Entrepreneurship dan Pendidikan Berbasis Kewirausahaan – Entrepreneurship atau kewirausahaan menurut Rukka (2011), merupakan kemauan dan kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai resiko dengan mengambil inisiatif untuk menciptakan dan melakukan hal-hal baru melalui pemanfaatan kombinasi berbagai sumber daya dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh  pemangku kepentingan (stakeholders) dan memperoleh keuntungan sebagai konsekuensinya.

Pengertian yang lain dikemukakan oleh Purnomo (2012), kewirausahaan adalah kemampuan (ability) berpikir kreatif, berperilaku atau bertindak inovatif, penanggung resiko dan ketidakpastian, yang dijadikan dasar tindakan maupun daya penggerak, siasat atau strategi untuk menghasilkan produk baru, metode baru, maupun pengembangan organisasi secara baru.

Menurut Sethi (2008), kewirausahaan adalah sikap pikiran untuk mencari peluang, mengambil risiko yang diperhitungkan dan memperoleh manfaat dengan mendirikan sebuah usaha. Dari beberapa pengertian kewirausahaan di atas, dapat disarikan bahwa kewirausahaan adalah sikap, jiwa dan kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi, berani menanggung resiko, menggunakan sumber daya yang ada untuk menciptakan sesuatu yang baru sehingga bermanfaat untuk dirinya.

Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan, seperti dinyatakan oleh Burdus (2010), memiliki karakter-karakter sebagai berikut:

  1. Keyakinan pada kemampuan sendiri, sehingga memunculkan rasa optimisme setiap kali memiliki target, meskipun kadangkala menemui kegagalan.
  2. Memiliki keinginan untuk segera mencapai tujuan, sehingga dia selalu mengevaluasi apakah dia berada pada jalur yang benar atau tidak dalam menuju tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Berani mengambil resiko bahkan untuk sesuatu yang orang lain menganggap sesuatu yang mustahil untuk diperoleh.
  4. Kesediaan untuk mengambil tanggung jawab.
  5. Memiliki energi yang besar di atas rata-rata yang memungkinkan dia untuk melakukan upaya-upaya yang luar biasa.
  6. Memiliki visi ke depan.
  7. Memiliki kemampuan untuk mengorganisir orang lain.
  8. Memiliki keinginan untuk sukses
  9. Memiliki komitmen yang kuat
  10. Memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan pasar.

Kewirausahaan dapat membuat masyarakat lebih makmur secara ekonomi karena kewirausahaan mampu menciptakan kesempatan kerja baru, penghasilan baru, inovasi baru, serta unggul dalam kualitas untuk mengorganisir sumberdaya yang diperlukan dalam menciptakan nilai tambah. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien dan lebih memiliki nilai ekonomis.

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, kewirausahaan memegang peranan penting, sebagaimana diungkapkan oleh Maria (2008), bahwa kewirausahaan adalah sumber utama kemajuan ekonomi pada sektor-sektor industri, kemajuan ekonomi di banyak daerah dan negara. Fenomena ini telah menghasilkan sejumlah inisiatif pada pendidikan kewirausahaan.

Banyak penelitian sebagaimana diungkapkan oleh Sang M Lee (2005) menyimpulkan bahwa selain faktor pengalaman pribadi, lingkungan sosial dan budaya, pendidikan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kewirausahaan.

Dari hasil penelitiannya di Eropa, Wilson (2008) mengemukakan bahwa dengan sistem kesejahteraan yang bagus menjadikan masyarakat menjadi kurang berani mengambil resiko. Kondisi ini ditambah dengan fokus sekolah/ universitas yang lebih mempersiapkan lulusannya untuk mencari pekerjaan yang aman. Tetapi, globalisasi dan perkembangan lingkungan dan teknologi menuntut sekolah tak lagi menyiapkan lulusannnya untuk mencari kerja dan meniti karir. Sekolah harus mempersiapkan siswa untuk mampu bekerja dalam perubahan lingkungan global dan dunia usaha yang cepat dan dinamis. Pendidikan kewirausahaan dapat membantu mempromosikan budaya kewirausahaan dan budaya inovatif dengan mengubah pola pikir dan memberikan ketrampilan yang diperlukan (Wilson: 2008).

Pendidikan kewirausahaan juga berpengaruh positif pada niat karir siswa (Ekpoh : 2011). Pengintegrasian pendidikan kewirausahaan ke dalam kurikulum formal menjembatani kesenjangan dan mengubah pola pikir lulusan dari pencari kerja menjadi pencipta pekerjaan.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan, sekolah tentu menghendaki menghasilkan outcomes berupa manusia yang kreatif, inovatif dan mandiri, bisa mengahadapi tantangan dunia yang begitu cepat berubah dan memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupannya dengan baik. Jiwa kewirausahaan yang merupakan bagian dari ranah afektif perlu ditanamkan pada siswa melalui pendidikan yang berbasis kewirausahaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *