BAB XX
DISABILITAS DAN REHABILITASI

TUJUAN BELAJAR

TUJUAN KOGNITIF
Setelah membaca bab ini dengan seksama, maka Anda sudah akan dapat :
1. Mengetahui disabilitas pada Lanjut Usia.
1.1 Menyatakan kembali definisi disabilitas.
1.2 Menyebutkan faktor penyebab disabilitas.
1.3 Menyebutkan pencegahan disabilitas.
2. Mengetahui rehabilitasi medik pada Lanjut Usia.
2.1 Menyebutkan program rehabilitasi medik.
2.2 Menjelaskan cara pemeriksaan rehabilitasi medik.
2.3 Menyebutkan cara penatalaksanaan rehabilitasi medik.

TUJUAN AFEKTIF
Setelah membaca bab ini dengan penuh perhatian, maka penulis mengharapkan anda sudah akan dapat :
1. Mencegah terjadinya disabilitas pada Lanjut Usia.
2. Menunjukkan perhatian yang lebih dalam penatalaksanaan rehabilitasi medik pada Lanjut Usia.
3. Menciptakan hidup yang berguna bagi Lanjut Usia dengan melaksanakan rehabilitasi medik.

I. PENDAHULUAN
Dewasa ini dengan kemajuan teknologi yang pesat menjadikan kehidupan jauh lebih baik sehingga harapan hidup pun lebih terjamin. Dengan bertambah panjangnya periode lanjut usia yang disertai dengan berbagai keadaan patologis, mereka menganggap bahwa menjadi tua merupakan keadaan yang dapat mengurangi kualitas hidup dan mereka mengganggap hal tersebut adalah biasa. Tetapi para profesional di bidang kesehatan jelas tidak mau ditundukkan dengan anggapan ini. Menjadi tua jelas tidak identik dengan berbagai keadaan patologis yang pada akhirnya membuat kualitas hidup menurun sehingga membuat hidup hanya menjadi “sekedar hidup” saja.
Menurunnya kualitas hidup disebabkan oleh disabilitas, yaitu hilangnya kemampuan organ-organ tubuh manusia untuk dapat berfungsi secara normal atau dapat dikatakan sebagai kelemahan dalam menjalankan aktivitas normal yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada periode lanjut usia terdapat keadaan disabilitas disertai gangguan fisiologis yang bersifat kronis, penurunan sosial, ekonomi dan psikis.

II.PROBLEMATIKA PADA PERIODE LANSIA
Pada periode lanjut usia, hampir semua sistem dan fungsi tubuh akan mengalami perubahan. Perubahan ini merupakan perubahan yang memang seharusnya terjadi karena proses bertambahnya usia (proses degenerasi yang fisiologis) atau perubahan yang diakibatkan oleh proses-proses patologis. Umumnya perubahan ini tidak berjalan dengan sendirinya sehingga sulit untuk mengklasifikasikan apakah perubahan tersebut yang terjadi secara murni, disebabkan oleh keadaan fisiologis atau patologis sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan oleh berbagai hal yang saling berkaitan dan saling menguatkan (multikausal).
Perubahan-perubahan yang terjadi secara umum antara lain, sebagai berikut :
1. Sistem Kardiovaskular
Terjadi penyempitan dari pembuluh darah jantung yang mengakibatkan jantung tidak dapat memompa darah secara adekuat ke seluruh jaringan tubuh, atau dapat dikatakan bertambahnya kontraksi jantung untuk mencapai hasil yang adekuat, yang fungsinya sebagai pompa darah (blood pump). Sehingga timbullah gangguan seperti: arteriosklerosis, aritmia jantung, payah jantung sampai kegagalan fungsi jantung (cardiac failure).
2. Sistem Respirasi
Perubahan pada sistem respirasi sangat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan eksogen di luar tubuh manusia itu sendiri. Kualitas udara yang buruk dan kebiasaan merokok yang dilakukan selama puluhan tahun jelas dapat mengiritasi saluran pernafasan. Penurunan elastisitas jaringan dan otot seiring dengan bertambahnya usia yang dikenal sebagai Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang sering ditemukan pada kelompok lanjut usia.
3. Sistem Genitourinaria
Pada wanita lanjut usia umumnya lebih kompleks, dimana keadaan inkontinensia urin sering terjadi, hal ini dikarenakan melemahnya otot-otot dasar panggul yang disebabkan oleh paritas yang tinggi. Pada pria lanjut usia pembesaran kelenjar prostat (hiperplasia kelenjar prostat) menjadi ancaman yang menyebabkan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari karena keadaan retensi urin.
4. Sistem Indera
Banyak kelompok lanjut usia yang mengalami gangguan panca indera karena faktor umum yang semakin bertambah (proses degenerasi). Pada mata sering terjadi katarak, pada telinga terjadi gangguan presbikusis, dan pada indera pengecapan terjadi penurunan fungsi papilla lidah yang menyebabkan penurunan fungsi pengecapan demikian juga yang terjadi pada indera peraba.
5. Sistem Muskuloskeletal
Melemahnya otot-otot menjadi hal yang umum pada kelompok lanjut usia. Hal tersebut disebabkan terjadinya penurunan 20%-30% kekuatan otot pada usia 60 tahun, namun mekanismenya belum diketahui secara pasti tetapi didapatkan juga pengurangan unit motorik otot, ukuran serabut otot mengecil dan jumlah miofibril dari otot juga berkurang. Pada lanjut usia yang tidak melakukan latihan fisik didapatkan pengurangan kekuatan otot yang terjadi dengan sangat cepat disertai juga dengan penurunan fungsi syaraf. Demikian juga gangguan-gangguan pada persendian seperti arthritis rheumatoid atau serangan gout yang secara umum mengurangi fungsi persendian itu sendiri.
6. Sistem Imunologi
Pada lanjut usia terjadi penurunan daya tahan (imunitas) tubuh sehingga mudah diserang oleh penyakit-penyakit infeksi. Keadaan ini membuat masa penyembuhan penyakit menjadi lebih lama.
7. Keadaan-keadaan Lain
Keadaan lain yang juga kerap terjadi pada kelompok lanjut usia adalah gangguan fungsi kognitif yang disebabkan oleh alzheimer dan demensia. Depresi karena rasa kesepian di masa tua juga sering menjadi penyebab lanjut usia kurang aktif dan menyendiri dalam keseharian hidupnya, yang pada jangka panjang menyebabkan gangguan fisik pada lanjut usia.
ASEAN Teaching Seminar On Psychogeriatric problems menambahkan hal-hal lain yang menjadi problem pada kelompok lanjut usia, yaitu:
1. Problem berkaitan dengan organobiologi, seperti keadaan demensia, gangguan fungsi afektif, insomnia dan diabetes melitus.
2. Problem berkaitan dengan psikoedukatif, seperti adanya rasa kesepian, rasa kehilangan dan apatis serta perasaan bahwa dirinya sudah tidak berguna lagi.
3. Problem yang berkaitan dengan sosioekonomi dan budaya, seperi kesulitan dalam hal keuangan, tidak mempunyai rumah sendiri dan problem dengan keluarga.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada kelompok lanjut usia di atas menimbulkan berbagai masalah pada keseharian hidup pada lanjut usia. Berbagai masalah di atas menjadi penyebab dari disabilitas pada kelompok lanjut usia yang akhirnya terjadinya penurunan kualitas hidup lanjut usia. Dapat juga dikatakan sebagai upaya profesional di bidang kesehatan untuk mengidentifikasikan masalah (dalam hal ini masalah disabilitas), dan merehabilitasi hingga mengurangi keadaan yang memberatkan lanjut usia dan mengupayakan perawatan berkelanjutan hingga tidak jatuh dalam masalah yang sama.

III. FAKTOR-FAKTOR RESIKO DISABILITAS
Kublir Thind, MD dalam “Disability and Rehabilitation” menyatakan bahwa faktor usia saja tanpa disertai faktor-faktor lainnya yang menyebabkan keadaan disabilitas adalah jarang dan hal inilah yang menjadi tugas para profesional dibidang kesehatan (dokter) untuk mengidentifikasikan secara mendalam dan penyebab pasti dari disabilitas pada kelompok lanjut usia sebelumnya dapat mengatakan bahwa disabilitas yang terjadi merupakan penyebab alamiah yang disebabkan oleh bertambahnya umur seseorang.
Faktor-faktor resiko terjadinya disabilitas adalah penurunan kondisi fisik seseorang yang biasanya terjadi setelah istirahat total yang panjang akibat suatu penyakit, seperti istirahat total setelah mengalami serangan apoplexia cerebri sangunia (stroke), cardiac failure atau selepas operasi besar (pengangkatan keganasan pada saluran cerna, reparasi tulang belakang). Penyakit-penyakit seperti penyakit paru obstruktif kronik, arthritis, demensia senilis, paralisis, kegagalan fungsi jantung, malnutrisi dan kehilangan panca indera dapat memperbesar resiko seseorang jatuh dalam keadaan disabilitas.
Sering faktor-faktor sosial juga menjadi penyebab keadaan disabilitas. Keadaan cemas menghadapi kehidupan yang berbeda di hari tua, depresi setelah pensiun atau tidak bekerja lagi, perasaan tidak berharga dan tidak berguna dan isolasi dari lingkungan sekitar juga dapat memperbesar seorang lanjut usia jatuh dalam keadaan disabilitas walau kenyataannya tidak didapati adanya gangguan fisik.

IV. MENCEGAH DISABILITAS
Hal yang paling utama saat seorang profesional di bidang kesehatan menghadapi pasien dengan disabilitas, adalah bagaimana caranya agar disabilitas tidak menjadi bertambah berat derajatnya. Lebih baik lagi jika disabilitas dapat dicegah, karena memang itulah “pengobatan” terbaik bagi disabilitas. Dalam keadaan patologis akut yang menyebabkan ketidakmampuan fungsi tubuh, maka perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:
1. Keadaan Umum
Nutrisi yang tepat perlu diberikan untuk memperbaiki keadaan-keadaan yang berkaitan dengan malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan elektrolit. Diet yang teratur dan pemberian cairan yang cukup akan menghindarkan pasien jatuh dalam keadaan dehidrasi.
Pasien dan keluarga perlu diperingatkan mengenai kemungkinan buruk sebagai dampak dari disabilitas tersebut. Jika beristirahat di tempat tidur dan ekstremitas dapat digerakkan maka sedapat mungkin melatih pergerakan ekstremitas agar terhindar dari resiko hipotrofi otot atau kontraktur. Orang-orang di sekitar pasien perlu diingatkan untuk memotivasi pasien yang sedang istirahat di tempat tidur untuk melakukan aktivitas fisik ringan tanpa menggerakkan bagian tubuh yang memang harus diistirahatkan, sebagai contoh dapat dilakukan latihan isometrik otot. Istirahat total tidak perlu dilakukan kecuali benar-benar diperlukan.
Untuk menghindari ketergantungan (dependency), pasien harus melakukan aktivitas sehari-hari sampai batas-batas yang memang dapat ditoleransi oleh tubuh seorang lanjut usia.
2. Kegiatan Sosial dan Intelektual
Mendorong pasien untuk bertemu dengan orang-orang di sekitarnya, berbicara dengan mereka, melakukan aktifitas bersama-sama dan menikmati kegiatan tersebut menjadi salah satu pencegahan dari keadaan disabilitas. Kegiatan-kegiatan yang sederhana seperti halnya diatas dapat bermanfaat dan dapat dilakukan bersama-sama untuk mencegah penurunan daya intelektual yang cepat. Kegiatan-kegiatan seperti bermain catur, monopoli, bridge, scrabble, mengisi teka-teki silang ataupun membaca koran merupakan kegiatan sederhana namun bermanfaat bagi kehidupan seorang lanjut usia.
3. Latihan Teratur Mencegah Disabilitas
Program latihan harus disesuaikan pada masing-masing individu sesuai dengan kondisi umum dan tingkat disabilitasnya. Pasien yang sudah sembuh dari sakit yang akut namun masih terikat, tidak diperbolehkan untuk melakukan latihan (exercise) yang berat, pasien harus diperingatkan akan resiko-resikonya. Namun latihan yang progesif pun harus dipikirkan pada pasien lanjut usia yang keadaannya semakin membaik.
Terdapat banyak latihan yang cocok untuk seorang lanjut usia, tetapi jalan cepat adalah jenis latihan yang paling dianjurkan. Latihan jalan cepat ini lebih aman dan mudah untuk dilakukan oleh seorang lanjut usia.
Salah satu prinsip latihan yang baik dan bermanfaat adalah berlatih mulai dari tingkat yang teringan dan semakin lama ditingkatkan yang harus dilakukan secara teratur. Apapun bentuk latihan yang dipilih, latihan tersebut harus dilakukan setidaknya 3 kali seminggu, lebih baik lagi jika dapat dilakukan 4 atau 5 kali seminggu.
Manfaat latihan yang teratur dapat meningkatkan densitas mineral tulang, menurunkan konsentrasi low density lipoprotein (LDL) dan menaikkan high density lipoprotein (HDL) dan yang umum diketahui masyarakat adalah menurunkan berat badan bagi seorang lanjut usia yang mengalami obesitas.

V. PENGANTAR REHABILITASI
Secara singkat dapat dikatakan bahwa proses rehabilitasi pada kelompok lanjut usia terdiri dari evaluasi terhadap pasien, formula dari tujuan-tujuan fungsional dan rencana perawatan yang disertai dengan perkiraan waktu dalam mencapai tujuan. Rehabilitasi dimulai oleh tim medik yang terdiri dari dokter, psikolog, fisioterapis dan perawat yang bekerja bersama-sama. Pasien sedapat mungkin di ikutsertakan dalam setiap pengambilan keputusan. Selalu harus diingat untuk mengutamakan keselamatan dalam setiap fase-fase terapi dalam rehabilitasi ini hingga tidak terjadi keadaan yang justru bertambah buruk selepas dari proses rehabilitasi.
Masalah yang umum terjadi pada tahapan rehabilitasi ini adalah proses ini cenderung masih dilakukan dengan pendekatan fisik dan aturan rumah yang kaku, misalnya pasien harus mandi, makan dan tidur pada waktu yang sama sesuai dengan aturan rumah sakit dan penyelesaian suatu tugas menjadi tujuan perawatan. Tindakan-tindakan yang dilakukan juga cenderung sama dan rutin pada semua pasien rawat tanpa melihat dan menilai status fungsional pasien. Hal ini menyebabkan pasien yang pada awalnya mandiri menjadi berkurang kemandiriannya dan menjadi tergantung pada lingkungan sekitarnya sedangkan bagi mereka yang justru membutuhkan pertolongan justru dibiarkan mandiri, seperti pada mereka yang mengalami instabilitas justru dibiarkan pergi sendiri ke kamar mandi sehingga terjatuh dan mengalami fraktur.
Jadi dalam hal ini diperlukan asuhan keperawatan dan upaya rehabilitasi yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan pasien geriatri. Perlu diingat bahwa proses penuaan atau penurunan fungsional tubuh berbeda untuk tiap individu.

VI. PELAKSANAAN REHABILITASI MEDIK
Program rehabilitasi medik pada lanjut usia membutuhkan perhatian khusus karena selain dari keadaan disabilitasnya terdapat juga hal-hal lain yang terjadi yang disebabkan oleh bertambahnya usia seperti rawan terhadap pengobatan farmakologis, perubahan kepribadian karena bertambahnya usia dan pada beberapa keadaan di dapatkan adanya kesulitan bersosialisasi dengan tenaga medis yang umumnya berusia lebih muda. Sehingga dalam melakukan program rehabilitasi medik perlu diketahui kondisi lanjut usia terutama seperti yang telah ditekankan di atas mengenai status fungsionalnya. Karena tujuan dari rehabilitasi medik adalah mempertahankan atau jika mungkin memperbaiki status fungsional lanjut usia. Diharapkan selepas rehabilitasi medik ini, seorang lanjut usia mempunyai status fungsional yang cukup mandiri hingga dapat menjalani kehidupan dengan baik. Hingga terdapat tahapan-tahapan dalam rehabilitasi medik yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tahapan Evaluasi Fungsional
Pemeriksaan kemampuan fungsional merupakan proses untuk mengetahui kemampuan seorang lanjut usia dalam melakukan aktivitas sehari-hari atau waktu senggangnya yang berintegrasi dengan lingkungan sekitarnya.
Cara yang sederhana namun bermakna adalah dengan Functional Assessment Instrument oleh Katz. Dengan metode ini dapat digolongkan kemandirian pada seorang lanjut usia. Evaluasi dengan metode ini dapat dilakukan oleh tim medis yaitu dokter, psikolog, fisioterapis ataupun perawat geriati. Adapun parameter yang dinilai pada metode ini adalah aktivitas mandi (bathing), berpakaian (dressing), aktivitas saat defekasi atau mictio (toileting sekaligus continence), berpindah tempat (transferring) dan aktivitas makan (feeding).
Selain dari metode Katz (Indeks Katz) seperti tersebut di atas, metode lain dapat digunakan. Salah satunya adalah Indeks Barthel ADL (Activity of Daily Living) dan Indeks Barthel yang dimodifikasi.
Evaluasi lain dapat dilakukan dengan metode yang dikenal sebagai Timed Manual Performance (TMP). Tujuan test ini adalah membuat prognosis mengenai keadaan seorang lanjut usia, apakah memerlukan perawatan jangka panjang dalam 1 tahun ke depan.
Test ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 15 menit yang dibagi dalam 2 bagian besar, yaitu :
1. Membuka dan menutup kunci pintu.
Dilakukan pada sebuah papan berukuran 2 x 3 feet yang berisi 9 macam bentuk kunci. Sebelumnya pasien diberi contoh dahulu bagaimana membuka dan mengunci kunci-kunci tersebut. Setelah dijelaskan dan pasien merasa jelas maka dipersilahkan pasien melakukan hal yang sama yaitu membuka dan mengunci kunci-kunci tersebut. Hitung waktu yang dihabiskan mulai dari penguji memberikan aba-aba mulai, pasien membuka kunci sampai akhirnya pasien mengunci kembali kunci-kunci tersebut.
2. Simulasi kegiatan sehari-hari, baik dengan tangan yang dominan ataupun tidak dominan.
Kegiatan yang dinilai adalah menulis kata yang pendek, membalikkan kartu, mengambil 2 klip kertas, uang logam berukuran kecil, tutup botol dan memasukkan ke dalam boks, juga memindahkan 4 buah kacang tanah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan menggunakan sendok. Hitung waktu yang diperlukan pasien dalam melakukan semua kegiatan tersebut.

Dalam mengukur kemampuan fungsional ini tim medis perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Kondisi fisik dan emosi pasien, misalnya pasien yang baru masuk rumah sakit maka kondisi fisik dan emosinya masih labil.
2. Adanya peraturan dari lingkungannya, misalnya pasien yang tinggal di panti yang mengharuskan pasien dimandikan.
3. Motivasi dari pasien sendiri.
Status fungsional yang telah tim medis nilai dapat digunakan untuk menentukan rehabilitasi apa yang dibutuhkan, bagaimana pasien keadaan saat ini dan prognosis dari pasien itu sendiri. Jika pada pasien berusia muda, dimana yang lebih ditekankan adalah prognosis yang berkaitan dengan ad vitam (kehidupan) dan ad sanationam (perjalanan penyakit) maka pada pasien lanjut usia yang lebih ditekankan adalah pada ad functionam (fungsi tubuh), yaitu apakah pasien lanjut usia ini dapat mempertahankan status fungsionam yang mandiri atau tidak.

2. Tahap Evaluasi Medik
Tahap selanjutnya setelah mendapatkan status fungsional pasien lanjut usia adalah melakukan evaluasi medik. Evaluasi medik yang dilakukan mencakup:
1. Memperhatikan segala pengobatan untuk menentukan pengobatan apa saja yang dapat memperbaiki status fungsional pasien lanjut usia.
2. Memperhatikan data-data medis pasien berkenaan dengan gangguan fungsi yang terjadi, lama dari gangguan fungsi tersebut dan mekanisme adaptasi dari pasien terhadap gangguan fungsi yang dialaminya.
3. Menentukan dampak dan efek samping dari pengobatan terhadap kondisi pasien.
4. Melakukan pemeriksaan kardiologi, muskuloskeletal dan saraf yang komprehensif untuk menindaklanjuti (follow up) terapi yang telah dilakukan. Hal ini sebagai bahan evaluasi tim medis apakah terapi yang telah diberikan dapat diteruskan atau dihentikan karena dianggap terapi tersebut tidak bermanfaat bagi pasien lanjut usia.
Secara komprehensif tahap evaluasi medik ini pasien lanjut usia akan mendapatkan beberapa tahap pemeriksaan, yaitu:
2.A. Pemeriksaan Fungsi Motorik.
Pemeriksaan fungsi motorik meliputi pemeriksaan kekuatan otot, tonus otot, luas gerak sendi, pola jalan dan koordinasi. Dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Kekuatan Otot
Pemeriksaan kekuatan otot secara sederhana menggunakan metode manual muscle testing (MMT). Dengan pemeriksaan ini maka diharapkan diketahui kekuatan mengkontraksikan otot secara volunter. Syarat dari pemeriksaan ini adalah pasien lanjut usia mampu mengkontraksikan ototnya secara aktif dan volunter. Prosedur atau langkah-langkah pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
a. Pasien lanjut usia di posisikan sedemikian rupa hingga otot mudah berkontraksi dan mudah bagi pemeriksa untuk mengobservasinya.
b. Berikan contoh gerakan hingga pemeriksa yakin bahwa pasien mengerti apa yang harus dilakukan.
c. Saat pasien mengkontraksikan ototnya, pemeriksa menstabilisasikan bagian proksimalnya.
d. Gerakan otot diobservasi, dipalpasi dan jika memungkinkan berikan tahanan yang melawan gravitasi pada otot tersebut.

Pemeriksaan ini harus disesuaikan dengan keadaan pasien. Penggunaan tahanan maksimal pada lanjut usia harus memperhatikan sistem kardiovaskular, pernafasan dan muskuloskeletal. Pemeriksa juga harus memperhatikan adanya hambatan pergerakan otot seperti adanya nyeri, kontaktur dan spasme.

2. Pemeriksaan Tonus Otot
Tonus otot adalah ketegangan minimal suatu otot dalam keadaan istirahat. Dapat diperiksa dengan 2 cara yaitu palpasi otot dan gerakan pasif. Pada palpasi otot, selain melakukan palpasi pemeriksa rasakan juga apakah tonus otot dalam keadaan isotonus, hipotonus atau hipertonus. Dan pada gerakan pasif, otot digerakkan berulang-ulang dengan tempo yang cepat, pada saat demikian pemeriksa rasakan apakah otot dalam keadaan isotonus, hipotonus atau hipertonus.

3. Pemeriksaan Luas Gerak Sendi
Luas gerak sendi (LGS) merupakan luas gerak yang dapat dilakukan oleh persendian. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah mengetahui pergerakan sendi yang dapat dilakukan secara maksimum yang dibandingkan dengan persendian yang normal. Pemeriksa harus mempertimbangkan keadaan Lanjut Usia yang dapat menghambat gerakan sendi seperti adanya nyeri, spasme atau perlengketan jaringan.

4. Pemeriksaan Postur Tubuh (gambar 4-22)
Pemeriksaan postur tubuh ini dilakukan dengan cara berdiri. Pada posisi tersebut, postur yang normal akan terlihat. Dari samping akan terlihat dari mulai superior ke inferior adalah kepala, telinga, akromion, patella posterior dan maleolus lateralis dalam suatu garis lurus.

5. Pemeriksaan Pola Jalan (gambar 4-23)
Berjalan adalah aplikasi langsung dari fungsi-fungsi pergerakan otot dan sendi karena berjalan memerlukan koordinasi yang melibatkan otot, persendian dan sistem neurologi. Keseimbangan, kekuatan dan fleksibitas diperlukan untuk mempertahankan postur berjalan yang baik.

Pada lanjut usia terdapat beberapa perubahan yang umum terjadi yaitu :
• Rigiditas umum pada anggota gerak atas yang melebihi anggota gerak bawah.
• Gerak otomatis seperti ayunan tangan saat berjalan menurun.
• Hilangnya kecepatan otot terutama otot pergerakan sendi panggul.
• Langkah menjadi lebih pendek agar merasa lebih aman.
• Penurunan perbandingan antara fase mengayun (swing phase) terhadap fase menumpu (stance phase), dan juga terjadi fase menumpuk pada kedua tungkai (double support phase) yang lebih lama.
Terdapat syarat yang seharusnya terpenuhi hingga pemeriksaan pola jalan dapat dilakukan dengan baik, yaitu:
• Lanjut usia sebaiknya menggunakan celana pendek dan tanpa alas kaki hingga tungkai dapat diobservasi dengan baik.
• Observasi dilakukan dari berbagai arah, dari depan, belakang samping kiri dan kanan.
• Saat berjalan, lanjut usia diusahakan berjalan dengan spontan sesuai dengan kemampuannya.
Setelah syarat-syarat tersebut di atas terpenuhi maka pemeriksa melakukan pengamatan yang teliti terhadap pola gerak lanjut usia. Pemeriksa melakukan langkah-langkah di bawah ini:
• Lanjut usia diminta berjalan dengan biasa. Selanjutnya observasi dan catat adakah ayunan lengan, apakah irama dan kecepatan gerak berlangsung dengan baik, apakah saat menumpu dan mengayun tungkai kanan dan kiri seimbang dan apakah terjadi perubahan ekspresi wajah pada lanjut usia.
• Pada tahap selanjutnya pemeriksa lebih memfokuskan pada fase menumpu dan fase mengayun (accelerating, mid swing, deceleration).
Interpretasi dari pengamatan yang dilakukan pemeriksa adalah sebagai berikut:
• Ekspresi wajah yang berubah seperti orang yang kesakitan saat fase menumpu menunjukkan adanya nyeri pada persendian. Bila terjadi pada fase mengayun kemungkinan nyeri berasal dari otot atau jaringan di sekitar persendian.
• Berjalan secara perlahan kemungkinan akibat adanya pemendekan otot atau penurunan luas sendi.
• Adanya peleburan bidang tumpu yang mungkin disebabkan adanya gangguan keseimbangan.
• Fase menumpu yang berlangsung cepat mungkin diakibatkan adanya nyeri pada persendian atau kerusakan pada persendian.
• Fase mengayun yang memendek kemungkinan disebabkan adanya penurunan kekuatan otot, keterbatasan luas gerak sendi serta adanya nyeri pada otot.

2.B. Pemeriksaan Fungsi Sensorik
Terdapat 2 pengujian pada pemeriksaan fungsi sensorik pada pasien lanjut usia yaitu pemeriksaan sensasi protektif dan pemeriksaan sensasi diskriminatif.
1. Pemeriksaan Sensasi Protektif
Dilakukan lebih dahulu karena sensasi protektif adalah sensasi yang melindungi tubuh dari keadaan bahaya. Sensasi protektif meliputi rasa nyeri, merasakan suhu dan sentuhan ringan. Jika sensasi ini terganggu kemungkinan besar sensasi diskriminatif juga turut terganggu.
2. Pemeriksaan Sensasi Diskriminatif
Pemeriksaan ini memfokuskan apakah seorang lanjut usia masih dapat membedakan dua buah stimulus yang diberikan spontan. Lanjut usia diminta membedakan apakah stimulus nyeri tersebut berasal dari satu ujung jarum atau dua buah ujung jarum.

2.C. Pemeriksaan Fungsi Sensomotorik
Terdapat 2 hal yang dapat dinilai dalam tahap pemeriksaan ini yaitu koordinasi dan keseimbangan pasien lanjut usia. Pemeriksaan meliputi 2 tahap yaitu tahap pemeriksaan non ekuilibrium dan pemeriksaan ekuilibrium.
1. Pemeriksaan Non Ekuilibrium
Pada pemeriksaan ini yang dinilai adalah koordinasi dari gerakan volunter pasien dan kesadaran mengenai letak tubuh dari pasien itu sendiri. Pemeriksaan meliputi beberapa tahapan yaitu:
• Finger to nose testing. Lanjut usia diminta menyentuh ujung hidung dengan ujung jari telunjuk mula-mula dengan mata terbuka kemudian dengan mata tertutup.
• Finger to finger test. Lanjut usia dan pemeriksa duduk berhadapan, Lanjut Usia diminta menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke ujung jari telunjuk pemeriksa.
• Jari ke jari pasien. Lanjut usia diminta menyentuhkan ujung jari telunjuk kiri/kanan ke ujung jari telunjuk kontralateral.
• Menyentuh ujung jari telunjuk kiri/kanan bergantian, mula-mula ke hidung pasien kemudian ke ujung jari telunjuk kontralateral.
• Gerak oposisi jari tangan. Lanjut usia menyentuhkan ujung ibu jari ke masing-masing ujung jari unilateral.
• Lanjut usia diminta membuka dan menggerakkan jemarinya dengan cepat.
• Pronasi dan supinasi. Lanjut usia diminta memutar kedua lengan bawahnya sehingga telapak tangan menghadap ke atas dan bawah secara bergantian dengan cepat.
• Rebound test. Lanjut usia memfleksikan siku 90o kemudian pemeriksaan memberikan tahanan pada lengan atas dan secara tiba-tiba melepaskan tahanan. Perhatikan apakah lanjut usia dapat menahan lengan atas saat menahan tahanan dari pemeriksa yang kemudian diikuti oleh menahan kestabilan dari lengan atas saat tahanan dari pemeriksa dihilangkan secara tiba-tiba.
• Tepuk tangan. Lanjut usia diminta menepukkan telapak tangan ke meja tanpa mengangkat pergelangan tangan.
• Tepuk kaki. Lanjut usia diminta mengetukkan telapak kaki ke lantai tanpa mengangkat tumit dari lantai.
• Lanjut usia diminta menggerakkan tumit ke lutut kontralateral dan tumit ke jari-jari kaki kontralateral secara bergantian.

2. Pemeriksaan Ekuilibrium
Pada dasarnya, pemeriksaan inipun hampir sama dengan pemeriksaan non ekuilibrium, namun pada pemeriksaan ini selain dinilai koordinasi dinilai juga keseimbangan dari pasien lanjut usia. Jika pada pemeriksaan pertama posisi pasien adalah statis maka pada pemeriksaan ini posisi pasien adalah dinamis, yaitu dalam keadaan berjalan atau berdiri.
Pemeriksaan meliputi:
• Berdiri dengan postur normal.
• Berdiri dengan postur normal dan mata tertutup.
• Berdiri dengan kaki rapat.
• Berdiri dengan satu kaki.
• Berdiri dan memfleksikan tubuh kemudian lateral fleksi tubuh ke kiri dan kanan.
• Berjalan dengan meletakkan satu tumit di depan jari kaki kontralateral.
• Berjalan pada garis lurus.
• Berjalan menyamping kemudian mundur.
• Berjalan pada lingkaran.

3. Tahap Evaluasi Sosial
Evaluasi ini berkenaan dengan tempat tinggal, orang-orang di sekitar pasien dan faktor finansial yang berkenaan dengan kehidupan seorang lanjut usia. Beberapa pertanyaan seperti di bawah ini dapat memberikan gambaran keadaan sosial dari seorang lanjut usia:
• Apakah ada kamar khusus untuk lanjut usia?
• Berapa jumlah ruang dalam rumah lanjut usia (jika memiliki rumah sendiri)?
• Apakah lanjut usia dapat masuk atau keluar sendiri dari rumahnya?
• Apakah lingkungan di sekitar rumah lanjut usia cukup aman?
• Apakah rumah tersebut memiliki ventilasi yang baik?
• Apakah ada tanda-tanda rumah kurang terurus (makanan basi di lemari makan, alat makan tidak tercuci, tumpukan pakaian kotor)?
• Apakah lanjut usia dapat mencari pertolongan (meraih telepon, pergi ke tetangga sebelah) jika sewaktu-waktu ada keadaan yang membahayakan?
• Apakah ada keadaan-keadaan yang membahayakan lanjut usia (kabel listrik telanjang, penyinaran yang kurang, karpet yang tidak rata)?
• Apakah ada hal-hal yang memudahkan lanjut usia untuk jatuh seperti tidak ada pegangan pada dinding rumah atau kamar mandi, permukaan lantai kamar mandi yang tergenang air dan licin, barang berserakkan di lantai, bahan atau peralatan dapur yang diletakkan tinggi hingga untuk menjangkaunya lanjut usia perlu naik ke kursi lebih dahulu, tidak terdapat pegangan pada tangga atau terdapatnya lumpur di halaman saat musim hujan.

VII. PROGRAM REHABILITASI MEDIK
Program rehabilitasi medik pada pasien lanjut usia sedikit berbeda pelaksanaannya dengan pasien yang lebih muda karena adanya keterbatasan fisik yang memang terjadi secara fisiologis pada pasien lanjut usia. Mengingat hal tersebut maka Kublir Thind, MD dalam artikelnya menekankan bahwa keselamatan pasien merupakan hal yang paling utama selama melakukan fase-fase terapi.
Adapun prinsip dasar penanganan rehabilitasi medik pada pasien lanjut usia adalah sebagai berikut:
1. Penanganan berdasarkan penyakit yang mendasari.
2. Hindari disabilitas sekunder atau komplikasi yang mungkin terjadi.
3. Menangani sedini mungkin disabilitas primer.
4. Menekankan pada kemandirian fungsional dengan cara meningkatkan kemampuan fungsional yang ada, menyediakan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan dan menyesuaikan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan.
5. Meningkatkan motivasi psikologis pada diri seorang lanjut usia.
6. Berikan dorongan untuk mobilisasi, bukan sebaliknya.
7. Cegah terjadinya isolasi secara sosial.
Program rehabilitasi medik yang diberikan pada pasien memerlukan kerjasama dari seorang dokter dengan tenaga medis yang lainnya seperti petugas fisioterapi, okupasiterapis, terapi wicara ataupun psikolog agar pelaksanaan program dapat memberikan hasil yang optimal bagi pasien.
Berikut ini merupakan program-program yang dapat diberikan kepada pasien lanjut usia, yang dapat diubah sesuai kondisi dan kebutuhan pasien setelah dievaluasi kemajuannya :
1. Program Fisioterapi
Menurut Jimmy Wales dalam Wikipedia Ensiklopedia, fisioterapi adalah salah satu bidang dalam kegiatan kesehatan yang menitikberatkan pada penetapan diagnosa dan penatalaksanaan terhadap disabilitas fisik. Kegiatan ini didasari oleh ilmu kedokteran modern. Secara singkat dapat dikatakan bahwa istilah ini pertama kali muncul dalam British Medical Journal pada tahun 1894, dimana pada tahun tersebut dibentuk asosiasi fisioterapi pertama oleh para perawat dan ibu rumah tangga biasa. Asosiasi ini dengan cepat menyebar ke koloni-koloni jajahan Inggris (commonwealth country) seperti Amerika Serikat, Canada, Australia dan New Zealand. Fisioterapi melonjak terutama setelah Perang Dunia Pertama (WW I) dengan unit rehabilitasi tulang belakangnya (spine rehabilitation). Setelah itu fisioterapi menjadi bagian dari ilmu kedokteran modern berbagai negara dengan berbagai asosiasinya.
Sri Surini P. dan Budi Utomo dalam bukunya “Fisioterapi Pada Lanjut Usia” menyebutkan bahwa pada umumnya lanjut usia di Indonesia umumnya lebih bahagia jika mereka masih dapat bekerja, dapat bergaul dengan leluasa dan mandiri. Hal tersebut membuat mereka mempunyai harga diri dan tidak membuat mereka sedih karena merasa tidak berguna lagi. Oleh sebab itu, fisioterapi pada seorang lanjut usia mempunyai tujuan untuk:
• Memperlambat proses penuaan.
• Mempertahankan kualitas hidup.
• Mempertahankan produktivitas hidup.
Prinsipnya terapi dimulai dari aktivitas fisik yang paling ringan sampai maksimal yang bisa dicapai oleh penderita lanjut usia secara bertahap. Dalam program ini dilakukan latihan gerak, latihan peregangan otot, latihan mobilisasi di tempat tidur. Terapi fisik ini mengajarkan pada pasien bagaimana menggunakan alat-alat bantu baginya seperti rotan, walkers, crutches dan kursi roda. Alat yang digunakan meliputi hidroterapi, traksi, diathermi dan stimulasi listrik. Beberapa program dalam fisioterapi akan dijabarkan di bawah ini :

1.A. Latihan Pencegahan Osteoporosis
Sudah dijelaskan pada bab tersendiri mengenai osteoporosis.

1.B. Teknik Peningkatan Kekuatan Otot
Latihan untuk meningkatkan kekuatan otot pada lanjut usia tidak bertujuan untuk mencapai kekuatan otot normal seperti pada usia muda namun agar mampu melakukan gerakan fungsional tanpa adanya hambatan.
Dalam buku “Fisioterapi Pada Lanjut Usia”, Sri Surini dan Budi Utomo menuliskan bahwa penuaan menyebabkan penurunan kekuatan otot rangka termasuk otot dasar panggul. Hal ini menyebabkan gangguan urogenital pada lanjut usia yang berkaitan erat dengan kelainan otot panggul atau kelemahan otot dasar panggul.
Fungsi otot dasar panggul adalah menjaga stabilisasi organ panggul, berkontraksi mengencangkan dan mengendorkan organ urogenital pada saat koitus, miksi ataupun defekasi.

Pada wanita dengan kelemahan otot dasar panggul maka kemampuan otot vagina dalam berkontraksi menjadi kurang kuat maka coitus dirasa kurang memuaskan. Tanda dan gejala kelainan otot dasar panggul adalah sebagai berikut:
1. Inkontinensia urin adalah keluarnya urin saat melakukan aktivitas yang meningkatkan tekanan intra abdominal seperti tertawa, batuk, bersin atau mengangkat benda berat.
2. Adanya tonjolan pada liang kemaluan berupa, sistokel atau rektokel.
Salah satu latihan untuk mengatasi kelemahan otot dasar panggul adalah latihan sederhana yang mampu dilakukan semua orang yang disebut sebagai Kegel’s Exercise.

Kegel’s exercise sangat mudah dilatih, dibawah ini adalah langkah-langkah dalam melakukannya :
1. Posisi duduk tegak pada kursi dengan panggul dan lutut tersokong dengan rileks.
2. Badan sedikit membungkuk dengan lengan menyangga paha.
3. Konsentrasikan kontraksi pada daerah vagina, uretra dan rectum, rasakan kontraksinya seakan-akan sedang menahan defekasi dan berkemih.
4. Pertahankan kontraksi sebatas kemampuan, paling tidak selama 10 detik.
5. Selanjutnya rileks.
6. Kontraksikan kembali otot dasar panggul, ingat yang dikontraksikan adalah otot dasar panggul bukan otot abdomen (jika anda melakukannya dengan menahan nafas berarti yang dikontraksikan adalah otot abdominal), tetap bernafas seperti biasa.
7. Rileks kembali.
8. Lakukan kontraksi dengan cepat dan beberapa kali. Pada latihan awal lakukan 3 kali pengulangan karena otot yang lemah akan mudah terasa lelah.
9. Jika sudah sering, coba lakukan kontraksi otot dasar panggul saat sedang tertawa, batuk, angkat benda berat atau bangun dari tempat tidur.
10. Tujuan akhir dari latihan ini adalah sepuluh kali kontraksi lambat dan cepat dengan tiap kontraksi lamanya adalah 10 detik. Lakukan 6 sampai 8 kali sehari.
11. Pada Lanjut Usia dapat diberikan instruksi yang mudah yaitu cobalah menahan aliran urine saat sedang berkemih sampai beberapa kali, pertahankan 3-5 detik kemudian rileks.
12. Lakukan latihan ini semenjak usia muda. Pertama untuk kehidupan seksual yang lebih baik dan kedua untuk mencegah kelemahan otot dasar panggul di saat lanjut usia.

1.C. Teknik Terapi Untuk Penderita Artritis
Dalam educational website dari National University Hospital yang memuat mengenai terapi radang sendi (terutama dalam cakupan fisioterapi) direkomendasikan untuk tetap berusaha menggerakkan persendian yang mengalami inflamasi agar pasien terhindar dari kekakuan sendi. Tahapan-tahapan dalam latihan persendian ini dijabarkan sebagai berikut:
1. Di Tempat Tidur
Pada saat keadaan akut dimana pasien lanjut usia tidak mampu untuk berdiri, lebih baik untuk tetap di tempat tidur, namun usahakan sit-up di tempat tidur. Pada awalnya pasien membutuhkan bantuan fisioterapis namun pada tahapan selanjutnya diharapkan pasien sudah dapat melakukannya sendiri.
2. Melatih Ekstremitas Bawah di Tempat Tidur
Walaupun pasien dalam keadaan disabilitas di tempat tidur tetap berikan motivasi untuk melatih persendian yang dapat digerakkan

NO KETERANGAN GAMBAR
1. Letakkan tungkai bawah dalam keadaan lurus, taruh handuk di bawah tendon achilles hingga tungkai bawah benar-benar dalam keadaan lurus.

2. Gerakan telapak kaki bawah seperti sedang menekan pedal gas mobil 10-20 kali setiap jam untuk memperlancar peredaran darah di bagian bawah.

3. Jika sudah dirasa mampu, dengan sangat perlahan coba fleksikan tungkai bawah 10-20 kali tiap satu jam.

4. Latihlah ini untuk menguatkan otot-otot di bagian anterior tungkai bawah. Ganjal handuk di bagian poplitea, naikan kaki secara perlahan ke atas dalam keadaan lurus, ulangi 10-20 kali tiap 1 jam.
5. Latihan terakhir bertujuan menguatkan otot paha dan gluteus. Kaki yang tidak digunakan difleksikan 90o, sedangkan kaki yang digunakan dilatih dengan diangkat lurus ke atas tanpa disangga handuk di daerah poplitea.

3. Latihan di Atas Kursi.
Jika sudah dapat duduk di atas kursi, maka mulailah berlatih. Pilihlah kursi yang agak tinggi hingga kaki dapat bergerak bebas. Gerakan kaki bergantian dalam gerakan fleksi ekstensi.

4. Latihan Berjalan.

1 2

Cobalah berdiri sendiri dengan satu tangan menumpu di ranjang sementara tangan lainnya memegang walking frame. Setelah berdiri tegak kemudian seimbangkan tubuh. Dengan bertumpu pada walking frame jika dirasa masih belum kuat.
3 4

Mulai langkahkan 1 kaki ke depan, sementara tetap bertumpu di walking frame.
Langkahkan 1 kaki lainnya dan kembali seimbangkan tubuh sebelum memulai langkah selanjutnya.

2. Terapi Okupational

Menurut American Occupational Therapy Association, terapi okupasional adalah terapi yang ditujukan agar seseorang yang mendapatkan terapi ini mempunyai kemandirian dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan aktivitas secara langsung dan tidak langsung yang membantu membiasakan seorang lanjut usia dalam menghadapi keterbatasan fisiknya. Yaitu dengan melatih makan dan minum sendiri, memakai baju sendiri, menyisir rambutnya sendiri, defekasi dan mictio sendiri serta membersihkan kamar atau lingkungan sekitarnya sendiri.
Flagstaff Medical Center merupakan salah satu pusat untuk terapi okupasional di Amerika Serikat yang meluaskan cakupan terapi ini dengan mengajarkan pasiennya berketerampilan bertukang seperti menggergaji, memperbaiki engsel pintu, memperbaiki kunci pintu dan keterampilan pertukangan lainnya. Menurut Flagstaff Medical Center, keterampilan pertukangan banyak memberi kemajuan bagi keadaan pasien secara keseluruhan.

3. Terapi Wicara
Terapi wicara adalah suatu usaha rehabilitasi terhadap gangguan fisik dan kognitif yang diakibatkan oleh kesulitan berkomunikasi secara verbal. Proses rehabilitasi ini mencakup rehabilitasi dalam hal berbicara (artikulasi, intonasi, kecepatan berbicara) dan bahasa (phonologi, penulisan dan membaca suatu hal). Dapat dilakukan pada pasien lanjut usia yang mengalami gangguan fungsi menelan dan berbicara yang diakibatkan melemahnya otot-otot laring.
Di Amerika Serikat, di mana hampir semua pelayanan kesehatan dibebankan pada perusahaan asuransi, maka pasien-pasien dengan gangguan neurologi atau penyakit degeneratif seperti Parkinson, dementia, keganasan pada kepala, leher dan tenggorokan memperoleh terapi tambahan berupa terapi wicara ini. Pembiayaan menjadi persoalan di Indonesia karena jenis terapi ini tidak dapat dilakukan secara massal karena tiap pasien mempunyai keadaan umum yang berbeda-beda, selain itu waktu terapi yang membutuhkan waktu yang cukup lama, dijadikan seolah-olah seorang terapis harus berkonsentrasi pada sedikit pasien saja.

4. Program Ortotik-Prostetik
Dalam program ini, tim medis mengevaluasi keadaan lingkungan dari seorang lanjut usia dan penggunaan alat-alat bantu yang dapat membantu aktifitas seorang lanjut usia, sebagai contoh adalah :
• Mengevaluasi kondisi kamar mandi dari segi bentuknya, diusahakan tidak ada sudut-sudut yang tajam dan pada lantai kamar mandi diberikan lapisan agar tidak menjadi licin. Selain itu perlu juga diberikan pegangan pada dinding kamar mandi.
• Mengevaluasi bentuk rumah, apakah perlu ditambahkan pegangan pada dinding (pararel bars), dan perlukah diberikan jalur untuk kursi roda pada tiap turunan agar tidak membahayakan saat seorang lanjut usia berjalan.
• Alat-alat bantu yang dapat diberikan pada seorang lanjut usia demi kemudahan dalam aktivitas sehari-hari seperti tongkat untuk berjalan, pararel bars untuk berpegangan dan sebagainya.

5. Program Psikotherapi
Dalam program ini seorang psikiater atau psikolog memperhatikan keadaan emosional pasien lanjut usia. Mungkin terdapat problem-problem psikis yang tersembunyi yang tidak dapat diutarakan oleh seorang lanjut usia secara terbuka. Tim Terapis dapat memberikan dorongan atau motivasi pada seorang lanjut usia untuk tetap melanjutkan program-program rehabilitasi walau dalam keadaan yang sulit.
6. Terapi Rekreasi
Terapi rekreasi adalah terapi dengan rawat inap untuk perawatan jangka panjang. Terapi rekreasi menetapkan pasien dalam kelompok-kelompok dan dalam kelompok tersebut pasien lanjut usia diajarkan untuk memelihara sosialisasi dan menstimulasi daya intelektualnya. Terapi ini juga bertujuan untuk meningkatkan performa fisik pasien secara keseluruhan.

VIII. KESIMPULAN
Perubahan-perubahan yang terjadi pada kelompok lanjut usia menimbulkan berbagai masalah pada keseharian hidup pada lanjut usia. Berbagai masalah yang terjadi menjadi penyebab dari disabilitas pada kelompok lanjut usia yang akhirnya terjadi penurunan kualitas hidup lanjut usia. Dapat juga sebagai upaya profesionalisme dalam bidang kesehatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah, merehabilitasi hingga mengurangi keadaan yang memberatkan lanjut usia dan mengupayakan perawatan berkelanjutan hingga tidak jatuh dalam masalah yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

Haussman Kathy, Analyzing Neurological Status, Resource Application Inc., Baltimore:1985

Hazzard, William R., et al. Principle of Geriatric Medicine and Gerontology 2nd ed., McGraw
Hill, 1990

Lumbantobing, neurology Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta: 2000

Panduan Diagnosis dan Pengelolaan Osteoporosis, Pengururs Besar Ikatan Reumatologii
Indonesia, Jakarta: 2005

Pudjiastuti S., et al., Fisioterapi Pada Lanjut Usia., EGC, Jakarta: 2002

R. Boedhi Darmojo, et al. Buku Ajar Geriatri. Jakarta: FK UI. 2000

http://en.wikipedia.org

info@disabilitymuseum.org

history.amedd.army

http://www.incontinet.com/articles/art_urin/roleofht.htm

http://www.rah.sa.gov.au/physio/physio9.php

http://www.siumed.edu/ob/muscles.html

wellnesspartners.comellnesspartners.com

http://www.blessinghospital.org/Health%20Services/speech.htm

http://www.chr.ab.ca/about_chr/services2.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *