DESKRIPSI UMUM IRIGASI TETES | Penggunaan air untuk pertanian di Indonesia masih sangat tinggi sekitar 80 – 90% dari seluruh penggunaan air. Sejalan dengan laju pembangunan, keperluan air untuk industri dan pemukiman bertambah pesat, sehingga air menjadi semakin langka, sementara itu pertambahan areal sawah masih perlu guna mendukung peningkatan produksi pangan dan menjamin ketahanan pangan nasional (Departemen Permukiman Dan Prasarana Wilayah, 2002).

Salah satu cara dalam mempertahankan kondisi kelembaban tanah pada keadaan yang ideal adalah dengan memberikan air pada tanah secara teratur. Cara pemberian air atau lebih dikenal dengan metode irigasi. Irigasi secara umum didefinisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan cairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanam-tanaman. Pemberian air irigasi dapat dilakukan dalam lima cara : (1) dengan penggenangan (flooding), (2) dengan menggunakan alur, besar atau kecil, (3) dengan menggunakan air di bawah permukaan tanah melalui sub irigasi, sehingga menyebabkan permukaan air tanah naik, (4) dengan penyiraman (sprinkling), (5) dengan sistem cucuran (trickle). Irigasi cucuran, juga disebut irigasi tetes (drip), terdiri dari jalur pipa yang ekstensif biasanya dengan diameter yang kecil memberikan air yang tersaring langsung ke tanah dekat tanaman.

Irigasi tetes adalah pemberian air secara perlahan-lahan di atas atau di bawah permukaan tanah dengan cara meneteskan air di atas permukaan, bawah permukaan, penggelembungan, pemancar, gerakan mekanis dan sistem denyutan. Air diberikan dengan cara tetesan dalam jumlah yang kecil langsung pada titik tertentu di permukaan tanah sehingga menghasilkan keadaan uap air seperti yang diinginkan tanaman secara permanen pada daerah perakaran. Sering dihasilkan panen tanaman yang lebih besar dan kualitasnya lebih baik, kemungkinan sebagai akibat kemampuan dari memelihara tanah lembab pada daerah akar yang mendekati konstan. Buah-buahan yang mengandung air yang cukup pada waktu dipanen (seperti tomat, jeruk, anggur dan lain sebagainya) memberi reaksi yang baik terhadap irigasi tetes. Irigasi tetes tidak praktis atau ekonomis untuk tanaman yang ditanam secara rapat seperti tanaman padi-padian dan alfa.

Masalah potensial pada irigasi tetes harus diperhatikan agar irigasi tersebut dapat memberikan efek positif yang optimal. Tersumbatnya saluran kecil dan bukaan pada pemancar adalah yang paling serius. Pasir dan partikel tanah liat, sampah, lapisan endapan kimia, dan pertumbuhan organik dapat menyumbat aliran dari pemancar. Penyumbatan sering terjadi secara berangsur-angsur, menurunkan aliran dan menyebabkan distribusi air yang jelek sepanjang jalur samping yang berakibat penurunan dalam pertumbuhan tanaman.

Kebutuhan air irigasi meliputi masalah persediaan air, baik air permukaan maupun air bawah tanah, begitu pula masalah manajemen dan ekonomi proyek irigasi. Kebutuhan air dapat berlaku untuk kebutuhan air dari suatu tanaman, lapangan, ladang, proyek atau suatu lembah. Apabila kebutuhan air suatu tanaman diketahui, kebutuhan air untuk unit yang lebih besar dapat dihitung. Ukuran suatu tanah pertanian dapat mempengaruhi pemakaian air secara cukup besar, karena besarnya aliran, dan perputaran tanaman dapat berbeda-beda. Air irigasi dapat diberikan secara sangat efisien kepada pohon kecil dan tanaman dengan jarak yang lebar, di mana air yang memadai dapat ditemukan pada daerah akar tanpa membasahi tanah di mana tidak ada akar.
Air irigasi disalurkan baik dalam saluran terbuka maupun tertutup. Secara hidrolika kedua cara itu sama, namun sedikit perbedaan bentuk persamaan terjadi sebab pada aliran di dalam pipa perbedaan-perbedaan tinggi tekanan dan tinggi elevasi biasanya diukur untuk menentukan hasil aliran sedangkan di dalam suatu aliran terbuka tinggi tekanan tidak berubah dan kemiringan permukaan air merupakan kriteria aliran (Vaughn, E. Hansen, 1986).

Irigasi tetes (drip irrigation) terdiri dari jalur pipa yang ekstensif biasanya dengan diameter yang kecil memberikan air yang tersaring langsung ke tanah dekat tanaman. Sistem perpipaan merupakan kerangka utama dari sistem irigasi tetes sehingga pemilihan terhadap pipa sama pentingnya dengan pemilihan peralatan lainnya sehingga menghasilkan suatu sistem yang baik dan membutuhkan biaya yang relatif lebih murah. Perkembangan pipa plastik menyebabkan pemilihan pipa dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau dapat terwujudkan. Jaringan utama biasanya menggunakan pipa jenis Polyvinyl chloride atau dipasarkan dikenal dengan PVC sedangkan pada jaringan lateral pemilihan pipa biasanya jatuh pada pipa PE (Polyethylene). Pipa PE banyak digunakan lebih mudah disamping itu memiliki harga yang relatif lebih murah.