New-Picture

INTERAKSI ANTAR EKOSISTEM
Ditinjau dari daratan menuju ke arah laut lepas, tipologi umum dari perairan laut tropis
diawali oleh hutan mangrove yang kemudian diikuti oleh hamparan padang lamun, dan bentang terumbu karang (Gambar 1). Masing-masing ekosistem laut tersebut memiliki beragam fungsi dan peran yang saling terkait satu sama lain.

Gambar 1. Fungsi dan peran tiga ekosistem laut

Tingginya kompleksitas ekosistem laut, baik di dalam maupun antar ekosistem, membuat penelitian interaksi suatu kajian yang sangat rumit dan dinamis. Oleh karena itu, mekanisme yang pasti dalam interaksi antara ketiga ekosistem ini masih terus diteliti sampai saat ini. Ogden dan Gladfelter (1983) menyarikan interaksi rumit dalam ekosistem laut ke dalam lima kategori, yaitu interaksi fisik, interaksi bahan organik terlarut, interaksi bahan organik partikel, interaksi migrasi biota dan interaksi dampak manusia (Gambar 2).

Gambar 2. Interaksi antara ketiga ekosistem laut

Interaksi Fisik
Terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove berinteraksi secara fisik melalui beberapa mekanisme, yaitu reduksi energi gelombang, reduksi sedimen, dan pengaturan pasokan air baik air laut maupun air tawar dari sungai. Komunitas lamun dan mangrove sangat bergantung pada keberadaan struktur kokoh dari bangunan kapur terumbu karang sebagai penghalang aksi hidrodinamis lautan, yaitu arus dan gelombang. Di zona reef front, terjadi produksi pecahan fragmen kapur akibat hempasan gelombang dan terpaan arus yang terus-menerus. Fragmen-fragmen kapur ini akan diproses oleh beberapa jenis ikan, bulu babi, dan sponge untuk menghasilkan kerikil, pasir, dan lumpur. Selanjutnya kerikil, pasir, dan lumpur akan diteruskan ke arah pantai oleh aksi gelombang dan arus yang telah dilemahkan, sehingga membentuk akumulasi sedimen yang menjadi substrat utama di goba serta diperlukan di ekosistem padang lamun dan hutan mangrove. Padang lamun berperan ganda dalam mempengaruhi kedua komunitas di sekitarnya, yaitu sebagai (1) pemerangkap dan penstabil sedimen, serta (2) pemroduksi sedimen. Fungsi pertama sangat diperlukan oleh terumbu karang karena menghindari proses sedimentasi yang bisa menutup permukaan hewan karang dan mengahalangi proses fotosintesis zooxanthellae di dalamnya. Fungsi yang kedua dilakukan oleh alga berkapur, epifit, dan infauna, yang hasilnya diperlukan oleh komunitas lamun dan mangrove. Hutan mangrove juga berperan serupa dalam hal pemerangkap dan penyaring sedimen dan bahan pencemar, sehingga sedimentasi dan pencemaran di perairan pesisir jauh berkurang. Mangrove juga berperan dalam mengatur pasokan air tawar ke sistem perairan pesisir.

Interaksi Bahan Organik Partikel
Sejumlah besar bahan organik partikel yang masuk ke lautan berasal dari bahan organic terlarut dari daratan yang terakumulasi dan mengeras. Sebagian kecil lainnya berasal dari detritus yang berupa dedaunan mangrove dan lamun yang membusuk. Mayoritas bahan organik partikel ini akan dihancurkan terlebih dahulu oleh biota-biota mangrove sehingga membentuk fragmen yang berukuran lebih kecil. Fragmen-fragmen berukuran kecil ini merupakan makanan yang berprotein tinggi dan disukai oleh biota laut berukuran besar yang sering terdapat di terumbu karang.

Interaksi Migrasi Biota
Migrasi biota laut merupakan suatu hubungan yang penting dan nyata antara terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Ada dua kategori migrasi biota, yaitu:
1. Migrasi jangka pendek untuk makan
Tipe migrasi ini umumnya dilakukan oleh biota-biota dewasa. Ada dua strategi migrasi makan, yaitu:
a. Edge (peripheral) feeders. Edge feeders merupakan biota yang memanfaatkan
suatu sistem habitat untuk berlindung, namun berkelana jauh dari sistemnya
untuk mencari makan. Umumnya tipe migrasi ini berlangsung dalam jarak pendek, dan biota yang telah diketahui melakukannya adalah bulu babi Diadema
dan ikan Scaridae.
b. Migratory feeders. Tipe migratory feeders memiliki jarak migrasi yang relatif
jauh dan memiliki waktu tertentu dalam melakukan kegiatannya. Contoh biotanya adalah ikan penghuni terumbu karang seperti ikan kakap (Lutjanidae) yang diketahui sering mencari makan di padang lamun saat malam hari, dan ikan barakuda (Sphyraenidae) yang mencari makan di hutan mangrove saat pasang naik.

2. Migrasi daur hidup antara sistem yang berbeda
Tipe migrasi ini sering dijumpai pada spesies-spesies ikan dan udang yang diketahui melakukan pemijahan dan pembesaran larva di hutan mangrove atau padang lamun. Hal ini dimungkinkan oleh tersedianya banyak ruang berlindung, kaya akan sumber makanan, dan kondisi lingkungan perairan yang lebih statis dibandingkan terumbu karang. Lambat laun biota tersebut tumbuh dan menjadi besar, sehingga ruang berlindung yang tersedia sudah tidak memadai lagi dan mereka pun bermigrasi ke perairan yang lebih dalam seperti terumbu karang atau laut lepas.

Interaksi Dampak Manusia
Kegiatan manusia memiliki dampak yang bervariasi terhadap ekosistem laut di laut, dari yang sifatnya sementara atau dapat diatasi secara alami oleh sistem ekologi masing-masing ekosistem hingga yang bersifat merusak secara permanen hingga ekosistem tersebut hilang. Kerusakan yang terjadi terhadap salah satu ekosistem dapat menimbulkan dampak lanjutan bagi aliran antar ekosistem maupun ekosistem lain di sekitarnya. Khusus bagi komunitas mangrove dan lamun, gangguan yang parah akibat kegiatan manusia berarti kerusakan dan musnahnya ekosistem. Bagi komunitas terumbu karang, walau lebih sensitif terhadap gangguan, kerusakan yang terjadi dapat mengakibatkan konversi habitat dasar dari komunitas karang batu yang keras menjadi komunitas yang didominasi biota lunak seperti alga dan karang lunak.

Rantai Makanan Laut
Fitoplankton adalah tingkat pertama dari rantai makanan kita, diikuti oleh zooplankton, yang memakan fitoplankton tersebut. Para zooplanktonkemudian dimakan oleh krill, ikan dan krustasea lainnya, yang semua pergi untuk dimakan oleh ikan besar, penguin, anjing laut, singa laut dan paus.Rantai makanan terus pada saat dimakan oleh mamalia seperti beruang kutub. (Vegas)

Jika kita berpikir tentang rantai makanan secara logis mudah mengerti bagaimana caranya, tanpa plankton, semua hewan laut akan mati. Tanpa fitoplankton, zooplankton tidak akan memiliki makanan dan mati. Tanpa zooplankton, krill, ikan kecil dan krustasea lainnya akan punya apa-apa untuk makan dan mereka akan mati, dll, dll Sampai akhirnya Anda mendapatkan semua jalan keluar untuk mamalia besar seperti ikan paus, lumba-lumba, dan manate. Semua binatang di laut tergantung pada plankton untuk bertahan hidup.

Gambar 3. Rantai makanan laut

Meskipun manusia saat ini tidak makan dari beruang kutub dan ikan sebagai makanan seluruh mereka, pada satu waktu kita lakukan. Pemburu-pengumpul bergantung pada daging dan ikan sebagai bagian dari makanan sehari-hari mereka. Tanpa plankton mereka tidak akan memiliki akses ke berbagai jenis daging dan ikan. Artinya, pemburu-pengumpul akan terpaksa hanya mengandalkan pada makanan yang mereka berkumpul, daripada ditangkap dan dibunuh; ini meliputi akar, dan biji-bijian dan kacang. Makanan ini pada akhirnya akan menjadi begitu langka bahwa kelompok-kelompok besar pemburu-pengumpul akan mati kelaparan masih. (Pearson) Seafood telah memainkan peranan penting sepanjang sejarah dan tidak hari ini.