Erisipelas adalah infeksi pada dermis dan jaringan subkutis bagian atas yang hampir selalu disebabkan oleh Streptococcus pygogenes ( = Streptococcus beta hemolyticus grup A).
Dapat karena Streptococcus grup B, grup C, grup G, Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus aureus, menimbulkan bentuk klinis yang tidak khas terutama pada penderita yang keadaan immunologisnya abnornal.
PATOFISIOLOGI
Kuman masuk ke lapisan kulit yang dalam melalui luka kecil, mungkin karena garukan, luka operasi atau sebab lain. Sering tidak didapatkan tempat masuknya kuman dan Streptococcusnya didapatkan dari tenggorokan, hidup atau mata.
Kepekaan terhadap kuman ini meningkat pada orang malnutrisi, pecandu alkohol, baru menderita infeksi dan dysgamma globulinaemia.
Faktor predisposisi lokal adalah edema karena kelainan ginjal atau kelainan saluran getah bening, yang terakhir ini penting pada terjadinya erisipelas yang kumat-kumatan.
GEJALA KLINIS
         Panas badan cukup tinggi (anak-anak dapat dengan konvulsi), sakit kepala, malaise dan muntah-muntah/mual.
         Lesi di kulit :
Makula eritematus yang meninggi dengan batas jelas, dapat ada vesikule di atasnya. Dirasakan panas dan nyeri.
Lokalisasi biasanya :
         bayi : dinding perut
         anak-anak : muka, kepala dan tungkai bawah.
         dewasa : tungkai bawah, muka, telinga.
Pada penderita yang kelainan immunologis, gejala klinisnya tidak khas misalkan kemerahan berkurang.
PEMERIKSAAN
1.      Darah : Leucocytosis.
2.      Bila memungkinkan :
         Periksa Titer ASO : meningkat seminggu seelah infeksi.
         Mencari Streptococcus dengan kultur dari tenggorokan, hidup atau mata.
DIAGNOSIS BANDING
          Cellulitis
          Dermatitis kontak
          Lepra Tuberkuloid akut.
PENYULIT
Terjadi bila pengobatan tidak efektif
         Nefritis
         Abses subkutan
         Septisemia
         Kematian 50% pada bayi, penderita usia tua dan yang lemah.
         Kambuh lagi – Cellulitis.
PENATALAKSANAAN
1.      Pada penderita bayi, usia tua dan yang keadaan umumnya lemah sebaiknya dirawat di RS.
2.      Pemberian antibiotika sistemik diberikan 7 – 10 hari.
1.      Penisilin dan semisintetiknya (pilih salah satu)
a.       Penisilina G Prokain
Dosis : 1 – 2  dd 0,6 – 1,2 juta U
Anak-anak : 1 – 2 dd 25.000 – 50.000 I.U./kg
b.      Ampisilin
4 dd 250 – 500 mg a.c.
anak-anak : 4 dd 25 – 75 mg/kg – a.c.
c.       Amoksilin (*.*) (penulisan resep harus diparaf staf medik UPF)
3 dd 250 – 500 mg.a.
anak-anak : 3 dd. 7,5 – 25 mg/kg a.c.
2.      Eritromisin
4 dd 250 – 500 mg pc
anak-anak : 4 dd 12,5 mg – 25 mg/kg – pc
bila alergi penisilin
3.      Linkomisin
3 – 4 dd 250 – 500 mg
anak-anak lebih 1 bulan 3 dd 10 – 20 mg/kg
bila alergi penisilin dan yang menderita gangguan saluran cerna
4.      Bila kambuh-kambuh diberikan antibiotika sistemik dosis tinggi dulu sampai sembuh, baru dilanjutkan dosis rendah jangka lama selama 1 – 3 bulan.
3.      Pengobatan topikal
  1. Kompres dengan solusio Sodium Chloride 0,9 % atau Solusio Burowi :
         bila ada vesikule/bule
         dapat sebagai pendingin
  1. Neocitrin ointment (Basitrasina dan Polimiksina B)
         bila lesi kulit telah kering
DAFTAR PUSTAKA
1.      Rook A. et. Al. Texbook of Dermatology 4th ed., Oxford : Blackwell Scientific Publication, 1986 : 750 – 1.
2.      Arnold H.L et.al. Andrew’s Diseases of the Skin 8th ed., Piladelphia : WB Saunders Co., 1990 : 227 – 8.
3.      Hurmitz S. Clinical Pediatric Dermatology, Philadelphia : WB Saunders Co., 1981 : 219 – 20).
4.      Pedoman Penggunaan Antibiotika RSUD Dr. Soetomo edisi 1 1990.
5.      Formularium RSUD Dr. Soetomo 1985.