Ekologi Laut Tropis

Interaksi Antar Ekosistem
Umum
Interaksi Fisik
Interaksi Bahan Organik Partikel
Interaksi Migrasi Biota
Interaksi Dampak Manusia

Mangrove
Ekosistem
Ekofisiologi dan Zonasi
Fauna dan Interaksi
Fungsi dan Peran

Terumbu Karang
Ekosistem Terumbu Karang
Ekologi Terumbu Karang
Fungsi dan Manfaat

Padang Lamun
Ekosistem
Sebaran Jenis dan Karakteristik Ekologi
Pertumbuhan, Produktivitas, dan Biomasa
Assosiasi dan Interaksi

Pulau Kecil
Pulau Kecil
Sinergi ekosistem laut tropis terhadap keberadaan pula
2
INTERAKSI ANTAR EKOSISTEM
Umum
Ditinjau dari daratan menuju ke arah laut lepas, tipologi umum dari perairan laut tropis
diawali oleh hutan mangrove yang kemudian diikuti oleh hamparan padang lamun, dan
bentang terumbu karang (Gambar 1). Masing-masing ekosistem laut tropis tersebut
memiliki beragam fungsi dan peran yang saling terkait satu sama lain.
Gambar 1. Fungsi dan peran tiga ekosistem laut tropis
Tingginya kompleksitas ekosistem laut tropis, baik di dalam maupun antar ekosistem,
membuat penelitian interaksi suatu kajian yang sangat rumit dan dinamis. Oleh karena
itu, mekanisme yang pasti dalam interaksi antara ketiga ekosistem ini masih terus
diteliti sampai saat ini. Ogden dan Gladfelter (1983) menyarikan interaksi rumit dalam
ekosistem laut tropis ke dalam lima kategori, yaitu interaksi fisik, interaksi bahan
organik terlarut, interaksi bahan organik partikel, interaksi migrasi biota dan interaksi
dampak manusia (Gambar 2).
3
Gambar 2. Interaksi antara ketiga ekosistem laut tropis (modifikasi Ogden dan
Gladfelter dalam Bengen 2004)
Interaksi Fisik
Terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove berinteraksi secara fisik
melalui beberapa mekanisme, yaitu reduksi energi gelombang, reduksi sedimen, dan
pengaturan pasokan air baik air laut maupun air tawar dari sungai. Komunitas lamun
dan mangrove sangat bergantung pada keberadaan struktur kokoh dari bangunan kapur
terumbu karang sebagai penghalang aksi hidrodinamis lautan, yaitu arus dan
gelombang. Di zona reef front, terjadi produksi pecahan fragmen kapur akibat
hempasan gelombang dan terpaan arus yang terus-menerus. Fragmen-fragmen kapur ini
akan diproses oleh beberapa jenis ikan, bulu babi, dan sponge untuk
menghasilkan kerikil, pasir, dan lumpur. Selanjutnya kerikil, pasir, dan lumpur akan
diteruskan ke arah pantai oleh aksi gelombang dan arus yang telah dilemahkan,
sehingga membentuk akumulasi sedimen yang menjadi substrat utama di goba serta
diperlukan di ekosistem padang lamun dan hutan mangrove.
Padang lamun berperan ganda dalam mempengaruhi kedua komunitas di
sekitarnya, yaitu sebagai (1) pemerangkap dan penstabil sedimen, serta (2) pemroduksi
sedimen. Fungsi pertama sangat diperlukan oleh terumbu karang karena menghindari
proses sedimentasi yang bisa menutup permukaan hewan karang dan mengahalangi
proses fotosintesis zooxanthellae di dalamnya. Fungsi yang kedua dilakukan oleh alga
berkapur, epifit, dan infauna, yang hasilnya diperlukan oleh komunitas lamun dan
4
mangrove. Hutan mangrove juga berperan serupa dalam hal pemerangkap dan
penyaring sedimen dan bahan pencemar, sehingga sedimentasi dan pencemaran di
perairan pesisir jauh berkurang. Mangrove juga berperan dalam mengatur pasokan air
tawar ke sistem perairan pesisir.
INTERAKSI BAHAN ORGANIK PARTIKEL (particulate organic matter)
Sejumlah besar bahan organik partikel yang masuk ke lautan berasal dari bahan organik
terlarut dari daratan yang terakumulasi dan mengeras. Sebagian kecil lainnya berasal
dari detritus yang berupa dedaunan mangrove dan lamun yang membusuk. Mayoritas
bahan organik partikel ini akan dihancurkan terlebih dahulu oleh biota-biota mangrove
sehingga membentuk fragmen yang berukuran lebih kecil. Fragmen-fragmen berukuran
kecil ini merupakan makanan yang berprotein tinggi dan disukai oleh biota laut
berukuran besar yang sering terdapat di terumbu karang.
INTERAKSI MIGRASI BIOTA
Migrasi biota laut merupakan suatu hubungan yang penting dan nyata antara terumbu
karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Ada dua kategori migrasi biota, yaitu:
1. Migrasi jangka pendek untuk makan
Tipe migrasi ini umumnya dilakukan oleh biota-biota dewasa. Ada dua strategi
migrasi makan, yaitu:
1. Edge (peripheral) feeders. Edge feeders merupakan biota yang memanfaatkan
suatu sistem habitat untuk berlindung, namun berkelana jauh dari sistemnya
untuk mencari makan. Umumnya tipe migrasi ini berlangsung dalam jarak
pendek, dan biota yang telah diketahui melakukannya adalah bulu babi Diadema
dan ikan Scaridae.
2. Migratory feeders. Tipe migratory feeders memiliki jarak migrasi yang relatif
jauh dan memiliki waktu tertentu dalam melakukan kegiatannya. Contoh
biotanya adalah ikan penghuni terumbu karang seperti ikan kakap (Lutjanidae)
yang diketahui sering mencari makan di padang lamun saat malam hari, dan ikan
barakuda (Sphyraenidae) yang mencari makan di hutan mangrove saat pasang
naik.
2. Migrasi daur hidup antara sistem yang berbeda
Tipe migrasi ini sering dijumpai pada spesies-spesies ikan dan udang yang diketahui
melakukan pemijahan dan pembesaran larva di hutan mangrove atau padang
lamun. Hal ini dimungkinkan oleh tersedianya banyak ruang berlindung, kaya akan
sumber makanan, dan kondisi lingkungan perairan yang lebih statis dibandingkan
5
terumbu karang. Lambat laun biota tersebut tumbuh dan menjadi besar, sehingga ruang
berlindung yang tersedia sudah tidak memadai lagi dan mereka pun bermigrasi ke
perairan yang lebih dalam seperti terumbu karang atau laut lepas.
INTERAKSI DAMPAK MANUSIA
Kegiatan manusia memiliki dampak yang bervariasi terhadap ekosistem laut
tropis, dari yang sifatnya sementara atau dapat diatasi secara alami oleh sistem ekologi
masing-masing ekosistem hingga yang bersifat merusak secara permanen hingga
ekosistem tersebut hilang. Kerusakan yang terjadi terhadap salah satu ekosistem dapat
menimbulkan dampak lanjutan bagi aliran antar ekosistem maupun ekosistem lain di
sekitarnya. Khusus bagi komunitas mangrove dan lamun, gangguan yang parah akibat
kegiatan manusia berarti kerusakan dan musnahnya ekosistem. Bagi komunitas
terumbu karang, walau lebih sensitif terhadap gangguan, kerusakan yang terjadi dapat
mengakibatkan konversi habitat dasar dari komunitas karang batu yang keras menjadi
komunitas yang didominasi biota lunak seperti alga dan karang lunak.
Gambar 3. Berbagai kegiatan manusia yang merusak dan mengganggu keberlangsungan
ekosistem laut tropis: (A) konversi hutan mangrove untuk tambak,
(B) pencemaran minyak, (C) kegiatan wisata yang kurang berhati-hati,
(D) pemasangan jangkar perahu yang merusak koloni karang.
6
EKOSISTEM MANGROVE
Definisi
Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai, estuari atau muara
sungai, dan delta di tempat yang terlindung daerah tropis dan sub tropis. Dengan
demikian maka mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan
lautan dan pada kondisi yang sesuai mangrove akan membentuk hutan yang ekstensif
dan produktif. Karena hidupnya di dekat pantai, mangrove sering juga dinamakan hutan
pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Istilah bakau itu sendiri
dalam bahasa Indonesia merupakan nama dari salah satu spesies penyusun hutan
mangrove yaitu Rhizophora sp. Sehingga dalam percaturan bidang keilmuan untuk tidak
membuat bias antara bakau dan mangrove maka hutan mangrove sudah ditetapkan
merupakan istilah baku untuk menyebutkan hutan yang memiliki karakteristik hidup di
daerah pantai.
Berkaitan dengan penggunaan istilah mangrove maka menurut FAO (1982) : mangrove
adalah individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah
pasang surut. Istilah mangrove merupakan perpaduan dari dua kata yaitu mangue dan
grove. Di Eropa, ahli ekologi menggunakan istilah mangrove untuk menerangkan
individu jenis dan mangal untuk komunitasnya. Hal ini juga dijelaskan oleh Macnae
(1968) yang menyatakan bahwa kata mangrove seharusnya digunakan untuk individu
pohon sedangkan mangal merupakan komunitas dari beberapa jenis tumbuhan.
Hutan mangrove sering disebut hutan bakau atau hutan payau. Dinamakan hutan bakau
oleh karena sebagian besar vegetasinya didominasi oleh jenis bakau, dan disebut hutan
payau karena hutannya tumbuh di atas tanah yang selalu tergenang oleh air payau. Arti
mangrove dalam ekologi tumbuhan digunakan untuk semak dan pohon yang tumbuh di
daerah intertidal dan subtidal dangkal di rawa pasang tropika dan subtropika. Tumbuhan
ini selalu hijau dan terdiri dari bermacam-macam campuran apa yang mempunyai nilai
ekonomis baik untuk kepentingan rumah tangga (rumah, perabot) dan industri (pakan
ternak, kertas, arang).
Wilayah mangrove dicirikan oleh tumbuh-tumbuhan khas mangrove, terutama jenisjenis
Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Avicennia, Xylocarpus dan Acrostichum
(Soerianegara,1993). Selain itu juga ditemukan jenis-jenis Lumnitzera, Aegiceras,
7
Scyphyphora dan Nypa (Nybakken, 1986; Soerianegara, 1993). Mangrove mempunyai
kecenderungan membentuk kerapatan dan keragaman struktur tegakan yang berperan
penting sebagai perangkap endapan dan perlindungan terhadap erosi pantai. Sedimen
dan biomassa tumbuhan mempunyai kaitan erat dalam memelihara efisiensi dan
berperan sebagai penyangga antara laut dan daratan, bertanggung jawab atas
kapasitasnya sebagai penyerap energi gelombang dan menghambat intrusi air laut ke
daratan. Selain itu, tumbuhan tingkat tinggi menghasilkan habitat untuk perlindungan
bagi hewan-hewan muda dan permukaannya bermanfaat sebagai substrat perlekatan dan
pertumbuhan dari banyak organisme epifit (Nybakken.1986).
Secara umum komunitas hutan, termasuk hutan mangrove memiliki karakteristik
fisiognomi yaitu dinamakan sesuai dengan jenis yang dominan berada di suatu kawasan.
Misalnya di suatu kawasan hutan mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora sp,
maka hutan tersebut dinamakan hutan mangrove Rhizophora.
Secara lebih luas dalam mendefinisikan hutan mangrove sebaiknya memperhatikan
keberadaan lingkungannya termasuk sumberdaya yang ada. Berkaitan dengan hal
tersebut maka Saenger et al. 1983 mendefinisikan sumberdaya mangrove sebagai :
1. Exclusive mangrove, yaitu satu atau lebih jenis pohon atau semak belukar yang
hanya tumbuh di habitat mangrove
2. Non exclusive mangrove, yaitu setiap jenis tumbuhan yang tumbuh di habitat
mangrove, dan keberadaannya tidak terbatas pada habitat mangrove saja
3. Biota, yaitu semua jenis biota yang berasosiasi dengan habitat mangrove
4. Proses (abrasi, sedimentasi), yaitu setiap proses yang berperan penting dalam
menjaga atau memelihara keberadaan ekosistem mangrove. Keanekaragaman
jenis ekosistem mangrove di Indonesia cukup tinggi jika dibandingkan dengan
negara lain di dunia. Jumlah jenis mangrove di Indonesia mencapai 89 yang
terdiri dari 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis
epifit, dan 2 jenis parasit (Nontji, 1987). Dari 35 jenis pohon tersebut, yang
umum dijumpai di pesisir pantai adalah Avicennia sp,Sonneratia sp, Rizophora
sp, Bruguiera sp, Xylocarpus sp, Ceriops sp, dan Excocaria sp.
Bentuk vegetasi dan komunitas mangrove terdiri dari 3 zone mangrove berdasarkan
distribusi, karakteristik biologi, kadar garam dan intensitas penggenangan lahan yaitu:
8
( i) Vegetasi Inti
Jenis ini membentuk hutan mangrove di daerah zona intertidal yang mampu bertahan
terhadap pengaruh salinitas (garam), yang disebut tumbuhan halophyta. Kebanyakan
jenis mangrove mempunyai adaptasi khusus yang memungkinkan untuk tumbuh dan
berkembang dalam substrat/lahan mangrove seperti kemampuan berkembang biak,
toleransi terhadap kadar garam tinggi, kemampuan bertahan terhadap perendaman oleh
pasang surut, memiliki pneumatophore atau akar napas, bersifat sukulentis dan kelenjar
yang mengeluarkan garam. Lima jenis mangrove paling utama adalah Rhizophora
mangle. L., R. harrisonii leechman (Rhizoporaceae), Pelliciera rhizophorae triana dan
Planchon (pelliceriaceae), Avicennia germinans L ( Avicenniaceae) dan Laguncularia
racemosa L. gaertn. (Combretaceae).
( ii) Vegetasi marginal
Jenis ini biasanya dihubungkan dengan mangrove yang berada di darat, di rawa
musiman, pantai dan/atau habitat mangrove marginal. Meskipun demikian vegetasi ini
tetap tergolong mangrove. Jenis Conocarpus erecta (combretaceae) tidak ditemukan di
dalam vegetasi mangrove biasa. Mora oleifera (triana), Duke (leguminosae) jumlahnya
berlimpah-limpah di selatan pantai Pasifik, terutama di Semenanjung de Osa, dimana
mangrove ini berkembang dalam rawa musiman salin (25 promil). Jenis yang lain
adalah Annona glabra L. (Annonaceae), Pterocarpus officinalis jacq. (Leguminosae),
Hibiscus tiliaceus L. dan Pavonia spicata killip (Malvaceae). Jenis pakis-pakisan seperti
Acrostichum aureum L. (Polipodiaceae) adalah yang sangat luas penyebarannya di
dalam zone air payau dan merupakan suatu ancaman terhadap semaian bibit untuk
regenerasi.
(iii) Vegetasi fakultatif marginal
Carapa guianensis (Meliaceae) tumbuh berkembang di daerah dengan kadar garam
sekitar 10 promil. Jenis lain adalah Elaeis oleifera dan Raphia taedigera. Di daerah
zone inter-terrestrial dimana pengaruh iklim khatulistiwa semakin terasa banyak
ditumbuhi oleh Melaleuca leucadendron rawa ( e.g. Selatan Vietnam). Jenis ini banyak
digunakan untuk pembangunan oleh manusia. Lugo dan Snedaker (1974)
mengidentifkasi dan menggolongkan mangrove menurut enam jenis kelompok
(komunitas) berdasar pada bentuk hutan, proses geologi dan hidrologi. Masing-Masing
9
jenis memiliki karakteristik satuan lingkungan seperti jenis lahan dan kedalaman,
kisaran kadar garam tanah/lahan, dan frekuensi penggenangan. Masing-masing
kelompok mempunyai karakteristik yang sama dalam hal produksi primer, dekomposisi
serasah dan ekspor karbon dengan perbedaan dalam tingkat daur ulang nutrien, dan
komponen penyusun kelompok. Suatu uraian ringkas menyangkut jenis klasifikasi
hutan mangrove berdasarkan geomorfologi ditunjukkan sebagai berikut :
1. Overwash mangrove forest
Mangrove merah merupakan jenis yang dominan di pulau ini yang sering dibanjiri dan
dibilas oleh pasang, menghasilkan ekspor bahan organik dengan tingkat yang tinggi.
Tinggi pohon maksimum adalah sekitar 7 m.
2. Fringe mangrove forest
Mangrove fringe ini ditemukan sepanjang terusan air, digambarkan sepanjang garis
pantai yang tingginya lebih dari rata-rata pasang naik. Ketinggian mangrove maksimum
adalah sekitar 10 m.
3. Riverine mangrove forest
Kelompok ini mungkin adalah hutan yang tinggi letaknya sepanjang daerah pasang
surut sungai dan teluk, merupakan daerah pembilasan reguler. Ketiga jenis bakau,
yaitu putih (Laguncularia racemosa), hitam (Avicennia germinans) dan mangrove
10
merah (Rhizophora mangle) adalah terdapat di dalamnya. Tingginya rata- rata dapat
mencapai 18-20 m.
4. Basin mangrove forest
Kelompok ini biasanya adalah jenis yang kerdil terletak di bagian dalam rawa Karena
tekanan runoff terestrial yang menyebabkan terbentuknya cekungan atau terusan ke
arah pantai. Bakau merah terdapat dimana ada pasang surut yang membilas tetapi ke
arah yang lebih dekat pulau, mangrove putih dan hitam lebih mendominasi. Pohon
dapat mencapai tinggi 15 m.
5. Hammock forest
Biasanya serupa dengan tipe (4) di atas tetapi mereka ditemukan pada lokasi sedikit
lebih tinggi dari area yang melingkupi. Semua jenis ada tetapi tingginya jarang lebih
dari 5 m.
11
6. Scrub or dwarf forest
Jenis komunitas ini secara khas ditemukan di pinggiran yang rendah. Semua dari tiga
jenis ditemukan tetapi jarang melebihi 1.5 m ( 4.9 kaki). Nutrien merupakan faktor
pembatas.
Faktor-faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan mangrove di suatu
lokasi adalah :
1. Fisiografi pantai (topografi)
2. Pasang (lama, durasi, rentang)
3. Gelombang dan arus
4. Iklim (cahaya,curah hujan, suhu, angin)
5. Salinitas
6. Oksigen terlarut
7. Tanah
8. Hara
Faktor-faktor lingkungan tersebut diuraikan sebagai berikut :
A. Fisiografi pantai
Fisiografi pantai dapat mempengaruhi komposisi, distribusi spesies dan lebar hutan
mangrove. Pada pantai yang landai, komposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika
dibandingkan dengan pantai yang terjal. Hal ini disebabkan karena pantai landai
menyediakan ruang yang lebih luas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi
spesies menjadi semakin luas dan lebar. Pada pantai yang terjal komposisi, distribusi
dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon
mangrove untuk tumbuh.
12
B. Pasang
Pasang yang terjadi di kawasan mangrove sangat menentukan zonasi tumbuhan dan
komunitas hewan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove. Secara rinci pengaruh
pasang terhadap pertumbuhan mangrove dijelaskan sebagai berikut:
• Lama pasang :
1. Lama terjadinya pasang di kawasan mangrove dapat mempengaruhi perubahan
salinitas air dimana salinitas akan meningkat pada saat pasang dan sebaliknya
akan menurun pada saat air laut surut
2. Perubahan salinitas yang terjadi sebagai akibat lama terjadinya pasang
merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi distribusi spesies secara
horizontal.
3. Perpindahan massa air antara air tawar dengan air laut mempengaruhi distribusi
vertikal organisme
• Durasi pasang :
1. Struktur dan kesuburan mangrove di suatu kawasan yang memiliki jenis pasang
diurnal, semi diurnal, dan campuran akan berbeda.
2. Komposisi spesies dan distribusi areal yang digenangi berbeda menurut durasi
pasang atau frekuensi penggenangan. Misalnya : penggenagan sepanjang waktu
maka jenis yang dominan adalah Rhizophora mucronata dan jenis Bruguiera
serta Xylocarpus kadang-kadang ada.
• Rentang pasang (tinggi pasang):
1. Akar tunjang yang dimiliki Rhizophora mucronata menjadi lebih tinggi pada
lokasi yang memiliki pasang yang tinggi dan sebaliknya
2. Pneumatophora Sonneratia sp menjadi lebih kuat dan panjang pada lokasi yang
memiliki pasang yang tinggi.
C. Gelombang dan Arus
1. Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove.
Pada lokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang cukup besar
biasanya hutan mangrove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan
hutan.
2. Gelombang dan arus juga berpengaruh langsung terhadap distribusi spesies
misalnya buah atau semai Rhizophora terbawa gelombang dan arus sampai
menemukan substrat yang sesuai untuk menancap dan akhirnya tumbuh.
3. Gelombang dan arus berpengaruh tidak langsung terhadap sedimentasi pantai
dan pembentukan padatan-padatan pasir di muara sungai. Terjadinya
sedimentasi dan padatan-padatan pasir ini merupakan substrat yang baik untuk
menunjang pertumbuhan mangrove
4. Gelombang dan arus mempengaruhi daya tahan organisme akuatik melalui
transportasi nutrien-nutrien penting dari mangrove ke laut. Nutrien-nutrien yang
berasal dari hasil dekomposisi serasah maupun yang berasal dari run off daratan
13
dan terjebak di hutan mangrove akan terbawa oleh arus dan gelombang ke laut
pada saat surut.
D. Iklim
Mempengaruhi perkembangan tumbuhan dan perubahan faktor fisik (substrat dan air).
Pengaruh iklim terhadap pertimbuhan mangrove melalui cahaya, curah hujan, suhu, dan
angin. Penjelasan mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Cahaya
• Cahaya berpengaruh terhadap proses fotosintesis, respirasi, fisiologi, dan
struktur fisik mangrove
• Intensitas, kualitas, lama (mangrove adalah tumbuhan long day plants yang
membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi sehingga sesuai untuk hidup di
daerah tropis) pencahayaan mempengaruhi pertumbuhan mangrove
• Laju pertumbuhan tahunan mangrove yang berada di bawah naungan sinar
matahari lebih kecil dan sedangkan laju kematian adalah sebaliknya
• Cahaya berpengaruh terhadap perbungaan dan germinasi dimana tumbuhan
yang berada di luar kelompok (gerombol) akan menghasilkan lebih banyak
bunga karena mendapat sinar matahari lebih banyak daripada tumbuhan yang
berada di dalam gerombol.
2. Curah hujan
• Jumlah, lama, dan distribusi hujan mempengaruhi perkembangan tumbuhan
mangrove
• Curah hujan yang terjadi mempengaruhi kondisi udara, suhu air, salinitas air dan
tanah
• Curah hujan optimum pada suatu lokasi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
mangrove adalah yang berada pada kisaran 1500-3000 mm/tahun
3. Suhu
• Suhu berperan penting dalam proses fisiologis (fotosintesis dan respirasi)
• Produksi daun baru Avicennia marina terjadi pada suhu 18-20C dan jika suhu
lebih tinggi maka produksi menjadi berkurang
• Rhizophora stylosa, Ceriops, Excocaria, Lumnitzera tumbuh optimal pada suhu
26-28C
• Bruguiera tumbuh optimal pada suhu 27C, dan Xylocarpus tumbuh optimal pada
suhu 21-26C
4. Angin
• Angin mempengaruhi terjadinya gelombang dan arus
• Angin merupakan agen polinasi dan diseminasi biji sehingga membantu
terjadinya proses reproduksi tumbuhan mangrove
14
E. Salinitas
1. Salinitas optimum yang dibutuhkan mangrove untuk tumbuh berkisar antara 10-
30 ppt
2. Salinitas secara langsung dapat mempengaruhi laju pertumbuhan dan zonasi
mangrove, hal ini terkait dengan frekuensi penggenangan
3. Salinitas air akan meningkat jika pada siang hari cuaca panas dan dalam keadaan
pasang
4. Salinitas air tanah lebih rendah dari salinitas air
F. Oksigen Terlarut
1. Oksigen terlarut berperan penting dalam dekomposisi serasah karena bakteri dan
fungsi yang bertindak sebagai dekomposer membutuhkan oksigen untuk
kehidupannya.
2. Oksigen terlarut juga penting dalam proses respirasi dan fotosintesis
3. Oksigen terlarut berada dalam kondisi tertinggi pada siang hari dan kondisi
terendah pada malam hari
G. Substrat
1. Karakteristik substrat merupakan faktor pembatas terhadap pertumbuhan
mangrove
2. Rhizophora mucronata dapat tumbuh baik pada substrat yang dalam/tebal dan
berlumpur
3. Avicennia marina dan Bruguiera hidup pada tanah lumpur berpasir
4. Tekstur dan konsentrasi ion mempunyai susunan jenis dan kerapatan tegakan
Misalnya jika komposisi substrat lebih banyak liat (clay) dan debu (silt) maka
tegakan menjadi lebih rapat
5. Konsentrasi kation Na>Mg>Ca atau K akan membentuk konfigurasi hutan
Avicennia/Sonneratia/Rhizophora/Bruguiera
6. Mg>Ca>Na atau K yang ada adalah Nipah
7. Ca>Mg, Na atau K yang ada adalah Melauleuca
H. Hara
Unsur hara yang terdapat di ekosistem mangrove terdiri dari hara inorganik dan organik.
1. Inorganik : P,K,Ca,Mg,Na
2. Organik : Allochtonous dan Autochtonous (fitoplankton, bakteri, alga)
15
EKOFISIOLOGI DAN ZONASI
Ekofisiologi Mangrove
Ekosistem mangrove memiliki lingkungan yang sangat kompleks sehingga diperlukan
beberapa adaptasi baik morfologi, fisiologi, maupun reproduksi terhadap kondisi
tersebut. Beberapa adaptasi yang dilakukan terutama untuk beberapa aspek sebagai
berikut :
• Bertahan dengan konsentrasi garam tinggi
• Pemeliharaan Air Desalinasi
• Spesialisasi Akar
• Reproduktif
• Respon Terhadap Cahaya
Bertahan dengan konsentrasi garam tinggi
Organisme yang hidup di ekosistem mangrove terutama pohon mangrove memiliki
kelebihan untuk dapat bertahan pada kondisi dengan salinitas lingkungan yang tinggi.
Ada tiga mekanisme yang dilakukan oleh pohon mangrove untuk bertahan terhadap
kelebihan garam dari lingkungannya yaitu :
a. Mensekresi garam (salt-secretors).
Jenis mangrove ini menyerap air dengan kadar salinitas tinggi kemudian mengeluarkan
atau mensekresikan garam tersebut keluar dari pohon. Secara khusus pohon mangrove
yang dapat mensekresikan garam memiliki salt glands di daun yang memungkinkan
untuk mensekresi cairan Na+ dan Cl-. Beberapa contoh mangrove yang dapat
mensekresikan garam adalah : Aegiceras, Aegialitis, Avicennia, Sonneratia, Acanthus,
dan Laguncularia.
b. Tidak dapat mensekresi garam (salt-excluders).
Jenis mangrove ini menyerap air dengan menggunakan akarnya tetapi tidak
mengikutsertakan garam dalam penyerapan tersebut. Mekanisme ini dapat terjadi karena
mangrove jenis ini memiliki ultra filter di akarnya sehingga air dapat diserap dan garam
dapat dicegah masuk ke dalam jaringan. Beberapa contoh mangrove yang dapat
melakukan mekanisme ini adalah: Rhizophora, Ceriops, Sonneratia, Avicennia,
Osbornia, Bruguiera, Excoecaria, Aegiceras, Aegialitis, Acrostichum, Lumnitzera,
Hibiscus, Eugenia.
c. Mengakumulasi garam (accumulators)
Mangrove memiliki mekanisme untuk mengakumulasi garam di dalam jaringannya.
Jaringan yang dapat mengakumulasi cairan garam terdapat di akar, kulit pohon, dan
daun yang tua. Daun yang dapat mengakumulasi garam adalah daun yang sukulen yaitu
memiliki jaringan yang banyak mengandung air dan kelebihan garam dikeluarkan
melalui jaringan metabolik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa daun yang jatuh
dari pohon diduga merupakan suatu mekanisme untuk mengeluarkan kelebihan garam
dari pohon yang dapat menghambat pertumbuhan dan pembentukan buah. Garam yang
16
terdapat di dalam pohon mangrove dapat mempengaruhi enzim metabolik dan proses
fotosintesis, respirasi, dan sintesa protein. Konsentrasi garam yang tinggi tersebut dapat
menghambat ribulose difosfat karboksilase suatu enzim dalam proses karboksilase.
Beberapa jenis mangrove yang memiliki mekanisme dapat mengakumulasi garam
adalah : Xylocarpus, Excoecaria, Osbornia, Ceriops, Bruguiera.
Gambar Salt Gland/Kelenjar pengeluaran garam pada daun mangrove
Tabel 1. Toleransi salinitas pada beberapa jenis mangrove.
Spesies Batas Atas Referensi Keterangan
A. marina 90‰ a
kerdil, tinggi kurang dari 1
m
90‰ a
L. racemosa
C. tagal 72‰ b Sehat tapi tidak tinggi
R. mucronata 55‰ a Tua (gnarled)
R. apiculata 65‰ b
R. stylosa 74‰ b
B. gymnorrhiza 10-25‰ a
Range pertumbuhan
normal
S. alba » 35‰ a
Lebih menyukai air laut
normal
a Macnae 1968; b Wells 1982
17
Pemeliharaan air Desalinasi
Kelebihan garam yang diserap oleh pohon mangrove sebagian besar disimpan di daun.
Beberapa adaptasi yang dilakukan oleh daun diuraikan sebagai berikut :
• Xeromorphic : Kutikel tebal di atas daun, rambut2, wax coating, sunken
stomata, distribusi dari cutinized dan sclerenchymatous cell di daun, succulence
(tempat penyimpanan air di jaringan daun) merupakan respons terhadap
keberadaan Cl-
• Transpiration : transpirasi rate rendah jika dibandingkan dengan non saline
plant
Gambar Daun dan Morfologi daun yang sukulen
Spesialisasi Akar
Akar mangrove memiliki beberapa adaptasi untuk mempertahankan keberadaannya
terhadap kondisi dengan salinitas tinggi. Adaptasi tersebut dirinci sebagai berikut :
• Kadar garam tinggi (halofit) akarnya dapat menyaring NaCl dari air
Gambar Peg Root
18
• Kadar oksigen rendah
Sistem perakaran yang khas : akar nafas (pneumatofora) untuk mengambil oksigen dari
udara (Avicennia spp., Xylocarpus spp., Sonneratia spp.); penyangga yang memiliki
lentisel (Rhizophora spp); akar lutut untuk mengambil oksigen dari udara (Bruguiera
spp. dan Ceriops spp).
Gambar Pneumatofor dan Lentisel pohon mangrove
• Tanah Kurang Stabil dan adanya pasang surut
struktur akar ekstensif dan jaringan horizontal yang lebar untuk memperkokoh pohon,
mengambil unsur hara, menahan sedimen.
Gambar. Beberapa bentuk akar mangrove (Bengen, 2003)
19
Reproduktif
• Pembungaan dan polinasi
Pembungaan dimulai pada umur 3-4 tahun dan dipengaruhi oleh alam bukanukuran.
Polinasi terjadi melalui kerjasama angin, serangga, dan burung.
• Produksi Propagule
Pembuahan terjadi hanya 0-7,2% dari bunga yang dihasilkan
• Vivipary dan Cryptovivipary
Vivipary : Embrio keluar dari pericarp dan tumbuh diantara pohon atau tidak
berkecambah selama masih berada pada induknya (Bruguiera, Ceriops, Rhizophora,
Kandelia, Nypa)
Gambar Buah yang Vivipary dan Cryptovivipary
• Cryptovivipary :
Embrio berkembang melalui buah tidak keluar dari pericarp (Aegialitis, Acanthus,
Avicennia, Laguncularia)
• Penyebaran Propagule
Propagule tersebar melalui burung, arus, pasang surut Kerusakan propagule diakibatkan
oleh substrat yang tidak sesuai, penenggelaman oleh organisme, pelukaan oleh
organisme atau gelombang, salinitas tanah tinggi.
Respon Terhadap Cahaya
• Cahaya dan Bentuk
20
Kondisi tampilan xeromorphic diakibatkan oleh respon terhadap intensitas cahaya yang
tinggi
• Fotosintesis
Daun cahaya memiliki kecepatan fotosintesis lebih cepat dibandingkan daun naungan
• Cahaya dan Faktor-faktor Fisik Lain
Spesies-spesies yang toleran naungan : Aegiceras, Ceriops, Bruguiera, Osbornia,
Xylocarpus, Excoecaria
• Spesies-spesies yang intoleran naungan : Acrostichum, Acanthus, Aegialitis,
Rhizophora, Lumnitzera, Sonneratia
• Avicennia anakan intoleran naungan; Avicennia pohon toleran naungan
Zonasi dan penggenangan
Spesies mangrove yang terdapat di suatu lokasi dapat berbentuk monospesies (tunggal)
atau spesies campuran yang paralel terhadap garis pantai. Aspek-aspek yang
menyebabkan terjadinya zonasi mangrove menjadi perdebatan dan Santos et al (1997)
menyatakan bahwa untuk meneliti zonasi mangrove dapat dilakukan dengan
menggunakan pola berdasarkan :
a. Suksesi Tumbuhan :
Pola zonasi spasial dihasilkan dari sekuens suksesi mangrove berdasarkan waktu sampai
mencapai klimaksnya
b. Perubahan Geomorfologi
Asumsi yang digunakan adalah perkembangan pola zonasi berdasarkan waktu dan
spasial yang dinamis sebagai akibat dari perubahan fisik dan lingkungan pada zona mid
littoral seperti perubahan ukuran, konfigurasi, topografi dan geologi.
c. Fisiologi-Ekologi
Masing-masing spesies memiliki kondisi lingkungan yang optimum dan terbatas pada
segmen tertentu untuk perubahan lingkungan yang terjadi.
d. Dinamika populasi
Zonasi merupakan respons terhadap perubahan faktor biotik seperti kompetisi
interspesifik, reproduksi tumbuhan, strategi kolonisasi.
Temperatur air dan udara serta banyaknya curah hujan menentukan jenisjenis mangrove
yang terdapat di suatu lokasi. Macnae (1966) berpendapat bahwa distribusi dan zonasi
mangrove merupakan interaksi antara :
21
1. frekuensi pasang surut yang menggenangi,
2. kadar garam air lahan/tanah; dan,
3. kadar air lahan (drainase).
Walter dan Steiner (1936) mempertimbangkan derajat tingkat penggenangan, kadar
garam dan keadaan alami lahan sebagai faktor penting. Berkenaan dengan pasang,
Chapman (1976) mempertimbangkan bahwa faktor yang paling utama adalah
banyaknya hari tidak ada pasang surut.
Johnstone dan Frodin (1983) mengusulkan enam tipe yang menyebabkan terjadinya
zonasi yaitu:
• kedalaman air dan penggenangan – ombak
• pengeringan
• salinity/freshwater mendominasi
• substrat
• Biota dan interaksi biotik
Beberapa atau semua di atas faktor sudah sering dikemukakan tetapi faktor terakhir
sering diabaikan. Pengetahuan tentang zonasi bermanfaat secara ekologis dan
manajemen silvikultur dimana kebutuhan tentang posisi hutan untuk memilih habitat
yang sesuai untuk jenis-jenis pohon tertentu dapat diketahui. Contohnya adalah
Rhizopora apiculata ditanam menuju ke zona darat untuk pengembangannya secara
marginal. Beberapa contoh zonasi diuraikan sebagai berikut:
1. Watson ( 1928) membagi komunitas mangrove Malaysia bagian barat di dalam
lima kelas berdasar pada frekwensi penggenangan. Secara Silvicultural arti
penggolongan ini adalah bahwa suatu jenis dibagikan untuk kelas penggenangan
tertentu berdasar pada kemampuannya untuk regenerasi.
2. De Hann (1931) membagi zonasi berdasarkan kadar garam yang
dipertimbangkan sebagai faktor yang utama dalam pengendalian distribusi.
Zonasi tersebut dibagi menjadi dua bagian utama sebagai berikut:
A. Zonasi dari payau ke laut dengan kadar garam pada pasang naik antara 10-30 promil
dan menggenangi
• A1. sekali atau dua kali sehari-hari dalam waktu 20 hari per bulan
• A2. 10-19 kali per bulan
• A3. 9 kali atau lebih sedikit per bulan
• A4. hanya beberapa hari per bulan
22
B. Zona perairan tawar ke air payau dengan berkadar garam antara 0-10 promil
• B1. kurang atau lebih dibawah pengaruh pasang surut
• B2. tiap musim terkena penggenangan.
3. Macnae ( 1966), membagi zonasi mangrove sebagai berikut :
– menuju ke darat
• (a) zone Ceriops semak belukar
• (b) zone Bruguiera hutan
• (c) zone Rhizophora hutan
– menuju ke laut
• (a) Avicennia zone
• (b) Sonneratia zone
Putz dan Chan (1986) dalam sebuah analisis pertumbuhan yang dinamis dari hutan yang
matang di Malaysia, di pantau sejak 1920, menyimpulkan bahwa pola penggantian
spesies yang diamati menyerupai proses suksesi yang diamati dan dikemukakan oleh
Watson. Rhizophora apiculata, spesies yang dapat tumbuh tetapi memiliki toleransi
tempat bernaung yang sempit perlahan-lahan digantikan oleh spesies lain yang cepat
tumbuh tetapi toleransi terhadap tempat bernaung sempit, misalnya Bruguiera
gymnorhiza (Rhizophoraceae) sama baiknya dengan spesies khusus ”landward” lainnya.
Penelitian yang sama menyarankan bahwa toleransi bernaung dan penyebaran
karakteristik haruslah termasuk dalam faktorfaktor ekologi yang mempengaruhi
distribusi dari spesies pohon di hutan-hutan mangrove. Endapan lumpur dalam jumlah
besar secara normal akan menghasilkan pengikisan garis pantai yang telah diperiksa
secara fisik oleh aksi erosi gelombang dan arus pasang surut di mulut sungai. Muatan
lumpur yang tinggi pada run – off menyediakan lumpur pada hutan, memberikan
kesubuiran tanah dan produktivitas hutan. Analisis mekanis terhadap sampel tanah
mengindikasikan bahwa sampel tanah yang berlokasi dekat kepada mulut sungai
memiliki persentase pasir yang tinggi yang biasanya meningkatkan kekuatan tanah dan
aerasi. Tempat tersebut mendukung tumbuhnya R harrisonii dan P. rhizophorae.
Lingkungan pasang surut sangat dinamis dan berubah-ubah tingkat perubahan
lingkungan fisik dalam penempatan diperkirakan bahkan melebihi proses perubahan
faktor endogen ekologi (perubahan secara siklikal, kesenjangan regenerasi/suksesi).
Dalam vegetasi mangrove yang dinamis haruslah diperlihatkan cara pandang awal
bahwa berdasarkan vegetasi terrestrial dimana lingkungan stabil dalam hubungan nya
pada berbagai proses. Banyak pembelajaran pada pola vegetasi ekologis analisis pada
level spesies (tumbuh-tumbuhan berdiri sendiri) untuk menunjukkan segregrasi dan
peningkatan dalam dominansi berdasarkan pada asumsi bahwa spesies yang berbeda
memerlukan relung yang berbeda pula (sensu Grubb,1977). Terdapat sedikit keraguan
bahwa terjadi perubahan spesies. Dalam hal ini, hal tersebut dapat diamati dengan
perubahan pada tipe hidup individu bersama seperti perubahan struktur komunitas.
Silvikultur, beberapa perubahan penting adalah
1. potensi biomassa atas-bawah ( kualitas tempat/ produktivitas)
2. komposisi spesies pohon (spesifikasi tempat) dan
23
3. Struktur komunitas (kualitas struktur). Walaupun tampaknya menjadi kisaran
yang optimum untuk tempat bagi spesies tambahan, kompetisi interspesies
mungkin berkurang karena jumlah yang kecil, bentuk fisiognomi mereka
mungkin berubah dari hutan yang tinggi menjadi belukar. Kemungkinan dari
adanya pengaruh aluvial adalah faktor lain yang menyebabkan perubahan pada
mikrohabitat dan banyak proses lainnya yang belum dimengerti benar sebagai
contoh ’banjir besar’ dibeberapa area (Noakes, D.S.P. 1956 hal 187) dan
peristiwa ”estructuras circulares de vegetation” in Gabon (Legigre, J.M. 1983).
Di daerah Matang sepanjang pantai barat Peninsular Malaysia, hutan gundul
karena pohon-pohon yang mati akibat pencahayaan umum ditemukan khususnya
terhadap daerah yang mengarah ke laut. Di Malaysia, kondisi dimana
Rhizophora spp membentuk pertumbuhan stok ekonomi yang terbesar dianggap
sebagai tahap optimum dari perkembangan rawa mangrove. Kondisi ini secara
singkat:
1. Penggenangan pasang surut harian
2. Salinitas yang cukup
3. Aerasi dan pengayaan tanah oleh akumulasi bahan organik
4. Sejumlah besar saluran dan aliran untuk membantu penyebaran propagul dan
pembilasan pasang surut yang efisien. Potensi regenerasi secara alamiah
biasanya baik. Mangrove dan permukaan lumpur di sekelilingnya atau lagun
merupakan tempat perlindungan yang ideal untuk berbagai spesies krustasea.
Juga biasanya terdapat populasi aktif kepiting, khususnya fidder crab, Uca sp
dan berbagai spesies Sesarma. Liang-liang mereka yang tak terkira banyaknya
membantu dalam mengaerasi dalam tanah. Beberapa bahan organik juga
ditransfer ke dalam tanah, sebagai konsekuensinya tanah dapat memiliki lapisan
yang lebih tinggi akan bahan organiknya. Adalah menarik untuk diperhatikan
bahwa hutan yang lebih baik biasanya tidak memiliki akar berdiri, dan ini
dibenarkan dengan hasil observasi Watson bahwa perkembangan akar yang
panjang lebih ditekankan di dalam tanah atau area banjiran yang dalam. Sebagai
spesies yang relatif tidak bertoleransi pada tempat teduh normal ditemukan di
tanah yang belum matang dan lebih halus di sepanjang tepi sungai yang cerah,
dimana ia tumbuh secara bebas. Pada tanah yang kuat dan lebih tinggi,
digantikan oleh spesies lain seperti Pelliciera rhizophorae, yang lebih toleran dan
dapat di temukan di tanah berpasir. Pada sungai dan terusan dengan
pencahayaan yang rendah dan lebih lembut, hutan mungkin merupakan paduan
dari R. mangle dan R. harrisonii. Pada permukaan lumpur yang baru terbentuk,
Laguncularia racemosa terkadang sebagai spesies perintis. Lahan pinggiran
adalah sebuah zona yang sangat bervariasi dan tidak mengandung banyak
spesies mangrove yang bernilai ekonomis. Spesies utama adalah Avicennia
germinans, yang secara umum memiliki bentuk sederhana. L. racemosa dan P.
rhizophorae juga terbentuk di daerah ini. Di Asia Tenggara, spesies pelopor
biasanya adalah Avicennia alba atau Sonneratia alba.
24
Fauna dan Interaksi
FAUNA MANGROVE DAN INTERAKSI DI EKOSISTEM MANGROVE
Fauna Mangrove
Fauna yang terdapat di ekosistem mangrove merupakan perpaduan antara fauna
ekosistem terestrial, peralihan dan perairan. Fauna terestrial kebanyakan hidup di
pohon mangrove sedangkan fauna peralihan dan perairan hidup di batang, akar
mangrove dan kolom air. Beberapa fauna yang umum dijumpai di ekosistem mangrove
dijelaskan sebagai berikut:
Mamalia
Banyak mamalia terdapat di hutan mangrove tetapi hanya sedikit yang hidup secara
permanen dan jumlahnya terbatas. Hutan mangrove merupakan habitat tempat hidup
beberapa mamalia yang sudah jarang ditemukan dan. Pada saat terjadinya surut banyak
monyet-monyet (Macacus irus) terlihat mencari makanan seperti shell-fish dan kepiting
sedangkan kera bermuka putih (Cebus capucinus) memakan cockles di mangrove.
Indikasi pemangsaan ini diperoleh dari sedikitnya jumlah cockles yang ditemukan di
lokasi mangrove yang memiliki banyak kera. Jika jumlah kera menjadi sangat banyak
akan mempengaruhi pembenihan mangrove karena komunitas ini menginjak lokasi
yang memiliki benih sehingga benih mati. Kera proboscis (Nasalis larvatus) merupakan
endemik di mangrove Borneo, yang mana ia memakan daun-daunan Sonneratia
caseolaris dan Nipa fruticans (FAO,1982) juga propagul Rhizophora. Sebaliknya, kerakera
tersebut di mangsa oleh buaya-buaya dan diburu oleh pemburu gelap. Hewanhewan
menyusui lainnya termasuk Harimau Royal Bengal (Panthera tigris), macan
tutul (Panthera pardus) dan kijing bintik (Axis axis), babi–babi liar (Sus scrofa) dan
Kancil (Tragulus sp) di rawa-rawa Nipa di sepanjang selatan dan tenggara Asia ;
binatang-binatang karnivora kecil seperti ikan-ikan berkumis seperti kucing (Felix
viverrima), musang (Vivvera sp dan Vivverricula sp), luwak (Herpestes sp). Berangberang
(Aonyx cinera dan Lutra sp) umum terdapat di hutan mangrove namun jarang
terlihat. Sedangkan Lumba-lumba seperti lumba-lumba Gangetic (Platanista gangetica)
dan lumba-lumba biasa (Delphinus delphis) juga umum ditemukan di sungai-sungai
hutan mangrove, yaitu seperti Manatees (Trichechus senegalensis dan Trichechus
manatus latirostris) dan Dugong (Dugong dugon), meskipun spesies-spesies ini
pertumbuhannya jarang dan pada beberapa tempat terancam mengalami kepunahan.
Reptil dan Ampibia
Beberapa spesies reptilia yang pernah ditemukan di kawasan mangrove Indonesia antara
lain biawak (Varanus salvatoe), Ular belang (Boiga dendrophila), dan Ular sanca
(Phyton reticulates), serta berbagai spesies ular air seperti Cerbera rhynchops,
Archrochordus granulatus, Homalopsis buccata dan Fordonia leucobalia. Dua jenis
katak yang dapat ditemukan di hutan mangrove adalah Rana cancrivora dan R.
limnocharis.
Buaya-buaya dan binatang alligator merupakan binatang-binatang reptil yang sebagian
besar mendiami daerah berair dan daerah muara. Dua spesies buaya (Lagarto), Caiman
crocodilus (Largarto cuajipal) dapat dijumpai umum dijumpai di hutan mangrove, dan
25
sebagai spesies yang berada dalam keadaan waspada karena kulitnya diperdagangkan
secara internasional. Caiman acutus mempunyai wilayah geografi yang sangat luas dan
dapat ditemukan di Cuba, Pantai lautan Pasifik di Amerika Tengah, Florida dan
Venezuela. Jenis buaya Cuba, seperti Crocodilus rhombifer terdapat di Cienaga de
Lanier dan bersifat endemik. Aligator Amerika seperti Alligator mississippiensis
tercatat sebagai spesies yang membahayakan di Florida ( Hamilton dan Snedaker, 1984).
Buaya yang memiliki moncong panjang (Crocodilus cataphractus) terdapat di daerah
hutan bakau Afrika dan di Asia. Berbagai cara dilakukan untuk melindungi hewanhewan
tersebut tergantung negara masing-masing misalnya di India, Bangladesh, Papua
New Guinea dan Australia mengadakan perlindungan dengan cara konservasi, ( FAO,
1982). Sejumlah besar kadal, Iguana iguana (iguana) dan Cetenosaura similis (garrobo)
pada umumnya terdapat di hutan mangrove di Amerika Latin, dimana mereka menjadi
santapan masyarakat setempat sebagaimana juga jenis kadal yang serumpun dengan
mereka di Afrika bagian barat (Varanus salvator). Pada umumnya penyu merupakan
sebagai mahkluk sungai yang meletakkan telur-telur mereka pada pantai berpasir yang
memiliki hutan mangrove. Selain hewan-hewan tersebut ular juga dapat ditemukan di
sekitar area mangrove, khususnya pada dataran yang mengarah ke laut.
Burung
Pada saat terjadinya perubahan pasang surut merupakan suatu masa yang ideal bagi
berlindungnya burung (dunia burung), dan merupakan waktu yang ideal bagi burung
untuk melakukan migrasi. Menurut Saenger et al. (1954), tercatat sejumlah jenis burung
yang hidup di hutan mangrove yang mencapai 150-250 jenis. Beberapa penelitian
tentang burung di Asia Tenggara telah dilakukan oleh Das dan Siddiqi 1985 ;
Erftemeijer, Balen dan Djuharsa, 1988; Howes,1986 dan Silvius, Chan dan
Shamsudin,1987.
Di Kuba, terdapat beberapa spesies yang menempati tempat atau dataran tinggi seperti
Canario del manglar (Dendroica petechis gundlachi) dan tempat yang lebih rendah
seperti Oca del manglar (Rallus longirostris caribaeus). Burung yang paling banyak
adalah Bangau yang berkaki panjang. Dan yang termasuk burung pemangsa adalah
Elang laut (Haliaetus leucogaster), Burung layang-layang (Haliastur indus), dan elang
pemakan ikan (Ichthyphagus ichthyaetus). Burung pekakak dan pemakan lebah adalah
burung-burung berwarna yang biasa muncul atau kelihatan di hutan mangrove.
Sumber Daya Perairan
Substrat yang ada di ekosistem mangrove merupakan tempat yang sangat disukai oleh
biota yang hidupnya di dasar perairan atau bentos. Dan kehidupan beberapa biota
tersebut erat kaitannya dengan distribusi ekosistem mangrove itu sendiri. Sebagai
contoh adalah kepiting yang sangat mudah untuk membuat liang pada substrat lunak
yang ditemukan di ekosistem mangrove. Beberapa sumberdaya perairan yang sering
ditemukan di ekosistem mangrove dijelaskan sebagai berikut :
a. Ikan
Ikan di daerah hutan mangrove cukup beragam yang dikelompokkan menjadi 4
kelompok, yaitu :
26
• Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah
hutan mangrove seperti ikan Gelodok (Periopthalmus sp).
• Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove
selama periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di
sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak
(Mugilidae), ikan Kuweh (Carangidae), dan ikan Kapasan, Lontong (Gerreidae).
• Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan
mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Kekemek,
Gelama, Krot (Scianidae), ikan Barakuda, Alu-alu, Tancak (Sphyraenidae), dan
ikan-ikan dari familia Exocietidae serta Carangidae.
• Ikan pengunjung musiman. Ikan-ikan yang termasuk dalam kelompok ini
menggunakan hutan mangrove sebagai tempat asuhan atau untuk memijah serta
tempat perlindungan musiman dari predator.
b. Crustacea dan Moluska
Berbagai jenis fauna yang relatif kecil dan tergolong dalam invertebrata, seperti udang
dan kepiting (Krustasea), gastropoda dan bivalva (Moluska), Cacing (Polikaeta) hidup
di hutan mangrove. Kebanyakan invertebrata ini hidup menempel pada akar-akar
mangrove, atau di lantai hutan mangrove. Sejumlah invertebrata tinggal di dalam
lubang-lubang di lantai hutan mangrove yang berlumpur. Melalui cara ini mereka
terlindung dari perubahan temperatur dan faktor lingkungan lain akibat adanya pasang
surut di daerah hutan mangrove.
Biota yang paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove adalah crustacea dan
moluska. Kepiting, Uca sp dan berbagai spesies Sesarma umumnya dijumpai di hutan
Mangrove. Kepiting-kepiting dari famili Portunidae juga merupakan biota yang umum
dijumpai. Kepiting-kepiting yang dapat dikonsumsi (Scylla serrata) termasuk produk
mangrove yang bernilai ekonomis dan menjadi sumber mata pencaharian penduduk
sekitar hutan mangrove. Udang yang paling terkenal termasuk udang raksasa air tawar
(Macrobrachium rosenbergii) dan udang laut (Penaeus indicus , P. merguiensis, P.
monodon, Metapenaeus brevicornis) seringkali juga ditemukan di ekosistem
mangrove. Semua spesies-spesies ini umumnya mempunyai dasar-dasar sejarah hidup
yang sama yaitu menetaskan telurnya di ekosistem mangrove dan setelah mencapai
dewasa melakukan migrasi ke laut. Ekosistem mangrove juga merupakan tempat
memelihara anak- anak ikan. Migrasi biota ini berbeda-beda tergantung spesiesnya.
Udang Penaeus dijumpai melimpah jumlahnya hingga kedalaman 50 meter sedangkan
Metapenaeus paling melimpah dalam kisaran kedalaman 11-30 meter dan
Parapenaeopsis terbatas hanya pada zona 5-20 meter. Penaeid bertelur sepanjang tahun
tetapi periode puncaknya adalah selama Mei – Juni dan Oktober- Desember yang
bertepatan dengan datangnya musim hujan atau angin musim. P. merquiensis setelah
post larva ditemukan pada bulan November dan Desember dan setelah 3 – 4 bulan
berada di mangrove mencapai juvenile dan pada bulan Maret sampai Juni juvenil
berpindah ke air yang dangkal. Setelah mencapai dewasa atau lebih besar, udang akan
bergerak lebih jauh lagi keluar garis pantai untuk bertelur dengan kedalaman melebihi
10 meter. Waktu untuk bertelur dimulai bulan Juni dan berlanjut sampai akhir Januari.
Molusca yang memiliki nilai ekonomis biasanya sudah jarang ditemukan di ekosistem
mangrove karena dieksploitasi secara besar-besaran. Contohnya adalah spesies Anadara
sp saat ini jarang ditemukan di beberapa lokasi ekosistem mangrove karena
27
dieksploitasikan secara berlebihan. Bivalva lain yang paling penting di wilayah
mangrove adalah kerang darah (Anadara granosa) dan gastropod yang biasanya juga
dijumpai terdiri dari Cerithidia obtusa, Telescopium mauritsii dan T. telescopium.
Kerang-kerang ini merupakan sumber daya yang penting dalam produksi perikanan, dan
karena mangrove mampu menyediakan substrat sebagai tempat berkembang biak yang
sesuai, dan sebagai penyedia pakan maka dapat mempengaruhi kondisi perairan
sehingga menjadi lebih baik. Kerang merupakan sumberdaya penting dalam pasokan
sumber protein dan sumber penghasilan ekonomi jangka panjang. Untuk penduduk
sekitar pantai menjadikan kerang sebagai salah satu jenis yang penting dalam
penangkapan di wilayah mangrove.
Gambar 4-1. Fauna perairan yang hidup di ekosistem mangrove (Bengen,2002)
Common Flora and Fauna of the Mangrove Community
Canopy
Frigate Bird, Fregata magnificans Double Crested Cormorant, Phalacrocorax carbo
Brown Noddy, Anous stolidus Great White Heron, Adrea herodias Wurdemann’s Heron,
Ardea herodias Brown Pelican, Pelicanus occidentalis Roseate Spoonbill, Ajajia ajaia
Osprey, Pandion haliaetus
Lower Trunks and Ground
Mangrove Periwinkle, Littorina angulifera Coffee Bean Snail, Melampus coffeus
Mangrove Tree Crab, Goniopsis cruentata Fiddler Crab, Uca sp. Signature Spider,
Argiope argentata Crab-like Orb Weaving Spider, Gasteracantha elipsoides Butterfly
Caterpillar American Alligator, Alligator mississippiensis Eastern Diamondback Rattle
Snake, Crotalus adamanteus Mangrove Snake, Nerodia clarkii compressicauda
American Coot, Fulica americana Snowy Egret, Egretta thula Green Heron, Butorides
28
striatus Reddish Egret, Dichromanassa rufescens Greater Yellowlegs, Tringa
melanoleuca Key Deer, Odocoileus virginianus clavium Buttonwood, Conocarpus
erectus Giant Wild Pine, Tillandsia fasciculata Twisted Bromeliad, Tillandsia pruinosa
Spanish Moss, Tillandsia usneoides Perennial Glasswort, Salicornia virginica Black
Needle Rush, Juncus roemerianus Reindeer Lichen.
Encrusted on Prop Roots
Fire Sponge, Tedania ignis Variable Sponge, Anthosigmella varians Green Sponge,
Haliclona viridis Red Sponge, Haliclona rubens Chicken Liver Sponge, Chondrilla
nucula Heavenly Sponge, Dysidea ethera Stinging Hydroids, Pinnaria sp. Pale Anemone,
Aptasia tagetes Speckeled Anemone, Epicistis crucifer Green Social Zooanthid,
Zooanthus pulchellus Clubbed Finger Coral, Porites porites Feather Duster Worm
Tubes, Family Sabellidae Tree Oyster, Isogomon sp. Starred Barnacle, Chthamalus
stellate Lined Flatworm, Pseudoceros crozeri Beaded Sea Cucumber, Euapta lappa
Mangrove Tunicate, Ecteinascidia turbinata Bulb Tunicate, Clavelina sp. White Sponge
Tunicate, Didemnum candidum White Mermaid’s Wineglass, Acetabularia crennulata
Sea Pearls, Valonia macrophysa Rough Bubble Alga, Dictyospaeria cavernosa Green
Grape Alga, Caulerpa racemosa Flat Green Feather Alga, Caulerpa mexicana.
Waters surrounding Prop Roots, Channels and Flats
Loggerhead Sponge, Speciospongia vesparium Vase Sponge, Ircinia compana Upside
Down Jellyfish, Cassiopeia xamachana Pink Tipped Anemone, Chondylactis gigantea
Angular Sea Whip, Pterogorgia anceps Rough Starlet Coral, Siderastrea radians Rose
Coral, Manacina areolata Tulip Mussel, Modiolus americanus Stocky Cerith, Cerithium
letteratus Florida Cone, Conus floridanus floridensis Spaghetti Worm, Eupolymnia
nebulosa Greater Blue Crab, Callinectes sapidus Stone Crab, Menippe mercenaria
Florida Spiny Lobster, Panulirus argus Thorny Sea Star, Echinaster spinulosus
Silversides, probably Hardhead Silverside, Atherinomorus stipes Juvenile Blue
Angelfish, Holocanthus bermudensis Juvenile Porkfish, Anisotremus virginicus Gray or
Mangrove Snapper, Lutjanus griseus Schoolmaster Snapper, Lutjanus apodus Lined
Seahorse, Hippocampus erectus Great Barracuda, Sphryaena barracuda Scrawled
Cowfish, Lactophrys quadricornis Snook, Centropomus undecimalis Permit,
Trachinotus falcatus Sea Lettuce, Ulva oxysperma Paddle Blade Alga, Avrainvillea sp.
Oatmeal Alga, Halimeda sp. Double Helix Alga, Hydroclathrus clathratus Forked
Tumbleweed, Dictyota cervicornis Turtle Grass, Thalassia testudinum Manatee Grass,
Syringodium filiforme Shoal Grass, Halodule wrightii
Interaksi Di Ekosistem Mangrove
Secara umum di perairan terdapat dua tipe rantai makanan yaitu rantai makanan
langsung dan rantai makanan detritus. Di ekosistem mangrove rantai makanan yang ada
untuk biota perairan adalah rantai makanan detritus. Detritus diperoleh dari guguran
daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian dan berubah
menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.
Keberhasilan dari pengaturan menggabungkan dari mangrove berupa sumber penghasil
kayu dan bukan kayu, bergantung dari pemahaman kepada; satu parameter dari ekologi
dan budaya untuk pengelolaan kawasan hutan (produksi primer) dan yang kedua secara
biologi dimana produksi primer dari hutan mangrove merupakan sumber makanan bagi
29
organisme air (produksi sekunder). Pemahaman aturan tersebut merupakan kunci dalam
memelihara keseimbangan spesies yang merupakan bagian dari ekosistem yang penting.
Rantai ini dimulai dengan produksi karbohidrat dan karbon oleh tumbuhan melalui
proses Fotosintesis. Sampah daun kemudian dihancurkan oleh amphipoda dan kepiting.
(Head, 1971; Sasekumar, 1984). Proses dekomposisi berlanjut melalui pembusukan
daun detritus secara mikrobial dan jamur (Fell et al., 1975; Cundel et al., 1979) dan
penggunaan ulang partikel detrital (dalam wujud feses) oleh bermacam-macam
detritivor (Odum dan Heald, 1975), diawali dengan invertebrata meiofauna dan diakhiri
dengan suatu spesies semacam cacing, moluska, udang-udangan dan kepiting yang
selanjutnya dalam siklus dimangsa oleh karnivora tingkat rendah. Rantai makanan
diakhiri dengan karnivora tingkat tinggi seperti ikan besar, burung pemangsa, kucing
liar atau manusia.
Sumber energi lain yang juga diketahui adalah karbon yang di konsumsi ekosistem
mangrove (contoh diberikan oleh Carter et al., 1973; Lugo dan Snedaker 1974; 1975
dan Pool et al; 1975). Dalam siklus ini dimasukan input fitoplankton, alga bentik dan
padang lamun, dan epifit akar Odum et al. (1982). Sebagai contoh fitoplankton mungkin
berguna sebagai sebuah sumber energi dalam mangrove dengan ukuran yang besar dari
perairan dalam yang relatif bersih. Akar mangrove penyangga epifit juga memiliki
produksi yang tinggi. Nilai produksi perifiton pada akar penyangga adalah 1,4 dan 1,1
gcal/m2/d telah dilaporkan. (Lugo et al. 1975; Hoffman and Dawes,1980). Secara
umum jaring makanan di ekosistem mangrove disajikan pada Gambar 4-2.
Gambar 4-2. Jaring makanan di ekosistem mangrove
30
FUNGSI DAN PERANAN MANGROVE
Ekosistem mangrove merupakan sumberdaya alam yang memberikan banyak
keuntungan bagi manusia, berjasa untuk produktivitasnya yang tinggi serta
kemampuannya memelihara alam. Mangrove banyak memberikan fungsi ekologis dan
karena itulah mangrove menjadi salah satu produsen utama perikanan laut. Mangrove
memproduksi nutrien yang dapat menyuburkan perairan laut, mangrove membantu
dalam perputaran karbon, nitrogen dan sulfur, serta perairan mengrove kaya akan
nutrien baik nutrien organik maupun anorganik. Dengan rata-rata produksi primer yang
tinggi mangrove dapat menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang dan lainnya.
Mangrove menyediakan tempat perkembangbiakan dan pembesaran bagi beberapa
spesies hewan khususnya udang, sehingga biasa disebut “tidak ada mangrove tidak ada
udang” (Macnae,1968).
Mangrove membantu dalam pengembangan dalam bidang sosial dan ekonomi
masyarakat sekitar pantai dengan mensuplai benih untuk industri perikanan. Selain itu
telah diketemukan bahwa tumbuhan mangrove mampu mengontrol aktivitas nyamuk,
karena ekstrak yang dikeluarkan oleh tumbuhan mangrove mampu membunuh larva
dari nyamuk Aedes aegypti (Thangam and Kathiresan,1989). Itulah fungsi dari hutan
mangrove yang ada di India, fungsi-fungsi tersebut tidak jauh berbeda dengan fungsi
yang ada di indonesia baik secara fisika kimia, biologi, maupun secara ekonomis.
Secara biologi fungsi dari pada hutan mangrove antara lain sebagai daerah asuhan
(nursery ground) bagi biota yang hidup pada ekosisitem mengrove, fungsi yang lain
sebagai daerah mencari makan (feeding ground) karena mangrove merupakan produsen
primer yang mampu menghasilkan sejumlah besar detritus dari daun dan dahan pohon
mangrove dimana dari sana tersedia banyak makanan bagi biota-biota yang mencari
makan pada ekosistem mangrove tersebut, dan fungsi yang ketiga adalah sebagai daerah
pemijahan (spawning ground) bagi ikan-ikan tertentu agar terlindungi dari ikan predator,
sekaligus mencari lingkungan yang optimal untuk memisah dan membesarkan anaknya.
Selain itupun merupakan pemasok larva udang, ikan dan biota lainnya (Claridge dan
Burnett,1993)
Secara fisik mangrove berfungsi dalam peredam angin badai dan gelombang, pelindung
dari abrasi, penahan lumpur, dan perangkap sedimen. Dimana dalam ekosistem
mangrove ini mampu menghasilkan zat-zat nutrient (organik dan anorganik) yang
mampu menyuburkan perairan laut. Selain itupun ekosisitem mangrove berperan dalam
siklus karbon, nitrogen dan sulfur. Secara ekonomi mangrove mampu memberikan
banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat, baik itu penyediaan benih bagi industri
perikanan, selain itu kayu dari tumbuhan mangrove dapat dimanfaatkan untuk sebagai
kayu bakar, bahan kertas, bahan konstruksi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup
tinggi. Dan juga saat ini ekosistem mangrove sedang dikembangkan sebagai wahana
untuk sarana rekreasi atau tempat pariwisata yang dapat meningkatkan pendapatan
negara.
Ekosistem mangrove secara fisik maupun biologi berperan dalam menjaga ekosistem
lain di sekitarnya, seperti padang lamun, terumbu karang, serta ekosistem pantai
lainnya. Berbagai proses yang terjadi dalam ekosistem hutan mangrove saling terkait
dan memberikan berbagai fungsi ekologis bagi lingkungan. Secara garis besar fungsi
hutan mangrove dapat dikelompokkan menjadi :
31
1. Fungsi Fisik
• Menjaga garis pantai
• Mempercepat pembentukan lahan baru
• Sebagai pelindung terhadap gelombang dan arus
• Sebagai pelindung tepi sungai atau pantai
• Mendaur ulang unsur-unsur hara penting
2. Fungsi Biologi -Nursery ground, feeding ground, spawning ground, bagi berbagai
spesies udang, ikan, dan lainnya -Habitat berbagai kehidupan liar
3. Fungsi Ekonomi
• Akuakultur
• Rekreasi
• Penghasil kayu
Beberapa fungsi ekosistem mangrove yang memiliki hubungan dengan sumberdaya
perikanan disajikan pada gambar berikut :
32
Hutan mangrove mempunyai manfaat ganda dan merupakan mata rantai yang sangat
penting dalam memelihara keseimbangan biologi di suatu perairan. Selain itu hutan
mangrove merupakan suatu kawasan yang mempunyai tingkat produktivitas tinggi.
Tingginya produktivitas ini karena memperoleh bantuan energi berupa zat-zat makanan
yang diangkut melalui gerakan pasang surut.
Keadaan ini menjadikan hutan mangrove memegang peranan penting bagi kehidupan
biota seperti ikan, udang, moluska dan lainya. Selain itu hutan mangrove juga berperan
sebagai pendaur zat hara, penyedia makanan, tempat memijah, berlindung dan tempat
tumbuh. Hutan mangrove sebagai pendaur zat hara, karena dapat memproduksi
sejumlah besar bahan organik yang semula terdiri dari daun, ranting dan lainnya.
Kemudian jatuh dan perlahan-lahan menjadi serasah dan akhirnya menjadi detritus.
Proses ini berjalan lambat namun pasti dan terus menerus sehingga hasil proses
pembusukan ini merupakan bahan suplai makanan biota air.
Turner (1975) menyatakan bahwa disamping fungsi hutan mangrove sebagai ”waste
land” juga berfungsi sebagai kesatuan fungsi dari ekosistem estuari yang bersifat :
1. Sebagai daerah yang menyediakan habitat untuk ikan dan udang muda serta
biota air lainnya dalam suatu daerah dangkal yang kaya akan makanan dengan
predator yang sangat jarang.
2. Sebagai tumbuhan halofita, mangrove merupakan pusat penghisapan zat-zat hara
dari dalam tanah, memberikan bahan organik pada ekosistem perairan.
Merupakan proses yang penting dimana tumbuhan menjadi seimbang dengan
tekanan garam di akar dan mengeluarkannya.
3. Hutan mangrove sebagai penghasil detritus atau bahan organik dalam jumlah
yang besar dan bermanfaat bag! mikroba dan dapat langsung dimakan oleh biota
yang lebih tinggi tingkat. Pentingnya ‘detritus food web’ ini diakui oleh para ahli
dan sangat berguna dilingkungannya. Detritus mangrove menunjang populasi
ikan setelah terbawa arus sepanjang pantai.
Berdasarkan hal tersebut diatas, hutan mangrove memegang peranan penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan biota air dalam kesatuan fungsi ekosistem. Dengan
bertambah luasnya hutan mangrove, cenderung semakin tinggi produktivitasnya. Hal ini
telah dibuktikan oleh Martosubroto (1979) yaitu ada hubungan antara kelimpahan
udang di perairan dengan luasnya hutan mangrove. Demikian pula hasil penelitian dari
Djuwito (1985) terhadap struktur komunitas ikan di Segara Anakan memberikan
indikasi bahwa perairan tersebut tingkat keanekaragamannya tinggi, dibandingkan
dengan daerah Cibeureum yang dipengaruhi oleh sifat daratan. Tingginya
keanekaragaman jenis ikan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor
makanan dan faktor kompetisi.
Produksi primer bersih merupakan bagian dari produksi primer fotosintesis tumbuhan
yang tersisa setelah beberapa bagian digunakan untuk respirasi tumbuhan yang
bersangkutan. Fotosintesis dan respirasi adalah dua elemen pokok dari produksi primer
bersih. Komponen-komponen produksi primer bersih adalah keseluruhan dari organ
utama tumbuhan meliputi daun, batang dan akar. Selain itu, tumbuhan epifit seperti alga
pada pneumatofor,dasar pohon dan permukaan tanah juga memberikan sumbangan
kepada produksi primer bersih.
33
Clough (1986) menyatakan produksi primer bersih mangrove berupa mated yang
tergabung dalam biomassa tumbuhan yang selanjutnya akan lepas sebagai serasah atau
dikonsumsi oleh organisme heterotrof atau dapat juga dinyatakan sebagai akumulasi
materi organik bam dalam jaringan tumbuhan sebagai kelebihan dari respirasi yang
biasanya dinyatakan dalam berat kering materi organik. Sebagai produser primer,
mangrove memberikan sumbangan berarti terhadap produktivitas pada ekosistem estuari
dan perairan pantai melalui siklus materi yang berdasarkan pada detritus atau serasah
(Head, 1969 dalam Clough, 1982). Produktivitas merupakan faktor penting dari
ekosistem mangrove dan produksi daun mangrove sebagai serasah dapat digunakan
untuk menggambarkan produktivitas (Chapman, 1976).
Tabel 1. Produk dan Jasa Yang diperoleh dari ekosistem mangrove
Construction, fuel and
chemicals
Ecological services (continued)
Timber (poles) Trap for particulate matter
Firewood
Provision of nursery, breeding, feeding and
roosting
Tannins sites
Human Food
Storage and recycling of organic matter, nutrients
and
Fish pollutants
Crustaceans Export of organic matter and nutrients
Mollusks Biological regulation of ecosystem processes and
Honey functions
Other fauna Production of oxygen
Ecological services Sink for carbon dioxide
Protection against floods and Water catchment and groundwater recharge
hurricanes Topsoil formation
Control of shoreline and
riverbank
Influence on local and global climate
erosion Sustaining the livelihood of coastal communities
Biophysical support to other Heritage values
coastal ecosystems Artistic inspiration
Maintenance of biodiversity and Educational and scientific information
genetic resources Recreation and tourism
Salinity buffer
Sumber : Ruitenbeek, 1994; Jin-Eong, 1995; Gilbert and Janssen, 1998; Rönnbäck,
1999.
34
TERUMBU KARANG
EKOSISTEM TERUMBU KARANG
Penjelasan umum mengenai ekosistem terumbu karang
Istilah terumbu karang tersusun atas dua kata, yaitu terumbu dan karang, yang apabila
berdiri sendiri akan memiliki makna yang jauh berbeda bila kedua kata tersebut
digabungkan. Istilah terumbu karang sendiri sangat jauh berbeda dengan karang
terumbu, karena yang satu mengindikasikan suatu ekosistem dan kata lainnya merujuk
pada suatu komunitas bentik atau yang hidup di dasar substrat. Berikut ini adalah
definisi singkat dari terumbu, karang, karang terumbu, dan terumbu karang (Gambar 1).
Terumbu Reef =
Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang
utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur,
seperti alga berkapur dan moluska. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi
struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah
punggungan laut yang terbentuk oleh batu karang atau pasir di dekat permukaan
air.
Karang Coral =
Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang
mampu mensekresi CaCO3. Hewan karang tunggal umumnya disebut polip.
Karang terumbu =
Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik
(hermatypic coral).
Berbeda dengan batu karang (rock), yang merupakan benda mati.
Terumbu karang =
Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur
(CaCO3) khususnya jenisjenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan
biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenisjenis moluska, krustasea, ekhinodermata,
polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan
sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton
35
Gambar 1. Ekosistem terumbu karang (atas), karang terumbu dan matriks terumbu
(tengah), serta insert hewan karang (bawah)
Tipe-tipe terumbu karang
Berdasarkan bentuk dan hubungan perbatasan tumbuhnya terumbu karang dengan
daratan (land masses) terdapat tiga klasifikasi tipe terumbu karang yang sampai
sekarang masih secara luas dipergunakan. Ketiga tipe tersebut adalah (gambar 2):
1. Terumbu karang tepi (fringing reefs)
Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari
pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan
pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses
perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya
bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai
yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken
(Sulawesi), P. Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).
36
2. Terumbu karang penghalang (barrier reefs)
Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.52 km ke
arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang
membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan
kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau
benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Great
Barrier Reef (Australia), Spermonde (Sulawesi Selatan), Banggai Kepulauan (Sulawesi
Tengah).
3. Terumbu karang cincin (atolls)
Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulaupulau
vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. Menurut
Darwin, terumbu karang cincin merupakan proses lanjutan dari terumbu karang
penghalang, dengan kedalaman rata-rata 45 meter. Contoh: Taka Bone Rate (Sulawesi),
Maratua (Kalimantan Selatan), Pulau Dana (NTT), Mapia (Papua)
Gambar 2. Tipe-tipe terumbu karang, yaitu terumbu karang tepi (kiri), terumbu karang
penghalang (tengah), dan terumbu karang cincin (kanan).
Namun demikian, tidak semua terumbu karang yang ada di Indonesia bisa digolongkan
ke dalam salah satu dari ketiga tipe di atas. Dengan demikian, ada satu tipe terumbu
karang lagi yaitu:
4. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)
Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island).
Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu
geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang
secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh : Kepulauan
Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)
Distribusi terumbu karang
Ekosistem terumbu karang dunia diperkirakan meliputi luas 600.000 km2, dengan batas
sebaran di sekitar perairan dangkal laut tropis, antara 30 °LU dan 30 °LS. Terumbu
karang dapat ditemukan di 109 negara di seluruh dunia, namun diduga sebagian besar
dari ekosistem ini telah mengalami kerusakan
37
atau dirusak oleh kegiatan manusia setidaknya terjadi di 93 negara. Gambar 1
memperlihatkan peta lokasi sebaran ekosistem terumbu karang di seluruh dunia.
Gambar 3. Distribusi terumbu karang dunia
Berdasarkan distribusi geografinya maka 60% dari terumbu dunia ditemukan di
Samudera Hindia dan Laut Merah, 25% berada di Samudera Pasifik dan sisanya 15%
terdapat di Karibia. Pembagian wilayah terumbu karang dunia yang lain dan lebih
umum digunakan adalah:
a. Indo-Pasifik,
Region Indo-Pasifik terbentang mulai dari Asia Tenggara sampai ke Polinesia dan
Australia, ke bagian barat sampai ke Samudera sampai Afrika Timur. Region ini
merupakan bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah
spesies karang, ikan, dan moluska.
b. Atlantik bagian barat,
Region Atlantik Barat terbentang dari Florida sampai Brazil, termasuk daerah Bermuda,
Bahamas, Karibia, Belize dan Teluk Meksiko.
c. Laut Merah,
Region Laut Merah, terletak di antara Afrika dengan Saudi Arabia.
Terumbu karang adalah ekosistem khas daerah tropis dengan pusat penyebaran di
wilayah Indo-Pasifik. Terbatasnya penyebaran terumbu karang di perairan tropis dan
secara melintang terbentang dari wilayah selatan Jepang sampai utara Australia
38
dikontrol oleh faktor suhu dan sirkulasi permukaan (surface circulation). Penyebaran
terumbu karang secara membujur sangat dipengaruhi oleh konektivitas antar daratan
yang menjadi stepping stones melintasi samudera. Kombinasi antara faktor lingkungan
fisik (suhu dan sirkulasi permukaan) dengan banyaknya jumlah stepping stones yang
terdapat di wilayah Indo-Pasifik diperkirakan menjadi faktor yang sangat mendukung
luasnya pemencaran terumbu karang dan tingginya keanekaragaman hayati biota
terumbu karang di wilayah tersebut (Gambar 4).
Gambar 4. Kekayaan jenis karang, ikan, dan moluska di tiap wilayah utama terumbu
karang dunia.
Zonasi terumbu karang
Zonasi terumbu karang berdasarkan hubungannya dengan paparan angin terbagi
menjadi dua (Gambar 5), yaitu:
• Windward reef (terumbu yang menghadap angin)
• Leeward reef (terumbu yang membelakangi angin)
Gambar 5. Zonasi umum terumbu karang terhadap paparan angina
39
Windward reef
Windward merupakan sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh
reef slope atau lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di reef slope,
kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya
didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat
teras terumbu atau reef front yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi
dan karang tumbuh dengan subur.
Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu (patch reef), di bagian atas reef front
terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat
pengaruh gelombang yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga atau algal
ridge. Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu (reef flat) yang sangat
dangkal
Leeward reef
Leeward merupakan sisi yang membelakangi arah datangnya angin. Zona ini umumnya
memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada windward reef dan
memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar. Kedalaman goba biasanya kurang
dari 50 meter, namun kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena
kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih
besar.
40
EKOLOGI KARANG TERUMBU
Faktor-faktor lingkungan yang berperan dalam perkembangan ekosistem terumbu
karang. Ekosistem terumbu karang dapat berkembang dengan baik apabila kondisi
lingkungan perairan mendukung pertumbuhan karang (Gambar 1).
Gambar 1. Kombinasi faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan karang dan
perkembangan terumbu.
SUHU
Secara global, sebarang terumbu karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang
isoterm pada suhu 20 °C, dan tidak ada terumbu karang yang berkembang di bawah
suhu 18 °C. Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu
rata-rata tahunan 23-25 °C, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 °C.
SALINITAS
Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal 3235 ‰.
Umumnya terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan
air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas. Contohnya
di delta sungai Brantas (Jawa Timur). Di sisi
lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk
Persia yang salinitasnya 42 %.
CAHAYA DAN KEDALAMAN
Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh
zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang
41
hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan
umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk
karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan
intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.
KECERAHAN
Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi berarti
penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi
pula.
PAPARAN UDARA (aerial exposure)
Paparan udara terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan
hidup dan alga yang bersimbiosis di dalamnya.
GELOMBANG
Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat
merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian,
umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar.
Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan
membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.
ARUS
Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien
dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan
bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan
menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.
Pertumbuhan karang dan perkembangan terumbu
Berdasarkan fungsinya dalam pembentukan terumbu (hermatype-ahermatype) dan
ada/tidaknya alga simbion (symbiotic-asymbiotic), maka karang terbagi menjadi empat
kelompok berikut: (Gambar 2)
1. Hermatypes-symbionts. Kelompok ini terdiri dari anggota karang pembangun
terumbu yaitu sebagian besar anggota Scleractinia (karang batu), Octocorallia
(karang lunak) dan Hydrocorallia.
42
2. Hermatypes-asymbionts.· Kelompok ini merupakan karang dengan
pertumbuhan lambat yang dapat membentuk kerangka kapur masif tanpa
bantuan zooxanthellae, sehingga mereka mampu untuk hidup di dalam perairan
yang tidak ada cahaya.· Di antara anggotanya adalah Scleractinia asimbiotik
dengan genus Tubastrea dan Dendrophyllia, dan hydro-corals jenis Stylaster
rosacea.
3. Ahermatypes-symbionts. Anggota kelompok ini antara lain dari genus
Heteropsammia dan Diaseris (Scleractinia: Fungiidae) dan Leptoseris
(Agaricidae) yang hidup dalam bentuk polip tunggal kecil atau koloni kecil
sehingga tidak termasuk dalam pembangun terumbu. Kelompok ini juga terdiri
dari Ordo Alcyonacea dan Gorgonacea yang mempunyai alga simbion namun
bukan pembangun kerangka kapur masif (matriks terumbu).
4. Ahermatypes-asymbionts. Anggota kelompok ini antara lain terdiri dari genus
Dendrophyllia dan Tubastrea (Ordo Scleractinia) yang mempunyai polip yang
kecil.· Termasuk juga dalam kelompok ini adalah kerabat karang batu dari Ordo
Antipatharia dan Corallimorpha (Subkelas Hexacorallia) dan Subkelas
Octocorallia asimbiotik.
Gambar 2. Karang dalam sistem Filum Coelenterata; karang hermatypic pembangun
terumbu berada dalam garis terputus-putus
Karang hermatipik, yang umumnya didominasi oleh Ordo Scleractinia, memiliki alga
simbion atau zooxanthellae yang hidup di lapisan gastrodermis.· Di lapisan ini,
zooxanthellae sangat berperan membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi dan oksigen
bagi hewan karang melalui proses fotosintesis (Gambar 3).· Zooxanthellae merupakan
istilah umum bagi alga simbion dari kelompok dinoflagellata yang hidup di dalam
jaringan hewan lain, termasuk karang, anemon, moluska, dan taksa hewan yang lain.
Hubungan yang erat (simbiosis) antara hewan karang dan zooxanthellae dapat
dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme, karena hewan karang menyediakan tempat
berlindung bagi zooxanthellae dan memasok secara rutin kebutuhan bahan-bahan
43
anorganik yang diperlukan untuk fotosintesis, sedangkan hewan karang diuntungkan
dengan tersedianya oksigen dan bahan-bahan organik dari zooxanthellae.
Gambar 3. Peran alga simbion (zooxanthellae) dalam menyokong pertumbuhan
karang.
Koloni karang baru akan berkembang, jika polip karang melakukan
perkembangbiakan secara aseksual, budding dan fragmentation (gambar 4). Melalui
proses budding, koloni karang berkembang melalui dua cara yaitu intratentacular
budding dan extratentacular budding. Intratentacular budding terjadi apabila
pertambahan polip berasal dari satu polip yang terbelah menjadi dua, sedangkan
extratentacular budding terjadi jika tumbuh satu mulut polip bertentakel pada ruang
kosong antara polip satu dan polip lain. Selain itu, koloni baru dapat berkembang dari
patahan karang yang terpisah dari koloni induk akibat gelombang atau aksi fisik lain,
bila patahan tersebut melekatkan diri pada substrat keras dan tumbuh melalui
mekanisme budding.
Gambar 4. Mekanisme pembentukan koloni karang melalui proses budding
44
Perkembangan terumbu karang secara umum dikendalikan oleh sejumlah faktor
utama yang bekerja dalam skala ruang yang bersifat makro (global), meso (regional),
dan mikro (pulau). Ketiga faktor kendali utama tersebut terdiri atas faktor-faktor
lingkungan yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Kendali skala makro
1. Gaya tektonik
2. Paras muka laut
2. Kendali skala meso
1. Suhu
2. Salinitas
3. Energi gelombang
3. Kendali skala mikro
1. Cahaya
2. Nutrien
3. Sedimen
4. Topografi masa lampau
Interaksi yang terjadi di dalam ekosistem terumbu karang
Terumbu karang bukan merupakan sistem yang statis dan sederhana, melainkan
suatu ekosistem yang dinamis dan kompleks. Tingginya produktivitas primer di
ekosistem terumbu karang, bisa mencapai 5000 g C/m2/tahun, memicu produktivitas
sekunder yang tinggi, yang berarti komunitas makhluk hidup yang ada di dalamnya
sangat beraneka ragam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah. Berbagai jenis
makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain,
baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem
kehidupan. Sistem kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang
dimensinya akibat interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik.
Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas
interaksi yang sifatnya sederhana, hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang
sama atau berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari
berbagai spesies dan tingkatan trofik. Berikut ini disajikan berbagai macam interaksi
yang bersifat sederhana, yang dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan oleh
predator, grazing, komensalisme dan mutualisme, beserta contohnya di ekosistem
terumbu karang.
45
INTERAKSI SEDERHANA
PERSAINGAN
Persaingan memperoleh ruang
– Karang batu vs Karang lunak
– Koloni karang batu vs Koloni bulu babi
Persaingan memperoleh makanan
PEMANGSAAN
Pemangsaan karang oleh predatornya (Acanthaster planci, Chaetodontidae,
Tetraodontidae).
GRAZING
Pengendalian/pengaturan invasi ruang alga melalui konsumsi ikan herbivor
(Acanthuridae, Scaridae).
KOMENSALISME
Hubungan yang erat antara ikan pembersih dengan inangnya.
MUTUALISME
Hubungan yang erat antara karang batu dengan zooxanthellae, anemon dengan ikan
giru (Amphiprion atau Premnas), ikan Pomacentridae dengan koloni karang batu, dan
lain-lain.
INTERAKSI KOMPLEKS
Mekanisme lain untuk mengkaji interaksi antar biota yang hidup di ekosistem terumbu
karang adalah melalui jejaring makanan (gambar 5). Dibandingkan interaksi antar biota
yang ada dalam persaingan, predasi, simbiosis mutualisme, dan simbiosis komensalisme,
maka interaksi yang terjadi dalam sistem jejaring makanan di ekosistem terumbu karang
merupakan interaksi yang kompleks.
46
Gambar 5. Jejaring makanan di ekosistem terumbu karang.
Secara garis besar tingkat trofik dalam jejaring makanan dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu kelompok produsen yang bersifat autotrof karena dapat memanfaatkan energi
matahari untuk mengubah bahan-bahan anorganik menjadi karbohidrat dan oksigen
yang diperlukan seluruh makhluk hidup, dan kelompok konsumen yang tidak dapat
mengasimilasi bahan makanan dan oksigen secara mandiri (heterotrof).
PRODUSEN Karang batu (zooxanthellae), alga makro, alga koralin, bakteri fotosintetik
KONSUMEN Karang batu (polip), Ikan, Ekhinodermata, Annelida, Polikhaeta,
Krustasea, Holothuroidea, Moluska, dll.
Karang batu dapat berperan ganda, sebagai produsen dan konsumen. Hal ini
dimungkinkan oleh adanya endosimbiosis dengan zooxanthellae, yang di hari terang
melakukan proses fotosintesis, sedangkan di hari gelap karang batu memiliki tentakeltentakel
bersengat (nematocyst) yang dapat dijulurkan untuk memangsa zooplankton
dan hewan-hewan renik lainnya.
47
FUNGSI DAN MANFAAT TERUMBU KARANG DAN PERANNYA
TERHADAP SISTEM PERIKANAN
Fungsi terumbu karang
Terumbu karang merupakan ekosistem laut dangkal tropis yang paling kompleks dan
produktif. Terumbu karang juga merupakan ekosistem yang rentan terhadap perubahan
lingkungan, namun tekanan yang dialaminya semakin meningkat seiring dengan
penambahan jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat di wilayah pesisir. Tingginya
tekanan ini diakibatkan oleh banyaknya manfaat dan fungsi yang disediakan oleh
terumbu karang dengan daya dukung yang terbatas, sedangkan kebutuhan manusia terus
bertambah sepanjang waktu.
Secara alami, terumbu karang merupakan habitat bagi banyak spesies laut untuk
melakukan pemijahan, peneluran, pembesaran anak, makan dan mencari makan (feeding
& foraging), terutama bagi sejumlah spesies yang memiliki nilai ekonomis
penting. Banyaknya spesies makhluk hidup laut yang dapat ditemukan di terumbu
karang menjadikan ekosistem ini sebagai gudang keanekaragaman hayati laut. Saat ini,
peran terumbu karang sebagai gudang keanekaragaman hayati menjadikannya sebagai
sumber penting bagi berbagai bahan bioaktif yang diperlukan di bidang medis dan
farmasi.
Struktur masif dan kokoh dari terumbu berfungsi sebagai pelindung sempadan pantai,
dan ekosistem pesisir lain (padang lamun dan hutan mangrove) dari terjangan arus kuat
dan gelombang besar. Struktur terumbu yang mulai terbentuk sejak ratusan juta tahun
yang lalu juga merupakan rekaman alami dari variasi iklim dan lingkungan di masa
silam, sehingga penting bagi penelitian paleoekologi. Ekosistem ini juga berperan
penting dalam siklus biogeokimia secara global, karena kemampuannya menahan
nutrien-nutrien dalam sistem terumbu dan perannya sebagai kolam untuk menampung
segala bahan yang berasal dari luar sistem terumbu.
Secara umum, keseluruhan fungsi yang disediakan oleh terumbu karang dapat
digolongkan menjadi fungsi fisik, fungsi kimia, dan fungsi biologi dan ekologi.
Manfaat terumbu karang
Dalam konteks ekonomi, terumbu karang menyediakan sejumlah manfaat yang
dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu manfaat berkelanjutan dan manfaat
yang tidak berkelanjutan.
MANFAAT BERKELANJUTAN
– Perikanan lepas pantai
Berbagai sumberdaya ikan pelagis (mis. Scombridae, Exocoetidae, Carangidae,
Charcharinidae) bergantung pada ekosistem terumbu karang, baik sebagai lokasi
memijah, membesarkan anak, dan makan.
– Perikanan terumbu
48
Empat kelompok sumberdaya ikan terumbu yang penting bagi nelayan:
1. Ikan, mis. Muraenidae, Serranidae, Holocentridae, Lutjanidae, dll
2. Avertebrata, mis. Gastropoda, Bivalva, Krustasea, Cephalopoda,
Ekhinodermata, Coelenterata
3. Reptil, mis. ular laut dan penyu
4. Makrofita, mis. alga dan lamun
Gambar 1. Manfaat terumbu karang sebagai daerah tangkap ikan
(fishing ground) nelayan tradisional
1. Perlindungan pantai dan pulau kecil
2. Wisata bahari
3. Marikultur
4. Bioteknologi -Perdagangan biota ornamental
5. Wilayah perlindungan -Penambangan pasir karang
6. Kerajinan suvenir -Penelitian dan pendidikan
Berbagai manfaat yang dapat diperoleh manusia dari ekosistem terumbu karang,
perlu diatur pengelolaannya karena terumbu karang merupakan ekosistem yang rentan
akan perubahan lingkungan dan memiliki daya dukung terbatas. Dengan demikian,
beberapa manfaat berkelanjutan yang awalnya mampu disediakan pada akhirnya tidak
berkelanjutan karena laju pemanfaatannya yang berlebihan atau metode yang digunakan
bersifat merusak (destruktif) seperti penangkapan ikan menggunakan racun sianida atau
bom. Aktivitas seperti pengumpulan biota ornamental (kerang Conus, bintang laut
Linckia) yang pada awalnya hanya bertujuan sebagai hobi atau koleksi, apabila sudah
bersifat ekstraktif dan bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar (perdagangan) akan
berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem alami terumbu karang.
Dampak terbesar dan paling merusak yang mungkin terjadi atas ekosistem
terumbu karang adalah pembangunan pesisir yang pesat akibat pertumbuhan penduduk
yang tinggi dan meningkatnya berbagai kebutuhan manusia (pemukiman, perikanan,
industri, pelabuhan, dan lain-lain). Hal ini akan memicu peningkatan tekanan ekologis
terhadap ekosistem dan sumberdaya hayati yang terkandung di dalamnya.
MANFAAT YANG TIDAK BERKELANJUTAN
1. Aktivitas ekstratif
49
2. Perikanan dengan metode destruktif
3. Pengumpulan organisme terumbu
4. Perdagangan biota ornamental
5. Pembangunan pesisir
Gambar 2. Manfaat terumbu karang dapat berkurang atau bahkan musnah apabila di
wilayah pesisir terdapat aktivitas pembangunan yang tidak ramah lingkungan
Peranan terumbu karang terhadap sistem perikanan
Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling produktif dan tinggi
keanekaragaman hayatinya. Produktivitas primer yang tinggi dan kompleksnya habitat
yang terdapat di ekosistem terumbu karang memungkinkan daerah ini berperan sebagai
tempat pemijahan, tempat pengasuhan dan tempat mencari makan berbagai spesies ikan
dan biota laut lainnya. Dengan demikian, secara otomatis produksi sekunder (ikan dan
biota laut lain) di daerah terumbu karang juga sangat tinggi.
Komunitas ikan di ekosistem terumbu karang terdapat dalam jumlah yang besar dan
terlihat mengisi seluruh daerah di terumbu, sehingga dapat dikatakan bahwa ikan
merupakan penyokong berbagai macam hubungan yang ada dalam ekosistem
terumbu. Tingginya keanekaragaman jenis dan kelimpahan komunitas ikan di
ekosistem terumbu disebabkan oleh tingginya variasi habitat terumbu atau beragamnya
relung (niche) dari spesies-spesies ikan tersebut. Habitat di terumbu tidak hanya
tersusun oleh komunitas karang saja, melainkan juga terdiri atas daerah berpasir, ceruk
dan celah, daerah alga, serta zona-zona yang berbeda yang melintasi hamparan terumbu.
Selain keanekaan relung hidup yang tinggi, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan
yaitu tingkat spesialisasi yang tinggi dari tiap spesies. Banyak spesies ikan yang
memiliki kebutuhan yang sama sehingga terdapat persaingan aktif, baik antara spesies
yang berbeda maupun antara spesies yang sama. Persaingan ini kemudian menuju pada
pembentukan relung ekologi yang lebih sempit lagi. Dengan demikian, di ekosistem
terumbu karang seringkali terlihat bahwa pergerakan banyak spesies ikan sangat
terlokalisasi, terbatas pada daerah-daerah tertentu, dan terdapat perbedaan yang nyata
antara ikan-ikan yang aktif di malam dan siang hari.
50
Gambar 3. Skema hubungan antara berbagai jenis ikan dalam ekosistem
terumbu karang, yang menyokong sistem perikanan.
Sejumlah spesies ikan pelagis tergolong piscivor (pemangsa ikan-ikan lain), seperti hiu,
kerapu, kuwe, dan kakap. Umumnya ikan-ikan piscivor berukuran besar, baik yang
hidupnya di lingkungan pelagis maupun terkait erat dengan terumbu (kerapu), memiliki
nilai ekonomis penting dan menjadi target utama dalam kegiatan perikanan
tangkap. Komunitas ikan piscivor sangat bergantung pada keberadan terumbu karang,
baik untuk memijah atau bertelur, membesarkan larva dan juvenilnya, serta mencari
makan. Gambar 3 menjelaskan tentang peran terumbu karang dalam menyokong
kehidupan ikan piscivor melalui mekanisme jejaring makanan. Dapat terlihat bahwa
komunitas ikan piscivor tergolong sebagai top predator di ekosistem terumbu
karang. Selain ikan piscivor, jenis ikan lain yang juga menjadi target tangkapan nelayan
adalah ikan planktivor (pemakan plankton), terutama dari famili Caesionidae (ikan ekor
kuning).
51
PADANG LAMUN
EKOSISTEM PADANG LAMUN
Definisi
Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari cukup yang
dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini juga kaya akan nutrien
karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu darat dan lautan sehingga merupakan
ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat
mendukung di perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang
secara optimal. Lamun didefinisikan sebagai satu-satunya tumbuhan berbunga
(Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya
cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, dan akar
sejati. Beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air
berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta
berbiak dengan biji dan tunas.
Gambar Lamun jenis Halophila sp
Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang
lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area
pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau
jarang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari
komponen biotik dan abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem). Habitat
tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga dijumpai di
terumbu karang.
Ekosistem padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus dan berbeda
dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ciri-ciri ekologis padang lamun
antara lain adalah :
52
1. Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir
2. Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran
terumbu karang
3. Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung
4. Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan
5. Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan
tubuhnya terbenam air termasuk daur generatif
6. Mampu hidup di media air asin
7. Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik.
Klasifikasi
Lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan bibit seperti
banyak tumbuhan darat. Dan klasifikasi lamun adalah berdasarkan karakter tumbuhtumbuhan.
Selain itu, genera di daerah tropis memiliki morfologi yang berbeda
sehingga pembedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan
anatomi.
Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan
sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada
Sub kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui,
2 berada di perairan Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili
Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3
famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut.
Lamun merupakan tumbuhan yang beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan
laut. Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang dilakukan
termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar
di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan
reproduksi pada saat terbenam. Lamun juga memiliki karakteristik tidak memiliki
stomata, mempertahankan kutikel yang tipis, perkembangan shrizogenous pada sistem
lakunar dan keberadaan diafragma pada sistem lakunar. Salah satu hal yang paling
penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya
untuk melakukan polinasi di bawah air.
Secara rinci klasifikasi lamun menurut den Hartog (1970) dan Menez, Phillips, dan
Calumpong (1983) adalah sebagai berikut :
Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Potamogetonacea
Subfamili : Zosteroideae
Genus : Zostera
Phyllospadix
Heterozostera
53
Subfamili : Posidonioideae
Genus : Posidonia
Subfamili : Cymodoceoideae
Genus : Halodule
Cymodoceae
Syringodium
Amphibolis
Thalassodendron
Famili : Hydrocharitaceae
Subfamili : Hydrocharitaceae
Karakter sistem vegetatif
Bentuk vegetatif lamun memperlihatkan karakter tingkat keseragaman yang tinggi.
Hampir semua genera memiliki rhizoma yang sudah berkembang dengan baik dan
bentuk daun yang memanjang (linear) atau berbentuk sangat panjang seperti ikat
pinggang (belt), kecuali jenis Halophila memiliki bentuk lonjong.
Berbagai bentuk pertumbuhan tersebut mempunyai kaitan dengan perbedaan ekologik
lamun (den Hartog, 1977). Misalnya Parvozosterid dan Halophilid dapat dijumpai pada
hampir semua habitat, mulai dari pasir yang kasar sampai limpur yang lunak, mulai dari
daerah dangkal sampai dalam, mulai dari laut terbuka sampai estuari. Magnosterid dapat
dijumpai pada berbagai substrat, tetapi terbatas pada daerah sublitoral sampai batas ratarata
daerah surut. Secara umum lamun memiliki bentuk luar yang sama, dan yang
membedakan antar spesies adalah keanekaragaman bentuk organ sistem vegetatif.
Menjadi tumbuhan yang memiliki pembuluh, lamun juga memiliki struktur dan fungsi
yang sama dengan tumbuhan darat yaitu rumput. Berbeda dengan rumput laut (marine
alga/seaweeds), lamun memiliki akar sejati, daun, pembuluh internal yang merupakan
sistem yang menyalurkan nutrien, air, dan gas.
54
Gambar . Morfologi Lamun
Akar
Terdapat perbedaan morfologi dan anatomi akar yang jelas antara jenis lamun yang
dapat digunakan untuk taksonomi. Akar pada beberapa spesies seperti Halophila dan
Halodule memiliki karakteristik tipis (fragile), seperti rambut, diameter kecil,
sedangkan spesies Thalassodendron memiliki akar yang kuat dan berkayu dengan sel
epidermal. Jika dibandingkan dengan tumbuhan darat, akar dan akar rambut lamun tidak
berkembang dengan baik. Namun, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa akar dan
rhizoma lamun memiliki fungsi yang sama dengan tumbuhan darat.
Akar-akar halus yang tumbuh di bawah permukaan rhizoma, dan memiliki adaptasi
khusus (contoh : aerenchyma, sel epidermal) terhadap lingkungan perairan. Semua akar
memiliki pusat stele yang dikelilingi oleh endodermis. Stele mengandung phloem
(jaringan transport nutrien) dan xylem (jaringan yang menyalurkan air) yang sangat tipis.
Karena akar lamun tidak berkembang baik untuk menyalurkan air maka dapat dikatakan
bahwa lamun tidak berperan penting dalam penyaluran air.
Patriquin (1972) menjelaskan bahwa lamun mampu untuk menyerap nutrien dari dalam
substrat (interstitial) melalui sistem akar-rhizoma. Selanjutnya, fiksasi nitrogen yang
dilakukan oleh bakteri heterotropik di dalam rhizosper Halophila ovalis, Enhalus
acoroides, Syringodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii cukup tinggi lebih dari
40 mg N.m-2.day-1. Koloni bakteri yang ditemukan di lamun memiliki peran yang
penting dalam penyerapan nitrogen dan penyaluran nutrien oleh akar. Fiksasi nitrogen
merupakan proses yang penting karena nitrogen merupakan unsur dasar yang penting
dalam metabolisme untuk menyusun struktur komponen sel.
Lamun sering ditemukan di perairan dangkal daerah pasang surut yang memiliki
substrat lumpur berpasir dan kaya akan bahan organik. Pada daerah yang terlindung
dengan sirkulasi air rendah (arus dan gelombang) dan merupakan kondisi yang kurang
55
menguntungkan (temperatur tinggi, anoxia, terbuka terhadap udara, dll) seringkali
mendukung perkembangan lamun. Kondisi anoksik di sedimen merupakan hal yang
menyebabkan penumpukan posfor yang siap untuk diserap oleh akar lamun dan
selanjutnya disalurkan ke bagian tumbuhan yang membutuhkan untuk pertumbuhan.
Diantara banyak fungsi, akar lamun merupakan tempat menyimpan oksigen untuk
proses fotosintesis yang dialirkan dari lapisan epidermal daun melalui difusi sepanjang
sistem lakunal (udara) yang berliku-liku. Sebagian besar oksigen yang disimpan di akar
dan rhizoma digunakan untuk metabolisme dasar sel kortikal dan epidermis seperti yang
dilakukan oleh mikroflora di rhizospher. Beberapa lamun diketahui mengeluarkan
oksigen melalui akarnya (Halophila ovalis) sedangkan spesies lain (Thallassia
testudinum) terlihat menjadi lebih baik pada kondisi anoksik. Larkum et al (1989)
menekankan bahwa transport oksigen ke akar mengalami penurunan tergantung
kebutuhan metabolisme sel epidermal akar dan mikroflora yang berasosiasi. Melalui
sistem akar dan rhizoma, lamun dapat memodifikasi sedimen di sekitarnya melalui
transpor oksigen dan kandungan kimia lain. Kondisi ini juga dapat menjelaskan jika
lamun dapat memodifikasi sistem lakunal berdasarkan tingkat anoksia di sedimen.
Dengan demikian pengeluaran oksigen ke sedimen merupakan fungsi dari detoksifikasi
yang sama dengan yang dilakukan oleh tumbuhan darat. Kemampuan ini merupakan
adaptasi untuk kondisi anoksik yang sering ditemukan pada substrat yang memiliki
sedimen liat atau lumpur. Karena akar lamun merupakan tempat untuk melakukan
metabolisme aktif (respirasi) maka konnsentrasi CO2 di jaringan akar relatif tinggi.
Rhizoma dan Batang
Semua lamun memiliki lebih atau kurang rhizoma yang utamanya adalah herbaceous,
walaupun pada Thallasodendron ciliatum (percabangan simpodial) yang memiliki
rhizoma berkayu yang memungkinkan spesies ini hidup pada habitat karang yang
bervariasi dimana spesies lain tidak bisa hidup. Kemampuannya untuk tumbuh pada
substrat yang keras menjadikan T. ciliatum memiliki energi yang kuat dan dapat hidup
berkoloni disepanjang hamparan terumbu karang di pantai selatan Bali, yang merupakan
perairan yang terbuka terhadap laut Indian yang memiliki gelombang yang kuat.
Struktur rhizoma dan batang lamun memiliki variasi yang sangat tinggi tergantung dari
susunan saluran di dalam stele. Rhizoma, bersama sama dengan akar, menancapkan
tumbuhan ke dalam substrat. Rhizoma seringkali terbenam di dalam substrat yang dapat
meluas secara ekstensif dan memiliki peran yang utama pada reproduksi secara
vegetatif. Dan reproduksi yang dilakukan secara vegetatif merupakan hal yang lebih
penting daripada reproduksi dengan pembibitan karena lebih menguntungkan untuk
penyebaran lamun. Rhizoma merupakan 60-80% biomas lamun.
Daun
Seperti semua tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari meristem basal yang
terletak pada potongan rhizoma dan percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum
yang hampir sama, spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi yang
memiliki nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi sangat mudah
terlihat yaitu bentuk daun, bentuk puncak daun, keberadaan atau ketiadaan ligula.
Contohnya adalah puncak daun Cymodocea serrulata berbentuk lingkaran dan berserat,
sedangkan C. rotundata datar dan halus. Daun lamun terdiri dari dua bagian yang
56
berbeda yaitu pelepah dan daun. Pelepah daun menutupi rhizoma yang baru tumbuh dan
melindungi daun muda. Tetapi genus Halophila yang memiliki bentuk daun petiolate
tidak memiliki pelepah.
Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan keberadaan kutikel
yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan difusi
karbon sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut
merupakan sumber bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk penggunaan karbon
inorganik dalam proses fotosintesis.
SEBARAN JENIS DAN KARAKTERISTIK EKOLOGI
Sebaran Jenis Lamun
Tumbuhan lamun merupakan tumbuhan laut yang mempunyai sebaran cukup luas mulai
dari benua Artik sampai ke benua Afrika dan Selandia Baru. Jumlah jenis tumbuhan ini
mencapai 58 jenis di seluruh dunk (Kuo dan Me. Comb 1989) dengan konsentrasi
utama didapatkan di wilayah Indo-Pasifik. Dari jumlah tersebut 16 jenis dari 7 marga
diantaranya ditemukan di perairan Asia Tenggara, dimana jumlah jenis terbesar
ditemukan di perairan Filipina (16 jenis) atau semua jenis yang ada di perairan Asia
Tenggara ditemukan juga di Filipina.
Dua hipotesis yang saling bertolak belakang yang digunakan untuk menjelaskan
penyebaran lamun adalah : 1. Hipotesis Vikarians dan 2. Hipotesis pusat asal usul.
Hipotesis vikarians yang dikemukakan oleh McCoy dan Heck (1976), berdasarkan
lempeng tektonik, perubahan iklim, dan juga pertimbangan ekologi seperti kepunahan
dan hubungan spesies-habitat. Berdasarkan penyebaran terumbu karang (sklerektinia),
lamun, dan mangrove, McCoy dan Heck ( 1976) menyimpulkan bahwa : pola
biogeography lebih baik dijelaskan oleh keberadaan penyebaran biota secara luas pada
waktu sebelumnya yang telah mengalami perubahan akibat kejadian tektonik, speciation,
dan kepunahan, bersama dengan geologi modern dan teori biogeografi. Sedangkan
hipotesis pusat asal usul berpendapat bahwa pola distribusi lamun dapat dijelaskan dari
penyebarannya yang merupakan radiasi yang berasal dari lokasi yang memiliki
keanekaragaman yang paling tinggi yang disebut pusat asal usul (den Hartog, 1970).
Hipotesis ini berpendapat bahwa “Malinesia” (termasuk kepulauan Indonesia,
Kalimantan-Malaysia, Papua Nugini, dan Utara Australia) merupakan pusat asal usul
penyebaran lamun.
Mukai (1993) menunjukkan bahwa pola penyebaran modern dari lamun di barat Pasifik
merupakan fungsi dari arus laut dan jarak dari pusat asal usul (Malesia). Datanya
menjelaskan bahwa jika mengikuti arus laut utama yang berasal dari pusat asal usul
(Malesia) dengan keanekaragaman lamun tinggi, maka akan terjadi penurunan
keanekaragaman lamun secara progresif kearah tepi (Jepang, Selatan Quensland, Fiji)
yang memiliki lebih sedikit jenis lamun tropis. Yang perlu dicermati bahwa distribusi
lamun sepanjang utara-mengalirnya Kuroshio dan selatan-aliran timur arus Australia
juga merefleksikan gradient lintang. Hal lainnya adalah penyebaran lamun sepanjang
gradient ini juga dipengaruhi oleh temperatur.
Di Indonesia ditemukan jumlah jenis lamun yang relatif lebih rendah dibandingkan
Filipina, yaitu sebanyak 12 jenis dari 7 marga. Namun demikian terdapat dua jenis
57
lamun yang diduga ada di Indonesia namun belum dilaporkan yaitu Halophila beccarii
dan Ruppia maritime* (Kiswara 1997). Dari beberapa jenis yang ada di Indonesia,
terdapat jenis lamun kayu (Thalassodendron ciliatum) yang penyebarannya sangat
terbatas dan terutama di wilayah timur perairan Indonesia, kecuali juga ditemukan di
daerah terumbu tepi di kepulauan Riau (Tomascik et al 1997). Jenis-jenis lamun
tersebut membentuk padang lamun baik yang bersifat padang lamun monospesifik
maupun padang lamun campuran yang luasnya diperkirakan mencapai 30.000 km2
(Nienhuis 1993).
Jenis dan sebaran lamun di beberapa negara Asia Tenggara (ASEAN) disajikan pada
Tabel 1.
Jenis SBL di Brunei
DS
Indonesia Malaysia Filipina Singapura Thailand
Enhalus
acoroides
+ 4- + + + 4-
Halophila
decipiens
– 4- – + – +
H. minor – + + + 4- +
H. minor var.
nov
– – – + – –
H. ovalis 4- 4- + + + 4-
H. spinulosa 4- 4- + + + –
H. beccarii – ? + + + 4-
Halophila sp. – – – + –
Thalassia
hemprichii
4- 4- + + 4- +
Cymodocea
rotundata
– 4- + + + +
C. serrulata – + + + 4- +
Halodule
pinifolia
– + – + 4- 4-
H. uninervis – + – + 4- 4-
Syringodium
isoetifolium
– 4- + + 4- “
Thalassodendron – + – + – ™
Ruppia maritima – ? – + – –
Jumlah 4 12 9 16 11 10
Keterangan: + : ditemukan -: tidak ditemukan ? : diduga ada tidak ditemukan ? :
diduga ada
Sedangkan penyebaran padang lamun di wilayah laut berdasarkan jenis-jenis yang
umum terdapat di Indonesia dapat dijelaskan pada tabel berikut:
58
Tabel 2. Penyebaran lamun di wilayah laut yang ditemukan di Indonesia
Spesies Keterangan
Cymodocea rotundata
Terdapat di daerah intertidal dan merupakan makanan
duyung
C. serrulata
Umum dijumpai di daerah intertidal di dekat mangrove,
dan merupakan makanan duyung
Enhalus acoroides
Tumbuh pada substrat berlumpur dan perairan keruh, dapat
membentuk padang lamun spesies tunggal, atau
mendominasi komunitas padang lamun
Halodule pinifolia
Pertumbuhannya cepat, merupakan spesies pionir, umum
dijumpai di substrat berlumpur
H. uninervis
Membentuk padang lamun spesies tunggal padarataan
karang yang rusak
Halophila decipiens Dikenal sebagai makanan duyung
H. minor· ·
H. ovalis
Dapat merupakan spesies yang dominan di daerah
intertidal, mampu tumbuh sampai kedalaman 25 m
H.spinulosa Merupakan makanan duyung
Syringodium
isoetifolium
·
Thalassia hemprichii
Umum dijumpai di daerah subtidal yang dangkal dan
berlumpur
Thalassodendron
ciliatum
Paling banyak dijumpai, biasa tumbuh dengan spesies lain,
dapat tumbuh hingga kedalaman 25 m. Sering dijumpai
pada substrat berpasir. Sering mendominasi di zona
subtidal dan berasosiasi dengan terumbu karang sampai
kedalaman 30 m, di lereng terumbu karang
Karakteristik Ekologi
Suhu
Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan suhu terhadap
kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara
dan kelangsungan hidup lamun (Brouns dan Hiejs 1986; Marsh et al. 1986; Bulthuis
1987). Marsh et al. (1986) melaporkan bahwa pada kisaran suhu 25 – 30°C fotosintesis
bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun
meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-
35°C.
Pengaruh suhu juga terlihat pada biomassa Cymodocea nodosa, dimana pola fluktuasi
biomassa mengikuti pola fluktuasi suhu (Perez dan Romero 1992). Penelitian yang
dilakukan Barber (1985) melaporkan produktivitas lamun yang tinggi pada suhu tinggi,
bahkan diantara faktor lingkungan yang diamati hanya suhu yang mempunyai pengaruh
nyata terhadap produktivitas tersebut. Pada kisaran suhu 1035 °C produktivitas lamun
meningkat dengan meningkatnya suhu.
59
Salinitas
Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun yang tua
dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman 1986). Ditambahkan bahwa
Thalassia ditemukan hidup dari salinitas 3,5-60 °°/o, namun dengan waktu toleransi
yang singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas
24-35 °°/0.
Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar
daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis antartica biomassa,
produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan pada salinitas 42,5 °°/o.
Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas, namun jumlah
cabang dan lebar daun semakin menurun (Walker 1985).
Berbeda dengan hasil penelitian tersebut di atas, Mellors et al. (1993) dan
Nateekarnchanalarp dan Sudara (1992) yang melakukan penelitian di Thailand tidak
menemukan adanya pengaruh salinitas yang berarti terhadap faktor-faktor biotik lamun.
Kekeruhan
Kekeruhan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kehidupan lamun karena dapat
menghalangi penetrasi cahaya yang dibutuhkan oleh lamun untuk berfotosintesis masuk
ke dalam air. Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya partikel-partikel tersuspensi,
baik oleh partikel-partikel hidup seperti plankton maupun partikel-partikel mati seperti
bahan-bahan organik, sedimen dan sebagainya.
Erftemeijer (1993) mendapatkan intensitas cahaya pada perairan yang jernih di Pulau
Barang Lompo mencapai 400 u,E/m2/dtk pada kedalaman 15 meter. Sedangkan di
Gusung Tallang yang mempunyai perairan keruh didapatkan intensitas cahaya sebesar
200 uJ3/m2/dtk pada kedalaman 1 meter.
Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor pembatas
pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo 1997). Hamid (1996) melaporkan adanya
pengaruh nyata kekeruhan terhadap pertumbuhan panjang dan bobot E. acoroides.
Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh
di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona
intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis,
Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia. Sedangkan Thalassodendron ciliatum
mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo 1997).
Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan
lamun. Brouns dan Heijs (1986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi
E. acoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi. Selain itu di Teluk Tampa
Florida ditemukan kerapatan T. testudinwn tertinggi pada kedalaman sekhar 100 cm dan
menurun sampai pada kedalaman 150 cm (Durako dan Moffler 1985).
60
Nutrien
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan
ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan,
kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo 1997).
Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat
dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat
dimanfeatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Dhambahkan bahwa kapasitas
sedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran
sedimen, dimana sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi.
Di Pulau Barang Lompo kadar nitrat dan fosfet di air antara lebih besar dibanding di air
kolom, dimana di air antara ditemukan sebesar 45,5 uM (nitrat) dan 7,1118 uM (fosfat),
sedangkan di air kolom sebesar 21,75 uM (nitrat) dan 0,8397 uM (fosfat) (Noor et al
1996).
Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun
umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah tropik (Dawes 1981). Penyerapan
nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Erftemeijer 1993).
Mellor et al. (1993) melaporkan tidak ditemukannya hubungan antara faktor biotik
lamun dengan nutrien kolom air.
Substrat
Lamun dapat ditemukan pada berbagai karakteristik substrat. Di Indonesia padang
lamun dikelompokkan ke dalam enam kategori berdasarkan karakteristik tipe
substratnya, yaitu lamun yang hidup di substrat lumpur, lumpur pasiran, pasir, pasir
lumpuran, puing karang dan batu karang (Kiswara 1997). Sedangkan di kepulauan
Spermonde Makassar, Erftemeijer (1993) menemukan lamun tumbuh pada rataan
terumbu dan paparan terumbu yang didominasi oleh sedimen karbonat (pecahan karang
dan pasir koral halus), teluk dangkal yang didominasi oleh pasir hitam terrigenous dan
pantai intertidal datar yang didominasi oleh lumpur halus terrigenous. Selanjutnya Noor
(1993) melaporkan adanya perbedaan penting antara komunitas lamun dalam
lingkungan sedimen karbonat dan sedimen terrigen dalam hal struktur, kerapatan,
morfologi dan biomassa.
Tipe substrat juga mempengaruhi standing crop lamun (Zieman 1986). Selain itu rasio
biomassa di atas dan dibawah substrat sangat bervariasi antar jenis substrat. Pada
Thalassia, rasio bertambah dari 1 : 3 pada lumpur halus menjadi 1 : 5 pada lumpur dan
1 : 7 pada pasir kasar (Burkholder et al. 1959 dalam Zieman 1986).
61
PERTUMBUHAN, PRODUKTIVITAS DAN BIOMASS, FUNGSI DAN
PERANAN
Pertumbuhan
Pertumbuhan lamun dapat dilihat dari pertambahan panjang bagian-bagian tertentu
seperti daun dan rhizoma dalam kurun waktu tertentu. Namun pertumbuhan rhizoma
lebih sulit diukur terutama pada jenis-jenis tertentu yang umumnya berada di bawah
substrat dibanding pertumbuhan daun yang berada di atas substrat, sehingga penelitian
pertumbuhan lamun relatif lebih banyak mengacu pada pertumbuhan daun.
Umumnya penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan daun muda lebih cepat
dibanding pertumbuhan daun tua (Brouns 1985; Azkab 1999). Namun hal yang berbeda
ditemukan oleh Azkab (1988a) yang melakukan penelitian di Teluk Jakarta, dimana
daun tua E. acoroides mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibanding
pertumbuhan daun mudanya. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan lamun sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor internal seperti fisiologi, metabolisme dan fektor
eksternal seperti zat-zat hara, tingkat kesuburan substrat, dan faktor lingkungan lainnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Brouns (1985a) pada T. hemprichii menunjukkan bahwa
rata-rata laju pertumbuhan daun dari hari ke-3 sampai pada hari ke-13 konstan sebesar
8,4 mm/hari (dua hari pertama tidak terdeteksi) dan berikutnya menurun 8,4 %/hari
sampai akhirnya pertumbuhan terhenti pada hari ke-24. Daun baru pertama muncul
beberapa hari sebelum laju pertumbuhan menurun dan daun baru kedua muncul
sebelum laju pertumbuhan terhenti.
Selain mempunyai laju pertumbuhan, lamun juga mempunyai bentukbentuk
pertumbuhan yang sangat erat kaitannya dengan perbedaan ekologinya (den Hartog
1967 dalam Azkab 2000b). Bentuk pertumbuhan tersebut dapat dibagi menjadi 6
kategori yaitu :
1. Parvozosterid, dengan daun memanjang dan sempit. Misalnya pada Halodule,
Zostera sub marga Zosterella.
2. Magnozosterids, dengan daun memanjang dan agak lebar. Misalnya Zostera sub
marga Zostera, Cymodocea dan Thalassia.
3. Syringodiids, dengan daun bulat seperti lidi dan ujung runcing. Misalnya
Syringodium.
4. Enhalids, dengan daun panjang dan kaku seperti kulit atau berbentuk ikat
pinggang yang kasar. Misalnya Enhalus, Posidonia dan Phyllospadix.
5. Halophilids, dengan daun bulat telur, clips, berbentuk tombak atau panjang,
rapuh dan tanpa saluran udara. Misalnya Halophila.
6. Amphibolids, dengan daun tumbuh teratur pada kiri dan kanan. Misalnya
Amphibolis, Thalassodendron dan Heterozostera.
Produktivitas dan Biomassa
Yang dimaksud dengan biomassa lamun dalam adalah berat dari semua material yang
hidup pada suatu satuan luas tertentu, baik yang berada di atas maupun di bawah
substrat yang sering dinyatakan dalam satuan gram berat kering per m2 (gbk/m2).
Sedangkan produksi lamun diartikan sebagai pertambahan biomassa lamun selang
62
waktu tertentu (Zieman dan Wetzel 1980) dengan laju produksi (produktivitas) yang
sering dinyatakan dengan satuan berat kering per m2 perhari (gbk/m2/hari) (Brouns
1985) atau berat karbon per m2 pertahun (gC/m2/tahun).
Pengukuran produktivitas lamun dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti
metode biomassa, metode penandaan dan metode metabolisme (Zieman dan Wetzel
1980; Azkab 2000a). Penelitian-penelitian produktivitas di Indonesia umumnya
menggunakan metode penandaan. Produktivitas yang didapatkan dari metode ini bisa
lebih kecil dari produktivitas yang sebenarnya karena tidak memperhitungkan
kehilangan serasah dan pengaruh grazing oleh hewan-hewan herbivora yang
memanfaatkan lamun sebagai makanan.
Biomassa dan produksi dapat bervariasi secara spasial dan temporal yang disebabkan
oleh berbagai faktor, terutama oleh nutrien dan cahaya (Tomascik et al. 1987). Selain itu
juga sangat tergantung pada spesies dan kondisi perairan lokal lainnya seperti kecerahan
air, sirkulasi air dan kedalaman (Zieman 1987),panjang hari, suhu dan angin (Mellor et
al 1993). Fortes (1990) menambahkan bahwa besarnya biomassa lamun bukan hanya
merupakan fungsi dari ukuran tumbuhan, tetapi juga merupakan fungsi dari kerapatan.
Biomassa lamun dari beberapa tempat di daerah tropik dirangkum oleh Azkab
(1999,2000b) (label 2).
Nateekarnchanalarp dan Sudara (1992) yang melakukan penelitian di Thailand
melaporkan adanya perbedaan biomassa lamun menurut lokasi dan musim. Pada musim
panas biomassa lamun H. ovalis tertinggi ditemukan di Chon Khram (1.094 gbk/m2)
kemudian di Yai (0,935 gbk/m2) dan terendah di Hin Com (0,919 gbk/m2). Pada tempat
yang sama (Chon Khram) biomassa lamun H. ovalis berbeda menurut musim. Biomassa
tertinggi ditemukan sebesar 2,308 gbk/m2 pada musim hujan, yang kemudian disusul
1,094 gbk/m2 (musim panas) dan 0,144 gbk/m2 (musim dingin). Dari laporan tersebut
juga terlihat bahwa persentase luas penutupan yang tinggi belum tentu menghasilkan
biomassa yang tinggi dibanding yang mempunyai persentase penutupan yang lebih
rendah.
Beberapa peneliti membagi biomassa dan produksi menurut letaknya terhadap substrat
yaitu biomassa atau produksi di atas substrat (terdiri dari helaian dan pelepah daun) dan
biomassa di bawah substrat (terdiri dari akar dan rhizoma). Penelitian-penelitian yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa biomassa lamun di bawah substrat lebih besar
dibanding di atas substrat. Namun sebaliknya, produksi lamun di atas substrat lebih
besar dibanding di bawah substrat (Brouns 1985).
Di kepulauan Seribu, penelitian yang dilakukan oleh Azkab (1992, diolah) pada T.
hemprichii menunjukkan rasio antara biomassa di bawah dan di atas substrat adalah
4,80 (Pulau Pan dan Pulau Rambut) dan 4,71 (pulau Bidadari). Sedangkan penelitian
yang dilakukan oleh Dawes dan Tomasko (1988) pada T. testudinum ditemukan rasio
antara bagian dangkal dan bagian dalam padang lamun yang berbeda antara lokasi
penelitian. Di lokasi penelitian Egmont Key di dapatkan rasio 3,19 dan 0,79 masingmasing
pada bagian dangkal dan bagian dalam padang lamun. Sedangkan di Anclote
Key ditemukan rasio masingmasing 1,31 (bagian dangkal) dan 1,84 (bagian dalam).
63
Beberapa peneliti melaporkan bahwa produktivitas primer komunitas lamun mencapai 1
kg C/m2/tahun, namun hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan langsung oleh
herbivora (Kirman dan Reid 1979 dalam Supriharyono 2000).
Brouns (1985a) melaporkan rataan produktivitas di atas substrat T. hempricii berkisar
0,67 – 1,49 gC/m2/hari. Produksi di atas substrat tersebut dapat menyumbangkan
sampai 85% dari total produksi bersih lamun. Peneliti tersebut juga menemukan adanya
hubungan yang erat antara produktivitas T. hemprichii di atas substrat dengan siklus
bulan. Produktivitas tertinggi ditemukan seminggu setelah bulan baru dan terendah
beberapa hari setelah bulan penuh. Produktivitas menurun secara linear dengan kju
0,035 mgbk/tunas/hari yang dimulai pada hari ke-5 setelah bulan baru dan bertambah
dengan laju 0,026 mgbk/tunas/hari dari hari ke-18 setelah bulan baru.
Di Indonesia, produktivitas lamun juga bervariasi menurut daerah. Produktivitas lamun
di beberapa daerah di Indonesia disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Produktivitas Beberapa Jenis Lamun di Beberapa Daerah di Indonesia
(gbk/m2/hari) (Tomascik et al 1997)
Jenis Bagian Barat Laut
Jawa
Lombok Laut
Flores
Enhalus acoroides 3,6 1,5 4,7
Cymodocea rotundata 0,6 6,8
C. serrulata
Syringodiwn
isoetifolium
6,8
Thalassia hemprichii 1,5 8,1
Thalassosendron
ciliatum
Fungsi dan Peranan
Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan
keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup beraneka ragam
biota laut seperti ikan, Krustasea, Moluska ( Pinna sp., Lambis sp., dan Strombus sp.),
Ekinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Arcbaster sp., Linckia sp.)
dan cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2001).
Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di
laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai
peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut
dangkal, menurut hasil penelitian diketahui bahwa peranan lamun di lingkungan
perairan laut dangkal sebagai berikut :
1. Sebagai produsen primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan
ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang (Thayer
et al. 1975).
64
2. Sebagai habitat biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan
tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga
sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan makan dari berbagai jenis ikan
herbivora dan ikan– ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
3. Sebagai penangkap sedimen
Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak,
sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun
dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan
dasar permukaaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat
mencegah erosi ( Gingsburg & Lowestan 1958).
4. Sebagai pendaur zat hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemenelemen
yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh
algae epifit.
Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu
ekosistem bahari yang produktif. Ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi
antara lain:
1. Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui I tekanan–
tekanan dari arus dan gelombang.
2. Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta
mengembangkan sedimentasi.
3. Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang
berkunjung ke padang lamun.
4. Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
5. Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
6. Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai
makanan.
Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang
sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupuin secara
modern. Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
1. Digunakan untuk kompos dan pupuk
2. Cerutu dan mainan anak-anak
3. Dianyam menjadi keranjang
4. Tumpukan untuk pematang
5. Mengisi kasur
6. Ada yang dimakan
7. Dibuat jaring ikan
65
Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk:
1. Penyaring limbah
2. Stabilizator pantai
3. Bahan untuk pabrik kertas
4. Makanan
5. Obat-obatan
6. Sumber bahan kimia.
Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi
berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air.
bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai.
Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan
akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti
ekosistem terumnbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem
tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi
ekologisnya.
Lamun hidup dan terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman 0,5-10 m.
Namun sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesies lebih banyak terdapat di
daerah tropik dari pada di daerah ugahari (Barber, 1985).
Habitat lamun dapat dipandang sebagai suatu komunitas, dalam hal ini suatu padang
lamun merupakan kerangka struktur dengan tumbuhan dan hewan yang saling
berhubungan. Habitat lamun dapat juga dipandang sabagai suatu ekosistem, dalam hal
ini hubungan hewan dan tumbuhan tadi dipandang sebagai suatu proses tunggal yang
dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh interaktif dari faktor-faktor biologis, fisika,
kimiawi. Ekosistem padang lamun pada daerah tropik dapat menempati berbagai habitat,
dalam hal ini status nutrien yang diperlukan sangat berpengaruh. Lamun dapat hidup
mulai dari rendah nutrien dan melimpah pada habitat yang tinggi nutrien.
Lamun pada umumnya dianggap sebagai kelompok tumbuhan yang homogen. Lamun
terlihat mempunyai kaitan dengan habitat dimana banyak lamun (Thalassia) adalah
substrat dasar dengan pasir kasar. Menurut Haruna (Sangaji, 1994) juga mendapatkan
Enhalus acoroides dominan hidup pada substrat dasar berpasir dan pasir sedikit
berlumpur dan kadang-kadang terdapat pada dasar yang terdiri atas campuran pecahan
karang yang telah mati.
Keberadaan lamun pada kondisi habitat tersebut, tidak terlepas dan ganguan atau
ancaman-ancaman terhadap kelansungan hidupnya baik berupa ancaman alami maupun
ancaman dari aktivitas manusia.
Banyak kegiatan atau proses, baik alami maupun oleh aktivitas manusia yang
mengancam kelangsungan ekosistem lamun. Ekosistem lamun sudah banyak terancam
termasuk di Indonesia baik secara alami maupun oleh aktifitas manusia. Besarnya
pengaruh terhadap integritas sumberdaya, meskipun secara garis besar tidak diketahui,
namun dapat dipandang di luar batas kesinambungan biologi. Perikanan laut yang
meyediakan lebih dari 60% protein hewani yang dibutuhkan dalam menu makanan
masyarakat pantai, sebagian tergantung pada ekosistem lamun untuk produktifitas dan
66
pemeliharaanya. Selain itu kerusakan padang lamun oleh manusia akibat pemarkiran
perahu yang tidak terkontrol (Sangaji, 1994).
Ancaman-ancaman alami terhadap ekosistem lamun berupa angin topan, siklon
(terutama di Philipina), gelombang pasang, kegiatan gunung berapi bawah laut,
interaksi populasi dan komunitas (pemangsa dan persaingan), pergerakan sedimen dan
kemungkinan hama dan penyakit, vertebrata pemangsa lamun seperti sapi laut.
Diantara hewan invertebrata, bulu babi adalah pemakan lamun yang utama. Meskipun
dampak dari pemakan ini hanya setempat, tetapi jika terjadi ledakan populasi pemakan
tersebut akan terjadi kerusakan berat. Gerakan pasir juga mempengaruhi sebaran lamun.
Bila air menjadi keruh karena sedimen, lamun akan bergeser ke tempat yang lebih
dalam yang tidak memungkinkan untuk dapat bertahan hidup (Sangaji, 1994).
Limbah pertanian, industri, dan rumah tangga yang dibuang ke laut, pengerukan lumpur,
lalu lintas perahu yang padat, dan lain-lain kegiatan manusia dapat mempunyai
pengaruh yang merusak lamun. Di tempat hilangnya padang lamun, perubahan yang
dapat diperkirakan menurut Fortes (1989), yaitu:
1. Reduksi detritus dari daun lamun sebagai konsekuensi perubahan dalam jaringjaring
makanan di daerah pantai dan komunitas ikan.
2. Perubahan dalam produsen primer yang dominan dari yang bersifat bentik yang
bersifat planktonik.
3. Perubahan dalam morfologi pantai sebagai akibat hilangnya sifat-sifat pengikat
lamun.
4. Hilangnya struktural dan biologi dan digantikan oleh pasir yang gundul
Banyak kegiatan atau proses dari alam maupun aktivitas manusia yang mengancam
kelangsungan hidup ekosistem lamun seperti Tabel berikut:
Tabel Dampak kegiatan manusia pada ekosistem padang lamun (Bengen, 2001)
Kegiatan Dampak Potensial
Pengerukan dan pengurugan yang
berkaitan dengan pembangunan
areal estate pinggir laut,
pelabuhan, industri, saluran
navigasi
• Perusakan total padang lamun
• Perusakan habitat di lokasi
pembuangan hasil pengerukan
• Dampak sekunder pada perairan
dengan meningkatnya kekeruhan
air, dan terlapisnya insan hewan air.
Pencemaran limbah industri terutama
logam berat, dan senyawa
organolokrin
• Terjadinya akumulasi logam berat
padang lamun melalui proses
biological magnification
Pembuangan sampah organik
• Dapat tmerjadi eutrofikasi yang
engakibatkan blooming perifiton
yang menempel di daun lamun, dan
juga meningkatkan kekeruhan yang
dapat menghalangi cahaya matahari
67
Pencemaran limbah pertanian
• Pencemaran pestisida dapat
mematikan hewan yang berasosiasi
dengan padang lamun
• Pencemar pupuk dapat
mengakibatkan eutrofikasi.
Pencemaran minyak
• Lapisan minyak pada daun lamun
dapat menghalangi proses
fotosintesis
Selain beberapa ancaman tersebut, kondisi lingkungan pertumbuhan juga
mempengaruhi kelangsungan hidup suatu jenis lamun, seperti yang dinyatakan oleh
Barber (1985) bahwa temperatur yang baik untuk mengontrol produktifitas lamun pada
air adalah sekitar 20 sampai dengan 300C untuk jenis lamun Thalassia testudinum dan
sekitar 300C untuk Syringodium filiforme. Intensitas cahaya untuk laju fotosintesis
lamun menunjukkan peningkatan dengan meningkatnya suhu dari 290C sampai 350C
untuk Zostera marina, 300C untuk Cymidoceae nodosa dan 25-300C untuk Posidonia
oceanica.
Kondisi ekosistem padang lamun di perarain pesisir Indonesia sekitar 30-40%. Di
pesisir pulau Jawa kondisi ekosistem padang lamun telah mengalami gangguan yang
cukup serius akibat pembuangan limbah indusri dan pertumbuhan penduduk dan
diperkirakan sebanyak 60% lamun telah mengalami kerusakan. Di pesisir pulau Bali
dan pulau Lombok ganguan bersumber dari penggunaan potassium sianida dan telah
berdampak pada penurunan nilai dan kerapatan sepsiens lamun (Fortes, 1989).
Selanjutnya dijelaskan oleh Fortes (1989) bahwa rekolonialisasi ekosistem padang
lamun dari kerusakan yang telah terjadi membutuhkan waktu antara 5-15 tahun dan
biaya yang dibutuhkan dalam mengembalikan fungsi ekosistem padang lamun di daerah
tropis berkisar 22.800-684.000 US $/ha. Oleh karena itu aktiviras pembangunan di
wilayah pesisir hendaknya dapat memenimalkan dampak negatif melalui pengkajian
yang mendalam pada tiga aspek yang tekait yaitu: aspek kelestarian lingkungan, aspek
ekonomi dan aspek sosial.
Ancaman kerusakan ekosistem padang lamun di perairan pesisir berasal dari aktivitas
masyarakat dalam mengeksploatasi sumberdaya ekosistem padang lamun dengan
menggunakan potassium sianida, sabit dan gareng serta pembuangan limbah industri
pengolahan ikan, sampah rumah tangga dan pasar tradisional. Dalam hal ini Fauzi
(2000) menyatakan bahwa dalam menilai dampak dari suatu akifitas masyarakat
terhadap kerusakan lingkungan seperti ekosistem padang lamun dapat digunakan
dengan metode tehnik evaluasi ekonomi yang dikenal dengan istilah Environmental
Impact Assesment (EIA). Metode ini telah dijadikam istrumen universal dalam
mengevaluasi dampak lingkungan akibat aktivitas pembangunan, disamping itu metode
evaluasi ekonomi dapat menjembatani kepentingan ekonomi masyarakat dan kebutuhan
ekologi dari sumber daya alam.
68
ASOSIASI DAN INTERAKSI DI EKOSISTEM PADANG LAMUN
1. Asosiasi
Asosiasi lamun campuran adalah asosiasi dengan lebih dari 3 spesies lamun. Padang
campuran dilaporkan melimpah pada daerah berpasir yang terlindung (tidak berlumpur),
stabil dan sedimen yang hampir horisontal (landai) (Hutomo et al. 1988).
Bagaimanapun, pada daerah yang terlindung, bioturbasi tinggi maka aktifitas meliang
oleh udang-udangan dan makroinvertebrata lain cenderung berkurang dengan
keragaman dan kerapatan lamun, serta kesukaan spesies pionir seperti Halophila ovalis
dan Halodule uninervis (Hutomo et al. 1988). Secara umum, asosiasi-asosiasi lamun
campuran tidak ditemukan pada : 1) Daerah terlindung “ekstrim” berenergi rendah
dimana sedimen didominasi oleh pasir berbutir halus sampai lumpur halus (contohnya
pada Pulau Komodo) ; 2) Daerah sedimen yang baru mengendap (contohnya pada Atol
Taka Bone Rate) ; 3) Daerah sedimen dengan kemiringan curam (contohya pada Pulau
Sumbawa) ; dan 4) Daerah intertidal atas yang terpapar subaerial selama pasang rendah
mengakibatkan beberapa dessication (Nienhuis et al. 1989).
Asosiasi lamun yang paling beragam ditamukan pada habitat terumbu karang di zona
sublitoral atas. Sebagai contoh, Nienhuis et al. (1989) mendeskripsikan asosiasi
delapan spesies dari berbagai habitat terumbu karang di Laut Flores (Pulau Selayar,
Atol Taka Bone Rate, Pulau Komodo dan Sumbawa) (Gambar 18.31). Penurunan yang
berhubungan dengan frekuensi dan kemunculan dari asosiasi kedelapan spesies meliputi
Thalassia hemprichii (terdapat 96% dari sampel), Syringodium isoetifolium (83%),
Cymodocea rotundata (83%), Enhalus acoroides (65%), Halodule uninervis (65%),
Cymodocea serrulata (61%), Halophila ovalis (35%) dan Halodule pinifolia (9%)
(Nienhuis et al. 1989). Pada banyak habitat, tiap spesies dapat terdapat sangat
melimpah dan mendominasi komunitas. Asosiasi ditemukan pada daerah yang
memiliki kestabilan tinggi, yang paling sedikit mengalami penurunan atau pasir yang
hampir horisontal (landai) dan pecahan karang yang menutupi terumbu karang (Gambar
18.32) (Nienhuis et al. 1989). Dibawah permukaan substrat biomasa sangat tinggi dan
jaringan akar/rhizoma yang banyak memperkuat sedimen rataan terumbu.
Pada penelitian multidisiplin terbaru pada pesisir selatan Lombok, Kiswara dan Winardi
(1994) mencatat 11 spesies lamun dari dua lokasi (yaitu Kuta dan Teluk Gerupuk).
Dengan 11 spesies, Lombok memiliki keragaman paling tinggi dari pulau-pulau lain
dalam kepulauan tersebut. Sebagai catatan bahwa pulau tersebut adala satu dari sedikit
pulau yang harus dipelajari secara intensif. Keragaman tertinggi yang diamati lebih
banyak pada situs daerah terlindung di Teluk Gerupuk, yang terlindung dari gelombang
setelah badai Barat Daya dan gelombang setelah badai Tenggara. Kondisi dengan
energi yang lebih besar di Teluk Kuta direfleksikan dengan persen penutupan Enhalus
acoroides yang lebih kecil (35%) daripada pada daerah terlindung Teluk Gerupuk
(50%). Bagimanapun, keragaman lebih rendah di Teluk Kuta dapat pula sebagai hasil
dari asosiasi kekeruhan air yang lebih tinggi dengan land runoff dari sungai besar
(Kiswara dan Winardi 1994). Koleksi Halophila spinosa di Teluk Gerupuk dan
Thalassodendron ciliatum di Teluk Kuta dan Teluk Gerupuk baru dicatat untuk spesies
ini di wilayah tersebut. Catatan, bagaimanapun kedua spesies tersebut telah diamati
sepanjang pesisir Bali (T. Tomascik, pers. obs.). Di kedua teluk lamun muncul pada
padang monospesifik, pada 2-3 asosiasi spesies sebagaimana asosiasi campuran sampai
enam spesies (Gambar 18.34).
69
2. Flora dan Fauna
2.1 Makropifit Bentik.
Lamun berasosiasi dengan berbagai varietas makroalga. Sebagai contoh Kiswara
(1991a) melaporkan bahwa Gracillaria lichenoides yang bernilai ekonomis penting
merupakan salah satu makropifit yang dominan pada padang lamun dekat Lontar, Jawa
Barat. Atmadja (1992) melaporkan bahwa nelayan di Benoa, Bali dan sepanjang pesisir
Lombok Barat mengumpulkan tujuh spesies rumput laut (yaitu Eucheuma arnoldi, E.
spinosum, Gelidiella acerosa, Gelidiopsis intricata, Gracillaria eucheumoides, G.
lichenoides dan Hypnea cervicornis) dari padang lamun campuran yang terdiri dari
Cymodocea serrulata, Halodule uninervis, Thalassia hemprichii dan Thalassodendron
ciliatum. Di banyak wilayah (contohnya Salabanka) Caulerpa spp. yang bernilai
ekonomis, melimpah sebagai komponen dari komunitas lamun, tetapi belum
dimanfaatkan. Di Filipina asosiasi lamun dengan makropifit merupakan sumberdaya
ekonomis penting, dipanen untuk produksi agar (contohnya Gracillaria dan Gelidiella),
pakan ternak, pupuk dan alginate (contohnya Sargassum spp.) (Fortes 1990a). Di
Salabanka, Sulawesi Tengah, pertanian rumput laut di daerah laguna didominasi oleh
komunitas lamun campuran menjadi aktifitas ekonomis penting.
Pada studi komunitas lamun jangka panjang yang dilakukan di Kepulauan Spermonde,
Verheij dan Erftemeijer (1993) mencatat 117 spesies makroalga yang berasosiasi
dengan Padang Lamun di lima habitat berbeda. Komunitas makroalga meliputi 50
spesies Chlorophyta, 17 spesies Phaeophyta dan 50 spesies Rhodophyta (Verheij dan
Erftemeijer 1993). Bagaimanapun hanya 13 spesies yang ditemukan berasosiasi secara
ekslusif dengan lamun, bernama Avrainvillea stellata, Caulerpa buginense, C.
racemosa ecad corynephora, Chaetomorpha crassa, Dictyota ciliolata, D. linearis,
Hydroclathrus tenuis, Actinotrichia fragilis, Gracillaria salicornia, Trichogloea
requierii, Fosliella sp. Mastophora rosea dan Neogoniolithon brassica-floridum ecad
futescens (Verheij dan Erftemeijer 1993). Sisa 104 spesies lainnya terdistribusi secara
luas di seluruh Kepulauan Spermonde dimana mereka tinggal berbagai habitat terumbu
dan non-terumbu (Verheij dan Prud’homme van Reine 1993). Komposisi spesies
makroalga yang berasosiasi dengan padang lamun bergantung pada sejumlah besar tipe
substrat dan tingkatan terekpos. Disepanjang pantai intertidal rataan lumpur terigenous
sering didominasi oleh Enhalus acoroides dan Halodule pinifolia, makroalga yang
paling dominan adalah Caulerpa racemosa, Udotea flabellum, Ulva reticulata,
Gracillaria salicornia dan G. verrucosa (Verheij dan Erftemeijer 1993). Pada wilayah
dimana komponen utama sedimen terigenous adalah pasir berukuran sedang sampai
pasir kuarsa dan mendukung asosiasi lamun campuran, makropifit yang dominan adalah
Halimeda opuntia forma upontia, Dictyota linearis dan Amphiroa fragilissima (Verheij
dan Erftemeijer 1993). Pasir karbonat yang terdapat di laut lepas menggantikan sedimen
terigenous dan komunitas lamun campuran mendominasi. Pada lingkungan ini
makroalga yang mendominasi termasuk Avrainvillea obscura, Enteromorpha clathrata,
Hydroclathrus clathratusi dan Hydrolithon reinboldii (Verheij dan Erftemeijer 1993).
Pola umum yang muncul dari studi adalah bahwa makroalga yang berasosiasi dengan
padang lamun memiliki keragaman terbesar pada rataan terumbu karang pada patch reef
dan coastal reef (Verheij dan Erftemeijer 1993).
70
2.2. Epifit Lamun.
Istilah epifit lamun mengacu bagi seluruh organisme autotrofik (yaitu, produsen primer)
yang tinggal menetap di bawah permukaan (air) menempel pada rhizoma, batang dan
daun lamun. Bagaimanapun istilah ini sering digunakan mengacu pada semua
organisme (hewan atau tumbuhan) yang berkembang di lamun (Russel 1990). Kita
lebih memilih istilah epifauna bagi semua organisme heterotrofik yang menempel pada
bagian lamun di bawah sedimen, sementara infauna disebut bagi organisme yang hidup
pada sedimen diantara rhizoma/jaringan akar lamun. Daun lamun sering terdapat
kelimpahan epifit yang paling melimpah, karena lamun memiliki substrat stabil dengan
akses cahaya, nutrien dan pertukaran air. Tidak seperti rumput laut lainnya (contohnya
Phaeophyta), lamun tidak memiliki pertahanan kimia yang kuat (contohnya campuran
phenolic) yang meyebabkan mrereka dapat dimanfaatkan sebagai substrat hidup bagi
berbagai organisme menetap dan bergerak.
Berdasarkan pada morfologi umum dari lamun, Borowitzka dan Lethbridge (1989)
menjelaskan lima kelompok spesies yang menyediakan lingkungan berbeda bagi epifit
dan epifauna :
1. Spesies dengan panjang (5-200 cm) lebar (2-18 mm) daun berbentuk tali sering
membentuk kanopi atas : contohnya Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata,
C. serrulata, Thalassia hemprichii.
2. Spesies dengan panjang (10-75 cm) begian atas batang berkayu (mengandung
lignin), dengan daun yang terpasang secara distichous membentuk kanopi rapat
pada padang lamun monospesifik : contohnya Thalassodendron ciliatum
3. Spesies dengan panjang (10-35 cm) daun subulate:contohnya Syringodium
isoetifolium.
4. Spesies dengan lebar (1-3 mm), terkadang panjang (10-18 cm), daun linier:
contohnya Halodule pinifolia, H. uninervis.
5. Spesies dengan bentuk daun pendek elips, lanceolate oval atau linier sering
membentuk understory pada asosiasi campuran : contohnya Halophila ovalis, H.
ovata, H. spinulosa, H. decipiens.
Studi musiman kuantitatif yang terperinci (jangka panjang) untuk epifit lamun tidak
tersedia di Indonesia. Bagaimanapun, beberapa studi dapat mendemonstrasikan bahwa
produksi primer dalam porsi yang signifikan di Padang Lamun ditujukan bagi
sianobakteri epifit dan alga (Heijs 1985; Borowitzka et al. 1990; Tomasko dan Lapointe
1991; Klumpp et al. 1992; Pollard dan Kogure 1993). Kontribusi besar epifit bagi total
produksi primer komunitas lamun hanya sebagian berkaitan dengan fakta bahwa
wilayah permukaan yang ditempati oleh epifit (contohnya permukaan lamun) mencapai
20 kali dari wilayah permukaan sedimen yang ditempati oleh lamun (Couchman 1987).
Kekayaan jenis dan variasi epifit lamun bergantung pada spesies, sebagaimana kondisi
lingkungan dan tipe habitat (contohnya kedalaman). Jangka hidup daun lamun sebagai
faktor tambahan yang menentukan keragaman dan biomasa komunitas epifit
(Borowitzka dan Lethbridge 1989), karena tingkat turnover daun antara spesies lamun
sangat bervariasi menurut proses metabolik dasar tiap spesies, sebagaimana intensitas
merumput herbivor. Di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, komunitas alga epifit
pada daun lamun terdiri dari 18 spesies, dimana hanya sembilan spesies epifit yang
ditemukan di batang (Verheij dan Erftemeijer 1993). Di Filipina, Enhalus acoroides
71
mendukung sejumlah besar epifit (Tiquio dan Fortes 1994). Pada komunitas lamun
monospesifik (Cymodocea rotundata, C. serrulata, Syringodium isoetifolium dan
Halodule uninervis) di Papua Nugini, alga epifit telah menunjukkan kontribusi sebesar
24% dari total produksi biomasa di bawah permukaan, dan 44% dari produksi primer di
bawah permukaan (Heijs 1985). Epifit yang paling penting sebanyak 55 spesies , umum
untuk semua empat spesies lamun dimana alga koralin kerak (contohnya Fosliella
farinosa, F. lejolisii, Melobsia membranacea). Pada studi yang sama di Fiji, Pollard dan
Kogure (1993) menemukan bahwa komponen epifit pada tunas Syringodium
isoetifolium terhitung 22%-65% dari total produksi primer. Alga epibentik berada pada
lapisan permukaan sedimen lamun juga merupakan komponen penting komunitas lamun.
Pollard dan Kogure (1993) melaporkan bahwa komunitas alga epibentik terhitung lebih
dari 25% dari produktifitas total lamun.
Sebagai tambahan signifikan pada produksi karbon organik, sisa dari epifit calcareous
(contohnya crustose coralline algae; Corallinaceae) merupakan sumber penting bagi
CaCO3. Walker dan Woelkerling (1993) memperkirakan bahwa alga koralin merah
pada daun dan batang Amphibolis antartica (Teluk Shark, Australia Barat) terhitung
CaCO3 sejumlah 200 ton.km-2. Alga koralin kerak diperhitungkan sebagai kelompok
pionir dengan pertumbuhan serta kematangan seksual yang cepat (Borowitzka dan
Lethbridge 1989).
Komunitas epifitik dan epibentik merupakan komponen turunan dari lingkungan tiga
dimensi lamun dengan menyediakan sumber makanan bagi sejumlah invertebrata serta
vertebrata perumput. Klumpp et al. (1992) menunjukkan bahwa pada terminologi nilai
nutrisi, komunitas epifit jauh lebih utama daripada lamun (rasio C:N epifit adalah 9:18;
rasio C:N lamun adalah 17:30). Biomasa besar epifit lamun ini sangat menambahkan
bagi keseluruhan nilai nutrisional tumbuhan. Meskipun demikian, Birch (1975)
membandingkan padang lamun tropis dengan padang rumput miskin nutrisi. Faktanya
telah menjadi pandangan populer bahwa hanya sedikit hewan merumput yang
memanfaatkan lamun secara langsung, mereka adalah dugong (Dugong dugong) dan
penyu (Chelonia mydas) (Thayer et al. 1984). Untuk menghilangkan dugaan, McRoy
dan Helfferich (1980) menyusun daftar 154 spesies yang langsung mengkonsumsi
lamun, dan mencatat bahwa perumputan pada lamun hidup lebih umum terjadi di daerah
tropis. Pada pandangan terdahulu, mengingat kelimpahan konsumen lamun rendah,
ditujukan pada fakta bahwa lamun terutama terdiri dari material keras,seperti selulosa
(Mann 1988), dan nitrogen yang sangat rendah (Koike et al. 1987). Baik penyu maupun
dugong telah sangat mengembangkan pencernaan sehingga dapat mengambil sebanyak
mungkin nutrisi dari lamun (Lipkin 1975; Bjorndal 1980; Garnet et al. 1985).
Konsumen lamun juga menunjukkan preferensi pada bagian tertentu dari lamun untuk
memaksimalkan penyerapan nutrisi (Bjorndal 1980; Ogden 1980). Pentingnya nutrisi
bagi komunitas epifit lamun untuk diet hewan perumput ini belum banyak diketahui
(Borowitzka dan Lethbridge 1989).
Pada area yang diamati ke pemasukan nutrien yang lebih tinggi, alga epifitik
meningkatkan biomasa secara substansial bagi kerusakan lamun. Epifit lamun faktanya
sangat berguna sebagai indikator kesehatan lamun. Tomasko dan Lapointe (1991) telah
menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi nutrien pada kolom air akan
meningkatkan biomasa epifitik dan menurunkan tingkat pertumbuhan rhizoma secara
substansial, yang merupakan akibat dari rendahnya densitas daun sehingga menurunkan
produktifitas primer lamun secara keseluruhan (Tomasko dan Lapointe, 1991).
72
Eutrofikasi di perairan pantai menjadi perhatian serius bagi kesehatan lamun, khususnya
di wilayah Sanur, Bali, dimana banyak hotel yang dapat secara langsung menghentikan
aliran nutrien ke terumbu karang. Rendahnya subsidi nutrien dapat meningkatkan serta
mempertahankan tingkat produksi primer tanpa ada efek merusak keseluruhan
komunitas, riset eksperimen sebagai pedomen untuk meningkatkan kualitas air dirasa
belum cukup.
2.3. Fauna.
Komunitas lamun dihuni oleh banyak jenis hewan bentik, organisme demersal serta
pelagis yang menetap maupun yang tinggal sementara disana. Spesies yang sementara
hidup di lamun biasanya adalah juvenil dari sejumlah organisme yang mencari makanan
serta perlindungan selama masa kritis dalam siklus hidup mereka, atau mereka mungkin
hanya pengunjung yang datang ke padang lamun setiap hari untuk mencari makan.
Banyak spesies epibentik baik yang tinggal menetap maupun tinggal sementara yang
bernilai ekonomis, udang dan udang-udangan adalah yang bernilai ekonomis paling
tinggi. Sebagai penjelas, dan bukan karena alasan ekologi maupun biologi tertentu, ada
empat kelompok besar fauna yang diketahui : 1) Infauna (hewan yang hidup didalam
sedimen); 2) Fauna Motil (fauna motil berasosiasi dengan lapisan permukaan sedimen;
3) Epifauna Sesil (organisme yang menempel pada bagian lamun); dan Fauna Epibentik
Fauna (fauna yang berukuran besar dan bergerak diantara lamun) (Howard et al. 1989).
Asosiasi fauna dengan lamun merupakan salah satu kajian yang paling menarik serta
mudah untuk diamati oleh para peneliti Indonesia. Dengan sedikitnya 30.000 km2
padang lamun menyebar diseluruh kepulauan, dari Pulau Weh di Aceh sampai peairan
pantai Merauke, Irian Jaya, merupakan riset potensial yang tidak terukur. Walaupun
begitu, aturan-aturan dalam penelitian penting untuk diperhatikan untuk menghindarkan
“kesembronoan” yang banyak terjadi pada riset sekarang ini. Studi multidisiplin
tentang ekosistem lamun yang baru dan menarik disepanjang pesisir Selatan Lombok
merupakan langkah baru menuju arah yang benar. Studi tentang asosiasi fauna di
lamun baru-baru ini memfokuskan pada penetapan daftar spesies, pola keragaman,
memperoleh informasi dasar parameter ekologi seperti kelimpahan dan biomasa dari
asosiasi lamun berbagai taksa, dan trophodynamics. Dengan beberapa pengecualian
(Suhartati 1994; Susetiono 1994), studi tentang asosiasi fauna di lamun yang
dihadapkan dengan makro-infauna, epifauna motil dan fauna epibentik (Aswandy dan
Hutomo 1988; Kiswara et al. 1991, 1992; Aswandy dan Kiswara 1992a; Mudjiono et al.
1992; Aziz 1994; Aziz dan Sugiarto 1994; Hutomo dan Parino 1994; Moosa dan
Aswandy 1994; Mudjiono dan Sudjoko 1994; Pristiwady 1994).
2.4. Meiofauna.
Susetiono (1994) melaporkan pada asosiasi fauna dengan Padang Lamun Enhalus
acoroides monospesifik di pesisir Selatan Lombok. Infauna sedimen terdiri dari
Nematoda, Foraminifera, Copepoda, Ostracoda, Turbelaria dan Polychaeta. Tingginya
kelimpahan Nematoda (seperti indeks rasio kelimpahan Nematoda:Copepoda)
mengindikasikan kelimpahan nutrien yang sering berasosiasi dengan land runoff.
Meiofauna yang muncul secara aktif adalah Copepoda, Nematoda, Amphipoda,
Cumacea, dan Ostracoda. Tingkat analisis umum-atau spesies-belum dilakukan
sedemikian jauh. Berdasarkanpada informasi yang tersedia dari Teluk Kuta, Susetiono
73
(1994) mengkonstruksikan jaring makanan sederhana pada Padang Lamun Enhalus
acoroides.
Foraminifera bentik merupakan komponen penting pada komunitas lamun, tetapi hanya
mendapatkan sedikit perhatian (Suhartati 1994). Di Kepulauan Seribu patch reef
kompleks, padang lamun melimpah dan sering didominasi oleh asosiasi Enhalus
acoroides dan Thalassia hemprichii (Azkab 1991). Foraminifera bentik pada kedua
asosiasi spesies ini didominasi oleh subordo Miliolina dan Rotaliina (Suhartati
1994). Milionid berkarakteristik lembut, test porselin yang mengandung kristal kalsit,
sementara Rotaliinid seperti kaca, test berdinding ganda yang mengandung lapisan tipis
kalsit hialin radial. Rotaniid yang paling melimpah adalah Ammonia beccarii, A.
umbonata, Calcarina calcar, Elphidium advenum, E. crispum, E. craticulatum dan
Rosalina bradyi. Genus Ammonia diketahui sebagai kelompok euryhalin, umum
terdapat di lingkungan perairan dangkal tropis. Keberadaan Calcarina calcar (Famili
Calcarinidae) mengindikasikan habitat terumbu karang, dimana tidak mengejutkan,
karena studi padang lamun berada pada habitat terumbu karang. Kelimpahan Elphidium
spp. (Famili Elphidiidae) menarik untuk diamati, karena sifat euryhalinnya, spesies
perairan dangkal sangat toleran dengan salinitas rendah, dan dapat ditemukan sampai ke
estuari (Lee et al. 1985). Milionid diwakili oleh Adolesina semistriata, Miliolinella
sublineata, Quinqueloculina granulocostata, Q. parkery, Q. sp., Spiroloculina
communis, Spirolina cilindricea dan Triloculina tricarinata. Kedua genera,
Quinqueloculina dan Triloculina (Famili Miliolidae), merupakan ciri dari perairan
dangkal tropis.
2.5. Krustase.
Krustasea yang berasosiasi dengan lamun merupakan komponen penting dari jaring
makanan di lamun. Bentuk krustase infaunal maupun epifunal berhubungan erat
dengan produsen primer dan berada pada tingkatan trofik yang lebih tinggi, karena
selama masa juvenil dan dewasa mereka merupakan sumber makanan utama bagi
berbagai ikan dan invertebrata yang berasosiasi dengan lamun. Studi analisis gut
terbaru dari ikan yang berasosiasi dengan lamun di pesisir selatan Lombok (Pristiwadi
1994), mendemonstrasikan bahwa krustase merupakan sumber makanan dominan.
Bagaimanapun, Kikuchi (1980) menunjukkan bahwa pada ekosistem lamun subtropis,
pengkonsumsian lamun oleh invertebrata agak jarang, dan detrivor mungkin
mendominasi kebiasaan makan krustase yang berasosiasi dengan lamun. Pada banyak
wilayah subtropis kepiting-kepitingan dan isopoda merupakan krustase perumput yang
dominan. Nienhuis dan Ierland (1978) menemukan bahwa isopod mengkonsumsi lebih
dari 75% tumbuhan di Padang Lamun Eropa. Sampai sekarang, studi yang sama dari
Indonesia dirasa belum cukup. Peran Amphipoda gamarid bagi jaring makanan
ekosistem lamun belum dapat diperkirakan secara lengkap. Ada beberapa keraguan
apakah Amphipoda benar-benar memakan lamun di alam, walaupun telah dibuktikan
dengan eksperimen di laboratorium (Kirkman 1978). Kelimpahan epifit dengan nilai
nutrisi utama menawarkan krustase kolam sebagai nutrisi alternatif untuk dipilih.
Aswandy dan Hutomo (1988) mencatat 28 spesies krustase di Padang Lamun Teluk
Banten. Dua spesies Amphipoda, bernama Apseudeus chilkensis dan Eriopisa elongata,
adalah krustase yang paling melimpah pada padang lamun Enhalus acoroides di Teluk
Grenyang. Sampai baru-baru ini sedikit penelitian kuantitatif telah dilakukan pada
74
krustase yang berasosiasi dengan lamun. Moosa dan Aswandy (1994) telah
menyusun daftar spesies lengkap untuk padang lamun di Kuta dan Teluk Gerupuk di
pesisir selatan Lombok. Daftar 70 spesies krustase disusun dari kedua teluk,
bagaimanapun, banyak spesimen yang rupanya diambil dari wilayah batuan koral
berbatasan dengan padang lamun, sehingga diragukan asosiasi mereka dengan lamun.
Dari 70 spesies krustase tersebut, hanya satu jenis udang hipolitid, Tozeuma sp.,
memiliki adaptasi morfologi khusus sehingga dapat tinggal di padang lamun. Anggota
subtropik dari genus ini, Tozeuma carolinense (Caridea), merupakan penghuni umum
dari padang lamun disepanjang pesisir timur Amerika serikat, dan berwarna hijau
(Barnes 1980). Stomatopoda juga ditemukan pada padang lamun. Kelompok predator
ini merupakan kelompok yang relatif beragam dan terdistribusi luas, tetapi nampaknya
hanya spesies Pseudosquilla ciliata yang benar-benar berasosiasi dengan lamun (Moosa
dan Aswandy 1994). Bagaimanapun, stomatopoda umumnya berbatasan dengan rataan
terumbu intertidal. Diantara stomatopoda yang berasosiasi dengan karang yang paling
beragam warnanya adalah Odontodactylus scyllaus (Squillidae), merupakan predator
aktif moluska. Predator rakus ini terdistribusi luas dan hidup disejumlah habitat terumbu,
pada celah-celah terumbu. Bagaimanapun, pada terumbu karang dimana lamun tumbuh
disepanjang batas rataan terumbu, O. scyllarus diketahui sebagi makanan sampai batas
luar dari habitat ini, nampaknya pada pencarian moluska yang melimpah di padang
lamun (T. Tomascik, pers. Obs ; Bunkaen 1993).
Krustase predator yang berasosiasi dengan padang lamun umumnya berada pada
kondisi alami (tidak dieksploitasi oleh penduduk lokal). Diantara yang paling umum
adalah kepiting kotak, Famili Calappidae. Kepiting kotak biasanya meliang dibawah
permukaan pasir, dan aktif memakan gastropoda. Capit kanan mereka digunakan
khusus untuk menghancurkan cangkang gastropoda. Capit penghancur ini memiliki
tubercle besar di dasar jari yang dapat digerakkan dan digunakan untuk membantu
menghancurkan cangkang gastropoda menjadi berkeping-keping. Kepiting kotak sangat
umum di seluruh kepulauan dan ada tiga spesies tercatat berada pada padang lamun di
Lombok Selatan (Calappa hepatica, C. calappa dan Matuta banksii). Rajungan dari
Famili Portunidae melimpah di padang lamun, dan tercatat berada di Lombok (Moosa
dan Aswandy 1994).
Padang lamun juga merupakan habitat kritis bagi juvenil Portunus pelagicus, spesies
yang bernilai ekonomis. Famili ini (Portunidae), memiliki lima pasang kaki yang
beradaptasi untuk berenang, hal ini unik karena sebagian besar kepiting tidak dapat
berenang. Kaki beradaptasi sehingga dapat berperan seperti ‘baling-baling’. Kepiting
ini menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dengan mengubur diri dibawah
permukaan substrat, dimana mereka mengintai untuk menyergap ikan atau invertebrata
yang lewat; tergolong spesies yang sangat agresif. Bagaimanapun, banyak spesies ikan
yang dimangsa oleh mereka. Jantan lebih besar daripada betina. Kepiting portunid
mempunyai kebiasaan kawin unik, dimana mereka juga berbagi dengan
Cacridae. Selama masa kawin, jantan membawa betina dibawah mereka, dengan
karapas betina menempel pada sternum jantan. Segala aktifitas dilakukan bersama,
bergerak, berjalan dan berenang. Saat betina siap untuk molt (berganti kulit) jantan
melepas betina dan kopulasi terjadi sesaat setelahnya.
Padang lamun diketahui merupakan habitat kritis bagi udang penaeid komersial penting
(seperti Penaeus esculentus dan P. semisulcatus) (Bell dan Pollard 1989; Coles et al.
1993; Mellors dan Marsh 1993; Watson et al. 1993) dan lobster berduri (Panulirus
75
ornatus). (Bell dan Pollard 1989; Poiner et al. 1989), yang tergantung pada lamun
sebagai tempat mencari makan serta berlindung selam masa postlarva dan juvenil dari
siklus hidup mereka. Pada eksperimen di laboratorium, Hill dan Wassenberg (1993)
menemukan bahwa Penaeus esculentus menghabiskan sekitar 80% dari waktu tidak
berenang mereka di lamun. Pada siang hari P. esculentus dewasa (individu besar,
diameter karapas 15 cm) ditemukan terkubur pada substrat, dimana individu yang lebih
kecil ditemukan terkubur, berada di dasar atau menempel pada lamun. Hasil yang sama
didapatkan umtuk P. semisulcatus, sehingga mendukung sejumlah pengamatan di
lapang.
Asosiasi sejumlah udang penaeid dengan padang lamun selama periode tertentu dari
siklus hidup mereka diperlihatkan dengan baik. Pertanyaan yang tersisa relative tidak
terjawab, komponen apa dari ekosistem yang memberikan kontribusi besar bagi
keperluan energi penaeid. Apakah penaeid memanfaatkan habitat lamun sebagai tempat
mencari makan atau perlindungan, atau keduanya Wassenberg dan Hill (1987)
melaporkan bahwa Penaeus esculentus yang berisi gut dikoleksi dari padang lamun di
Teluk Moreton, Australia, terdapat benih Zostera capricornis sebagai lamun yang
mendominasi. Pada penelitian lain, Kitting et al. (1984) menggunakan rasio isotop
13C/12C stabil untuk mengetahui apakah P. aztecus dan P. duorarum tidak
memperoleh jumlah karbon organik yang signifikan dari lamun. Udang panaeid juvenil
lebih cenderung memakan lamun daripada udang panaeid dewasa (Hill et al. 1990)
2.6. Moluska.
Moluska adalah salah satu kelompok makroinvertebrata yang paling banyak diketahui
berasosiasi dengan lamun di Indonesia, dan mungkin yang paling banyak
diksploitasi. Sejumlah studi tentang moluska di daerah subtropik telah menunjukkan
bahwa moluska merupakan komponen yang paling penting bagi ekosistem lamun, baik
pada hubungannya dengan biomasa dan perannya pada aliran energi pada sistem lamun
(Watson et al. 1984). Telah didemonstrasikan bahwa 20% sampai 60% biomasa epifit
pada padang lamun di Filipina dimanfaatkan oleh komunitas epifauna yang didominasi
oleh gastropoda (Klumpp et al. 1992). Bagaimanapun, peranan mereka pada ekosistem
almun di Indonesia relative belum diketahui. Moluska utama pada padang lamun
subtropis adalah detrivor dengan sangat sedikit yang langsung memakan lamun
(Kikuchi 1980). Gastropoda cenderung memakan perifiton (Klumpp et al. 1989).
Mudjiono et al. (1992) mencatat 15 spesies moluska (11 gastropoda dan 4 bivalvia) dari
padang lamun di Teluk Banten, Barat Daya Laut Jawa. Fauna moluska yang terdapat
dalam jumlah sedikit dikumpulkan dari lima lokasi asosiasi yang berbeda, berkisar dari
asosiasi Enhalus acoroides monospesifik sampai asosiasi yang terdiri dari tiga spesies,
yaitu E. acoroides, Cymodocea serrulata dan Syringodium isoetifolium, sebagaimana
asosiasi tujuh spesies yang terdiri dari Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, C.
rotundata, Thalassia hemprichii, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan
Halophila ovalis. Jumlah keseluruhan, tujuh famili gastropoda (Trochidae, Cerithiidae,
Strombidae, Muricidae, Columbellidae, Nassariidae dan Fasciolariidae) serta tiga famili
bivalvia (Arcidae, Veneridae dan Mactridae) ditemukan pada asosiasi tersebut
(Mudjiono et al.1992). Sayangnya, tidak ada arti ekologis yang dapat dipelajari dari
catatan kelimpahan, karena seluruh teluk mengalami overeksploitasi, dan tiga lokasi
pengamatan berada dalam jarak dekat pada desa yang besar di Pulau Panjang. Hanya
dua spesies gastropoda yang umum ditemukan pada semua lokasi, yaitu Pyrene
versicolor dan Cerithium tenellum.
76
Tulisan yang ditampilkan pada data yang ditulis oleh Mudjiono et.al (1992)
menunjukkan eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya lamun (e.g hanya 4
juvenil Trochus niloticus, dengan diameter 3-5 mm yang ditemukan) dan efek dari
polusi (endapan) dari pada pola ekologi.
Pada kajian yang sama yang dilakukan di Teluk Kotania, Seram Barat, Wouthuyzen dan
Sapulete (1994) mencatat 24 spesies dari Pulau Osi, 6 spesies dari Desa Pelita Jaya dan
22 spesies dari Desa Kotania. Tipe dari lamunnya tidak dijelaskan, bagaimanapun,
mereka mencatat ada 7 spesies moluska yang sangat melimpah (i.e., Anadara antiquata,
Pinna nobilis, P.muricata dan Atrina vexillum) yang sekarang relatif jarang,
mengindikasikan eksploitasi yang berlebihan dari sumberdaya tersebut.
Pengetahuan yang lebih baik terhadap nilai potenial ekonomi sumberdaya lamun
diperoleh dari kajian yang baru-baru ini dilakukan oleh Mudjiono dan Sudjoko (1994),
dilakukan pada 3 teluk di Pantai Selatan Lombok. Jumlah total moluska yang ditemukan
di padang lamun ada 70 spesies, banyak diantaranya memiliki nilai ekonomi. Spesies
gastropoda yang ditemukan adalah Pyrene versicolor, Strombus labiatus, S. luhuanus
dan Cymbiola vespertilio. Sedangkan bivalvia yang ditemukan adalah Anadara scapha,
Trachy cardium flavum, T. subrugosum, Peryglypta crispate, Mactra spp. Dan Pinna
bicolor (Mudjiono dan Sudjoko, 1994). Ditambahkan lagi, sejumlah spesies Conus yang
cangkangnya memiliki nilai ekonomi, juga di temukan.
2.7. Echinodermata.
Hewan Echinodermata adalah komponen komunitas bentik di lamun yang lebih menarik
dan lebih memiliki nilai ekonomi. Lima kelas echinodermata ditemukan pada ekosistem
lamun di Indonesia. Dibawah ini urutan Echinodermata secara ekonomi : 1.
Holothuroidea (timun laut atau teripang); 2. Echinoidea (bulu babi); 3. Asteroidea
(Bintang laut); 4. Ophiuroidea (Bintang Laut Ular); 5. Crinoidea . Dari lima kelas yang
ada, Echinoidea adalah kelompok yang paling penting di ekosistem lamun karibia,
karena mereka adalah kelompok pemakan yang utama (Lawrance 1975, Greenway
1976). Echinodermata besar lain seperti Protoreaster, Peintaceraster dan Culcita spp.
cenderung pengurai dan pemakan segala dan tidak memakan lamun secara langsung. Di
Indonesia, sepanjang Indo-Pasifik, Echinoids, juga ditemukan di padang lamun
(Tripneustes gratilla, Diadema setosum dan yang lainnya), agak jarang dilingkungan
terumbu karang. Sedangkan pada rataan terumbu karang di daerah intertidal adalah
bintang laut bertanduk Protoreaster nodosus dan Linckia laevigata. P. nodosus secara
frekuensi sangat melimpah di area yang populasi timun lautnya sudah di eksploitasi
secara berlebihan (Salabanka, Komodo). Bagaimanapun, di tempat itu beberapa
Echinoid sangat melimpah dan kesatuan bentuknya besar. Diadema setosum, khususnya,
rata-rata pada siang hari di perairan terumbu dangkal, mereka mencari tempat
perlindungan pada koloni karang besar, jika mereka ada. Kesatuan ini tidak aktif pada
siang hari, tetapi pada malam hari menyebar keliling untuk mencari makan. Di Karibia,
Diadema antillarum seperti diketahui senang memakan Thallasia testudinum dan
Syringodium filiforme, dan membuat “halos” diantara dasar terumbu karang dan padang
lamun yang jauh (Ogden et al., 1973). Bagaimanapun D. setosum sudah di golongkan
sebagai pemakan segala (pemakan alga/pemakan detritus)(Guib, 1981), karena itu peran
mereka pada umumnya terhadap lamun tropis tetap tidak jelas.
77
Echinodermata pada umumnya, dengan pengecualian beberapa holothuroidea, makan
pada malam hari. Bagaimanapun, Klummp et al. (1993) dilaporkan bahwa Tripneustes
gratilla dan Salmacis sphaeroides makan secara terus menerus siang dan malam, tanpa
bukti yang berkala. Mereka mencari sampai ke dasar substrat, memakan alga, serasah
lamun dan daun lamun yang masih hidup (Klumpp et al., 1993). Tripneustes gratilla
terlihat lebih menyukai menempel pada daun Thalassi hemprichii dan Syringodium
isoetifolium yang kurang luas permukaan daunnya. Persentasi tertinggi aktivitas
memakan T.gratilla (77%-89%) adalah memakan daun lamun yang masih hidup
(Klumpp et al., 1993). Pengaruh dari aktivitas memakan T. gratilla terhadap lamun
adalah berubahnya ruang tumbuh secara berkala sejak Bulu Babi melimpah dan
berubahnya ukuran setiap musim. Dasar cara memakan Bulu Babi adalah fungsi dari
kepadatan dan ukuran tubuhnya (Klumpp et al., 1993). Sebagai contoh Mukai dan
Nojima (1985) melaporkan bahwa T. gratilla di Papua New Guinea hanya memakan
1,4% dari produksi lamun pada kepadatan 0,1 individu per m2. Klumpp et al (1993)
melaporkan bahwa antara bulan Maret-Juli T. gratilla mengkonsumsi 1%-5% dari
produksi lamun, selama bulan November-Januari konsumsi Bulu Babi tersebut
meningkat sampai lebih dari 50% dari produksi lamun. Mereka menyimpulkan bahwa
pada setiap tahun, T. gratilla mengkonsumsi sekitar 24% dari total produksi lamun, jadi
sebagian besar sisa dari produksi lamun rata-rata tidak dimakan. Akhir dari partikel
besar kelompok organik karbon tidak diketahui, tetapi sisa yang lainnya di ekspor atau
ditahan (disimpan) dalam sistem, di busukkan atau dimineralisasikan kembali. Seberapa
banyak partikel bahan organik yang diekspor atau ditahan ke sistem sampai sekarang
masih diperdebatkan. Nienhuis et al (1989) percaya bahwa kurang dari 10% dari
produksi bersih di ekspor dari padang lamun, lalu ditahan dalam sistem.
Dalam studi yang baru-baru ini dilakukan, Azis dan Soegiharto (1994) mengambil 45
spesies Echinodermata di padang lamun yang berlokasi di Teluk Kuta dan Gerupuk
Pantai Selatan Lombok. Semua kelompok besar ada, yaitu Asteroidea, Echinoidea,
Holothuroidea, Ophiuroidea, dan Crinoidea. Mereka mencatat bahwa spesies
Holothuroidea memiliki beberapa nilai penting (Holothuria dan Actynopyga) seperti
halnya Bulu Babi, T. gratilla yang kurang melimpah. Persediaan yang menipis pada
populasi Echinodermata juga dilaporkan dari Teluk Kotania (Pulau Seram Barat,
Maluku) dimana dahulu padang lamun menyokong kelimpahan Holothuroids yang
memiliki nilai ekonomi penting. Pada tahun 1983, padang lamun yang lua di Teluk
Kotania menyokong kepadatan populasi yang tinggi (1-2 individu per m2) dari 9 spesies
Timun Laut yang memiliki nilai ekonomi penting, spesies tersebut adalah Bohadschia
marmorata, B. argus, Holothuria (Metriatyla) scabra, H.(Microthele) nobilis,
Thelenota ananas, dan Actinopyga miliaris. Pada tahun 1993, inventarisasi pada daerah
yang sama, hanya 3 Timun Laut yang ditemukan dalam jarak 500 m (Wouthuyzen dan
Sapulete, 1994). Rata-rata ukuran tubuh Timun Laut menurun dari 22 cm di Tahun 1983
sampai kurang dari 15 cm di Tahun 1993.
Penurunan terhadap persediaan dan ukuran Timun Laut terjadi karena pengambilan oleh
penduduk setempat secara intensif untuk menyuplai pasar teripang yang
menguntungkan. Spesies Echinodermata lainnya yang di eksploitasi secar berlebihan
yang populasinya menurun secara drastic dalam kurun waktu 10 tahun ini adalah Bulu
Babi yang dapat dimakan, yaitu T. gratilla.
78
2.8. Ikan Di Lamun.
Di sepanjang jarak distribusinya, ekosistem lamun, baik yang luas ataupun sempit
adalah habitat yang penting bagi bermacam-macam spesies ikan (Kikuchi, 1980; Pollard
1984; Bell dan Pollard 1989). Pada resensi, asosiasi ikan di lamun, mereka Bell dan
Pollard (1989) mengidentifikasi 7 karakteristik utama kumpulan ikan yang berasosiasi
dengan lamun. Berdasarkan Bell dan Pollard (1989) dengan beberapa perubahan,
karakteristik-karakteristiknya adalah :
1. Keanekaragaman dan kelimpahan ikan di padang lamun biasanya lebih tinggi
daripada yang berdekatan dengan substrat kosong.
2. Lamanya asosiasi ikan-lamun berbeda-beda diantara spesies dan tingkatan siklus
hidup.
3. Sebagian besar asosiasi ikan dengan padang lamun didapatkan dari plankton,
jadi padang lamun adalah daerah asuhan untuk bnyak spesies yang mempunyai
nilai ekonomi penting.
4. Zooplankton dan epifauna krustasean adalah makanan utama ikan yang
berasosiasi dengan lamun, dengan tumbuhan, pengurai dan komponen infauna
dari jarring-jaring makanan di lamun yang dimanfaatkan oleh ikan
5. Perbedaan yang jelas (pembagian sumberdaya) pada komposisi spesies terjadi
dibanyak padang lamun.
6. Hubungan yang kuat terjadi antara padang lamun dan habitat yang berbatasan,
kelimpahan relatif dan komposisi spesies ikan di padang lamun menjadi
tergantung pada tipe (terumbu karang, estuaria, mangrove) dan jarak dari habitat
yang terdekat, seperti pada siklus malam hari.
7. Kumpulan ikan dari padang lamun yang berbeda seringkali berbeda juga,
walaupun dua habitat itu berdekatan.
Salah satu kajian tentang asosiasi ikan dengan padang lamun di Indonesia dibuat oleh
Hutomo dan Martosewojo(1977). Penelitian tersebut dilakukan pada
asosiasi padang lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides dengan banyak
karang laguna kecil (Pulau Pari) di daerah Kepulauan Seribu. Total ikan yang
berasosiasi dengan lamun yang diambil selama penelitian ada 78 spesies.Dari hasil
tersebut didapatkan 32 famili ikan, hanya 6 kelompok (Apogonidae, Atherinidae,
Labridae, Gerridae, Siganidae dan Monacanthidae) yang biasa dianggap sebagai
kelompok yang menetap. Hutomo dan Martosewojo (1977) membagi kumpulan ikan
yang berasosiasi dengan lamun di Pulau Pari menjadi 4 kategori, yaitu :
1. Penghuni tetap, dengan memijah dan menghabiskan sebagian besarhidupnya di
padang lamun (contohnya Apogon margaritoporous).
2. Menetap dengan menghabiskan hidupnya di padang lamun dari juvenile sampai
siklus hidup dewasa, tetapi memijah di luar padang lamun (contoh : Halichoeres
leparensis, Pranaesus duodecimalis, Paramia quinquilineata, Gerres
macrosoma, Monachantus tomentosus, M.hajam, Hemiglyphidodon
plagyometopon, Synadhoides biaculeatus)
3. Menetap hanya pada saat tahap juvenile (contoh : Siganus canaliculatus,
S.virgatus, S.chrysospilos, Lethrinus spp, Scarus spp, Abudefduf spp,
Monachnthus mylii, Mulloides samoensis, Pelates quadrilineatus, Upeneus
tragula) dan
79
4. Menetap sewaktu-waktu atau singgah hanya mengunjungi padang lamun untuk
berlindung atau mencari makan.
Pada tahun 1977, penelitian di Pulau Pari diikuti oleh penelitian lanjutan dari kumpulan
ikan yang berasosiasi dengan padang lamun di Teluk Banten, barat daya Laut Jawa.
Hasil dari penelitian di Teluk Banten (Hutomo, 1985) mendukung pandangan awal yang
mengatakan bahwa hanya sedikit spesies ikan yang menghuni tetap di padang lamun.
Walaupun begitu, penelitian itu juga mengkonfirmasi kembali bahwa padang lamun
berperan sebagai daerah asuhan untuk banyaj spesies ikan yang mempunyai nilai
ekonomi penting. Selanjutnya, komposisi spesies kumpulan ikan yang terlihat
dipengaruhi oleh kumpulan spesies komunitas yang terdekat. Hutomo (1985)
melaporkan bahwa padang lamun dengan kepadatan tertinggi menyokong tingginya
kepadatan ikan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa padang lamun E.acoroides,
lebih menyokong tingginya kepadatan ikan daripada Thalassia hemprichii, yang
mempunyai daun lebih pendek. Rollon dan Fortes (1991) memperoleh hasil yang sama,
bahwa tingginya biomassa lamun berhubungan dengan keanekaragaman ikan (sejumlah
besar ikan dan komposisi spesies). Mereka juga menulis bahwa E.acoroides dan
Thalassia hemprichii adalah spesies lamun yang paling dominan. Dalam perbandingan,
padang lamun campuran (keanekaragaman tinggi) didominasi oleh lamun yang berdaun
pendek, kurang menyokong kepadatan ikan dan keragaman spesies. Rollon dan Fortes
(1991) ,mengatakan bahwa peran padang lamun yang utama adalah sebagai tempat
perlindungan dimana ikan dapat menghindari predasi. Hasil yang sama juga diperoleh
oleh Sudara et al (1992), mengkonfirmasi hipotesis awal bahwa padang lamun dengan
struktur yang kompleks (Tumbuhan besar dengan area yang luas) dan kepadatan lamun
yang tinggi akan menyokong tingginya kepadatan spesies ikan dan biomassanya (Heck
dan Ort, 1980).
Daftar spesies tetap dari spesies ikan yang berasosiasi dengan lamun di Indonesia ada
360, daftar tersebut berdasarkan studi yang dilakukan dari tahun 1977-1991 (Hutomo
dan Martosewojo, 1977; Hutomo, 1985; Kiswara, 1991). Studi tersebut menulis bahwa
ada perbedaan-perbedaan yang nyata dari ikan-ikan yang berasosiasi dengan lamun di
setiap kepulauan yang berbeda. Ddari 360 spesies yang berasosiasi dengan padang
lamun, 78 diantaranya diambil di Kepulauan seribu, 165 spesies diambil dari Teluk
Banten dan 205 spesies diambil dari Pulau Seram Barat (Hutomo dan Martosewojo,
1977; Hutomo, 1985; Peristiwadi, 1991). Perbedaan yang utama karena studi dilakukan
pada ekosistem yang berbeda dengan pengaruh pengambilan sampel yang berbeda.
Bagaimanapun juga, banyak spesies konomi penting seperti Siganids, secara bersama ke
semua pantai padang lamun (Teluk Banten, Teluk Miskam, Teluk Kotania, Teluk Kuta,
dll). Hal tersebut mengindikasikan bahwa Siganids bergantung pada padang lamun
untuk makan dan berlindung. Lepiten (1994) menulis bahwa selama makan ikan Kelinci,
Siganus canaliculatus, menyalurkan sedikit produksi primer ke dalam rantai makanan
lamun, bagian yang signifikan dari memakan lamun oleh populai siganids adalah
langsung kedalam rantai makanan detritus.
Peristiwadi (1994) menggunakan anlisis Fish-gut untuk menentukan makanan utama
bagi spesies ikan di lamun yang paling dominan. Dasar dari analisis informasi “gut”
Peristiwadi (1994 a)mengusukan jarin makanan yang mungkin berhubungan dari
organisme benthic sebagai produsen primer tertinggi sampai predator utama di padang
lamun. Hewan Crustacea lamun adalah makanan yang paling dominant di padang
80
lamun Lombok Selatan, yang mana menaruh produsen primer benthic ke tropic level
tertinggi di rantai makanan.
Perbandingan dari Kelompok Ikan. Ada beberapa studi di Indonesia yang dapat
digunakan dalam bingkai kerja ekologi komparatif, bagaimanapun juga, beberapa dasar
pembandingan kualitatif adalah tepat. Penelitian yang berbeda terhadap struktur
komunitas ikan yang berasosiasi dengan lamun pada tempat yang berbeda berhubungan
dengan struktur komunitas lamun dan habitat terdekat juga tipe substrat dan kondisi
lingkungan. Penelitian di Kepulauan Spermonde, Sulsel, menyatakan bahwa 49 spesies
ikan berasosiasi dengan 2 habitat lamun yang berbeda (Gusung Talang, padang lamun
tepi pantai dengan substrat terigenous dan Barang Lompo, lamun di rataan terumbu
karang) (Erftemeijer dan Allen, 1993). Jumlah total spesies ikan di Gusung Talang dan
Barang Lompo sama, yaitu 27 dan 26 spesies berturut-turut, dimana dua lokasi tersebut
tidak berkaitan dengan spesies lain. Ikan-ikan utama yang ada di padang lamun Barang
Lompo adalah spesies ikan dengan karakteristik lingkungan rataan terumbu karang.
Meskipun demikian, 3 spesies di Barang Lompo dianggap sebagai tipe habitat lamun,
nam spesiesnya adalah Acreichtys tomentosus, Novaculichtys macrolepidotus, dan
Centrogenys vaigiensis. Di Gusung Talang, spesies ikan padang lamunnya kebanyakan
didominasi oleh kelompok tipe estuaria seperti engraulids, clupeids dan siganids,
spesies tersebut memiliki nilai ekonomi penting. Penelitian yang baru-baru ini
dilakukan oleh Hutomo dan Parino (1994) menunjukkan bahwa di Pantai Selatan
Lombok 85 spesies ikan berasosiasi dengan padang lamun vegetasi campuran. Ikan
yang ada adalah Syngnathoides biaculetus, Novaculichtys sp., Acreichtys sp., dan
Centrogenys vaigiensis. Sejumlah spesies yang memiliki nilai ekonomi penting seperti
siganids, lethrinids, carangids dan lutjanids diambil di semua padang lamun vegetasi
campuran.
Terumbu karang yang berasosiasi dengan padang lamun di Kepulauan Seribu
mendukung 9 spesies ikan komersial. Di Teluk Banten, yang lebih kecil dari Pulau
Seribu, 12 spesies ikan padang lamun komersial mendukung perikanan setempat.
Padang lamun di Teluk Banten tidak bergantung pada terumbu karang, tetapi dulunya
kebanyakan berasosiasi dengan mangrove yang lebih luas berubah menjadi kolam ikan
dan lahan pertanian. Kebanyakan ikan utama yang diambil di padang lamun masih
juvenile dan setengah dewasa. Di Teluk Kotania pantai Barat Pulau Seram, Peristiwadi
(1994) mengambil 8-9 spesies ikan komersial dari padang lamun yang berasosiasi
dengan terumbu karang pada Pulau Osi dan Marsegu. Spesies ikan lamun ada sekitar
33,2% 45,4% dari total spesies yang diambil dari 2 Pulau tersebut berturut-turut.
Siganids adalah spesies yang lebih mendominasi, mewakili sekitar 5% dari total
individu yang diambil.
81
PULAU KECIL
PULAU KECIL DAN SINERGI EKOSISTEM LAUT TROPIS
Pulau kecil
Pulau-pulau kecil (gambar 1) meliputi 7% dari wilayah dunia, dan merupakan entitas
daratan yang memiliki karakteristik dan kerentanan khusus sehingga pengelolaan pulau
kecil memerlukan format yang berbeda dengan wilayah daratan lain, khususnya pulau
besar (mainland). Menurut definisi yang dikeluarkan oleh PBB dalam UNCLOS,
definisi pulau adalah massa daratan yang terbentuk secara alami, dikelilingi oleh air dan
selalu berada di atas permukaan saat air pasang. Namun, definisi pulau kecil masih
dalam pengembangan sampai saat ini. Berikut ini adalah beberapa definisi pulau kecil
yang dikeluarkan oleh beberapa instansi dan lembaga terkait:
• CSC (1984) : Pulau kecil adalah pulau dengan luas area < 5.000 km2
• UNESCO : Pulau kecil adalah pulau dengan luas area < 2.000 km2
• (1991) atau lebarnya kurang dari 10 km
• SK Menteri : Pulau kecil adalah pulau dengan luas area < 10.000 km2,
• KP No. penduduk < 200.000 orang
• 41/2000
• Usulan dari : Pulau kecil adalah pulau dengan luas area < 2.000 km2,
• DKP dengan jumlah penduduk < 20.000 orang
Gambar 1. Tipe-tipe pulau kecil di Indonesia, pulau oseanik dari kategori pulau
karang/pulau datar (kiri) dan pulau tektonik (kanan)
Menurut pembentukannya, pulau kecil dapat terbagi menjadi dua tipe yaitu pulau
oseanik dan pulau kontinental (gambar 1). Lebih lanjut lagi, pulau oseanik dapat
digolongkan atas dua kategori yaitu pulau vulkanis dan pulau karang (pulau
datar). Umumnya pulau-pulau kecil di Indonesia memiliki karakteristik biogeofisik
yang tersendiri sebagai berikut (Bengen 2004):
• terpisah dari habitat pulau induk (mainland island) dan bersifat insular
• memiliki sumberdaya air terbatas, baik air permukaan maupun air tanah, dengan
daerah tangkapan air yang relatif kecil atau sangat terbatas sehingga sebagian
aliran air permukaan dan sedimen akan diteruskan ke laut
• rentan terhadap pengaruh dari luar, baik yang bersifat alami (badai dan
gelombang besar) maupun akibat kegiatan manusia (pengubahsuaian lahan,
pencemaran)
82
• memiliki sejumlah spesies endemik yang bernilai ekologis tinggi
• area perairan lebih luas daripada daratan, serta relatif terisolir
• tidak memiliki hinterland yang jauh dari pantai
Dari segi fisik maka pulau-pulau kecil memiliki sumberdaya alam daratan yang sangat
terbatas, sedangkan sumberdaya alam laut dan jasa lingkungan yang disediakan olehnya
perlu dikelola sebaik mungkin guna menunjang kesejahteraan masyarakat yang hidup di
dalamnya secara berkelanjutan. Pembangunan dan pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan di pulau kecil harus dilakukan secara terencana, sistematis, dan terpadu,
sehingga masih dapat memenuhi kebutuhan sumberdaya tersebut untuk generasi yang
akan datang.
Sinergi ekosistem laut tropis terhadap keberadaan pulau kecil
Sejumlah pulau-pulau kecil di Indonesia pantai yang dibatasi oleh terumbu karang,
padang lamun, dan hutan mangrove. Terumbu karang dan ekosistem lain yang
berasosiasi dengannya (padang lamun, hutan mangrove) menyokong kekayaan
sumberdaya hayati dan memberikan jasa lingkungan yang besar bagi kemakmuran
penduduk dan keberadaan daratan pantai di sekitarnya (gambar 2).
Keberadaan hutan mangrove dan padang lamun bagi sistem perikanan di pulau kecil
sangat mendukung regenerasi stok ikan dengan menyediakan habitat untuk bertelur
serta membesarkan larva dan juvenil, sedangkan terumbu karang merupakan habitat
yang sangat ideal bagi ikan-ikan besar untuk hidup, bermain, dan mencari makan.
Ketiga ekosistem ini memiliki peran yang saling mendukung satu sama lain dalam
pemenuhan kebutuhan nutrisi penduduk di pulau kecil. Kesejahteraan penduduk pulau
juga dapat ditingkatkan dengan pemanfaatan ketiga ekosistem tersebut sebagai wahana
wisata pendidikan atau wisata konservasi, karena indahnya panorama pesisir dan bawah
air yang bisa menarik kunjungan wisatawan (Gambar 2).
Gambar 2. Beberapa manfaat dan jasa yang diberikan oleh sumberdaya alam dan
lingkungan di pulau kecil
83
Secara fisik, peran ketiga ekosistem tersebut bagi keberlanjutan pulau kecil adalah
sebagai peredam alami dari ancaman gelombang besar dan penghalang alami dari
terpaan badai tropis yang sering mengancam kehidupan masyarakat di pulau kecil.
CONTOH KASUS
HILANGNYA PULAU UBI BESAR DI KEPULAUAN SERIBU
Kepulauan Seribu terletak di utara Teluk Jakarta, dan merupakan suatu gugusan pulaupulau
kecil yang membentang sepanjang 80 km dari utara ke selatan dan selebar 30 km
dari timur ke barat. Sejumlah 105 pulau yang ada di Kepulauan Seribu, tergolong
pulau-pulau kecil karena memiliki dimensi kurang dari 10 hektar dan tingginya tak
lebih dari 3 meter di atas permukaan laut. Pulau-pulau tersebut dikelilingi oleh
kompleks gosong terumbu (patch reef complexes), yang di dalamnya merupakan habitat
bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Tak jauh dari ekosistem terumbu karang,
lingkungan pesisir Kepulauan Seribu diperkaya dengan kehadiran padang lamun dan
hutan mangrove. Ketiga unit ekologis yang berbeda ini membentuk suatu jejaring
kehidupan yang unik dan rumit di ekosistem laut tropis.
Ada beragam kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam di Kepulauan Seribu dan kegiatan
ini telah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Jika pada awalnya pemanfaatan tersebut
hanya terbatas pada perikanan dan pelayaran, maka sejak abad ke 20 pemanfaatan
sumberdaya Kepulauan Seribu berkembang mulai dari rekreasi, penambangan (minyak,
pasir, karang), budidaya, selain perikanan dan pelayaran yang semakin aktif. Tekanan
lingkungan terhadap Kepulauan Seribu akibat pemanfaatan semakin diperparah dengan
adanya peningkatan pasokan polusi dan pencemaran dari Teluk Jakarta dan eksploitasi
berlebihan akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang pesat di wilayah Jakarta.
Gambar 3 Perubahan morfologi Pulau Ubi Besar dari tahun 1901 sampai 1982, dan
menghilang pada tahun 1995
Salah satu dampak dari tingginya tekanan ekologi oleh kegiatan manusia adalah
hilangnya beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Hilangnya pulau ini diakibatkan oleh
adanya kegiatan penambangan pasir dan karang secara besar-besaran di Pulau Air Kecil
dan Pulau Ubi Kecil. Akibat kegiatan penambangan ini, maka ekosistem terumbu
karang yang alami menjadi rusak dan hilang sehingga kedua pulau tersebut tenggelam
dan terjadi abrasi yang berkelanjutan di Pulau Ubi Besar (Gambar 3). Ketiga dataran
pulau ini menghilang di bawah permukaan laut antara tahun 1985 dan 1995.
84
DAFTAR PUSTAKA
FAO. 1983. Management and Utilization of Mangroves in Asia Pasific. FAO
Environmental Paper 3, FAO, Rome.
Hartog, C.den.1970. Seagrass of the World. North-Holland Publ.Co.,Amsterdam
Hutching, P and P.Saenger. 1987. Ecology of Mangroves. University of Queensland,
London.
Kikuchi dan J.M. Peres. 1977. Consumer Ecology of Seagrass Beds, pp. 147-193. In P.
McRoy and C.Helferich (eds). Seagrass ecosystem. A scientific perspective.
Mar.Sci.Vol 4.Marcel Dekker Inc, New York.
Mann, K.H. 2000. Ecology of Coastal Waters. Second Edition. Blackwell Science.
Menez, E.G.,R.C. Phillips dan H.P.Calumpong. 1983. Sea Grass from the Philippines.
Smithsonian Cont. Mar. Sci. 21. Smithsonian Inst. Press, Washington.
Saenger, P. E.J, Hegerl, and J.P.S. Davie. 1983. Global Status of Mangrove Ecosystems.
Comission on Ecology Papers No.3, IUCN.
Tomascik, T, AJ Mah, A Nontji, and MK Moosa. 1997. The Ecology of Indonesian
Seas Part Two. Periplus Edition.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *