FAKTOR FISIKA-KIMIA PERAIRAN YANG MEMPENGARUHI EKOSISTEM MANGROVE

Faktor-faktor lingkungan yang berinteraksi satu sama lain secara kompleks akan menghasilkan asosiasi jenis yang juga kompleks. Di mana distribusi individu jenis tumbuhan mangrove sangat dikontrol oleh variasi faktor-faktor lingkungan seperti tinggi rata-rata air, salinitas, pH, dan pengendapan. Pada perairan tropik suhu permukaan air laut pada umumnya 27°C – 29°C, pada perairan yang dangkal dapat mencapai 34°C. Di dalam hutan bakau sendiri suhunya lebih rendah dan variasinya hampir sama dengan daerah-daerah pesisir lain (Hasmawati, 2001).

Spesies mangrove mempunyai toleransi yang berbeda terhadap peningkatan suhu udara. Dalam hal ini fotosintesis dan beberapa variabel ekofisiologi mangrove seperti produksi daun yang maksimal terjadi pada tingkat suhu optimal tertentu, di bawah dan di atas suhu tersebut fotosintesis dan produksi daun menurun (Hogarth, 1999). Field (1995) mengemukakan bahwa sedikit peningkatan dalam suhu udara memberikan pengaruh langsung yang relatif kecil terhadap mangrove, namun bila suhu lebih tinggi dari 35 C, maka akan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap struktur akar, pembentukan semai dan proses fotosintesis. Efek yang lebih luas dari peningkatan suhu adalah perubahan distribusi geografis mangrove dan struktur komunitas, peningkatan keanekaragaman jenis mangrove pada garis lintang yang lebih tinggi dan menstimulasi persebaran mangrove ke wilayah lingkungan salt marsh sub-tropis (Ellison, 1994).

Fauna yang berasosiasi dengan mangrove akan secara langsung terpengaruh oleh perubahan iklim dan secara tidak langsung oleh perubahan mangrove (Karthiresan and Bingham, 2001). Spesies fauna yang toleran terhadap peningkatan suhu (seperti ikan, gastropoda, dan krustase) akan cepat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Namun fauna dengan tubuh yang lunak dan moluska (keong dan kerang) diperkirakan akan menderita dengan adanya kenaikan suhu. Dalam hal ini dampak yang serius akibat perubahan iklim akan terjadi pada fauna yang hidupnya bergantung pada mangrove akibat banyaknya mangrove yang hilang di berbagai belahan dunia.

            Ketersediaan air tawar dan konsentrasi salinitas mengendalikan efesiensi matabolik (metabolic efficiency) vegetasi hutan mangrove. Walaupun spesies vegetasi mangrove memiliki mekanisme adaptasi yang tinggi terhadap salinitas, namun kekurangan air tawar menyebabkan kadar garam tanah dan air mencapai kondisi ekstrim sehingga mengancam kelangsungan hidupnya (Dahuri,  2003).

            Derajat keasaman untuk perairan alami berkisar antara 4 – 9 penyimpangan yang cukup besar dari pH yang semestinya, dapat dipakai sebagai petunjuk akan adanya buangan industri yang bersifat asam atau basa yaitu berkisar antara 5 – 8 untuk air dan untuk tanah 6 – 8,5 dan kondisi pH di perairan mangrove biasanya bersifat asam, karena banyak bahan-bahan organik di kawasan tersebut. Nilai pH ini mempunyai batasan toleransi yang sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut, salinitas dan banyaknya biota yang hidup (Hasmawati dalam Chaerani,  2011.

            Oksigen terlarut (DO) sangat penting untuk hewan di hutan mangrove, terutama untuk proses respirasi. Konsentrasi DO pada mangrove bervariasi berdasarkan daerah dan zona tumbuhnya, serta bervariasi menurut waktu, musim dan keragaman tumbuhan serta biota akuatik yang hidup di daerah mangrove. Kandungan oksigen mempengaruhi jumlah spesies yang hidup di sekitarnya, semakin stabil pasokan oksigen maka semakin banyak spesies yang hidup di daerah tersebut (Dewiyanti and Yunita, 2010). Menurut Effendi (2003), kisaran oksigen yang bagus untuk bisa menunjang kehidupan suatu ekosistem berkisar antara 3.2 – 4.5 ppm.

REFERENSI 

Hasmawati, M. 2001. Studi Vegetasi Hutan mangrove di Pantai Kuri Desa Nisombalia, kecamatan marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Skripsi Jurusan ilmu kelautan dan Perikanan. Makassar.

Hogarth, P. J. 1999. The Biology of Mangroves. Oxford University Press. New York.

Field, C. D. 1995. Impact of expected climate change on mangroves. Hydrobiologia 295, 75-81.

Ellison, J. C. 1994. Climate change and sea level rise impacts on mangrove ecosystems. In” Impacts of climate change on ecosystems and species: marine and coastal ecosystems” (J. Pernetta, R. Leemans, D. Elder and S. Humphrey, eds.), pp. 11-30. IUCN, gland.

Kathiresan, K. and Bingham, B. L. 2001. Biology of Mangrove and Mangrove Ecosystems. Center of Advanced Study in Marine Biology, Annamalai University, Parangipettai 608502 and Huxley College of Environmental Studies, Western Washington University, Bellingham, WA 98225, USA.

Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut, Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia.  Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Chaerani, N. 2011. Kerapatan, Frekuensi dan tingkat Penutupan Jenis Mangrove Di Desa Coppo Kecamatan Barru Kabupaten Barru. Universitas Hasanuddin. Makasar. Skripsi.

Dewiyanti, I. and Yunita. 2010. Identifikasi dan Kelimpahan Hama Penyebab Ketidakberhasilan Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Di Sekitar Kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh. Laporan Penelitian Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Syiah Kuala.