Faktor resiko autisme

Karena penyebab autisme adalah multifaktorial sehingga banyak faktor yang mempengaruhi. Banyak teori penyebab yang telah diajukan oleh banyak ahli. Hal ini yang menyulitkan untuk memastikan secara tajam faktor resiko gangguan autis. Faktor resiko disusun oleh para ahli berdasarkan banyak teori penyebab autisme yang telah berkembang. Terdapat beberapa hal dan keadaan yang membuat resiko anak menjadi autis lebih besar. Dengan diketahui resiko tersebut tentunya dapat dilakukan tindakan untuk mencegah dan melakukan intervensi sejak dini pada anak yang beresiko.

Adapun beberapa resiko tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa periode, seperti periode kehamilan atau prenatal, persalinan atau perinatal dan periode usia bayi atau neonatal (Judarwanto, 2006).

  1. Periode kehamilan atau prenatal

Perkembangan janin dalam kehamilan sangat banyak yang mempengaruhinya. Pertumbuhan dan perkembangan otak atau sistem susunan saraf otak sangat pesat terjadi pada periode ini, sehingga segala sesuatu gangguan atau gangguan pada ibu tentunya sangat berpengaruh. Gangguan pada otak inilah nantinya akan mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak kelak nantinya, termasuk resiko terjadinya autisme (Judarwanto, 2006). Faktor-faktor pada periode ini adalah peningkatan usia ayah dan ibu, primipara (wanita yang telah melahirkan seorang anak), perdarahan antepartum, medikasi selama kehamilan, pre-eklampsia, muntah, infeksi, dan stress selama melahirkan (Guinchat, Thorsen, dan Laurent dkk, 2012).

Beberapa keadaan ibu dan bayi dalam kandungan yang harus lebih diwaspadai dapat berkembang jadi autisme adalah infeksi selama persalinan terutama infeksi virus. Perdarahan selama kehamilan harus diperhatikan sebagai keadaan yang berpotensi mengganggu fungsi otak janin. Perdarahan selama kehamilan paling sering disebabkan karena placental complications, diantaranya placentae previa, abruptio placentae, vasa previa, circumvallate placenta, and rupture of the marginal sinus.

Kondisi tersebut mengakibatkan gangguan transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan pada otak janin. Perdarahan awal kehamilan juga berhubungan dengan kelahiran prematur dan bayi lahir berat rendah. Prematur dan berat bayi lahir rendah tampaknya juga merupakan resiko tinggi terjadinya autisme. Perilaku lain yang berpotensi membahayakan adalah pemakaian obat-obatan yang diminum, merokok dan stres selama kehamilan terutama trimester pertama. Adanya Fetal Atopi atau Maternal Atopi, yaitu kondisi alergi pada janin yang diakibatkan masuknya bahan penyebab alergi melalui ibu (Judarwanto, 2006).

  1. Periode persalinan atau perinatal

Persalinan adalah periode yang paling menentukan dalam kehidupan bayi selanjutnya. Beberapa komplikasi yang timbul selama periode ini sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan. Bila terjadi gangguan dalam persalinan maka yang paling berbahaya adalah hambatan aliran darah dan oksigen ke seluruh organ tubuh bayi termasuk otak. Organ otak adalah organ yang paling sensitif dan peka terhadap gangguan ini, kalau otak terganggu maka sangat mempengaruhi kualitas hidup anak baik dalam perkembangan dan perilaku anak nantinya.

Gangguan persalinan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya autism adalah  pemotongan tali pusat terlalu cepat, asfiksia pada bayi (nilai APGAR SCORE rendah < 6), komplikasi selama persalinan, lamanya persalinan, letak presentasi bayi saat lahir, kelahiran yang diinduksi, persalinan cepat, kelahiran dengan sectio cesarea , dan berat bayi lahir rendah (< 2500 gram) (Judarwanto, 2006 dan Guinchat, Thorsen, dan Laurent dkk, 2012). Studi lain menyatakan bahwa APGAR score ≤ 7 pada menit ke 5 dan usia kehamilan dibawah 35 minggu (Larsson, Eaton, dan Madsen dkk, 2005)

  1. Periode usia bayi atau neonatal

Dalam kehidupan awal di usia bayi, beberapa kondisi awal atau gangguan yang terjadi dapat mengakibatkan gangguan pada otak yang akhirnya dapat beresiko untuk terjadinya gangguan autisme. Kondisi atau gangguan yang beresiko untuk terjadinya autisme adalah prematuritas, alergi makanan, kegagalan kenaikan berat badan, kelainan bawaan : kelainan jantung bawaan, kelainan genetik, kelainan metabolik, gangguan pencernaan : sering muntah, kolik, sulit buang air besar, sering buang air besar dan gangguan neurologi atau saraf : trauma kepala, kejang otot atipikal, kelemahan otot (Judarwanto, 2006).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *