A. Mytilus edulis
Mytilus edulis atau sering disebut juga blue mussel merupakan anggota kelas bivalvia. Meskipun Mytilus edulis sering disebut sebagai blue mussel, namun ternyata warna cangkang yang dimiliki spesies ini tidak hanya biru, ada yang berwarna ungu atau coklat gelap. Sama halnya dengan spesies bivalvia yang lain, Mytilus edulis juga memiliki dua keping atau belahan yaitu belahan sebelah kanan dan kiri yang disatukan oleh suatu engsel bersifat elastis disebut ligament. Pada bagian dalam cangkang berwarna putih, seperti mutiara, dengan mantel yang agak keputihan atau kuning. Pada cangkang juga terdapat dua buah otot adductor yang berfungsi untuk membuka dan menutup kedua belahan cangkang tersebut. Otot adductor bagian anterior berukuran kecil, sedangkan adductor posterior memiliki ukuran yang besar. Pada spesies ini, tidak ditemukan adanya sifon, tetapi terdapat pertautan antara filamen dengan cilia. Mytilus merupakan hewan sessile dengan kaki kecil dan memiliki bisus. Mytilus dewasa akan menempel pada substrat secara permanen.
Secara taksonomis, Mytilus edulis memiliki klasifikasi sbb :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Subclass : Heterodonta
Order : Mytiloida
Family : Mytilidae
Subfamily : Mytilinae
Genus : Mytilus
Species : Mytilus edulis

Blue mussel merupakan organism filter feeder dan scavenger. Spesies ini akan mengambil makanan apa saja yang ditemukan di kolom air yang memiliki ukuran cukup kecil untuk dimakan. Nicol (1960) mengemukakan bahwa M.edulis biasanya mengkonsumsi organism atau pun partikel yang memiliki ukuran minimal 2µ. Ukuran partikel optimal yang efisien dikonsumsi adalah 7-8µ. Makanan blue mussel meliputi fitoplankton, dinoflagelata, diatom yang berukuran kecil, flagelata dan protozoa lainnya, detritus dan alga bersel satu.

B. Habitat Mytilus edulis
Meskipun sebagian besar spesies mussels hidup di daerah litoral, seluruh anggota family Mytilidae juga memiliki kemampuan untuk hidup di daerah sublitoral. Mytilus edulis tersebar di perairan yang luas, daerah intertidal hingga subtidal. Spesies ini hidup mulai dari daerah yang pantai di estuary dangkal hingga laut pada kedalaman mencapai 499 m. Beberapa karakteristik habitat spesies ini adalah sbb :
1. Salinitas
Mytilus edulis merupakan organism eurihaline, yaitu organism yang dapat mentolerir daerah dengan kisaran salinitas luas. Mytilus dapat tumbuh dan berkembang dengan baik bila berada pada daerah bersalinitas yang mendekati salinitas estuaria. Bila Mytilus terpaparkan pada daerah yang bersalinitas rendah pada jangka waktu singkat, Mytilus akan menghentikan aktivitas makan mereka. Mytilus juga menghentikan pertumbuhannya bila terpaparkan pada salinitas 18 ‰. Namun demikian, bila dalam jangka waktu yang lama, M.edulis mampu berdaptasi dengan baik pada salinitas rendah. Misalnya pada daerah Baltic, M.edulis mampu beradaptasi dan berkembang dengan baik pada salinitas 4-5‰ (Kautsky, 1982)

2. Temperatur
Selain sebagai organism eurihaline, M.edulis juga merupakan organism euritermal. Mytilus mampu beradaptasi pada kisaran temperature yang luas, bahkan Mytilus juga mampu bertahan hidup hingga beberapa bulan pada kondisi beku. Spesies ini mampu mentolerir temperature mulai dari suhu 50C hingga 200C, yang merupakan perwakilan temperature pada daerah dingin hingga subtropical. Kisaran temperature paling atas yang mampu ditolerir oleh Mytilus adalah pada suhu 290C, sedangkan kisaran yang paling rendah adalah pada suhu -100C. Kemampuan Mytilus dalam beradaptasi terhadap temperature disebabkan karena adanya nucleating agents yang dihasilkan oleh organ dalam Mytilus (haemolymph).
Malone and Dod (1967) mengemukakan bahwa temperature merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan Mytilus. Mereka menunjukkan bukti penelitian yang dilakukan oleh Moosop (1922) yaitu bahwa pertumbuhan rata-rata terjadi pada saat temperature perairan hangat, pertumbuhan paling lambat terjadi pada temperature dingin. Di daerah subtropis, pertumbuhan Mytilus edulis terjadi paling baik pada saat musim semi.
Tidak hanya pertumbuhan Mytilus yang dipengaruhi oleh temperature. Aktifitas silia yang dimiliki oleh Mytilus juga sangat tergantung pada temperature. Peningkatan temperature antara 0-340C mengakibatkan aktivitas silia menjadi meningkat sehingga konsumsi oksigen oleh Mytilus juga menjadi ikut meningkat (Nicol, 1960) BAHAN LENGKAPNYA DOWNLOAD DISINI