Baru baru ini publik Indonesia di hebohkan dengan penutupan lokalisasi esek esek Dolly di kota Surabaya dan Kali Jodoh di Jakarta, sebelumnya juga media masa di ramaikan oleh kasus esek esek yang melibatkan artis artis ibukota Jakarta. Sebenarnya berapa sih perputaran uang di bisnis esek esek pertahun di Indonesia??




Dilansir oleh DW.com baru baru ini sebuah riset lembaga peneliti aktivitas pasar gelap, Havocsope, menghimpun data 12 negara teratas yang warganya paling banyak berbelanja esek esek dalam hitungan per tahun. Indonesia masuk satu di antaranya dengan pengeluaran di bidang esek-esek sebesar USD2,25 miliar atau sekitar Rp30 triliun per tahun.

Seperti diberitakan DW.com, riset ini dilansir dengan menggunakan data dari program kesehatan masyarakat, penegak hukum, dan media. Berikut daftar negara negara dengan biaya belanja esek esek tertinggi di dunia menurut Havocsope:

  1. China (USD73 miliar/ Rp982 triliun/tahun)
  2. Spanyol (USD26,5 miliar/ Rp356,5 triliun)
  3. Jepang (USD24 miliar/ Rp322,8 triliun)
  4. Jerman (USD18 miliar/ Rp242,1 triliun)
  5. Amerika Serikat (USD14,6 miliar/Rp196,3 triliun)
  6. Korea Selatan  (USD12 miliar/160 triliun)
  7. India (USD8,4 miliar/Rp112,9 triliun)
  8. Thailand (USD6,4 miliar/Rp86 triliun)
  9. Filipina (USD6 miliarRp80,7 triliun)
  10. Turki  (USD4 miliar/Rp53,8 triliun)
  11. Swiss  (USD3,5 miliar/Rp47 triliun)
  12. Indonesia (USD2,25 miliar/30 triliun)

Di Indonesia, praktik esek esek dilakukan secara gelap. Meski dianggap sebagai kejahatan moral, aktivitas esek esek di Indonesia tersebar luas. Unicef memperkirakan, 30% pelacur perempuan di Indonesia berusia di bawah 18 tahun. Tak hanya itu, banyak mucikari yang masih berusia remaja. Akhir-akhir ini bahkan marak pemberitaan tentang artis-artis Indonesia yang juga bekerja di sektor esek esek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *