BAB XII
GANGGUAN PENDENGARAN

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama diharapkan anda sudah dapat :
1. Mengetahui anatomi organ telinga.
1.1 Menceritakan kembali anatomi organ telinga.
1.2 Mengetahui fisiologi organ telinga.
2. Mengetahui perubahan organ telinga pada lanjut usia.
2.1 Mengetahui perubahan anatomi telinga pada lanjut usia.
2.2 Mengetahui perubahan fungsi telinga pada lanjut usia.
3. Mengetahui penyakit-penyakit yang mengenai organ telinga yang biasanya terdapat pada lanjut usia dan penanganannya, seperti pada:
3.1 TULI KONDUKTIF
3.2 TULI SARAF (PRESBIKUSIS)
3.2.1. Presbikusis Sensorik
3.2.2. Presbikusis Neural
3.2.3. Presbikusis Metabolik
3.2.4. Presbikusis Mekanik
3.3GANGGUAN KESEIMBANGAN

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca bab ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah akan dapat:
1. Mengerti betapa kompleksnya gangguan organ telinga pada lanjut usia.
1.1 Mencoba menggali lebih jauh permasalahan pada lanjut usia berkaitan dengan telinga.
1.2 Mencoba menangani permasalahan lanjut usia dengan gangguan telinga.
2. Menunjukkan besarnya perhatian pada lanjut usia akan permasalahannya yang berkaitan dengan gangguan pada telinga.

I. Pendahuluan
Gangguan pendengaran pada orang lanjut usia sebagai akibat dari proses menua, merupakan manifestasi dari kemunduran ambang sensitivitas dan kemunduran dari kemampuan untuk mengerti percakapan. Pada orang lanjut usia terjadi berbagai perubahan degeneratif, termasuk organ pendengaran. Perubahan degeneratif pada organ pendengaran ini akan menyebabkan gangguan pada pendengaran. Pada lanjut usia yang biasanya timbul adalah gangguan perseptif, tetapi juga bisa berupa gangguan konduktif atau campuran.
Kehilangan ambang sensitivitas pendengaran terhadap frekuensi yang tinggi mempunyai onset tersembunyi, berkembang perlahan sampai timbul manifestasi klinik pada usia 50-60 tahun. Biasanya disertai dengan tinitus dan diikuti kehilangan fungsi pendengaran subyektif. Laki-laki biasanya mempunyai gangguan pendengaran lebih banyak daripada wanita pada setiap usia.
Pasien presbikusis (gangguan pendengaran perseptif pada lanjut usia) biasanya tidak mengeluh adanya kesulitan mendengar, tetapi lebih banyak mengeluh adanya kesulitan mengerti percakapan. Sering dijumpai keluhan “Saya dapat mendengar Anda tetapi saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.” Hal ini menunjukkan disamping adanya masalah pendengaran pada frekuensi tinggi atau kehilangan ambang frekuensi tinggi, juga terjadi kemunduran pada susunan saraf pusat. Observasi Gaeth pada 1948 menunjukkan pada lanjut usia mempunyai kesulitan lebih besar pada tes word intelligibility dibandingkan dengan usia muda.
Tidak dapat dimungkiri bahwa gangguan pendengaran akan menimbulkan dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi dari orang yang bersangkutan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berbeda dengan negara maju di mana orang lanjut usia dengan gangguan pendengaran mendapat kesempatan dan perhatian yang lebih baik, walaupun harus mempergunakan alat bantu pendengaran.

ANATOMI TELINGA
Telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar terdiri atas daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, panjangnya 2,5-3 cm, dengan rangka tulang rawan pada 1/3 bagian luar, sedangkan 2/3 bagian dalam terdiri dari tulang. Kelenjar serumen yang merupakan modifikasi dari kelenjar keringat banyak terdapat di 1/3 bagian luar liang telinga.
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar: membran timpani, batas depan: tuba eustachius, batas bawah: bulbus vena jugularis, batas belakang: aditus ad antrum dan kanalis facialis pars vertikalis, batas atas: tegmen timpani (meningen/otak), dan batas dalam berturut-turut dari atas ke bawah: kanalis semi sirkularis horizontal, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window), dan promontorium.

Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas membran timpani disebut pars flaksida (membran Shrapnell) dan bagian bawah disebut pars tensa (membran propria). Di bagian dalam membran timpani terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar ke dalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes; yang saling berhubungan melalui persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik, dimana terdapat aditus ad antrum, yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid. Tuba eustachius menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semi sirkularis. Ujung atau puncak dari koklea disebut helikotrema yang menghubungkan perilimfe skala timpani dan skala vestibuli. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfe, sedangkan skala media berisi endolimfe. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (membran Reissner), sedang dasar skala media adalah membran basalis, dimana terdapat organ korti.

FISIOLOGI PENDENGARAN
Pendengaran terjadi melalui getaran yang dialirkan melalui udara atau tulang langsung ke koklea. Gelombang suara yang ditangkap oleh daun telinga akan dialirkan ke liang telinga dan mengenai membran timpani sehingga bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang saling berhubungan, yang kemudian menggerakkan perilimfe pada skala vestibuli. Selanjutnya getaran diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong endolimfe sehingga akan menimbulkan gerak relatif antaran membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka. Rangsangan fisik ini akan diubah menjadi aliran listrik oleh adanya perbedaan ion kalium dan natrium, yang kemudian diteruskan ke cabang-cabang N. VIII sampai di pusat pendengaran (korteks area 39-40) di lobus temporalis.

GANGGUAN TELINGA
Di telinga dalam terdapat alat pendengaran dan alat keseimbangan. Gangguan pendengaran dibagi menjadi tiga, yaitu tuli saraf (perseptif/ sensory neural healing loss/ SNHL), tuli konduktif, dan tuli campuran (mixed deafness).
Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara di telinga luar atau telinga tengah. Kelainan di telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumskripta, osteoma liang telinga. Kelainan di telinga tengah adalah tuba katar/sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanosklerosis, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran.
Pada tuli saraf disebabkan gangguan di telinga dalam. Tuli saraf dibagi atas tuli koklea dan tuli retrokoklea (N. VIII atau di pusat pendengaran). Tuli saraf koklea disebabkan oleh aplasia (kongenital), labirintitis (oleh bakteri atau virus), trauma kapitis, tuli mendadak (sudden deafness), trauma akustik, pajanan bising, dan intoksikasi obat seperti streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal, atau alkohol. Tuli retrokoklea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor cerebello pontine angle (tumor sudut pons serebelum), mieloma multipel, cedera otak, perdarahan otak, dan kelainan otak lainnya.
Tuli campuran dapat merupakan satu penyakit, misalnya radang di telinga tengah dengan komplikasi ke telinga dalam atau dua penyakit yang berlainan, misalnya tumor N. VII (tuli saraf) dan radang telinga tengah (tuli konduktif).
Gangguan pada vena jugularis berupa aneurisma dapat menyebabkan telinga berbunyi sesuai dengan denyut jantung. Trauma atau radang di telinga tengah dapat menyebabkan terjepitnya korda timpani sehingga timbul gangguan pengecapan.

II. Patofisiologi
Telinga Luar
Akibat proses menua akan terjadi perubahan alami pada kulit dan kelenjar serumen yang ada pada telinga luar dan saluran pendengaran. Kelenjar serumen merupakan modifikasi dari kelenjar keringat, kelenjar apokrin, serta kelenjar sebum pada saluran telinga. Sekresi dari kelenjar ini ditambah deskuamasi kulit membentuk serumen. Atrofi kelenjar sebasea menyebabkan penurunan pada pelumasan epitelia dan hidrasi kulit. Kekeringan pada kulit memberikan kontribusi terjadinya pruritus pada saluran pendengaran. Kulit sering mengalami atrofi dan terluka akibat insersi ujung cotton applicator pada saat mengurangi rasa gatal, tetapi jarang berlanjut menjadi infeksi pada pasien usia lanjut. Untuk menghilangkan berbagai infeksi dan dermatitis, dapat diberikan baby oil secara rutin.

Telinga Tengah
Efektifitas dari hantaran konduksi telinga tengah tergantung dari integritas cincin ossicular dan pergerakan persendian ossicularnya. Proses degeneratif pada permukaan persendian dan badan tulang dapat menyebabkan gangguan hantaran. Persendian incudomaleal dan incudostapedial adalah sinovial yang dilapisi jaringan rawan persendian dibungkus oleh kapsul jaringan elastik. Secara histologik bertambahnya usia akan meningkatkan kalsifikasi bahkan obliterasi pada ruang sendi. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan artritik yang signifikan akan mempengaruhi transmisi suara.

Telinga Dalam
Sel-sel pendengaran mempunyai fungsi yang tinggi dan kemampuan regenerasi yang rendah. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap proses degenerasi dari elemen sensorik dan saraf, seperti diet dan nutrisi, metabolisme kolesterol, arteriosklerosis, dan respon organisme pada stres fisik. Sedang pada yang mengalami presbikusis pada usia muda faktor yang berperan adalah faktor genetik.

III. Gangguan Pendengaran Pada Geriatri
a. Tuli Konduktif pada Geriatri
Proses degenerasi pada telinga luar dan tengah dapat menyebabkan perubahan berupa berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran daun telinga, atrofi dan bertambah kakunya liang telinga, penumpukan serumen, membran timpani bertambah tebal dan kaku, kekakuan sendi tulang- tulang pendengaran.
Pada lanjut usia, kelenjar-kelenjar serumen akan mengalami atrofi sehingga produksi serumen berkurang dan liang telinga menjadi kering. Akibatnya mudah terjadi serumen prop yang akan menyebabkan tuli konduktif. Membran timpani yang bertambah kaku dan tebal dan kekakuan sendi tulang pendengaran juga akan menyebabkan tuli konduktif.

b. Tuli saraf pada Geriatri (Presbikusis)
Presbikusis adalah tuli saraf sensori-neural frekuensi tinggi, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun, simetris kanan dan kiri. Presbikusis dapat mulai pada frekuensi 100 Hz atau lebih. Penurunan pendengaran yang progresif lebih cepat pada jenis kelamin laki-laki daripada wanita.
1. Etiologi
Umumnya diketahui bahwa presbikusis merupakan akibat dari proses degenerasi yang mempunyai hubungan dengan faktor-faktor herediter, pola makanan, metabolisme, arteriosklerosis, infeksi, kebisingan, gaya hidup, pemakaian obat tertentu, dan penyakit autoimun.
Berbagai studi memperlihatkan adanya pengaruh kebisingan dan serum kolesterol. Pemajanan terus menerus dan terjadi sepanjang hidup (civilization noise) dapat menyebabkan presbikusis. Orang yang mempunyai serum kolesterol rendah, mempunyai prognosis pendengaran yang lebih baik dibanding orang dengan serum kolesterol yang tinggi.
Presbikusis juga dipengaruhi perubahan suplai darah ke telinga akibat berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan vaskuler pada penyakit jantung, hipertensi dan diabetes mellitus.

2. Penyebaran
Diperkirakan 30-40% penduduk dunia dengan usia di atas 65 tahun mengalami presbikusis. Berdasarkan penelitian di Amerika, gangguan pendengaran menempati urutan ketiga setelah osteoarthritis dan hipertensi dari semua kondisi gangguan kronis pada lanjut usia.
Pada penelitian di Amerika oleh Yueh dkk didapatkan 25 – 40 % orang berusia 60 tahun atau lebih menderita gangguan pendengaran. Data prevalensi jumlah penderita gangguan fungsi pendengaran berdasarkan umur sebagai berikut :
USIA PERSENTASE
< 17 tahun < 1 % 45 – 64 tahun 12 % 65 – 74 tahun 24 % > 75 tahun > 39 %

Pada orang lanjut usia dengan status ekonomi rendah juga didapatkan menderita gangguan fungsi pendengaran yang lebih buruk dibanding dengan yang mempunyai status ekonomi baik.

3. Patologi
Proses degenerasi menyebabkan perubahan struktur koklea dan N. auditorius. Perubahan pada koklea adalah atrofi sel – sel rambut penunjang pada organ korti. Proses atrofi disertai dengan perubahan vaskuler juga terjadi pada stria vaskularis. Selain itu juga terdapat perubahan berkurangnya jumlah dan ukuran sel ganglion, saraf, dan sel mielin saraf.
Berbagai perubahan degeneratif yang berhubungan dengan terjadinya presbikusis antara lain:
– berkurangnya elastisitas membran timpani
– degenerasi otot-otot telinga tengah dan perubahan pada persendian tulang telinga
– berkurangnya fleksibilitas membran basilaris
– degenerasi sel-sel rambut koklea
– hilangnya sel-sel neuron pada jalur auditori
– perubahan pada pusat pendengaran dan batang otak
– degenerasi pada auditory memory
– penurunan kecepatan proses pada korteks pusat pendengaran
– tinitus

4. Klasifikasi
Berdasarkan manifestasi klinik dan histopatologik, presbikusis digolongkan menjadi 4 jenis :
No Jenis Patologi
1 Sensorik Lesi terbatas pada koklea, atrofi organ korti, jumlah sel – sel rambut dan sel- sel penunjang berkurang
2 Neural Sel-sel neuron pada koklea dan jaras auditorik berkurang
3 Metabolik Atrofi stria vaskularis, potensial mikrofonik menurun, fungsi sel dan keseimbangan biokimia / bioelektrik koklea berkurang
4 Mekanik Terjadi perubahan gerakan mekanik duktus koklearis. Atrofi ligamentum spiralis. Membran basilaris lebih kaku

a. Presbikusis Sensorik
Dikarakteristikkan dengan kehilangan fungsi pendengaran neurosensorik dengan frekuensi tinggi. Penurunan fungsi pendengaran biasanya pada usia pertengahan dan berlangsung terus secara perlahan progresif. Secara histopatologik terdapat degenerasi dari organ korti pada basal dan akhir koklea. Pada permulaan terlihat organ korti mendatar disertai distorsi. Perubahan ini diikuti oleh degenerasi sel-sel pendukung, sel-sel sensorik serta epitel sel membran basiler; yang akan menyebabkan kehilangan kemampuan menerima suara nada tinggi. Kehilangan sel ganglion terjadi seiring dengan degenerasi organ korti.

b. Presbikusis Neural
Adanya kehilangan fungsi pendengaran neurosensorik, sedang pada audiogram terdapat gambaran tipikal dengan kurva menurun dan defisit pada frekuensi tinggi kurang parah dibanding presbikusis sensorik. Presbikusis ini dikarakteristikkan dengan kehilangan diskriminasi percakapan yang juga menunjukkan kehilangan nada murni. Kurangnya skor diskriminasi ini merefleksikan adanya reduksi jumlah neuron koklea dalam kaitan dengan fungsi organ korti. Kehilangan fungsi pendengaran ini sering berhubungan dengan jalur pendengaran yang lebih tinggi. Pasien dengan presbikusis neural yang progresif dapat memperlihatkan perubahan degenerasi lain pada sistem neurocerebral, dengan adanya inkoordinasi, kehilangan memori, dan gangguan pusat pendengaran. Degenerasi neural bisa terlihat pada berbagai usia tapi tidak selalu menimbulkan manifestasi klinik yang parah.

c. Presbikusis Metabolik (Strial)
Vaskularisasi strial terdapat pada dinding lateral dari duktus koklearis dan merupakan instrumen untuk menjaga keseimbangan biokimia cairan telinga dalam, sehingga endolimfatik dapat berfungsi dengan baik. Vaskularisasi strial dipercaya sebagai sumber formasi endolimfatik karena terdapat sejumlah besar enzim oksidatif yang dibutuhkan glukosa untuk metabolisme. Kerusakan pada stria menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran. Degenerasi jaringan pada kehilangan fungsi pendengaran yang progresif dimulai pada kelompok usia pertengahan sampai usia lanjut. Pola audiometrik umumnya datar dan dapat disertai diskriminasi bicara. Atrofi pada jalur strial kemungkinan terjadi pada pertengahan dan apikal dari koklea. Populasi neuronal umumnya dinilai dengan skor speech discrimination, dimana nilai normal batas ambang elevasi melebihi 59 dB.

d. Presbikusis Mekanik (Koklea konduktif)
Tipe ini dikarakteristikkan dengan pola penurunan berupa garis lurus. Skor speech discrimination berkurang sampai derajat kehilangan nada murni. Tipe ini dianggap kontroversial oleh beberapa kalangan, tetapi secara histopatologik telah dapat dideskripsikan secara definitif hubungannya dengan presbikusis konduktif. Sebuah teori menjelaskan bahwa kekakuan pada membran basiler akan mempengaruhi pergerakan mekanik koklea.
Pengelompokan presbikusis di atas sukar untuk dilakukan dengan tepat. Penggolongan tersebut hanya dengan menggunakan pendekatan ke salah satu di antara empat tipe presbikusis, sedang implikasi proses histopatologik spesifik akan membantu menjelaskan pola audiometrik.

5. Gejala Klinis
Keluhan utama berupa berkurangnya pendengaran secara perlahan-lahan dan progresif, simetris pada kedua telinga. Saat berkurangnya pendengaran biasanya tidak diketahui. Keluhan lainnya adalah telinga berdenging (tinitus dengan nada tinggi). Penderita dapat mendengar suara percakapan tetapi sulit untuk memahaminya, terutama bila diucapkan dengan cepat di tempat dengan suasana yang riuh (cocktail party deafness). Bila intensitas suara ditinggikan akan timbul nyeri di telinga akibat kelelahan saraf.
Pada orang dengan presbikusis dapat terlihat berbagai gangguan fisik dan emosi, seperti yang digambarkan oleh NCOA (National Council On Aging) seperti gangguan hubungan interpersonal dengan keluarga, sifat-sifat berupa kompensasi terhadap hilangnya pendengaran, marah dan frustrasi, depresi dan gejala-gejala depresif, introvert, merasa kehilangan kendali terhadap kehidupan, perasaan paranoid, kritis terhadap diri sendiri, mengurangi aktivitas dalam kelompok sosial, berkurangnya stabilitas emosi.

6. Diagnosis
Untuk mendiagnosis pasien presbikusis dilakukan dengan berbagai cara antara lain menanyakan riwayat kesehatan. Dapat dilakukan pemeriksaan telinga secara menyeluruh untuk dapat menyingkirkan penyebab-penyebab umum dari kehilangan pendengaran, seperti adanya cairan di telinga atau penyumbatan.

 Pemeriksaan tes berbisik
Pemeriksaan ini bersifat semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal yang perlu diperhatikan adalah ruangan cukup tenang, dengan panjang minimal 6 meter. Pada nilai-nilai normal tes berbisik adalah 5/6 – 6/6.

 Pemeriksaan garputala

Pemeriksaan ini menggunakan garputala dengan frekuensi 512, 1024, dan 2048 Hz. Penggunaan garputala penting untuk pemeriksaan secara kualitatif. Biasanya yang sering digunakan adalah pemeriksaan garputala dengan frekuensi 512 Hz karena penggunaan garputala pada frekuensi ini tidak dipengaruhi oleh suara bising di sekitarnya.
Terdapat berbagai macam tes garputala, seperti tes Rinne, tes Weber, tes Schwabach, tes Bing, dan tes Stenger.
Tes Rinne adalah tes untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran melalui tulang. Caranya penala digetarkan, tangkainya diletakkan di prosesus mastoid, setelah tidak terdengar, penala dipegang di depan telinga kira-kira 2,5 cm. Bila masih terdengar disebut Rinne positif (+), bila tidak terdengar disebut Rinne negatif (-)
Tes Weber adalah Caranya adalah penala digetarkan, kemudian tangkai penala diletakkan di garis tengah kepala (di vertex, dahi, pangkal hidung, di tengah-tengah gigi seri atau di dagu). Apabila bunyi terdengar lebih keras ke salah satu telinga disebut Weber lateralisasi ke telinga tersebut. Apabila tidak dapat dibedakan ke arah telinga mana bunyi terdengar lebih keras disebut Weber tidak ada lateralisasi.
Tes Schwabach adalah tes untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Caranya dengan menggetarkan penala, kemudian tangkai penala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala segera dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa. Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut Schwabach memendek, bila pemeriksa tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya, yaitu penala diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksa terlebih dulu. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut Schawabach memanjang. Bila pasien dan pemeriksa sama-sama mendengarnya disebut Schwabach sama dengan pemeriksa.

 Pemeriksaan timpanometri
Pemeriksaan telinga secara khusus ini untuk mengetahui adanya kekakuan dari membran timpani dan mengevaluasi fungsi telinga tengah.
Pemeriksaan timpanometri dapat mendeteksi adanya cairan di telinga tengah, adanya tekanan negatif di telinga tengah, kerusakan tulang-tulang pendengaran, adanya ruptur / perforasi membran timpani, dan otosklerosis. Cara pemeriksaan ini dengan memasukkan alat ke dalam liang telinga, kemudian diberikan sejumlah tekanan. Alat yang dimasukkan tersebut digunakan untuk mengukur pergerakan membran timpani terhadap tekanan yang diberikan.

Hasil pemeriksaan direkam kemudian dicetak pada kertas yang disebut timpanogram. Jika terdapat cairan dalam telinga tengah, maka membran timpani tidak akan bergetar seperti seharusnya dan terlihat garis dalam timpanogram mendatar. Jika terdapat udara dalam telinga tengah, dan udara tersebut berbeda tekanannya dengan tekanan udara sekitarnya, maka garis pada timpanogram akan berubah sesuai dengan keadaan.

 Pemeriksaan otoskopi

Dengan pemeriksaan otoskopi dapat ditemukan kelainan pada telinga luar dan telinga dalam. Kelainan pada telinga luar seperti tuli konduktif seperti oklusi serumen, kelainan kanalis telinga seperti perdarahan atau adanya tumor. Kelainan pada telinga dalam seperti membran timpani perforasi, timpanosklerosis, bulging dari membran timpani,
dan adanya cairan atau darah.

 Pemeriksaan audiometri

Pemeriksaan ini merupakan suatu pengukuran baku untuk mengetahui fungsi pendengaran yang dilakukan dengan alat audiometer oleh seorang audiologist.
Pada pemeriksaan pasien presbikusis, audiometri nada murni menunjukkan suatu tuli saraf nada tinggi, bilateral dan simetris. Pada tahap awal terdapat penurunan yang tajam (sloping) setelah frekuensi 2000 Hz. Gambaran ini khas pada kedua jenis presbikusis yang sering ditemukan, yaitu jenis sensorik dan neural. Pada jenis metabolik dan mekanik garis ambang dengar pada audiogram terlihat lebih mendatar, kemudian pada tahap-tahap berikutnya berangsur-angsur menurun. Pada semua jenis presbikusis tahap lanjut juga terjadi penurunanan pada frekuensi yang lebih rendah. Pada pemeriksaan audiometri tutur menunjukkan adanya gangguan diskriminasi bicara (speech discrimination), keadaan ini jelas terdapat pada presbikusis neural dan koklear.
Hal-hal lain yang harus diperhatikan antara lain pada buku-buku fisik diagnostik pemeriksaan auditorius sering membingungkan dan kontradiktif. Tetapi sejumlah literatur merekomendasikan pemeriksaan seperti suara bisikan, tes garputala, suara bicara, suara detakan jam atau bunyi jari.
Walaupun kehilangan fungsi pendengaran pada lanjut usia tidak selalu dapat ditangani secara medis, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan telinga oleh dokter, setidaknya masalah gangguan konduksi akibat impaksi serumen.

Pasien yang mengalami gangguan pendengaran, di ruang pemeriksaan sering terlihat fungsi pendengarannya cukup baik, karena suasana ruangan yang sangat tenang sehingga dapat lebih memfokuskan pada penglihatannya, seolah-olah pendengarannya baik.
Peralatan skrining yang paling sensitif adalah audiometri. Skrining dengan audiometer adalah peralatan yang sederhana dan relatif murah serta mudah dipergunakan dan diinterpretasikan. Pemeriksaan garputala kurang bermakna bagi identifikasi gangguan fungsi pendengaran pada usia lanjut karena pemeriksaan ini menggunakan suara berfrekuensi rendah sedangkan pada orang tua umumnya mengalami gangguan mendengar frekuensi tinggi.
Identifikasi dan evaluasi gangguan pendengaran pada lanjut usia seharusnya menjadi komponen integral dari kedokteran geriatri, meski sering diabaikan oleh banyak instansi perawatan primer. Selain itu sering terjadi kesalahan mengenal adanya gangguan fungsi pendengaran pada lanjut usia oleh dokter pada penanganan awal. Lebih dari setengah kasus kehilangan fungsi pendengaran dilaporkan tidak mendapat tindak lanjut terhadap pasien.

7. Dampak Psikososial Gangguan Pendengaran
Orang yang kehilangan daya dengar, tanpa disadari akan terlibat dalam hal-hal yang “bodoh,” menjawab pertanyaan dengan tidak tepat, serta terlihat lebih depresi, anxietas, dan paranoia dibandingkan dengan orang yang memakai alat bantu pendengaran.
Gangguan fungsi pendengaran tidak akan menghambat aktivitas fisik secara langsung, tetapi akan sangat mempengaruhi kualitas hidup penderita. Secara psikososial akan terlihat penurunan kemampuan untuk mengerti perkataan dan apresiasi yang buruk pada penderita gangguan fungsi pendengaran. Gangguan ini sering tidak disadari oleh penderita, sampai dialami adanya kehilangan fungsi pendengaran yang nyata secara langsung, dan gangguan ini hampir mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia.
Dampak primer dari gangguan fungsi pendengaran adalah gangguan pada saat berkomunikasi. Hal ini akan menyebabkan timbulnya perasaan untuk menutup diri, yang akan berakibat hilangnya kesempatan edukasi, kerja, rekreasi, kegiatan rohani, hiburan, dan kegiatan lainnya. Perasaan menutup diri yang lebih jauh juga dapat sebagai akibat dari ketidakmampuan mengenal berbagai macam variasi suara. Salah paham dan kurangnya simpati terhadap pasien dengan gangguan pendengaran telah menjadi warisan budaya kita. Sikap ini sedikit berbeda dari persepsi dan perlakuan terhadap orang buta. Sering gejala gangguan pendengaran (tidak menjawab ketika diajak bicara, memberi jawaban yang tidak tepat atau mengulang pertanyaan atau jawaban sama) menyebabkan lawan bicara memperlakukan mereka sebagai orang yang mengalami penurunan fungsi kognitif. Perlakuan ini sering dilakukan terhadap golongan lanjut usia yang mengalami gangguan pendengaran.
Dikenal dua konsekuensi gangguan pendengaran yang paling sering dilaporkan pada lanjut usia, yaitu depresi dan isolasi sosial. Kehilangan fungsi pendengaran yang signifikan pada lanjut usia dapat menyebabkan adanya perasaan malu, rendah diri, kekakuan, mudah marah, tegang, sifat menghindar, dan negativisme yang makin memperburuk hubungan dengan lingkungannya.
Pada tingkat lebih lanjut, hubungan dengan lingkungan sosial akan makin memburuk, hidup dalam keterisolasian dan kualitas hidup yang menurun. Oleh karena itu, ditinjau dari segi psikososial diperlukan identifikasi dan rehabilitasi yang segera agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin memburuk dan dampak yang timbul dapat diminimalisasikan.

8. Penatalaksanaan
Telah dilaporkan bahwa orang-orang dengan gangguan fungsi pendengaran hanya 5% yang dapat ditolong secara medis dan akan lebih rendah lagi apabila yang terkena adalah para pasien dengan usia lanjut. Sedang populasi terbesar gangguan fungsi pendengaran perseptif ditemukan pada golongan lanjut usia.
Sebagai konsekuensi dari hal di atas maka rehabilitasi sebagai upaya mengembalikan fungsi pendengaran dilakukan dengan memakai alat bantu (hearing aid). Pemakaian alat bantu dengar akan lebih berhasil dan memuaskan apabila dikombinasikan dengan latihan membaca ujaran (speech reading) dan latihan mendengar (auditory training) yang prosedurnya dilakukan bersama dengan ahli terapi wicara (speech terapist).
Alat bantu dengar diciptakan untuk meningkatkan dan menghantarkan suara ke telinga yang mengalami gangguan. Semua alat bantu dengar mempunyai komponen dan fungsi sebagai berikut:
1. Input microphone : untuk mengubah suara menjadi energi listrik
2. Amplifier : untuk meningkatkan kekuatan dari sinyal listrik
3. Output receiver : untuk mengubah sinyal listrik ke energi
suara
4. Battery : untuk menyediakan tenaga hearing aid
5. Volume control : untuk mengatur volume suara

Speech reading / Auditory training
Terapi speech reading yang dibantu dengan visualisasi akan lebih mudah dimengerti. Istilah speech reading sekarang ini lebih disukai daripada istilah yang lama yaitu lip reading. Speech reading tidak hanya mempelajari pergerakan bibir, tetapi juga meliputi interpretasi terhadap ekspresi wajah, tubuh, dan gerak tangan.
Banyak orang dengan gangguan pendengaran tidak tahu ataupun tidak menggunakan speech reading untuk sesuatu yang lebih luas. Mereka tidak menyadari betapa pentingnya input visual agar apa yang mereka sampaikan lebih mudah untuk dimengerti. Tidaklah mengherankan apabila banyak orang dengan gangguan pendengaran, terutama mereka yang mengalami kehilangan pendengaran progresif dapat mengembangkan kemampuan mereka tanpa perlu latihan di tempat resmi.
Speech reading biasanya disatukan dengan auditory training dan hearing aid orientation. Auditory training mengajarkan pendengar untuk menggunakan secara efektif pendengaran yang minimal karena gangguan pendengaran yang dialami. Kombinasi input visual dan input auditori akan meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami percakapan yang berlangsung.
Hearing aid orientation juga sangat menolong untuk para lanjut usia yang mengalami gangguan pendengaran. Dalam hal ini juga termasuk cara penggunaan alat bantu dengar, yang meliputi kemampuan dasar dari penggunaan alat bantu dengar, penempatan baterai, dan petunjuk pemakaian yang baik dan benar.

Faktor–faktor yang mempengaruhi penggunaan alat bantu dengar
Adaptasi penggunaan alat bantu dengar cukup sulit dan keberhasilannya sangat tergantung dari masing-masing individu. Sering pada usia lanjut terjadi penolakan terhadap alat bantu dengar ini, karena adanya stigma sosial terhadap orang dengan gangguan pendengaran. Kultur kita memandang bahwa kehilangan pendengaran adalah suatu proses yang wajar dari suatu proses menua, sehingga pemakaian alat bantu dengar dianggap tidak perlu. Hal terpenting yang mendukung kenyamanan atas pemakaian alat bantu dengar adalah lingkungan. Hal ini bahkan melebihi dari kemampuan mendengar itu sendiri. Motivasi, keputusan pribadi, dan dukungan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan pengguna alat bantu dengar.
Rupp dkk meringkas faktor-faktor yang penting dari pengguna alat bantu dengar pada lanjut usia, dan menawarkan suatu ukuran penilaian untuk memprediksi para lanjut usia yang menggunakan alat bantu dengar, termasuk mengukur keberhasilan penggunaan alat tersebut.
Faktor – faktor tersebut adalah :
1. Motif dan referensi dari keluarga (diri sendiri dan keluarga)
2. Kesulitan mendengar dari dirinya (menerima kenyataan vs menolak)
3. Kesulitan dalam berkomunikasi dan banyak kesalahan dalam berkomunikasi.
4. Besarnya gangguan pendengaran dan kesulitan mengerti lawan bicara (sebelum dan sesudah menggunakan alat bantu dengar)
5. Informasi yang diterima selama menggunakan alat bantu dengar tersebut (positif atau negatif)
6. Kemudahan dan adaptasi pasien
7. Umur 45 tahun vs 90 tahun
8. Ketangkasan tangan dan jari serta pergerakan secara umum (baik vs terbatas)
9. Kemampuan visual (baik vs terbatas)
10. Pendapatan finansial (mampu vs terbatas)
11. Orang yang tepat untuk membantu (ada vs tidak ada)
Setelah terjadi gangguan pendengaran, para lanjut usia dinilai berdasarkan faktor-faktor di atas. Bila faktor-faktor tersebut terpenuhi maka orang lanjut usia dapat diprediksi untuk menggunakan alat bantu dengar dengan baik atau tidak.
Walaupun untuk sementara ukuran tersebut bukan tanpa kritikan, tetapi telah diakui bahwa faktor-faktor tersebut memang penting untuk keberhasilan pengguna alat bantu dengar pada lanjut usia. Pada beberapa kasus lanjut usia dengan gangguan pendengaran, walaupun sangat buruk dalam penilaian skor di atas, tetapi mereka dapat menerima dan menggunakan alat bantu dengar dengan efektif.
Pemakaian alat bantu dengar harus nyaman untuk pasien dalam menjalani kehidupan sehari-harinya dan sesuai dengan kapasitas fisik.
Berdasarkan amplifikasi dari alat bantu dengar, maka minimal dibutuhkan alat-alat seperti :
1. Advanced Modern Signal Processing (menyediakan amplifikasi yang tepat bagi setiap pasien
2. Multi Channel (frekuensi yang berbeda membutuhkan amplifikasi yang berbeda sehingga harus disesuaikan)
3. Enhancing Understanding in Noise (Multi Microphone Technology dan Noise Filtering)
Sebagai tambahan dapat digunakan bantuan, baik elektronik maupun nonelektrolik, berupa ALD (Assisted Listening Devices), seperti nyala lampu bila bel pintu atau telepon berbunyi.
Selanjutnya dalam memilih dan menentukan alat bantu pendengaran yang akan digunakan perlu diperhatikan jenis, alat yang sesuai, berapa harganya. Agar pasien dan masyarakat dapat tertolong, maka hearing aids harus dapat memenuhi hal-hal berikut, sederhana, efektif, murah, baterai tersedia dan murah.
Sekarang ini di pasaran tersedia banyak jenis hearing aids yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Terdapat hearing aids yang digital maupun analog, dari yang murah sampai mahal.
Juga dikenal hearing aids yang dipasang di dalam telinga, yang dipasang di kanal serta dipasang seluruhnya di dalam kanal. Pemilihan dan penentuan hearing aids akan digunakan dapat dilakukan melalui gejala kunci keberhasilan dari usaha ini.

c. Gangguan Keseimbangan pada Geriatri
Salah satu masalah utama yang sering dihadapi oleh orang lanjut usia adalah gangguan keseimbangan, yang akan memberikan implikasi yang cukup berpengaruh dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan penelitian mengenai kekerapan jatuh pada orang lanjut usia diperoleh hasil sebagai berikut :
Usia (tahun) Prevalensi Tahunan (%)
65 – 70 28 – 35
70 – 75 35
> 75 32 – 42
Vertigo Posisional Paroksismal Jinak (VPPJ) merupakan suatu penyakit yang paling sering dijumpai pada gangguan keseimbangan, meliputi 28 % dari seluruh keluhan gangguan keseimbangan

Anatomi Sistem Vestibuler
– Sistem keseimbangan tubuh terdiri atas sistem vertibuler, somatosensoris, dan penglihatan
– Sistem vestibuler terdiri atas :
– sentral : nukleus vestibularis, cerebellum, thalamus, dan korteks
serebri
– perifer : organ vestibuler, ganglion vestibularis, dan N. vestibularis
– Sistem vestibularis perifer terletak pada pars petrosum os temporal terdiri atas labirin tulang yang berisi perilimfe dan labirin membran yang berisi endolimfe
– Labirin membran terdiri atas:
– Labirin statis terdiri atas utrikulus dan sakulus
– Labirin kinetik terdiri atas kanalis semisirkularis horizontal, kanalis semisirkularis vertikal posterior, dan kanalis semisirkularis vertikal anterior

Fisiologi Sistem Vestibuler
Fungsi utama sistem vestibuler perifer adalah memberikan informasi rangsang percepatan sudut dan percepatan linier, membantu orientasi visual dalam mengatur gerakan mata, dan mengatur otot ekstremitas untuk mempertahankan posisi tubuh.
Organ vestibuler sebagai transducer yang berfungsi mengubah mekanisme mekanik (gerak otolit dan endolimfe) di kanalis semisirkularis menjadi rangsang biologi.
Vestibuler sentral berfungsi meneruskan rangsang menuju :
– korteks parieto-temporalis (sensasi orientasi tubuh terhadap sekitarnya)
– formatio retikularis di batang otak (pusat stabilitas gerak mata selama gerak kepala-refleks vestibulo okuler)
– medulla spinalis (mengontrol gerak tubuh- refleks vestibulo spinalis)
– pusat vegetatif (menimbulkan gejala mual)

Vertigo Posisional Paroksismal Jinak (VPPJ)
– VPPJ merupakan penyakit degeneratif yang idiopatik dan dapat ditemukan pada usia dewasa muda dan lanjut usia
– Diduga penyebab VPPJ adalah adanya terlepasnya kristal kalsium karbonat yang mengapung melalui cairan telinga dalam kemudian mengenai saraf yang sensitif (kupula) dalam alat keseimbangan pada akhir dari tiap kanalis semisirkularis (ampula). (Nama lain VPPJ adalah cupulolithiasis yang berarti adanya batu di dalam kupula)
– Kristal kalsium karbonat atau dikenal sebagai otoconia masuk ke dalam vestibulum dan terperangkap dan tidak menimbulkan gejala. Pada beberapa pasien dengan kristal yang terperangkap ini timbul gejala seperti pusing, rasa berputar, dan rasa ingin jatuh secara periodik, yang mengakibatkan mereka memukul kepala mereka berulang-ulang.
– Otoconia yang terlepas biasanya terperangkap dalam kanalis semisirkularis posterior, ini disebabkan oleh struktur anatomi dari kanalis semisirkularis tersebut.
– Diagnosa dapat ditegakkan dengan melakukan tindakan tes provokasi dan menilai timbulnya nistagmus pada posisi tertentu. Perasat yang paling sering digunakan untuk memprovokasi nistagmus yaitu Dix Hallpike.
– Cara melakukan perasat Dix Hallpike adalah pasien didudukkan di meja pemeriksaan, kemudian pasien dibaringkan telentang sampai kepala pasien menggantung di pinggir meja. Kepala pasien diputar ke satu sisi kemudian diperiksa apakah terdapat nistagmus atau tidak. Jika terdapat nistagmus, berarti pada sisi telinga yang menghadap ke lantai terdapat kelainannya. Jika tidak terdapat kelainan maka dilakukan pemeriksaan terhadap sisi yang lain.
– Nistagmus akan mereda dalam 15-20 detik. Jika diperlukan lebih lanjut dapat dilakukan pemeriksaan electronystagmography (ENG).
– Nistagmus spontan horizontal dapat terjadi oleh adanya lesi perifer atau sentral, sedang nistagmus vertikal atau rotatoir menunjukkan adanya lesi sentral.

Penatalaksanaan VPPJ
– Pasien yang didiagnosa VPPJ yang dilarang untuk berbaring ke sisi yang menyebabkan vertigo.
– Pemberian obat-obatan seperti antivert, valium, dramamine, phenergan biasanya tidak direkomendasikan karena menyebabkan sedasi. Dengan menghindari posisi yang provokatif, VPPJ dapat sembuh dalam beberapa minggu.

Pengobatan vertigo
Golongan obat Nama generik Dosis
Antihistamin Meclizine
Dimenhydrinate
Promethazine 25 – 50 mg 3 kali/hari
50 mg 1 – 2 kali/hari
25 – 50 mg supp/I.M
Benzodiazepin Diazepam
Clonazepam 2,5 mg 1 – 3 kali/hari
0,25 mg 1 – 3 kali/hari
Phenotiazine Prochlorperazine 5 mg IM / 25 mg supp
Antikolinergik Scopolamine Dengan plester
Simpatomimetik Ephedrine 25 mg/ hari
Preparat kombinasi Ephedrine, Promethazine 25 mg/ hari masing-masing

Terapi dengan obat terbaru diberikan merislon®, yang nama generiknya adalah betahistine mesylate. Obat ini berfungsi untuk melebarkan sfingter prekapiler, meningkatkan peredaran darah pada telinga bagian dalam, selain itu juga meningkatkan permeabilitas kapiler pada telinga bagian dalam, dengan demikian menghilangkan endolymphatic hidrops.

– Reposisi otolith dengan cara perasat Epley atau Semont, sudah diterima dan angka keberhasilan dari UCSD Head and Neck Surgery cukup tinggi 75% pasien dapat sembuh. Caranya adalah mendudukkan pasien di meja, kemudian pasien berbaring telentang, sehingga otoconia dapat mengalir ke tengah-tengah kanalis semisirkularis posterior, kemudian setelah beberapa menit, kepala pasien dimiringkan ke sisi yang normal. Setelah ditunggu beberapa saat, kemudian pasien didudukkan kembali. Beberapa ahli menyarankan untuk menggunakan vibrator untuk meningkatkan keberhasilannya, walaupun banyak pendapat yang menentangnya.
– Instruksi setelah menjalani terapi perasat Epley Semont yaitu sebelum pulang pasien menunggu selama 10 menit. Hal ini untuk menghindari ‘quick spin’ atau vertigo balasan jika terjadi reposisi debris, dan jangan mengendarai kendaraan. Selama 48 jam setelah dilakukan perasat ini pasien tidak boleh berbaring datar sejajar lantai. Sewaktu tidur kepala pasien harus bersandar atau diganjal dengan bantal. Selama satu minggu pasien sebaiknya menggunakan 2 bantal sewaktu tidur, jangan terlalu menundukkan kepala, hindari tidur pada sisi yang “sakit.”
– Apabila perasat Epley Semont gagal, dapat dilakukan perasat Brandt-Daroff. Keberhasilan perasat ini adalah 95 %. Tindakan ini dilakukan 3 set sehari selama 2 minggu, atau dapat juga dilakukan 2 set sehari selama 3 minggu.
Jadwal yang disarankan
Waktu Latihan Durasi
Pagi 5 repetisi 10 menit
Siang 5 repetisi 10 menit
Sore 5 repetisi 10 menit

Satu repetisi dilakukan selama 2 menit

– Cara melakukan perasat Brandt-Daroff adalah pasien duduk di tempat tidur, seperti gambar 1, kemudian pasien berbaring ke samping dengan kepala melihat miring ke atas depan selama seperti gambar 2, untuk lebih memudahkan pasien membayangkan melihat kepala seseorang dengan tinggi sekitar 1,8 meter. Pasien tetap dalam posisi itu selama 30 detik atau sampai rasa pusing mereda. Kemudian pasien kembali dalam posisi duduk selama 30 detik seperti pada gambar 3. Setelah itu pasien kembali berbaring ke sisi kontralateralnya dengan cara seperti sebelumnya, dan kemudian mengikuti kelanjutannya.

– Perasat Epley Semont dapat pula dikerjakan di rumah, dilakukan sehari sekali. Tetapi kejelekannya adalah pasien tidak boleh berbaring ke sisi yang sakit.
– Terapi pembedahan jarang dilakukan pada VPPJ. Pada kasus yang berat atau terapi reposisi yang gagal dapat dilakukan tindakan pembedahan seperti singular neurectomy (Posterior Ampullar Nerve Section). Tindakan pemotongan saraf pada kanalis semisirkularis posterior. Pembedahan ini aman di tangan ahli, dan dapat sembuh permanen. Pada sedikit pasien dapat timbul tinitus, pusing, dan kehilangan pendengaran. Tindakan pembedahan yang kedua adalah Posterior Plugging Canal Procedure. Tindakan pembedahan ini lebih mudah dan lebih efektif daripada singular neurectomy. Pada pembedahan ini dilakukan mastoidektomi, kemudian membuka kanalis semisirkularis posterior untuk mengeluarkan kristal debris yang mengapung. Tindakan pembedahan yang terakhir adalah Vestibular nerve section (Neurectomy). Tindakan ini dilakukan bila dua cara pembedahan di atas tidak berhasil. Tindakan ini menghilangkan vertigo untuk selamanya pada sisi telinga yang terkena, namun banyak menyebabkan ketulian.
– Terdapat banyak penyakit yang berkaitan dengan meningkatnya risiko jatuh pada lanjut usia. Berdasarkan perubahan yang terjadi pada lanjut usia, dapat diuraikan sebagai berikut:
– Perubahan neurologi, berupa:
– perubahan struktur dan fungsi
– penurunan jumlah sel otak
– peningkatan jaringan ikat
– Penurunan fungsi mata berupa
– peningkatan ketebalan lensa sehingga fleksibilitas berkurang
– presbiopia
– diameter pupil mengecil
– penurunan kemampuan adaptasi terhadap kegelapan sebagai akibat terjadinya perubahan pada retina
– Penurunan fungsi vestibuler, berupa perubahan histologik pada neuron aferen
– Perubahan pengontrolan postur tubuh dan langkah akibat impuls propioseptif yang menuju ke pusat keseimbangan semakin melambat
– Disfungsi otonom dan hipotensi postural, yang terutama berkaitan dengan penyakit neurologi

Akibat Klinis
Gangguan keseimbangan pada lanjut usia dapat mengakibatkan :
– Instability / gangguan gaya jalan (gait)
– Jatuh, terdiri dua tipe yaitu eksternal dan internal. Tipe eksternal akibat karena kecelakaan, terpeleset, atau tersandung. Tipe internal diakibatkan idiopatik hipotensi, vertigo, obat-obatan, dan lain-lain.

Pencegahan
– Pencegahan primer
– Identifikasi orang-orang yang berisiko tinggi
– Identifikasi risiko lingkungan
– Skrining terhadap orang yang mempunyai potensi risiko jatuh
– Pendekatan masyarakat untuk pencegahan primer
– Pencegahan sekunder
– Identifikasi penyebab jatuh tersering dan memperbaikinya jika memungkinkan
– Perbaikan risiko lingkungan yang memungkinkan
– Bila jatuh tidak dapat dihindari, pertimbangkan untuk memperkecil cedera yang akan timbul.

d. Peran Serta Masyarakat
Banyaknya masalah-masalah pendengaran yang mungkin ada pada lanjut usia, menyebabkan mereka merasa malu akibat salah pengertian atas ucapan orang lain, sehingga mereka menjadi enggan berkomunikasi dan menarik diri dari pergaulan sosial. Akhirnya mereka mengalami kebosanan, depresi, dan frustrasi.
Agar orang-orang lanjut usia dengan gangguan pendengaran dapat berkomunikasi dengan lebih baik, maka diperlukan suasana yang mendukung, seperti :
– sebelum berbicara dengan mereka, mintakan dulu yang bersangkutan agar menyimak dengan baik
– sedapat mungkin hindari berbicara di tempat ramai dan di tempat yang terlalu banyak menimbulkan pantulan suara.
– berbicara sedikit lebih keras, tanpa berteriak, dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah dan lebih jelas, dengan memakai jeda lebih banyak dari biasanya.
– ulangilah pembicaraan yang belum dimengerti penderita dengan memakai uraian yang berbeda
– upayakan agar penderita lebih siap dalam mendengar informasi lebih lanjut dengan topik yang berbeda
– jangan berbicara sambil makan, minum, maupun merokok
– menghadap ke lanjut usia saat berbicara, yakinkan ia dapat melihat wajah dengan jelas
– upayakan sebanyak mungkin menggunakan bahasa wajah / gerakan dalam mengekspresikan sesuatu
Perlu diingat bahwa orang lanjut usia dengan gangguan pendengaran akan lebih sulit menangkap pembicaraan dalam keadaan lelah dan sakit, untuk mendapat perhatian mereka awali pembicaraan dengan menyebut namanya.
Suatu saat apabila masyarakat sudah merasakan bahwa diperlukan adanya organisasi khusus mengenai masalah gangguan pendengaran pada lanjut usia, tentunya Lembaga Kesejahteraaan Lanjut Usia (LKLU), Dewan Nasional untuk Kesejahteraan Sosial serta Departemen Sosial (DNIKS), wajib merangsang/menstimulir upaya pembentukan lembaga/organisasi tersebut. Minimal di dalam LKLU atau DNIKS perlu diupayakan agar ada subdivisi yang memikirkan dan menangani masalah ini secara serius.
IV. Kesimpulan
Gangguan fungsi pendengaran pada lanjut usia merupakan suatu proses degeneratif yang timbul secara perlahan-lahan tetapi sering tidak disadari. Gangguan pendengaran ini akan semakin banyak dijumpai akibat bertambahnya usia harapan hidup.
Gangguan pendengaran akan menimbulkan berbagai dampak psikososial. Hal ini membutuhkan penanganan tenaga medis yang baik dan juga dukungan dari keluarga dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Soetirto, I., Hendarmin, H., Bashiruddin, J. Gangguan Pendengaran (Tuli). Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi ke-5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Percetakan Gaya Baru, Jakarta, 2001.

Suwento, R., Hendarmin, H. Gangguan Pendengaran pada Geriatri. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi ke-5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Percetakan Gaya Baru, Jakarta, 2001.

Jackler, R.K. Ear. A Lange Clinical Manual first edition.

Harris, J.P. Dizziness and Beningn Positional Vertigo. Available at http://www-surgery.ucsd.edu/ent/PatientInfo/info_bppv.html

www.otology-neurotology.org/ANS/files/2005Abstracts.pdf – 345

http://www.merck.com/mrkshared/mmg/sec15/ch128/ch128a.jsp

http://www.emedicine.com/ent/topic311.htm

vertigo available at www.actaitalica.it/issues/2003/2_03/18650_01 Mosca

Comments

  1. Laurene

    I ‘m regularly to blogging and i truly appreciate your content.
    The post has really peaks my interest. I am going to bookmark your site and keep checking for new tips.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *