingga tampak seperti massa.
Penegakan diagnosis sering mengalami kesulitan karena keluhan dan kelainan fisik yang sering tidak jelas. Diagnosis pasti dengan ditemukannya kuman BTA pada sputum, dengan pulasan langsung atau kultur, hal ini sulit dipenuhi karena sputum pada lanjut usia sangat sedikit atau sulit mengeluarkan sputum. Maka dapat dilakukan perangsangan dengan pemberian NaCl lewat nebulizer atau cara lainnya.

Klasifikasi Diagnostik TB
1. TB paru
– BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks menyokong TB, dan gejala klinis sesuai TB.
– BTA mikroskopis langsung atau biakan (-), tetapi kelainan rongent dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal TB (initial Therapy). Pasien ini memerlukan pengobatan yang adekuat.
2. TB paru tersangka
Diagnosis pada tahap ini bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan ). Pasien dengan BTA mikroskopis (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap, tetapi kelainan rongent dan klinis sesuai TB paru. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai.
3. Bekas TB (tidak sakit )
Ada riwayat TB pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan gambaran rongent normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan sputum BTA (-). Kelompok ini tidak perlu diobati.
Cara lain untuk menentukan diagnosis :
– Laboratorium darah rutin ( LED normal atau meningkat , limfositosis )
– Foto toraks PA dan leteral.
– Pemeriksaan sputum BTA
– Test PAP ( peroksidase anti peroksidase )
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.
– Tes Mantoux / Tuberkulin
– Teknik Polymerase Chain Reaction
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam spesimen. Juga dapat mendeteksi adanya resistensi.
– Becton Dickinson Diagnostic Instrument System ( BACTEC )
Deteksi growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak oleh M.Tuberculosis.
– Enzyme Linked Immunosorbent Assay
Deteksi respons humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Pelaksanaannya rumit dan antibodi dapat menetap dalam waktu lama sehingga menimbulkan masalah.
– MYCODOT
Deteksi antibodi memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan pada suatu alat berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicelupkan dalam serum pasien. Bila terdapat antibodi spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir akan berubah.

Pengobatan
Pada penderita lanjut usia, penyakit cenderung mengenai banyak organ, maka pengobatan sebaiknya secara holistik. Hal ini untuk menghindari adanya efek samping obat, keracunan obat karena adanya interaksi obat yang diberikan bersama-sama.
Obat anti tuberkulosis yang biasa diberikan pada penderita lanjut usia adalah INH, rifampicin, dan etambutol. Streptomisin hanya dipakai apabila ada halangan menggunakan obat-obatan lain, karena efek sampingnya ototoksik dan nefrotoksik.
Tindakan rehabilitasi perlu diberikan pada penderita mengingat gangguan fungsi paru pada penderita. Latihan fisik juga diperlukan untuk menguatkan otot-otot pernapasan, melatih cara batuk yang efektif dan sebagainya perlu dijelaskan pada penderita.
Terapi tuberkulosis menurut WHO tahun 2003 :
• Kategori 1: BTA (+) kasus baru atau BTA (-) lesi luas/ extra pulmo
– isoniazid + rifampicin + ethambutol (or streptomycin) 2 bulan
– isoniazid + rifampicin 4 bulan, (isoniazid+ethambutol) 6 bulan
• Kategori 2: BTA (+), relaps, putus obat, gagal obat
– isoniazid + rifampicin + pirazinamid + ethambutol + streptomycin 2 bulan
– isoniazid + rifampicin + pirazinamid + ethambutol 1 bulan
– isoniazid + rifampicin + ethambutol 5 bulan
• Kategori 3: BTA (-), lesi minimal
– isoniazid + rifampicin + pirazinamid + ethambutol 2 bulan
– isoniazid + rifampicin 4 bulan (isoniazid + ethambutol) 6 bulan
• Kategori 4: kronik BTA (+)
– setelah mendapat pengobatan adekuat dan resisten terhadap multi drug treatment
– beri obat yang sensitif atau individual (isoniazid saja bila keuangan tidak memungkinkan

C. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
Definisi PPOK adalah suatu kelainan paru dengan adanya perlambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel, yang bersifat progresif dan berkaitan dengan respons inflamasi yang abnormal terhadap partikel gas atau iritan. Yang termasuk dalam kelompok PPOK adalah bronkitis kronis, emfisema paru dan penyakit saluran napas perifer.

Insidens
Belum banyak dijumpai insidens PPOK pada lanjut usia.

Etiologi
Etiologi penyakit ini belum diketahui. Timbulnya dikaitkan dengan faktor resiko yang terdapat pada penderita, antara lain merokok yang berlangsung lama, polusi udara, infeksi paru berulang, umur, jenis kelamin, ras, dan lain sebagainya. Pengaruh dari masing-masing faktor resiko terhadap terjadinya PPOK saling memperkuat, dan faktor merokok dianggap paling dominan.

Patofisiologi
PPOK ditandai suatu inflamasi kronis pada saluran napas, parenkim paru dan jaringan vaskular paru. Tingkat inflamasi ini bervariasi sehubungan dengan progresivitas penyakit. Akibat kerusakan yang timbul, akan terjadi obstruksi bronkus kecil (bronkiolus terminal), yang mengalami penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara pada saat inspirasi mudah masuk ke dalam alveoli, saat ekspirasi banyak yang terjebak dalam alveolus dan terjadilah penumpukan udara (air trapping). Hal ini menyebabkan keluhan sesak napas. Adanya obstruksi dini saat awal ekspirasi akan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi. Fungsi-fungsi paru: ventilasi, distribusi gas, maupun perfusi darah akan mengalami gangguan.

Gambaran Klinik
Gambaran klinik yang ditemukan adalah gambaran penyakit paru yang mendasari tanda-tanda klinik akibat terjadinya obstruksi bronkus. Bila diamati dengan cermat akan mengarah pada dua tipe: (1) mempunyai gambaran klinik dominan ke arah bronkitis kronik (Blue bloater type); dan (2) gambaran klinik dominan ke arah emfisema (Pink puffer type).

Tabel : Perbedaan Pink puffer dan Blue bloaters

Gambaran Pink puffer
( emfisematous ) Blue Bloaters
( bronkitis )
Awitan 30-40 tahun 20 tahunan akibat merokok
Usia saat di diagnosis > 60 th > 50 th
Sebab Tak diketahui
Predisposisi genetik
Merokok/polusi udara Tak diketahui
Cuaca
Merokok/polusi udara
Sputum Sedikit Banyak sekali
Dispneu Relatif dini Relatif lambat
Bentuk tubuh Kurus dan ramping Gizi cukup
Diameter AP dada Sering bentuk tong Tidak bertambah
Patologi anatomi paru Emfisema panlobar Emfisema sentrilobar
Pola pernapasan Hiperventilasi dan dispneu yang jelas dapat timbul sewaktu istirahat Hilangnya dorongan pernapasan. Sering terjadi hipoventilasi, berakibat hipoksia dan hiperkapnea.
Pa CO2 35-40 mmHg 50-60 mmHg
Pa O2 65-75 mmHg 45-60 mmHg
Hematokrit 35-45% 50-55%
Polisitemia Hb dan Ht normal Hb dan Ht meningkat
Sianosis Jarang Sering
Kor pulmonale Jarang,kecuali tahap akhir Sering, disertai banyak serangan

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis ditemukan keluhan kelemahan badan, batuk, sesak napas, napas berbunyi, mengi atau wheezing. Anamnesa dilakukan secara teliti, karena perjalanan penyakitnya lambat. Pada pemeriksaan fisik, penderita dengan tingkat penyakit masih awal tidak menunjukkan kelainan. Tanda yang perlu diperhatikan adalah ekspirasi memanjang, bentuk dada seperti tong, penggunaan otot-otot untuk membantu bernapas, kadang ditemukan pernapasan paradoksal. Dapat juga ditemukan edema kaki, asites, dan jari tabuh.
Pemeriksaan faal paru merupakan pemeriksaan penunjang penting. Pasien yang mempunyai gejala batuk kronik dengan sputum produktif serta adanya riwayat terpapar faktor resiko, hendaknya dilakukan pemeriksaan dengan spirometer, uji hambatan aliran udara pernapasan. Untuk diagnosis dan penilaian PPOK, pada spirometri dengan rasio FEV1/FVC <70% dan adanya FEV1<80%. Pengukuran FEV1 merupakan pemeriksaan standar dan akurat untuk melihat beratnya obstruksi saluran napas.

Pengobatan
Terapi untuk PPOK harus diperhatikan faktor-faktor yang dapat memperburuk perjalanan penyakit. Jika ada, hendaknya disingkirkan atau dikurangi. Faktor tersebut adalah merokok, polusi udara dan lingkungan, infeksi, dan penyakit di luar paru misalnya sinusitis, faringitis, dan sebagainya.
Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah memperbaiki fungsi paru. Umumnya digunakan obat-obatan: bronkodilator, kombinasi bronkodilator terapi, atau kortikosteroid. Apabila terdapat infeksi, perlu diberikan antimikroba. Jika pasien memerlukan oksigen maka diberikan dengan aliran lambat: 1-2 liter/menit.
Rehabilitasi terhadap penderita meliputi :
1. Fisioterapi, untuk membantu pengeluaran sekret bronkus
2. Latihan pernapasan
3. Latihan olahraga untuk memulihkan kesegaran jasmaninya
4. Pengelolaan psikososial untuk penyesuaian diri penderita dengan penyakit yang dideritanya

D. ASMA
Asma adalah suatu penyakit inflamasi kronik pada saluran napas, adanya obstruksi saluran pernapasan yang reversibel secara spontan atau dengan terapi, berhubungan dengan peningkatan respon (hiper reaktivitas) dari saluran pernapasan terhadap faktor stimulus. Obstruksi jalan napas yang reversibel pada asma dapat terjadi setelah paparan terhadap iritan bronkus, stimulus kolinergik, udara dingin, atau olah raga. Inflamasi kronik akan menyebabkan ‘remodelling’ saluran napas yang ditandai dengan hipertrofi dan hiperplasi otot polos, proliferasi vaskular, hipertrofi kelenjar-kelenjar bronkus, edema, dan deposisi kelenjar kolagen. Tetapi hubungan antara inflamasi dengan remodeling saluran napas, terjadinya obstruksi saluran napas yang irreversibel dan hiper responsif bronkus masih belum jelas.

Insidens
Insidensi asma yang tinggi ditemukan pada masa anak-anak, diikuti dengan penurunan sampai dengan dewasa. Dalam masa setelah dewasa muda, asma meningkat pada pasien ektopik (terutama wanita) yang menunjukkan reaksi pada skin tes. Hanya 3% dan 1% penderita asma, onsetnya pada umur 60 – 70 tahun. Setelah umur 40 tahun, tidak tampak hubungan antara skin test yang positif dan perkembangan asma, dan tidak ada pengaruh dari perbedaan jenis kelamin.

Etiologi
Stimulus luar yang dapat memprovokasi timbulnya asma:
– Infeksi virus pada saluran pernapasan
Diduga infeksi virus merupakan penyebab tersering timbulnya asma dan merupakan suatu faktor inisiasi asma pada individu sebelum terkena asma.
– Zat-zat iritan
Iritan spesifik maupun nonspesifik dapat menyebabkan spasme bronkus. Biasanya Iritan yang sering adalah asap rokok, parfum, dan polusi udara.
– Zat alergen
Alergen hanya mempengaruhi pasien tertentu saja, merupakan faktor penting pada penderita asma usia muda, dan kurang penting pada yang dewasa.
– Aspirin dan inhibitor prostaglandin
Pengaruh aspirin dalam menghambat asam arakidonat pada sintesis prostaglandin, juga dapat menyebabkan stimulus pada otot polos bronkiolus.
– Olah raga dan udara yang dingin
Keduanya menyebabkan peningkatan tonus otot bronkiolus.
– Emosi
Mekanisme faktor emosi menyebabkan spasme bronkus, dan penyebab respon individu yang bervariasi pada faktor ini tidak diketahui.

Gejala Klinis
Gejala klinis dari asma biasanya dispnea dan wheezing. Tetapi pada lanjut usia disertai dengan paroksismal nokturnal dispnea atau batuk yang episodik. Pemeriksaan fisik sangat bervariasi, pada keadaan tenang dapat normal. Pada waktu serangan, penderita tampak sesak, ditemukan wheezing dan hiperinflasi dada, batuk berulang dan pada malam hari. Hiperinflasi pada pasien lanjut usia sulit dibedakan apakah disebabkan oleh serangan asma akut atau karena perubahan-perubahan yang berkaitan dengan usia atau penyakit obstruktif lain Bila serangan berat, penderita terlihat sianosis, berkeringat, tampak lelah, gelisah, kemudian menjadi lemas, napas tersengal, dan wheezing. Bila tidak cepat diobati penderita akan meninggal.
Pemeriksaan faal paru pada asma penting untuk menentukan berat ringannya penyakit dan untuk melihat respon terhadap pengobatan. Pemeriksaan faal paru dengan menggunakan spirometri, akan didapatkan FEV1 menurun dan peak flow rate menurun. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan skin test, adanya eosinofilia pada sputum dan darah.

Pengobatan
Pengobatan asma dapat diberikan bronkodilator, obat anti inflamasi, dan obat anti alergi. Dasar dari patogenesis asma adalah inflamasi, sehingga untuk mengobati kelainan ini dengan obat anti inflamasi. Obat pilihan yang paling efektif adalah kortikosteroid inhalasi. Penelitian menunjukkan umumnya kortikosteroid inhalasi dapat menekan inflamasi, memperbaiki gejala asma, hiperesponsif bronkus dan bahkan menekan remisi asma pada sebagian pasien.

Tabel : Terapi Asma

Gejala Klinis Terapi
STEP 1
Intermitten Serangan singkat <1x/mgg
Serangan malam <2x/bln FEV1 >80% Pengobatan diberikan bila gejala timbul
STEP 2
Mild Persisten 1x/hr < serangan <1x/mgg Serangan malam >2x/bln
FEV >80% Pengobatan diberikan tiap hari dengan bronkodilator dan anti-inflamasi.
STEP 3
Moderate Persisten Serangan setiap hari
FEV 60-80% hari Pengobatan dengan inhalasi bronkodilator long-acting., dan kortikosteroid.
STEP 4
Severe Persisten Serangan terus-menerus
Malam terganggu
Aktivitas terbatas
FEV <60% Pengobatan dengan inhalasi bronkodilator long-acting, kortikosteroid inhalasi dosis tinggi + oral kortikosteroid jangka lama.

Obat asma :
1. Bronkodilator
– Golongan β agonis: adrenalin, salbutamol
– Golongan anti kolinergik: ipatropium bromida, oxytropium bromida
– Golongan metil xanthine: teofilin
2. Obat anti inflamasi
Golongan kortikosteroid: Beclomethasone, budesonide, prednison
3. Golongan anti alergi
Golongan anti histamin: ketotifen

E. Karsinoma Paru
Keganasan paru-paru pada lanjut usia merupakan kelainan yang sering ditemukan, baik bentuk primer maupun sekunder. Di Indonesia terdapat kecenderungan peningkatan frekuensi karsinoma paru. Beberapa faktor telah diketahui berpengaruh terhadap timbulnya karsinoma paru, antara lain adalah faktor merokok, polusi udara, dan bahan industri yang bersifat karsinogenik. 91,4% penderita kanker paru-paru berumur lebih dari 40 tahun dan pada usia diatas 50 tahun terdapat 75% kasus.

Etiologi
Etiologi keganasan paru-paru belum diketahui, diperkirakan penyebabnya adalah adanya iritasi bahan-bahan yang bersifat karsinogenik dan berlangsung kronis. Bahan-bahan iritasi tadi merupakan faktor-faktor resiko untuk terjadinya karsinoma paru.

Untuk jelasnya, etiologi kanker paru yang pernah dilaporkan adalah :
a. Yang berhubungan dengan pajanan zat karsinogen, seperti :
– Asbestos, sering menimbulkan mesotelioma
– Radiasi ion pada pekerja tambang uranium
– Radon, arsen, kromium, nikel, polycylic, hydrocarbon, vynilchloride
b. Polusi udara
Pasien kanker paru lebih banyak di daerah urban yang banyak polusi udaranya dibandingkan yang tinggal di daerah rural.

c. Genetik
Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yaitu :
– Proto oncogen
– Tumor supressor gene
– Gene enconding enzyme

Klasifikasi Kanker Paru
Pembagian praktis untuk tujuan pengobatan :
1. SCLS (small cell lung cancer)
2. NSLCC (non small cell lung cancer)/ karsinoma skuamosa/ adenokarsinoma/ karsinoma sel besar

Gambaran Klinik
Gambaran klinik karsinoma paru-paru tidak memberikan keluhan, dan penyakit ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan umum. Karsinoma paru baru akan memberikan gejala klinik biasanya kalau sudah lanjut, menimbulkan komplikasi, misalnya memberikan tekanan pada organ di sekitarnya, metastasis jauh dan sebagainya, sehingga mengganggu fungsi organ lainnya. Kadang-kadang timbul gejala yang mencolok yaitu timbulnya nyeri di daerah dada, sesak napas, hemoptisis, dan timbul benjolan di dada.
Lebih jelasnya gejala-gejala kanker paru sebagai berikut :
a. Lokal (tumor tumbuh setempat)
– batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronik
– hemoptisis
– mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran napas
– kadang terdapat kavitas seperti abses paru
– atelektasis
b. Invasi lokal
– nyeri dada
– dispnea karena efusi pleura
– invasi ke perikardium à terjadi tamponade atau aritmia
– sindrom vena cava superior
– sindrom horner ( facial anhidrosis, ptosis, miosis)
– suara serak karena penekanan N. larryngeus recurrent
– sindrom Pancoast karena invasi pada plexus Brachialis dan saraf simpatis
c. Gejala penyakit metastasis
– Pada otak,tulang,hati, adrenal
– Limfadenopati servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
d. Sindrom paraneoplastik :
Terdapat pada 10 % kasus dengan gejala:
– sistemik, penurunan barat badan,anoreksia, demam
– hematologi : lekositosis,anemia,hiperkoagulasi
– hipertrofi osteoartropati
– neurologik : demensia, ataksia, tremor, neuropati perifer
– neuromiopati
– endokrin : sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
– dermatologik : eritema multiform, hiperkeratosis,jari tabuh
e. Asimptomatik dengan kelainan radiologis :
– sering terdapat pada perokok dengan COPD/PPOK yang terdeksi secara radiologis
– kelainan berupa nodul soliter

Tabel : TNM

T Tumor primer
TX
T 0
TIS
T 1
T 2

T 3

T 4 Tumor primer tidak dapat dinilai
Tumor tidak nampak
Karsinoma in situ
Tumor < 3cm Tumor > 3cm, invasi ke pleura viseralis, disertai atelektasis atau pneumonitis obstruktif
Tumor berbagai ukuran yang menginfiltrasi dinding thorax, diafragma, pleura mediastinum, perikardium perietale
Tumor berbagai ukuran yang menginfiltrasi mediastinum, jantung, pembuluh darah besar,trakea,esofagus,tulang belakang,karina,atau tumor dengan efusi pleura ganas

N Kelenjar limfe regional
NX
N0
N1
N2
N3 Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai
Tidak ada metastasis kelenjar regional
Metastasis pada kelenjar sisi yang sama atau kelenjar hilus sisi yang sama
Metastasis mediastinum sisi yang sama dan/atau kelenjar subkarina
Metastasis mediastinum kontralateral,kelenjar getah bening hilus kontralateral
M Metastasis
MX
M0
M1 Tidak dapat dinilai adanya metastasis
Tidak ada metastasis jauh
Terdapat metastasis jauh

Diagnosis
Diagnosis karsinoma paru ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Pada anamnesis ditemukan keluhan-keluhan yang sering timbul pada penderita, misalnya: batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, dan kelemahan badan. Pada pemeriksaan fisik sering tidak ditemukan kelainan, kecuali pada keadaan karsinoma yang sudah lanjut.

Pemeriksaan radiologik merupakan pemeriksaan penunjang yang penting untuk mengetahui adanya gambaran bayangan tumor atau letak tumor. Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu sitologi sputum, pemeriksaan histopatologi, dan petanda tumor. Pemeriksaan penunjang yang terpenting adalah pemeriksaan histopatologi pada biopsi jaringan tumor untuk menentukan jenis sel tumor.

Pengobatan
Pengobatan karsinoma paru tergantung pada jenis tumor dan stadiumnya. Tindakan yang biasa dilakukan adalah operasi, radioterapi, kemoterapi, dan imunoterapi.
Terapi kanker paru non small cell
Modalitas terapi standar pada kanker paru non small cell adalah : pembedahan., terapi sitostatika, terapi radiasi dan terapi laser. Sedangkan photodinamic therapy (PDT), chemoprevention dan terapy baru yang lain masih dalam tingkat uji klinik. Pada saat diagnosis ditegakan, kanker paru non small cell dikelompokan menjadi 3 berdasarkan stadiumnya yaitu :
1. Kanker paru non small cell yang dapat diterapi dengan pembedahan. Termasuk dalam kelompok ini adalah kanker paru non small cell stadium 0, I, II .bila status performance tidak memungkinkan untuk menjalani pembedahan dapat dilakukan terapi radiasi.
2. Kanker paru non small cell yang menyebar ke kelenjar limfe terdekat. Terapi pada kelompok ini adalah terapi radiasi, terapi radiasi dan sitostatika atau pembedahan saja.
3. Kanker paru non small cell yang menyebar ke jaringan sekitar atau ke lobus lain. Pada kelompok ini dapat diberikan terapi radiasi untuk membatasi pertumbuhan kanker. Beberapa penderita dapat diberikan terapi sitostatika.

Terapi kanker paru small cell
1. Terapi standar untuk limited stage diseases :
– Kombinasi terapi sitostatika dan terapi radiasi (kemoradiasi), dengan atau tanpa prophylactic cranical irradiation / PCI
– Terapi sitostatika kombinasi : etoppside (E) + cisplatin (P) khusus penderita dengan gangguan fungsi paru.
2.Terapi untuk extensive stage disease :
Terapi standar untuk kelompok ini adalah terapi sitostaika kombinasi:
– Cyclophosphamide (C) + Doxorubicine (A) + Vincristine (V)
– Cyclophosphamidife (C) + Doxorubicine (A) + Etoposide (E)
– Etoposide ( E) + Cisplatine (P) atau Etoposide (E) + Carboplatine (C)
– Ifosphamide (I) + Carboplatine (C) + Etoposide (E)

Tujuan pengobatan kanker :
1. Kuratif : menyembuhkan, memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup pasien.
2. Paliatif : mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
3. Rawat rumah (hospice care) pada kasus terminal : mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.
4. Suportif : menunjang pengobatan kuratif , paliatif dan terminal seperti pemberian nutrisi, transfusi darah dan komponen darah, growth factors obat antinyeri dan obat anti infeksi.

Tindakan rehabilitasi diperlukan apabila penyakitnya sudah lanjut, memberikan gangguan fungsi paru yang hebat. Jika karsinoma paru mengakibatkan kelemahan umum, maka selain tindakan rehabilitasi perlu ditambahkan psikoterapi psikososial lainnya.

VI. Pencegahan Penyakit Paru-Paru Pada Lanjut Usia
Proses proses menua seseorang tidak dapat dihindari. Pada setiap orang mengalami perubahan struktur anatomik maupun fisiologik pada tubuhnya. Pencegahan terhadap timbulnya penyakit-penyakit paru-paru pada lanjut usia dilakukan pada prinsipnya dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan memperbaiki keadaan gizi, menghilangkan hal-hal yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, misalnya menghentikan kebiasaan merokok, minum alkohol dan sebagainya.
Pencegahan terhadap timbulnya beberapa macam penyakit dilakukan dengan cara yang lazim.
• Usaha pencegahan infeksi paru-paru/ saluran napas
• Usaha mencegah timbulnya tuberkulosis paru
• Usaha pencegahan timbulnya PPOK atau karsinoma paru
Pada lanjut usia yang mempunyai penyakit paru-paru kronis dimana terbentuk sekret yang banyak, perlu diajarkan cara batuk yang benar, untuk mengeluarkan sekret. Yaitu dengan tindakan tapping atau tapotement: terutama dilakukan pada pagi hari. Misalkan terdapat sekret pada paru kanan, maka pasien miring ke kiri, kemudian dibatukkan. Tindakan ini dapat dilakukan bila sedang duduk, berdiri, ataupun berbaring. Hal ini penting bagi lanjut usia terutama untuk mencegah aspirasi, di mana aspirasi merupakan salah satu penyebab kematian yang sering.
Sejak usia muda, bagi orang-orang yang beresiko tinggi terhadap timbulnya kelainan paru (PPOK dan karsinoma paru), perlu dilakukan pemantauan secara berkala, pemeriksaan foto roentgen toraks, dan pemeriksaan faal paru, paling tidak setahun sekali. Sangat dianjurkan bagi mereka yang beresiko tinggi tadi (perokok berat dan orang yang terpapar polusi terus menerus), untuk menghindari atau segera berhenti merokok.

VII. Kesimpulan
Pada lanjut usia terdapat perubahan anatomik-fisiologik paru dan saluran napas, antara lain berupa pengurangan elastic recoil lung, kecepatan arus ekspirasi, tekanan oksigen arteri atau hiperkapnia. Hal-hal tersebut berpengaruh pada mekanisme pertahanan tubuh terhadap timbulnya penyakit paru
Penyakit paru yang sering ditemukan pada lanjut usia adalah infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah (khususnya pneumonia), Tuberkulosis paru, PPOK, Asma, dan Karsinoma paru. Untuk mencegah melajunya penurunan fungsi paru, antara lain dapat diatasi dengan melakukan olahraga atau latihan fisik yang teratur, selain meningkatkan taraf kesehatan lanjut usia. Laju penurunan fungsi paru dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan faal paru secara berkala.
Pada lanjut usia juga dapat terjadi gangguan tidur yang disebabkan oleh gangguan pada sistem pernafasan, dimana pada lanjut usia terjadi penurunan fungsi paru-paru dan juga oleh sebab-sebab yang lain. Gangguan pada pernafasan tersebut dapat mengurangi efisiensi tidur pada lanjut usia, umumnya pada fase I dan fase II tidur (sekunder terhadap penurunan resapon ventilasi terhadap hipoksia dan hiperkapnia), yang menyebabkan peningkatan periode terjaga pada malam hari.

DAFTAR PUSTAKA

Bahar A. Curent Diagnosis and Treatment in Internal Medicine. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2003 hal.1-10

Boedhi-Darmojo R, Martono H.H, Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Edisi ke-3, 2004

Hazzard W.R, Andres R, Bierman E.L, Blass J.P, Principles of Geriatrics Medicine and Gerontology, Second Edition. United States of America: Mc.Graw Hill Inc, 1996

Supartando, Setiati S, Soejono C.H. Penatalaksanaan Pasien Geriatri dengan Pendekatan Interdisipliner. Prosiding Temu Ilmiah Geriatri. Jakarta : Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia 2002

Takasihaeng, Jan. Hidup Sehat di Usia Lanjut. Jakarta : Penerbit Harian Kompas,2002

NN. Lung cancer-images. Available from .www.lungcancerinfo.com

NN. Tuberculosa. Available from .www.medicinehealth.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *