SKRIPSI

FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN PERSONAL HYGIENE PASIEN RAWAT INAP DI RUANG INTERNA RUMAH SAKIT UMUM SAWERIGADING KOTA PALOPO PERIODE APRIL – MEI 2011

”The Factors Related to Personal Hygiene Needs of Inpatiens in the Internal Space of Sawerigading General Hospital Palopo Period April – May 2011”

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Pendidikan
Pada Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
( STIKES ) Bhakti Pertiwi Luwu Raya Palopo

ANDI MARLINA
SK. 07. 02. 002

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
BHAKTI PERTIWI LUWU RAYA PALOPO
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2011
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Personal hygiene (kebersihan diri) merupakan cara perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis. Pemenuhan personal hygiene merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Ini berarti bahwa setiap manusia membutuhkan kenyamanan pada diri dan lingkungan. Dalam memberikan suasana atau memenuhi kebutuhan tersebut bukan berarti perawat harus membersihkan lingkungan, tetapi bagaimana perawat tersebut menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pasien.Kebutuhan personal hygiene sangat penting karena akan berdampak pada proses penyembuhan. Hal ini dapat dilihat pada klien yang mempunyai lingkungan yang nyaman, tenang, dan klien tersebut merasakan kedamaian sehingga stress yang terdapat pada dirinya akan hilang. Maka, proses pemulihan tubuh akan lebih cepat dibandingkan dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman. (Steven,Dkk,2000)
Terpenuhinya kebutuhan kebersihan diri dan lingkungan dapat membangkitkan motivasi klien untuk bekerja sama dalam program perawatan. Pelaksanaan pemenuhan kebutuhan kebersihan diri dan lingkungan pada klien dilakukan pada pasien yang tidak mampu secara sendiri dalam memenuhi kebutuhan kebersihan diri dan lingkungan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan diri kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena menganggap bahwa masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus menerus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum.(http//blogspot.com/prosedur personal hygiene).Di akses 29 Maret 2011
Prosedur pemenuhan kebutuhan personal hygiene dalam pelayanan keperawatan dapat meliputi menyiapkan tempat tidur tertutup dan terbuka, merawat kulit pada daerah yang tertekan, merawat rambut, merawat gigi dan mulut, merawat kuku, higiene vulva dan memandikan pasien.Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene yaitu dampak fisik dan gangguan psikososial. Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik misalnya terjadinya penyakit menular (Demam Typoid dan Diare).
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2006 terdapat 21.500.000 kasus demam thypoid di seluruh dunia, 200.000 diantaranya meninggal karena penyakit tersebut dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,94% (4). Laporan WHO tahun 2007 terdapat 17 juta kasus Demam thypoid di seluruh dunia, dimana 600.000 diantaranya meninggal (CFR 3,5%) (WHO, 2008).
Berdasarkan hasil penelitia Crump, J.A., dkk, insiden rate demam thypoid di Eropa yaitu 3 per 100.000 penduduk, di Afrika yaitu 50 per 100.000 penduduk, dan di Asia yaitu 274 per 100.000 penduduk. Insiden rate Demam thypoid di Afrika Selatan yaitu 39 per 1000.000 penduduk (WHO, 2008). Pada tahun 2005 insidens rate demam thypoid di Dhaka yaitu 390 per 100.000 penduduk, sedangkan di Kongo dengan jumlah 42.564 kasus dan 214 diantaranya meninggal dengan CFR 0,5% (WHO, 2006).Sedangkan Diare,kematian anak akibat diare di Indonesia adalah 2,5% (12,970) dari seluruh kematian di dunia.(Data WHO 2010).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2005, demam thypoid menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit tahun 2005 yaitu sebanyak 77.555 kasus (3,6%). Menurut hasil Survey Kesehantan Nasional (Surkesnas) tahun 2005, demam thypoid menempati urutan ke-8 dari 10 penyakit penyebab kematian umum di Indonesia sebesar 4,3% (Depkes RI, 2005). Pada tahun 2006 jumlah pasien rawat inap demam thypoid yaitu 81.116 kasus (3,15%) dari menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia (Depkes RI, 2006). Sedangkan angka kematian akibat diare tahun 2007 sebesar 46 orang,untuk tahun 2008 sebesar 209 orang (Profil kesehatan Indonesia 2007, 2008).
Situasi penyakit thypus (demam thypoid) di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebanyak 16.478 kasus, dengan kematian sebanyak 6 orang (CFR=1%). Berdasarkan laporan yang di terima oleh Subdin P2&PL Dinkes Prov. Sulsel dari beberapa kabupaten yang menunjukan kasus tertinggi yakni Kota Pare-pare, Kota Makassar, Kota Palopo, Kab.Gowa. Sedangkan untuk tahun 2006, tercatat jumlah penderita sebanyak 16.909 dengan kematian sebanyak 11 orang (CFR=0,007%) dan sebaran kasus tertinggi di Kab. Gowa, Kab. Enrekang, Kota Pare-pare.(Dinkes Prov.sul sel,2006)
Pada tahun 2007 tercatat jumlah penderita sebanyak 16.552 dengan kematian sebanyak 5 orang (CFR=0,03%) dengan sebaran kasus tertinggi di Kab. Gowa, Kab. Enrekang dan Kota Makassar. Penyakit typhus berdasarkan Riskesdas tahun 2007 secara nasional di Sulawesi Selatan, penyakit typhus tersebat di semua umur dan cenderung lebih tinggi pada umur dewasa. Prevalensi klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah yaitu 1,9%, terendah pada bayi yaitu 0,8%.(Dinkes Prov.sul sel,2007).
Dari data program tahun 2008 penyakit typhus tercatat jumlah penderita sebanyak 20.088 dengan kematian sebanyak 3 orang, masing-masing Kab. Gowa (1 orang) dan Barru (2 orang) atau CFR=0,01%. Insiden Rate (IR=0,28%) yaitu tertinggi di Kab. Gowa yaitu 2.391 kasus dan terendah di Kab. Luwu yaitu 94 kasus, tertinggi pada umur 15 – 44 tahun sebanyak 15.212 kasus.Sedangkan pada tahun 2009 penyakit typhus tercatat jumlah penderita sebanyak 18.661 (CFR=0,03%), kasus yang tertinggi yaitu di Kab. Enrekang (2.928 kasus) dan terendah di Kab.Takalar (0 kasus) (Dinkes Prov. Sulsel,2008,2009).
Sedangkan cakupan penemuan penderita diare di Provinsi Sulawesi Selatan Kabupaten/Kota Makassar 115,04%, Enrekang 111,67%,Palopo146,745%.(http://infoshe.blogspot.com/2009/12/diare). Di akses 1 Mei 2011
Berdasarkan laporan dari Rumah Sakit Sawerigading Palopo program tahun 2010 penyakit demam typoid tercatat jumlah penderita sebanyak 226 kasus demam thypoid yang terdiri dari laki-laki 93 orang dan perempuan 133 orang. Dan jumlah penderita demam thypoid dari bulan Januari sampai Maret Tahun 2011 tercatat 25 orang.
Dari survey awal di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo tanggal 28 Maret 2011 adalah 33 pasien rawat inap dan yang diamati terlihat dari sebagian besar pasien kurang terpenuhi personal hygienenya dimana kebersihan kulitnya yang ditandai dengan kulit kering dan bersisik, kuku kaki dan tangan yang panjang dan terdapat kotoran pada kuku, bibir kering, rambut kusut dan kotor.
Dalam hal ini, kurang terpenuhinya kebutuhan personal hygiene pasien bukan hanya karena keterbatasan fisik tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di antaranya sosial budaya,pengetahuan dan lain – lain.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu “Faktor-faktor apa yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo Tahun 2011?”
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mengetahui tentang faktor – faktor yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo Tahun 2011.
Tujuan Khusus
Mengetahui tentang hubungan kondisi fisik terhadap pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo
Mengetahui tentang hubungan pengetahuan terhadap pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo
Mengetahui tentang hubungan budaya terhadap pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo.

Manfaat Penelitian
Bagi Institusi
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bhakti Pertiwi Luwu Raya Palopo.
Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi institusi dalam meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan khususnya pemenuhan kebutuhan personal hygiene pasien.
Bagi Klien dan Keluarga
Diharapkan dapat menambah wawasan klien dan keluarga tentang pentingnya personal hygiene.
Bagi Peneliti
Dengan penelitian ini menambah wawasan peneliti tentang pemenuhan kebutuhan personal hygiene dan faktor – faktor yang mempengaruhinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Umum Tentang Personal Hygiene
Pengertian
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesehateraan fisik dan psikis.(Tarwanto & Wartonah,2006)
Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan dan kesehatan. Seperti pada orang sehat mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya sendiri. Pada orang sakit atau tantangan fisik memerlukan bantuan perawat atau keluarga untuk praktik kesehatan yang rutin.(Pery & potter,2006)
Mempertahankan hygiene yang baik dapat mencegah infeksi dan kerusakan kulit, memperbaiki sirkulasi, kenyamanan dan istirahat, nutrisi dengan memperbaiki nafsu makan, harga diri dengan memperbaiki penampilan serta rasa sejahtera.(Hidayat.A.A,2006)
Tujuan umum perawatan diri (Personal Hygiene)
Tujuan umum perawatan diri adalah untuk mempertahankan perawatan diri, baik secara mandiri maupun dengan menggunakan bantuan, dapat melatih hidup sehat / bersih dengan cara memperbaiki gambaran atau persepsi terhadap kesehatan dan kebersihan, serta menciptakan penampilan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan. Membuat rasa nyaman dan relaksasi dapat dilakukan untuk menghilangkan kelelahan serta mencegah infeksi, mencegah gangguan sirkulasi darah, dan mempertahankan integritas pada jaringan ( Hidayat.A.A,2006)
Jenis Kebersihan Diri :
Kebersihan Kulit
Kulit merupakan bagian terluas dari tubuh dan merupakan bagian yang penting bagi setiap individu. Penampilan fisik, khususnya kulitlah yang pertama kali terlihat dan tampak dari luar (baik bagi individu itu sendiri maupun bagi orang lain), sehingga kondisinya lebih segera mempengaruhi pandangan orang lain (dan juga dri sendiri ) dan responnya pun biasanya lebih mendalam dibandingkan dengan penyakit pada bagian tubuh yang lain.(Tarwanto & Wartonah 2006)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kulit
Perubahan dan keutuhan pada kulit dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya :
Umur. Perubahan kulit dapat ditentukan oleh umur seseorang, hal ini dapat terlihat pada bayi yang berumur relative masih muda, kondisi kulitnya sangat rawan terhadap berbagai trauma atau masuknya kuman. Sebaliknya, pada orang dewasa, keutuhan kulit sudah memiliki kematangan sehingga fungsinya sebagai pelindung sudah baik.
Jaringan kulit. Perubahan dan keutuhan kulit dapat dipengaruhi oleh struktur jaringan kulit. Apabila jaringan kulit rusak, maka terjadi perubahan pada struktur kulit.
Kondisi/Keadaan Lingkungan. Beberapa keadaan lingkungan atau kondisi yang dapat mempengaruhi keadaan kulit secara utuh, antara lain keadaan panas, adanya nyeri akibat sentuhan dan tekanan.
Pengkajian Keperawatan pada Kulit
Warna Kulit
Pengkajian terhadap masalah kebersihan kulit meliputi penilaian tentang keadaan kulit, misalnya warna kulit untuk mengetahui adanya pigmentasi kulit. Warna kulit yang tidak normal dapat disebabkan oleh melanin pada kulit : warna coklat dapat menunjukkan adanya penyakit Addison atau tumor hipofisis, warna biru kemerahan dapat menunjukkan adanya polisetemia, warna merah menunjukkan adanya alergi dingin, hipertermia, psikologis, alcohol atau inflamasi local, warna biru (sianosis) pada kuku atau sianosis perifer akibat kecemasan atau kedinginan. Atau sentral karena penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen yang meliputi bibir, mulut, dan badan. Selanjutnya, warna kuning menunjukkan ikterus yang menyertai penyakit hati, hemolisis sel darah merah, obstruksi salluran empedu, atau infeksi berat yang dapat dilihat pada sclera, membrane mukosa dan abdomen; apabila terdapat pada telapak tangan, kaki, dan muka menunjukkan dampak atas konsumsi wortel atau kentang; apabila pada area kulit terbuka (bukan pada sclera dan membrane mukosa) menunjukkan adanya penyakit ginjal kronis, warna pucat (kurang merah muda pada orang kulit putih) atau warna abu-abu pada kulit hitam menunjukkan adanya sinkop, demam, syok, atau anemia. Kekurangan warna secara umum dapat menunjukkan albinieme.
Kelembapan Kulit
Dalam keadaan normal, kulit agak kering, dan dalam keadaan patologis dapat dijumpai kekeringan pada daerah bibir. Kekeringan pada bagian tangan dan genital dapat menunjukkan adanya dermatitis kontak. Keadaan normal pada membrane mukosa adalah lembap, dan bila terjadi kekeringan menunjukkan adanya dehidrasi.
Tekstur Kulit
Penilaian tekstur kulit dapat dilakukan melaui pengamatan dan palpasi. Contoh tekstur abnormal adalah pengelupasan atau sisik pada jari tangan dan kaki. Perhatikan juga turgor, yaitu kembalinya klah dicunit dalam keadaan normal. Selain itu, perhatikan juga ada atau tidaknya edema dan lesi.(Hidayat.A.A,2006)
Mandi
Mandi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kebersihan kulitnya.(Hidayat.A.A. & Musrifatul Uliyah,2006)
Tujuan mandi yaitu :
Mempertahankan kebersihan kulit
Mencegah infeksi kulit
Memperlancar peredaran darah
Mempertahankan kenyamanan.
Alat dan Bahan yang digunakan :
Baskom mandi dua buah yang berisiskan air dingin dan air hangat.
Pakaian pengganti
Kain penutup
Handuk dan waslap
Tempat untuk pakaian kotor
Skrin (sampiran)
Sabun
Gayung
Mempertahankan kebersihan perawatan kulit secara efektif dapat ditunjukkan dengan adanya kemampuan untuk menjaga kebersihan kulit seperti adanya warna, kelembapan, turgor, tekstur, hilangnya lesi. Mempertahankan sirkulasi darah, mengendorkan otot, dan membuat tubuh terasa nyaman. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan terlihat segar.(Tarwanto & Wartonah,2006)
Kebersihan Kuku
Menjaga kebersihan kuku merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan perawatan diri karena berbagai kuman dapat masuk kedalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu, kuku seharusnya tetap dalam keadaan sehat dan bersih. Secara antomis kuku terdiri atas dasar kuku, badan kuku, dinding kuku, kantung kuku, akar kuku, dan lunula. Kondisi normal kuku ini dapat terlihat halus, tebal kurang lebih 0,5 mm, transparan, dasar kuku berwarna merah muda. ( Hidayat.A.A,2006)
Masalah / gangguan pada Kuku :
Ingrown nail, kuku tangan yang tidak tumbuh-tumbuh dan dirasakan sakit pada daerah tersebut.
Paronychia, radang disekitar jaringan kuku.
Ram’s horn nail, gangguan kuku yang ditandai pertumbuhan yang lama disertai kerusakan dasar kuku atau infeksi.
Kuku tumbuh kedalam.
Bau tidak sedap, reaksi mikroorganisme yang menyebabkan bau tidak sedap.
Pengkajian yang perlu dilakukan adalah penilaian tentang keadaan warna, bentuk, dan keadaan kuku. Adanya jari tabuh dapat menunjukkan penyakit pernapasan kronis atau penyakit jantung dan bentuk kuku yang cekung atau cembung menunjukkan adanya cedera, defisiensi besi, dan infeksi.
secara umum kebersihan kuku ditandai dengan keadaan kuku yang bersih, kuku halus, tidak ada tanda radang disekitar kuku, pertumbuhan baik, dan tidak ada bau yang khas dari kuku.
Alat dan Bahan yang digunakan untuk perawatan kuku :
Alat pemotong kuku
Handuk
Baskom berisi air hangat
Bengkok dan sikat kuku
Sabun dan kapas.
Kebersihan Rambut
Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengatur suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat diidentifikasi. Secara anatomis, rambut terdiri atas bagian batang, akar rambut, sarung akar, folikel rambut, serta kelenjar sebasea. (Hidayat.A.A,2006)
Berbagai masalah yang terjadi pada rambut antara lain :
Kutu
Ketombe
Botak (alopecia)
Radang pada kulit di rambut (seborrheio dermatitis)
Pengkajian dilakukan pada warna, ukuran, serta susunan rambut, selain itu jenis rambut, apakah berminyak atau kering. Kemudian, kaji pola pertumbuhan rambut, apakah pola cepat atau lambat, sedikit, atau jumlah kerontokannya. Juga aspek perkembangan dan faktor yang mempengaruhi perawatan rambut seperti pemakaian minyak rambut, kemampuan menyisir, frekuensi cuci rambut serta pemakaian sampo.(Hidayat.A.A,2006)
Tujuan perawatan kulit kepala dan rambut :
Menghilangkan mikroorganisme kulit kepala
Menambah rasa nyaman
Membasmi kutu atau ketombe yang melekat pada kulit
Memperlancar system peredaran darah di bawah kulit.
Alat dan Bahan yang digunakan untuk perawatan kulit kepala dan rambut
Handuk secukupnya
Perlak atau pengalas
Baskom berisi air hangat
Sampo atau sabun dalam tempatnya
Kasa dan kapas
Sisir dan bengkok
Gayung dan ember kosong.
Secara umum rambut yang bersih dan sehat ditandai dengan keadaan rambut (segar, tidak rontok, tidak ada tanda radang pada kulit kepala, dan pertumbuhannya baik ).
Kebersihan Mulut dan Gigi
Gigi dan mulut adalah bagian penting yang harus dipertahankan kebersihannya sebab melalui organ ini berbagai kuman dapat masuk. Banyak organ yang berada dalam mulut, seperti orofaring, tonsil, uvula, kelenjar sublingual, kelenjar submaksilaris, dan lidah.(Hidayat.A.A,2006)
Masalah yang sering terjadi pada kebersihan gigi dan mulut, antara lain :
Halitosis, bau nafas tidak sedap yang dapat disebabkan oleh kuman atau lainnya.
Radang pada daerah gusi.
Karies, radang pada gigi.
Stomatitis, radang pada daerah mukosa dan rongga mulut.
Peridontal desease (gusi yang mudah berdarah dan bengkak).
Glostitis, radang pada lidah.
Chilosis, bibir yang pecah – pecah.
Pengkajian gigi dan mulut yang perlu diperhatikan antara lain warna, keadaan permukaan, serta kelengkapan gigi; pada pipi dalam perlu dilihat adanya warna mukosa serta keadaan permukaan, pada gusi perlu dilihat warna, tekstur, serta kelembapan. Pada daerah lidah dapat dilihat warna, tekstur, dan posisi lidah.(Hidayat.A.A,2006) .
Tujuan perawatan gigi dan mulut :
Mencegah infeksi gusi dan gigi
Mempertahankan kenyamanan rongga mulut

Alat dan bahan yang digunakan untuk perawatan gigi dan mulut :
Handuk dan kain pengalas
Gelas kumur berisi :
Air masak/NaCl
Obat kumur
Borax gliserin.
Spatel lidah yang telah dibungkus dengan kain kasa
Kapas lidi, kain kasa, dan bengkok.
Pinset atau arteri klem
Sikat gigi dan pasta gigi.
Jenis Perawatan Diri Berdasarkan Waktu Pelaksanaan
Adapun jenis perawatan diri (personal hygiene) berdasarkan waktu pelaksanaan dibagi menjadi empat, yaitu :
Perawatan dini Hari. Merupakan perawatan diri yang dilakukan pada waktu bangun tidur, untuk melakukan tindakan seperti perapian dalam pengambilan bahan pemeriksaan (urine atau feses), memberikan pertolongan, mempersiapkan pasien dalam melakukan makan pagi dengan melakukan tindakan perawatan diri, seperti mencuci muka, tangan, dan menjaga kebersihan mulut.
Perawatan Pagi Hari. Perawatan yang dilakukan setelah melakukan makan pagi dengan melakukan perawatan diri seperti melakukan pertolongan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi (buang air besar dan kecil), mandi atau mencuci rambut, melakukan perawatan kulit, melakukan pijatan pada punggung, membersihkan mulut, kuku, dan rambut, serta merapikan tempat tidur pasien.
Perawatan Siang Hari. Perawatan diri yang dilakukan setelah melakukan berbagai tindakan pengobatan atau pemeriksaan dan setelah makan siang. Berbagai tindakan perawatan diri yang dapat dilakukan, antara lain mencuci muka dan tangan, membersihkan mulut, merapikan tempat tidur, dan melakukan penliharaan kebersihan lingkungan kesehatan pasien.
Perawatan menjelang Tidur. Perawatan yang dilakukan pada saat menjelang tidur agar pasien dapat tidur dan beristirahat dengan tenang. Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain pemenuhan kebutuhan eliminasi (buang air besar dan kecil), mencuci tangan dan muka, membersihkan mulut, dan memijat daerah punggung.(Hidayat.A.A,2006)
Tinjauan Umum Tentang Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene Pasien Rawat Inap di Ruang Interna
Kondisi Fisik
Manusia mempunyai sifat yang holistic, dalam artian manusia adalah makhluk fisik, psikologis, sekaligus rohani, dan aspek-aspek ini saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi. Sebagai makhluk yang berfisik, memiliki kelemahan – kelemahan fisik adalah hal yang nyata. Apa yang terjadi dengan kondisi fisik manusia akan mempengaruhi pula kondisi psikologis dan rohaninya. Penyakit fisik yang dialami seseorang tidak hanya menyerang manusia secara fisik saja tetapi juga dapat membawa masalah – masalah bagi kondisi psikologisnya dan rohaninya.Demikian pula sebaliknya.(Roshana S,2008)
Gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, gangguan fisik pada kuku.
Orang yang menderita penyakit tertentu atau yang menjalani operasi seringkali kekurangan energi fisik atau ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi. Seorang klien yang menggunakan gips pada tangannya atau menggunakan traksi membutuhkan bantuan untuk mandi yang lengkap. (Perry & Potter,2006)
Kondisi fisik menjadi acuan dalam memberikan jenis perawatan yang dibutuhkan pasien berdasarkan derajat ketergantungan pasien.
Menurut Douglas (2000), Laveridge & Cummings (2000) klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi tiga kategori (Poerwadarminta,2006) yaitu:

Minimal care
Yaitu pasien yang memerlukan bantuan minimal dalam melakukan tindakan keperawatan & pengobatan pasien. Melakukan aktivitas secara mandiri. Waktu yang dibutuhkan untuk keperawatan langsung selama 1-2 jam/24 jam. Dengan kriteria sebagai berikut :
Pasien bisa mandiri atau hampir tidak memerlukan bantuan
Mampu naik-turun tempat tidur
Mampu ambulasi dan berjalan sendiri
Mampu mandi sendiri / mandi sebagian dengan bantuan
Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
Mampu BAB dan BAK dengan sedikit bantuan
Status psikologis stabil
Pasien dirawat untuk prosedur diagnostik
Operasi ringan
Intermedit care
Yaitu pasien yang memerlukan bantuan sebagian dalam melakukan tindakan keperawatan dan pengobatan tertentu. Waktu yang dibutuhkan untuk keperawatan langsung selama 3 – 4 jam/24 jam. Dengan kriteria sebagai berikut :

Pasien memerlukan bantuan perawat sebagian
Membutuhkan bantuan satu orang untuk naik-turun tempat tidur
Membutuhkan untuk mandi
Membutuhkan bantuan untuk ambulasi atau berjalan
Membutuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan
Membutuhkan bantuan untuk makan (disuap)
Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
Membutuhkan bantuan untuk berpakaian untuk berpakaian dan berdandan
Membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK
Post operasi minor (24 jam)
Melewati fase akut dari post operasi mayor
Fase awal dari penyembuhan
Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
Gangguan emosional ringan.
Total care
Pasien memerlukan bantuan secara penuh dalam perawatan diri dan memerlukan observasi yang ketat, perawatan langsung butuh 5 – 6 jam/24 jam. Dengan kriteris sebagai berikut :
Pasien yang memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu perawat yang lebih lama :
Membutuhkan dua orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke kereta dorong atau kursi roda
Membutuhkan latihan pasif
Kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui terapi intervena (infus) atau NG tube (sonde)
Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
Dimandikan perawat
Dalam keadaan inkontenensia, menggunakan kateter.
24 jam post operasi mayor
Pasien tidak sadar
Keadaan pasien tidak stabil
Observasi tanda-tanda vital setiap kurang dari sejam
Perawatan luka bakar
Perawatan kolostomi
Menggunakan alat bantu pernafasan
Menggunakan WSD
Irigasi kandung kemih secara terus menerus
Menggunakan alat traksi
Pasca operasi tulang belakang atau leher
Gangguan emosional berat, bingung dan disorientasi.
Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui sesudah melihat atau menyaksikan, mengalami atau diajar.(Notoadmodjo.S,2003)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.(Roshana S,2008)
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui lebih dulu terhadap stimulus.
Interest (merasa tertarik), terhadap objek atau stimulus tersebut. Disini sikap subjek mulai timbul.
Evaluation (menimbang-nimbang), terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden lebih baik lagi.
Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan adalah salah satu komponen perilaku yang termasuk dalam kognitif domain yang terdiri dari enam tingkatan yakni :
Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengiterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari, seseorang telah mengetahui secara mendasar pokok-pokok pengertian tentang suatu yang dipelajari.
Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan menjabarkan materi atau obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengumpulkan dan sebagainya.
Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain sintesis adalah kemempuan seseorang untuk menyusun kembali pengetahuan yang telah diperoleh kepada bentuk semula maupun bentuk lainnya.
Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilain terhadap materi-,materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Klien juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri. Seringkali, pembelajaran tentang penyakit atau kondisi mendorong klien untuk meningkatkan hygiene.
Budaya
Seorang Antropologi yaitu E.B. Tylor mengemukakan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt-istiadat serta kebiasaan. Kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan kata lain kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.(Soekanto S,2002).
Disamping itu manusia Indonesia adalah manusia yang memiliki berbagai kultur yang bersifat unik dan memiliki berbagai keyakinan tentang sehat sehingga akan memberikan respon yang berbeda – beda terhadap upaya pemenuhan kebutuhan dasarnya secara mandiri baik dalam kondisi sehat maupun sakit. di akses 29 maret.
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu. Budaya juga mempengaruhi keluarga terhadap sistem pelayanan kesehatan dan mempengaruhi cara pelaksanaan seperti kesehatan pribadi. Budaya menggambarkan sifat non fisik, seperti : nilai, keyakinan, sikap atau adat-istiadat yang disepakati oleh kelompok masyarakat dan diwariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya.(Pery & Potter,2006).
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan.Perbedaan kultural dan suku pada keluarga yang dirawat di Rumah Sakit harus mendapat perhatian, karena dapat mempengaruhi siapa yang merawat, bagaimana cara pemenuhan kebutuhan kebersihan diri.
Proses keluarga dalam konteks kebudayaan, merupakan perhatian sentral dalam kelompok. Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan hygiene seseorang dari latar belakang budaya yang berbeda akan mengikuti praktik keperawatan diri yang berbeda pula.(Purwanto Heri,2000)
Status Ekonomi
Status ekonomi adalah sebuah komponen kelas sosial yang mengacu pada tingkat pendapatan keluarga dan sumber pendapatan. Kebutuhan sebuah keluarga umumnya berasal dari pekerjaan para anggota keluarga dan sumber-sumber pribadi seperti pensiun dan bantuan – bantuan.(Iswandy,2007).
Keluarga yang berfungsi secara tidak adekuat menunjukkan karakteristik penghasilan seluruhnya berasal dari bantuan umum karena kaum dewasa dalam keluarga gagal atau tidak mampu bekerja. Jumlah penghasilan yang rendah jelas tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok. Begitupula dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.(Roshana S,2008).
Masalah lain yang dihadapi adalah pembayaran pelayanan di rumah sakit yang sangat bervariasi antara rumah sakit yang satu dengan yang lainnya. Ditinjau dari sudut pandang pasien sebagai pembeli layanan kesehatan, biaya mencakup besaran nilai rupiah yang dibutuhkan sebagai ganti ekonomis atas layanan kesehatan yang telah diberikan rumah sakit baik yang dibayar oleh pasien langsung (out of pocket), penjamin (insurance) maupun subsidi. Hal ini menjadi kendala bagi masyarakat dengan status ekonomi rendah yang cenderung menggunakan jasa subsidi. Dalam memilih jenis pelayanan yang diinginkan cenderung memilih jenis perawatan yang murah. Terkait dengan personal hygiene, masyarakat dengan status ekonomi menengah kebawah sebagian besar dari kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dikarenakan rupiah yang mereka miliki tidak mampu untuk membeli kebutuhan tersebut. Berbeda dengan kelas ekonomi menengah keatas dengan nilai rupiah yang mereka miliki mendorong mereka untuk memilih jenis perawatan kebersihan diri yang lebih baik.(Sutanto,2001).
Sarana Rumah Sakit
Didalam suatu sarana kesehatan, seperti Rumah Sakit yang memberikan pelayanan rawat jalan dan rawat inap memiliki standar pelayanan yang menjadi acuan para personel Rumah Sakit baik personel medis (dokter), paramedis (perawat), & personel non medis. Yang saling berkontribusi satu dengan yang lain.(Poerwadarminta,2006).
Sarana rumah sakit merupakan unsur yang terpenting dalam institusi rumah sakit. Jika sarana rumah sakit yang tersedia kurang, maka dapat dipastikan mutu pengelolaan dan pelayanan rumah sakitpun rendah. Sarana rumah sakit sangat penting untuk membantu kelancaran pemberian tindakan pada klien yang sedang dirawat. Kegiatan pelayanan kesehatan di rumah sakit memerlukan ketersediaan air bersih dan kondisi wc yang bagus dan juga tersedianya alat-alat yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene. Jika kondisi air jelek atau tidak tersedia, maka akan menghambat pemenuhan kebutuhan dasar.( Djojodibroto.D,2000).
Kepentingan masyarakat akan pelayanan keperawatan ada diatas kepentingan pribadi agar kebutuhan klien (individu, keluarga, dan masyarakat) akan asuhan keperawatan terpenuhi. Keperawatan merupakan suatu pelayanan sosial yang esensial dan klien mempunyai hak menggunakan pelayanan keperawatan dari perawat secara professional. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya pemenuhan kebutuhan dasarnya dimana diantaranya adalah pemenuhan kebutuhan personal hygiene klien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian pasien(Gaffar Jumadi,2000).
Tinjauan Umum Tentang Rawat Inap
Rawat inap merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan untuk tinggal di Rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah. Selama proses tersebut, pasien dan keluarga dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stress. Berbagai perasaan yang sering muncul yaitu : cemas, marah, sedih, takut, dan rasa bersalah. Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya. Rasa tidak aman dan nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang biasa dialaminya, dan sesuatu dirasakan menyakitkan.(Supartini.Y,2004).
Bagi klien yang baru pertama kali dirawat biasanya menjalani lebih banyak tindakan pemeriksaan oleh beberapa orang, tidak pernah mempunyai gambaran tentang dirawat di Rumah sakit. Perubahan lingkungan yang tiba-tiba, staf yang masih asing, menimbulkan stress tersendiri bagi klien.
Pasien atau orang yang tinggal di rumah perawatan kehilangan dengan terpaksa kontak yang yang sudah lama berjalan. Ia merasa tidak berada lagi dalam lingkungan yang aman yang dijalaninya sebagaian besar dari hidupnya.
Dalam perawatan orang sakit, perawatan sehari-hari dari pasien rawat inap adalah bagian yang penting dari keseluruhan paket tugas yang ada. Suatu perawatan yang baik pertama-pertama harus meningkatkan faktor hygiene. Setelah itu orang berusaha untuk mempertahankan keadaan kesehatan dan kemudian memperbaikinya. Jika seseorang merasa dirinya kurang enak badan, ia biasanya kurang memperhatikan bagian luarnya. Ini menyebabkan meningkatnya rasa kesal, orang tak lagi merasa santai dibanding orang lain. Orang akan lebih mudah bertemu dengan orang lain, tanpa ada perasaan takut adanya bau yang tidak enak.(http//blogspot/.com/2009/rawat inap//).Diakses 29 maret

BAB III
KERANGKA KONSEP

Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah melihat suatu hubungan atau kaitan faktor – faktor yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene. Adapun alur kerangka kerja pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Keterangan :
: Variabel Independen
: Variabel Dependen
: Variabel Yang Diteliti
: Variabel Yang Tidak Diteliti
Hipotesis
Hipotesa Alternatif (HA)
Ada hubungan antara kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo.
Ada hubungan antara pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo.
Ada hubungan antara budaya dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo.
Hipotesa Nol (H0)
Tidak ada hubungan antara kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo.
Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo.
Tidak ada hubungan antara budaya dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien rawat inap di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo.

Variabel Penelitian
Identifikasi Variabel
Variabel adalah karateristik subjektif penelitian yang berubah dari suatu subjek ke subjek lainnya,sehingga dapat pula di sebut sebagai karateristik suatu benda atau subjek.Menurut fungsinya dalam korteks penelitian secara keseluruhan,khususnya dalam hubungan antar variable terdapat beberapa jenis yaitu :
Variabel bebas (Variabel independen) adalah variabel yang bila terjadi perubahan akan mengakibatkan perubahan variabel lain.Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kondisi fisik, pengetahuan,dan budaya.
Variabel tergantung (variabel dependent) adalah variabel yang berubah diakibatkan adanya perubahan variabel bebas. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah personal hygiene.
Defenisi Operasional kriteria objektif
Kondisi Fisik
Yang dimaksud dengan kondisi fisik dalam penelitian ini adalah tentang keadaan sakit yang mempengaruhi kemampuannya dalam pelaksanaan personal hygiene.
Kriteria Objektif :
Mampu : bila skor jawaban responden median ≥ 9
Tidak mampu : bila skor jawaban responden median < 9
Pengetahuan
Yang dimaksud dengan pengetahuan dalam penelitian ini adalah tentang segala yang diketahui menyangkut kebersihan diri dan tata cara pemenuhan kebutuhan kebersihan diri.
Kriteria Objektif :
Baik : bila skor jawaban responden median ≥ 5
Kurang : bila skor jawaban responden median < 5
Budaya
Yang dimaksud dengan budaya dalam penelitian ini adalah tentang kebiasaan yang mempengaruhi praktik personal hygienenya.
Kriteria Objektif :
Mendukung : bila skor jawaban responden median ≥ 8
Tidak mendukung : bila skor jawaban responden median < 8
Personal Hygiene
Yang dimaksud dengan Personal Hygiene dalam penelitian ini adalah Kebersihan diri yang meliputi : kebersihan kulit, kebersihan kulit kepala dan rambut, kebersihan gigi dan mulut, serta kebersihan kuku yang diamati langsung oleh peneliti
Kriteria Objektif :
Terpenuhi : bila skor = 26
Tidak terpenuhi : bila skor < 26

BAB IV
METODE PENELITIAN

Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain Deskriptif Analitik dengan pendekatan Cross Sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali, pada satu saat atau pengukuran pada saat bersamaan.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi adalah setiap subjek penelitian yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam,2003). Populasi dalam penelitian ini penelitian adalah semua pasien yang dirawat inap di ruang interna pada tanggal 02 s/d 31 Mei 2011 di Rumah Sakit Umum Sawerigading Palopo dan tercatat dalam buku register sebanyak 142 orang.
Sampel
Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling.Pengambilan sampel secara purposive di dasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang di buat oleh peneliti sendiri,berdasarkan ciri – ciri atau sifat – sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
Rumus pengambilan sampel (Nursalam 2006) :
N
n =
1 + N (〖d)〗^2

Keterangan :

N = Besarnya populasi
n = Besarnya sampel
d = Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang di inginkan (0,1)
Jadi besar sampel untuk N = 142 adalah 58 pasien.
Adapun sampel yang diambil harus memiliki kriteria sebagai berikut:
Kriteria Inklusi meliputi :
Pasien rawat inap di Ruang Interna.
Bersedia menjadi responden.
Kriteria Eksklusi
Pasien tidak bersedia menjadi responden.
Pasien pulang paksa atau permintaan sendiri
Pasien meninggal
Tempat Dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian
Tempat penelitian yang di maksud adalah di ruang interna Rumah Sakit Umum Sawerigading Palopo.

Waktu penelitian
Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 02 s/d 31 Mei 2011.
Instrumen penelitian
Instrument pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu lembar observasi dan kuesioner yang merupakan tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya dengan menggunakan skala likert dan skala Guttman.
Untuk mengukur variabel personal hygiene digunakan lembar observasi dengan pernyataan negatif dan menggunakan skala Guttman, pemberian skor pada setiap alternatif jawaban yaitu, 2 = tidak, 1 = ya. Dikatakan terpenuhi bila skor sama dengan 26 dan dikatakan tidak terpenuhi bila skor kurang dari 26.
Untuk mengukur variabel kondisi fisik digunakan skala Guttman. Pertanyaan tentang kondisi fisik sebanyak 6 item dengan skor pada setiap alternatif jawaban, yaitu 2 = ya , 1 = tidak. Dikatakan mampu bila skor jawaban responden lebih atau sama dengan 9 dan dikatakan tidak mampu bila jawaban responden kurang dari 9.
Untuk mengukur pengetahuan responden tentang personal hygiene digunakan multipelcoice sebanyak 10 item pertanyaan dengan skor pada setiap alternatif jawaban, yaitu 1 = jawaban benar, 0 = jawaban salah. Pengetahuan responden dikatakan baik jika skor sama dengan atau lebih dari 5 dan dikatakan kurang bila skor kurang dari 5.
Pada variabel budaya digunakan skala likert sebanyak 3 item pertanyaan dengan pemberian skor pada setiap alternatif jawaban, yaitu setuju = 3, ragu-ragu = 2, tidak setuju = 1. dikatakan mendukung bila skor jawaban responden sama dengan atau lebih dari 8 dan dikatakan tidak mendukung bila skor jawaban responden kurang dari 8.
E. Tehnik Pengumpulan Data
1. Data Primer
Untuk memperoleh data primer dilakukan dengan cara menyebarkan atau membagikan kuesioner kepada responden dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Sebelum kuesioner diserahkan kepada responden, peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian
Setelah responden memahami tujuan penelitian, maka responden diminta kesediaannya untuk mengisi kuesioner
Jika responden telah menyatakan bersedia, maka kuesioner diberikan dan responden diminta untuk mempelajari terlebih dahulu tentang cara pengisian kuesioner
Setelah kuesioner selesai diisi oleh responden, selanjutnya dikumpulkan dan dipersiapkan untuk diolah dan dianalisa.

2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang digunakan sebagai data pelengkap untuk data primer yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang didapat dari Rumah Sakit Umum Sawerigading Palopo. Data yang didapat nantinya akan dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pada pasien.
F. Pengolahan Dan Analisa Data
Pengolahan Data
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan peneliti dalam pengolahan
data yaitu :
Editing (memeriksa)
Setelah lembar kuesioner dikumpulkan dalam bentuk data, kemudian dilakukan pengecekan atau memeriksa kelengkapan jawaban, keterbacaan tulisan dan relevansi jawaban.
Koding (Memberi tanda kode)
Untuk memudahkan pengolahan data, semua jawaban atau data disederhanakan dengan memberikan simbol-simbol tertentu untuk setiap jawaban
Tabulasi
Data dikelompokkan kedalam suatu tabel menurut sifat – sifat yang dimiliki, kemudian data dianalisa secara statistik.

Analisa Data
Pengolahan data secara komputerisasi dengan menggunakan program SPSS versi 15,0. Analisa data dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut :
Analisis Univariat
Analisis ini adalah untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik masing – masing variabel yang diteliti. Bentuknya tergantung dari jenis datanya.
Analisis Bivariat
Yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dengan menggunakan uji statistik Chi-square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05.
Etika Penelitian
Masalah etika dalam penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting, mengingat dalam penelitian ini menggunakan manusia sebagi subjek. Dalam penelitian ini menekankan pada masalah etika yang meliputi :
Lembar Persetujuan (Informed consent)
Lembar persetujuan diedarkan sebelum penelitian dilaksanakan,
peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian. Jika responden
bersedia diteliti mereka harus menandatangani lembar persetujuan
tersebut, jika tidak peneliti harus menghormati hak-hak responden.
Tanpa Nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar kuesioner yang di isi oleh responden. Lembar tersebut hanya akan diberi kode tertentu.
Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari responden dijamin kerahasiaannya. Hanya kelompok data tertentu saja yang dilaporkan pada hasil penelitian.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Ruang Interna RSU Sawerigading Palopo pada tanggal 02 s/d 31 Mei 2011.Adapun desain penelitian yang di gunakan yaitu deskriptif analitik,dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan sampel di lakukan dengan menggunakan tehnik purposive sampling.Hasil penelitian diperoleh melalui observasi dan penyebaran kuesioner yang memuat pertanyaan-pertanyaan tentang kondisi fisik, pengetahuan, budaya, dan personal hygiene.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Sawerigading Kota Palopo terletak di Jln. Sami’un Kota Palopo. Rumah Sakit Umum Sawerigading Kota Palopo memiliki UGD, UGD kebidanan, ruang bedah yg terdiri dari zal bedah laki-laki (kelas I, II dan Bangsal), zal bedah perempuan (kelas I, II, dan Bangsal), VIP IA, VIP IIA, VIP IIIA, VIP IVA, VIP VA dan VIP VIA, ruang kelas I dan kelas II, ruang penyakit dalam yang terdiri dari zal dalam laki-laki 2 bangsal dan zal dalam perempuan 1 bangsal, ruang anak yang terdiri dari zal anak A dan zal anak B, zal anak kelas IA, IB, IIA, IIB, ruang instalasi gizi, bank darah, laboratorium, laboratorium kebidanan dan kandungan, kamar operasi, radiologi dan apotik. Rumah Sakit Umum Sawerigading Kota Palopo memiliki jumlah Dokter 32 orang yang terdiri dari 15 dokter umum, 2 dokter spesialis bedah, 2 dokter spesialis penyakit dalam, 2 dokter spesialis anak, 2 dokter spesialis objin, 1 dokter spesialis patalogi klinik, 1 dokter spesialis mata, 1 dokter THT, 1 dokter spesialis kulit, jumlah perawat dengan pendidikan S1.Kep. sebanyak 8 orang, DIII Anastesi 2 orang, DIII Kesehatan gigi 4 orang, SPK keperawatan sebanyak 15 orang, S1 Bidan sebanyak 2 orang, spesialis gigi sebanyak 1 orang, SKM sebanyak 13 orang, Apoteker farmasi sebanyak 5 orang, S1 Farmasi sebanyak 2 orang, Asisten apoteker sebanyak 2 orang, tenaga kesehatan farmasi sebanyak 1 orang, DIII Sanitasi sebanyak 1 orang, Akademi gizi sebanyak 8 orang.
Berdasarkan hasil pengolahan data maka berikut ini akan disajikan analisis univariat, dan analisis bivariat :
Analisis Univariat
Kondisi Fisik
Tabel 1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kondisi fisik
di Rumah Sakit Umum Sawergading Palopo

Kondisi Fisik Jumlah
N Persent (%)
Mampu 15 25,9
Tidak mampu 43 74,1
Total 58 100
Sumber : Data Primer, 2011
Berdasarkan tabel 1 di atas menunjukkan bahwa responden yang memiliki kondisi fisik yang mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene 15 (25,9%) dan yang memiliki kondisi fisik yang tidak mampu sebanyak 43 (74,1%)
Pengetahuan
Tabel 2
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan
di Rumah Sakit Umum Sawerigading Palopo.

Pengetahuan Jumlah
N Persent (%)
Baik 17 29,3
Kurang 41 70,7
Total 58 100
Sumber : Data Primer, 2011
Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa yang memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 17 responden (29,3%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 41 responden ( 70,7 %).
Budaya
Tabel 3
Distribusi frekuensi responden berdasarkan budaya
di Rumah Sakit UmumSawerigading Palopo.
Budaya Jumlah
N Persent (%)
Mendukung 11 19
Tidak Mendukung 47 81
Total 58 100
Sumber : Data Primer, 2011
Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan bahwa jumlah responden dengan budaya yang mendukung sebanyak 11 (19 %) dan budaya yang tidak mendukung sebanyak 47 responden (81%).
Personal Hygiene
Tabel 4
Distribusi frekuensi responden berdasarkan personal hygiene
di Rumah Sakit Umum Sawerigading Palopo.

Personal Hygiene Jumlah
N Persent (%)
Terpenuhi 10 17,2
Tidak terpenuhi 48 82,8
Total 58 100
Sumber : Data Primer, 2011
Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden yang terpenuhi personal hygienenya sebanyak10 (17,2%) dan yang tidak terpenuhi personal hygiene sebanyak 48 (82,8 %).

Analisis Bivariat
Hubungan antara Kondisi Fisik dengan Pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene.
Tabel 5
Distribusi Analisis hubungan kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene di Rumah Sakit Umum
Sawerigading Palopo

Kondisi Fisik Personal Hygiene
Total P
value
Terpenuhi Tidak terpenuhi
f % f % f %
Mampu 9 90 6 12,5 15 25,9 0,000
Tidak Mampu 1 10 42 87,5 43 74,1
Total 10 100 48 100 58 100
Sumber : Data Primer 2011
Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa dari hasil penelitian dengan 58 responden, yang kondisi fisik mampu dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 9 ( 90 %) sedangkan yang tidak terpenuhi sebanyak 6 responden (12,5 %). Responden yang memiliki kondisi fisik tidak mampu dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 1 ( 10 %), sedangkan yang personal hygiene tidak terpenuhi sebanyak 42 ( 87,5%).
Berdasarkan analisa data dengan Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Hubungan antara Pengetahuan dengan Pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene
Tabel 6
Distribusi analisis hubungan pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal Hygiene di Rumah Sakit Umum
Sawerigading Palopo

Pengetahuan Personal Hygiene Total P
Value
Terpenuhi Tidak terpenuhi
f % f % f %
Baik 8 80 9 18,8 17 29,3 0,000
Kurang 2 20 39 81,2 41 70,7
Total 10 100 48 100 58 100
Sumber : Data Primer 2011
Berdasarkan tabel 6 di atas menunjukkan bahwa dari hasil penelitian dengan 58 responden,yang pengetahuan baik dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 8 (80%) sedangkan yang tidak terpenuhi sebanyak 9 responden (18,8%). Responden yang memiliki pengetahuan kurang dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 2 ( 20 %), sedangkan yang personal hygiene tidak terpenuhi sebanyak 39 ( 81,2 %).
Berdasarkan analisa data dengan Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Hubungan antara Budaya dengan Pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene.
Tabel 7
Distribusi Analisis hubungan budaya dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene di Rumah Sakit Umum
Sawerigading Palopo

Budaya Personal Hygiene Total P
value
Terpenuhi Tidak terpenuhi
f % f % f %
Mendukung 7 70 4 8,3 11 19 0,000
Tidak mendukung 3 30 44 91,7 47 81
Total 10 100 48 100 58 100
Sumber : Data Primer 2011
Berdasarkan tabel 7 di atas menunjukkan bahwa dari hasil penelitian dengan 58 responden, budaya yang mendukung dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 7 responden ( 70% ) sedangkan yang tidak terpenuhi sebanyak 4 ( 8,3 %). Responden dengan budaya tidak mendukung dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 3 ( 30 %), sedangkan yang personal hygiene tidak terpenuhi sebanyak 44 ( 91,7 %).
Berdasarkan analisa data dengan Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 lebih kecil dari nilai α (0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara budaya dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Pembahasan
Hubungan kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Hasil penelitian dari 58 responden yang memiliki kondisi fisik mampu dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 9 ( 90 %) sedangkan yang tidak terpenuhi sebanyak 6 responden ( 12,5 %) Sedangkan jumlah responden yang kondisi fisiknya tidak mampu dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 1 ( 10 %) dan yang tidak terpenuhi sebanyak 42 ( 87,5 %).
Dari hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Pery & potter (2006), seseorang yang menderita penyakit tertentu atau yang menjalani operasi seringkali kekurangan energi fisik atau ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi. Hal ini menyebabkan personal hygiene klien tidak terpenuhi.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Darmiati (2008) di kota Makassar yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hyhiene.
Hubungan pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Hasil penelitian dari 58 responden yang memiliki pengetahuan baik dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 8 ( 80 %) dan yang tidak terpenuhi personal hygienenya sebanyak 9 responden ( 18,8 %) Sedangkan responden dengan pengetahuan kurang dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 2 ( 20 %) dan yang tidak terpenuhi sebanyak 39 responden (81,2 %).
Dari hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Walaupun tingkat pengetahuan responden baik tetapi sebagian besar personal hygienenya tidak terpenuhi. Hal ini dikarenakan kurangnya motivasi responden untuk merealisasikan pengetahuan tersebut.
Menurut Perry & Potter (2006), pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup, Klien juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri. Dengan pengetahuan responden tentang personal hygiene yang kurang menyebabkan tindakan responden berdasar pada apa yang diketahuinya.
Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Azrul yang dikutip Effendi (2000), menyatakan bahwa individu akan sadar, tahu, dan mengerti serta mau melaksanakan apapun yang ada hubungannya dengan kesehatan bila ia memiliki pengetahuan yang baik.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Darmiati (2008) di kota Makassar menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal hyhiene.
Hubungan budaya dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Hasil penelitian dari 58 responden diperoleh budaya yang mendukung dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 7 ( 70 %) dan yang tidak terpenuhi sebanyak 4 ( 8,3 %). Sedangkan jumlah responden dengan budaya yang tidak mendukung dan personal hygiene terpenuhi sebanyak 3 ( 30 %) dan personal hygiene yang tidak terpenuhi sebanyak 44 responden ( 91,7 %).
Dari hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara budaya dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Jika dilihat dari hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan budaya yang tidak mendukung dimana kebudayaan tersebut menghambat pelaksanaan personal hygiene. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih percaya dengan mitos-mitos atau larangan yang menghambat pelaksanaan personal hygiene diantaranya tidak boleh mandi pada saat sakit karena akan memperparah penyakit, tidak boleh memotong kuku karena akan memperpendek umur, tidak boleh mencuci rambut karena akan menyebabkan kerontokan dan dilarang bercukur pada saat sakit. Ini merupakan suatu kewajaran dimasyarakat, karena kebudayaan terwujud lewat perilaku manusia, dan apabila responden mempercayai tentang sesuatu yang ada dalam masyarakat maka responden akan mewujudkannya dalam tingkah laku sehari-hari. Kendati demikian ada juga responden yang tidak percaya lagi dengan mitos-mitos atau larangan yang menghambat pelaksanaan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.
Menurut Pery & Potter (2006). Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu. Budaya juga mempengaruhi keluarga terhadap sistem pelayanan kesehatan dan mempengaruhi cara pelaksanaan seperti kesehatan pribadi. Budaya menggambarkan sifat non fisik, seperti : nilai, keyakinan, sikap atau adat-istiadat yang disepakati oleh kelompok masyarakat dan diwariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Darmiati (2008) di kota Makassar menunjukkan bahwa ada hubungan antara kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hyhiene.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pasien rawat inap di Ruang Interna Rumah Sakit Umum Sawerigading Palopo, ditarik kesimpulan bahwa :
Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene dengan nilai signifikansi p = 0,000 lebih kecil dari 0,05 pada uji Chi-Squere
Ada hubungan yang bermakna antara kondisi fisik dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene dengan signifikan p = 0,000 lebih kecil dari 0,05 pada uji Chi-Squere
Ada hubungan yang bermakna antara budaya dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene dengan signifikan p = 0,000 lebih kecil dari 0,05 pada uji Chi-Squere
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diberikan beberapa saran kepada pihak yang terkait :

Di harapkan agar meningkatkan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya personal hygiene dan perilaku hidup sehat.
Di harapkan agar menambah buku referensi tentang personal hygiene dan metodologi penelitian agar dapat dipergunakan oleh mahasiswa sebagai bahan bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan.
Di harapkan agar memasukkan faktor perawat sebagai salah satu variabel penelitian dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda dan karya ilmiah ini dapat digunakan untuk perbandingan bagi peneliti selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2011), Kebutuhan Dasar Manusia Prosedur Pemenuhan Kebutuhan Diri Dan Lingkungan. http//blogspot.com/2011/02/ Prosedur Pesonal Hygiene. Diakses 29 Maret 2011

Darmiati. (2008). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene Pasien Rawat Inap.Makassar

Djojodibroto, D. (2000). Kiat mengelola Rumah Sakit. Hipokrates. Jakarta.

Effendy, N.(2000). Dasar – dasar kesehatan masyarakat, Ed.2. Jakarta.

Gaffar Jumadi, (2000). Pengantar keperawatan profesinal. EGC. Jakarta.

Hidayat.A.A. & Musrifatul Uliyah. (2006). Buku saku praktikum kebutuhan dasar manusia. EGC. Jakarta.

Hidayat.A.A. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia (Aplikasi, konsep dan proses keperawatan) buku I. Salemba medika. Jakarta.

Hidayat.A.A. (2007). Riset keperawatan. Salemba Medika. Jakarta

Iswandy.(2007). Analisis biaya pelayanan Rumah Sakit berbasis standart pelayanan medis sebagai dasar penetapan tarif diagnosis related’s group. http://iswandykapalawi.wordpress.com. Diakses 29 Maret 2011.

Nazir.M. (2005). Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Bogor

Notoatmodjo.S. (2003). Ilmu kesehatan masyarakat (Prinsip-prinsip dasar). Cetakan ke-2 Rineke Cipta. Jakarta.

Notoatmodjo.S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.Jakarta.

Notoatmodjo.S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.Jakarta

Nursalam, (2006). Konsep dan penerapan penelitian ilmu keperawatan (Pedoman Skripsi,Tesis,dan Instrumen penelitian keperawatan). Salemba Medika. Jakarta.

Poerwadarminta. (2006). Kamus besar bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Purwanto Heri.(2000).Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan.EGC.Jakarta

Potter & Pery. (2006). Fundamental keperawatan buku I. EGC. Jakarta.

Rosana Sintia. (2008). Hak dan kewajiban pasien. http://www.Fransbed negobarus.blogspot.com. Diakses 29 Maret 2011
.
Rosana Sintia. (2008). Manajemen keperawatan (ketenagaan keperawatandan pasien).http://www.nicelight1001.multiply.com.
Diakses 29 Maret 2011

Sugiyono. (2003). Statistika untuk penelitian. Alfabeta. Bandung.

Supartini.Y. (2004). Konsep dasar keperawatan anak. EGC. Jakarta.

Sutanto. (2001). Modul analisa data. FKM UI. Jakarta.

Soekanto,S.(2002).Sosiologi suatu pengantar. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Tarwato & Wartonah. (2006). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan edisi 3. Salemba Medika. Jakarta.

WHO,2004.Thypoid Fever.www.who.Int

WHO,2006.Thypoid Fever.www.who.Int

WHO,2008.Thypoid Fever.www.who.Int

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *