Dialektika dalam filsafat pada mulanya merupakan metoda Tanya jawab untuk menjernihkan pikiran yang diajarkan Socrates. Kemudian dikembangkan oleh plato menjadi diskusi logika. Menurut plato dialektika mendapat kedudukan tertinggi dalam pembahasan filsafat.

Sebaliknya aristoteles mencabut kedudukan istimewa yang diberikan kepada dialektika, dengan mengubah metoda dialektika hanya merupakan tahap persiapan. Immanuel Kant menggap dialektika itu merupakan bayangan yang tidak dapat dielakkan, bukan pengetahuan sesungguhnya, sehingga dapat dikenal, mudah menghilangkan.

Hegel malah menggap dialektika itu sebagai jalan pemikiran yang dengan persetujuannya, tantangan dan penyimpulan sampai kepada kesatuan yang tertinggi. Karl marx mengambil dan menguatkan teori hegel dan menegakkanya dalam dialektika materialisnya walaupun sebenarnya hegel lbih mengarah kepada dialektika idealisme.

Dialektika dalam membicarakan sesuatu berhadapan dengan dua pandangan yang berlawan.
Pandangan pertama yang menganggap logis keputusan tersebut karena sesuai dengan undang-undang, merupakan “tesa”. Pandangan kedua yang menggap tidak logis dan tidak adil, merupakan “antitesa”. Maka dialektika memutuskan suatu “sintesa”.

Dalam pengertian biasa dialektika juga diartikan dengan kecakapan melakukan perdebatan yang kemudian dipakai komunis untuk menjatuhakan lawan dalam membenarkan ideologinya. Markines beranggapan bahwa logika itu merupakan lapangan berpikir statiska dan dialektika merupakan lapangan berpikir dinamika.
Dalam ijtihad Hukum Islam juga dipakai dialektika, tetapi dikawal oleh ilmu manthiq dan dikendalikan oleh lima iman sehingga menghasilkan keputusan yang baik.