BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Disiplin sangat penting untuk pertumbuhan organisasi, digunakan terutama untuk memotivasi pegawai agar dapat mendisiplinkan diri dalam melaksanakan pekerjaan baik secara perorangan maupun kelompok. Disamping itu disiplin bermanfaat mendidik pegawai untuk mematuhi dan menyenangi peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik. (Armstrong , M. 1991)
Kurang pengetahuan tentang peraturan, prosedur, dan kebijakan yang ada merupakan penyebab terbanyak tindakan indisipliner. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut pihak pimpinan sebaiknya memberikan program orientasi kepada tenaga perawat/bidan yang baru pada hari pertama mereka bekerja, karena perawat/bidan tidak dapat diharapkan bekerja dengan baik dan patuh, apabila peraturan/prosedur atau kebijakan yang ada tidak diketahui, tidak jelas, atau tidak dijalankan sebagai mestinya. Selain memberikan orientasi, pimpinan harus menjelaskan secara rinci peraturan peraturan yang sering dilanggar, berikut rasional dan konsekwensinya. Demikian pula peraturan/prosedur atau kebijakan yang mengalami perubahan atau diperbaharui, sebaiknya diinformasikan kepada staf melalui diskusi aktif. (Marriner,A.T. 1995)
Tindakan disipliner sebaiknya dilakukan, apabila upaya pendidikan yang diberikan telah gagal, karena tidak ada orang yang sempurna. Oleh sebab itu, setiap individu diizinkan untuk melakukan kesalahan dan harus belajar dari kesalahan tersebut. Tindakan indisipliner sebaiknya dilaksanakan dengan cara yang bijaksana sesuai dengan prinsip dan prosedur yang berlaku menurut tingkat pelanggaran dan klasifikasinya. (Hastings,J. 1999).
Disiplin diartikan oleh Prijodarminto (1993), sebagai suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Dalam hal ini sikap dan perilaku yang demikian tercipta melalui proses binaan keluarga, pendidikan dan pengalaman atau pengenalan dari keteladanan dari lingkungannya. Disiplin akan membuat seseorang dapat membedakan hal-hal apa saja yang seharusnya dilakukan, yang wajib dilakukan, yang boleh dilakukan dan yang tidak seharusnya dilakukan (Karena merupakan hal-hal yang dilarang).

Disiplin ini memiliki tiga aspek, yaitu :
a. Sikap mental (mental attitude), yang merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak.
b. Pemahaman yang baik mengenai sistem aturan perilaku, norma, kriteria dan standar yang sedemikian rupa, sehingga pemahaman tersebut menumbuhkan pengertian yang mendalam atau kesadaran bahwa ketaatan akan aturan, norma, kriteria dan standar merupakan syarat mutlak untuk mencapai keberhasilan.
c. Sikap kelakuan yang secara wajar menunjukkan kesungguhan hati untuk mentaati segala hal dengan cermat dan tertib.
Perpaduan antara sikap dengan sistem nilai budaya yang menjadi pengarah dan pedoman untuk mewujudkan sikap mental berupa perbuatan dan tingkah laku. Hal inilah yang pada dasarnya disebut dengan disiplin.
Gibson, Ivancevich, dan Donelly (1985-13) mendefinisikan disiplin sebagai penggunaan beberapa bentuk hukuman atau sanksi jika karyawan menyimpang. Penggunaan hukuman digunakan apabila manajer dihadapkan pada permasalahan perilaku bawahan yang tidak sesuai dengan peraturan dan prestasi kerja yang di bawah standar perusahaan. Daftar perilaku yang dapat dihukum adalah sebagai berikut:
 ketidakhadiran,
 kelambanan,
 mencuri,
 tidur ketika bekerja,
 mengancam pimpinan,
 melanggar aturan dan kebijaksanaan keselamatan bekerja,
 pembangkangan perintah,
 memperlakukan pelanggan secara tidak wajar,
 memperlambat pekerjaan,
 menolak bekerjasama dengan rekan kerja,
 menolak untuk bekerja lembur,
 memiliki dan menggunakan obat-obat terlarang ketika bekerja,
 merusak peralatan,
 menggunakan bahasa/kata-kata kotor, dan
 melakukan mogok kerja yang ilegal.

1.2 Rumusan masalah
Dengan adanya kemajuan system pendidikan dan system pengajaran dimana diperlukan disini kedisiplinan suatu organisasi pendidik untuk lebih memusatkan perhatiannya kepada kedisiplinan, karena kedisiplinan akan menumbuhkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah maupun dilokasi organisasi tersebut.
Jadi, adapun rumusan masalah yang di kaji adalah :
1. Memahami Pengertian dari Kedisiplinan Dalam Organisasi.
2. Memahami prinsip-prinsip disiplin dalam organisasi.
3. Memahami apa sebenarnya tujuan dari Kedisiplinan Organisasi tersebut.
4. Bagaimanakah teori-teori yang mengenai kedisiplinan dalam berorganisasi tersebut ?.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Disiplin dalam Organisasi
Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.”
Disiplin berasal dari akar kata “disciple“ yang berarti belajar. Disiplin merupakan arahan untuk melatih dan membentuk seseorang melakukan sesuatu menjadi lebih baik. Disiplin adalah suatu proses yang dapat menumbuhkan perasaan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi secara obyektif, melalui kepatuhannya menjalankan peraturan organisasi.
Sanksi indisipliner dilakukan untuk mengarahkan dan memperbaiki perilaku pegawai dan bukan untuk menyakiti. Tindakan disipliner hanya dilakukan pada pegawai yang tidak dapat mendisiplinkan diri, menentang/tidak dapat mematuhi praturan/prosedur organisasi. Melemahnya disiplin kerja akan mempengaruhi moral pegawai maupun pelayanan pasen secara langsung, oleh karena itu tindakan koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera diatasi oleh semua komponen yang terlibat dalam organisasi.
Pengembangan Disiplin. Asumsi : Tidak ada orang yang sempurna, oleh sebab itu setiap individu diizinkan untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Tindakan koreksi dilakukan apabila individu tidak dapat mematuhi peraturan sesuai standar minimal atau tidak dapat meningkatkan tujuan organisasi.
2.2 Prinsip-Prinsip Disiplin
1. Pemimpin mempunyai prilaku positif
Untuk dapat menjalankan disiplin yang baik dan benar, seorang pemimpin harus dapat menjadi role model/panutan bagi bawahannya. Oleh karena itu seorang pimpinan harus dapat mempertahankan perilaku yang positif sesuai dengan harapan staf.
2. Penelitian yang Cermat
Dampak dari tindakan indisipliner cukup serius, pimpinan harus memahami akibatnya. Data dikumpulkan secara faktual, dapatkan informasi dari staf yang lain, tanyakan secara pribadi rangkaian pelanggaran yang telah dilakukan, analisa, dan bila perlu minta pendapat dari pimpinan lainnya.
3. Kesegeraan
Pimpinan harus peka terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh bawahan sesegera mungkin dan harus diatasi dengan cara yang bijaksana. Karena, bila dibiarkan menjadi kronis, pelaksanaan disiplin yang akan ditegakkan dapat dianggap lemah, tidak jelas, dan akan mempengaruhi hubungan kerja dalam organisasi tersebut.
4. Lindungi Kerahasiaan (privacy)
Tindakan indisipliner akan mempengaruhi ego staf, oleh karena itu akan lebih baik apabila permasalahan didiskusikan secara pribadi, pada ruangan tersendiri dengan suasana yang rileks dan tenang. Kerahasiaan harus tetap dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi masa depannya .

5. Fokus pada Masalah.
Pimpinan harus dapat melakukan penekanan pada kesalahan yang dilakukan bawahan dan bukan pada pribadinya, kemukakan bahwa kesalahan yang dilakukan tidak dapat dibenarkan.
6. Peraturan Dijalankan Secara Konsisten
Peraturan dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih. Setiap pegawai yang bersalah harus dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum dan dapat menerima sanksi yang dilakukan secara wajar.
7. Fleksibel
Tindakan disipliner ditetapkan apabila seluruh informasi tentang pegawai telah di analisa dan dipertimbangkan. Hal yang menjadi pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahannya, prestasi pekerjaan yang lalu, tingkat kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi
8. Mengandung Nasihat
Jelaskan secara bijaksana bahwa pelanggaran yang dilakukan tidak dapat diterima. File pegawai yang berisi catatan khusus dapat digunakan sebagai acuan, sehingga mereka dapat memahami kesalahannya.
9. Tindakan Konstruktif
Pimpinan harus yakin bahwa bawahan telah memahami perilakunya bertentangan dengan tujuan organisasi dan jelaskan kembali pentingnya peraturan untuk staf maupun organisasi. Upayakan agar staf dapat merubah perilakunya sehingga tindakan indisipliner tidak terulang lagi.
10. Follow Up (Evaluasi)
Pimpinan harus secara cermat mengawasi dan menetapkan apakah perilaku bawahan sudah berubah. Apabila perilaku bawahan tidak berubah, pimpinan harus melihat kembali penyebabnya dan mengevaluasi kembali batasan akhir tindakan indisipliner.

2.3 Tujuan Disiplin dalam Organisasi
Difokuskan untuk mengoreksi penampilan kerja agar peraturan kerja dapat diberlakukan secara konsisten. Tidak bersifat menghakimi dalam memberlakukan hukuman atas tindakan indisipliner.

2.4 Tindakan Disiplin dalam Organisasi
Bimbingan Teguran Secara Lisan

Skors Teguran Secara Tertulis
a) Teguran Secara Lisan
Teguran secara lisan terbatas dalam hal mengingatkan perawat untuk kesalahan yang kecil dan baru pertama kali dilakukan. Sebagai suatu tindakan koreksi, biasanya teguran dilakukan secara pribadi dengan cara yang bersahabat dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan. Bantu bawahan untuk membuat keputusan agar tidak mengulangi kesalahannya. Buat catatan khusus bahwa perawat telah melakukan konsultasi, catat waktu, tempat, dan permasalahannya, serta kesimpulan konsultasi. Dokumen dimasukkan kedalam file pribadi perawat.

b) Teguran Secara Tertulis
Teguran secara tertulis dilakukan apabila pelanggaran diulangi kembali, tidak menunjukan perbaikan atau pelanggarannya cukup serius. Dalam teguran secara tertulis, harus dicantumkan nama pegawai, nama pimpinan, permasalahannya, rencana perbaikan, dan batas waktu perbaikan serta konsekwensi nya apabila pelanggaran diulangi. Bawahan harus membaca dan memahami sanksi yang diberikan dan disepakati bersama. Dokumen dimasukan ke dalam file pribadi pegawai dan tembusannya diberikan kepada yang bersangkutan. Sanksi biasanya disesuaikan dengan kebijakan institusi atau organisasi setempat.
c) Keputusan Terakhir/Skors
Keputusan terakhir atau terminasi dilakukan karena pimpinan melihat bahwa kesalahan yang dilakukan oleh bawahan sudah sangat serius dan selama batas waktu perbaikan perilaku bawahan tidak memperlihatkan perubahan. Keputusan terakhir biasanya dilakukan dengan melibatkan pimpinan organisasi/Departemen. Keputusan terakhir /skors dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kesalahannya maupun kebijakan dari institusi / organisasi. Antara lain adalah : Penurunan pangkat, mutasi, penundaan kenaikan pangkat / berkala, penurunan insentif, tidak diperkenankan bekerja untuk jangka waktu pendek , jangka waktu panjang, atau akhirnya diberhentikan / dikeluarkan.
2.5 Teori Organisasi
Teori organisasi mempelajari kinerja dalam sebuah organisasi. Termasuk, bagaimana sebuah organisasi menjalankan fungsi dan mengaktualisasikan visi dan misi organisasi tersebut. Selain itu, dipelajari bagaimana sebuah organisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang-orang di dalamnya maupun lingkungan kerja organisasi tersebut.

Teori organisasi pertama kali muncul pada abad ke-19 karena pengaruh Revolusi Inggris. Secara umum, merupakan rangkuman konsep, ikhtisar, tinjauan, dan pendapat yang berkaitan dengan metode pemecahan masalah organisasi agar mampu mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.
Teori organisasi mengalami evolusi dari masa ke masa. Secara garis besar, bisa dibedakan ke dalam tiga kelompok, yakni teori organisasi klasik, teori organisasi neo modern, dan teori organisasi modern.
1) Teori Organisasi Klasik
Teori organisasi yang berkembang mulai awal abad ke-19 digolongkan ke dalam teori organisasi klasik atau disebut juga “teori tradisional” atau “teori mesin”. Pada masa ini, organisasi divisualisasikan sebagai sekelompok orang yang membentuk lembaga, tiap-tiap bagian memiliki spesialisasi dan sentralisasi dalam tugas dan wewenang.
Dalam teori klasik ini, organisasi tersusun atas empat unsur pokok.
1. Kegiatan yang tersistem dan terkoordinasi.
2. Adanya sekelompok orang dengan spesialisasi tertentu.
3. Kerja sama antara sekelompok orang dengan spesialisasi yang berbeda.
4. Adanya kekuasaan dan kepemimpinan yang mengendalikan sistem tersebut.
Para penganut teori klasik organisasi meyakini bahwa organisasi bergantung pada kekuasaan, saling melayani, doktrin, dan disiplin. Teori organisasi klasik kemudian berkembang menjadi tiga aliran, yaitu teori birokrasi, administrasi, dan manajemen ilmiah.

a) Teori Birokrasi
Teori ini berkembang dalam ranah ilmu sosiologi dan menekankan pada aspek legal-rasional. Legal dalam hal ini dimaknai sebagai bentuk wewenang yang dirumuskan dengan jelas berkaitan dengan aturan prosedur dan peranan masing-masing elemen. Sementara rasional, mengacu pada suatu tujuan yang jelas dan ditetapkan bersama.
Salah satu tokoh pengusung teori klasik adalah Max Weber (21 April 1864-14 Juni 1920), seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog Jerman. Dalam salah satu karyanya yang terkenal, The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism dan The Theory of Social and Economic Organization, Weber menjelaskan mengenai karakteristik birokrasi yang tersusun atas hal-hal berikut ini.
1. Pembagian kerja.
2. Hirarki wewenang.
3. Program rasional.
4. Sistem prosedur.
5. Sistem aturan hak kewajiban.
6. Hubungan antarpribadi yang bersifat impersonal.
b) Teori Administrasi
Teori administrasi organisasi menekankan pada aspek makro dan praktik langsung manajemen. Beberapa tokoh pengusung teori administrasi, adalah Henry Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa, serta James D. Mooney dan Allen Reily dari Amerika.

Dalam buku Admistration industrtrielle et Generale karya Henry Fayol (terbit 1916), misalnya, industrialis asal Prancis itu menyebutkan kaidah manajemen yang terdiri dari pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, kesatuan perintah, kesatuan pengarahan, mendahulukan kepentingan umum, balas jasa, sentralisasi, rantai skalar, tata tertib, keadilan, kelanggengan personalia, inisiatif, dan semangat korps.
Sementara itu, James D Mooney dan Allen Reilly berpendapat bahwa koordinasi memegang peranan penting dalam sebuah perencanaan organisasi. Sebuah organisasi harus menerapkan tiga prinsip utama, yakni sebagai berikut.
1. Prinsip koordinasi.
2. Prinsip skalar dan hirarki.
3. Prinsip fungsional.
c) Teori Manajemen Ilmiah
Berbeda dengan teori administrasi, manajemen ilmiah lebih memusatkan teori pada aspek makro organisasi. Teori ini banyak berkembang di Mesir, Cina, dan Romawi. Salah satu tokoh pengusung teori ini, FW Taylor, memberi definisi teori manajemen ilmiah sebagai seperangkat mekanisme untuk meningkatkan efesiensi kerja.
Lebih jauh, FW Taylor menjelaskan bahwa organisasi memiliki empat kaidah, yaitu sebagai berikut.
 Mengubah metode kerja praktik menjadi metode atas dasar ilmu pengetahuan.
 Mengadakan seleksi dalam rekrutasi, mengadakan latihan dan pengembangan bagi karyawan.
 Integrasi dalam pengembangan ilmu tentang kerja, seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah.
 Membangun semangat dan mental karyawan untuk mencapai manfaat optimal.
2) Teori Neoklasik
Aliran Neoklasik muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap teori klasik, ketiga teori tersebut dinilai sangat kaku dan mengabaikan hubungan manusiawi. Teori neoklasik memberi perhatian khusus pada aspek psikologis dan sosial pada diri anggota organisasi, baik sebagai individu maupun kelompok kerja.
Salah satu pencetus teori ini adalah Hugo Munsterberg, tertuang dalam bukunya, Psychology and Industrial Effeciency yang terbit tahun 1913, dan dinilai sebagai rantai penghubung evolusi teori manajemen ilmiah menuju neoklasik.
3) Teori Modern
Teori klasik dan neoklasik ternyata dinilai belum memuaskan untuk tuntutan manajemen modern. Banyak kelemahan dan ketimpangan yang masih ditemukan sehingga mendorong munculnya teori organisasi modern pada 1950. Teori ini kemudian dikenal dengan nama “analiasis sistem” atau “teori terbuka” yang memandang organisasi sebagai satu kesatuan dari berbagai unsur yang saling bergantung.
Beberapa perbedaan mencolok antara teori modern dengan teori klasik adalah sebagai berikut.
1. Teori klasik menitikberatkan pada analisis dan deskripsi, sementara teori modern menekankan pada keterpaduan dan perancangan secara menyeluruh.
2. Teori klasik terfokus pada konsep, skalar, dan hubungan vertikal, sementara teori modern cenderung horizontal, dinamis, dan multidimensi.
2.6 Disiplin Kerja dalam Organisasi
Disiplin diperlukan baik untuk pribadi diri kita sendiri, maupun rekan kerja dalam organisasi. Sehingga akan tercipta suasana yang sangat baik dan mendukung satu sama lain di organisasi. Disiplin bukan hanya sekedar patuh. Disiplin bukan berarti hanya mematuhi peraturan organisasi, datang tepat waktu, atau menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tapi lebih jauh lagi adalah kesadaran untuk melakukan segala sesuatu dengan target, menjaganya agar tetap berada pada jalurnya dan tetap sejalan dengan visi dan misi organisasi di mana kita bekerja.
Dalam hal ini ada beberapa hal yang dapat kita lakukan :
1. Targeting & Planning
2. Finished Your Job
3. Corporate Look
4. On Time
5. Be Organized
6. Be Honest

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Disiplin kerja sangat penting digunakan sebagai arahan untuk membentuk dan melatih seseorang melakukan sesuatu menjadi baik, dan merupakan proses untuk menumbuhkan perasaan seseorang dalam mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi secara objektif melalui kepatuhannya manjalankan peraturan organisasi.
Koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera diatasi dan dilakukan oleh semua komponen yang terlibat dalam organisasi. Karena melemahnya disiplin kerja dalam organisasi akan secara langsung mempengaruhi moral pegawai maupun terhadap pelayanan yang diberikan.
Sanksi indisipliner dilakukan untuk mengarahkan dan memperbaiki perilaku pegawai dan bukan untuk menyakiti, oleh karena itu harus dilakukan secara adil dan bijaksana.
3.2 Saran
Adapun yang dapat disarankan dalam kedisiplinan dalam berorganisasi itu adalah sebagai berikut :
1. Sebagai pemimpin organisasi, jadi diharapkan kedisiplin pemimpin baru akan menumbuhkan rasa kedisiplinan kepada staf pegawai atau pera pengajar di organisasi pendidikan tersebut
Hanya ini yang saya dapat simpulkan bahwa kedisiplin dalam organisasi itu akan tumbuh dan akan terlaksana jika pemimpin dalam organisasi tersebut lebih disiplin terhadap waktu dan tugasnya maka akan menumbuhkan rasa kedisiplinan kepada pegawai atau kepada staf pengajar lainnya dan akan menumbuhkan suatu organisasi yang lebih efektif.

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong , M. (1991) A Hand Book on personnel Management Practice ( 4th ed), London Hogan Page.

Marriner,A.T. (1995) ,Nursing Management and Leadership ( 5th ed), Mosby St Louis, Baltimore.

Hastings,J. (1999), Discipline At Workpart One of The Informal Process, Nursing Management, 6 (5), 20-23

http://skripsiakuntansi.com/skripsi-manajemen/pengaruh-budaya-organisasi-terhadap-disiplin-kerja-studi-kasus-pada-kantor-kesekretariatan-pemerintah-kota-blitar/

http://www.anneahira.com/teori-organisasi.htm

http://www.yousaytoo.com/pengertian-organisasi/146689

http://www.pdfchaser.com/DISIPLIN-KERJA.html#

http://www.pdfchaser.com/Kepemimpinan-Dalam-Organisasi.html#

http://www.pdfchaser.com/PENGARUH-SEMANGAT-KERJA,-DAN-DISIPLIN-KERJA-TERHADAP-PRODUKTIVITAS-….html#

http://www.sabda.org/lead/disiplin_kepemimpinan

http://www.skripsi-tesis.com/06/15/analisis-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-minat-dan-perilaku-membeli-konsumen-studi-kasus-pada-pt-ultrajaya-pdf-doc.htm

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada Rasulullah SAW serta sahabat dan keluarga beliau sekalian dengan segala kebaikan Beliau yang telah membawa kits dari Alam Jahiliyah kepada Alam Islamiayh dan dari Alam yang penuh Kebiadaban kepada Alam yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan. Dalam makalah ini yang berjudul “Disiplin dalam Organisasi” yang ditulis dengan segenap kemampuan yang terbatas dan sederhana mungkin.
Terima kasih yang tidak terhingga kepada Dosen Pembimbing dan seluruh pihak yang telah ikut berpatisipasi dalam penyelesaian makalah ini. Dengan selesainya penyusunan makalah ini, saya berharap agar makalah ini dapat dikritik yang membangun dan hasilnya dapat bermanfaat bagi kami dan orang lain.

Banda Aceh, 1 Februari 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3

BAB II PEMBAHASAN 5
2.1 Pengertian Disiplin Dalam Organisasi 5

2.2 Prinsip-prinsip disiplin 6

2.3 Tujuan disiplin dalam organisasi 8
2.4 Tindakan Disiplin dalam Organisasi 8
2.5 Teori-Teori Organisasi 9
2.6 Disiplin Kerja Dalam Organisasi 14

BAB III PENUTUP 15
3.1 Kesimpulan 15
3.2 Saran 15

DAFTAR PUSTAKA 17

Makalah :
“DISIPLIN DALAM ORGANISASI”

DI

S
U
S
U
N

OLEH :

Nama : SUZANNI
NIM : 1009200050117
Ruang : Reguler A3

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SYIAH KUALA
PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
BANDA ACEH
2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *